Aku menulis maka aku belajar

Thursday, April 14, 2011

Sepenggal Kisah di Ketiak Nusa Ina: Catatan Perjalanan [3]


Gunung Tanah yang mana?
Di Maluku, istilah “gunung tanah” biasa dipakai untuk menyebutkan negri asal. Istilah tersebut tidak hanya menyangkut pengertian lokasi secara geografis, tetapi eksistensi budaya. Gunung tanah kerap digunakan untuk menunjuk pada “negri lama” yang terletak di gunung. Oleh karena kebijakan kaum penjajah pada masa lampau, banyak negri (hena) yang dipindahkan ke pesisir pantai guna memudahkan kendali ekonomi masyarakat lokal. Dalam mitos dan cerita rakyat orang Seram, banyak dituturkan tentang bagaimana asal-mula mereka menempati gunung dan kemudian dipaksa turun ke pesisir. Perpindahan paksa itu membawa sejumlah konsekuensi budaya yang dari generasi ke generasi membuat mereka berada dalam kebingungan identitas: orang gunung atau orang pantai?

Hal itu tampak dalam pandangan dunia mereka yang terbelah antara laut dan pantai sehingga apa yang mereka upayakan juga tidak terfokus pada satu mata usaha saja. Mereka menjadi orang-orang “antara” atau liminal. Orientasinya adalah ke darat dan ke laut. Itu sebabnya hampir sebagian besar orang Seram tidak bisa disebut sebagai masyarakat nelayan meskipun mereka ratusan tahun hidup di pesisir pantai. Berbeda dengan masyarakat Buton dan Bugis.

Pada kenyataannya, kehidupan masyarakat Seram lebih banyak mengupayakan penggarapan tanah dalam apa yang disebut “dusun” (dusun pala, dusun kelapa, dusun coklat, dsb). Tanah atau “gunung” tetap menjadi acuan identitas mereka. Tanpa tanah, mereka tidak mampu melakukan apa-apa. Di sinilah letak ironinya. Ketika tuntutan kebutuhan ekonomi dan gaya hidup mendesak mereka untuk mendapatkan uang dengan cepat, maka pilihan utama adalah menjual tanah. Ribuan hektar tanah kini bukan lagi milik mereka, melainkan milik cukong-cukong bermodal besar dan kaki-tangannya di negri-negri. Cukong-cukong menyediakan modal, sedangkan kaki-tangannya mencari mangsa, yaitu orang-orang yang dengan sengaja dijebak dalam situasi ketergantungan ekonomi sehingga harus mengikuti keinginan para cukong itu. Tanah menjadi sebuah pertaruhan identitas budaya dan juga ekonomi.

Jemaat Usinaman-Makariki (Usmak) misalnya. Mereka telah menempati lahan di antara negri Yaputi (Salam) dan negri Hatu (Sarane). Pascakonflik, lahan yang mereka tempati kini ternyata menjadi sengketa antara Yaputi dan Hatu. Mereka tidak berdaya dan selalu menjadi korban dari perseteruan kedua negri tersebut. Bahkan dusun-dusun yang sebelum konflik sudah mereka beli dan dilengkapi dengan surat-surat resmi, kini telah menjadi rebutan orang Yaputi dan orang Hatu. Masyarakat Usmak kini hanya bisa menunggu nasib berdasarkan keputusan pengadilan kepada siapa lahan tersebut dilimpahkan. Beberapa keluarga Usinaman akhirnya memutuskan untuk keluar dan menetap di Waipia. Masih tersisa sekitar 10 kepala keluarga yang bertahan dengan kondisi yang memprihatinkan. Dalam beberapa percakapan sering terdengar tanggapan miris ketika ada yang bicara tentang “gunung tanah”: gunung tanah yang mana?

Rahim Nusa Ina yang Terkoyak
Banyak cerita yang belum terungkapkan di sini. Cerita tentang kepedihan manusia di tengah benturan peradaban modernitas dan lokalitas, ketegangan antara mitos-mitos globalisasi dan penundukan kearifan lokal oleh buldoser-buldoser kapitalisme, kebingungan manusia-manusia lokal di tengah berbagai tarikan kepentingan politik yang selalu mengatasnamakan mereka tapi pada akhirnya hanya menjadikan mereka tumbal yang bisu berabad-abad.

Tulisan ini hanyalah catatan kecil dari perjumpaan dan bastori dengan beberapa orang yang menggeluti hidup dalam kepedihan rahim Nusa Ina yang terkoyak. Lukanya makin menganga. Perihnya menusuk hingga ke sumsum Nunusaku. Nunusaku kini hanya menjadi utopia yang makin kabur tertutup kamu-kamu ideologi kapitalisme yang menerjang dan memporak-porandakan seluruh tradisi hikmat lokal yang dituturkan dalam hening oleh orang-orang tatua yang makin bungkuk.

Mereka mencoba menarasikan terus kisah kemolekan Nusa Ina dan kejayaan Nunusaku meski dengan suara yang kian parau dan melemah. Tapi mereka masih berharap Nusa Ina tetap menjadi ibu yang merawat, menjaga, membesarkan anak-anak Maluku yang hormat dan sayang pada ibu mereka. Bukan karena sang Ina meminta balas, tapi karena sang anak yang tahu berterima kasih.

Nusa Ina, Nusa Ina, semoga rahimmu terus melahirkan anak-anak perkasa yang tahu membalas darah dan airmatamu dengan menjagamu sepanjang masa.

Selesai - MENA MURIA!
Saunulu, 10 April 2011
Read more ...

Sepenggal Kisah di Ketiak Nusa Ina: Catatan Perjalanan [2]


Terbelit Kemiskinan
Persoalan-persoalan kini yang dihadapi oleh jemaat-jemaat di Telutih adalah penguatan kehidupan ekonomi yang mandiri. Jemaat-jemaat pascakonflik di wilayah ini harus memulai kembali aktivitas ekonomi mereka dari titik nol. Sebagian besar dusun-dusun mereka [di]rusak, sementara tanaman yang mereka upayakan kebanyakan adalah tanaman umur panjang. Kondisi ini menyebabkan perputaran uang sangat lambat. Apalagi infrastruktur transportasi (jalan dan jembatan) sama sekali tidak memadai. Jalur darat dari kota kecamatan Tehoru sampai di Ulahahan, negri terakhir di perbatasan kabupaten Maluku Tengah dan kabupaten Seram Bagian Timur, kondisinya rusak berat. Termasuk belasan jembatan yang rusak, setengah jadi, atau masih berupa tiang-tiang penyangga.

Hasil-hasil kebun dipasarkan dengan menggunakan ketinting ke Tehoru, lalu diangkut kembali melalui jalur darat ke Amahai dan Masohi. Biaya muatan dan pengangkutan cukup tinggi karena ruas jalan yang rusak sangat panjang (puluhan kilometer dari Tehoru sampai Tuhehay). Sehingga hampir tidak ada keuntungan dari penjualan hasil-hasil kebun seperti itu. Cara cepat untuk mendapatkan uang bagi kebutuhan sehari-hari adalah menggadaikan dusun kepada para rentenir (sistem ijon). Rentenir meminjamkan sejumlah uang yang mereka minta, tapi dengan kompensasi penggarapan dusun dalam jangka waktu cukup panjang (ada yang 5 tahun – hasil panen yang berlipat ganda). Keuntungan yang diraup oleh para rentenir ratusan kali lipat dibanding jumlah uang yang dipinjamkan kepada masyarakat. Ada pula yang tergiur sejumlah uang lalu menjual ratusan hektar tanah dusun mereka kepada para rentenir atau pihak lain. Mereka kini kehilangan hak sama sekali atas tanah-tanah tersebut.

Anak-anak muda yang tidak mampu melanjutkan pendidikan, lebih memilih untuk menggarap lahan orang lain di atas tanah yang dulu milik orang tua mereka. Sebagian lain mengambil kredit sepeda motor dan menjadi pengojek. Ada lagi yang terpuruk dalam kondisi kemiskinan sehingga hanya menjalani aktivitas sehari-hari sebagai pengangguran dan mabuk-mabukan. Sebagian lain mengikuti usaha beberapa keluarga memproduksi sopi. Pada kenyataannya, mereka bukan hanya produsen tetapi juga konsumen sopi. Tingkat konsumsi sopi yang tinggi juga berdampak pada kerawanan sosial dalam bentuk perkelahian antarpemuda, antarkeluarga, dan kriminalitas (pencurian hasil kebun, pemerkosaan, kekerasan terhadap perempuan). Menyiasati kondisi rawan ini beberapa keluarga terpaksa menitipkan anak-anak mereka di kaum kerabat di Amahai, Masohi, dan Ambon, agar mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (SMA dan perguruan tinggi).

