Aku menulis maka aku belajar

Monday, May 12, 2008

Oprah Menyangkal Yesus - So What?


Teman saya, Benno Kakerissa, beberapa waktu lalu meneruskan e-mail yang berisi tulisan bertajuk "Oprah Menyangkal Yesus". Tulisan itu lebih-kurang berisi tentang pandangan sejumlah orang terhadap pendapat-pendapat Oprah di berbagai media, termasuk Oprah Show. Sebenarnya saya agak malas membaca dan menanggapinya, tetapi setelah melihat beberapa komentar yang masuk saya jadi terusik juga untuk ikut nimbrung. Bukan analisis panjang lebar sih, ini cuma semacam pandangan pribadi yang ringkas saja atas tulisan itu. Demikian:

Kadang-kadang saya jadi berpikir betapa egoisnya keberagamaan kita sampai-sampai Yesus pun kita klaim milik kita saja dan seluruh pemahaman tentang Yesus hanya boleh dilakukan oleh "kita". Interpretasi terhadap siapa Yesus itu sudah berkembang selama ribuan tahun dengan beraneka corak media - mulai dari yang tradisional sampai yang "net-net"-an.

Soal Oprah menyangkali Yesus - menurut saya - itu hanyalah bentuk ketidakpahaman kita terhadap perspektif kristologi Oprah. Perspektif kita sendiri tentang Yesus juga tak luput dari keterbatasan kita dalam menafsir siapa Yesus. Kalau kita mengklaim "Oprah menyangkal Yesus", Yesus-nya kita sendiri apakah memang sudah [paling] benar? Lalu, kalau kita bilang
"paling benar" dari mana sumber "kebenaran" itu sendiri? Dari Alkitab? La wong kita sendiri sudah mafhum bahwa alkitab adalah sebuah produk tafsir manusia yang berlangsung dalam sejarah peradaban manusia yang cukup panjang. Dari ajaran kekristenan? Kristen yang mana dulu, la wong sekarang ini gak kurang yang nyebut dirinya Kristen dengan versi yang berbeda-beda.

Jika Oprah menyatakan pendapatnya seperti itu - entah mau dikategorikan sebagai new age atau apa saja - mari kita melihatnya sebagai berubahnya mindset seseorang yang dipengaruhi oleh "pengalaman-pengalaman" hidupnya. Bukankah di dalam "pengalaman-pengalaman" hidup itu seseorang - baik Oprah maupun kita - sebenarnya sedang berada dalam pencarian "kehendak" Tuhan? Kita tidak sedang mencari Tuhan, karena untuk apa Tuhan dicari? Saya tidak melihat Tuhan sebagai "sosok" yang "duduk manis di singgasana surga yang nyaman, adem, hening". Saya - mengikuti John Robinson dalam Honest to God dan Paul Tillich dalam Courage To Be - lebih melihat Tuhan sebagai The Ground of our being. "Dia" tidak ada di luar pengalaman manusia. Dia hidup dan menjelajah di dalam pengalaman-pengalaman kemanusiaan. Dalam hal ini saya lebih cenderung kepada John Cobb, Jr. yang merumuskan teologi proses. Cobb sendiri sangat dipengaruhi oleh filsuf Alfred North Whitehead yang memperkenalkan filsafat proses - sementara Whitehead sendiri berakar dalam pandangan filsafat Yunani klasik eyang Herakleitos dengan gagasan panta-rei: semua mengalir.

Kalau kita membekukan Oprah dalam freezer teologis kita sendiri, saya melihat ini justru memperlihatkan keengganan kita untuk melihat bahwa Tuhan itu "menyejarah". Bagaimana mungkin kita percaya Tuhan menyejarah jika kita sendiri tidak melihat sejarah sebagai suatu konstruksi tafsir manusia dalam ruang dan waktu yang terus berubah?

Benar juga kata Choan Seng-Song, selagi teologi kita masih teologi linear atau teologi tegak-lurus, kita tetap seperti memakai kacamata kuda yang tahunya hanya melihat ke depan namun abai pada kesekitaran kita. Biarlah Oprah dengan kristologinya sendiri, sebagaimana kita juga memiliki kristologi kita sendiri. Yang jadi soal, apakah kristologi kita mampu menebar kebaikan dan manfaat bagi sebanyak mungkin orang? Ataukah kita cuma mengumbar shalom secara verbalistik tetapi lumpuh dalam praksis sosial?

Ada satu buku menarik berjudul Injil menurut Oprah (BPK Gunung Mulia, 2007). Di dalam buku itu terungkap banyak sekali pandangan-pandangan Oprah yang mestinya diterima sebagai "kabar sukacita" oleh semua orang, tak peduli apa latar belakangnya. Tetapi sayang, konotasi "Injil" dalam judul itu sudah terlanjur melekat pada kekristenan sehingga banyak pembaca yang mengharapkan bahwa Oprah akan berbicara atau berpikir seperti seorang penginjil. Tentu saja asumsi semacam ini keliru. Konotasi Injil pada judul buku itu, yang menguak dalam isinya, lebih tertuju pada pesan-pesan kemanusiaan versi Oprah, yang melaluinya dia menggali masalah-masalah yang dialami oleh manusia kontemporer dan mencari pemecahan atas masalah-masalah tersebut juga secara kontemporer. Gak harus dengan berkhotbah ala pendeta kristen. Bukan itu maksudnya. Soal kita memang lebih terletak pada dominasi kristiani atas pemaknaan injil itu. Kalau mau fair (meski gak mungkin 100% objektif), injil itu sendiri kan secara harfiah berarti "kabar baik" atau "kabar sukacita".

Ipso facto, tidak terbayang oleh Yesus untuk bikin agama baru yang namanya kristen. Yesus mungkin - pinjam istilah Derrida - hanya ingin melakukan dekonstruksi terhadap realitas keberagamaan yang sudah sangat pekat ideologis dan elitis di kalangan para penganut yudaisme awal. Dekonstruksi itu dilakukan agar agama kembali pada akar esensialnya sebagai "spirit pembebasan" yang membuka orientasi baru dalam "bertuhan" dan "bermanusia".

Dalam bingkai itu, istilah injil tidak bisa [lagi] dikapling hanya menjadi konsep eksklusif kekristenan. Melainkan injil seharusnya menjadi suatu adagium universal yang selalu melakukan kritik terhadap tendensi agama-agama untuk tertutup dan jumud.

Nah, kalau kekristenan yang - katanya - menjadi pengusung utama "injil" ternyata berkali-kali gagal memberitakan sukacita kepada dunia, tidaklah heran bahwa akan muncul gerakan-gerakan pseudo-religious yang akan mengambil-alih fungsi pembebasan tersebut atas nama kemanusiaan.

Saya teringat bagaimana cerita tentang kekalahan telak Israel ketika melawan Filistin (1 Samuel 4:1b-22). Kekalahan pertama korban di pihak Israel sebanyak 4000 orang. Kekalahan telak kedua di pihak Israel jatuh korban 30.000 orang. Ironisnya, kekalahan kedua justru karena Israel membawa Tabut Perjanjian dari Silo yang dipikul oleh dua anak Imam Eli, Hofni dan Pinehas. Ironis bukan? Bahwa ternyata kebanggaan Israel lebih bersifat simbolis dan mengurung Tuhan hanya pada sebuah tampilan semu "tabut perjanjian". Cerita ini bagi saya justru menjadi refleksi bahwa kekristenan sudah selayaknya belajar dan melakukan otokritik apakah kita memang sudah "berinjil", ataukah hanya menjadi pengusung simbol injil tapi impoten ketika berbicara tentang apa makna sukacita yang membebaskan itu sendiri?
Read more ...

Friday, May 9, 2008

Ke Sekolah - Kemana?

Beberapa hari lalu kami mengantar anak kami, Kainalu, untuk mencari sekolahnya yang baru. Tersisa beberapa bulan ke depan, Kainalu menghabiskan kegiatan bermain dan belajarnya di jenjang taman kanak-kanak. Dari pihak TK sudah mengundang rapat orangtua murid untuk membicarakan tahap akhir kegiatan "mabel" (main-belajar) dan sudah menyepakati soal waktu dan tempat perpisahan. Mengingat waktu yang terus bergulir, kami mempertimbangkan untuk segera mencari sekolah dasar sebelum masa pendaftaran murid baru ditutup.

Ini soal yang gampang-gampang susah. Gampang, karena banyak sekolah yang bertebaran di sekitar kompleks rumah kami. Susah, karena dalam menentukan pilihan kami mempunyai standar tertentu sehingga dari yang banyak itu kami harus memilih mana yang - menurut kami orangtua - cocok untuk Kainalu. Maklumlah, mendengar dan menyimak berita-berita yang beredar tentang maraknya tindakan kekerasan terbuka/terselubung di sekolah-sekolah, baik oleh para guru maupun teman-teman sebaya, membuat kami benar-benar harus selektif. Selain itu, faktor yang tidak bisa diabaikan ialah pertimbangan mutu sekolah itu sendiri. Masalah dana tentu juga diperhitungkan, tetapi untuk sementara mesti diabaikan karena di mana lagi sih di Jakarta ini bisa dapat uang pendaftaran yang murah tetapi bermutu? Rasanya sudah dimaklumi oleh publik bahwa yang murah itu selalu identik dengan murahan, dan mahal itu sudah pasti bermutu. Meskipun saya sendiri menganggapnya nisbi. Sebab saya mengakui bahwa ukuran-ukuran sumir semacam itu tetap perlu diuji kesahihannya. Tetapi, lagi-lagi, kami toh harus tunduk pada hukum sosial bahwa citra yang berkembang atau dikembangkan oleh khalayak itulah yang cenderung menjadi ukuran.

