Aku menulis maka aku belajar

Saturday, January 29, 2011

19011999-19012011


Tulisan ini sengaja saya susun setelah melewati tanggal 19 Januari 2011. Anda masih ingat peristiwa 19 Januari 1999? Semoga ingatan akan peristiwa itu belum luntur dari dinding benak kita. Meskipun saya menyadari bahwa bisa saja pembaca tulisan ini adalah generasi yang saat peristiwa itu terjadi masih berusia belia. Saya hanya ingin melihat seberapa jauh memori kolektif kita terhadap peristiwa kelam 19 Januari 1999 masih mengental. Namun rupanya tak banyak yang ingin menguak lagi kisah pahit “kerusuhan” Ambon pada 19 Januari 1999. Kendati saya percaya masih banyak orang yang mengingatnya, bahkan tetap hidup dalam kerangkeng trauma psikologis.

Sudah 12 tahun berlalu sejak peristiwa “kerusuhan” itu pecah. Namun, ingatan akan “kerusuhan” atau konflik sosial itu tentu masih kental dalam benak kita jika kita mengikuti bahwa intensitas konflik baru mereda secara gradual pada tahun 2005. Itu berarti situasi “normal” pascakonflik Ambon baru kita nikmati sekitar 6 tahun. Itupun kerap diinterupsi oleh sejumlah riak-riak kecil yang tak urung mengganggu proses normalisasi kehidupan sosial di Ambon dan Maluku.

Tulisan ini tidak berpretensi memaparkan cerita tragis penuh derita, tangis, dan darah. Tidak pula ingin mengorek-ngorek tentang kebenaran versi siapa yang mesti dipertahankan dan pihak mana yang bertanggung jawab penuh atas tragedi Maluku. Melalui tulisan ini saya hanya ingin menorehkan sedikit refleksi agar kita, terutama generasi pascakonflik di Maluku, tidak begitu saja melupakan dan mengabaikan sejarah kelam Maluku kontemporer di akhir abad ke-20 tersebut. Tetapi sekaligus saya tidak bermaksud mengeksplorasi sejarah kelam itu untuk sekadar mengingat, melainkan untuk memandang ke depan: apa yang masih bisa kita gali sebagai pelajaran masa depan bagi kehidupan bersama sebagai manusia Maluku?

Memaknai Kembali Relasi Agama-Politik di Indonesia
Konflik Maluku 1999 memberi pelajaran berharga kepada kita bahwa ranah agama dan politik bukanlah suatu ranah steril atau sakral. Dalam konteks sosial-budaya Indonesia, agama dan politik telah melakukan gerak interpenetrasi yang kreatif dan saling memanfaatkan. Konflik Maluku telah menyingkapkan suatu realitas sosiologis bahwa agama (dan juga konsep ketuhanan yang diusungnya) – terutama Kristen dan Islam – ternyata mengendapkan lumpur sejarah masa lalu di dasar teologinya dalam hubungan satu dengan yang lain. Endapan lumpur sejarah ini rapuh karena nyaris pada setiap zaman selalu diobok-obok sehingga mengeruhkan relasi-relasi sosial di kalangan para penganut agama.

Perselingkuhan agama dan politik merupakan suatu fakta sosial. Sejarah agama-agama memperlihatkan dengan jelas bahwa legitimasi kekuasaan ilahi telah menjadi faktor determinan dalam pengelolaan kekuasaan para klerus untuk memengaruhi dan melanggengkan kekuasaan individual maupun kelompok. Secara sosiologis, legitimasi ilahi yang mewujud dalam tafsir kitab suci telah memproduksi simpul-simpul kekuasaan di kalangan agamawan yang mendaku memiliki hak teologis untuk mengartikan kehendak Tuhan. Di sisi lain, kekuatan-kekuatan politik merasa mendapat infus kekuasaan ketika mampu menjadikan teologi agama[nya] sebagai pilar-pilar penopang kekuasaannya (dan kelompoknya).

