Aku menulis maka aku belajar

Sunday, January 24, 2021

Sarjana dari Aru


Campur aduk rasa haru dan bangga saat Stenly Salenussa menautkan foto-foto ini untuk beta. Beta mengenalnya sejak ia terlibat dalam kepengurusan Senat Mahasiswa Fakultas ISIP UKIM. Perangai yang kalem tapi punya karakter kepemimpinan yang kuat. Tak heran ia dipercaya menjadi ketua senat. Kami kerap berkoordinasi untuk beberapa kegiatan kemahasiswaan. Ia mampu dengan cepat memahami peran dan tanggung jawab seperti apa yang harus dilakukan dalam situasi-situasi tertentu. Untuk semua proses bekerja bersama itu, hingga ia mencapai gelar "sarjana", beta bangga meskipun tidak sempat bertatap muka dalam perkuliahan di klas. 

Namun, kebanggaan itu dengan segera tersapu rasa haru ketika menyaksikan reaksi masyarakat Kobamar, Aru Tengah Timur, menyambut kepulangan anak mereka yang sudah sarjana ini. Ia ternyata menjadi anak kampung Kobamar pertama yang mencapai gelar sarjana. Penyambutannya yang luar biasa seolah menegaskan bahwa ia bukan lagi "anak sarjana" milik keluarganya melainkan representasi dari masyarakat Kobamar. Penyambutannya bukanlah pesta hura-hura tapi suatu konfirmasi tentang harga diri sosial yang diangkat tinggi-tinggi. Label pendidikan "sarjana" yang disandangnya seolah sebentuk perlawanan sosial bahwa orang Kobamar tidak menyerah meski hidup sehari-hari mereka terbelit oleh matarantai kemiskinan struktural dan marjinalisasi sosial. Sekaligus dengannya menjadi penanda bahwa ada secercah titik terang pengharapan bagi generasi Aru dari Kobamar selanjutnya yang akan mengikuti jejaknya.

Menurut catatan Sir Alfred Wallace, penulis The Malay Archipelago, sejak 1857, Aru sebenarnya sudah menjadi "metropolis" yang riuh dengan jejaring perdagangan nusantara. Bahkan hingga periode Indonesia merdeka, dalam catatan penelitian Roem Topatimasang dkk Potret Orang-orang Kalah: Kumpulan Kasus Penyingkiran Orang-orang Asli Kepulauan Maluku (hasil pengamatan lapangan tahun 1993), puluhan perusahaan penyelaman dan budidaya mutiara beroperasi di Aru. Belum terhitung ratusan kapal berbendera asing yang menguras isi laut Aru, kisah mangkraknya perusahaan perikanan di Benjina beberapa tahun silam, hingga narasi perlawanan "Save Aru". Toh, hingga kini, sulit menyeka realitas kemiskinan struktural dari wajah sosial Aru.

Patricia Spyer, dalam disertasinya yang kemudian dibukukan dengan tajuk The Memory of Trade: Modernity's Entanglements on an Eastern Indonesian Island (Duke University Press 2000), menutup kisah etnografisnya tentang Aru dengan catatan: "If I have chosen in this book to focus especially on the negotiation by Barakai islanders of their relationships to the Aru and the Malay and of these two elsewheres to each other, it is because they, indeed, capture so well the kinds of dilemmas, adjustments, and compromises that, demanded by the larger forces and powers dominating and permeating their lives, people at the disempowered fringes of nation-states, as well as more globally, constantly face." (290-291).

Riset mutakhir tentang Aru, sejauh ingatan beta, dilakukan oleh Pdt. Aprino Berhitu, alumni Fakultas Teologi UKIM yang melanjutkan studi magister pada Prodi MPRK Sekolah Pascasarjana UGM. Riset itu menjadi tesis magisternya. Semoga kajian-kajian tentang Aru makin membentangkan kemungkinan menghadirkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi masyarakat Aru.

Selamat berkarya Ferson Sorfay! Kau baru saja memulai perjalanan menuju masa depanmu. Tetap berintegritas!
Read more ...

Peta Penelitian Sosiologi Agama di Era Post-Truth

Read more ...

Monday, December 21, 2020

Filosofi atau Pilusopi? ~ Sudut Pandang


Kebudayaan manusia terbentuk dan berkembang sebagai buah pemaknaan interaksi manusia dengan lingkungan alamnya dan lingkungan sosialnya. Interaksi itulah yang menciptakan masyarakat. Di dalam konteks bermasyarakat, manusia terus-menerus mencari sekaligus memberi makna pada kedua lingkungan tadi. Keduanya tak terpisahkan melainkan berjalin antara "budi" (nalar/moral) dan "daya" (potensi alamiah) sehingga membentuk "budaya". Padi yang tumbuh tidak hanya menjadi "daya" tetapi sekaligus termaknai sebagai "budi" saat dikelola hingga menjadi "beras" dan "nasi" di atas meja makan kita. 

Dalam proses itu, padi atau beras atau nasi mengalami pelapisan berbagai makna menurut manusia yang menanam, mengolah dan mengonsumsinya. Ketiga aktivitas itulah yang membentuk kebudayaan manusia. Dengan memberi makna, manusia mengalami proses pembatinan sehingga segala tindakannya adalah wujud integratif pengetahuan-yang-teralami. Pengetahuan tidak berhenti atau terbatasi hanya pada kerja "budi" tapi juga pada "daya" alamiah ruang hidupnya. Itulah hikmat, yang menjadi muara pencarian ultim manusia, yang kerap dibahasakan ringkas dengan istilah "filosofi" ~ pencarian penuh hasrat akan hikmat. 