Sekelumit pengalaman itu tiba-tiba menyentakkan kesadaran dalam diri saya, betapa sulitnya menjadi orangtua saya dulu ketika harus mencari sekolah yang baru. Untunglah, pada masa saya masih SD di Malang jarak rumah-sekolah tidak terlalu jauh sehingga dapat ditempuh hanya dengan berjalan kaki atau bersepeda. Lalu-lintas kota pun tak terlalu sibuk sehingga tidak terlalu mengkhawatirkan orangtua kami. Yang cukup meringankan, saya kira, pertimbangan soal mutu "sekolah negeri" dan "sekolah swasta" tidak terlampau mencolok sehingga orangtua kami pun terlalu ekstrem dalam menentukan pilihan. Meski, saya tahu, faktor itu pun tak luput dari perhitungan mereka. Siapa sih orangtua yang mau melihat dididik dalam sebuah lembaga pendidikan yang tak jelas program dan output-nya? Sekarang, itulah yang kami rasakan.

Kalau dulu, saya melihat sekolah tak lebih dari suatu mekanisme alamiah yang mesti dilakukan dalam perkembangan hidup seseorang sejak dia masih anak hingga mencapai jenjang usia dewasa. Namun, seiring dengan berjalannya waktu serta tempaan pengalaman, saya makin menyadari bahwa sekolah bukanlah melulu "mekanisme", melainkan suatu tanda "organisme" yang berproses dalam pembentukan jatidiri dan karakter. Jika dulu sekolah hanya saya pahami sebagai pengasahan kemampuan berpikir kognitif; kini saya sadar bahwa saya keliru. Sekolah bukan tempat "berpikir" semata, melainkan suatu sistem pembentukan karakter yang utuh dari setiap anak.

Keprihatinan terhadap makin sulitnya mencari sekolah yang bermutu - dalam kategori character building - itulah yang membuat kami merasa harus semakin jeli dalam menentukan pilihan sekolah kepada anak kami. Mutu suatu sekolah tentu tidak hanya terukur pada ketersediaan fasilitas yang "wah", tetapi juga pada visi-misi sekolah tersebut. Selain itu, kapasitas gurunya pun mesti teruji, bukan dengan sederet gelar di depan dan/atau di belakang namanya, tetapi dari kemampuan menjadi teladan yang pada gilirannya turut menanamkan suatu citra model pemimpin yang ideal bagi anak didik.

Persoalan keteladanan ini tidak bisa dianggap basi karena bagi saya itulah esensi dari sekolah. Saya tidak bisa membayangkan diri saya seperti saat ini jika sejak jenjang SD hingga perguruan tinggi hanya dicekokin dengan seabrek ilmu, tanpa merujuk pada karakter kepemimpinan yang diperlihatkan oleh guru-guru saya. Hanya berlomba membentuk manusia-manusia pintar otaknya, tetapi rapuh kepribadiannya. Dengan segala plus-minusnya, saya tetap respek terhadap pola pembentukan disiplin diri melalui upacara bendera setiap hari Senin; pemeriksaan rambut dan kuku; sepatu sekolah yang harus sama warna dan merek - supaya yang kaya tidak perlu pamer dan yang miskin tidak harus minder; buku-buku harus disampul dengan kertas berwarna coklat; mengikuti kegiatan pramuka untuk mengasah solidaritas dan keterampilan survive di tengah kondisi yang tidak memungkinkan. Wah, masih banyak lagi.

Bernostalgia memang mengasyikkan. Tetapi kini tak cukup waktu untuk melakukannya. Zaman sudah berubah. Saya kini mempunyai anak yang harus melanjutkan sekolahnya di tengah krisis karakter yang melanda sekolah-sekolah kita. Tidak hendak menimpakan semua kesalahan di pundak para guru, karena mereka juga bergelut di tengah himpitan hidup yang makin susah. Ingin membela murid malah dituduh membocorkan soal. Ingin menanamkan disiplin dituding melakukan kekerasan. Ingin membantu mahasiswa dianggap mencari tambahan yang tidak pantas. Macam-macamlah. Padahal, berapa sih penghasilan seorang guru sekarang? Apalagi dengan kenaikan harga barang-barang yang jauh dari penghargaan kepada manusia.

Tak heranlah jika sekolah kita kini makin kedodoran dalam pembinaan dan penguatan karakter anak didik. Idealisme "pahlawan tanpa tanda jasa" sudah tidak laku lagi di tengah-tengah tuntutan hidup zaman sekarang. Mau apa dengan model "pahlawan" seperti itu? Kalau ternyata, yang dielu-elukan sebagai "pahlawan" sekarang adalah orang-orang yang menuntut jasa besar alias uang upeti? Lihat saja, mister-mister yang duduk nyaman di Senayan sana yang "atas nama rakyat" berkoar-koar mengaku pahlawan pembela rakyat. Apa mau mereka melakukan tugas-tugas mewakili rakyat tanpa "tanda jasa"?

Masih kental dalam ingatan ketika beberapa bulan lalu saya dan Nancy menjadi fasilitator dan narasumber pada kegiatan Retreat Guru-guru Kristen se-Kecamatan Jatinegara, betapa tangguhnya manusia-manusia yang mengabdikan dan mendedikasikan hidupnya menjadi guru. Kami menyebut mereka manusia tangguh - rasanya lebih pas ketimbang pahlawan tanpa tanda jasa - karena dalam segala keterbatasan mereka baik yang tidak disengaja maupun disengaja mereka toh tetap bersedia menjalani panggilan tugas ini. Belum lagi harus menangani persoalan-persoalan di dalam keluarga mereka sendiri.

Dalam hati kecil, kami tetap bermimpi bahwa dengan terus bersekolah Kainalu dapat menimba banyak pengalaman dan belajar terus membentuk jatidirinya sendiri. Kami pun sadar bahwa institusi sekolah formal hanyalah salah satu bagian kecil dari konsep "sekolah" yang lebih luas lagi. Lingkungan anak itu sendiri adalah sekolah yang hakiki - keluarga, pola didik orangtua, pengaruh media, pergaulan usia sebaya, dll. Hal-hal itu tidak boleh luput dari perhatian jika kita hendak memaknai sekolah sebagai ruang bagi pembentukan karakter anak.

Memang masih ada banyak celah dalam sistem pendidikan anak, khususnya di Indonesia, saat ini. Masih banyak sekolah yang hanya dilihat dan berfungsi sebagai "tempat cetak" orang-orang bergelar akademis, tetapi belum berkarakter akademis - yang lebih mengandalkan logika dalam penyelesaian masalah ketimbang like-dislike. Kita memang punya ukuran tentang sekolah yang bermutu, tetapi juga harus realistis bahwa perjalanan ke sana masih tertatih-tatih. Saya jadi teringat ucapan penulis lagu, Leonard Cohen, "There is a crack in everything; that's how the light gets in." Well, mungkin tak perlu menuding siapa salah siapa benar, tetapi mulai dengan menjadikan keluarga sendiri sebagai sekolah yang sejati.
Read more ...

Thursday, April 24, 2008

Mena-Muria: Sebuah Tafsir Simbol Budaya


Di dalam setiap kebudayaan, manusia menciptakan, melakukan, dan terbelit dalam jejaring simbol-simbol yang senantiasa membutuhkan tafsir dan pemaknaan. Jejaring simbol-simbol yang paling rumit tetapi mengasyikkan adalah "bahasa". Di dalam bahasa, manusia melakukan pertukaran simbol-simbol dalam suatu sistem makna yang disepakati (konsensus). Konsensus tersebut memungkinkan bahasa menjadi media komunikasi. Keberalihan atau distorsi sistem makna yang disepakati akan menimbulkan produk tafsir yang berbeda. Tafsir yang berbeda akan memengaruhi respon yang tidak diharapkan karena dianggap berada di luar kerangka konsensus simbolik. Nah, jika distorsi makna ini tidak terjembatani dalam proses translasi yang memadai maka manusia selalu berada dalam apa yang disebut Paul Ricoeur sebagai conflict of interpretation.

Dengan konstatasi tersebut, tulisan ini hendak membidik simbol "mena-muria" sebagai suatu konstruksi budaya yang mesti diarahkan pada konsensus sistem makna yang komunikatif. Fragmentasi "mena-muria" hanya pada kapling ideologis yang dicecarkan secara sepihak – dalam hal ini oleh negara – kepada komunitas tertentu – dalam hal ini orang Maluku dan hantu RMS – hanya menggiring kepada pemerkosaan "tubuh" budaya tetapi abai pada "roh" budaya dalam konstruksi identitas kemalukuan. Maksudnya, "mena-muria" hanya terpahami dalam wadag kulturalnya, sementara sistem makna dan daya simboliknya tercecer dalam episteme yang dangkal.

