Thursday, June 17, 2010
Sayonara Chicago
Tuesday, May 25, 2010
Mirip Obama?
Tuesday, May 4, 2010
I am sailing....
Bagi Anda yang lahir sebelum abad ke-21, terutama pada era 1970an, 1980an, dan sedikit pada 1990an, sepenggal frase dari lagu yang dinyanyikan oleh Rod Stewart itu tentu tidak asing. Atau lagu yang sempat dipopulerkan oleh Gina T, “Sail Over Seven Seas” satu dekade lampau. Kedua lagu yang saya tahu menggunakan ungkapan “sail” (berlayar) sebagai ekspresi perasaan cinta dan kerinduan pada kekasih. Jika Rod Stewart menyatakan suatu hasrat pulang ke kampung halaman kendati mesti melintasi laut, maka Gina T mendambakan kedatangan kekasih hati hingga terbawa dalam mimpi mengarungi tujuh lautan.
Ups, jangan salah sangka. Saya bukanlah pujangga yang hendak menafsirkan makna dari syair lagu-lagu tersebut. Kedua lagu itu – kendati saya tidak hafal syairnya – tiba-tiba menyeruak dalam benak saya ketika tiap kali melintasi jalan-jalan di kota Ambon, sepanjang jalan berjejer banner dan spanduk warna-warni menyongsong pelaksanaan kegiatan internasional “Sail Banda 2010”. Nyaris pada setiap halaman depan gedung kantor atau sekolah terpampang pernyataan-pernyataan dukungan pelaksanaan kegiatan itu. Wah, bangga sekali. Bayangkan, warga kota Ambon akan menjadi tuan rumah hampir sekitar 7.000 wisatawan asing. Para pengelola hotel sibuk merenovasi hotel mereka agar memenuhi standar internasional. Investor-investor baru tak mau kalah dengan membangun hotel-hotel baru. Belum lagi rumah-rumah warga kota Ambon pun mulai berhias diri siap menyambut tamu. Luar biasa.
Tapi benarkah kita (sebagai warga kota Ambon) sungguh-sungguh siap? Jawabnya tentu bisa beraneka ragam: mulai dari “siap”, “siap tapi…”, “sedang siap-siap”, “tidak siap”, hingga jawaban “betbarpusap”. Tahu artinya? Artinya: “Beta barang pusing apa” alias kata orang Betawi “emang gue pikirin”. Kesiapan yang saya maksud tentu tidak bisa sekadar disederhanakan pada tampilan meriah spanduk dan banner sepanjang jalan. Kesiapan itu juga bukan dalam slogan-slogan yang kerap digaungkan pada iklan-iklan televisi dan radio lokal. Kesiapan itu sudah tentu sangat berkaitan dengan gaya hidup warga kota Ambon. Dan – ini soalnya – sesuatu yang berhubungan dengan gaya hidup itu juga sangat ditentukan oleh mentalitas dan cara pandang atau paradigma masyarakat tentang hubungan manusia dan lingkungan hidup. Kalau pada pokok ini, kita sedang membicarakan “proses”.
Mentalitas dan gaya hidup adalah suatu proses internalisasi pilihan nilai-nilai yang dianggap utama oleh seseorang atau sekelompok orang. Nilai-nilai itulah yang memandu cara pikir dan tindakan seseorang dalam kaitan dengan sesamanya manusia dan lingkungan hidupnya (tanah, sungai, laut, hutan, dsb). Proses internalisasi bukanlah simsalabim dan langsung jadi. Proses internalisasi nilai-nilai berlangsung sejak kita masih kecil sampai hayat dikandung badan. Oleh karena itu, hal-hal yang berkaitan dengan nilai-nilai tidak bisa dianggap sebagai sesuatu yang bersifat tempelan atau atributif, melainkan fundamental.