Melalui bingkai filosofi itu maka semua fenomena dan fakta sosial-budaya yang terjadi dalam lingkungan alam dan lingkungan sosial manusia, selalu punya makna yang diarahkan bagi kehidupannya sendiri, keluarganya dan masyarakatnya. Sebatang besi di tangan seorang pandai besi bisa menjadi mata cangkul, parang, pisau dll. sebagai alat mengembangkan kebudayaan: olah tanah, membabat semak belukar, mengiris bawang untuk masakan. Namun, alat-alat itu bisa juga dipakai untuk tujuan yang berbeda dari maksud awal pembuatannya, misalnya: membunuh manusia atau hewan. Apakah jika pisau yang dibuat untuk mengiris bawang atau mengupas mangga digunakan untuk melukai dan membunuh orang lain, lantas pisau itu harus dienyahkan? Tentu tidak perlu. Karena nalar budaya penggunanyalah yang menentukan makna dan fungsi pisau itu dalam konstruk kebudayaannya. Pemaknaannya harus bergerak dialektis antara nalar instrumentalis dan nalar eksistensialis. Di situlah filosofi kebudayaan disusun agar manusia tidak hanya terkurung dalam ruang nalar instrumentalis belaka tapi terus menjelajahi makna keber-ada-annya (eksistensial). 

Demikian pula halnya dengan sopi atau arak atau tuak. Itu adalah instrumen kebudayaan manusia yang difabrikasi dengan makna dan fungsi tertentu dalam interaksi sosial, yang melahirkan beragam tradisi atau festival untuk merayakan sosialitas manusia dalam masyarakatnya. Tradisi minum bir atau anggur (wine) bagi masyarakat Eropa adalah bagian dari cara menghangatkan tubuh yang terpapar suhu dingin. Sekaligus instrumen budaya menghangatkan tubuh sosial masyarakat sebagai momen bersosialisasi. Menenggak bir atau wine secara berlebihan bisa membuat peminumnya hilang setengah kesadaran alias mabuk. Tapi jelas kemabukan itu bukan disebabkan oleh bir/wine itu sendiri melainkan pada kehendak orang yang menikmatinya. Entah karena dorongan keinginan sendiri atau suasana kelompoknya. 

Sopi tidak bisa dipahami terlepas dari makna dan fungsi budayanya dalam masyarakat adat di Maluku. Upacara-upacara adat di Maluku hampir selalu menyediakan sopi sebagai instrumen/media penting prosesi adat, termasuk dalam penyelesaian sengketa sosial. Fenomena dan fakta yang sama bisa dilihat pada berbagai ragam kebudayaan nusantara. Keberadaan sopi tidak bisa dikorelasikan begitu saja dengan frekuensi kasus orang mabuk dan naiknya angka statistik kriminalitas di suatu tempat. Bahwa orang hilang setengah kesadaran atau mabuk karena menenggak sopi secara berlebihan, lalu melakukan aksi kriminal, itu adalah hasil kerja "budi" orang itu sebagai individu. Sopi itu sendiri adalah instrumen budaya yang berdiri sendiri dan tidak bisa ditempatkan dalam relasi kausalitas aksi kriminal yang terjadi. 

Sebagai instrumen budaya yang berdiri sendiri, sopi juga bisa diboboti dengan makna dan fungsi yang lain, misalnya ekonomi. Para produsen sopi adalah kelompok masyarakat yang mengembangkan budi-daya untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup mereka secara transaksional dengan menyediakan materi yang diminati kelompok konsumen tertentu. Pola transaksional ekonomi pun berkembang dari lingkup yang terbatas pada satu teritori meluas ke teritori-teritori lain sebagaimana pola perdagangan lazimnya. Relasi yang terjalin adalah relasi produsen-konsumen. Produsen hidup karena ada konsumen. Konsumen ada karena kebutuhan. Dalam relasi produsen-konsumen itu, sopi tetap adalah instrumen budaya yang berdiri sendiri dan yang dimaknai memiliki nilai ekonomi yang mendatangkan keuntungan finansial bagi matarantai petani mayang-produsen-penjual-pengecer. 

Formulasi hukum positif bahwa sopi termasuk minuman beralkohol yang dilarang beredar tentu harus dibaca sebagai upaya mencegah efek sosial yang buruk yang ditimbulkan jika seseorang atau sekelompok orang menenggaknya secara berlebihan. Minuman beralkohol itu bukan hanya sopi. Tapi mengapa sopi yang terus menjadi sasaran penyitaan aparat kepolisian, bahkan dengan cara-cara tidak prosedural dan tidak pantas kepada orang-orang yang bukan konsumennya? Mengapa begitu banyak jenis minuman beralkohol entah dengan kadar rendah, sedang atau tinggi, yang tetap beredar di ruang-ruang publik tapi lolos dari aksi penyitaan polisi? Simpulnya ada pada ketidakbijaksanaan pemerintah untuk menyusun regulasi perizinan peredaran sopi. Produsen sopi tetap akan memproduksi sopi karena mereka memiliki "daya" (potensi alamiah), yaitu pohon mayang. Produksi sopi akan terus beredar karena ada permintaan konsumen. Pada sisi lain, ketersediaan sopi dalam suatu masyarakat adat mesti tetap terjaga karena sebagai instrumen budaya, sopi adalah unsur penting dalam tradisi budaya masyarakat nusantara, termasuk Maluku. Penyitaan sopi dengan cara-cara yang tidak manusiawi (menyiram orang dengan sopi yang dibawanya) bukan metode yang tepat untuk mereduksi efek buruk dari konsumsi sopi secara berlebihan. Sebaliknya, cara-cara semacam itu malah memperlihatkan betapa rapuhnya penanganan hukum terhadap upaya-upaya menekan angka kriminalitas bukan pada sumber masalahnya. 