Mena-Muria sebagai Pandangan Dunia

Menetapkan arti harfiah "mena-muria" tidaklah mudah, setidaknya bagi saya pribadi. Kesulitannya lebih terletak pada ketercerabutan diri dari khazanah budaya lokal yang terekspresi melalui bahasa "asli" (bahasa tanah). Dalam arti itu, saya merasa teralienasi dari kemalukuan yang memberi cita-rasa budayanya dalam ekspresi bahasa. Apa yang saya peroleh hanyalah penggalan "mena" yang berarti "maju/muka", dan "muria" yang berarti "belakang". Sementara kesatuan maknanya tak jelas. Ada yang mengartikannya "siap muka-belakang"; "maju terus jangan mundur"; "berjuang sampai mencapai tujuan di depan"; "melihat ke depan sambil belajar dari yang lalu", dll. Sebagai hasil tafsir simbolis, arti-arti itu bisa saja diterima.

Kepelbagaian arti "mena-muria" itu pun bisa dipahami sebagai luwesnya idiom itu digunakan dalam berbagai bidang kehidupan. Namun demikian, dari arti-arti tersebut di atas "mena-muria" menggambarkan suatu konstruksi realitas yang dibahasakan dalam ungkapan-ungkapan tertentu. Bukan hanya untuk menyatakan suatu pesan, melainkan juga menyingkapkan suatu pandangan dunia (worldview) tertentu. Pandangan dunia adalah suatu daya konstruktif manusia untuk menyederhanakan kompleksitas realitas dalam bentuk-bentuk kebahasaan yang simple and acceptable dalam suatu komunitas. Suatu model realitas yang di dalamnya manusia melibatkan eksistensinya. Model-model itu bisa kita lihat dalam mitos-mitos, cerita-cerita rakyat, idiom-idiom budaya, lagu-lagu rakyat.

Dalam kerangka pikir itu, "mena-muria" hanyalah satu dari sekian banyak idiom budaya di Maluku, seperti: sagu salempeng dipata dua, ale rasa beta rasa, potong di kuku rasa di daging, dll. Apa yang nampak dari idiom-idiom budaya tersebut, termasuk "mena-muria", merupakan pemaknaan kreatif terhadap realitas. Dalam antropologi budaya, konstruksi realitas semacam itu disebut oposisi biner (dua yang berlawanan). Tetapi saya lebih merujuk kepada pendekatan Homi Bhabha yang melihat dekonstruksi sebagai kritik untuk menggagas kembali oposisi biner yang terlampau disederhanakan sebagai "penjajah" dan "terjajah" sekaligus untuk mempertanyakan anggapan-anggapan metodologis dari para teoritisi pascakolonial. Bhabha mengajukan model liminalitas untuk menghidupkan "ruang" persinggungan antara teori dan praktik kolonisasi – suatu ruang yang tidak memisahkan tetapi sebaliknya menjembatani hubungan resiprokal antara teori dan praktik. Dengan menyandingkan keduanya, Bhabha berusaha menemukan pertautan dan ketegangan antara keduanya yang melahirkan hibriditas.

Dalam Key Concepts in Post-Colonial Studies, dijelaskan bahwa liminalitas (Bhabha) menjadi penting dalam teori pascakolonial karena kesahihannya dalam mendeskripsikan suatu "ruang antara" di mana perubahan budaya dapat berlangsung. Suatu ruang antarbudaya di mana strategi-strategi kedirian personal maupun komunal dapat dielaborasi, suatu wilayah di mana terdapat proses gerak dan pertukaran status yang berbeda-beda yang terus-menerus. Identifikasi semacam itu memang bukan sekadar gerak-pindah sederhana dari satu identitas ke identitas yang lain, identifikasi ini adalah proses keterlibatan, kontestasi dan penyesuaian. Bhabha menghindari oposisi biner yang konfrontatif atau saling menaklukkan. Ia malah menawarkan suatu ruang ambang (liminal) yang mampu berperan sebagai ruang untuk interaksi simbolik. Ruang antara atau ketiga itu adalah: Teks!

Hermeneutik Teks "Mena-Muria"

Hermeneutik yang dimaksud di sini tidaklah sebatas "tafsir", melainkan – mengikuti Ricouer – interpretasi atas ekspresi-ekspresi kehidupan yang ditentukan secara linguistik. Di sini ditegaskan keharusan untuk mempertimbangkan bahasa sebagai peristiwa (parole), yang ditambahkan kepada bahasa sebagai sistem tanda (langue). Jika "mena-muria" ditempatkan dalam kerangka parole maka pada dirinya terkandung cetakan-cetakan memori peristiwa yang menjadikannya sebagai "sejarah"; yang dianggap pernah terjadi tanpa memastikan aktualitasnya di masa lampau. Inilah yang oleh Roland Barthes disebut sebagai "mitos" – mitos bukanlah kebohongan atau pengakuan, melainkan pembelokan. Agar mitos itu manjur maka ia harus tampak sepenuhnya alami; pesan mitos tidak perlu ditafsirkan, diuraikan atau dihilangkan.

Memahami "mena-muria" sebagai mitos mesti ditempatkan dalam kerangka interpretatif budaya bahwa konsep ini bukanlah sekadar ungkapan. "Mena-muria" lebih merupakan refleksi kesadaran sosio-historis yang membuka space (ruang) bagi pertemuan unsur-unsur kultural yang berkonflik; bukan hanya sekadar place (tempat). Pada "ruang" inilah mena-muria menjadi titik konvergensi matra-matra kultural yang hidup dan berkonflik. Suatu arena bagi perjumpaan, percakapan, keterbukaan, untuk menghadirkan (bukan sekadar menerima) "yang lain". "Yang lain" itu berbahaya dan mengancam ketika belum menjadi bagian dari eksistensi "kita"; tetapi "yang lain" itu tidak ditolak. "Yang lain" itu diserap menjadi "kita", sehingga ancaman itu dijinakkan. Di situlah saya melihat pemaknaan "mena-muria" ketika diejawantahkan menjadi "siap muka-belakang". Bukan dalam arti konfrontatif, melainkan akomodatif. Inklusi bukan eksklusi.

Bahwa kemudian "mena-muria" didistorsi pada sebagai bahasa politik, ini menjadi persoalan dalam sistem tanda (langue). Ferdinand de Saussure mengatakan bahwa bahasa itu selalu berubah. Bahasa tidak berubah sesuai dengan keinginan para individu, tetapi berubah dalam waktu dengan cara yang tidak tergantung pada kehendak para penuturnya. Di situ saya melihat bahwa "mena-muria" tidak bisa dibekukan hanya pada satu kutub di antara ekstrem "hitam" dan "putih", "nasionalis" dan "separatis". "Mena-muria" mesti dipahami sebagai cara-mengada-dalam-bahasa yang merepresentasikan pandangan dunia orang Maluku. Pengurungan "mena-muria" dalam sangkar ideologis oposisi biner nasionalis-separatis hanyalah penundukkan kearifan lokal di bawah kekuatan "negara". Kearifan lokal itu sendiri merupakan basis material dan ideal dari dinamika masyarakat sipil, yang pada gilirannya menjadi salah satu pilar berdiri-teguhnya suatu negara.

Jika demikian, menurut saya, kita sebaiknya memahami "mena-muria" sebagai suatu space untuk berdiskursus dengan bebas-merdeka sebagai manusia Indonesia. Kita tidak lagi terbelenggu oleh ketakutan dan pseudo-intelektualitas yang selalu menghindar karena kekuatan negara. Sebaliknya, menghayati "mena-muria" justru membuka ruang ambang bagi interaksi simbolik dalam ranah tafsir budaya di Maluku. Saya jadi berpikir, tidakkah spiritualitas budaya semacam ini yang menjadi kesepakatan kita berindonesia? Bahwa dalam keberbedaan, kita makin mengenali diri sendiri. Bahwa menerima "yang lain" adalah supaya kita semakin menjadi manusia sejati. Bahwa untuk maju (mena) tidaklah mungkin melepaskan masa lalu atau sejarah (muria). Lantas, tidakkah "mena-muria" senafas dengan "bhineka tunggal ika"?

Read more ...

Tuesday, April 15, 2008

Perlukah Yesus [yang] Historis itu?


Sejak akhir Januari 2008, BPK Gunung Mulia menyelenggarakan acara bedah buku Adji A. Sutama bertajuk "Yesus Tidak Bangkit? Menyingkap Rekayasa Yesus Historis dan Makam Talpiot". Sampai Sabtu lalu (12 April 2008), kami sudah menyambangi 4 gereja – masih sebatas GKI – yaitu GKI Surya, GKI Pondok Indah, GKI Serpong dan GKI Pamulang.

Bagi saya, acara bedah buku ini merupakan pengalaman yang mengasyikkan. Pertama, saya berkenalan dengan teman-teman baru dari segala jenjang usia; Kedua, saya memperoleh wawasan-wawasan baru di seputar teologi jemaat yang selama ini terkesan tersegregasi dari wilayah teologi akademis yang dikaji dalam lingkungan pendidikan formal teologi; Ketiga, kegelisahan teologis saya menyeruak kembali dalam diskusi bersama dengan penulis dan penanggap. Penanggap pada bedah buku perdana adalah Prof. Dr. Martin Harun, OFM (pakar biblika dari STF Driyarkara); pada bedah buku kedua adalah Rm. Dr. Dessi Ramadhani, SJ (dosen STF Driyarkara dan penulis buku "Injil-injil Rahasia"); sedangkan pada bedah buku ketiga dan keempat adalah Pdt. Anwar Tjen, Ph.D (konsultan LAI). Saya sendiri menjadi moderator. Hanya pada bedah buku terakhir di GKI Pamulang, saya ditodong menjadi pembahas kedua.

