Aku menulis maka aku belajar

Friday, July 29, 2011

Analisis Sosial dan Refleksi Teologis

Gereja pada hakikatnya memiliki dua pengertian. Pertama, sebagai persekutuan orang beriman yang menjalani aktivitas hidupnya di atas landasan tradisi iman dan keyakinan personal kepada Tuhan. Kedua, sebagai suatu organisasi yang mencoba menerjemahkan keyakinan personal itu melalui pelayanan-pelayanan sosial kemanusiaan. Kedua pengertian melekat pada identitas gereja ibarat dua sisi dari sekeping koin.

Dalam pengertian itu gereja menampakkan wujudnya secara teologis sekaligus sosiologis. Ekspresi imannya tertuju pada pembentukan spiritualitas yang diresapi dan dihayati sebagai perwujudan relasi dengan Tuhan, yang turut membentuk cara berpikir dan gaya hidupnya di atas landasan nilai-nilai positif dan ideal. Sekaligus pula apa yang teologis itu hanya bisa tampak melalui tindakan-tindakan sosial (relasi dengan manusia) dan ekologis (relasi dengan lingkungan hidup). Dengan demikian, gereja hanya bisa berfungsi ketika yang teologis itu terwujudkan dalam institusi-institusi dan tindakan-tindakan sosial. Tanpa itu gereja tidak bisa disebut gereja, tetapi hanya sebuah institusi sosial biasa.

Oleh karena itu, makna “menggereja” akan terpahami justru ketika gereja itu melibatkan diri sepenuhnya dalam pergulatan-pergulatan masalah sosial karena gereja memang adalah bagian dari realitas sosialnya. Tetapi respons gereja terhadap masalah-masalah sosial itu lahir melalui sebuah proses perjumpaan antara dimensi imannya dan pengenalan situasi problematik di mana gereja terlibat di dalamnya. Proses perjumpaan itu berlangsung secara dialektis antara aksi [sosial] dan refleksi [iman]. Dengan demikian, respons gereja terhadap masalah-masalah sosial bukanlah sebentuk sikap reaktif, melainkan sikap reflektif dan praksis yang hanya bisa terwujud melalui metode analisis sosial.

Analisis sosial (ansos) adalah sebuah metode dan instrumen yang membantu gereja makin memahami identitasnya dan tanggung jawabnya di tengah kecamuk masalah-masalah sosial sekitarannya. Melalui ansos gereja berupaya memetakan realitas sosialnya yang dirasakan memengaruhi pemahaman imannya (positif dan negatif), dan melanjutkannya pada penyusunan rencana strategis untuk mengantisipasi dan mengatasi masalah-masalah tersebut. Rencana strategis pelayanan gereja berhadapan dengan kompleksitas masalah-masalah sosial sekitarannya itu pada hakikatnya merupakan bagian dari cara gereja menghayati imannya secara praksis. Dalam arti itu, iman gereja menjadi iman praksis, bukan sekadar iman ritualistik. Dengannya pula spiritualitas gereja terbangun secara kreatif dan dinamis di dalam ruang-ruang publik sehingga gereja menjadi bagian dari pergumulan masalah publik.

Melalui ansos gereja mencoba untuk pertama-tama mengenali masalah. Yang dimaksud masalah di sini adalah masalah-masalah sosial yang memengaruhi dan menentukan arah pengembangan pelayanan gereja secara kontekstual. Gereja berkepentingan menggunakan ansos dalam rangka menentukan tindakan-tindakan pastoralnya terhadap situasi problematik internal yang memiliki pertautan dengan dinamika sosial-budaya-ekonomi masyarakat.

Ada empat momen pengalaman dalam ansos: [1] momen pemetaan masalah; [2] momen analisis sosial; [3] momen refleksi teologis; [4] momen perencanaan pastoral. Uraian mengenai empat momen pengalaman ini telah diulas panjang lebar dalam banyak tulisan dan buku. Salah satu buku yang bisa dijadikan rujukan adalah karya Joe Holland, Analisis Sosial dan Reflesi Teologis (terbitan Kanisius Yogyakarta). Saya tidak akan mengulangnya dalam ruang terbatas ini.

Setidaknya dengan menyebutkan empat momen pengalaman dalam ansos itu kita menemukan bahwa “refleksi teologis” dan “perencanaan pastoral” tidak semata-mata dibangun di atas imajinasi religius berdasarkan tafsir kitab suci (Alkitab). Jika hanya sebatas itu maka teologi hanya menjadi sebuah wacana tanpa ruang dan waktu. Sementara yang ingin dicapai melalui ansos adalah teologi kehidupan, yang memiliki ruang dan waktu, merembes dalam setiap geliat kehidupan konkret manusia dalam masyarakat dan situasi hidupnya. Dengan jalan itu gereja merencanakan tindakan pastoral (pastor = gembala) dalam arti bahwa tiap langkah gereja adalah langkah yang membawa jemaat dan masyarakat merumuskan masalahnya dan menentukan apa yang menjadi kebutuhannya sebagai proses pemberdayaan diri menjadi gereja yang hidup dan manusiawi.

Ansos hanyalah instrumen. Yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana kita menggunakan instrumen tersebut dengan tepat seturut dengan visi dan misi menggereja itu sendiri. Ansos bukan segala-galanya, karena yang terlebih utama adalah cara ansos itu memperkuat gereja mencapai tujuan-tujuan menggerejanya secara konkret bersama-sama dengan semua pihak. Jika demikian, ansos juga menjadi acuan bahwa menggereja adalah sebuah proses yang terus bergerak seiring gerak perubahan zaman dan masyarakat. Zaman berubah, masalah pun makin kompleks, dan karenanya perencanaan pastoral pun mesti menggeliat secara kontekstual. Itulah spiritualitas Kristen sejati.


Read more ...

Wednesday, July 20, 2011

Coretan Ringkas Sosialisasi PIP/RIPP GPM se-Klasis Pulau Ambon

Banyak pengalaman menarik dan menantang selama kurang lebih 2 minggu terlibat dalam program sosialisasi PIP/RIPP GPM di jemaat-jemaat se-Klasis Pulau Ambon. Selain mendengar langsung berbagai gumulan jemaat dalam diskusi-diskusi, tetapi juga beta mendapat pengalaman berharga untuk melihat keberadaan jemaat-jemaat secara langsung melalui pengamatan pribadi.


Percakapan langsung dengan jemaat-jemaat yang memiliki tingkat pemahaman yang variatif memberikan tantangan tersendiri mengenai metode menyampaikan muatan PIP/RIPP secara lebih gamblang dan sederhana. Ternyata itu tidak mudah. Apalagi selama ini beta pung aktivitas lebih banyak berkaitan dengan proses pembelajaran di kampus yang memiliki audiensi lebih homogen (mahasiswa). Tetapi toh dalam proses itu beta belajar banyak dari jemaat-jemaat terutama dalam upaya memasuki alam pikir mereka cukup kompleks. Kompleksitas pemikiran jemaat-jemaat terutama - menurut beta - sangat kuat dibingkai oleh interpenetrasi pengetahuan sehari-hari dan refleksi iman sehari-hari dalam ruang-ruang kehidupan mereka (pekerjaan, keluarga, pelayanan, pendidikan, dll). Itulah yang menyebabkan perlu energi ekstra untuk memasuki ranah realitas maupun diskursus kejemaatan. Tentu saja jika ingin tetap konsisten pada pendekatan yang partisipatif, bukan otoritatif.


Akan lebih mudah memang menerapkan pendekatan otoritatif ketimbang partisipatif. Pendekatan partisipatif itu sangat melelahkan dan menguras energi. Sementara pendekatan otoritatif lebih dirasakan mudah dan tidak merepotkan karena lebih berdaya "fatwaisme": ini boleh itu tidak boleh! Justru di situlah perjalanan menyinggahi jemaat-jemaat se-Klasis Pulau Ambon ini makin menarik untuk dicermati.