Terus, apa hubungannya dengan Sail Banda 2010? Nah, ini menarik. Setiap kali naik kendaraan melewati jalan-jalan kota Ambon, pemandangan orang dengan seenaknya membuang sampah di jalan dari dalam mobil-mobil mewah dan mengkilap, kini bukan lagi pemandangan aneh. Itu sudah biasa. Mereka seolah-olah menganggap sepanjang jalan raya adalah tempat sampah publik. Toh nanti ada tukang sampah atau petugas dinas kebersihan kota yang akan membersihkannya, pikir mereka. Maka dimulailah suatu tradisi baru: buanglah sampah di mana saja!
Suatu waktu saya melewati salah satu kawasan di kota Ambon dan melihat para pedagang dengan enteng saja membuang kantong-kantong plastik berisi sampah ke sungai atau laut. Luangkan sedikit waktu Anda untuk menyeberangi teluk Ambon dengan naik perahu dari pantai Galala ke pantai Rumatiga, maka Anda akan menikmati pemandangan bawah laut yang berwarna-warni. Bukan karena keindahan terumbu karang atau ikan-ikan hias, tetapi oleh beraneka ragam plastik kemasan makanan atau tas plastik.
Kesiapan menyongsong Sail Banda 2010 juga bukan soal “buang sampah” yang kerap ditimpakan sebagai tanggung jawab warga masyarakat yang “kurang sadar”. Persoalan sampah pada hakikatnya merupakan pantulan dari persoalan yang lebih mendasar yaitu soal kesadaran dan tanggung jawab. Kesadaran di sini adalah suatu pengendapan pengalaman-pengalaman bermakna bagi diri sendiri yang dikorelasikan secara dinamis dengan pengalaman-pengalaman kolektif bersama orang lain. Dengan perkataan lain, kesadaran adalah internalisasi pengalaman kolektif untuk kehidupan bersama yang saling mendukung. Di dalam kesadaran itu “yang lain” (others), entah itu manusia atau lingkungan bukan-manusia, menjadi bagian dari diri sendiri sehingga “yang lain” itu makin terintegrasi dalam kesadaran “aku”. Di situlah mencuat makna “tanggung jawab” bagi diri sekaligus bagi “yang lain”.
Sebagai pengendapan dari pengalaman-pengalaman maka kesadaran itu mesti dikondisikan dengan penciptaan situasi yang disiplin. Artinya, kesadaran itu diarahkan dan dibentuk karena “yang lain” adalah bagian penting dari diri sendiri. Kalau “membuang sampah pada tempatnya” hendak diinternalisasi dalam kesadaran maka tidaklah cukup hanya dengan mengumbar slogan atau jargon-jargon dalam kampanye sesaat dan insidental. Proyek rasional itu harus dikultivasi secara sistematis melalui program pendidikan yang komprehensif yang terarah pada pembentukan karakter; bukan sekadar soal “pengetahuan”.
Di sini bagi saya persoalan terberat adalah mengarahkan proses pendidikan karakter itu menuju terbentuknya suatu gaya hidup. “Membuang sampah pada tempatnya” tidak bisa hanya menjadi suatu perilaku yang bisa ditertibkan hanya melalui penetapan suatu aturan atau hukum (yang anehnya selalu diplesetkan “dibuat untuk dilanggar”); itu harus menjadi gaya hidup atau habitus. Sampai pada tataran itu maka setiap orang atau masyarakat secara dinamis mampu beradaptasi dengan perubahan tanpa kebingungan arah, karena aturan atau hukum dimaknai tidak hanya secara atributif tetapi substantif.
Ah, ini hanya sekadar berimajinasi… tentang Ambon yang bersih, nyaman, dan sehat, tanpa tergantung pada SAIL BANDA atau peristiwa-peristiwa “wah” lainnya…
Friday, April 23, 2010
Betul, Betul, Betul...