Terayun Rayuan Politik
Wilayah Telutih merupakan salah satu wilayah empuk bagi para petualang politik. Kondisi sosial-ekonomi masyarakat (terutama jemaat GPM) di kawasan ini sering kali menjadi sasaran para petualang politik untuk meraup suara konstituen bagi kepentingan politik mereka (calon bupati dan calon legislatif). Janji-janji politik yang muluk-muluk kerap memabukkan para konstituen yang memang tidak memiliki dasar pengetahuan memadai untuk membaca arah angin politik yang dihembuskan. Apalagi ketika para petualang politik mengemas kampanye-kampanye mereka dengan bungkusan terminologi-terminologi lokal dan memanfaatkan ikatan-ikatan kekerabatan untuk mendapatkan dukungan politik.

Dalam konteks tersebut, agama juga rentan dimanfaatkan sebagai isu politik terutama melalui slogan-slogan politik yang mengusung simbol-simbol agama. Isu-isu yang bersifat segregatif juga turut memperkuat sentimen-sentimen identitas primordial (agama dan etnis). Dari sini tampak bahwa politik lokal di kawasan ini masih sangat kuat bertumpu pada pengemasan isu-isu sensitif dikotomis: “orang asli” vs “pendatang”, “Islam” vs “Kristen”, “orang Seram” vs “orang non-Seram”. Pencitraan politik yang didesak dalam alam pikiran masyarakat adalah pencitraan politik yang bernuansa agama, wacana-wacana budaya lokal, dan janji-janji pembangunan yang sebenarnya tidak kontekstual karena hanya berada pada tataran isu, bukan program pembangunan yang berbasis pada kebutuhan riel konteks sosial-budaya-ekonomi kawasan ini.

Di beberapa jemaat, hubungan antarkomunitas berbeda agama dan etnis sejauh ini berjalan dengan harmonis kendati tidak disangkali bahwa masih ada sisa-sisa trauma konflik. Beberapa pendeta menjalin komunikasi yang cukup baik dengan sejumlah ulama di negri-negri Salam sehingga persoalan-persoalan kecil yang berpotensi menyeret isu agama dapat diselesaikan dengan pembicaraan bersama untuk mengantisipasi rembetannya menjadi lebih besar.

Ada beberapa pendeta yang juga memanfaatkan hubungan-hubungan pela-gandong dengan komunitas Salam untuk menjaga kemungkinan-kemungkinan merebaknya konflik keagamaan yang masih potensial di kawasan ini. Misalnya, Pdt. PL mencoba “memanaskan” komunikasi budaya dengan gandong-nya orang Tamilouw, negri Salam terbesar di situ. Atau Pdt. JH yang membangun komunikasi dengan pela-nya komunitas Siri-Sori Salam yang tersebar di beberapa negri Salam. Demikian juga dengan Pdt. WH yang terus membangun komunikasi budaya dengan gandong-nya komunitas Seith terutama di negri Yaputi. Menurut mereka, pendekatan budaya semacam ini sangat membantu proses-proses memulihkan kehidupan sosial jemaatnya pascakonflik. Bahkan mereka banyak sekali mendapatkan informasi seputar aktivitas-aktivitas oknum atau kelompok tertentu yang masih berniat memanaskan isu konflik agama di kawasan tersebut.

(bersambung)
Read more ...

Sepenggal Kisah di Ketiak Nusa Ina: Catatan Perjalanan [1]


Selama empat hari saya melakukan tugas perjalanan mengunjungi 33 mahasiswa Fakultas Teologi UKIM yang sedang menjalani praktik hidup bersama (live-in) di jemaat-jemaat se-Klasis Telutih, Pulau Seram. Klasis Telutih merupakan satuan wilayah pelayanan dari 19 jemaat Gereja Protestan Maluku. Hanya satu jemaat (Piliana) yang berlokasi di pegunungan, sedangkan sisanya berjejer di sepanjang pesisir pantai diselingi oleh beberapa negri Salam. Klasis ini terletak pada dua wilayah administratif tingkat kabupaten: Kabupaten Maluku Tengah (Salamahu s.d. Ulahahan) dan Kabupaten Seram Bagian Timur (Dihil s.d. Naiwel Ahinulin). Sebelum konflik sosial merebak ke seluruh wilayah Maluku, klasis ini mengatur 22 jemaat GPM. Tetapi pascakonflik hanya tersisa 19 jemaat yang bersedia kembali ke lokasi semula; 1 jemaat tidak mau kembali dan 2 jemaat lainnya beralih menjadi penganut agama Islam (Adabai dan Lapela).

Kunjungan ke jemaat-jemaat pesisir (Salamahu s.d. Ulahahan) dapat dilakukan dengan menggunakan sepeda motor dan ketinting. Sepeda motor hanya dapat digunakan jika cuaca cerah atau tidak hujan. Kalau hujan, maka perjalanan harus menggunakan ketinting karena sungai-sungai meluap. Sebagian besar fasilitas jembatan rusak parah dan karena itu penyeberangan harus dilakukan dengan cara melintasi aliran sungai. Jika memakai sepeda motor maka sepeda motor harus diusung oleh beberapa pemuda yang memang menyediakan jasa tenaga melakukannya. Sarana transportasi yang cepat dan aman adalah ketinting. Namun itupun harus memperhitungkan kondisi laut pada bulan-bulan tertentu. Terkecuali Jemaat Piliana. Lokasi Piliana hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki menempuh jarak 8 km, melewati jalan setapak, hutan, dan perbukitan.

Kisah di Ketiak Nusa Ina
Jika memandang dari kota kecamatan Tehoru, maka jajaran kampung dan jemaat mulai dari Saunulu s.d. Ulahahan berada di lekukan tanjung yang menyerupai ketiak manusia. Di ketiak Nusa Ina ini tersimpan banyak cerita mengenai manusia-manusia Seram yang bergelut dengan alamnya sekaligus menjadi korban dalam kelimpahan kekayaan alamnya sendiri.

Jemaat-jemaat se-Klasis Telutih hidup berdampingan dengan negri-negri Salam. Bahkan komunitas di beberapa jemaat merupakan komunitas yang heterogen, baik secara agama maupun etnis. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa komunitas-komunitas beraneka agama dan etnis sudah sejak lama menjalin interaksi satu dengan yang lain. Mereka tidak lagi asing dengan “yang lain” karena identitas dan relasi-relasi sosial di kawasan ini dihidupkan oleh antarhubungan berbagai komunitas agama dan etnis. Etnis Jawa, Buton, Bugis, Saparua, Buru, Timor, dan Maluku Tenggara sudah bertahun-tahun menjalani kehidupan sosial dan aktivitas ekonomi mereka bersama-sama dengan etnis Seram (Waulu, Sopamaraina) di Tehoru. Begitu pula dengan komunitas agama-agama yang mencakup Salam, Sarane, Katolik Roma, Hindu, Budha, dan agama-agama suku.

Namun antarhubungan tersebut terganggu oleh konflik sosial yang juga melanda kawasan ini. Ada cerita-cerita yang menyatakan bahwa sebenarnya konflik tersebut lebih dipicu oleh kedatangan kelompok-kelompok paramiliter dari luar Seram yang memprovokasi mereka untuk menyerang kelompok yang lain. Resistensi lokal berdasarkan ikatan kekerabatan yang telah terjalin antarkomunitas berbeda agama dan etnis tidak mampu membendung desakan kekuatan luar yang mengancam dengan begitu dahsyat. Dari 22 jemaat di Klasis Telutih, hanya 2 jemaat yang tidak hancur, yaitu Jemaat Piliana (gunung) dan Jemaat Hatu (pesisir). Selebihnya hancur total atau beralih ke Salam. Jemaat-jemaat yang hancur mengungsi ke wilayah pegunungan, terutama Piliana (pernah menampung 6.000 jiwa pengungsi); kelompok-kelompok pengungsi yang lain terus berjalan melintasi Gunung Sembilan dan Gunung Maraina menuju Wahai, Taniwel, dan Waipia.