Kenapa pendekatan partisipatif dan otoritatif perlu disentil di sini? Sebab ternyata bahwa karakteristik jemaat-jemaat (Klasis Pulau Ambon) makin menampakkan karakteristik transisional. Tidak bisa lagi dipetakan secara rigid sebagai jemaat pedesaan dan/atau jemaat perkotaan. Dinamika sosial jemaat juga sangat kuat dipengaruhi intensitas perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang pesat. Ini membuat tingkat persoalan jemaat makin rumit dan tentu saja tidak bisa disederhanakan dalam sebuah pemahaman umum belaka. Seorang penatua di salah satu jemaat bertanya, "Bapa pandita, apakah seng ada isu laeng yg diungkap dan dianalisis dalam khotbah2 minggu selain soal narkoba, selingkuh, dan cerai? Memang betul masalah-masalah itu ada tapi kenapa pendeta-pendeta cuma ulang paleu deng akang padahal ada masalah laeng yg dihadapi jemaat yang perlu juga direfleksikan melalui mimbar?"


Sebuah pertanyaan sederhana tapi cukup menyentak, yang membuat beta juga bertanya: Apakah memang tingkat penguasaan kita para pendeta terhadap pemetaan masalah kejemaatan hanya sejauh yg diungkapkan oleh sang penatua itu? Atau, perlukah kita membeberkan semua masalah dalam khotbah berdurasi 15 menit? Atau, apakah memang sudah diperlukan sebuah proses "pendidikan teologi jemaat" (PTJ) yang dirancang secara sistematis sehingga menjadi salah satu mekanisme pembelajaran bagi seluruh perangkat pelayan GPM dalam mencermati dan memahami peta pelayanan secara lebih utuh?


Sorry, coretan ringkas ini harus berakhir dengan pertanyaan...

Read more ...

Monday, June 6, 2011

Antara Waipirit-Kamal


Sudah hampir 3 minggu ini saya bolak-balik Ambon-Kamal. Kamal adalah salah satu negeri di Kecamatan Kairatu Timur Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB). Di negeri ini terdapat lahan seluas sekitar 3 hektar yang oleh Fakultas Teologi UKIM dijadikan sebagai lokasi pelatihan dengan nama Laboratorium Sosial dan Pengalaman Berteologi (LSPB). Para mahasiswa fakultas teologi semester akhir akan menjalani proses pelatihan dan pematangan selama 2 bulan di situ. Semester ini saya termasuk dalam tim pengelola, dan itulah yang mengharuskan saya bolak-balik terus. Harusnya memang tinggal untuk beberapa minggu, tapi karena anak saya sendiri maka saya tidak bisa meninggalkan dia berhari-hari atau berminggu-minggu. Untunglah, teman saya, Pdt. George Likumahwa, berbaik hati meminjamkan salah satu sepeda motornya untuk saya pakai sehingga tak perlu repot memikirkan transportasi Ambon-Kamal-Ambon.

Intensitas bolak-balik yang cukup sering membuat saya hafal tiap tikungan dan nama-nama negeri yang saya lewati sejak "tinggal landas" dari dermaga penyeberangan feri Waipirit. Cukup lama saya tidak melewati jalan ini sejak menjalani program LSPB pada tahun 1994. Ingatan saya kembali disegarkan. Memang tidak banyak yang berubah sejak puluhan tahun silam. Begitulah kenyataannya dinamika pembangunan di Pulau Seram. Berjalan lambat, bahkan nyaris tak bergerak. Hanya jalan trans-Seram yang makin mulus di-hotmix. Tapi dua jembatan dekat negeri Nuruwe dan perbatasan masuk negeri Kamal sampai sekarang masih tetap memakai landasan kayu kendati kerangkanya sudah besi. Sementara jembatan di Waihatu sudah dalam konstruksi permanen dengan landasan aspal.

Melewati setiap negeri sepanjang perjalanan dari Waipirit ke Kamal masih mengorek memori saya beberapa tahun silam. Tidak banyak perubahan yang terjadi. Yang cukup mencolok hanyalah adanya pangkalan-pangkalan ojek hampir di setiap negeri. Rupanya terjadi pergeseran minat anak-anak muda Seram dalam memilih pekerjaan. Mereka tampaknya tidak lagi berminat pada pekerjaan pertanian kendati sebagian masih memiliki tanah garapan di dusun dan kebun. Tampilan mereka pun tak kalah nge-jreng dari anak-anak kota. Apalagi hampir sebagian besar mereka punya sepeda motor dengan berbagai merek mutakhir, yang kalau dilihat harga pasarannya berkisar di atas 10 jutaan. Tak heran, jalur trans-Seram di wilayah ini tak lagi sunyi seperti beberapa tahun silam.

Namun, di balik deretan negeri-negeri itu serta menjamurnya anak-anak muda pengguna sepeda motor keluaran terakhir, ternyata ada kisah-kisah ironis. Dari cerita seorang pemuda saya mendapatkan informasi bahwa ternyata untuk membeli sepeda motor para orang tua menjual tanah-tanah mereka. Itu hanya untuk sepeda motor. Belum lagi untuk kebutuhan anak-anak mereka yang melanjutkan studi (SMA dan universitas) di kota Ambon. Dukungan finansial yang didapat dari hasil pertanian tidak cukup kuat untuk memenuhi tuntutan gaya hidup anak-anak mereka. Oleh karena itu, untuk memperoleh uang dalam jumlah besar dan dalam waktu relatif cepat, tidak ada pilihan selain menjual tanah-tanah mereka.

Pemuda ini dengan lugas menceritakan bahwa sebenarnya tanah-tanah (dusun dan kebun) di belakang negeri-negeri ini bukan lagi milik masyarakat negeri bersangkutan. Malah ada keluarga-keluarga yang sudah tidak lagi memiliki tanah sama sekali. Semuanya habis terjual. Mereka pun hanya bisa menjadi penyewa-penyewa tanah dari para pemilik tanah yang telah membeli tanah-tanah mereka tersebut. Ada pula yang bahkan tidak lagi punya akses memasuki tanah yang dulu milik mereka karena sudah beralih kepemilikan. Kondisi seperti ini, menurut teman pemuda ini, hanya tinggal menunggu waktu saja apakah mereka masih bisa menetap di situ ataukah sedikit demi sedikit makin terusir keluar dari wilayah mukim mereka kini.

Rayuan gaya hidup kota melalui pesona iklan-iklan televisi dan tayangan-tayangan sinetron yang kerap menampilkan gaya hidup selebritas ternyata cukup ampuh mendekonstruksi pola pikir mereka tentang kehidupan komunal di negeri dan juga identifikasi modernitas melalui penyerapan ikon-ikon televisi. Pergeseran juga terjadi dalam pilihan berkomunikasi dengan menggunakan bahasa verbal dan non-verbal yang mengambil referensi "Jawa" dan/atau "Jakarta". Anak-anak muda ini makin tak paham dengan bahasa-bahasa lokal yang fasih digunakan oleh orang tua mereka. Mereka juga lebih fasih menyebut nama-nama pemain sepakbola di liga-liga internasional daripada menarasikan nama-nama leluhur dan mitos-mitos negeri; atau bahkan menceritakan asal-usul marga (fam) dan mataruma keluarga mereka.

Ini adalah konsekuensi dari perubahan sosial. Sulit untuk membendungnya selagi kita masih menempatkan ikon-ikon modernitas sebatas performa eksternal. Sementara, pada sisi lain, modernitas itu tidak terpahami sebagai proses pencerahan pemikiran yang mesti diperkuat pada basis pendidikan yang paling dasar. Di sini, lagi-lagi, saya melihat bahwa masyarakat kita tetap terbentur pada kapasitas lembaga pendidikan untuk mengintroduksi modernitas sebagai sebentuk pencerahan pemikiran dan penguatan budaya lokal agar tidak makin tergerus habis oleh ikon-ikon semu modernitas yang hanya tercerap melalui media televisi. Kendati sulit juga melepaskan diri dari cengkeraman media yang makin meraja saat ini. Itu bisa dilihat dari antene-antene parabola yang terpasang hampir di tiap rumah. Ideologisasi gaya hidup modern pun merasuk secara subtil dalam kesadaran masyarakat lokal.