Tulisan kecil ini bukan hendak menganjurkan orang minum sopi. Tapi ingin mengingatkan kita bahwa tingginya angka kriminalitas disebabkan oleh multifaktor. Peredaran sopi di kalangan masyarakat harus diatur dengan regulasi yang komprehensif. Tidak cukup hanya dengan cara menyita produknya, tapi mesti mencakup regulasi produksi, pengolahan, kemasan, citarasa, kadar alkohol dan peredaran secara berizin. Prosedur formal semacam itu tidak hanya mencegah efek buruk dari konsumsi sopi yang berlebihan tapi juga menempatkan sopi sebagai "budi-daya" yang secara ekonomi memberi keadilan kepada kelompok-kelompok masyarakat yang menggantungkan nafkah mereka di pohon-pohon mayang. Pendekatan pemberdayaan ekonomi masyarakat kepulauan seperti Maluku tidak bisa disamakan begitu saja dengan wilayah-wilayah lain. Penanganan masalah sopi di Maluku membutuhkan kerangka kerja filosofi, agar tidak menimbulkan cara-cara "pilusopi" (baca: sopi membawa kepiluan).
Read more ...

Monday, November 30, 2020

64


Waktu masih menunjuk sekitar 5.45 WIB ketika bus Surabaya-Semarang menurunkan saya di Jetis Kota Salatiga. Badan cukup lelah. Saya dan Stevy Likumahwa telah menempuh pelayaran dengan KM Rinjani klas ekonomi selama empat hari Ambon-Surabaya. Stevy langsung ke Jakarta dan akan menyusul ke Salatiga. Saya langsung ke Salatiga.

Saya bingung. Ini kali kedua menginjak kota sejuk ini. Tapi kunjungan pertama hanya mengikuti seminar selama 2 hari beberapa tahun silam sebelumnya. Saya memanggil seorang pengayuh becak dan meminta mengantar saya ke Asrama Kartini 11A (Askarseba). Tidak ada ponsel saat itu. Saya hanya mengandalkan percakapan terakhir dengan John Titaley (JT) sebelum meninggalkan Ambon. Setelah bertanya ke petugas satpam, saya diarahkan ke perumahan dosen tempat JT tinggal. Saya diterima JT dan ibu
Ida Imam
. Setelah menyeruput teh hangat dan sarapan, JT menelepon pak Slamet dan menanyakan tentang kamar di Unit 7 (Pascasarjana). Tak lama setelah itu, JT sendiri mengantar saya berjalan kaki menuju Unit 7 kamar 701.
Itulah hari saat hidup saya selanjutnya terhubung dengan Satya Wacana. Saya dan Stevy Likumahwa adalah 2 mahasiswa pascasarjana di antara beberapa mahasiswa (S1) lainnya yang saat itu ditolong oleh UKSW untuk menyelesaikan studi pascasarjana yang terhambat karena situasi Ambon yang sedang bergolak oleh konflik sosial. Status kami adalah mahasiswa titipan. UKSW saat itu berani menerima kami dan mengelola kehadiran kami sedemikian rupa sehingga dapat disesuaikan dengan sistem pendidikan yang berlaku di kampus itu. Kami diberi waktu hanya sekitar 6 bulan untuk menyelesaikan penulisan tesis. Biaya studinya? Dalam satu kunjungan ke Australia, JT mengontak beberapa mahasiswa Maluku yang sedang studi di sana. Salah satunya adalah
Marthin Nanere
(sekarang mengajar di La Trobe University Australia). Dari hasil pertemuan singkat itu, ada komitmen untuk membantu biaya hidup kami berdua selama di Salatiga dan UKSW memberikan sejumlah dispensasi biaya studi.
Askarseba Unit 7 kamar 701 menjadi saksi pergulatan studi saya siang dan malam untuk mengolah semua data yang telah saya kumpulkan, menganalisis, dan menyusunnya bab demi bab hingga selesai menjadi tesis. Komunitas Askarseba adalah keluarga bagi saya.
Sejak saat itu, Salatiga dan UKSW ternyata menjadi "ruang kehidupan" bagi saya dan keluarga saya.
Nancy Souisa
menyelesaikan studi S2 di UKSW dan kemudian melanjutkan tugasnya sebagai Direktur Pelaksana (Dirlak) Persetia di Jakarta selama 2 periode (10 tahun). Tahun 2012, ia melanjutkan studi S3 juga di UKSW, sementara saya setahun sebelumnya (2011) sudah berproses di ICRS-UGM Yogyakarta. Kami mengontrak rumah kecil di Perum Purisatya Permai. Setiap 2 minggu saya bolak-balik Yogya-Salatiga dengan sepedamotor Suprafit bekas yang saya beli di Yogya. Sekarang (2020), putra kami,
Kainalu Gaspersz
, melanjutkan kuliahnya di Prodi Hubungan Internasional, FISKOM UKSW. Putri kami, Kailani Gaspersz, lahir di Salatiga. Ibu Ida Imam menjadi orangtua pertama yang menengok Nancy di RSIA Mutiara Bunda karena saat itu saya sedang menjalankan tugas di GKI JenSud.
Ketika melihat kembali jejak-jejak langkah yang saya jalani hingga saat ini, sulit untuk tidak melihat UKSW sebagai "rumah kehidupan" saya, meskipun saya hanya setengah alumni. Dengan seluruh narasi sejarahnya yang panjang selama 64 tahun, saya bangga telah menjadi bagian dari kampus ini yang dalam banyak hal telah membentuk corak intelektualitas saya dan memperkokoh persaudaraan yang cerdas dan elegan dalam komunitas kampus yang multi-identitas.
Tahun 2014, saya, Nancy Souisa,
Izak Y. M. Lattu
dan
Tedi Kholiludin
menginisiasi sebuah buku antologi sebagai penghormatan kepada John Titaley. Waktu itu usia beliau genap 64 tahun. Banyak yang bertanya: Mengapa tidak dibuat tepat 65 tahun? Kami tidak tahu jawabnya. Waktu itu tujuan kami hanya ingin memberi "kado" kepada JT. Untunglah, Romo Mudji Sutrisno, SJ yang bersedia memberi endorsement membantu menjawab dalam catatannya yang terpasang di sampul belakang buku itu: "64 tahun dalam kebijaksanaan Jawa adalah usia tumbuk, artinya bertemulah 'spiritual depth and life wisdom' dari Allah Sang Pencipta."
Dari sejumlah orang yang kami kontak, ada 19 orang yang pernah belajar di UKSW di bawah asuhan JT yang bersedia menulis. Uniknya, tidak ada honor bagi para penulisnya. Sebaliknya, setiap penulis urunan untuk biaya cetak dan publikasinya. Saya dan Tedi Kholiludin menjadi editornya. Biaya cetak ternyata tidak cukup. Alhamdulilah,
Sumanto Al Qurtuby
yang waktu itu rezekinya lagi meroket karena sudah menjadi profesor di Universitas Notre Dame AS, mengirim sejumlah dolar AS, sehingga akhirnya buku itu bisa dicetak dan terbit meski oplahnya terbatas sekali.
Hari ini kami sekeluarga mengucapkan Selamat Ulang Tahun ke-64 UKSW! Semoga ini juga menjadi "usia tumbuk" dimana "spiritual depth and life wisdom" dari Allah Sang Pencipta bertemu dan tetap menjadi berkat bagi dunia pendidikan tinggi Indonesia.
** Mengenang sahabat Stevy Likumahwa yang beberapa bulan setelah wisuda S2 menjadi korban penyerangan kelompok tak dikenal di rumahnya.
Read more ...