Mengenang sejarah kelam konflik Maluku di sini hendak pula dimaknai sebagai upaya merefleksikan peran agama-agama untuk menjadi modus vivendi di tengah kegamangan relasional agama-politik. Namun, sudahkah peran-peran itu makin menguat pascakonflik Maluku? Ataukah justru agama-agama kini makin tenggelam dalam romantisme baru perselingkuhan agama-politik yang lebih menggiurkan?

Salam-Sarane sebagai Redefinisi Identitas Lokal
Konflik Maluku telah menyingkap tirai perselingkuhan agama-politik itu dengan gamblang. Suatu pelajaran dan pengalaman berharga bagi agama-agama untuk selalu kritis menilai apakah nilai-nilai keagamaan telah menjadi kekuatan moral bagi kebaikan sosial ataukah hanya menjadi sekadar kesalehan individual yang mempertegas segregasi sosial (ini Kristen vis a vis itu Islam, dsb) atas nama keselamatan ilahi yang diyakininya. Komunitas Salam-Sarane di Maluku telah menghadapi ujian berat yang menyoal seberapa tangguh nilai-nilai dan struktur-struktur budaya lokal bertahan terhadap gempuran desakralisasi agama ke dalam ranah pertarungan politik empiris.

Desakralisasi Salam-Sarane merupakan sebentuk upaya meluruhkan ikatan-ikatan kultural yang berkelindan dengan spiritualitas kedua agama abrahamik. Salam-Sarane tidak lagi tersekat sebagai identitas agama, tetapi telah membentuk lapisan-lapisan dialektis identitas kemalukuan. Oleh karena itu, dalam kosmologi budaya manusia Maluku, Salam-Sarane tidak bisa ditranslasi secara harfiah sebatas “Islam-Kristen”. Desakralisasi Salam-Sarane serta-merta mengikis-sistematis makna identitas kemalukuan itu sendiri. Maka sebagai orang Maluku, eksistensi kita kini lebih ditentukan oleh simbol-simbol keagamaan yang kita warisi dari generasi demi generasi; sementara simbol-simbol budaya makin tersisihkan dari diskursus kebudayaan kita.

Penonjolan identitas keagamaan makin mengeras, tapi solidaritas budaya tampaknya kian tergerus oleh apa yang kita sebut “perimbangan”. Hampir dalam setiap aspek – terutama pascakonflik – yang kita persoalkan adalah bagaimana kekuatan Islam berimbang dengan kekuatan Kristen, dan vice versa. Diskursus kebudayaan kita tidak lagi tertuju pada upaya memperkuat percakapan Salam-Sarane, karena bagi sebagian orang – apalagi yang tak mengenal gramatika budaya Maluku – itu tak menguntungkan kepentingan-kepentingan “nasional”. Kepentingan “nasional” itu seperti apa? Ternyata tak lebih dari kepentingan “Jakarta”, yang sulit dilepaskan sebagai patron politik dan budaya Indonesia. Kita – bangsa Maluku – makin terpinggirkan dan dibisukan oleh “gula-gula” politik “Jakarta”.

Sudah 12 tahun kita menapaki kegetiran sejarah kelam konflik Maluku. Ternyata tak banyak yang berubah kendati ribuan nyawa melayang sia-sia, milyaran rupiah melayang bersamaan dengan puing-puing sosial-ekonomi masyarakat, tak terhitung berapa social cost dari kebencian yang mengharu-biru nurani kita. Tak banyak yang berubah. Kita senang ada gong perdamaian yang berdiri di atas lahan yang pernah menjadi arena pertumpahan darah. Tapi itu tak cukup membuat kita bangga jika akar-akar perdamaian dan persaudaraan itu tidak tertanam dalam-dalam di tanah Maluku ini. Bahkan kita makin terpesona dengan bermunculannya real-estate mewah dan hotel-hotel megah, sementara persoalan pengungsi secara faktual belum tuntas.