Pemulihan kehidupan sosial berjalan berangsur-angsur. Tidak dapat disangkali bahwa penderitaan semasa konflik tetap mengguratkan trauma dan kerentanan. Namun sejauh ini komunitas-komunitas tersebut mulai merajut kembali hubungan-hubungan yang terkoyak selama beberapa waktu.

(bersambung)
Read more ...

Thursday, March 31, 2011

Macet

Kesibukan rutin menyita sebagian besar waktu sehingga hampir-hampir tak tersisa jeda untuk melakukan refleksi dan menuangkannya di ruang ini. Aktivitas berjalan seakan tak membiarkan sedikitpun kesempatan menarik nafas dan memuntahkan ide-ide yang berkeliaran liar di benak saya. Begitulah. Mengeluh pun tidak banyak gunanya selain mengikuti saja alunan irama rutin kehidupan dan menikmatinya sebagai proses mematangkan sejumlah ide.

Ada ide untuk mengisi bulan April yang sudah menanti di ambang pintu dengan beberapa refleksi mengenai simbol-simbol budaya yang mengakrabi kehidupan orang-orang Maluku sehari-hari. Tiba-tiba saja ide ini menyeruak ketika sedang melamun di halaman kampus UKIM sembari mengamati tingkah polah para pengejar ilmu di kampus talake ini. Sengaja saya segera menorehkannya di sini untuk terus mengingatkan ada agenda yang harus diselesaikan di sela-sela kepadatan rutinitas yang kerap menjebak ide dalam kemacetan lalu lintas pengalaman sehari-hari.

Kenapa harus April?
Pertanyaan yang saya sendiri tak yakin dengan jawaban saya sendiri. Hanya selintas asumsi bahwa menjelang bulan April ada semacam intensitas peningkatan aktivitas "pengamanan" yang tak lazim. Hari ini saja, dalam perjalanan menuju ke talake, ada sepasukan tentara yang "show-force" dengan perlengkapan perang komplit. Seolah-olah bulan April adalah bulan ancaman yang mesti direspons secara reaktif. Mungkin saja saya salah. Atau itu hanya anggapan yang terlampau berlebihan. Mungkin.

Tetapi rasanya juga bisa diterima jika bulan April dalam perspektif tentara di Maluku akan condong pada kegelisahan (atau ancaman?) terutama menjelang tanggal 25 April. Rupanya tanggal ini telah menjadi tanggal sakral sehingga aparat keamanan selalu bergegas menyiapkan ritual-ritual militer untuk menghadapi tanggal tersebut. Saya pribadi merasa aneh. Stigmatisasi orang Maluku sebagai pengikut ideologi dan/atau gerakan RMS tampaknya memang sudah tertanam kuat dalam cara pandang kaum militer di Indonesia. Sehingga seluruh proses menolak rasionalisasi "RMS masih ada" seakan-akan selalu membentur tembok tebal indoktrinasi militer di Indonesia. Maka tak mengherankan bahwa seluruh partipasi dan kontribusi orang Maluku terhadap proses menjadi Indonesia nyaris tenggelam tak bermakna.

Saya tak berpretensi melakukan analisis politik di sini. Yang menjejali benak saya justru adalah kegelisahan untuk melihat sebenarnya apa [lagi] yang bisa disumbangkan oleh orang Maluku sehingga keindonesiaan menjadi sebuah pergulatan bersama dengan komunitas lokal di wilayah-wilayah lain dari Merauke sampai di Sabang. Saya rasa itulah yang bisa dilakukan (setidaknya oleh saya sendiri).
Read more ...

Monday, March 7, 2011

Aer Babasu

Pulang dari kabong, karingat balong karing di badang lai, Dace skrek dengar Etus su tabaos dia pung nama dar kintal ruma.

Etus: Nyadu ee… Dace… mari kaluar dolo!

Dace: Tuandalar ee… ini apa ni?! Etus e, mangapa lai? Par oras bagini ose su tarewas beta pung nama macang ada dapa iku dar buntilana bagitu…

Etus: Suda jua nyadu manis tuang hati ee… ale mo mara beta nanti simpang dolo. Sakarang ni dengar beta bilang inpormasi klas satu ni dolo…

Dace: Kalo baru klas satu, loko kasi akang par yongen kacil jua. Dia ada baru dudu di klas satu tu.

Etus: Oee, Dace, beta serius ni… Ose taru se pung manara tu, lalu baganti bagus2 la iko beta ktong pi ka lau.

Dace: Hoi, ale su prenta skali ni… bilang dolo ini ada mangapa?

Etus: Orang2 su bakumpol paleng banya di tana lapang di lau. Beta dengar rombongan dari bendar ada bajalang unju rupa “calon ayau” par anana negri. Mar itu soal blakang. Yg lebe penting, dong ada bajalang bage baju kaos deng gambar2 paleng banya ee…

Dace: Ahahahaeee… Etus e, bet kira apa lai… La barang2 bagitu katong su amper loha akang te… saban kali mau sorong kursi ayau baru, dong musti bajalang unju rupa par anana negri. Nanti par oras su dudu di kursi ayau dong su tar nodek anana negri lai. Ose lia saja katong pung jalang mo masu2 negri dari taong adam, ayau satu abis satu sumbur janji, mar sang oras ni mana kang?

Etus: Hoe, nyadu e, ale seng bole bagitu. Katong ni memang orang kacil mar katong musti unju lai kalo katong tau master orang pung hal. Yg paling penting tu, katong ni warga bendar yg musti taru tanggung jawab par akang bendar ni kio.

Dace: Hahahaee… Etus, os bicara macang kata polotisi2 bagitu. Se jang ajar beta barang2 polotik tu. Beta su kanyang akang. Sakarang ni akang pung konci rekeng katong jaga nanaku dong pung karja saja. Jang sumbur janji kiri-kanan sondor karja, rembeng tomas deng toga kamana-mana. Laste2 katong yg warga bendar musti pikol dong sagala perkara yg jadi eso2. Lebe lae katong cuma dapa siram deng aer babasu…

Etus: Iyo, iyo, beta tau ale memang jago. Mar ale musti hormat ale pung nyadu ni yg su sorong diri par panggel ale. Soal2 polotik tu kas tinggal dolo. Sakarang ni mari iko beta katong manggurebe japre baju2 kaos deng kaeng gambar2 di lau…

Dace: Haa… kalo bagitu beta seng lari konco. Kalo tiap pemilihan ayau katong dapa jatah baju kaos macam bagini, katong seng perlu buang gobang par beli baju kaos lai…

Etus: Yah tuheng, jadi ale ni cuma tarkira baju kaos saja?

Dace: Lalu? Kalo dong su dudu di kadera ayau, dong su tar nodek par lia barang2 bagini lai nyadu e… tagal itu orang bilang ini pesta demokrasi. Abis pesta? Pulang jua… sapa yg datang pesta su abis, bisa dapa siram deng aer babasu…

Etus: Hahahahaha…. Suda jua. Beta seng dapa slak par bicara barang ini deng ale.

Dace: Barangkat!!
Read more ...

Wednesday, February 23, 2011

Home


Waktu masih menunjuk sekitar 2 jam lagi sebelum check-in untuk melanjutkan penerbangan ke Indonesia (Jakarta). Penerbangan yang cukup melelahkan dari San Francisco menuju Taipei. Syukurlah masih ada waktu untuk mengendurkan otot-otot yang nyaris kaku karena terlalu lama duduk di pesawat. Terlebih untuk Kainalu. Karena itu begitu mendarat di Taipei kami tak buang waktu langsung masuk ke ruang tunggu untuk penumpang transfer ke Indonesia. Relax.

Ruang tunggu yang luas makin lama makin penuh oleh penumpang yang akan ke Indonesia. Ada hal menarik, yang baru saya sadari kemudian, yaitu bahwa ternyata sebagian besar penumpang datang berkelompok. Berempat. Berlima. Sejauh amatan saya hanya segelintir yang datang sendiri-sendiri. Sambil menonton Kainalu bermain game di laptop sempat telinga saya menyambar sekelumit percakapan di antara mereka. Hampir seluruh percakapan mereka tidak dilakukan dengan bahasa Indonesia baku, tetapi bahasa Jawa ngoko. Karena pernah hidup di Malang, saya mengerti isi percakapan mereka.