Saturday, November 28, 2020

Indonesia dari Lemba Tongoa

Tepat saat gema adventus dikumandangkan dan pesan-pesannya bertaburan di media sosial, ada dentum penganiayaan yang kelam dan bisu di Lemba Tongoa (Jumat, 27/11/2020). Tubuh-tubuh tumbang tak bernyawa dan aroma sangit rumah-rumah yang hangus menjadi noktah suram mengiringi penghujung tahun ini. Berita ini tak seriuh kejadian yang disajikan oleh banyak media mengenai Jakarta. Jakarta memang punya daya gravitasi karena, bisa jadi, mentalitas kita telah lama dibelah oleh kepicikan “pusat” dan “daerah”. Maka daerah dan semua yang terjadi di sana tak lebih panorama sekilas yang menjadi latar remang-remang dari gemerlap Jakarta. Lihat saja, bagaimana pose membaca buku seseorang di Jakarta tiba-tiba viral dan media sosial dipenuhi pose-pose latah “membaca buku”. Tentu saja, peristiwa pilu Lemba Tongoa bukan soal “how democracy dies” tapi soal kemanusiaan yang dibekap, dilumpuhkan dan dipenggal hingga mampus demi sesuatu alasan yang tak beralasan. Entah apa. 

Ketika daya gravitasi Jakarta itu menyedot seluruh darah kebhinekaan Indonesia ini maka yang tersisa hanyalah wacana tunggal yang terpusat di seputaran Monas saja. Pesona keindonesiaan yang jamak identitas dan merentang jauh dari orbit Jakarta itu pun nyaris terabaikan dan dibisukan. Ini bukan semata soal agama. Ini lebih pada soal apakah kita masih bisa melanjutkan kesepakatan kita mengindonesia dengan cara-cara barbar di sebuah era ketika manusia-manusia di belahan lain bumi ini sedang genit dengan artificial intelligence dan garang mengumandangkan akar-akar hak asasi manusia. Ini juga bukan problem mayoritas-minoritas, karena sedari awal fondasi republik ini tidak dirajut dengan benang-benang sentimen mayoritas-minoritas tapi pada rasa hormat yang dalam terhadap multi-identitas yang menyusun berbagai kromosom kebudayaan, lokalitas, religiositas, dan nasionalitas menjadi darah-daging-tulang republik ini. Secara faktual-historis, tubuh republik ini tak putus didera pukulan dan bacokan sentimen-sentimen primordial. Kendati terhuyung-huyung dengan luka dan lebam di sekujur tubuhnya, kita masih bersikukuh untuk bertahan. Tapi, sampai kapan?

Jika daya gravitasi Jakarta masih kuat mempesona dan memabukkan hingga mata kita kian rabun, telinga kita makin tuli dan rasa kita makin tumpul terhadap hakikat mengindonesia ini, tidakkah kita sedang mengubur hidup-hidup utopia “menjadi Indonesia”? Padahal utopia itu kita butuhkan sebagai pengingat kewarasan bahwa tidak ada spesies übermensch yang atas nama tuhan apapun bisa menggilas nilai-nilai kemanusiaan dari manusia lainnya. Rakyat republik ini dalam kemenjadian historis dan antropologisnya telah menaruh hormat dan rasa percaya kepada segelintir orang yang didefinisikan sebagai “pemerintah”. Di dalam sikap hormat dan rasa percaya itu terkandung harapan besar bahwa teladan-teladan kepemimpinan yang visioner dan manusiawi akan menentukan orientasi pengelolaan kekuasaan yang rumit, kusut dan saling berbenturan. Di situlah daya gravitasi Jakarta mesti diinterupsi agar semua kita belajar dan terbiasa untuk membaca Indonesia bukan dengan kacamata kuda “Jakarta”, tapi memperbesar retina keindonesiaan untuk mencermati dengan jeli lokalitas-lokalitas yang menggeliat mencari bentuk-bentuk mengindonesia yang belum tuntas ini.

Mencari pembenaran sepihak dengan telunjuk yang menuding “gerakan pemberontak” atau “gerakan teroris” hanya akan menguak luka-luka bernanah ketidakadilan yang dikorek dengan moncong-moncong senjata. Persoalannya sudah tentu tak akan pernah berakhir di ujung senapan. Luka-luka ketidakadilan itu akan terus menjadi kudis-kudis yang harus digaruk dengan jumawa dan membuat siapapun nekat melakukan pembelaan terhadap harga diri yang dibenamkan dalam lumpur kemiskinan yang pekat.