Kalau Anda tidak pernah nonton film kartun “Ipin dan Upin” produksi salah satu stasiun tv Malaysia, Anda tentu sulit membayangkan intonasi pengulangan kata “betul” pada judul di atas. Figur Ipin dan Upin memang sedang naik daun sekarang. Bukan hanya karena kejenakaan mereka tetapi juga karena film kartun berdurasi 1 jam ini kental menampilkan nuansa Melayu dengan bobot edukasi berkualitas tinggi. Tidak mengherankan hanya dalam beberapa tayangannya oleh TPI dengan segera “Ipin dan Upin” telah menjadi idola di kalangan anak-anak Indonesia. Bahkan gaya khas Ipin yang selalu menimpali segala hal dengan kata-kata “betul, betul, betul” kini menjadi ungkapan yang popular dalam percakapan masyarakat Indonesia.
Ketertarikan pada film seri “Ipin dan Upin” dimulai ketika pada jam tayangnya anak kami, Kainalu, selalu minta untuk pindah ke saluran TPI. Setelah beberapa kali mengikuti tayangannya, saya juga merasakan ada sesuatu yang atraktif pada film itu. Bukan karena kecanggihan animasi ala Naruto atau Ben 10, tetapi pada muatan edukasi yang disampaikannya secara sederhana, ringan, jenaka. Bukan hanya itu, menonton “Ipin dan Upin” seolah menyedot kita pada kekayaan dimensi khazanah kebudayaan Melayu dan Asia, yang mau tak mau membuat kita merasa “ini film kita”. Lihat saja bagaimana penampilan berbagai karakter dari teman-teman si kembar Ipin dan Upin: Mei-Mei yang berlatar Tionghoa, Ismail, Ijart, Ehsan, dll. Semuanya terasa akrab di telinga Asia-Melayu kita.
Kita boleh saja – dulu – mencak-mencak bahwa Malaysia telah banyak “nyolong” unsur-unsur budaya yang katanya adalah budaya Indonesia. Tetapi kita sendiri melihat bahwa semua tindakan kita dalam menanggapi Malaysia kemudian hanya terbentur pada dinding retorika dan reaktif. Tidak ada sama sekali upaya sistematis untuk menanamkan matra-matra kemajemukan yang menjadi karakter keindonesiaan kita melalui suatu paket edukasi yang sungguh-sungguh berakar dalam struktur kesadaran anak-anak. Sebaliknya, stasiun-stasiun tv kita hanya sibuk berlomba-lomba menayangkan kerusuhan dan kekerasan. Berulang-ulang. Tayangan tv Indonesia menjadi membosankan dan tak ramah bagi pertumbuhan kesadaran anak-anak, yang kemudian mengukuhkan kesadaran bahwa kekerasan adalah jalan terbaik mencapai keinginan. Itukah yang memang ingin kita wariskan kepada anak-anak kita?
Ipin dan Upin menjadi suatu tayangan alternatif yang membawa anak-anak kembali ke dalam dunia mereka. Dunia bermain dan belajar dari pengalaman-pengalaman sehari-hari. Jauh dari kesan hipokrisi karena sarat muatan pesan-pesan agama yang tidak kontekstual. Pemahaman keagamaan ditanamkan bersamaan dengan kesadaran akan kemajemukan realitas hidup bersama: dalam pergaulan teman-teman dari berbagai latar belakang etnis, suku, agama, bahasa. Saya melihat bahwa melalui penayangan Ipin dan Upin, Malaysia benar-benar serius mengelola pemahaman identitas mereka sebagai bangsa Asia-Melayu. Bisa dikatakan bahwa Malaysia sedang merekonstruksi kesadaran identitas Asia dan Melayu melalui penancapan ideologis kultur Melayu. Dan, tentu saja, jangan kita kaget kalau suatu waktu hampir sebagian besar khazanah budaya Melayu dan Asia diklaim sebagai cultural heritage dari Malaysia. Dan Malaysia membuktikan bahwa merekalah yang “truly Asia”. Kalau sudah begitu, maka saya cuma bisa mengikuti gaya Ipin: BETUL, BETUL, BETUL…
Tuesday, April 6, 2010
Dawn in Amsterdam
Saturday, March 27, 2010
Ana Sakolah
Dace: Cukardeleng ose! Etus ee, kalo tar inga konyadu to beta su pilang ale ni. Jang sangaja bagitu o.