Buku Adji A. Sutama ini mempunyai fokus yang terbatas, yaitu mengkritik ulasan James Tabor dalam bukunya "Dinasti Yesus" (Gramedia, 2006). Anda bisa membaca resensi buku "Yesus Tidak Bangkit?" dalam weblog saya http://katabuku.wordpress.com. Menurut saya, buku Adji Sutama ini merupakan kritik yang tajam dan padat dengan data. Adji Sutama sedapat mungkin menjaga konsistensi metodologisnya, sehingga dalam beberapa hal buku ini menjadi agak "berat". Buku ini sebenarnya dapat menjadi wisata kritis yang mengasyikkan dalam jelajah data dan pustaka yang luas serta multimedia. Namun, ada celah yang rupanya tak terjembatani, sehingga pembaca seolah-olah diajak untuk melompat dari satu konsep ke konsep yang lain dengan pengandaian epistemologis yang oleh penulisnya dianggap sudah diketahui pembaca. Celah itu adalah penjelasan umum mengenai apa itu "Yesus Historis" (Historical Jesus). Saya sendiri bukan ahli Yesus Historis. Namun, bagi saya, celah inilah yang mendorong orang untuk melompat dari satu ekstrem ke ekstrem lain tanpa mengetahui secara memadai makna Yesus Historis itu. Lantas, karena Adji Sutama mengkritik rekayasa Yesus Historis, maka semua produk Yesus Historis dipahami sebagai "sampah".

Kajian Yesus Historis pada dasarnya merupakan salah satu perkembangan dalam ilmu teologi yang dalam analisis terhadap teks-teks Alkitab memanfaatkan berbagai pendekatan keilmuan, seperti kajian sosiologis, antropologis, linguistik, ilmu politik dsb. Dalam hal ini, Alkitab disapih dari perspektif dogmatis dan diperlakukan secara berjarak sebagai salah satu objek kajian ilmiah. Itu bukan berarti bahwa Alkitab tidak lagi dipahami sebagai sacred text – meski sering sikap itu tak terhindari – tetapi hendak dibedah sehingga maknanya tidak terkungkung dalam sangkar makna harfiah. Sebaliknya, dengan membedah dan mengurai Alkitab secara kritis, setiap pembaca (dan jemaat) diajak untuk menyelami dunia Alkitab dengan seluruh karakteristiknya. Dengan keberjarakan kritis itu, kita tidak memberhalakan Alkitab, tetapi menemukan pesan-pesan baru dalam setiap pembacaan terhadapnya. Kita tidak juga melihat Alkitab dengan suasana kekinian, melainkan sedapat mungkin memahami worldview para penulis Alkitab. Pengalaman mereka dulu adalah pengalaman mereka, yang dibaca dalam kontras dengan pengalaman kita kini. Simpulnya terletak pada "pengalaman" kemanusiaan itu dalam meresponi situasi hidup, lalu mengekspresikannya secara kaya dalam berbagai bentuk kebahasaan dan simbol-simbol.

Apakah dengan begitu Alkitab tidak lagi berfungsi sebagai "kitab suci" Kristen? Tentu saja tidak. Perkembangan ilmu pengetahuan dan pembacaan terhadap Alkitab ibarat dua besi rel yang berada sejajar untuk dipijaki oleh "gerbong" iman. Iman tanpa kesadaran akan ilmu pengetahuan hanya melahirkan suatu kepicikan yang mengerdilkan Tuhan dalam keterbatasan eksistensi kita; sebaliknya, ilmu pengetahuan tanpa iman hanya membuat kita menjadi budak dari rasionalisme yang menganggap alam semesta mampu terbaca dalam konstruksi objektivitas-rasional. Alkitab hanyalah koleksi terjemahan berbagai literatur yang ditulis dalam berbagai bahasa dan dari banyak tempat; mengalami banyak perubahan, penulisan-ulang, penyuntingan, yang karenanya tidak pernah ditemukan suatu original text Alkitab. Justru melalui keberjarakan kritis terhadap Alkitab dan keuletan untuk menembus selaput tekstual harfiahnya, kita menemukan bahwa kesakralan Alkitab tidak terletak pada formulasi teksnya. Kesakralan Alkitab terletak pada transformasi hidup yang terjadi sebagai dampak dari pemaknaan Alkitab secara utuh. Alkitab menjadi sakral bukan karena kita memahaminya secara buta sebagai "firman Tuhan", melainkan karena kita menemukan bahwa Sang Tuhan itu menyejarah dalam pengalaman-pengalaman kemanusiaan kita. Sebagai konsekuensinya, kita sebenarnya diajak menemukan wajah Tuhan tak bernama itu dalam wajah-wajah kemanusiaan kita – yang ternyata beraneka warna dan bentuk. Sang Tuhan itu menembus lapis demi lapis pemaknaan kultural yang tersekat dalam ekspresi-ekspresi bahasa yang puspa ragam. Sehingga perjumpaan dengan Sang Tuhan terjadi di dalam pengalaman, bukan di luar pengalaman.

Kajian Yesus Historis membawa kita ke dalam pengalaman kemanusiaan Yesus. Karena itu, bagi saya, kita tidak perlu reaktif terhadap pernyataan-pernyataan yang dihasilkan dari penelitian Yesus Historis. Sebab kajian-kajian semacam itu – tentu, dengan konsistensi metodologis yang disiplin – akan memperkaya pemahaman beriman kita dengan suatu keyakinan bahwa Tuhan hanya dapat dikenal dalam batas-batas kemanusiaan kita. Dengan demikian, kita pun diajak untuk menjadi manusia bagi manusia lain; tidak sok menjadi "tuhan" bagi manusia lain. Apalagi menjatuhkan penghakiman kepada orang lain hanya atas dasar "kebodohan" kita yang serba terbatas.

Dalam arti itu, kajian-kajian ilmiah di bidang teologi maupun studi agama-agama mesti diterima sebagai bagian dari pengalaman iman dan pembangunan jemaat Kristen. Polarisasi "teologi akademis" dan "teologi jemaat" sebenarnya hanyalah konstruksi pemikiran platonis warisan Pencerahan. Konstruksi sedemikian telah mengerdilkan sikap beriman kita dengan mengoposisikan jemaat sebagai "awam" dan ahli teologi sebagai "pakar", yang seolah-olah terputus korelasinya. Padahal, setiap jemaat pada hakikatnya adalah pembelajar teologi dan praktisi iman yang menemukan Tuhan dalam pengalaman keseharian secara spontan dan praktis. Sedangkan para ahli teologi hanyalah kelompok ahli yang mencoba mendalami pengalaman-pengalaman beriman yang praktis itu ke dalam kategori-kategori keilmuan yang lebih dalam. Pengalaman-pengalaman keseharian itu pun tidak terlewatkan begitu saja, tetapi menjadi pengalaman yang eksistensial. Dengannya kita makin menghayati Sang Tuhan dalam diri kita sendiri.

Read more ...

Thursday, April 3, 2008

Lectio Divina

Semasa masih berjibaku sebagai mahasiswa di Universitas Kristen Satya Wacana, saya mempunyai seorang sahabat, Masroer. Dia seorang Muslim saleh yang kritis. Kami kerap terlibat dalam diskusi "panas" mengenai Keislaman dan Kekristenan. Malah, kalau tak puas diskusi bisa berlanjut di kamar asrama (tempat saya tinggal) atau rumah kontrakan Masroer sambil menyeruput kopi kental dan sukun goreng. Saya sungguh menikmati suasana itu, karena percakapan di antara kami adalah semacam faith seeking understanding, iman yang mencari pengertian. Kami tidak berdebat kusir, atau bersitegang karena masing-masing memegang prinsip. Tetapi kami saling menguji kadar keberimanan Kristen dan Islam kami dalam suatu diskursus kritis, malah condong filosofis. Tidak selalu berujung pada kesepakatan. Itu sudah pasti. Karena sejak awal kami berkomitmen bahwa suatu diskursus mengenai religiositas nampaknya harus bermuara pada agree for disagree. Toh, itu juga merupakan sebuah kekayaan dalam spiritualitas ber-Tuhan (teisme).

Entah mengapa, saat menyaksikan tayangan berita mengenai gelombang protes terhadap film "Fitna" karya Geert Wilders, saya jadi teringat Masroer, sahabat saya itu. Dulu, kami sering berdebat sengit, bahkan saling melancarkan kritik. Tetapi dalam kritik, ternyata saya tidak hanya makin mencintai iman kristiani saya, tetapi juga makin menghayati iman islami Masroer. Demikian juga sebaliknya. Masroer menyimpan sajadahnya di kamar saya supaya bisa tetap melaksanakan sholat jika sedang berada di situ. Ketika kami berpisah, barang yang saya minta dari dia sebagai kenang-kenangan adalah sajadahnya itu.

Saya tidak ingin mengomentari soal film "Fitna", karena sudah banyak kajian kritis yang diarahkan terhadap film itu termasuk kepada Geert Wilders. Saya justru tertarik untuk melihat bahwa kedangkalan Wilders dalam memahami Al-quran justru bermula dari kedangkalannya memahami Alkitab (tentu jika sampai saat ini dia masih mengaku sebagai seorang Kristen). Memahami dan menghayati Al-quran dan Alkitab (juga kitab-kitab suci lainnya) tidak bisa dilakukan dalam suatu kerangka pengertian yang saintifik-ilmiah. Karena dalam ranah religiositas, iman tidaklah bermula pada pengetahuan melainkan pada pengalaman-pengalaman adikodrati yang mengelevasi eksistensi manusia pada suatu suasana batiniah yang transendental. Pada titik itulah manusia mengkreasi simbol-simbol alamiah dalam pertautan eksistensial dengan kehadiran Sang Tuhan (omnipresence). Tuhan hadir dalam segalanya, tetapi segalanya tidak bisa dituhankan. Tuhan menampak dalam guntur, kilat, petir, badai, tetapi juga dalam keheningan, semilir angin sepoi-sepoi. Keagungan Tuhan disimbolisasikan seperti burung rajawali yang mampu terbang di antara gunung-gunung batu, tetapi juga dipahami sebagai yang tak bernama – Aku adalah Aku!