Wah, ternyata mereka adalah Tenaga Kerja Indonesia(TKI) yang mudik bareng. Entah cuti ataukah sudah selesai kontrak. Apakah mereka bekerja di Taipei atau di negara-negara jiran lainnya dan transit di Taipei, saya tidak tahu. Penampilan busana mereka tak kalah dari kaum berduit di kota-kota besar, terbalut dalam kemasan “western”. Tapi bukan itu yang menarik untuk dicermati, melainkan cerita mereka. Cerita mereka menarik – sejauh kemampuan saya nguping. Mereka bercerita tentang majikan mereka, keluarga tempat mereka bekerja, anak-anak dalam keluarga majikan mereka, perabot rumah tempat mereka bekerja, gaya nyonya-nyonya mereka kalau shopping, saling membandingkan besarnya gaji, tingkah polah majikan mereka, dan masih banyak lagi. Ada yang berbisik-bisik sambil cekikikan. Tak terlalu jelas apa yang sedang digunjingkan. Ada yang setelah puas bercerita, lalu saling mengajak berpose di sudut-sudut ruang tunggu untuk “ditembak” dengan kilatan blitz kamera digital atau handphone dengan gaya yang tak kalah gaul dibandingkan para selebritas Jakarta. Makin lama tenggelam dalam aksi nguping ini, saya makin tak merasa sedang berada di Taipei – negara yang bermil-mil jauhnya dari Jakarta. Saya malah merasa seperti sedang berada di suatu desa Jawa diselingi desas-desus obrolan dalam bahasa Jawa di sana-sini.

Untuk sekejap saya merasa spaceless – kehilangan ruang – di tengah kerumunan para sahabat Indonesia ini. Sebenarnya saya sedang di Taipei atau di Jawa? Apakah yang menentukan ke-Taipei-an dan apa pula yang menentukan ke-Jawa-an di sini? Ruang? Geografis? Ataukah gerundelan manusia yang sedang mengusung budayanya dalam bahasa dan busana? Saya sendiri pun bertanya pada diri: “Aku di mana?” Satu bulan bercas-cis-cus “how are you” atau “nice to meet you” di negeri Paman Sam bersama Kainalu dan Nancy, serta sahabat-sahabat di Bay Area, Berkeley, Napa, San Francisco, Palo Alto, San Leandro, Golden Gate Bridge, Silicon Valley, dan tempat-tempat lain di California. Ada kerinduan “pulang” ke Ambon – tentu saja selain karena tuntutan pekerjaan. Tapi Nancy, istri saya, masih di Berkeley. Apakah Ambon adalah “home”? Bisakah Ambon menjadi “home” jika terpisah dari istri membuat saya dan Kainalu kerap merasa tidak “at home”? Jadi, “home” itu lokasi atau relasi? Pertanyaan demi pertanyaan menyergap benak selagi telinga masih setia menguping obrolan para TKI ini.

Para sahabat TKI ini dengan ceria saling berbagi pengalaman mereka jauh dari “home” (lokasi dan relasi) di kampung dan desa mereka di Pulau Jawa. Saya pun tenggelam dalam bayang-bayang Tanjung Alang, pasir putih pantai Natsepa, dan aroma pesisir Ambon, sekaligus juga ingatan tentang angin dingin yang menerpa Benton Hall, tempat kami tinggal selama di Berkeley. Di manakah “home”, jika ternyata kita kini berada di antara persimpangan budaya yang saling memotong di berbagai titik identitas. Di Berkeley, saya bercakap-cakap memakai bahasa Ambon dengan Izak Latu, anak Wasia di Pulau Seram dan mahasiswa program doktor di GTU Berkeley. Setiap hari Minggu kami diantar oleh amang Robert Sirait, seorang Batak yang sudah lama berjibaku di Amerika Serikat.

Di persimpangan berbagai garis identitas dan budaya tersebut, saya tersadarkan bahwa “home” adalah sebuah peziarahan untuk bertemu dengan semua, di dalam semua, menjadi semua. Jarang orang menyebut “at house” melainkan “at home”. “Home” adalah atmosfer yang melingkupi semua dan menghidupkan semua. Hanya saja kerap kita merasa perlu menyekat sehingga sebuah wilayah geografis atau imajinatif bisa kita sebut sebagai “home”. Mungkin saja kita merasa wajib menjaga “home” kita dalam bilik-bilik iman, doktrin, agama, denominasi, etnisitas, bahasa, ritual, gaya hidup, dll. Tapi toh para sahabat TKI di ruang tunggu bandara Taipei ini memperlihatkan bahwa mereka sebenarnya adalah para “homeless” – sama seperti saya dan Kainalu yang sedang terkurung di antara ritme percakapan dan gelak tawa mereka.

Kita semua adalah kaum tak berumah atau “homeless”. Yang bergerak dalam pencarian diri dan iman tanpa batas lagi. Kita adalah kaum “homeless” yang sedang terus mengais kebenaran di sana-sini; memakan buah pengetahuan baik dan jahat agar mampu berdiri bagai “tuhan-tuhan kecil”. Lantas kenapa ada saja orang yang merasa punya “home” di tengah-tengah kemahaluasan lokasi dan relasi yang bertalian, tertautan, bersimpulan dalam pengalaman-pengalaman kemanusiaan kita? Kebenaran tak lagi menjadi “home” yang merangkul tapi “hole” yang menjerumuskan. Sampai-sampai surga dan neraka pun direifikasi menjadi sebuah lokasi antah-berantah yang siap menampung si alim dan si pendosa. Aliran ini masuk surga. Aliran itu masuk neraka. Agama ini paling benar. Agama itu paling sesat. Tuhan si anu lebih perkasa. Tuhan si una loyo tak bertenaga. Ini gereja tuhan, itu gereja setan. Kaum beragama pun saling pamer raga dan otot jumawa. Ini mayoritas, itu minoritas. Maka membunuh menjadi cara ampuh mempertebal sekat sembari menggali jurang yang makin menganga di antara berbagai kutub identitas yang tak juga jelas.

Yesus yang “homeless”
Tampaknya dalam cerita-cerita Injil, Yesus juga adalah sosok yang kebingungan mencari “home”-nya. “Serigala mempunyai liang, burung mempunyai sarang, tapi aku tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala”. Yesus adalah seorang “homeless”. Di tengah malang-melintang garis identitasnya pun Yesus tak merasa “at home” dengan keyahudiannya. Sesekali Yesus menyekat dirinya dengan label Yahudi. Pada waktu yang lain, dia menyikat nalar budaya dan religiositas keyahudian kaum hipokrisi yang bersembunyi di balik jubah-jubah kesucian yang semu dan plastis. Ia berdiri mendampingi seorang perempuan yang terancam dirajam batu karena tertangkap berzinah. Ia berdialog dengan perempuan Samaria. Dia menjungkirbalikkan meja pedagang di depan Bait Allah, namun di kesempatan lain dia menyuruh Simon Petrus menyarungkan pedang lalu memberi diri digiring sebagai pecundang. Saat berpeluang meraup keuntungan politik karena dianggap mesias, dia malah mecampakkan utopia Israel merdeka yang dihembuskan kaum Zelot dengan memilih menjalani mesias yang kalah.

“Siapakah orang ini? Bukankah dia anak tukang kayu dari Nazaret?” demikian lawan-lawan politik Yesus terus berhasrat memasukkan Yesus ke dalam “home” tertentu: tukang kayu, orang Nazaret, nabi, mesias, penghujat, penyihir, dan sebagainya. Namun, Yesus tetap seorang “homeless” karena dia setia menggugat “home” yang jumud dan dangkal. “Homeless”-nya Yesus adalah dekonstruksi “at home”, yang selalu merayu manusia adem-ayem dalam zona kenyamanan. Yang membuat orang betah dalam status-quo. Statis. Menolak untuk berubah, bahkan takut berubah kendati perubahan adalah bagian dari jatidirinya. Yesus menjumpai semua orang, mengajar semua orang, mengajak semua orang. Tua/muda, lelaki/perempuan, kaya/miskin, pemuda/anak-anak, sehat/penyakitan.