Etus: Hahahae... ini su mangapa lai? Par sore hari ale bajalang deng kaning takoro macang bagitu. Oee, bae-bae jang bajalang deng pikirang, la sala taru kaki skrek lai ale su punggul di kali batu merah. Beta su nanaku ale dar ongkoliong nyadu ee...
Dace: Kaning seng takoro bagemana lai Etus ee... beta ni ada kursus bahasa enggres di poka. Beta ada serius dengar lisening... wangala ee, katong pung instruktur bilang sampe jua barang anana su kaco baku lempar dalang kampus.
Etus: Istaganaga... beta pung nyadu ni tamba tua tamba tajang saja seeh. Ale masi iko kursus bahasa enggres tu lai. Beta kira ale ni su dekat matahari maso su seng taru kira par barang-barang bagitu lai.
Dace: Haa... se pung bagini-bagini ni ada haros katong tinggal tahang deng ton yes-no, la abis itu cuma bisa nganga orang bicara sampe aer mulu tumpa. Ale seng tau kata katong ni su musti siap par akang Sail Banda tu. Ale tau, ini nanti ada ribu-ribu orang bule mo maso Ambong.
Etus: Oo.. kalo sail banda beta tau. Tapi sabar dolo, jadi ale bajalang kaki ni...
Dace: La kira-kira beta mau molo dari martafons sampe galala? Bajalang jua. Tar ada oto satu lai. Dong su taku bajalang barang anana potar tu dong su baku lempar. Asal kata mahasiswa mar pikirang deng kalakuang macang orang seng skolah. Lebe bae macang beta bagini.
Etus: Itu akang nyadu ee... beta tar abis pikir lai mangapa tagal baku tatoki sadiki katong seng dudu bicara deng pikir akang bae-bae la cari jalang supaya samua pung mau laeng mangarti laeng.
Dace: La kalo su bagini, katong mo harap apa lai? Dong-dong itu akang orang-orang sakolah kio. Su balajar tikang kapala, mata tarobe sasamalang par dudu baca buku-buku tehupiori.
Etus: Oee... teori bukang tehupiori.
Dace: Itu sudah.
Etus: Nyadu eee.... tagal itu beta mo bilang ale bukang, lebe katong yang seng sakolah skali tapi mangarti hidop orang basudara gandong. Katong ni memang bukang orang sakolah tinggi mar katong tau ilmu hidop. Jadi beta rasa dong-dong itu musti balajar ilmu hidop lai. Jang cuma baku taroso deng ilmu-ilmu yang dong kasta kakarlak tanang dalang dong pikirang.
Dace: Iyo, iyo, sudah... jang ale bicara banya lai. Mari saribu dolo par se pung nyadu ni nae ojek. Beta su rasa engkel-engkel kaki pata-pata.
Etus: Ale ni seng laeng jua... saban bakudapa musti pata katong.
Dace: Hei, shat yor mot... mari capat kamari.
Etus: Iyo, tahang deng se pung shat yor mot... tar lama beta mot se.
[ini cuma kewel Dace deng Etus... jang mara kio kalo ada yang takanal di hati. Mara jua seng apa-apa, asal jang lupa tatawa... hahahaeeee....]
Friday, March 26, 2010
Lupa HP
Sudah cukup jauh dari rumah baru teringat saya lupa bawa handphone. Mau balik ke rumah sudah tanggung. Kalau pun dipaksakan, bisa terlambat Kanu tiba di sekolahnya. Janganlah. Ini hari terakhir Kanu ikut ulangan tengah semester. Materinya pun berat (bahasa Mandarin) dan perlu konsentrasi serta ketenangan. Jalan terus. Biarlah seharian ini silence alias sama sekali tidak bisa mengirim/menerima panggilan atau SMS.