Rakyat negeri ini memberi kepercayaan yang besar kepada segelintir orang yang disebut “pemerintah” untuk menggunakan kewenangan mereka menjaga harkat dan martabat kemanusiaan yang terus menghidupi utopia “menjadi Indonesia” ini. Kepercayaan itu sudah seharusnya dijalankan sebagai mandat kuasa demi mempertahankan makna asasi manusia Indonesia yang merdeka dan berdaulat, dengan rentang optikal kebangsaan dari ujung timur hingga ujung barat geografis Indonesia. Kepercayaan itu seharusnya pula berfungsi dengan kesadaran bahwa Indonesia bukan Jakarta [saja], tapi beragam lokalitas yang menopangnya sebagai pilar-pilar eksistensial, bukan instrumental belaka.

Pada titik itu, solidaritas kepada korban-korban yang berjatuhan di negeri ini tidak lagi menjadi kontestasi yang terbungkus oleh kemasan primordial etnis atau agama, tapi karena keprihatinan akan makin luruhnya rasa cinta dan hormat kita pada kemanusiaan yang asasi demi secuil kuasa yang diperebutkan dengan rakus.
Read more ...

Wednesday, October 7, 2020

"Indonesia" di Ithaca - Catatan Penghormatan 70 Tahun SEAP Cornell University (Bagian III)


Atas bantuan informasi dari Bli Made Supriatma, saya terhubung dengan CIA (Cornell Indonesian Association). Beberapa rekan Indonesia dari CIA mengontak saya dan tak lelah mengirim info seputar kehidupan masyarakat Ithaca dan berbagai hal yang memungkinkan saya mampu
survive di kota kecil ini melewati hari-hari yang beku. 

Sebelumnya, dalam suatu percakapan, Prof. Laksono sempat memberi pesan. "Di Cornell, ada 2 Ben yang harus kau hubungi. Ben Anderson di Kahin Center dan Ben Abel di Perpustakaan Olin-Kroch," demikian kata Pak Laks. Sedikit kecewa karena Prof. Ben Anderson tidak berada di Ithaca saat itu. Kabarnya, beliau selalu pergi ke tempat-tempat yang hangat (tropis) selama musim dingin. Di sisi lain, saya sangat beruntung dapat mengenal dan berjumpa dengan Ben Abel, seorang pustakawan andal di Perpustakaan Olin-Kroch, yang selalu terbuka membantu saya dalam urusan literatur di perpustakaan dan teman diskusi yang hangat. Tak hanya itu, Ben Abel juga yang mengajak saya mengenal seluk-beluk Cornell dengan berkeliling area-area kampus dan mengunjungi tempat-tempat indah ketika matahari musim semi mulai bertandang ke Ithaca.

Kahin Center dan Perpustakaan Olin-Kroch adalah 2 tempat meditasi saya di Cornell. Meskipun saya diberi ruang kerja tersendiri tapi saya lebih suka menghabiskan waktu di ruang pustaka pribadi George McTurnan Kahin, membaca berbagai jurnal, kepustakaan klasik, sejumlah disertasi sarjana Indonesia seperti Taufik Abdullah, George Aditjondro, Daniel Dhakidae dll; selain dokumen-dokumen tulisan sarjana Indonesia yang sulit diperoleh lagi di Indonesia, seperti Ariel Heryanto. Deretan jurnal tentang kajian Indonesia dari timur sampai barat berjejer panjang dan rapi, membuat saya terheran-heran juga mengapa dokumen-dokumen ini sulit didapatkan di perpustakaan-perpustakaan kampus-kampus Indonesia.

Tempat penjelajahan dan meditasi literatur kedua adalah Perpustakaan Olin-Kroch. Seminggu saya habiskan hanya untuk menjelajahi tiap lantai. Seingat saya ada tiga lantai yang penuh dengan literatur kajian Indonesia. Saya seperti "a kid in a candy store". Tak habis-habisnya mengagumi sekaligus juga menyesali mengapa perpustakaan semacam ini harus berada jauh dari Indonesia. Lantai 3 menjadi tempat leyeh-leyeh kalau sudah mulai jenuh dengan bacaan-bacaan rumit. Di situ saya bisa membaca serial komik Kho Ping Ho, Pram, dan berbagai jenis novel atau komik.

Layanan "interlibrary loan" memungkinkan untuk mendapatkan kepustakaan dari jaringan perpustakaan di kampus-kampus lain. Beberapa fasilitas ini membantu saya mendapatkan literatur yang saya butuhkan dari perpustakaan Universitas Leiden, SOAS University of London, dan terutama kampus-kampus di AS. Selain itu, ruangan mikrofotografi juga menjadi tempat saya menelusuri arsip-arsip koran, majalah, artikel dll yang sudah diformat menjadi mikrofilm.

Di perpustakaan ini tiba-tiba ada kesadaran menyeruak betapa luar biasanya Indonesia hingga salah satu kampus Ivy League di AS ini mengalokasikan energi sebesar ini untuk mendedahnya melalui berbagai kajian yang serius dan mendalam. Layanan perpustakaan ini jam 07.30 pagi hingga 02.00 dini hari. Soal makan/minum? Pada bagian lobby, berseberangan dengan unit layanan perpustakaan, ada kafe yang kurang-lebih seperti restoran mini sehingga para pengguna perpustakaan tidak perlu keluar hanya untuk mengisi perut, kecuali mencari menu yang tidak ada di situ.

"Brown Bag Talk" adalah momen penting untuk bersosialisasi. Secara rutin para pakar baik dari dalam maupun dari luar AS mempresentasikan hasil-hasil riset tentang kajian Asia Tenggara dan mendiskusikannya bersama. Perjumpaan dengan beberapa mahasiswa Indonesia di Cornell juga terjadi. Yang sering membuat kagok adalah rata-rata para profesor fasih berbahasa Indonesia (ada juga yang fasih bahasa Jawa dan Bali). Kagok karena saya berhadapan dengan orang-orang bule (istilah om Ben) yang demen dengan Indonesia, hingga menguasai akar-akar sejarah dan kebudayaan yang saya sendiri tak mengakrabinya. Suatu citarasa Indonesia yang kental di Ithaca, tepat pada saat secara ragawi saya sedang tidak berada di wilayah geografis Indonesia. Di situ pula saya berkenalan lebih akrab dengan Direktur SEAP waktu itu, Prof. Kaja McGowan dan pak Ketut Raka Munavizt, serta beberapa peneliti senior SEAP seperti Prof. Martin Hatch, Prof. Abby Cohn (yang kini Direktur SEAP), Prof. Eric Tagliacozzo, Prof. Chiara Formichi dll. Sayangnya, saya tidak sempat bertemu dengan Prof. James Siegel dan Prof. Ben Anderson. (lanjut)
Read more ...