Masih panjang deretan soal kita di Maluku, yang bisa menjadi penyulut baru jika kita tidak terus-menerus merekonsiliasi memori kolektif ini bersama sebagai anak-anak Salam-Sarane. Atau kita akan menguburnya dengan lantunan lagu “Jangan kamu takut, Aku adalah…” mengiringi pemakaman generasi Maluku yang makin amnesia di tengah hiruk-pikuk hip-hop dan romantisme “mari pulang bangun Maluku”? 19011999… siapa yang masih ingat?
Read more ...

Monday, January 24, 2011

Kalau Tuhan Kentut...


Agama-agama dunia – sebutlah demikian – dan terutama yang bertradisi sejarah abrahamik atau ibrahimi (Yahudi, Kristen, dan Islam – berikut seluruh sekte dan sempalannya) sejak mulanya menganut paham monoteisme. Percaya bahwa Allah itu esa; tunggal; monolitik; tak terbagi; tak beranak. Juga, hampir seluruh pemahaman definitif tentang “tuhan” itu dibahasakan secara negatif (Tuhan itu tidak pemarah; Tuhan itu tidak pendendam; dll). Ada memang yang membahasakan hakikat sang Tuhan itu dengan terminologi positif.

Namun, hampir seluruh artikulasi mengenai hakikat sang Tuhan itu selalu bercermin dari realitas kedirian manusia. Kalau manusia bisa dikuasai oleh dendam maka Tuhan itu tidak pendendam. Kalau manusia bisa terjerumus dalam nafsu kebencian maka Tuhan itu penuh kasih. Kalau manusia terbelenggu oleh dosa maka Tuhan itu pasti yang maha suci dan tak berdosa. Figurisasi hakikat sang Tuhan semacam ini yang dalam narasi-narasi keagamaan disebut “antropomorfisme”. Suatu upaya menggambarkan Tuhan menurut skema manusiawi; yang dipercaya oleh manusia sebagai “yang melampaui” realitas, tetapi justru ingin dijelaskan sebagai realitas. Diyakini tak kelihatan tapi justru selalu ingin didefinisikan secara normatif seolah-olah sang Tuhan itu kelihatan. Bahkan mengawasi tingkah polah manusia. Semacam simptom panoptik yang pernah disebut-sebut oleh Michel Focault.

Puncak artikulasi teologis agama-agama abrahamik itu adalah pada kekuatan “kata” atau “firman” (word, logos). Alkitab dimulai dengan narasi penciptaan dunia yang terjadi karena kekuatan “Firman Tuhan”. Ayat-ayat Al-Quran diyakini sebagai “Firman Allah SWT” yang langsung didengar oleh nabi Muhamad SAW. Itu juga yang rupanya menjadi kekuatan dalam pelestarian ajaran-ajaran agama yang ditransmisikan melalui “misi” dan “dakwah” yang lebih terpusat pada kekuatan “kata-kata” sebagai media mengalirnya “Firman Tuhan” itu. Kata, bahasa, dan percakapan menjadi kunci untuk memahami sang Tuhan itu. Ini bukan sesuatu yang mengherankan jika kita melihat bahwa kekuatan dan daya tahan suatu kebudayaan dan peradaban juga sangat dipengaruhi oleh “power of words” yang tertuang dalam tradisi-tradisi lisan dan tulisan. Tapi, lagi-lagi, penggambaran tentang Tuhan yang berfirman itu toh terpantul dari kapasitas budaya manusia untuk menggunakan media bahasa dalam berkomunikasi secara internal maupun lintas budaya.

Hanya saja, ketika membayangkan sang Tuhan itu dalam perwujudan antropos, seluruh pusat perhatian agama-agama tampaknya hanya tertuju pada kapasitas budaya manusia untuk berkata-kata. Padahal sebagai manusia, kita pasti menyadari bahwa eksistensi kita sangat rumit. Ilmu pengetahuan berkembang dengan sangat pesat hanya karena membedah manusia dari berbagai aspeknya.