Yesus adalah seorang “homeless” ketika pada akhirnya dia hanya bisa berkata lirih dalam derita pedih terpalang bak pesakitan di kayu salib: “Sudah selesai!” Apa yang sudah diselesaikannya? Ataukah pada tarikan terakhir nafasnya, dia tahu bahwa dia bukan apa-apa. Dia bukan siapa-siapa. Apa yang melekat padanya: identitasnya, budayanya, agamanya, kelompoknya, bahkan mungkin Tuhannya, hanyalah sebuah pencarian “home” yang tak pernah tuntas. “Aku pergi ke rumah Bapaku, menyediakan tempat bagimu.” Namun tak kunjung jelas tuntas di manakah rumah Bapanya itu. Sepanjang hidupnya yang singkat sampai kejang kaku di atas kayu salib, Yesus tetap seorang “homeless”. Tak pernah “at home” pada satu kejumudan identitas, lokasi dan relasi.

Ups, panggilan masuk pesawat sudah terdengar. Putuslah semua imajinasi dan keasyikan nguping ini. Let’s go home Kanu! Sayup-sayup terngiang di telinga “HOME”-nya Michael BublĂ©:

Another summer day has come and gone away
In Paris and Rome, but I wanna go home
May be surrounded by a million people I still fell all alone
Just wanna go home
Oh, I miss you, you know
And I’ve been keeping all the letters that I wrote to you
Each one a line or two “I’m fine baby, how are you?”
Well, I would send them but I know that it’s just not enough
My words were cold and flat and you deserve more than that
Another aeroplane, another sunny place
I’m lucky I know, but I wanna go home
I got to go home… let me go home
I’m just too far from where you are
I wanna come home
And I feel just like I’m living someone else’s life
It’s like I just stepped outside when everything was going right
And I know just why you could not come along with me
This was not your dream but you always believed in me
Another winter day has come and gone away
And even Paris and Rome… and I wanna go home
Let me go home…

Taipei, 11 Februari 2011
Read more ...

Saturday, January 29, 2011

19011999-19012011


Tulisan ini sengaja saya susun setelah melewati tanggal 19 Januari 2011. Anda masih ingat peristiwa 19 Januari 1999? Semoga ingatan akan peristiwa itu belum luntur dari dinding benak kita. Meskipun saya menyadari bahwa bisa saja pembaca tulisan ini adalah generasi yang saat peristiwa itu terjadi masih berusia belia. Saya hanya ingin melihat seberapa jauh memori kolektif kita terhadap peristiwa kelam 19 Januari 1999 masih mengental. Namun rupanya tak banyak yang ingin menguak lagi kisah pahit “kerusuhan” Ambon pada 19 Januari 1999. Kendati saya percaya masih banyak orang yang mengingatnya, bahkan tetap hidup dalam kerangkeng trauma psikologis.

Sudah 12 tahun berlalu sejak peristiwa “kerusuhan” itu pecah. Namun, ingatan akan “kerusuhan” atau konflik sosial itu tentu masih kental dalam benak kita jika kita mengikuti bahwa intensitas konflik baru mereda secara gradual pada tahun 2005. Itu berarti situasi “normal” pascakonflik Ambon baru kita nikmati sekitar 6 tahun. Itupun kerap diinterupsi oleh sejumlah riak-riak kecil yang tak urung mengganggu proses normalisasi kehidupan sosial di Ambon dan Maluku.

Tulisan ini tidak berpretensi memaparkan cerita tragis penuh derita, tangis, dan darah. Tidak pula ingin mengorek-ngorek tentang kebenaran versi siapa yang mesti dipertahankan dan pihak mana yang bertanggung jawab penuh atas tragedi Maluku. Melalui tulisan ini saya hanya ingin menorehkan sedikit refleksi agar kita, terutama generasi pascakonflik di Maluku, tidak begitu saja melupakan dan mengabaikan sejarah kelam Maluku kontemporer di akhir abad ke-20 tersebut. Tetapi sekaligus saya tidak bermaksud mengeksplorasi sejarah kelam itu untuk sekadar mengingat, melainkan untuk memandang ke depan: apa yang masih bisa kita gali sebagai pelajaran masa depan bagi kehidupan bersama sebagai manusia Maluku?

Memaknai Kembali Relasi Agama-Politik di Indonesia
Konflik Maluku 1999 memberi pelajaran berharga kepada kita bahwa ranah agama dan politik bukanlah suatu ranah steril atau sakral. Dalam konteks sosial-budaya Indonesia, agama dan politik telah melakukan gerak interpenetrasi yang kreatif dan saling memanfaatkan. Konflik Maluku telah menyingkapkan suatu realitas sosiologis bahwa agama (dan juga konsep ketuhanan yang diusungnya) – terutama Kristen dan Islam – ternyata mengendapkan lumpur sejarah masa lalu di dasar teologinya dalam hubungan satu dengan yang lain. Endapan lumpur sejarah ini rapuh karena nyaris pada setiap zaman selalu diobok-obok sehingga mengeruhkan relasi-relasi sosial di kalangan para penganut agama.

Perselingkuhan agama dan politik merupakan suatu fakta sosial. Sejarah agama-agama memperlihatkan dengan jelas bahwa legitimasi kekuasaan ilahi telah menjadi faktor determinan dalam pengelolaan kekuasaan para klerus untuk memengaruhi dan melanggengkan kekuasaan individual maupun kelompok. Secara sosiologis, legitimasi ilahi yang mewujud dalam tafsir kitab suci telah memproduksi simpul-simpul kekuasaan di kalangan agamawan yang mendaku memiliki hak teologis untuk mengartikan kehendak Tuhan. Di sisi lain, kekuatan-kekuatan politik merasa mendapat infus kekuasaan ketika mampu menjadikan teologi agama[nya] sebagai pilar-pilar penopang kekuasaannya (dan kelompoknya).

Mengenang sejarah kelam konflik Maluku di sini hendak pula dimaknai sebagai upaya merefleksikan peran agama-agama untuk menjadi modus vivendi di tengah kegamangan relasional agama-politik. Namun, sudahkah peran-peran itu makin menguat pascakonflik Maluku? Ataukah justru agama-agama kini makin tenggelam dalam romantisme baru perselingkuhan agama-politik yang lebih menggiurkan?

Salam-Sarane sebagai Redefinisi Identitas Lokal
Konflik Maluku telah menyingkap tirai perselingkuhan agama-politik itu dengan gamblang. Suatu pelajaran dan pengalaman berharga bagi agama-agama untuk selalu kritis menilai apakah nilai-nilai keagamaan telah menjadi kekuatan moral bagi kebaikan sosial ataukah hanya menjadi sekadar kesalehan individual yang mempertegas segregasi sosial (ini Kristen vis a vis itu Islam, dsb) atas nama keselamatan ilahi yang diyakininya. Komunitas Salam-Sarane di Maluku telah menghadapi ujian berat yang menyoal seberapa tangguh nilai-nilai dan struktur-struktur budaya lokal bertahan terhadap gempuran desakralisasi agama ke dalam ranah pertarungan politik empiris.

Desakralisasi Salam-Sarane merupakan sebentuk upaya meluruhkan ikatan-ikatan kultural yang berkelindan dengan spiritualitas kedua agama abrahamik. Salam-Sarane tidak lagi tersekat sebagai identitas agama, tetapi telah membentuk lapisan-lapisan dialektis identitas kemalukuan. Oleh karena itu, dalam kosmologi budaya manusia Maluku, Salam-Sarane tidak bisa ditranslasi secara harfiah sebatas “Islam-Kristen”. Desakralisasi Salam-Sarane serta-merta mengikis-sistematis makna identitas kemalukuan itu sendiri. Maka sebagai orang Maluku, eksistensi kita kini lebih ditentukan oleh simbol-simbol keagamaan yang kita warisi dari generasi demi generasi; sementara simbol-simbol budaya makin tersisihkan dari diskursus kebudayaan kita.

Penonjolan identitas keagamaan makin mengeras, tapi solidaritas budaya tampaknya kian tergerus oleh apa yang kita sebut “perimbangan”. Hampir dalam setiap aspek – terutama pascakonflik – yang kita persoalkan adalah bagaimana kekuatan Islam berimbang dengan kekuatan Kristen, dan vice versa. Diskursus kebudayaan kita tidak lagi tertuju pada upaya memperkuat percakapan Salam-Sarane, karena bagi sebagian orang – apalagi yang tak mengenal gramatika budaya Maluku – itu tak menguntungkan kepentingan-kepentingan “nasional”. Kepentingan “nasional” itu seperti apa? Ternyata tak lebih dari kepentingan “Jakarta”, yang sulit dilepaskan sebagai patron politik dan budaya Indonesia. Kita – bangsa Maluku – makin terpinggirkan dan dibisukan oleh “gula-gula” politik “Jakarta”.