Menjalani jam-jam sepanjang pagi (sambil tunggu jam mengajar) tanpa HP ternyata memberi nuansa ketenangan tersendiri. Pikiran tenang, hati senang. Bisa lebih konsentrasi nimbrung di facebook atau nge-blog. Aktivitas terakhir ini jarang sekali dilakukan karena ada saja kesibukan sepanjang hari, yang menuntut saya harus “berlompatan” kesana kemari.
Tersadar pula betapa sulit zaman sekarang hidup tanpa HP. Bolehlah lupa yang lain, tapi HP haram dilupakan. Kata seorang teman: “Zaman sekarang jalan tanpa HP, bisa sesak napas.” Wah, sebegitu pentingnya. Produk teknologi yang satu ini memang sudah menjadi semacam idol dalam kehidupan setiap orang. Mulai dari tukang sapu jalan yang gajinya hanya berbunyi “tus” sampai eksekutif berdasi dengan gaji berbunyi “yar”. Semua perlu HP. Apalagi dengan fitur-fitur yang makin canggih. Semua kebutuhan bisa terpenuhi. Dari chatting sampai baca kitab suci. Semua dengan mudah ditenteng dalam HP yang mungil dan superringan. Dalam banyak kesempatan saya juga sering mendapati orang-orang Kristen beribadah tanpa perlu lagi bawa Alkitab (versi printed) tapi sudah dalam format program di HP. Bahkan ada pendeta yang sebelum mulai berkhotbah membaca Alkitab dari HP. Praktis, katanya. Asal jangan lowbat pak… bisa berabe tuh.
Sehari tanpa HP menyadarkan saya bahwa benda kecil ini telah menjadi suatu ideologi dan gaya hidup. Kalau mau ekstrem bisa dikatakan hidup bisa berhenti tanpa pegang HP. Seluruh pikiran dan jiwa kita sudah dikuasai oleh HP. Barang ini seolah-olah makin bernyawa dan kita dihipnotis oleh auranya. Jiwa kita pun tak berdaya tanpa “roh” HP. Bisa ditebak, bahwa relasi-relasi sosial pun makin ditentukan dan ditaklukkan oleh HP. Anda tidak harus menerima panggilan seseorang. Atau Anda harus menerima panggilan seseorang kendati Anda sedang rapat atau beribadah (karena HP Anda terus ON). Bisa juga, Anda merasa tidak perlu berkata jujur tentang di mana Anda berada, apa yang Anda sedang lakukan, atau Anda sedang berada dengan siapa. Jawaban yang kerap terdengar adalah “OTW” (on the way alias sedang di jalan), padahal Anda masih baru bangun tidur dan belum mandi. Atau kalau tidak mau diganggu, dengan enteng kita bisa bilang: “sorry nih, saya lagi rapat. Nanti saya telepon.” Kenyataannya kita tidak pernah menelepon balik. Banyaklah contohnya.
Lupa HP sehari membuat saya teringat cerita dalam Alkitab tentang seorang pengusaha muda yang kaya. Ia datang kepada Yesus dan menanyakan apakah yang harus diperbuatnya supaya memperoleh hidup kekal. Yesus menjawab dengan sejumlah pernyataan normatif sebagaimana tercantum dalam hukum Taurat. Pengusaha muda nan kaya itupun menyahut bahwa semua hukum agama itu telah dilakukannya. Maka Yesus meminta dia menjual seluruh hartanya, membagikannya kepada orang-orang miskin, dan ikut Yesus. Sang pengusaha muda nan kaya itu lalu tertunduk dan membisu, terus tanpa cingcong ngeloyor pergi. Injil mencatat: … karena banyak hartanya.