Sunday, October 4, 2020

"Indonesia" di Ithaca - Catatan Penghormatan 70 Tahun SEAP Cornell University (Bagian II)


Setelah menempuh perjalanan dengan bus Greyhound selama kurang-lebih 6 jam, saya tiba di terminal bus Ithaca. Sepanjang perjalanan saya lebih banyak tidur karena tidak ada pemandangan yang bisa dinikmati selain hamparan salju dimana-mana. Tak lebih 15 menit, hp berdering. John Wolff menelepon untuk memastikan saya sudah tiba di Ithaca dan meminta saya menunggu penjemputannya. Tak berapa lama beliau datang. Saya segera mengenalinya karena sebelumnya saya sudah googling foto beliau hanya untuk memastikan mengenali wajahnya. Rupanya beliau juga langsung mengenali saya. Pasti karena hanya saya penumpang yang sedang menunggu jemputan dan tentu saja berkulit coklat. 

Ithaca adalah kota kecil yang indah. Sepintas dalam amatan pertama, kota kecil ini dihidupi salah satunya oleh keberadaan kampus Cornell. John Wolff menceritakan banyak hal sepanjang perjalanan menuju rumah. Sampai di rumahnya, saya diperkenalkan dengan ibu Ida, istrinya, seorang perempuan Filipina yang ramah. Mereka tinggal berdua saja karena anak-anak mereka sudah berkeluarga dan tinggal di kota lain. John langsung membawa saya ke kamar yang disiapkan untuk saya. "Jangan sungkan-sungkan. Anda bisa menyiapkan sendiri apa yang dibutuhkan. Di rumah ini hanya saya dan Ida. Beristirahat dulu. Nanti kita makan malam bersama," demikian ujar John yang fasih berbahasa Indonesia, Jawa, dan Tagalog. 

Hanya 2 hari saya gunakan untuk mempelajari peta Ithaca dan berkomunikasi dengan pihak SEAP Cornell University untuk melaporkan bahwa saya sudah tiba di Ithaca. Hari ketiga saya mencoba pergi ke kampus. Tawaran John Wolff untuk mengantar saya tolak dengan halus karena saya tidak mau lagi merepotkan orang tua baik hati ini. Setelah melihat peta, saya merasa jarak yang harus saya tempuh tidak terlalu jauh. Yang meleset dari perhitungan saya adalah: badai salju. Hampir saja saya tersesat karena kehilangan petunjuk arah akibat semua tempat hanya putih melulu tertutup salju tebal. Sialnya, tidak ada orang di sepanjang jalan yang bisa ditanyai. Untungnya, GPS pada hp tetap "on" sehingga akhirnya tiba juga di kampus meskipun masuk dari gerbang yang jauh dari gedung administrasi. 

Agak sulit menandai beberapa gerbang kampus Cornell karena kampus ini secara geografis menyatu dengan sebagian wilayah kota Ithaca dan lingkungan perbukitan, hutan serta sungai di dalamnya. Setelah melapor diri ke International Office, tak sampai 1 jam saya sudah mendapat ID Card dan sejumlah kertas dokumen yang menerangkan hak dan kewajiban saya selama beraktivitas di Cornell, serta dokumen-dokumen lain (info rute bus, denah kampus, peta kota Ithaca, dll). 

Selama 2 hari berikutnya, John Wolff bersedia mengantar saya mengunjungi beberapa tempat pemondokan yang tersedia (sesuai info internet dan beberapa tautan yang direkomendasikan oleh kampus). Dalam urusan ini saya sangat berterima kasih karena pada setiap tempat yang kami kunjungi, John memberikan kesan penilaiannya terutama mengenai lingkungan dan harga. Sebenarnya saya hampir putus asa karena sebagian besar tempat sudah kami kontak sebelumnya tidak direkomendasikan layak oleh John. Sampai tersisa satu nomor kontak tanpa email. 

Nomor kontak terakhir ini ternyata adalah sepasang suami-istri keturunan India, keluarga Selvarajaj. Mereka tinggal berdua saja di wilayah pinggir tebing yang dikenal sebagai "Fall Creek". Anak semata wayang mereka sudah berkeluarga dan tinggal di Florida. Mereka punya 2 kamar yang disewakan. Keduanya sudah terisi. Tapi salah satu mahasiswa sedang melakukan penelitian selama 6 bulan di kota lain. Keluarga Selvarajaj bersedia menerima saya untuk menempati kamar yang kosong itu. Di tempat inilah John kemudian menilai bahwa saya layak menempatinya karena lingkungan rumah mendukung, selain jarak yang tidak jauh menuju kampus atau perpustakaan Olin-Kroch dengan berjalan kaki. 

Bersama keluarga Selvarajaj inilah saya memulai peziarahan intelektual selama musim dingin yang cukup ekstrem saat itu. Meskipun ke kampus atau perpustakaan bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki, melewati hutan kecil kampus dan jembatan gantung atau "suspension bridge", tapi tantangan terberat adalah "kemalasan" ketika bangun pagi dan melihat dari kaca jendela hujan salju yang turun lebat, serta lapisan salju tebal yang menutupi jalan dan trotoar.  