Nah, ini yang kemudian terpikirkan oleh saya. Salah satu hal yang menjadi bagian integral dari kehidupan kita sebagai manusia adalah KENTUT. Anda pernah kentut kan? Jangan malu-malu. Kentut itu bagian dari eksistensi kemanusiaan kita. Kalau anda tidak pernah kentut maka eksistensi kemanusiaan anda perlu dipertanyakan. Jangan-jangan anda adalah “alien” atau makhluk UFO (Unidentified Flying Object). Tentu tidak, bukan? Kita semua pernah dan selalu kentut. Tetapi cukup aneh bahwa ternyata aktivitas yang cukup vital dalam proses biologis dan sosiologis manusia ini ternyata luput dari upaya untuk memahami sang Tuhan dalam agama-agama. Saya tidak tahu kenapa. Mungkin karena kentut itu dianggap “kotor” karena keluar dari lubang anus. Mungkin juga karena kentut itu baunya tak sedap. Atau mungkin karena dalam hampir semua budaya masyarakat manusia, kentut itu dianggap sebagai “tanda ketidaksopanan”. Padahal, mulut kita juga bisa berbau tak sedap karena tidak gosok gigi berhari-hari. Atau mulut kita juga bisa mengumbar kata-kata tak sopan dan “kotor”, yang seharusnya keluar dari anus. Misalnya kata-kata umpatan “tai lu”. La, itu kan seharusnya keluar dari anus, tapi sering juga keluar dari mulut. Jadi, apa bedanya?

Dalam teologi agama[-agama], ternyata kentut tidak pernah difigurisasi sebagai salah satu bagian penting dari hakikat Tuhan. Cukup aneh. Lah, kalau banyak penganut agama-agama percaya manusia diciptakan Tuhan, dan Tuhan menciptakan metabolisme tubuh manusia sedemikian rupa sehingga manusia bisa kentut, tentu Tuhan juga bisa kentut dong… Masak Tuhan gak bisa kentut?!

Ini yang saya rasa penting untuk direnungkan. Bagaimana mengimajinasikan Tuhan kentut sebagaimana mengimajinasikan Tuhan berfirman? Yah, sorry aja, Anda tidak akan menemukan tentang kentut Tuhan dalam kitab-kitab suci semua agama. Jadi interpretasi teologis kita memang akan menyimpang dari kelaziman. Padahal, kalau kita percaya dan beriman bahwa Tuhan menciptakan manusia seutuhnya maka tentu kentut mesti dimaknai sebagai bagian dari cara manusia menjadi manusia yang utuh. Dan di situlah – dalam eksistensi dan pengalaman manusia, yakni kentut – manusia bisa merenungkan “ultimate concern” itu (Paul Tillich).

Sederhananya saya melihat begini. Kalau Tuhan kentut, tentu kita bisa juga memaknainya sebagai sebuah proses pembuangan “energi” yang tak diperlukan lagi. Proses biologis adalah sebuah proses penyerapan unsur-unsur penting (saripati) dari apa yang kita terima (atau telan), yang kemudian dilanjutkan oleh proses pemadatan residu-residunya yang berwujud gas dan feses. Kedua unsur yang disebut terakhir tidak bisa disimpan, tetapi harus dikeluarkan agar keseimbangan tubuh tetap terjaga. Jika tidak dikeluarkan, unsur-unsur gas dan feses itu bisa menjadi racun dalam tubuh.

Jika mengimajinasikan Tuhan kentut, saya melihat proses ini sebagai sebuah proses penyerapan energi “doa”, “ibadah”, “amal”, “persembahan”, “pergumulan” dll yang selalu tiap saat disampaikan manusia kepada Tuhan. Lantas, semua itu didengar dan diserap oleh Tuhan (tentu dalam bahasa antropomorfis – karena kita selalu mohon “Ya, Tuhan dengarlah doa kami”); yang kemudian ditelan “saripati”-nya. Kalau ada residu-residunya, tentulah itu unsur-unsur yang harus dibuang – salah satunya melalui kentut Tuhan. Kalau tidak, perut Tuhan pasti mules. Tuhan hanya menyerap “saripati” iman manusia, yang tentu saja cukup mengandung vitamin dan zat-zat spiritual yang menyehatkan. Embel-embel iman (termasuk kemunafikan) hanyalah residu yang akan keluar lewat kentut Tuhan.