Kesalehan pengusaha muda itu tidak diragukan. Hukum-hukum agama ditaati dan dijalani dengan setia. Tetapi sebenarnya hati dan hidupnya tidak dirembesi oleh makna hukum-hukum itu. Hukum-hukum agama hanya sebuah tampilan normatif tetapi tidak menggugah dan menggelisahkan hidupnya sendiri dalam relasi sosialnya. Ia hanya gelisah dengan keselamatan dirinya dan tidak pusing dengan realitas sosial di sekitarnya. Bahkan kemanusiaan orang lain tidak lebih berharga dari barang (harta) yang dimilikinya. Hidup kekal hanya menjadi pesona ekstasi masa depan yang sangat individualistik. Hidupnya terbelenggu oleh rantai-rantai ideologis yang membutakan dan mendangkalkan kedalaman hidup hanya pada benda. Ia tidak menjadi dirinya sendiri. Ia hanyalah label yang baru bermakna ketika melekat pada barang yang dimiliki atau dibawanya.
Sehari tanpa HP sontak menyadarkan saya tentang apa yang sebenarnya menjadi prioritas dan orientasi hidup kita. Kendati masih kabur, tapi sudah mulai tersingkap: apakah kita masih menjadi diri sendiri ataukah kita hanya dikenal karena apa yang kita pegang dan kita punya? Sebuah reifikasi yang menyeret kita menjadi “nothing without the thing you have”. HP memang penting; tapi tentu bukan prioritas sampai-sampai kita harus membudak padanya. HP membantu kita membangun relasi dengan orang yang jauh; tapi tidak bisa menaklukkan kita hanya menjadi manusia-manusia yang kesepian di tengah hiruk-pikuk kerumunan orang-orang di sekitar kita – yang nyaris tak kita sapa karena kita lebih asyik-masyuk dengan facebook, chatting, mp3, dan sejenisnya. Lalu, kita tertawa sendiri, bergumam sendiri, bicara sendiri. Bukan tak mungkin kita akhirnya sibuk dengan pikiran sendiri dan buta terhadap kehadiran orang lain di sekitar kita – itu tanda bahwa kita sedang menjadi tak waras…
Thursday, March 25, 2010
Otak vs Otot
Peringatan - sajak proletar Wiji Thukul
Wednesday, March 24, 2010
Menggereja di dunia: secuil catatan
Aku gereja, kau pun gereja
Kita sama-sama gereja…
Gereja bukanlah gedungnya…
Gereja adalah orangnya…
Demikianlah sekelumit nukilan syair lagu yang – saya rasa – cukup dikenal, mulai dari kalangan anak-anak Sekolah Minggu sampai orang dewasa dari warga jemaat Kristen. Namun demikian, meskipun syair lagu tersebut cukup populer, ternyata kita sulit sekali mengubah pencitraan setiap kali kita menyebut kata “gereja”. Saya sering mendengar bahwa pendeta A sebelum dimutasi ke jemaat lain telah berhasil membangun “gereja” yang cukup megah. Di jemaat yang baru pun program pertama yang dicanangkan adalah membangun “gereja” baru, yang dianggap lebih layak daripada yang lama. Anda tentu paham yang saya maksud, bukan?! “Gereja” yang kerap disebut di sini jelas adalah “gedung ibadah”.
Kalau Anda mengunjungi suatu negeri atau jemaat di Maluku, gedung ibadah merupakan salah satu landmark. Anda tidak akan tersesat karena cukup dengan melihat menara loncengnya yang menjulang, arsitekturnya yang eksotik dan modern, pekarangannya yang luas dan asri… Seolah-olah berdiri anggun dikerumuni rumah-rumah warga jemaat yang setengah miring, beratapkan daun sagu, berdinding pelepah sagu, dan masih berlantai tanah. Bahkan, menurut pengalaman saya, orang-orang yang hidup di sekitar gedung ibadah yang megah itu masih bertelanjang kaki, dengan anak-anak kecil berambut gimbal kemerah-merahan karena tubuhnya tak tersentuh air selama beberapa hari. Bukan karena tidak mau mandi, tetapi karena untuk mandi saja harus mengambil air dengan jarak cukup jauh. Yah, jadinya lebih sering “mandi keringat” ketimbang “mandi air bersih”. Semua pemandangan itu kerap – menurut amatan saya – terlihat justru di sekitar gedung ibadah yang megah itu.