Alkitab (dan juga kitab-kitab suci lainnya) merupakan buku yang sarat dengan simbol – bentuk huruf, kata, kalimat, ungkapan, intonasi, alegoris, dsb. Membaca Alkitab (dan kitab-kitab suci lainnya) serta-merta adalah membaca simbol dan menafsir makna. Simbol itu sendiri bukanlah suatu entitas linguistik yang rigid, baku, kaku, melainkan terbuka dan dinamis sehingga ketika dibaca akan membuka ranah tafsir yang luas dan multibentuk. Terlepas dari kepentingan apa yang melatari Geert Wilders membuat dan menyebarluaskan film "Fitna", tetapi Wilders sudah menjadi contoh bahwa Al-quran sebagai simbol keberimanan yang menjadi hakikat religiositas Keislaman telah ditekuk hanya menjadi bacaan picisan. "Kekerasan" adalah suatu bahasa simbolik dari ambisi manusia untuk berkuasa dan mengabaikan hidup orang lain. Wilders rupanya sengaja lupa [atau memang tidak tahu karena tak tuntas membaca Alkitab] bahwa di dalam Alkitab juga sarat dengan kisah-kisah dan anjuran-anjuran berjiwa kekerasan. Bahkan, Allah pun digambarkan sebagai Allah yang murka, marah, dan mendendam. Namun, teks-teks kekerasan dalam Alkitab juga mesti dipahami sebagai model realitas kemanusiaan yang tak urung lepas dari akar-akar kekerasan. Dalam kerangka itu, membaca Alkitab harus dipahami sebagai upaya mengarungi lautan makna simbol-simbol yang [pernah] menjadi bagian dari sejarah sosiologis suatu komunitas.

Lectio Divina

Lantas, apakah teks-teks kekerasan dalam Alkitab harus dibuang? Untuk apa? Tidak perlu. Kesucian Alkitab tidaklah terletak pada arti harfiah teks-teks di dalamnya melainkan pada kehendak setiap orang yang membacanya, tenggelam dalam permenungan yang terarah bukan hanya untuk mengenal Tuhan tetapi juga mendengar suara Tuhan. Kekerasan, pemerkosaan, pembunuhan, dsb, yang tertulis dalam Alkitab adalah sebuah pantulan realitas kemanusiaan vis a vis transendensi Allah. Penghadapan yang imanen dan transenden justru hendak mengingatkan bahwa di dalam diri setiap manusia terpercik citra ilahi untuk mendatangkan kebaikan dan rahmat bagi semua ciptaan. Pada titik itulah, Alkitab (dan kitab suci lainnya) menjadi lectio divina (bacaan suci, sacred reading).

Dalam tradisi spiritualitas kristiani, Lectio Divina adalah cara membaca secara batiniah yang terdiri dari empat langkah:

  1. Lectio = pemilihan atau bacaan
  2. Meditatio = merenungkan makna atau meditasi
  3. Oratio = berbicara atau berdoa
  4. Contemplatio = permenungan atau kontemplasi

Lectio. Lectio tidak sama artinya dengan membaca koran atau tabloid atau kertas ujian. Lectio adalah membaca dengan pelan-tenang-mendalam-tenggelam dalam Allah. Kalau dalam Penelaahan Alkitab kita mencoba mengetahui lebih banyak tentang Allah, lectio mengajak kita mendengar lebih banyak dari Allah. Ini tidak mudah karena kita terbiasa dengan serba cepat, instan, asal jadi. Lectio juga adalah soal cita rasa dalam menikmati bacaan Alkitab; berulang-ulang; perlahan-lahan; tenang; fokus pada kata, kalimat, paragraf. Tidak usah pikirkan apa maknanya; tidak usah membayangkan apa konteksnya. Dengan lectio kita diajak untuk akrab dengan teks Alkitab, meresapkannya dalam jiwa. Tidak usah pusing dengan maknanya, dengarkan saja teks itu. Alami teks itu.

Meditatio. Kata “meditasi” muncul sekitar 15 kali dalam PL (tidak muncul dalam PB). Ada 14 kali muncul dalam Mazmur, 6 kali dalam Mazmur 119; juga Yosua 1:2-8 – “renungkanlah itu siang dan malam...”. Kata Ibrani untuk “meditasi” adalah hagah, yang bisa diterjemahkan “mengunyah” atau “memamah”. Meditasi dalam Kristen melibatkan pikiran yang aktif. Meditasi bukanlah sikap pasif karena melibatkan empat langkah (Ignatius dari Loyola):

  1. Deformata reformare – membarui apa yang telah dirusak oleh dosa
  2. Reformata conformare – membuat apa yang telah dibarui diteguhkan seturut model ilahi
  3. Conformata confirmare – memperkokoh apa yang telah diteguhkan
  4. Confirmata transformare – mentransformasi dengan kasih resolusi yang telah dikokohkan itu.

Oratio. Oratio berarti doa; oratio adalah percakapan yang diarahkan kepada Tuhan: “Tuhan, mengapa Engkau memberiku firman ini sekarang?” Istilah orant terkait dengan sosok yang ditemukan dalam lukisan Kristen perdana di katakombe Roma. Orant adalah seseorang yang berdiri dan berdoa dengan tangan yang terbuka. Ini melambangkan penerimaan dan keterbukaan; bukan hanya bertanya kepada Allah melainkan juga siap mendengar jawaban dari Allah (personal). Tidak ada dua individu yang memiliki persepsi yang sama ketika membaca satu kata atau satu ayat. Karena itu percakapan kita dengan Allah adalah dialog batiniah (inner dialogue).

Contemplatio. Contemplatio (kontemplasi) adalah keheningan batin dan inaktivitas. Transisi dari doa yang aktif ke keheningan kontemplasi berlangsung lembut dan bertahap. Contemplatio (bhs. Latin) berarti merenungkan suatu konsep dengan hati atau pikiran. Di sini pikiran dibedakan dari tindakan (considering beda dengan doing), tetapi tidak bisa dipisahkan karena hidup merupakan kesatuan harmoni antara tubuh dan roh. Bagi orang Kristen, kontemplasi bukanlah suatu disiplin yang menolak tubuh, melainkan untuk sementara menenangkan tubuh dan pikiran kita untuk satu tujuan: bersaat teduh dalam kasih Allah. Allah menghampiri kita dan berbicara dengan kita dalam kelembutan sebagaimana dialami oleh Elia (1 Raj. 19:11-12) dan Maria saudara Marta (Luk. 10:38-42).

Saya merasakan betapa naifnya saya ini karena selama ini hanya membaca Alkitab sebatas deretan kata-kalimat, hanya menghafal ayat-ayatnya tetapi tidak berkontemplasi dan mengalami Tuhan di dalamnya. Penghinaan terhadap agama apa saja sudah berlangsung sepanjang sejarah peradaban manusia. Berkurangkah kadar kesucian spiritualitas Islam, Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu, dsb., yang kita miliki? Rasanya kok nggak tuh. Karena di dalam Lectio Divina kita tidak sedang membela Tuhan, tetapi merasakan Tuhan. Geert Wilders rupanya tidak sampai ke taraf religiositas itu, Anda pasti beda kan? Atau memilih cara Geert Wilders untuk menyerang balik?

Trims Masroer, untuk persahabatan kita dan percakapan yang pernah kita lakukan di Salatiga. Aku makin cinta Islam sambil menghayati Kristus yang terus meledekku..."Aku tidak perlu dibela, karena salib itu sudah Kupikul sendiri. Kasihilah musuhmu."

Assalamualaikum warahmatullahiwabarakaatuh...

Read more ...

Monday, March 31, 2008

Hanya Secarik Catatan

Sudah beberapa hari ini aku berangkat kerja dengan sepeda motor. Sepeda motor itu bukan milikku, tetapi milik teman yang sedang melaksanakan tugas penelitian untuk skripsinya di luar Jakarta. Aku lebih menikmati bersemot daripada duduk nyaman di dalam bus transjakarta. Memang harus siap bermandi debu dan asap kendaraan, apalagi saat terkepung di tengah kemacetan hutan Jakarta. Tidak senyaman bus transjakarta yang ber-AC hingga membuatku menggigil. Itu sudah pasti. Namun, aku menikmatinya. Bukan apa-apa, aku hanya lebih menikmati perjalananku dari rumah-kantor dan kantor-rumah. Dengan bersemot kepekaanku serasa terasah, instingku selalu terdesak untuk berinteraksi dengan sekitaranku – entah kendaraan lain ataupun aneka ekspresi manusia yang kutemui di sepanjang jalan.