Salahkah? Tentu tidak bisa begitu saja kita menjawabnya dalam kategori "salah/benar". Tulisan ini tidak berpretensi pada penilaian ke arah itu. Apa yang ingin dibagi melalui refeksi sederhana ini hanyalah: kemanakah arah perubahan sosial ini disasarkan? Apakah memang sudah menjadi aksioma tak terbantahkan bahwa dalam proses ini masyarakat lokal memang ditakdirkan menjadi korban-korban yang tak berdaya membela diri dan hidupnya sendiri? Apakah kita (termasuk saya) hanya akan terus menonton dan menulis cerita-cerita seperti ini, entah sampai kapan? Kita sedang berada dalam arus perubahan yang tak terbendung. Kita membutuhkan hikmat untuk mencermati perkembangan ini dari waktu ke waktu.

Teringat saya pada cuplikan lirik lagu "antara Anyer dan Jakarta kita jatuh cinta...", tapi rasanya untuk yang ini saya hanya bisa mengatakan "antara Waipirit dan Kamal kita jatuh miskin dan merana..." Saya sendiri tidak tahu apakah tulisan ini masih ada gunanya. Tapi toh saya tak punya pilihan selain terus menulis dan menulis, menyodorkan kepada semua orang di ranah maya ini untuk melihat dan berprihatin terhadap kondisi masyarakat lokal di Maluku. Cuma itu yang bisa saya lakukan. Mungkin Anda punya pilihan lain?
Read more ...

Monday, May 23, 2011

Mengintip Sedikit Pesta Rakyat


Perhelatan pemilihan walikota/wakil walikota Ambon, yang juga bersamaan dengan pemilihan bupati/wakil bupati Seram Bagian Barat, telah usai. Suasana kota tak terlalu heboh. Yang heboh justru di markas masing-masing kandidat. Menyusuri jalan-jalan kota Ambon saya melihat kerumunan para pendukung. Mereka rupanya penasaran ingin tahu dengan hasil penghitungan suara yang terkumpul. Hasil penghitungan cepat (quick count) langsung merilis nama salah satu pasangan kandidat kendati masih diragukan oleh yang lainnya.

Seiring dengan itu, muncul pula gugatan-gugatan seputar fairness pelaksanaan pemilihan di beberapa tempat pemungutan suara (TPS). Maka usai pemilihan ini ternyata tak banyak kepuasan yang dirasakan oleh rakyat. Di sudut-sudut jalan, di pasar, di terminal, dan di rumah-rumah kopi pun bertebaran kisah-kisah heroik perjuangan tim-tim sukses, namun juga tuturan getir mereka yang kecewa karena gembosnya basis-basis dukungan pasangan kandidat yang mereka usung.

Itu cerita singkat di Ambon. Di sepanjang jalan dari negeri Kamal hingga ke negeri Tihulale penuh sesak baliho-baliho bergambar pasangan kandidat bupat/wakil bupati SBB. Lengkap pula dengan pendirian posko-posko dukungan di tiap negeri. Ini memang era keterbukaan dan demokrasi yang menakjubkan, sekaligus juga membingungkan. Membingungkan karena yang demokrasi begini tak jarang berujung “democrazy”. Pasalnya, proses-proses kampanye yang dilakukan kerap menjadi ajang mejelek-jelekkan kompetitor lainnya. Bahkan ada yang sampai buka-bukaan soal kasus-kasus yang menjurus pada “pembunuhan karakter” kandidat lain. Nah, kalau sudah begini kan namanya gila alias crazy. Kalau demokrasi mestinya fair dong. Paparkan visi dan misi pemerintahan seperti apa, lalu jabarkan program-program kerja pemerintahan yang memang bertaut dengan kebutuhan atau persoalan yang tengah membelit hidup rakyat.

Tapi begitulah kenyataannya. Demokrasi kita – jika hanya menilik dari pemilihan kepala daerah – menjadi suatu ajang menghantam satu dengan yang lain secara terbuka. Keterbukaan yang sering memalukan dan tanpa etika politik. Ini yang kemudian menimbulkan sakit hati bagi yang dipermalukan secara terbuka, lalu mengendapkan dendam politik. Jelas dalam kondisi semacam itu oposisi menjadi pilihan. Namun oposisi tidak dipahami sebagai bagian dari dinamika politik dalam mencermati pembelokan-pembelokan kebijakan pemerintah, melainkan dimengerti sebagai duel hidup-mati demi harga diri. Lalu malah mengabaikan sama sekali hakikat berpolitik dalam sistem pemerintahan sebagai instrumen untuk mengelola potensi wilayah dan rakyat yang dipimpinnya.

Tragis. Karena mentalitas semacam itu terus dipelihara menjadi semacam habitus yang meronai seluruh aktivitas di hampir semua bidang. Lihat saja bagaimana kasus Kongres PSSI beberapa waktu lalu. Forum kongres yang semestinya bisa digunakan sebagai akumulasi ide kreatif dan positif untuk menyelamatkan sepakbola Indonesia, malah berakhir seperti sidang dewan perwakilan rakyat yang masing-masing kubu mengusung aspirasi parpolnya. Yang lebih menggelikan dan menjijikkan adalah semua perilaku tak senonoh itu disaksikan langsung oleh perwakilan FIFA.

Dari situ jelas terlihat bahwa mentalitas “gunting-menggunting” benar-benar sudah merasuk menjadi gaya hidup kita. Nyaris hanya tersisa sedikit aktivitas yang kita benar-benar membangun perspektif dan orientasi yang jauh ke depan dan bagi kepentingan orang banyak. Kita menyebut demokrasi tapi sama sekali tak menghargai proses-proses yang demokratis. Kita menyebut “orang Barat” itu individualistik dan berbeda dengan budaya “gotong-royong” (komunal) kita di timur. Sekarang justru jelas siapa yang individualistik karena gotong-royong kita ternyata makin terpahami secara kerdil menjadi gotong-royong untuk saling memotong semua yang tak sejalan atau sependapat dengan kelompok sendiri.

Kembali ke SBB. Ada yang menarik dari jejeran baliho para kandidat, yakni ternyata banyak kandidat yang bukan “orang Maluku” secara kultural. Jangan salah. Ini bukan sikap etnosentris. Hanya ingin mempertanyakan apakah memang sudah sedemikian parah proses pengkaderan pemimpin dari anak-anak Maluku sendiri? Ataukah memang kualitas kader-kader pemimpin kita makin kedodoran? Bisa juga kita mempertanyakan bagaimanakah konstelasi politik dan ekonomi anak-anak Maluku saat ini hingga menempatkan kita hanya sebagai “penonton” atau “penggembira” saja dalam seluruh proses politik lokal? Pertanyaannya masih bisa ditambah.

Fakta ini menggembirakan karena proses-proses politik lokal di Maluku makin terbuka ke arah pelibatan sebanyak mungkin “stakeholder” dari berbagai unsur. Fakta itu juga menggelisahkan karena persoalan-persoalan konkret kemajemukan sosial ternyata tak kunjung menggeliatkan kita untuk menata diri sendiri, lalu memasrahkan semuanya ke tangan orang lain untuk membela kepentingan kita sebagai orang Maluku. Bisakah? Mungkin. Tapi tentu tak bisa berharap banyak, kalaupun tidak mengatakan itu adalah situasi tanpa harapan. Di mana soalnya? Saya tak punya jawaban. Hanya sedikit pesimis, jangan-jangan mentalitas anak-anak Maluku makin tergerus oleh kepentingan sesaat lantas abai pada masa depan anak-cucu kita… yang terletak di tangan kita sendiri, bukan tangan orang lain.

Read more ...

Wednesday, May 18, 2011

Pemuda dalam Tantangan Sosial Abad ke-21 di Ambon


Pengantar

Setiap masyarakat pasti mengalami perubahan sosial. Perubahan sosial yang terjadi pada tiap masyarakat memiliki intensitas yang berbeda-beda dan karena itu pula menghasilkan dampak yang tidak seragam. Dampak perubahan sosial bisa positif dan negatif. Dalam kenyataan itu maka dalam setiap proses perubahan sosial ada yang diuntungkan dan ada pula yang dirugikan (menjadi korban).