Saya jadi teringat pesan Yesus agar kalau kita berdoa jangan bertele-tele. Mungkin Yesus juga mau bilang: Sampaikan kepada Tuhan “saripati” pergumulanmu. Kalau terlalu berlebihan nanti malah jadi kentut. Dibuang oleh Tuhan karena kalau disimpan perut Tuhan bisa mules. Pada bagian lain narasi Alkitab, saya juga teringat kisah janda miskin yang memberikan uang terakhir yang ada padanya. Yesus menjadikan pengorbanan janda ini sebagai teladan agar murid-muridnya juga memberikan “saripati” hidupnya. Tanpa atribut-atribut “kekayaan” atau “jabatan” seperti ibadah yang dilakukan oleh banyak orang kaya dan pemuka agama pada zaman Yesus. Semua itu hanya residu yang akan keluar jadi kentut Tuhan.

Mungkin anda bisa menambahkan contoh lainnya bagaimana menarasikan kentut Tuhan. Silakan. Monggo kerso. Tapi jangan tanya saya kentut Tuhan itu bunyinya seperti apa. Atau baunya seperti apa. Kalau anda paksa diri untuk tahu, yah, setidaknya anda bisa membayangkan sedikit bunyi kentut anda dan mencium bau kentut anda sendiri…. Monggo kerso. Silakan.
Read more ...

Friday, January 21, 2011

E-Kakus


Sekarang memang zamannya pasang embel-embel “e”. Mulai dari e-mail, e-book, e-bay, e-journal, e-store. Anda pasti sudah tahu bahwa embel-embel “e” itu singkatan dari “electronic”. Jadi, semua kata benda yang dilekati oleh “e” itu dengan gamblang menunjukkan bahwa kata benda itu bernyawa karena dihinggapi roh “e” tadi. Semuanya seolah bergerak dan dinamis. Itulah yang menandai zaman ini – electric culture.

Tapi yang saya temui – ini pengalaman unik – adalah “e-kakus”. Weits… apaan tuh? Apakah ini sejenis temuan baru yang mengelektronikkan kakus? Ups, bukan itu. Embel-embel “e” di depan kata kakus bukan singkatan dari “electronic”, tapi “etika”. Ini lebih aneh lagi: etika kakus. Apa ada?

Ceritanya begini. Saya dan Kainalu (anak kami) tiba di Airport Internasional San Francisco, California, Amerika Serikat pada tanggal 1 Januari 2011. Kami berdua ingin mengunjungi Nancy yang sedang studi di Pacific School of Religion (PSR), Berkeley. Sekalian merayakan Natal dan tahun baru. Kami tinggal di Benton Hall. Kamar yang cukup besar tanpa kamar mandi. Kamar mandi dan kakus berada di ruangan tersendiri, serta digunakan bersama (kalau penuh ya bergantian).

Suatu pagi, saya pergi ke kamar mandi untuk kencing. Tapi… uaahh… di kakus banyak sekali “kotoran”. Jorok sekali, pikir saya. Apa kurang air di sini sampai tidak bisa “flush” setelah b-a-b? Atau, manusia-manusia penghuni gedung asrama ini sudah sangat supersibuk sampai hanya untuk menyiram kotoran di kakus saja tak sempat? Buru-buru karena tak tahan, saya tak sempat melirik secarik kertas yang melekat di bilik kakus. Penuh keheranan saya tanya Nancy tentang keanehan di kakus tadi. Dengan santai Nancy menjawab bahwa di asrama sini ada “quiet hours” antara jam 22.30 s.d. 6.00. Penghuni asrama yang buang hajat pada jam-jam itu diminta untuk “flush” 1 kali dalam kasus b-a-b. Kalau cuma kencing, ya tidak usah di-“flush”. Biarkan saja sampai pagi. Wuiiihhh….