Ah, Jakarta memang memuakkan dan memabukkan. Aku seolah terjepit dalam adiksi keduanya. Hendak membencinya namun tak kuasa tenggelam dalam birahinya. Kadang aku tertawa geli sendiri saat harus berhenti di perempatan dengan lampu warna-warni merah-kuning-hijau. Bagiku, lampu tiga warna itu tak ubahnya lampu taman yang menghiasi jalan-jalan Jakarta. Lampu-lampu itu hanya menjadi kosmetik bagi wajah modern Jakarta. Semua orang melihatnya, bahkan tahu apa artinya. Tetapi mereka enggan untuk terbelit oleh maknanya. Jakarta memang kota kaum berani. Kalau tidak berani, jangan datang ke Jakarta. Di Jakarta semua orang berlomba mempertahankan hidup dan sekaligus menyia-nyiakan hidup. Aku sendiri tak tahu di mana aku berdiri, karena bagiku di Jakarta batas antara hidup dan bertahan hidup hanyalah sebuah batas yang absurd. Hidup itu sendiri adalah sebuah kegeliatan untuk bertahan agar tidak cepat mati. Namun, toh dalam geliat itu sendiri kematian menampak dalam tarian-tarian lemah-gemulai yang mendayu-dayu menunggu saat klimaksnya.

Bagi Jakarta, kematian tak selalu identik dengan iring-iringan pelayat atau raungan sirine ambulan yang melaju diikuti arak-arakan kendaraan menuju ke pemakaman. Bagi Jakarta, kematian adalah frustrasi, kegelisahan, kemarahan, yang membuat Jakarta seperti pemakaman besar di mana setiap manusianya menangisi dirinya di depan nisannya sendiri tanpa mengusik manusia lain yang juga sedang meratapi kemarahannya. Jakarta [nyaris] kehilangan interaksi. Karena di jalan yang tampak hanya kompetisi – secepat mungkin sampai di rumah atau tempat kerja. Jalanan adalah sirkuit yang memompa adrenalin manusia Jakarta menjadi pembalap-pembalap tanpa aturan.

Tadi aku melihat seorang anak terbalik dengan becak yang dikemudikannya. Becak itu bukan becak penumpang. Yang dibawanya adalah makanan dan tumpukan mangkok yang mungkin hendak dibawanya kepada ibunya atau bapaknya yang sedang menunggu di warung. Mungkin. Karena aku hanya melihat kuah kare ayam dan daging ayam yang tumpah-ruah berhamburan di aspal, mangkok-mangkok yang pecah di bawah becak yang terbalik. Dia hanya lecet, tetapi aku tahu hatinya terluka parah karena hidupnya untuk sehari ini berantakan di aspal Jakarta. Itu nampak jelas di wajahnya. Frustrasi. Gelisah. Aku bukan peramal, tetapi aku yakin pikirannya galau tentang apa yang harus dikatakan untuk ibu atau bapaknya yang sedang menunggunya penuh harap di warung mereka.

Rupanya aku bukan tipe orang yang berani – berani untuk berpikir tentang kelanjutan nasib anak malang itu. Aku hanya berhenti sejenak tetapi tidak beranjak dari jok sepeda motor. Karena aku kalah telak oleh sang waktu yang menaklukkanku menjadi budaknya. Aku hanya menggelepar dalam lecutan cemeti sang waktu yang menghentak adrenalinku tancap gas karena harus bertaruh dengan hidup dan... aku belum mau mati. Aku harus hidup untuk diriku, istriku, anakku, mimpiku... Maafkan aku, kawan.

Read more ...

Thursday, March 27, 2008

Kewel 3 - Natsar Asidah

Satu kali ada Dace deng Etus afsprak baku dapa di Dace pung ruma tagal Uceng, dorang 2 pung tamang skolah dolo, ada datang bawa nanas 4 ika dari Larike.

Etus: Tabea amalatu Dace...beta bisa maso ka ama pung baileu ka?

Dace: Eh, bapa tela, tamang ee...mae nusu ka baileu ni. Ale umur panjang, beta deng Uceng ada bar bilang ale pung nama ni.

Etus: Tabea abang Uceng...su lama paskali katong seng baku lia ni. Ada bae?

Uceng: Salamat baku dapa lai abang Etus. Alhamdulilah, beta, maitua deng anana ada bae samua. Jang kurang hati caca Ija tar bisa iko kamari tagal ada manyimpang deng ator mamasa par Acim kacil pung acara sunat ahad muka ni.

Etus: Istaganaga. Acim yang dolo masi mera-mera abang dukung manyabrang deng spit dar balakang pasar tu, dia su mo basunat jua? Oras ni akang bajalang capat lawang e. Tutu mata buka mata, tarek-lunjur, takojo katong su rambu puti, anana su garser nae-nae badang.

Dace: He, he, Etus...co ale tahang carita tu dolo. Dudu kamari dolo di beta pung tapalang ni. Ale bar maso pintu ruma su mangkera par batanya. Na, bagitu ka. Jadi ale su ada ni, beta kira jang buang tempo lai, abang Uceng bilang maksud suda.

Uceng: Iyo, dangke lai. Abang Dace deng abang Etus, beta pung kedatangan ni ada bawa maksud mo buang suara par abang dong. Kalo wer ada bae, abang dong deng maitua bisa buang langka ka beta ruma di Larike jua. Beta deng Ija ada mo kas sunat Acim kacil ni. Katong seng biking apa-apa abang, cuma mangkali makang sadiki par basudara di Larike deng tamang-tamang skolah dolo.

Etus: Ayoooeee...abang Uceng e, caca Ija ada biking asidah ka seng?

Dace: Oooeee...Etus kamboti ee...ose tar bisa mahanang aer mulu lai ka? Dengar Uceng abis bicara dolo.

Etus: Hihihi...jang mara gandong. Beta pung snup dolo-dolo tu jadi beta sampe lupa diri ni...lanjuuuttt Uceng.

Uceng: Bagitu suda abang ee...Ija memang su kas inga beta jang lupa pi ka Naku bawa nanas 4 ika ni deng kas suara abang Dace deng abang Etus. La turong dar sini dia suru beta singga di pasar par bali tarigu, gula mera makassar, gula pasir. Haji Lan pung pondok di negri cuma jual gula mera surabaya, kalo pake itu asidah rasa sadiki pait. Paleng pas cuma deng gula mera makassar. La ini cuma tagal inga abang Etus pung kukis sayang tu.

Dace: Uceng ee...beta deng kluarga mo bilang dangke lai. Ale su datang manginte katong di Naku ni par kas suara katong deng ale pung hajatan tu. Kalo par beta, mo wer bae ka tar bae, beta deng maitua pasti sampe di Larike par Acim pung sunat. Maar ale kas tau beta dolo, ale pung ruma masi yang dolo to? Yang di muka ada pohong apukat to?

Uceng: Itu akang suda abang. Kalo abang Etus bagumana?

Etus: Uceng ee...ale su tau beta pung hidop te...beta ni mo di Larike ka mo di Hila, mana ada orang game par maso cake beta sorong tamang eee... Mantap abang, beta deng maitua seng undur salangkah lai. Mena....yang penting asidah di muka.

Dace+Uceng: Aahahahahaeeee....kamboti eee...

Uceng: Abang Etus, Ija bilang asidah cuma par abang saja. Asidah seng abis, abang seng bole pulang. Beta su bilang anana Larike par jaga abang Etus cangkol asidah.

Etus: Aooo...Uceng jang ale bagitu. Masa beta musti cake asidah sasandiri bagumana lai? Biar kata kamboti lai, maar jang bagitu ah...

Uceng: Seng abang. Ini katong su natsar asidah par abang saja ni.

Etus: Atangala...ampong jua.

Dace: Ahahahahaeee....mampos ose. Barangkat deng se pung kamboti tu.

Basudara, ini cuma carita hidop orang basudara di Maluku. Mo Salam mo Sarane mo Hindu katong samua anak Maluku. Jang mara kalo ada tasimpir nama...ini cuma hahangkae dar nyong_naku. Amatooo...

Read more ...

Monday, March 24, 2008

Ayat-ayat Cinta Bagi Rakyat Tercinta


Libur panjang selama empat hari cukup memberikan kesempatan untuk meregangkan otot dan urat syaraf. Apalagi ini liburan berkaitan dengan perayaan dua hari keagamaan yakni Maulid Nabi Muhammad SAW (20 Maret) dan Kematian Yesus Kristus (21 Maret). Tetapi begitulah, rupanya metabolisme tubuh sudah sedemikian terbentuk oleh iklim kepadatan kerja dan kemacetan lalu lintas Jakarta sehingga rasanya tidak enak juga kalau terlalu lama berleha-leha. Hari Minggu kemarin saya membeli koran KOMPAS (Minggu, 23 Maret 2008). Sambil lalu membalik-balik halamannya, mata saya terpaku pada satu kolom bertajuk Kagumi Orang Muda, Jusuf Kalla Menonton “Ayat-ayat Cinta”. Jujur saja, ketertarikan saya membaca kolom tersebut sebenarnya lebih didorong rasa ingin tahu apa alur cerita film itu – maklum, lagi tanggal tua jadi hasrat nonton belum kesampaian. Tetapi setelah membaca dua kali, saya agak menyesal karena tidak menemukan apa impresi Wapres Jusuf Kalla (JK) mengenai alur cerita film tersebut.