Sebagai kota pelabuhan, masyarakat kota Ambon sudah lama sekali mengalami proses perubahan sosial. Dari zaman pra-kolonialisme, kolonialisme, hingga pascakolonialisme, masyarakat Ambon mengalami perubahan sosial dengan intensitas yang bervariasi. Ada perubahan yang berlangsung lama (evolutif) dan mendalam sehingga meninggalkan guratan atau bekas yang bertahan lama atau berakar dalam kesadaran dan realitas empiris (struktur sosial) masyarakat yang sulit dilupakan, atau cenderung dilestarikan. Ada pula yang bersifat revolusioner namun merombak nilai-nilai dasar kehidupan sosial sehingga menimbulkan pergeseran-pergeseran signifikan dalam cara pandang (perspektif) dan gaya hidup masyarakat secara radikal (misal: pascakonflik Maluku 1999).

Salah satu kelompok sosial yang terbuka dan rentan terhadap perubahan sosial itu adalah pemuda. Pemuda di sini bisa dipahami sebagai kelompok usia produktif yang berada dalam rentang usia 17 tahun ke atas hingga batas usia 50 tahun. Disebut “usia produktif” karena pada masa-masa hidup ini pemuda sangat berpotensi untuk mengembangkan diri melalui proses belajar secara mandiri, bersama-sama, dan kolaboratif untuk suatu tujuan atau cita-cita yang ditentukannya. Sebagai bagian dari masyarakatnya, pemuda juga tidak luput dari proses perubahan sosial. Bahkan hampir dalam setiap fase sejarah sosial kelompok pemuda merupakan inisiator-inisiator dan pelaku-pelaku perubahan sosial itu sendiri. Tetapi tidak bisa disangkali bahwa kelompok pemuda jugalah yang rentan menjadi korban dari pergeseran-pergeseran nilai dan struktur sosial sebagai dampak perubahan sosial tersebut.

Pemetaan Masalah Kepemudaan

Pemetaan ini perlu dilakukan agar kita (pemuda) mampu melihat seberapa dalam intensitas perubahan sosial memengaruhi kehidupan kita, serta memberikan kita perspektif untuk mencermati dinamika perubahan tersebut. Dari situ barulah kita bisa menentukan langkah-langkah sistematis-praktis untuk mengantisipasi dan mengatasi persoalan-persoalan yang muncul sebagai dampaknya. Tujuannya agar kita tidak menjadi korban dalam seluruh proses situ, melainkan menjadi pihak yang mengendalikan perubahan sosial yang pada gilirannya mendorong pencapaian cita-cita (idealisme) kita bersama, terutama sebagai pemuda Kristen.

Pemuda dan Budaya Lokal

Pergeseran nilai-nilai budaya lokal terjadi secara intensif terutama ketika rezim Orde Baru menerapkan paradigma pembangunan nasional yang sangat sentralistik. Hampir seluruh pranata budaya lokal Maluku mengalami stagnasi dan penggusuran secara sistematis sehingga kalangan pemuda mengalami alienasi (keterasingan) dengan budayanya sendiri. Semua yang berbau “lokal” atau “daerah” dianggap kuno dan kampungan, sementara semua yang bernuansa “nasional” atau “jakartaisme” dilihat sebagai kemajuan dan ciri modernitas. Maka tak mengherankan banyak pemuda Maluku tak segan meninggalkan bangku pendidikan untuk sekadar “inja ibukota Jakarta”. Padahal sampai di Jakarta mereka tak mampu melakukan apa-apa dan hanya berujung menjadi “tukang pukul” atau “preman”. “Ke Jakarta” menjadi impian banyak pemuda Maluku karena keterasingan dengan budaya lokalnya sendiri. Rasanya belum banyak terjadi pergeseran dalam Orde Reformasi di bawah kepemimpinan SBY-Boediono.

Pemuda dan Pendidikan

Sejak zaman kolonialisme Belanda, sebagian pemuda Maluku telah menikmati kesempatan menjalani pendidikan hingga ke jenjang yang tertinggi. Berdasarkan kapasitas intelektual dan latar belakang pendidikan mereka (sebagian besar di sekolah-sekolah Belanda), banyak pemuda Maluku yang direkrut menjadi “pegawai negeri” (ambtenaar) dalam administrasi pemerintahan kolonial Belanda (sipil dan militer). Ada pula yang memilih mengambil jalur partikelir (swasta) dalam organisasi-organisasi nasional pada masa pergerakan nasional Indonesia. Namun seiring dengan perkembangan zaman, kekuatan intelektual pemuda Maluku makin dikebiri sehingga kualitas pendidikan orang Maluku menurun drastis. Apalagi pesona “modernisasi” ternyata makin melumpuhkan motivasi dan semangat juang pemuda Maluku untuk berkompetisi secara nasional dalam arena pendidikan. Pemuda Maluku makin tercecer dalam dunia pendidikan.

Pemuda dan Politik

Dalam domain politik, pemuda Maluku secara historis dan sosiologis sangat banyak memberikan kontribusinya. Sejak masa pra-kolonialisme hingga masa Indonesia merdeka, kita tidak pernah kehabisan stok kader pemuda Maluku. Tapi pertanyaannya: Kader seperti apa yang banyak kita siapkan? Pengamatan selama beberapa tahun memperlihatkan bahwa kader-kader politik yang kita siapkan lebih banyak bersifat “karbitan” atau “kutu loncat”, bahkan ternyata yang lebih banyak adalah kader penggembira. Kader-kader politik semacam ini ternyata hanya mengejar kesempatan-kesempatan untuk meraup kekayaan melalui pencitraan politik yang semu. Sementara pada sisi lain kita mengalami krisis parah dalam stok kader pemikir dan pelaku politik yang matang dan beretika. Domain politik saat ini sudan menjadi market (pasar) yang membuka ruang luas bagi transaksi-transaksi yang hanya menguntungkan pedagang-pedagang politik, lalu mengabaikan esensi (hakikat) politik itu sendiri sebagai etika pencapaian tujuan bersama dalam kehidupan bermasyarakat.

Pemuda dan Ekonomi

Konstruksi sosial terutama pada masa kolonialisme secara sengaja telah menjauhkan orang-orang Kristen Maluku dari aktivitas ekonomi pasar. Orang-orang Kristen hanya dipersiapkan untuk menduduki jabatan-jabatan sebagai pendidik, pendeta, tentara, dan pegawai negeri. Sedangkan aktivitas ekonomi digerakkan oleh kelompok keturunan Tionghoa dan pedagang-pedagang lokal dari Jawa, Buton, Bugis, dan Makassar. Pola sosial ini terbentuk sedemikian rupa hingga pemuda-pemuda Kristen sama sekali tak berminat dan tidak punya akses ke dalam ekonomi pasar. Ekonomi pasar di Maluku dan di kota Ambon sudah sangat kuat dikuasai oleh mafia pasar yang terdiri dari koalisi-koalisi ekonomi kelompok-kelompok etnis tertentu. Dari masa ke masa, pemuda-pemuda Kristen hanya terdidik untuk menunggu peluang jadi pegawai negeri, tentara, guru, dan pendeta, tetapi tidak punya geliat untuk masuk dalam aktivitas ekonomi berskala massif. Apakah ini karena kita masih melestarikan prinsip “ikan makan ikan”?

Pemuda dan Perkembangan Teknologi

Keterbukaan ruang informasi-komunikasi makin luas dengan pesatnya perkembangan teknologi infokom. Internet dan handphone telah meruntuhkan batas-batas teritorial dan identitas masyarakat manusia sejagad. Bersamaan dengan itu terjadi pertukaran ide dan nilai-nilai hidup di antara para pengguna teknologi infokom tersebut. Fenomena tersebut ternyata makin meluruhkan perbedaan dan mendorong masyarakat dunia untuk menganut gaya hidup yang seragam. Diseragamkan dengan apa? Tentu saja diseragamkan dengan kehendak dan kepentingan para pemilik modal (kapitalis) yang menguasai perekonomian dunia dan mengontrol media massa. Dalam hal ini peranan negara-negara maju sangat besar dalam mengontrol perkembangan teknologi seturut kepentingan mereka, dan masyarakat negara-negara miskin hanya diposisikan sebagai konsumer melalui pencitraan media terhadap gaya hidup “modern” di mana konsumsi dilihat sebagai cara memenuhi pemuasan kebutuhan manusia.