Tuan Selvarajaj pernah berkelakar kepada saya: "Anda datang ke Ithaca pada waktu yang salah." Apa boleh buat? Meski menggigil dengan berlapis 4 baju, mantel, karpus, sarung tangan, dan sepatu salju, hampir setiap hari saya harus berjalan kaki di tengah gempuran hujan salju bersuhu rata-rata -10 derajat Celcius. Perpustakaan Olin-Kroch dan ruang kerja di Kahin Center adalah tempat saya menghabiskan sebagian besar waktu saya untuk membaca dan menulis, selain mengikuti acara-acara "Brown Bag Talk" yang digelar rutin oleh Southeast Asia Program (SEAP). (lanjut) 

*Foto: Rumah Keluarga Selvarajaj, Fall Creek, Ithaca.
Read more ...

Saturday, October 3, 2020

"Indonesia" di Ithaca: Catatan Penghormatan 70 Tahun SEAP Cornell University (Bagian I)


"Setelah mempertimbangkan hasil ujian komprehensif dan proposal disertasi Saudara, maka kami menganjurkan Saudara untuk mendalami studi Indonesia. Ada 2 pilihan: Universitas Leiden atau Universitas Cornell," demikian pernyataan salah seorang profesor dari dewan penguji ujian komprehensif saya di ICRS (Indonesian Consortium for Religious Studies), yang bermarkas di Gedung Lengkung Sekolah Pascasarjana UGM. Salah satu persyaratan yang harus dijalani oleh mahasiswa program doktor ICRS adalah melakukan studi literatur pada salah satu universitas di luar negeri selama kurang-lebih 5 bulan. Sebagian besar adalah universitas di Amerika Serikat.

Pilihan itu membuat saya gembira sekaligus gundah. Pasalnya, ketika saya memilih Universitas Leiden, beberapa profesor mengusulkan sebaiknya saya ke Cornell. Bersamaan pula promotor saya, Prof. Paschalis M. Laksono, adalah lulusan Cornell. Tapi ada problem. Ternyata dari sekian banyak kerjasama yang sudah diteken oleh ICRS dengan kampus-kampus di Amrik, saat itu ICRS belum terkoneksi dengan Cornell. Adalah Profesor Bernard Adeney-Risakotta yang saat itu mendorong saya untuk memilih Cornell. "Anda sebaiknya ke Cornell. Dengan demikian, Anda sekaligus menjadi duta ICRS untuk selanjutnya kita bekerjasama dengan Cornell. Kami akan mengatur perjalanan ke Cornell selagi Anda visiting scholar di sana," demikian kata Prof. Bernie.

Singkat kata, saya pun bersiap meskipun agak puyeng. Perjalanan dari New York City ke Ithaca sekitar 6 jam dengan bus Greyhound. Memang ada penerbangan lokal tapi karena musim dingin yang ekstrem maka penerbangan NYC-Ithaca tidak bisa dipastikan. Setiba di NYC saya harus tinggal beberapa hari untuk menentukan transportasi ke Ithaca. Saat itu sedang musim dingin. Saya harus tinggal di mana selama di New York City? Syukurlah, melalui bantuan bung Jacky Manuputty, saya diperkenalkan dengan keluarga bung Franklin Wattimena yang berdomisili di kawasan Queen New York. Keluarga Wattimena bersedia menerima saya transit sebelum ke Ithaca. Persinggahan di New York City tertangani.

Masalah lain, bagaimana dengan pemondokan saya selama berada di Ithaca? Karena saya adalah mahasiswa ICRS pertama yang ke Cornell dan belum ada kontrak kerjasama Cornell-ICRS maka Cornell (SEAP) tidak mempersiapkan fasilitas pemondokan atau asrama. Saya harus mencari sendiri. Lagi-lagi saya bersyukur karena melalui Prof. Dieter Bartels, saya diperkenalkan dengan Prof. John Wolff, seorang Indonesianis di Cornell. Hanya dalam hitungan hari, John Wolff membalas email saya dan menyatakan bersedia menampung saya di rumahnya sambil mencari pemondokan di Ithaca.

Hari sudah malam ketika pesawat mendarat di bandara internasional John F. Kennedy New York. Semua tampak putih diselimuti lapisan salju tebal. Bung Franklin Wattimena alias bung Engkin bersama putrinya menjemput saya dan kami menuju rumah keluarga Wattimena. Saya merasa "at-home" selama beberapa hari tinggal bersama mereka sembari, dengan bantuan bung Roy Manuputty, mencari informasi mengenai transportasi ke Ithaca. Selama berada di NYC, John Wolff terus berkomunikasi dengan saya untuk memastikan keadaan saya baik-baik dan mencari tahu waktu tiba di Ithaca karena beliau akan menunggu saya di terminal bus Ithaca.

Musim dingin yang hebat (menurut ukuran saya) cukup membuat saya kewalahan. Untunglah keluarga Wattimena dan bung Roy Manuputty membantu saya dengan memberikan mantel, jaket, syal, sarung tangan, kaos kaki dan sepatu khusus salju. Sepatu sneakers saya basah kuyup ketika saya paksa pakai keluar rumah dalam kondisi hujan salju dan melewati jalan berlapis salju tebal. Hampir seminggu saya tinggal bersama keluarga Wattimena. Pada hari yang kami sepakati, karena bertepatan dengan jam kerja bung Engkin dan usi Onco, maka bung Roy Manuputty bersedia mengantar saya ke terminal bus Greyhound menuju Ithaca.

(lanjut)

Read more ...

Monday, August 17, 2020

75

Sobat saya, Ikhsan Tualeka, kabarnya akan segera meluncurkan buku bertajuk "Maluku Menggugat". Salut! Tajuk yang seolah menahan sejenak detak jantung kebudayaan dari suatu masyarakat yang sejak negeri ini dinyatakan "merdeka" pada 75 tahun silam, seolah hanya menjadi pelengkap penderita. Mengapa menggugat? Apa yang digugat? Kita nantikan saja penerbitan buku Ikhsan Tualeka itu.