Sudah 12 tahun kita menapaki kegetiran sejarah kelam konflik Maluku. Ternyata tak banyak yang berubah kendati ribuan nyawa melayang sia-sia, milyaran rupiah melayang bersamaan dengan puing-puing sosial-ekonomi masyarakat, tak terhitung berapa social cost dari kebencian yang mengharu-biru nurani kita. Tak banyak yang berubah. Kita senang ada gong perdamaian yang berdiri di atas lahan yang pernah menjadi arena pertumpahan darah. Tapi itu tak cukup membuat kita bangga jika akar-akar perdamaian dan persaudaraan itu tidak tertanam dalam-dalam di tanah Maluku ini. Bahkan kita makin terpesona dengan bermunculannya real-estate mewah dan hotel-hotel megah, sementara persoalan pengungsi secara faktual belum tuntas.

Masih panjang deretan soal kita di Maluku, yang bisa menjadi penyulut baru jika kita tidak terus-menerus merekonsiliasi memori kolektif ini bersama sebagai anak-anak Salam-Sarane. Atau kita akan menguburnya dengan lantunan lagu “Jangan kamu takut, Aku adalah…” mengiringi pemakaman generasi Maluku yang makin amnesia di tengah hiruk-pikuk hip-hop dan romantisme “mari pulang bangun Maluku”? 19011999… siapa yang masih ingat?
Read more ...

Monday, January 24, 2011

Kalau Tuhan Kentut...


Agama-agama dunia – sebutlah demikian – dan terutama yang bertradisi sejarah abrahamik atau ibrahimi (Yahudi, Kristen, dan Islam – berikut seluruh sekte dan sempalannya) sejak mulanya menganut paham monoteisme. Percaya bahwa Allah itu esa; tunggal; monolitik; tak terbagi; tak beranak. Juga, hampir seluruh pemahaman definitif tentang “tuhan” itu dibahasakan secara negatif (Tuhan itu tidak pemarah; Tuhan itu tidak pendendam; dll). Ada memang yang membahasakan hakikat sang Tuhan itu dengan terminologi positif.

Namun, hampir seluruh artikulasi mengenai hakikat sang Tuhan itu selalu bercermin dari realitas kedirian manusia. Kalau manusia bisa dikuasai oleh dendam maka Tuhan itu tidak pendendam. Kalau manusia bisa terjerumus dalam nafsu kebencian maka Tuhan itu penuh kasih. Kalau manusia terbelenggu oleh dosa maka Tuhan itu pasti yang maha suci dan tak berdosa. Figurisasi hakikat sang Tuhan semacam ini yang dalam narasi-narasi keagamaan disebut “antropomorfisme”. Suatu upaya menggambarkan Tuhan menurut skema manusiawi; yang dipercaya oleh manusia sebagai “yang melampaui” realitas, tetapi justru ingin dijelaskan sebagai realitas. Diyakini tak kelihatan tapi justru selalu ingin didefinisikan secara normatif seolah-olah sang Tuhan itu kelihatan. Bahkan mengawasi tingkah polah manusia. Semacam simptom panoptik yang pernah disebut-sebut oleh Michel Focault.

Puncak artikulasi teologis agama-agama abrahamik itu adalah pada kekuatan “kata” atau “firman” (word, logos). Alkitab dimulai dengan narasi penciptaan dunia yang terjadi karena kekuatan “Firman Tuhan”. Ayat-ayat Al-Quran diyakini sebagai “Firman Allah SWT” yang langsung didengar oleh nabi Muhamad SAW. Itu juga yang rupanya menjadi kekuatan dalam pelestarian ajaran-ajaran agama yang ditransmisikan melalui “misi” dan “dakwah” yang lebih terpusat pada kekuatan “kata-kata” sebagai media mengalirnya “Firman Tuhan” itu. Kata, bahasa, dan percakapan menjadi kunci untuk memahami sang Tuhan itu. Ini bukan sesuatu yang mengherankan jika kita melihat bahwa kekuatan dan daya tahan suatu kebudayaan dan peradaban juga sangat dipengaruhi oleh “power of words” yang tertuang dalam tradisi-tradisi lisan dan tulisan. Tapi, lagi-lagi, penggambaran tentang Tuhan yang berfirman itu toh terpantul dari kapasitas budaya manusia untuk menggunakan media bahasa dalam berkomunikasi secara internal maupun lintas budaya.

Hanya saja, ketika membayangkan sang Tuhan itu dalam perwujudan antropos, seluruh pusat perhatian agama-agama tampaknya hanya tertuju pada kapasitas budaya manusia untuk berkata-kata. Padahal sebagai manusia, kita pasti menyadari bahwa eksistensi kita sangat rumit. Ilmu pengetahuan berkembang dengan sangat pesat hanya karena membedah manusia dari berbagai aspeknya.

Nah, ini yang kemudian terpikirkan oleh saya. Salah satu hal yang menjadi bagian integral dari kehidupan kita sebagai manusia adalah KENTUT. Anda pernah kentut kan? Jangan malu-malu. Kentut itu bagian dari eksistensi kemanusiaan kita. Kalau anda tidak pernah kentut maka eksistensi kemanusiaan anda perlu dipertanyakan. Jangan-jangan anda adalah “alien” atau makhluk UFO (Unidentified Flying Object). Tentu tidak, bukan? Kita semua pernah dan selalu kentut. Tetapi cukup aneh bahwa ternyata aktivitas yang cukup vital dalam proses biologis dan sosiologis manusia ini ternyata luput dari upaya untuk memahami sang Tuhan dalam agama-agama. Saya tidak tahu kenapa. Mungkin karena kentut itu dianggap “kotor” karena keluar dari lubang anus. Mungkin juga karena kentut itu baunya tak sedap. Atau mungkin karena dalam hampir semua budaya masyarakat manusia, kentut itu dianggap sebagai “tanda ketidaksopanan”. Padahal, mulut kita juga bisa berbau tak sedap karena tidak gosok gigi berhari-hari. Atau mulut kita juga bisa mengumbar kata-kata tak sopan dan “kotor”, yang seharusnya keluar dari anus. Misalnya kata-kata umpatan “tai lu”. La, itu kan seharusnya keluar dari anus, tapi sering juga keluar dari mulut. Jadi, apa bedanya?

Dalam teologi agama[-agama], ternyata kentut tidak pernah difigurisasi sebagai salah satu bagian penting dari hakikat Tuhan. Cukup aneh. Lah, kalau banyak penganut agama-agama percaya manusia diciptakan Tuhan, dan Tuhan menciptakan metabolisme tubuh manusia sedemikian rupa sehingga manusia bisa kentut, tentu Tuhan juga bisa kentut dong… Masak Tuhan gak bisa kentut?!

Ini yang saya rasa penting untuk direnungkan. Bagaimana mengimajinasikan Tuhan kentut sebagaimana mengimajinasikan Tuhan berfirman? Yah, sorry aja, Anda tidak akan menemukan tentang kentut Tuhan dalam kitab-kitab suci semua agama. Jadi interpretasi teologis kita memang akan menyimpang dari kelaziman. Padahal, kalau kita percaya dan beriman bahwa Tuhan menciptakan manusia seutuhnya maka tentu kentut mesti dimaknai sebagai bagian dari cara manusia menjadi manusia yang utuh. Dan di situlah – dalam eksistensi dan pengalaman manusia, yakni kentut – manusia bisa merenungkan “ultimate concern” itu (Paul Tillich).

Sederhananya saya melihat begini. Kalau Tuhan kentut, tentu kita bisa juga memaknainya sebagai sebuah proses pembuangan “energi” yang tak diperlukan lagi. Proses biologis adalah sebuah proses penyerapan unsur-unsur penting (saripati) dari apa yang kita terima (atau telan), yang kemudian dilanjutkan oleh proses pemadatan residu-residunya yang berwujud gas dan feses. Kedua unsur yang disebut terakhir tidak bisa disimpan, tetapi harus dikeluarkan agar keseimbangan tubuh tetap terjaga. Jika tidak dikeluarkan, unsur-unsur gas dan feses itu bisa menjadi racun dalam tubuh.