Pemuda dan Pluralisme Agama

Seiring makin berkembangnya teknologi infokom, kita makin menyadari perbedaan-perbedaan yang ada pada tiap masyarakat. Salah satu penanda identitas yang krusial saat ini adalah identitas agama. Agama merupakan ekspresi keyakinan atau iman seseorang terhadap keberadaan “Yang Transenden”, yang dalam bahasa agama disebut “Tuhan”. Ekspresi itu mewujud dalam simbol, ritual, kitab suci, organisasi, dan etika hidup. Di situlah kemudian kita menyadari bahwa ekspresi terhadap “Yang Transenden” itu muncul dalam wujud yang berbeda-beda sesuai dengan konteks “iman” itu diekspresikan. Sering kali perbedaan-perbedaan itu menjadi pemicu konflik antarkomunitas karena agama dilegitimasi oleh prinsip “kebenaran tunggal”. Tanpa disadari bahwa “kebenaran” itu tidak tunggal karena mendapat pemaknaan yang berbeda dalam konteks sosial yang berbeda.

Membangun Teologi Pro-Eksistensi: Panggilan Pemuda Kristen

Dalam beberapa narasi Alkitab kita menemukan sejumlah figur pemuda yang luar biasa. Mereka luar biasa bukan hanya dalam kemampuan fisik, tetapi juga visi, kecerdasan, dan keberanian mengambil risiko demi memperjuangkan prinsip-prinsip kehidupan (misal: solidaritas, keadilan, kejujuran, kerendahan hati, dll). Tidak hanya itu, pemuda-pemuda yang berperan penting dalam narasi-narasi Alkitab ternyata berasal dari latar belakang keluarga yang biasa-biasa saja. Artinya, mereka menjadi hebat bukan karena jabatan atau kekayaan orang tua mereka. Mereka menjadi hebat karena mereka belajar mengembangkan potensi dalam diri mereka serta ditempa melalui pengalaman-pengalaman hidup, lalu mengarahkan dan mengerahkan energi kreatif tersebut untuk kepentingan bersama. Mari kita lihat tiga figur pemuda luar biasa dalam Alkitab.

Musa. Musa adalah seorang pemuda Israel yang hidup dalam asuhan putri Firaun. Ia tidak memanfaatkan kenyamanan hidup di istana untuk kepentingannya sendiri dan melupakan penderitaan saudara-saudaranya sebagai budak di Mesir. Ia mengambil risiko membela saudara-saudaranya yang mengalami penganiayaan, kendati untuk itu ia harus terusir dari istana dan menjalani hidup sebagai “orang biasa”. Tapi justru dalam kondisi hidup biasa itulah Musa mendapat kepercayaan untuk memimpin umat Israel. Sebuah tantangan yang berat bagi pemuda Musa. Musa menjadi pemimpin besar bukan karena ia punya banyak uang tapi karena punya keberanian mengambil risiko untuk memimpin dan ditempa melalui pengalaman-pengalaman konkret. Risiko kepemimpinannya adalah ia hanya bisa mengantarkan umat Israel sampai di perbatasan tanah Kanaan. Ia sendiri tidak bisa masuk karena menanggung akibat kesalahan umat Israel. Musa adalah tipe pemuda yang berani mengambil risiko bukan demi kepentingan dirinya, tapi kepentingan umat yang dipimpinnya.

Yusuf. Menjalani hidup dalam pembuangan di Mesir, karena kecemburuan saudara-saudaranya, tidak membuat Yusuf patah semangat. Meski disayang oleh ayahnya, Yusuf tidak menjadi pemuda lembek dan manja. Karakternya makin matang dalam usahanya mempertahankan hidup di tanah Mesir yang asing. Yusuf mencapai puncak kariernya bukan karena ia fasih melakukan negosiasi politik; bukan karena ia pintar membohongi orang; bukan karena ia pandai mencari muka dari penguasa. Yusuf mendapatkan kepercayaaan penuh dari Firaun justru karena kejujuran, kerendahan hati, kecerdasan, dan visinya yang tergambar dari kemampuannya menafsir mimpi Firaun, yang terarah pada kepentingan masyarakat Mesir (bukan dirinya sendiri). Karakternya itu pula yang menjadikan ia seorang manajer andal dalam mengelola sumber daya alam Mesir sehingga mampu memenuhi kebutuhan masyarakat secara nasional maupun internasional. Yusuf adalah tipe pemimpin yang visioner dengan orientasi universal (bukan primordial).

Yesus. Dibesarkan dalam tradisi Yahudi, Yesus bertumbuh menjadi pemuda Yahudi yang taat. Namun ketaatannya pada hukum agama Yahudi justru membawa Yesus pada refleksi-refleksi kritis mengenai makna dan fungsi hukum agama itu dalam kehidupan sosial. Oleh karena itu, hampir seluruh masa kepemudaannya, Yesus berjuang melakukan re-interpretasi (tafsir ulang) ajaran-ajaran agama Yahudi dan memberi makna baru secara kontekstual sesuai dengan masalah-masalah konkret yang dihadapinya. Pemaknaan baru tersebut tidak hanya diajarkan kepada orang lain secara verbal tetapi juga dijalani sehingga menjadi teladan hidup bagi banyak orang. Perjuangan itu bukan tanpa risiko. Risikonya adalah Yesus harus berhadapan dengan otoritas formal keagamaan dan penguasa politik, yang waktu itu “berselingkuh” untuk mempertahankan status-quo berpikir, beragama, dan berpolitik. Pemuda Yesus melampaui godaan-godaan politik uang, pencitraan diri, ketergantungan pada nepotisme, dan tawaran kekuasaan. Untuk semua itu Yesus memilih akhir jalan hidupnya sebagai “pecundang” di kayu salib. Yesus adalah tipe pemuda yang mengombinasikan kecerdasan, spiritualitas, dan keberanian mengambil keputusan penting demi proses pencerahan berpikir masyarakat terhadap realitas hidup.

Figur ketiga pemuda ini sebenarnya bisa menginspirasi kita untuk belajar memahami identitas dan peran kita dalam konteks masyarakat Ambon. Sebagai pemuda Kristen, kita sama sekali tidak dianjurkan untuk menjauhi “dunia” dan bertumbuh menjadi pemuda-pemuda munafik yang sok rohani tapi miskin visi dan lemah misi dalam menyikapi realitas sosial saat ini. Sebaliknya, kita dianjurkan untuk memperkuat karakter kita dalam ketekunan beribadah dan belajar prinsip-prinsip alkitabiah sebagai motivasi dan inspirasi untuk melahirkan berbagai kreativitas di segala bidang kehidupan.

Pemuda Kristen harus mendasarkan hidupnya pada visi dan misi pro-eksistensi (berpihak pada kehidupan), sebab itulah yang akan menjadi “bahan bakar” bagi kita untuk bergerak dan berkarya dengan seluruh potensi diri dan ketekunan dalam proses belajar terus-menerus. Dasar imannya adalah Allah tidak pernah berhenti bekerja menurut caranya hingga saat ini. Allah yang kita percayai adalah Allah yang berkarya dalam proses untuk menjadi (process of becoming). Di situ tersirat kreativitas yang terus-menerus untuk menciptakan makna dan kemungkinan baru. Dunia sekarang memerlukan sentuhan karya pemuda-pemuda Kristen yang punya karakter tangguh untuk memimpin dan mengarahkan proses perubahan sosial ini menuju tercapainya cita-cita kesejahteraan masyarakat. Tantangan abad ke-21 ini harus menjadi momentum bagi pemuda-pemuda Kristen di Maluku untuk mengambil-alih kepemimpinan di semua lini kehidupan masyarakat.