Membaca kolom tersebut saya malah menemukan beberapa plot narasi berita yang sedikit saja kena-mengena dengan judul kolomnya. Saya hanya ingin mengambil tiga bagian saja yang menarik untuk dicermati:

Satu. “Wapres ingin menonton film itu karena kagum dengan anak-anak muda yang bergiat di balik film yang mencetak rekor jumlah penonton hingga tiga juta.” Jika dapat ditafsir, bagian ini hendak menyatakan secara tidak langsung bahwa JK lebih terdorong menonton film itu karena kagum dengan jumlah penonton yang mencapai angka tiga juta, dan oleh karena itu memberi apresiasi pada kinerja para sineas muda yang menggarapnya. Mari lihat apa kata JK tentang itu: “Saya terus terang kagum dengan anak-anak muda yang ada di balik film itu. Mereka semua kreatif dan semua berusia di bawah 35 tahun”. Substansi dan makna film itu sendiri yang diterima JK sebagai penonton [ternyata] tidak muncul atau direkam dalam kolom berita tersebut.

Kedua. Benarkah JK tidak memberikan impresi sama sekali atas film itu? Ternyata tidak. JK tetap memberikan impresinya, dan ini yang unik: “Ini menandakan pertumbuhan kita sedang terjadi dan belum pernah terjadi sebelumnya setidaknya dalam 10 tahun terakhir. Ini sering luput kita lihat.” Efek dari menonton film itu bagi JK ternyata bukan pada alur narasinya atau pesan apa yang hendak dikomunikasikan oleh para pembuat film itu kepada penikmatnya. Di sini ada semacam ambiguitas pemaknaan, apakah indikator pertumbuhan [ekonomi?] negara ini bertumpu pada tampilnya sineas-sineas muda ataukah pada rekor angka tiga juta penontonnya. Lebih lanjut, agak naif rasanya jika indikator kreativitas orang-orang muda hanya dipaku pada tampilnya segelintir kaum selebritas muda yang membentuk kelas sosial baru dalam masyarakat kita. Pasalnya, kelas sosial baru ini lahir dan bertumbuh dalam suatu dunia kenyamanan yang menyediakan kepada mereka fasilitas melimpah-ruah untuk bereksperimen dalam kreativitas yang mahal ini – apalagi sampai mempekerjakan artis yang berwarganegara, dan sudah pasti berwajah, “asing”. Sementara itu di sebelah lain kehidupan kita, yang luput dari penglihatan kita adalah kinerja kaum muda progresif yang memberi makna berindonesia dengan model kreativitas mereka sendiri, yang jauh dari kilatan blitz kamera wartawan atau rekaman media massa.

Ketiga. Film ini, bagi JK, melahirkan sebentuk tafsir sosial tersendiri sebagaimana dikutip berikut ini: “Wapres mengakui, meskipun pertumbuhan ekonomi tinggi mencapai 6,3 persen, kemiskinan masih tinggi. Dengan terus tumbuhnya ekonomi, Wapres berharap kemiskinan makin terkikis dan jumlah rakyat miskin berkurang.” Sungguh, saya yang bodoh dalam soal ekonomi dan hitung-hitungan matematis mikro/makro ekonomi ini merasa sesak dengan tafsir JK tersebut. Dalam amatan saya, perspektif JK tersebut memperlihatkan bahwa perspektif pembangunan kebangsaan negara ini masih dilihat dalam kerangka kerja evolusioner-alami dan linear dimana pertumbuhan ekonomi yang tinggi – yang kerap menjadi indikator kemajuan atau modernisasi – dilihat sebagai unsur yang dengan sendirinya akan membenahi atau mendorong kemajuan pada bidang-bidang kehidupan rakyat lainnya. Padahal, kita semua saat ini sedang berada pada puncak kemacetan membangun kebudayaan bangsa dan sedang mengalami degradasi kultural, jika bukan sosial-politik, yang sedang membawa republik ini terpuruk.

Lihat saja, sudah berapa ribu keluarga kehilangan rumah, ladang, dan mata pencarian karena semburan lumpur Lapindo, berapa ribu orang yang sedang menatap masa depan kelam karena dipastikan menjadi pengangguran baru pasca dinonaktifkannya maskapai penerbangan Adam Air, berapa ribu keluarga yang merana karena gagal panen karena sawah mereka tergenang banjir yang tak kunjung surut, carut-marut wajah pendidikan nasional yang berhasil mencetak “preman-preman” baru dengan nyali tawuran di jalan [itu jika Jakarta dipakai sebagai indikator masyarakat modern], pemilihan kepala daerah di mana-mana ditandai oleh kecurangan dan aksi vandalisme antarpendukung kandidatnya, desakan-desakan simplistik kelompok-kelompok tertentu yang dengan pongah menganggap pengagungan nilai-nilai agamanya sendiri mampu mengangkat negara ini dari keterpurukannya di segala bidang, dan sebagainya.

Bagaimanakah kita memahami lapis demi lapis masalah bangsa ini hanya dengan bersandar pada satu perspektif tunggal, ekonomi? Saya tidak menafikan bahwa pembangunan ekonomi merupakan salah satu sokoguru pengembangan kesejahteraan kehidupan bangsa ini. Sampai saat ini, kita pun masih terbelenggu antara “benci tapi rindu” dengan kekuatan kapitalisme global yang sebenarnya sudah mencengkeram urat syaraf nasionalisme dan ideologi kebangsaan kita. Malah, nyaris saat ini kita tidak lagi bergairah membicarakan kemanakah arah berbangsa dan bernegara kita yang seharusnya dilandaskan pada satu ideologi bersama, yang merangkul seluruh anak bangsa ini dalam satu ikatan kebangsaan yang solid.

Pembangunan ekonomi penting, tetapi bukan satu-satunya. Bagi saya, “Ayat-ayat Cinta” – meskipun saya belum nonton – merupakan suatu refleksi bahwa dinamika kebudayaan dalam masyarakat dan implikasi sosial-budaya kebijakan politik pemerintah mesti menjadi orientasi bersama menghadapi hantaman badai kapitalisme yang makin menggemuruh. Dalam konteks itu, “agama” seharusnya kita tampilkan sebagai salah satu energi positif untuk membangun kehidupan bersama yang majemuk ini. Interaksi positif agama-agama di Indonesia yang terbangun dalam dinamika kreatif selama ini bisa digunakan sebagai suatu idea system yang diterima sebagai hasil perpaduan berbagai pengaruh yang saling berinteraksi dalam jangka waktu bertahun-tahun. Lantas, mengapa harus memaksakan satu pilihan tunggal dalam problem-solving masalah-masalah kebangsaan kita? Setidaknya kita mesti mengakui bahwa tidak ada satu etika agama pun, walaupun dalam bentuknya yang paling murni dan paling “orisinal” sekalipun, yang berkembang dalam suasana yang sama sekali bebas dari berbagai arus pemikiran tentang kondisi-kondisi sosial, ekonomi dan politik. Jika demikian, mengapa kita tidak mengambil pilihan untuk membangun suatu etika beragama yang ramah dan penuh cinta dalam roh keindonesiaan kita yang multirupa ini? Bukankah “cinta” itu yang hendak ditawarkan oleh agama-agama sebagai nilai ilahi untuk disemaikan dan ditumbuhkan secara sosial dalam kehidupan bersama kemanusiaan kita?

Saya percaya – lagi-lagi meskipun belum nonton – “Ayat-ayat Cinta” merupakan suatu tawaran kultural bagi bangsa ini yang sedang dirudung awan kelam bencana dan kekerasan sosial-politik-budaya. Dalam hal itu, saya juga yakin bahwa urusan “cinta” dalam “Ayat-ayat Cinta” lebih esensial daripada sekadar curahan emosional hati. Paul Tillich dalam Love, Power, and Justice mengatakan bahwa hidup merupakan cara mengada dalam aktualitas dan cinta adalah kekuatan penggerak kehidupan. Kekisruhan dalam etika sosial, teori politik dan pendidikan disebabkan karena keluncaspahaman terhadap karakter ontologis cinta.

Dalam bahasa keagamaan, “ayat” bukanlah sekadar bagian dari suatu pasal melainkan penggalan-penggalan tekstual yang terbuka bagi suatu penafsiran simbolis untuk ditemukan rohnya dalam aktualita kehidupan manusiawi dan semesta alam. Keberagamaan kita semestinya menjadi upaya mempertautkan secara kreatif makna “ayat” menjadi “adat” (aspek budayawi) kemanusiaan. Jika demikian halnya, bukanlah mustahil “ayat-ayat cinta” menggairahkan seluruh energi sosial kita kepada “adat-adat cinta” dimana cinta-mencintai dalam artinya yang hakiki (Tillich, ontologis) menjadi tradisi dalam kehidupan bersama kita di republik ini. “Ayat-ayat cinta” menjadi kebudayaan mencinta, dimana Sang Tuhan tampil dalam gairah cinta universal yang membongkar tembok-tembok primordialisme dan fanatisme semu, termasuk atas nama Tuhan itu sendiri. Jadi, pak Wapres, menikmati “Ayat-ayat Cinta” jangan melulu dilihat dalam grafik pertumbuhan ekonomi, karena sebagai suatu karya seni “Ayat-ayat Cinta” mesti disimak dalam kacamata tafsir simbolis kebudayaan dan karenanya berpesan tentang sesuatu yang tak terukur oleh rumus-rumus matematis. Kalau jumlah penikmat film itu menembus angka tiga juta itu semata-mata “rakyat” kita sedang haus dengan sentuhan kebijakan penuh cinta. Rakyat sudah jenuh dan sumpek dengan dagelan keadilan, sandiwara kemakmuran, horor penggusuran, thriller kekerasan, dalam reality show keseharian. Kami, rakyat Indonesia, sedang mimpi hidup dalam tatanan sosial-politik-budaya yang penuh cinta, karena agama-agama kami memang ingin agar kami – yang mengaku beragama –tampil sebagai pelaku-pelaku cinta. Well, is it a sort of nightmare or buzzwords?