Jika mengimajinasikan Tuhan kentut, saya melihat proses ini sebagai sebuah proses penyerapan energi “doa”, “ibadah”, “amal”, “persembahan”, “pergumulan” dll yang selalu tiap saat disampaikan manusia kepada Tuhan. Lantas, semua itu didengar dan diserap oleh Tuhan (tentu dalam bahasa antropomorfis – karena kita selalu mohon “Ya, Tuhan dengarlah doa kami”); yang kemudian ditelan “saripati”-nya. Kalau ada residu-residunya, tentulah itu unsur-unsur yang harus dibuang – salah satunya melalui kentut Tuhan. Kalau tidak, perut Tuhan pasti mules. Tuhan hanya menyerap “saripati” iman manusia, yang tentu saja cukup mengandung vitamin dan zat-zat spiritual yang menyehatkan. Embel-embel iman (termasuk kemunafikan) hanyalah residu yang akan keluar lewat kentut Tuhan.

Saya jadi teringat pesan Yesus agar kalau kita berdoa jangan bertele-tele. Mungkin Yesus juga mau bilang: Sampaikan kepada Tuhan “saripati” pergumulanmu. Kalau terlalu berlebihan nanti malah jadi kentut. Dibuang oleh Tuhan karena kalau disimpan perut Tuhan bisa mules. Pada bagian lain narasi Alkitab, saya juga teringat kisah janda miskin yang memberikan uang terakhir yang ada padanya. Yesus menjadikan pengorbanan janda ini sebagai teladan agar murid-muridnya juga memberikan “saripati” hidupnya. Tanpa atribut-atribut “kekayaan” atau “jabatan” seperti ibadah yang dilakukan oleh banyak orang kaya dan pemuka agama pada zaman Yesus. Semua itu hanya residu yang akan keluar jadi kentut Tuhan.

Mungkin anda bisa menambahkan contoh lainnya bagaimana menarasikan kentut Tuhan. Silakan. Monggo kerso. Tapi jangan tanya saya kentut Tuhan itu bunyinya seperti apa. Atau baunya seperti apa. Kalau anda paksa diri untuk tahu, yah, setidaknya anda bisa membayangkan sedikit bunyi kentut anda dan mencium bau kentut anda sendiri…. Monggo kerso. Silakan.
Read more ...

Friday, January 21, 2011

E-Kakus


Sekarang memang zamannya pasang embel-embel “e”. Mulai dari e-mail, e-book, e-bay, e-journal, e-store. Anda pasti sudah tahu bahwa embel-embel “e” itu singkatan dari “electronic”. Jadi, semua kata benda yang dilekati oleh “e” itu dengan gamblang menunjukkan bahwa kata benda itu bernyawa karena dihinggapi roh “e” tadi. Semuanya seolah bergerak dan dinamis. Itulah yang menandai zaman ini – electric culture.

Tapi yang saya temui – ini pengalaman unik – adalah “e-kakus”. Weits… apaan tuh? Apakah ini sejenis temuan baru yang mengelektronikkan kakus? Ups, bukan itu. Embel-embel “e” di depan kata kakus bukan singkatan dari “electronic”, tapi “etika”. Ini lebih aneh lagi: etika kakus. Apa ada?

Ceritanya begini. Saya dan Kainalu (anak kami) tiba di Airport Internasional San Francisco, California, Amerika Serikat pada tanggal 1 Januari 2011. Kami berdua ingin mengunjungi Nancy yang sedang studi di Pacific School of Religion (PSR), Berkeley. Sekalian merayakan Natal dan tahun baru. Kami tinggal di Benton Hall. Kamar yang cukup besar tanpa kamar mandi. Kamar mandi dan kakus berada di ruangan tersendiri, serta digunakan bersama (kalau penuh ya bergantian).

Suatu pagi, saya pergi ke kamar mandi untuk kencing. Tapi… uaahh… di kakus banyak sekali “kotoran”. Jorok sekali, pikir saya. Apa kurang air di sini sampai tidak bisa “flush” setelah b-a-b? Atau, manusia-manusia penghuni gedung asrama ini sudah sangat supersibuk sampai hanya untuk menyiram kotoran di kakus saja tak sempat? Buru-buru karena tak tahan, saya tak sempat melirik secarik kertas yang melekat di bilik kakus. Penuh keheranan saya tanya Nancy tentang keanehan di kakus tadi. Dengan santai Nancy menjawab bahwa di asrama sini ada “quiet hours” antara jam 22.30 s.d. 6.00. Penghuni asrama yang buang hajat pada jam-jam itu diminta untuk “flush” 1 kali dalam kasus b-a-b. Kalau cuma kencing, ya tidak usah di-“flush”. Biarkan saja sampai pagi. Wuiiihhh….

Kenapa? Rupanya Benton Hall adalah salah satu gedung kuno yang konstruksi dindingnya lebih tipis, sehingga kalau orang keluar-masuk kakus dan sering-sering “flush” akan sangat mengganggu penghuni kamar yang bersebelahan dengan dinding kakus. Wah, rupanya sampai berak pun orang masih diikat oleh tatanan etika sosial. Ini yang saya sebut “e-kakus”. Suatu pola hidup yang mengutamakan etika hidup bersama, sehingga segala sesuatu dilakukan hanya demi menghormati privasi orang lain.

Quiet Hours
E-kakus itu memang hanya implikasi dari suatu kesadaran untuk respek terhadap keberadaan orang lain dalam hidup seseorang. Suatu tindakan kecil, yang bagi sebagian orang aneh kalau tidak dilakukan – apalagi di kakus – yang didasari dengan penghormatan kepada orang lain: ruang dan waktunya. Oleh karena itu, sang waktu pun dinarasikan dalam keheningan: quiet hours, saat teduh. Membiarkan kakus “jorok” selama beberapa jam, demi keheningan manusia dan haknya untuk menikmati keheningan itu.

Hidup kita pada zaman kontemporer ini nyaris tak henti berhiruk-pikuk. Gegap-gempita. Heboh. Pesta-pora. Teriak sana, teriak sini, termasuk maling teriak maling. Ribut. Riuh. Hiruk-pikuk itu tak hanya dalam wujud bunyi, namun juga pikir (yang tak bunyi, tapi tetap sibuk hilir-mudik di benak kita). Ya, termasuk saya yang sedang menulis ini. Kita tak berhenti bergerak dan ribut. Kita tak berhenti berpikir. Karena katanya “cogito ergo sum”. Banyak orang yang kelihatannya sunyi, padahal sebenarnya ribut, karena di gendang telinganya MP3 gedebak-gedebuk. Sunyi yang ribut. Hening yang garing.

Kita telah banyak kehilangan saat-saat hening. Keriuhan hidup telah melunturkan kualitas pikir dan nurani kita hingga tak lagi sempat menikmati hening. Saya teringat kisah Yesus. Di tengah hiruk-pikuk para pengikutnya, bahkan perdebatan para muridnya, Yesus masih punya waktu menyendiri dan berdoa. Menikmati keheningannya untuk menemukan dirinya, eksistensinya. Menceburkan dirinya dalam kabut malam dan pepohonan hanya demi sekejap hening. Bukan diam, tapi hening. Ia menikmati heningnya.

Keheningan itu tidak membawa Yesus menjauh dari dunia. Malah makin menyeret eksistensinya menyatu dengan pergumulan dunia. Keheningan itu tidak membuatnya terlena, malah terjaga. Hingga beberapa kali Yesus membangunkan murid-muridnya yang terlelap. “Tidak sanggupkah engkau berjaga-jaga denganku?” Dari keheningan itu pula Yesus menemukan etos yang ganjil: memberikan dirinya untuk ditangkap dan disalib. Etika yang memberi diri, bukan membela diri. Etika yang membiarkan dirinya dibenamkan dalam lumpur derita, tanpa menuding diri benar dan orang lain salah. Etika yang menghidupkan, bukan karena dia sok jagoan mengaku mesias, tapi keberanian untuk memikul derita itu dalam keheningan bagi dirinya dan membiarkan liyan (others) tetap hidup. Dan… semua itu dimulai dengan dan dalam hening. Quiet hours.