Mari berhenti berpikir dan bersikap sebagai “orsu” (orang suru-suru). Mari kikis mentalitas “harap gampang” dan “tau snang sa”. Mari tutup kemungkinan untuk terus berada dalam mentalitas “ikan makan ikan”. Lalu angkat muka kita untuk melihat bahwa pemuda-pemuda Kristen makin tercecer dalam proses perubahan sosial di kota Ambon (Maluku) saat ini, dan mari berjuang merebut kembali seluruh peran-peran kepemimpinan dalam semua bidang kehidupan masyarakat dengan ketajaman visi, kecerdasan analisis, keberanian mengambil pilihan berisiko, kekuatan spiritualitas kristiani, dan penguatan karakter positif, yang semuanya terarah bagi penguatan kesejahteraan umat/masyarakat melalui program-program kerja organisasi maupun prospek individu. Sebagaimana yang ditunjukkan melalui teladan tiga figur pemimpin di atas.

Read more ...

Thursday, April 14, 2011

Sepenggal Kisah di Ketiak Nusa Ina: Catatan Perjalanan [3]


Gunung Tanah yang mana?
Di Maluku, istilah “gunung tanah” biasa dipakai untuk menyebutkan negri asal. Istilah tersebut tidak hanya menyangkut pengertian lokasi secara geografis, tetapi eksistensi budaya. Gunung tanah kerap digunakan untuk menunjuk pada “negri lama” yang terletak di gunung. Oleh karena kebijakan kaum penjajah pada masa lampau, banyak negri (hena) yang dipindahkan ke pesisir pantai guna memudahkan kendali ekonomi masyarakat lokal. Dalam mitos dan cerita rakyat orang Seram, banyak dituturkan tentang bagaimana asal-mula mereka menempati gunung dan kemudian dipaksa turun ke pesisir. Perpindahan paksa itu membawa sejumlah konsekuensi budaya yang dari generasi ke generasi membuat mereka berada dalam kebingungan identitas: orang gunung atau orang pantai?

Hal itu tampak dalam pandangan dunia mereka yang terbelah antara laut dan pantai sehingga apa yang mereka upayakan juga tidak terfokus pada satu mata usaha saja. Mereka menjadi orang-orang “antara” atau liminal. Orientasinya adalah ke darat dan ke laut. Itu sebabnya hampir sebagian besar orang Seram tidak bisa disebut sebagai masyarakat nelayan meskipun mereka ratusan tahun hidup di pesisir pantai. Berbeda dengan masyarakat Buton dan Bugis.

Pada kenyataannya, kehidupan masyarakat Seram lebih banyak mengupayakan penggarapan tanah dalam apa yang disebut “dusun” (dusun pala, dusun kelapa, dusun coklat, dsb). Tanah atau “gunung” tetap menjadi acuan identitas mereka. Tanpa tanah, mereka tidak mampu melakukan apa-apa. Di sinilah letak ironinya. Ketika tuntutan kebutuhan ekonomi dan gaya hidup mendesak mereka untuk mendapatkan uang dengan cepat, maka pilihan utama adalah menjual tanah. Ribuan hektar tanah kini bukan lagi milik mereka, melainkan milik cukong-cukong bermodal besar dan kaki-tangannya di negri-negri. Cukong-cukong menyediakan modal, sedangkan kaki-tangannya mencari mangsa, yaitu orang-orang yang dengan sengaja dijebak dalam situasi ketergantungan ekonomi sehingga harus mengikuti keinginan para cukong itu. Tanah menjadi sebuah pertaruhan identitas budaya dan juga ekonomi.

Jemaat Usinaman-Makariki (Usmak) misalnya. Mereka telah menempati lahan di antara negri Yaputi (Salam) dan negri Hatu (Sarane). Pascakonflik, lahan yang mereka tempati kini ternyata menjadi sengketa antara Yaputi dan Hatu. Mereka tidak berdaya dan selalu menjadi korban dari perseteruan kedua negri tersebut. Bahkan dusun-dusun yang sebelum konflik sudah mereka beli dan dilengkapi dengan surat-surat resmi, kini telah menjadi rebutan orang Yaputi dan orang Hatu. Masyarakat Usmak kini hanya bisa menunggu nasib berdasarkan keputusan pengadilan kepada siapa lahan tersebut dilimpahkan. Beberapa keluarga Usinaman akhirnya memutuskan untuk keluar dan menetap di Waipia. Masih tersisa sekitar 10 kepala keluarga yang bertahan dengan kondisi yang memprihatinkan. Dalam beberapa percakapan sering terdengar tanggapan miris ketika ada yang bicara tentang “gunung tanah”: gunung tanah yang mana?

Rahim Nusa Ina yang Terkoyak
Banyak cerita yang belum terungkapkan di sini. Cerita tentang kepedihan manusia di tengah benturan peradaban modernitas dan lokalitas, ketegangan antara mitos-mitos globalisasi dan penundukan kearifan lokal oleh buldoser-buldoser kapitalisme, kebingungan manusia-manusia lokal di tengah berbagai tarikan kepentingan politik yang selalu mengatasnamakan mereka tapi pada akhirnya hanya menjadikan mereka tumbal yang bisu berabad-abad.

Tulisan ini hanyalah catatan kecil dari perjumpaan dan bastori dengan beberapa orang yang menggeluti hidup dalam kepedihan rahim Nusa Ina yang terkoyak. Lukanya makin menganga. Perihnya menusuk hingga ke sumsum Nunusaku. Nunusaku kini hanya menjadi utopia yang makin kabur tertutup kamu-kamu ideologi kapitalisme yang menerjang dan memporak-porandakan seluruh tradisi hikmat lokal yang dituturkan dalam hening oleh orang-orang tatua yang makin bungkuk.

Mereka mencoba menarasikan terus kisah kemolekan Nusa Ina dan kejayaan Nunusaku meski dengan suara yang kian parau dan melemah. Tapi mereka masih berharap Nusa Ina tetap menjadi ibu yang merawat, menjaga, membesarkan anak-anak Maluku yang hormat dan sayang pada ibu mereka. Bukan karena sang Ina meminta balas, tapi karena sang anak yang tahu berterima kasih.

Nusa Ina, Nusa Ina, semoga rahimmu terus melahirkan anak-anak perkasa yang tahu membalas darah dan airmatamu dengan menjagamu sepanjang masa.

Selesai - MENA MURIA!
Saunulu, 10 April 2011
Read more ...

Sepenggal Kisah di Ketiak Nusa Ina: Catatan Perjalanan [2]


Terbelit Kemiskinan
Persoalan-persoalan kini yang dihadapi oleh jemaat-jemaat di Telutih adalah penguatan kehidupan ekonomi yang mandiri. Jemaat-jemaat pascakonflik di wilayah ini harus memulai kembali aktivitas ekonomi mereka dari titik nol. Sebagian besar dusun-dusun mereka [di]rusak, sementara tanaman yang mereka upayakan kebanyakan adalah tanaman umur panjang. Kondisi ini menyebabkan perputaran uang sangat lambat. Apalagi infrastruktur transportasi (jalan dan jembatan) sama sekali tidak memadai. Jalur darat dari kota kecamatan Tehoru sampai di Ulahahan, negri terakhir di perbatasan kabupaten Maluku Tengah dan kabupaten Seram Bagian Timur, kondisinya rusak berat. Termasuk belasan jembatan yang rusak, setengah jadi, atau masih berupa tiang-tiang penyangga.

Hasil-hasil kebun dipasarkan dengan menggunakan ketinting ke Tehoru, lalu diangkut kembali melalui jalur darat ke Amahai dan Masohi. Biaya muatan dan pengangkutan cukup tinggi karena ruas jalan yang rusak sangat panjang (puluhan kilometer dari Tehoru sampai Tuhehay). Sehingga hampir tidak ada keuntungan dari penjualan hasil-hasil kebun seperti itu. Cara cepat untuk mendapatkan uang bagi kebutuhan sehari-hari adalah menggadaikan dusun kepada para rentenir (sistem ijon). Rentenir meminjamkan sejumlah uang yang mereka minta, tapi dengan kompensasi penggarapan dusun dalam jangka waktu cukup panjang (ada yang 5 tahun – hasil panen yang berlipat ganda). Keuntungan yang diraup oleh para rentenir ratusan kali lipat dibanding jumlah uang yang dipinjamkan kepada masyarakat. Ada pula yang tergiur sejumlah uang lalu menjual ratusan hektar tanah dusun mereka kepada para rentenir atau pihak lain. Mereka kini kehilangan hak sama sekali atas tanah-tanah tersebut.