Read more ...

Tuesday, March 18, 2008

Kewel 2 - Kintal Internet

Basudara tuang jantong hati ee... salamat baku dapa kumbali. Masi inga Etus "kamboti" deng Dace "meti" to? Nah, satu pagi Etus "kamboti" baku dapa deng Dace "meti" di mata jalang ka Negri Ema.

Dace: Slamat pagi nyong Etus. Ada bae ka? Mangapa lai kong par poka-poka ni ale pung muka su takoro macang papaya masa tar jadi? Seng dapa sono ka apa?

Etus: Sudara ee... slamat pagi lai. Ale ni tai mata ada balong karing kapa kong par matahari su pica ni ale bilang beta muka takoro. Ini bukang takoro tapi asli manganto tumbak tagal satu malang dudu ajar barekeng Cemo kacil di ruma.

Dace: Ooo...bagitu. Lalu ini tuang mo pi mana kong su deng kameja neces rambu manyala pamade kacamata molo itang mati nat? Ale su ada asprak iko baris empang di bendar kapa ee?

Etus: Oeee Dace, jang se biking beta mandidi par pagi hari ni. Beta seng asprak par iko baris empang di bendar, tapi ada dapa kertas dari tuang guru Simon tagal su dua hari ni Cemo seng maso klas. Beta su montar dia tadi malang deng cawani rotang jawa sampe minta-minta ampong. Bagumana beta seng jumawa, orang tatua ada basuet tenga hari padis di kabong saban hari asal par lia anana bisa skolah, maar akang ana ni tar unju muka di skolah. Biar seng usa sampe sonto bintang di langit asal bisa par angka orang tatua pung muka sadiki jua. La ini skolah bukang par katong maar par dorang pung hidop nanti te...

Dace: Tamang, hati bole panas tapi ingatang taru tangang par anana musti rasa-rasa lai. Jang sampe ale dapa loko dari om Buce polisi tagal biking kekerasan dalam rumahtangga. Jang ale kira anana tu macang tana mera par biking batu tela, yang cuma nanti par katong ero iko katong pung suka. Su oras bagini katong pung anana pikirang su tabuka. Dong sakarang bukang cuma tau dunya sacubi macang katong orang tatua. Dong sakarang ni su tau dunya pung salekar-salekar apalai deng internet.

Etus: Itu akang suda...Samalang abis ajar barekeng beta dudu baku soal deng Cemo mangapa kong dia seng pi skolah. Dia mangaku "ama, beta pi baku tahela deng tamang-tamang par barmaeng plei stesien (play station) lalu lanjut deng ceting (chatting) di internet". Tungala ampong beta jua...beta memang orang kampong tar mangarti akang barang-barang yang dia bilang tu.

Dace: Etus...Etus..., tagal itu nyong dolo-dolo kalo orang tatua bilang sakolah tu biking akang bae-bae. Sakarang bar ose rasa anana pung barmaeng kuti kata sa ale su tabingong-bingong. Ose tau jareng to? Nah, internet tu macang jareng basaaaarrrr eee... Lalu katong sakarang ni hidop baku tagae, baku tarika, dalang jareng basar ini. Kalo nonton brita di telepisi ale dapa tau perkara apa yang su jadi di Balanda, Amerika, Jepang, pokoknya saantero dunya ni ale bisa tau akang. Jadi katong ni sebenarnya laeng su tau laeng pung kartu. Dalang jareng basar internet katong bisa mangente kasta laeng yang hidop di sebrang lautan. Bukang cuma itu, lewat internet katong bisa bastori kewel deng kasta laeng di tampa laeng ato negri laeng. Anana sakarang ni pung kintal barmaeng su tar bisa nanaku dia pung sipat lai. Ini yang katong bilang "su langgar sipat".

Etus: Istaganaga. Dace, ale ni memang otak paleng encer lai. Maar ale bilang beta skolah tar batul, yo ale sandiri SMP tar sampe-sampe. Ale memang jago tapi jang ale ola beta macang bagitu. Ale seng inga katong dua pancuri tete Cale pung lacing sampe amper sadiki talucu tasungsang dar pohong lacing ka?

Dace: Hahahahaeee... Etus e katong dua ni bado. Tapi beta masi lebe bae dar ale. Mangkanya biar badang-badang saki tagal pameri di kabong tapi jang lupa baca brita nyong... Supaya jang cuma tau tanang kasbi tapi juga tau harga kasbi di pasar barapa, bisa kirim kasbi ka Balanda ka seng, bisa olah kasbi jadi panekuk ka seng...

Etus: Iya bapa suka. Beta bakira jua ee... Jang sampe tuang guru Simon hogor beta tagal beta langgar janji baku dapa deng ontua. Carita pung carita, ale sandiri mo pi mana ni?

Dace: Gandong ee... Beta bale haluang pi kabong dolo. Beta pung langsa su mulai barangke. Beta musti manggurebe jang sampe anana frei skolah lai dong skot beta pung langsa barsih. Salam voor tuang guru Simon lai jua. Bilang dari Dace ana bijiruku waktu ontua masi pegang klas 5 di blakang soya.

Etus: Eya... Nyong pung salamat lai... Jang lupa taru langsa satu kamboti par om Etus ee...

Dace: Se pung kes panta gayang ni...

Jang kurang hati kalo ada yang pung nama sama. Ini cuma stori kewel sa tentang katong pung hidop...


Read more ...

Friday, March 14, 2008

New Leadership, New Vision: the Countdown of Maluku Governor Election


Few weeks ago when I was visiting Ambon my eyes was struck by many huge billboards or banners which picturing some political figures, either those who sited in governmental service or those who served in public spheres. The banners unfolded in the edge along road from Pattimura International Airport to Ambon city. What made me strike is the comments which attaching in those banners. As usual, around the countdown of governor election some figures attempts to promote their profile publicly. They used comments as an effort to attract people's sympathy, even though I think their comments (or promises) are more like buzzwords. They sound ridiculous for me. But eventually I must conscious that political game still need advertising program and likely it is necessary to engage in some "rituals".

Of course, deep down in my heart I also must conscious that it is their rights for every person to promote their self or identity in order to reach their dreams to be a political leader. But I could not understand why the term "political leader" has always been posed as only an objective not tool for empowering the people who had elected them as their representatives to increase people's wealth and life. Politic becomes a word with single-rigid meaning, that is, struggle for destroy opposites and then using power to enrich their own life while many still living in poverty and oppression. For that reason, many people willing to invest their money for their political aims and after that it thought as efforts to gain back more money as far they can do that whatever the ways. In that simple meaning, it could be understand that many people has racing for political positions but forget the essence of political ethic, to serve as loyalty for public needs.

Maluku post-conflict has remaining some critical problems which need to solve by strong leadership. I cannot deny that the governor of Maluku in charge had been doing prominent changes. The changes are not only deal with physical development but primarily about social reconstruction of societal life of Maluku by several political approaches. In that case, I convey my salute for the governor and his staffs for all they did in positive term. During the normalization of Maluku, I think, the process of governor election in Maluku must be put issue of social recovery both sociologically and psychologically as the main orientation of development of Maluku province.

Social conflict, perhaps, was able to solved or muffled. However, the impact of the social conflict had to cope with as deep as its roots. Whereas now it is emerging some new problems deal with huge effects of globalization – of life style until disease – which put Maluku society face to face with new questions around global warming, climate change, etc. In such situation Maluku people needs new leadership or new political vision by which can bring Maluku as a whole toward becoming the sane society and ready to answer the questions of modernity and its impacts.

Here I would like to suggest several visionary comments as my appreciation for Maluku people in their way for empowering themselves during the difficult periods of suffering of conflict. I have no intention to insist them as idealistic ideas but it can only look as my personal view about the process become self-healing community in Ambon.

  1. Strong leadership has to build base on honesty and openness toward public criticism.
  2. Local autonomous open many possibilities to dig potential human resources to manage local problems deal with regulations, illegal logging, media critical interaction, interfaith etc. Maluku people, therefore, needs smart leadership for mapping the problems and take the balance solution by virtue of public welfare.
  3. Empowering the intellectual function of universities (Pattimura, UKIM, Darusalam, STIA, STAKPN, STAIN, etc.) as counter-partners for engaging into critical discourse concerning to increase people's education and scientific networking.
  4. Reviewing and reformulating regulation on "system of village governance" (sistem pemerintahan desa) base on local wisdom and local genius of Maluku people in order to keep cultural diversity in Maluku. It is an important strategy of development for making Maluku as multicultural society without plunge into "tribe-character community".
  5. Positioning all political party as competent mediators between government and people in order to build strong society whose responsibility for establishing people's rights and obligations as citizenship.

What I said above are not political theses but they more likely looked as assumptions or hypotheses that must be test critically in the future. As such, it can be right or wrong depend on our intention and perception of it. But it can be also regard as an invitation to step forward into new hope that Maluku people needs new leadership with new vision; vision of hope not death, vision of light future not dark promise, vision of togetherness not fragmented, vision of wealth not impoverish. Mena Muria!

Read more ...

One Earth, Many Faces

One Earth, Many Faces