Saya tidak tahu apakah etika ini pantas juga disebut e-kakus, karena kakus pun sebenarnya tempat yang tepat untuk hening. Merasakan denyut lambung yang menggiling makanan, dan merasakan kenikmatan dalam tiap lepasannya. Masuk dan keluar dalam siklus biologis, sekaligus menyadarkan kita bahwa tubuh kita sebenarnya merupakan sebentuk ciptaan yang luar biasa dan karena itu pula sangat eksistensial. E-kakus itu melahirkan saat teduh. Hening.
Read more ...

Saturday, January 8, 2011

Mencetak Manusia Pelahap


Lahan bekas rumah sakit itu kini sedang dipersiapkan untuk bangunan baru. Bukan bangunan rumah sakit lagi, tetapi rencana pembangunan “Mal Maluku”. Sebuah pusat perbelanjaan baru, yang menurut rumor akan lebih “wah”, “megah”, dan “mewah”. Rumor itu bisa saja sebagian dianggap benar kalau menilik luas lahan – bekas rumah sakit – yang kini sedang dipersiapkan untuk pembangunan mal itu.

Sebagai orang biasa, saya bingung juga dengan rencana pembangunan Mal Maluku itu. Kebingungan saya hanya berdasarkan pikiran sederhana dan praktis kebanyakan orang: Apakah rakyat Maluku memang memerlukannya? Atau, apakah memang pembangunan mal ini adalah prioritas pembangunan kesejahteraan manusia Maluku setelah pemerintah daerah agak kelimpungan dihajar data BPS yang mengklaim Maluku sebagai provinsi termiskin ketiga di Indonesia? Ada setumpuk masalah serius yang mesti dihadapi secara sistematis dan strategis oleh pemda Maluku – di samping sejumlah masalah turunan konflik yang belum tuntas – memasuki dekade kedua abad ke-21 ini. Kepastian hukum atas kelompok-kelompok pengungsi terhadap tanah-tanah yang mereka tinggalkan karena konflik beberapa tahun silam; pembalakan liar yang mencukur habis hutan-hutan di Maluku; marjinalisasi kaum pencari ikan tradisional oleh ketimpangan kebijakan pembangunan bidang kelautan; rusaknya tata ruang kota yang makin “haram” bagi kenyamanan publik, dan lain-lain untuk menyebut segelintir masalah yang mendera kota Ambon dan provinsi Maluku.

Sekarang, ternyata yang menjadi acuan pembangunan adalah orientasi penguatan citra “modern”. Setidaknya di hampir semua kota pembangunan mal adalah daya dorong pencitraan modernisasi. Dalam urusan pencitraan semacam ini, maka media sudah pasti memegang peranan penting untuk menyebarkan aroma modernisasi itu terlebih dulu. Meski belum terlihat wujudnya – apalagi fungsinya secara menyeluruh. Pola-pola pembiusan massal oleh media semacam itu sudah menjadi bagian dari strategi pemasaran kaum kapitalis. Lihat saja lembar-lembar digital printing ukuran raksasa yang menggaungkan gaya hidup urban masa kini. Semuanya sedang mendesakkan suatu ideologi “new life style” yang pragmatis, minimalis, dan stylish. Mulai dari real-estate bertarif ratusan juta hingga iPhone atau iPad Apple berlabel belasan juta. Semua sedang dijejali ke dalam nalar publik. Ini bukan soal kebutuhan lagi, tapi soal gaya hidup. Tanpa semua atribut itu, manusia tak bisa disebut modern. Kalau sudah begitu, ya artinya “we are nothing”.

Lahan bekas rumah sakit itu mestinya bisa dikembalikan bagi pembangunan kembali rumah sakit yang memang dibutuhkan bagi layanan kesehatan masyarakat di kota Ambon. Tapi begitulah. Jika dihitung, bisa dipastikan jumlah hotel-hotel baru lebih banyak daripada fasilitas rumah sakit. Jangankan bangun rumah sakit. Yang ada sekarang ini saja – kecuali rumah sakit daerah – sudah megap-megap nyaris kehabisan oksigen untuk terus hidup menangani masalah kesehatan masyarakat di kota Ambon. Ternyata rumah sakit tak penting dibandingkan mal atau bahkan jembatan merah-putih.

Manusia Pelahap
Pencitraan media massa merupakan salah satu penanda perubahan pola nalar masyarakat kontemporer, termasuk di Maluku. Hampir seluruh waktu hidup manusia “modern” sekarang ini dihabiskan untuk berinteraksi melalui media (cetak dan elektronik). Jika konon Karl Marx pernah mengatakan “agama adalah candu” maka kini bisa saja Marx akan mengatakan “media adalah candu”. Ketika agama menggiring para penganutnya untuk khusuk menimbang-nimbang keselamatan surgawi dan abai pada keduniaan, Marx menuding agama semacam itu hanyalah kemabukan yang menyesatkan. Namun kini kemabukan itu sedang kita nikmati karena tawaran-tawaran ideologi gaya hidup baru oleh media massa (terutama televisi).

Kemabukan massal itu penting bagi daya kapitalisme mendongkrak profit setinggi-tingginya. Media tidak lagi menawarkan “sesuatu” untuk memenuhi kebutuhan manusia. Media justru sedang “menciptakan” kebutuhan itu terus-menerus, dan merangsang hasrat manusia untuk tidak cepat puas dalam membelanjakan apa saja demi gaya hidup. Media sedang mencipta kita menjadi manusia-manusia pelahap. Atau seperti yang dikatakan oleh Peter K. Fallon dalam The Metaphysics of Media: “We consume, and are consumed” (2009:196). Ledakan informasi (termasuk iklan-iklan komersial), menurut Fallon, memang sangat terkait dengan media elektronik. Ini terutama dialami oleh kalangan remaja dan pemuda, yang selalu menjadi mangsa empuk eksploitasi media. Fallon menyebutkan kaum remaja Amerika menghabiskan 3.518 jam per tahun – atau mendekati 5 bulan – untuk melahap media: 65 hari nonton tv, 41 hari mendengarkan siaran radio, dan seminggu untuk berinternet. Rata-rata kaum muda Amerika menghabiskan 900 jam per tahun di sekolah.

Persoalan Amerika ya biarlah itu menjadi persoalan di sono. Tapi gaya hidup dalam electric culture ini sedang melesat dengan kecepatan cahaya menusuk dan merasuk nalar kaum muda di seluruh dunia. Dengan satu pesan teonologis (teologis-teknologis): “jadikanlah semua bangsa pelahap-pelahap gaya hidup baru”. Dan “injil” media itu kini tengah menawarkan pembebasan hidup dan spiritualitas baru ke dalam hidup kaum muda sejagat.

Apa hubungannya dengan mal Maluku? Mungkin belum ada hubungannya. Namun, yang pasti seluruh proses digitalisasi kehidupan manusia kini sedang sibuk memutuskan tali-tali kekerabatan, persaudaraan, persahabatan antarmanusia. Proyek besar yang sedang digulirkan kini adalah mencetak manusia-manusia individualistik yang dirangsang agar lebih asyik-masyuk dengan dirinya dalam kemabukan pesona media elektronik dan virtual. Dalam kemabukan atau cognitive dissonance yang terkrital sedikit demi sedikit, kita dilumpuhkan sehingga hanya mampu accept tanpa reject. Semua kita terima karena kita meyakini apa yang ditawarkan oleh media adalah benar. Maka batas antara realitas dan ilusi pun makin menipis. Realitas diilusikan. Ilusi dijadikan realitas. Menjadi sebuah nama baru yang ganjil: reality show. Kita pun makin terhenyak dalam kenikmatan agama baru ini dan tergopoh-gopoh memberi diri dalam pertobatan menjadi manusia baru: manusia pelahap. Pelahap informasi. Pelahap gaya hidup. Pelahap gengsi. Tapi kita makin kesepian karena semuanya melahap untuk diri sendiri.

Mal Maluku sedang dibangun. Untuk kepentingan siapa? Kita sudah tahu jawabnya. Tapi kita seolah tak mampu menepis mimpi bahwa Maluku akan menjadi modern dengan berdirinya mal megah-mewah-wah di atas lahan bekas rumah sakit. Siapa yang diuntungkan? Kita juga sudah tahu jawabnya. Tapi lagi-lagi kita tak mampu menangkis kekuatan yang makin meminggirkan rakyat kecil-miskin-jelata-melata, karena kita pun ingin menikmati kemabukan dan tak sabar menjadi manusia pelahap. Ya, kan supaya sama seperti orang Amerika…
Read more ...

One Earth, Many Faces

One Earth, Many Faces