Anak-anak muda yang tidak mampu melanjutkan pendidikan, lebih memilih untuk menggarap lahan orang lain di atas tanah yang dulu milik orang tua mereka. Sebagian lain mengambil kredit sepeda motor dan menjadi pengojek. Ada lagi yang terpuruk dalam kondisi kemiskinan sehingga hanya menjalani aktivitas sehari-hari sebagai pengangguran dan mabuk-mabukan. Sebagian lain mengikuti usaha beberapa keluarga memproduksi sopi. Pada kenyataannya, mereka bukan hanya produsen tetapi juga konsumen sopi. Tingkat konsumsi sopi yang tinggi juga berdampak pada kerawanan sosial dalam bentuk perkelahian antarpemuda, antarkeluarga, dan kriminalitas (pencurian hasil kebun, pemerkosaan, kekerasan terhadap perempuan). Menyiasati kondisi rawan ini beberapa keluarga terpaksa menitipkan anak-anak mereka di kaum kerabat di Amahai, Masohi, dan Ambon, agar mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (SMA dan perguruan tinggi).

Terayun Rayuan Politik
Wilayah Telutih merupakan salah satu wilayah empuk bagi para petualang politik. Kondisi sosial-ekonomi masyarakat (terutama jemaat GPM) di kawasan ini sering kali menjadi sasaran para petualang politik untuk meraup suara konstituen bagi kepentingan politik mereka (calon bupati dan calon legislatif). Janji-janji politik yang muluk-muluk kerap memabukkan para konstituen yang memang tidak memiliki dasar pengetahuan memadai untuk membaca arah angin politik yang dihembuskan. Apalagi ketika para petualang politik mengemas kampanye-kampanye mereka dengan bungkusan terminologi-terminologi lokal dan memanfaatkan ikatan-ikatan kekerabatan untuk mendapatkan dukungan politik.

Dalam konteks tersebut, agama juga rentan dimanfaatkan sebagai isu politik terutama melalui slogan-slogan politik yang mengusung simbol-simbol agama. Isu-isu yang bersifat segregatif juga turut memperkuat sentimen-sentimen identitas primordial (agama dan etnis). Dari sini tampak bahwa politik lokal di kawasan ini masih sangat kuat bertumpu pada pengemasan isu-isu sensitif dikotomis: “orang asli” vs “pendatang”, “Islam” vs “Kristen”, “orang Seram” vs “orang non-Seram”. Pencitraan politik yang didesak dalam alam pikiran masyarakat adalah pencitraan politik yang bernuansa agama, wacana-wacana budaya lokal, dan janji-janji pembangunan yang sebenarnya tidak kontekstual karena hanya berada pada tataran isu, bukan program pembangunan yang berbasis pada kebutuhan riel konteks sosial-budaya-ekonomi kawasan ini.

Di beberapa jemaat, hubungan antarkomunitas berbeda agama dan etnis sejauh ini berjalan dengan harmonis kendati tidak disangkali bahwa masih ada sisa-sisa trauma konflik. Beberapa pendeta menjalin komunikasi yang cukup baik dengan sejumlah ulama di negri-negri Salam sehingga persoalan-persoalan kecil yang berpotensi menyeret isu agama dapat diselesaikan dengan pembicaraan bersama untuk mengantisipasi rembetannya menjadi lebih besar.

Ada beberapa pendeta yang juga memanfaatkan hubungan-hubungan pela-gandong dengan komunitas Salam untuk menjaga kemungkinan-kemungkinan merebaknya konflik keagamaan yang masih potensial di kawasan ini. Misalnya, Pdt. PL mencoba “memanaskan” komunikasi budaya dengan gandong-nya orang Tamilouw, negri Salam terbesar di situ. Atau Pdt. JH yang membangun komunikasi dengan pela-nya komunitas Siri-Sori Salam yang tersebar di beberapa negri Salam. Demikian juga dengan Pdt. WH yang terus membangun komunikasi budaya dengan gandong-nya komunitas Seith terutama di negri Yaputi. Menurut mereka, pendekatan budaya semacam ini sangat membantu proses-proses memulihkan kehidupan sosial jemaatnya pascakonflik. Bahkan mereka banyak sekali mendapatkan informasi seputar aktivitas-aktivitas oknum atau kelompok tertentu yang masih berniat memanaskan isu konflik agama di kawasan tersebut.

(bersambung)
Read more ...

Sepenggal Kisah di Ketiak Nusa Ina: Catatan Perjalanan [1]


Selama empat hari saya melakukan tugas perjalanan mengunjungi 33 mahasiswa Fakultas Teologi UKIM yang sedang menjalani praktik hidup bersama (live-in) di jemaat-jemaat se-Klasis Telutih, Pulau Seram. Klasis Telutih merupakan satuan wilayah pelayanan dari 19 jemaat Gereja Protestan Maluku. Hanya satu jemaat (Piliana) yang berlokasi di pegunungan, sedangkan sisanya berjejer di sepanjang pesisir pantai diselingi oleh beberapa negri Salam. Klasis ini terletak pada dua wilayah administratif tingkat kabupaten: Kabupaten Maluku Tengah (Salamahu s.d. Ulahahan) dan Kabupaten Seram Bagian Timur (Dihil s.d. Naiwel Ahinulin). Sebelum konflik sosial merebak ke seluruh wilayah Maluku, klasis ini mengatur 22 jemaat GPM. Tetapi pascakonflik hanya tersisa 19 jemaat yang bersedia kembali ke lokasi semula; 1 jemaat tidak mau kembali dan 2 jemaat lainnya beralih menjadi penganut agama Islam (Adabai dan Lapela).

Kunjungan ke jemaat-jemaat pesisir (Salamahu s.d. Ulahahan) dapat dilakukan dengan menggunakan sepeda motor dan ketinting. Sepeda motor hanya dapat digunakan jika cuaca cerah atau tidak hujan. Kalau hujan, maka perjalanan harus menggunakan ketinting karena sungai-sungai meluap. Sebagian besar fasilitas jembatan rusak parah dan karena itu penyeberangan harus dilakukan dengan cara melintasi aliran sungai. Jika memakai sepeda motor maka sepeda motor harus diusung oleh beberapa pemuda yang memang menyediakan jasa tenaga melakukannya. Sarana transportasi yang cepat dan aman adalah ketinting. Namun itupun harus memperhitungkan kondisi laut pada bulan-bulan tertentu. Terkecuali Jemaat Piliana. Lokasi Piliana hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki menempuh jarak 8 km, melewati jalan setapak, hutan, dan perbukitan.

Kisah di Ketiak Nusa Ina
Jika memandang dari kota kecamatan Tehoru, maka jajaran kampung dan jemaat mulai dari Saunulu s.d. Ulahahan berada di lekukan tanjung yang menyerupai ketiak manusia. Di ketiak Nusa Ina ini tersimpan banyak cerita mengenai manusia-manusia Seram yang bergelut dengan alamnya sekaligus menjadi korban dalam kelimpahan kekayaan alamnya sendiri.

Jemaat-jemaat se-Klasis Telutih hidup berdampingan dengan negri-negri Salam. Bahkan komunitas di beberapa jemaat merupakan komunitas yang heterogen, baik secara agama maupun etnis. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa komunitas-komunitas beraneka agama dan etnis sudah sejak lama menjalin interaksi satu dengan yang lain. Mereka tidak lagi asing dengan “yang lain” karena identitas dan relasi-relasi sosial di kawasan ini dihidupkan oleh antarhubungan berbagai komunitas agama dan etnis. Etnis Jawa, Buton, Bugis, Saparua, Buru, Timor, dan Maluku Tenggara sudah bertahun-tahun menjalani kehidupan sosial dan aktivitas ekonomi mereka bersama-sama dengan etnis Seram (Waulu, Sopamaraina) di Tehoru. Begitu pula dengan komunitas agama-agama yang mencakup Salam, Sarane, Katolik Roma, Hindu, Budha, dan agama-agama suku.

