Campur aduk rasa haru dan bangga saat Stenly Salenussa menautkan foto-foto ini untuk beta. Beta mengenalnya sejak ia terlibat dalam kepengurusan Senat Mahasiswa Fakultas ISIP UKIM. Perangai yang kalem tapi punya karakter kepemimpinan yang kuat. Tak heran ia dipercaya menjadi ketua senat. Kami kerap berkoordinasi untuk beberapa kegiatan kemahasiswaan. Ia mampu dengan cepat memahami peran dan tanggung jawab seperti apa yang harus dilakukan dalam situasi-situasi tertentu. Untuk semua proses bekerja bersama itu, hingga ia mencapai gelar "sarjana", beta bangga meskipun tidak sempat bertatap muka dalam perkuliahan di klas.
Sunday, January 24, 2021
Sarjana dari Aru
Campur aduk rasa haru dan bangga saat Stenly Salenussa menautkan foto-foto ini untuk beta. Beta mengenalnya sejak ia terlibat dalam kepengurusan Senat Mahasiswa Fakultas ISIP UKIM. Perangai yang kalem tapi punya karakter kepemimpinan yang kuat. Tak heran ia dipercaya menjadi ketua senat. Kami kerap berkoordinasi untuk beberapa kegiatan kemahasiswaan. Ia mampu dengan cepat memahami peran dan tanggung jawab seperti apa yang harus dilakukan dalam situasi-situasi tertentu. Untuk semua proses bekerja bersama itu, hingga ia mencapai gelar "sarjana", beta bangga meskipun tidak sempat bertatap muka dalam perkuliahan di klas.
Monday, December 21, 2020
Filosofi atau Pilusopi? ~ Sudut Pandang
Kebudayaan manusia terbentuk dan berkembang sebagai buah pemaknaan interaksi manusia dengan lingkungan alamnya dan lingkungan sosialnya. Interaksi itulah yang menciptakan masyarakat. Di dalam konteks bermasyarakat, manusia terus-menerus mencari sekaligus memberi makna pada kedua lingkungan tadi. Keduanya tak terpisahkan melainkan berjalin antara "budi" (nalar/moral) dan "daya" (potensi alamiah) sehingga membentuk "budaya". Padi yang tumbuh tidak hanya menjadi "daya" tetapi sekaligus termaknai sebagai "budi" saat dikelola hingga menjadi "beras" dan "nasi" di atas meja makan kita.
Monday, November 30, 2020
64
Waktu masih menunjuk sekitar 5.45 WIB ketika bus Surabaya-Semarang menurunkan saya di Jetis Kota Salatiga. Badan cukup lelah. Saya dan Stevy Likumahwa telah menempuh pelayaran dengan KM Rinjani klas ekonomi selama empat hari Ambon-Surabaya. Stevy langsung ke Jakarta dan akan menyusul ke Salatiga. Saya langsung ke Salatiga.
Saturday, November 28, 2020
Indonesia dari Lemba Tongoa
Wednesday, October 7, 2020
"Indonesia" di Ithaca - Catatan Penghormatan 70 Tahun SEAP Cornell University (Bagian III)
Sunday, October 4, 2020
"Indonesia" di Ithaca - Catatan Penghormatan 70 Tahun SEAP Cornell University (Bagian II)
Saturday, October 3, 2020
"Indonesia" di Ithaca: Catatan Penghormatan 70 Tahun SEAP Cornell University (Bagian I)
"Setelah mempertimbangkan hasil ujian komprehensif dan proposal disertasi Saudara, maka kami menganjurkan Saudara untuk mendalami studi Indonesia. Ada 2 pilihan: Universitas Leiden atau Universitas Cornell," demikian pernyataan salah seorang profesor dari dewan penguji ujian komprehensif saya di ICRS (Indonesian Consortium for Religious Studies), yang bermarkas di Gedung Lengkung Sekolah Pascasarjana UGM. Salah satu persyaratan yang harus dijalani oleh mahasiswa program doktor ICRS adalah melakukan studi literatur pada salah satu universitas di luar negeri selama kurang-lebih 5 bulan. Sebagian besar adalah universitas di Amerika Serikat.
Pilihan itu membuat saya gembira sekaligus gundah. Pasalnya, ketika saya memilih Universitas Leiden, beberapa profesor mengusulkan sebaiknya saya ke Cornell. Bersamaan pula promotor saya, Prof. Paschalis M. Laksono, adalah lulusan Cornell. Tapi ada problem. Ternyata dari sekian banyak kerjasama yang sudah diteken oleh ICRS dengan kampus-kampus di Amrik, saat itu ICRS belum terkoneksi dengan Cornell. Adalah Profesor Bernard Adeney-Risakotta yang saat itu mendorong saya untuk memilih Cornell. "Anda sebaiknya ke Cornell. Dengan demikian, Anda sekaligus menjadi duta ICRS untuk selanjutnya kita bekerjasama dengan Cornell. Kami akan mengatur perjalanan ke Cornell selagi Anda visiting scholar di sana," demikian kata Prof. Bernie.