Jadi, apakah “gereja” itu orangnya? Ataukah masih terus dan terus terpahami sebagai “gedungnya”?
Gereja yang Membumi
Menyelisik sejarah gereja, termasuk sejarah Gereja Protestan Maluku (GPM), kita akan menyadari bahwa gereja sebagai institusi bukanlah sebuah produk ilahi yang tiba-tiba jatuh dari surga. Institusi gereja adalah sebuah produk sosiologis, historis, dan kultural bahkan politis. Matra kerohaniannya lebih terletak pada visi teologisnya. Penelusuran sejarah gereja sebagai institusi kerap terartikulasi dalam narasi-narasi besar historis yang menempatkan kelahiran gereja sebagai buah dari pemikiran dan tindakan kaum elite. Di banyak gedung gereja kita lebih mudah menemukan prasasti yang berisi nama-nama para pendeta yang pernah melayani di jemaat itu. Tetapi rasanya jarang – kalaupun tidak ada sama sekali – yang mencatat nama-nama para tuagama atau para majelis jemaatnya. Wah, bisa penuh dong tembok gereja?! Sudah pasti. Tetapi bukankah gereja itu orangnya?! Bukankah tanpa “orang-orang” itu gereja dan pekabaran Injil tidak bisa bertumbuh, bertunas, dan berbuah?!
Tulisan ini tidak berpretensi mempertentangkan antara gereja sebagai “institusi” dan gereja sebagai “manusia”. Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Justru, dengan menghadapkan dua persepsi tersebut kita hendak menguji apakah memang aspek “institusi” dan “manusia” sudah diposisikan secara dialektis dan setara sebagai dua dimensi yang menghidupkan makna gereja itu sendiri.
Dengan menyejajarkan secara dialektis kedua dimensi tersebut maka kita secara sadar hendak memahami gereja sebagai suatu entitas yang dinamis dan berakar dalam konteks spasio-temporal (ruang dan waktu). Institusi hanya akan menjadi instrumen mekanik yang beku-kaku dan birokrasi tak bernyawa tanpa dimensi kemanusiaan. Sebaliknya, kemanusiaan hanya akan menjadi dinamika tanpa orientasi misi dan visi yang jelas jika tidak terorganisasi dalam struktur penataan sumber daya yang mumpuni. Dalam arti demikian, gereja dapat dipahami sebagai “organisasi” yang secara implisit memperlihatkan dialektika dan korelasi kreatif antara struktur dan manusia.
Jika demikian, gereja sebagai organisasi mengemban fungsi-fungsi transformasi yang jangkauannya sejauh kejamakan varian situasi problematik manusia yang menggereja. Gereja dalam arti itu tidak lagi menjadi sebuah kata benda, tetapi kata kerja. Gereja adalah tindakan. Dinamika dan intensitas pergumulan kemanusiaan itulah yang menjadi konteks tindakan gereja. Menggereja adalah menyikapi realitas pemiskinan, penindasan politik, penyelewengan hukum, pelecehan HAM, marjinalisasi, kekerasan struktural, kerusakan lingkungan hidup, dan distorsi teologis dari hakikat gereja itu sendiri. Menggereja adalah sikap membumi; bergumul dalam lumpur keringat dan darah rakyat jelata yang menjadi korban ketidakadilan; menjadi benteng advokasi teologis terhadap tendensi despotik kekuasaan politik dan keserakahan ekonomi yang menggusur rakyat dari tanahnya; dan menjadi pelopor bagi suatu gaya hidup alternatif yang ramah terhadap bumi yang makin merana.
Kembali ke Gereja: Apa Artinya?