Namun antarhubungan tersebut terganggu oleh konflik sosial yang juga melanda kawasan ini. Ada cerita-cerita yang menyatakan bahwa sebenarnya konflik tersebut lebih dipicu oleh kedatangan kelompok-kelompok paramiliter dari luar Seram yang memprovokasi mereka untuk menyerang kelompok yang lain. Resistensi lokal berdasarkan ikatan kekerabatan yang telah terjalin antarkomunitas berbeda agama dan etnis tidak mampu membendung desakan kekuatan luar yang mengancam dengan begitu dahsyat. Dari 22 jemaat di Klasis Telutih, hanya 2 jemaat yang tidak hancur, yaitu Jemaat Piliana (gunung) dan Jemaat Hatu (pesisir). Selebihnya hancur total atau beralih ke Salam. Jemaat-jemaat yang hancur mengungsi ke wilayah pegunungan, terutama Piliana (pernah menampung 6.000 jiwa pengungsi); kelompok-kelompok pengungsi yang lain terus berjalan melintasi Gunung Sembilan dan Gunung Maraina menuju Wahai, Taniwel, dan Waipia.

Pemulihan kehidupan sosial berjalan berangsur-angsur. Tidak dapat disangkali bahwa penderitaan semasa konflik tetap mengguratkan trauma dan kerentanan. Namun sejauh ini komunitas-komunitas tersebut mulai merajut kembali hubungan-hubungan yang terkoyak selama beberapa waktu.

(bersambung)
Read more ...

Thursday, March 31, 2011

Macet

Kesibukan rutin menyita sebagian besar waktu sehingga hampir-hampir tak tersisa jeda untuk melakukan refleksi dan menuangkannya di ruang ini. Aktivitas berjalan seakan tak membiarkan sedikitpun kesempatan menarik nafas dan memuntahkan ide-ide yang berkeliaran liar di benak saya. Begitulah. Mengeluh pun tidak banyak gunanya selain mengikuti saja alunan irama rutin kehidupan dan menikmatinya sebagai proses mematangkan sejumlah ide.

Ada ide untuk mengisi bulan April yang sudah menanti di ambang pintu dengan beberapa refleksi mengenai simbol-simbol budaya yang mengakrabi kehidupan orang-orang Maluku sehari-hari. Tiba-tiba saja ide ini menyeruak ketika sedang melamun di halaman kampus UKIM sembari mengamati tingkah polah para pengejar ilmu di kampus talake ini. Sengaja saya segera menorehkannya di sini untuk terus mengingatkan ada agenda yang harus diselesaikan di sela-sela kepadatan rutinitas yang kerap menjebak ide dalam kemacetan lalu lintas pengalaman sehari-hari.

Kenapa harus April?
Pertanyaan yang saya sendiri tak yakin dengan jawaban saya sendiri. Hanya selintas asumsi bahwa menjelang bulan April ada semacam intensitas peningkatan aktivitas "pengamanan" yang tak lazim. Hari ini saja, dalam perjalanan menuju ke talake, ada sepasukan tentara yang "show-force" dengan perlengkapan perang komplit. Seolah-olah bulan April adalah bulan ancaman yang mesti direspons secara reaktif. Mungkin saja saya salah. Atau itu hanya anggapan yang terlampau berlebihan. Mungkin.

Tetapi rasanya juga bisa diterima jika bulan April dalam perspektif tentara di Maluku akan condong pada kegelisahan (atau ancaman?) terutama menjelang tanggal 25 April. Rupanya tanggal ini telah menjadi tanggal sakral sehingga aparat keamanan selalu bergegas menyiapkan ritual-ritual militer untuk menghadapi tanggal tersebut. Saya pribadi merasa aneh. Stigmatisasi orang Maluku sebagai pengikut ideologi dan/atau gerakan RMS tampaknya memang sudah tertanam kuat dalam cara pandang kaum militer di Indonesia. Sehingga seluruh proses menolak rasionalisasi "RMS masih ada" seakan-akan selalu membentur tembok tebal indoktrinasi militer di Indonesia. Maka tak mengherankan bahwa seluruh partipasi dan kontribusi orang Maluku terhadap proses menjadi Indonesia nyaris tenggelam tak bermakna.

Saya tak berpretensi melakukan analisis politik di sini. Yang menjejali benak saya justru adalah kegelisahan untuk melihat sebenarnya apa [lagi] yang bisa disumbangkan oleh orang Maluku sehingga keindonesiaan menjadi sebuah pergulatan bersama dengan komunitas lokal di wilayah-wilayah lain dari Merauke sampai di Sabang. Saya rasa itulah yang bisa dilakukan (setidaknya oleh saya sendiri).
Read more ...

Monday, March 7, 2011

Aer Babasu

Pulang dari kabong, karingat balong karing di badang lai, Dace skrek dengar Etus su tabaos dia pung nama dar kintal ruma.

Etus: Nyadu ee… Dace… mari kaluar dolo!

Dace: Tuandalar ee… ini apa ni?! Etus e, mangapa lai? Par oras bagini ose su tarewas beta pung nama macang ada dapa iku dar buntilana bagitu…

Etus: Suda jua nyadu manis tuang hati ee… ale mo mara beta nanti simpang dolo. Sakarang ni dengar beta bilang inpormasi klas satu ni dolo…

Dace: Kalo baru klas satu, loko kasi akang par yongen kacil jua. Dia ada baru dudu di klas satu tu.

Etus: Oee, Dace, beta serius ni… Ose taru se pung manara tu, lalu baganti bagus2 la iko beta ktong pi ka lau.

Dace: Hoi, ale su prenta skali ni… bilang dolo ini ada mangapa?

Etus: Orang2 su bakumpol paleng banya di tana lapang di lau. Beta dengar rombongan dari bendar ada bajalang unju rupa “calon ayau” par anana negri. Mar itu soal blakang. Yg lebe penting, dong ada bajalang bage baju kaos deng gambar2 paleng banya ee…

Dace: Ahahahaeee… Etus e, bet kira apa lai… La barang2 bagitu katong su amper loha akang te… saban kali mau sorong kursi ayau baru, dong musti bajalang unju rupa par anana negri. Nanti par oras su dudu di kursi ayau dong su tar nodek anana negri lai. Ose lia saja katong pung jalang mo masu2 negri dari taong adam, ayau satu abis satu sumbur janji, mar sang oras ni mana kang?

Etus: Hoe, nyadu e, ale seng bole bagitu. Katong ni memang orang kacil mar katong musti unju lai kalo katong tau master orang pung hal. Yg paling penting tu, katong ni warga bendar yg musti taru tanggung jawab par akang bendar ni kio.

Dace: Hahahaee… Etus, os bicara macang kata polotisi2 bagitu. Se jang ajar beta barang2 polotik tu. Beta su kanyang akang. Sakarang ni akang pung konci rekeng katong jaga nanaku dong pung karja saja. Jang sumbur janji kiri-kanan sondor karja, rembeng tomas deng toga kamana-mana. Laste2 katong yg warga bendar musti pikol dong sagala perkara yg jadi eso2. Lebe lae katong cuma dapa siram deng aer babasu…

Etus: Iyo, iyo, beta tau ale memang jago. Mar ale musti hormat ale pung nyadu ni yg su sorong diri par panggel ale. Soal2 polotik tu kas tinggal dolo. Sakarang ni mari iko beta katong manggurebe japre baju2 kaos deng kaeng gambar2 di lau…

Dace: Haa… kalo bagitu beta seng lari konco. Kalo tiap pemilihan ayau katong dapa jatah baju kaos macam bagini, katong seng perlu buang gobang par beli baju kaos lai…

Etus: Yah tuheng, jadi ale ni cuma tarkira baju kaos saja?

Dace: Lalu? Kalo dong su dudu di kadera ayau, dong su tar nodek par lia barang2 bagini lai nyadu e… tagal itu orang bilang ini pesta demokrasi. Abis pesta? Pulang jua… sapa yg datang pesta su abis, bisa dapa siram deng aer babasu…

Etus: Hahahahaha…. Suda jua. Beta seng dapa slak par bicara barang ini deng ale.

Dace: Barangkat!!
Read more ...

One Earth, Many Faces

One Earth, Many Faces