Tahun lalu (2019), sobat saya yang lain, Haris Touwely, sumringah dan bergegas pulang ke kampungnya, Riring, yang terletak di pegunungan Pulau Seram, tepatnya Kabupaten Seram Bagian Barat, Kecamatan Taniwel. Apa pasal? Katanya, ada peresmian jalan beraspal yang sudah mencapai kampungnya itu. Bagi kebanyakan orang yang terbiasa hidup di pusat-pusat kota, itu hal biasa. Tapi tidak bagi sobat saya ini dan seluruh warga kampungnya. Baru pertama kali ini sejak Indonesia dinyatakan merdeka 74 tahun silam (1945-2019), jalan beraspal bisa tembus hingga ke kampungnya itu.

Kemarin pagi seorang sobat lain, Samanery Juhri, mengirim tautan klip video kami belum merdeka yang memperlihatkan betapa besar perjuangan dan pengorbanan dari warga Desa Neat dan Desa Liang di Pulau Buru (Selatan) jika mereka hendak pergi ke tempat lain. Rekaman video itu menampilkan usaha warga kedua desa dengan membuat jembatan tali luncur untuk menyeberangkan orang di atas aliran sungai yang deras.

Tiga cerita itu, tentu saja, hanya cerita-cerita yang dianggap kecil dan bisa kita abaikan begitu saja selagi kita tidak merasa berkaitan dengan urusan perut dan duit kita. Cerita-cerita yang dianggap kecil dibandingkan dengan cerita besar korona yang menyedot stamina kebangsaan kita hanya dalam hitungan bulan. Bahkan memaksa pemerintah republik ini menggelontorkan trilyunan rupiah untuk mempersiapkan segala fasilitas dan obat/vaksin. Cerita-cerita itu memang hanyalah cerita orang kecil yang karena segala usaha mandirinya mengatasi segala keterbatasan infrastruktur hidup, mereka berjuang tanpa merasa perlu diberi penghargaan bintang jasa atau gelar kehormatan.

Semua itu hanya cerita-cerita pendek dari perjalanan panjang 75 tahun republik ini. Mungkin saja, akan segera tenggelam di tengah hiruk-pikuk pekik "merdeka" yang akan terdengar seharian ini (17 Agustus 2020).

Read more ...

Sunday, August 16, 2020

JaNus

Saya berterima kasih kepada para mahasiswa Prodi Ilmu Keperawatan Fakultas Kesehatan UKIM (yang dinakhodai Dekan Belly) yang telah berpartisipasi aktif selama Semester Antara yang baru saja usai. Proses pembelajaran semester itu memang tak mudah karena berjalan tidak seperti masa-masa pra-pandemi. 

Namun, dengan segala keterbatasan yang ada, diskusi-diskusi selama pembelajaran matakuliah "Pendidikan Multikultural" yang terkurung "dalam jaringan" telah menginspirasi ide-ide kreatif. JaNus ini contohnya. 

JaNus adalah proyek belajar kreatif untuk mengimplementasikan gagasan multikulturalisme dalam bentuk-bentuk praksis. JaNus adalah singkatan dari Jalan-jalan Nusantara. Ada 2 kegiatan yang dilakukan. Pertama, setiap mahasiswa harus mencari, menghafal dan menyanyikan lagu-lagu dari berbagai daerah Nusantara. Kemudian direkam dan diunggah pada Goggle Classroom matakuliah ini. Kedua, sebagai tugas akhir, setiap mahasiswa harus memilih 1 menu makanan khas daerah Nusantara dan membuat video tutorial mulai dari penyiapan bahan-bahan dasar yang dibutuhkan, cara pembuatan, hingga penyajiannya. Video itu kemudian diunggah juga pada Google Classroom matakuliah itu. 

Refleksi para mahasiswa mengenai proyek JaNus ini sangat menarik. Dari video lagu Nusantara, mereka mengakui betapa sulitnya menyanyikan lagu dengan bahasa yang mereka tidak kuasai. Meski lagunya akrab di telinga, tapi lidah mereka agak sulit melafalkan kata-kata dalam bahasa daerah tertentu. Memang syarat tugas ini adalah mahasiswa harus memilih lagu dari luar daerah Maluku. 

Demikian halnya dengan JaNus kuliner. Semula mahasiswa keberatan dengan syarat tidak boleh memilih menu yang sama. Saya memang meminta agar mereka berembug dulu di antara teman-teman sekelas dalam penentuan menu masakan. Ternyata setelah itu mereka mengakui banyak sekali menu masakan Nusantara yang baru mereka tahu. Eksperimen kuliner itu pun menjadi sesuatu yang menarik. 

Namun, yang terlebih utama ialah dari proyek belajar JaNus ini para mahasiswa mengakui bahwa "menjadi Indonesia" dengan segala keanekaragaman identitas ternyata tidaklah mudah. Dibutuhkan kerelaan untuk menegosiasikan identitas sendiri dengan berbagai identitas liyan, dituntut komitmen untuk mengelola secara arif bahan-bahan kebudayaan lokal yang bermacam-macam bentuk dan rasa menjadi suatu performa hibrid yang saling berdamai, dan diperlukan kapasitas untuk meresapi perbedaan sebagai kekayaan yang jika diramu dengan citarasa yang pas akan menghasilkan suatu perjumpaan yang nikmat. 

Saya mengapresiasi kerja keras para mahasiswa ini. Hanya sebatas itu yang bisa saya lakukan. Karena masakan yang sudah dibuat oleh para mahasiswa tidak bisa saya nikmati dengan lidah. Hanya menjadi kenikmatan untuk ditonton "sampe aer mulu tumpah". 

Selamat merayakan "menjadi Indonesia" yang ke-75 tahun. Semoga ingatan kita tidak melapuk bahwa pilihan menjadi Indonesia adalah kesepakatan bersama untuk meramu dan menghidupi aneka perbedaan identitas Indonesia itu. MENA MURIA!
Read more ...

One Earth, Many Faces

One Earth, Many Faces