Singkat kata, saya pun bersiap meskipun agak puyeng. Perjalanan dari New York City ke Ithaca sekitar 6 jam dengan bus Greyhound. Memang ada penerbangan lokal tapi karena musim dingin yang ekstrem maka penerbangan NYC-Ithaca tidak bisa dipastikan. Setiba di NYC saya harus tinggal beberapa hari untuk menentukan transportasi ke Ithaca. Saat itu sedang musim dingin. Saya harus tinggal di mana selama di New York City? Syukurlah, melalui bantuan bung Jacky Manuputty, saya diperkenalkan dengan keluarga bung Franklin Wattimena yang berdomisili di kawasan Queen New York. Keluarga Wattimena bersedia menerima saya transit sebelum ke Ithaca. Persinggahan di New York City tertangani.
Masalah lain, bagaimana dengan pemondokan saya selama berada di Ithaca? Karena saya adalah mahasiswa ICRS pertama yang ke Cornell dan belum ada kontrak kerjasama Cornell-ICRS maka Cornell (SEAP) tidak mempersiapkan fasilitas pemondokan atau asrama. Saya harus mencari sendiri. Lagi-lagi saya bersyukur karena melalui Prof. Dieter Bartels, saya diperkenalkan dengan Prof. John Wolff, seorang Indonesianis di Cornell. Hanya dalam hitungan hari, John Wolff membalas email saya dan menyatakan bersedia menampung saya di rumahnya sambil mencari pemondokan di Ithaca.
Hari sudah malam ketika pesawat mendarat di bandara internasional John F. Kennedy New York. Semua tampak putih diselimuti lapisan salju tebal. Bung Franklin Wattimena alias bung Engkin bersama putrinya menjemput saya dan kami menuju rumah keluarga Wattimena. Saya merasa "at-home" selama beberapa hari tinggal bersama mereka sembari, dengan bantuan bung Roy Manuputty, mencari informasi mengenai transportasi ke Ithaca. Selama berada di NYC, John Wolff terus berkomunikasi dengan saya untuk memastikan keadaan saya baik-baik dan mencari tahu waktu tiba di Ithaca karena beliau akan menunggu saya di terminal bus Ithaca.
Musim dingin yang hebat (menurut ukuran saya) cukup membuat saya kewalahan. Untunglah keluarga Wattimena dan bung Roy Manuputty membantu saya dengan memberikan mantel, jaket, syal, sarung tangan, kaos kaki dan sepatu khusus salju. Sepatu sneakers saya basah kuyup ketika saya paksa pakai keluar rumah dalam kondisi hujan salju dan melewati jalan berlapis salju tebal. Hampir seminggu saya tinggal bersama keluarga Wattimena. Pada hari yang kami sepakati, karena bertepatan dengan jam kerja bung Engkin dan usi Onco, maka bung Roy Manuputty bersedia mengantar saya ke terminal bus Greyhound menuju Ithaca.
(lanjut)
Monday, August 17, 2020
75
Sobat saya, Ikhsan Tualeka, kabarnya akan segera meluncurkan buku bertajuk "Maluku Menggugat". Salut! Tajuk yang seolah menahan sejenak detak jantung kebudayaan dari suatu masyarakat yang sejak negeri ini dinyatakan "merdeka" pada 75 tahun silam, seolah hanya menjadi pelengkap penderita. Mengapa menggugat? Apa yang digugat? Kita nantikan saja penerbitan buku Ikhsan Tualeka itu.
Tahun lalu (2019), sobat saya yang lain, Haris Touwely, sumringah dan bergegas pulang ke kampungnya, Riring, yang terletak di pegunungan Pulau Seram, tepatnya Kabupaten Seram Bagian Barat, Kecamatan Taniwel. Apa pasal? Katanya, ada peresmian jalan beraspal yang sudah mencapai kampungnya itu. Bagi kebanyakan orang yang terbiasa hidup di pusat-pusat kota, itu hal biasa. Tapi tidak bagi sobat saya ini dan seluruh warga kampungnya. Baru pertama kali ini sejak Indonesia dinyatakan merdeka 74 tahun silam (1945-2019), jalan beraspal bisa tembus hingga ke kampungnya itu.
Kemarin pagi seorang sobat lain, Samanery Juhri, mengirim tautan klip video kami belum merdeka yang memperlihatkan betapa besar perjuangan dan pengorbanan dari warga Desa Neat dan Desa Liang di Pulau Buru (Selatan) jika mereka hendak pergi ke tempat lain. Rekaman video itu menampilkan usaha warga kedua desa dengan membuat jembatan tali luncur untuk menyeberangkan orang di atas aliran sungai yang deras.
Tiga cerita itu, tentu saja, hanya cerita-cerita yang dianggap kecil dan bisa kita abaikan begitu saja selagi kita tidak merasa berkaitan dengan urusan perut dan duit kita. Cerita-cerita yang dianggap kecil dibandingkan dengan cerita besar korona yang menyedot stamina kebangsaan kita hanya dalam hitungan bulan. Bahkan memaksa pemerintah republik ini menggelontorkan trilyunan rupiah untuk mempersiapkan segala fasilitas dan obat/vaksin. Cerita-cerita itu memang hanyalah cerita orang kecil yang karena segala usaha mandirinya mengatasi segala keterbatasan infrastruktur hidup, mereka berjuang tanpa merasa perlu diberi penghargaan bintang jasa atau gelar kehormatan.
Semua itu hanya cerita-cerita pendek dari perjalanan panjang 75 tahun republik ini. Mungkin saja, akan segera tenggelam di tengah hiruk-pikuk pekik "merdeka" yang akan terdengar seharian ini (17 Agustus 2020).