Belakangan ini saya sering mendengar pernyataan “kembali ke gereja”. Saya senang mendengar pernyataan itu. Ada semacam semangat yang menggema kuat bahwa gereja harus kembali menjadi dirinya lagi. Tapi, dirinya yang mana? Sejarah kekristenan, termasuk di Maluku, memperlihatkan bahwa wacana eklesiologis merupakan salah satu isu yang hangat jika ditempatkan dalam ranah kontekstual. Kita pun kerap kebingungan dalam tarikan gravitasi eklesiologi Barat dan eklesiologi Maluku. Lebih fasih menyebutkan rumusan panjang pengakuan iman Athanasius dan sejenisnya, tapi enggan mengaku iman sendiri dengan kesadaran Malukuisme. Apakah “kembali ke gereja” berarti kita harus “keluar dari dunia”? Saya rasa tidak demikian.
Dalam amatan saya, “kembali ke gereja” sebenarnya merupakan kritik-diri untuk terus-menerus menguji apakah tindakan menggereja kita sudah terarah pada pembebasan kemanusiaan dari segala kecenderungan distorsif dan destruktif, yang menenggelamkan manusia dalam kehancurannya sendiri. Malah lebih jauh, “kembali ke gereja” adalah suatu panggilan untuk mendekonstruksi pemahaman-pemahaman luncas bahwa gereja hanyalah suatu entitas rohani yang jauh dari pertautan intim dengan realitas konteks gumulnya. Gereja pada dirinya tidak mengajarkan jalan masuk Kerajaan Surga, tetapi justru mengajarkan bagaimana matra Kerajaan Surga itu termanifestasi di bumi, kini dan di sini.
Bagi saya, bukan aspek “kembali ke gereja” itu yang penting, melainkan apa implikasi yang seharusnya muncul dari gerakan “kembali ke gereja” itu. Gereja kita sangat kaya dengan pernyataan-pernyataan teologis, tetapi miskin sekali dalam implementasi praksis teologis. Alih-alih memberikan alternatif gaya hidup sebagai cara kritis menguji dirinya dan menanggapi konteks gumulnya, gereja – sebagai institusi dan manusia – kerap malah asyik-masyuk dalam kenikmatan mengagumi pesona diri dengan kemolekan-kemolekan rohani yang artifisial, seolah-olah sedang merayu Allah dengan kegenitan spiritualitasnya yang semu.
Implikasi berteologi adalah terbentuknya suatu gaya hidup alternatif. Risikonya adalah kita akan dipandang “aneh” karena menganut gaya hidup berbeda dengan dunia (oikos). Tapi jangan salah sangka bahwa dengan demikian kita ingin memilih gaya hidup seperti kaum Amish di Amerika Serikat yang menolak segala bentuk teknologi modern. Bukan bentuk yang kita tolak, tetapi ideologi di balik bentuk-bentuk kehidupan modern. Tanpa jarak kritis, ideologi modern secara subtil merasuk ke dalam cara pandang dan sikap menggereja kita, lalu perlahan-lahan membuat kita terlena dalam ekstasi rohani yang hanya sekadar mengagumi bentuk-bentuk simbolik tetapi abai pada transformasi sosial yang memang sudah menjadi panggilan menggereja itu sendiri.
Gereja yang ekumenis pada hakikatnya adalah cara gereja membangun gaya hidup alternatif. Gereja yang membumi (oikos) adalah gereja yang bersahabat dengan bumi; gereja yang membangun persaudaraan dengan semua yang “lain” (others); gereja yang berpolitik untuk melawan penindasan politik, eksploitasi ekonomi, dan pemiskinan; gereja dengan ruang-ruang yang terbuka lebar, bukan hanya untuk membangun kerohanian individual melainkan untuk membangun dialog spiritual secara leluasa; gereja yang bermisi, bukan untuk mengkristenkan tetapi memperkenalkan spiritualitas kristiani yang percaya diri, bersahabat, egaliter, dan non-diskriminatif.
Mungkinkah?