Kenapa? Rupanya Benton Hall adalah salah satu gedung kuno yang konstruksi dindingnya lebih tipis, sehingga kalau orang keluar-masuk kakus dan sering-sering “flush” akan sangat mengganggu penghuni kamar yang bersebelahan dengan dinding kakus. Wah, rupanya sampai berak pun orang masih diikat oleh tatanan etika sosial. Ini yang saya sebut “e-kakus”. Suatu pola hidup yang mengutamakan etika hidup bersama, sehingga segala sesuatu dilakukan hanya demi menghormati privasi orang lain.

Quiet Hours
E-kakus itu memang hanya implikasi dari suatu kesadaran untuk respek terhadap keberadaan orang lain dalam hidup seseorang. Suatu tindakan kecil, yang bagi sebagian orang aneh kalau tidak dilakukan – apalagi di kakus – yang didasari dengan penghormatan kepada orang lain: ruang dan waktunya. Oleh karena itu, sang waktu pun dinarasikan dalam keheningan: quiet hours, saat teduh. Membiarkan kakus “jorok” selama beberapa jam, demi keheningan manusia dan haknya untuk menikmati keheningan itu.

Hidup kita pada zaman kontemporer ini nyaris tak henti berhiruk-pikuk. Gegap-gempita. Heboh. Pesta-pora. Teriak sana, teriak sini, termasuk maling teriak maling. Ribut. Riuh. Hiruk-pikuk itu tak hanya dalam wujud bunyi, namun juga pikir (yang tak bunyi, tapi tetap sibuk hilir-mudik di benak kita). Ya, termasuk saya yang sedang menulis ini. Kita tak berhenti bergerak dan ribut. Kita tak berhenti berpikir. Karena katanya “cogito ergo sum”. Banyak orang yang kelihatannya sunyi, padahal sebenarnya ribut, karena di gendang telinganya MP3 gedebak-gedebuk. Sunyi yang ribut. Hening yang garing.

Kita telah banyak kehilangan saat-saat hening. Keriuhan hidup telah melunturkan kualitas pikir dan nurani kita hingga tak lagi sempat menikmati hening. Saya teringat kisah Yesus. Di tengah hiruk-pikuk para pengikutnya, bahkan perdebatan para muridnya, Yesus masih punya waktu menyendiri dan berdoa. Menikmati keheningannya untuk menemukan dirinya, eksistensinya. Menceburkan dirinya dalam kabut malam dan pepohonan hanya demi sekejap hening. Bukan diam, tapi hening. Ia menikmati heningnya.

Keheningan itu tidak membawa Yesus menjauh dari dunia. Malah makin menyeret eksistensinya menyatu dengan pergumulan dunia. Keheningan itu tidak membuatnya terlena, malah terjaga. Hingga beberapa kali Yesus membangunkan murid-muridnya yang terlelap. “Tidak sanggupkah engkau berjaga-jaga denganku?” Dari keheningan itu pula Yesus menemukan etos yang ganjil: memberikan dirinya untuk ditangkap dan disalib. Etika yang memberi diri, bukan membela diri. Etika yang membiarkan dirinya dibenamkan dalam lumpur derita, tanpa menuding diri benar dan orang lain salah. Etika yang menghidupkan, bukan karena dia sok jagoan mengaku mesias, tapi keberanian untuk memikul derita itu dalam keheningan bagi dirinya dan membiarkan liyan (others) tetap hidup. Dan… semua itu dimulai dengan dan dalam hening. Quiet hours.

Saya tidak tahu apakah etika ini pantas juga disebut e-kakus, karena kakus pun sebenarnya tempat yang tepat untuk hening. Merasakan denyut lambung yang menggiling makanan, dan merasakan kenikmatan dalam tiap lepasannya. Masuk dan keluar dalam siklus biologis, sekaligus menyadarkan kita bahwa tubuh kita sebenarnya merupakan sebentuk ciptaan yang luar biasa dan karena itu pula sangat eksistensial. E-kakus itu melahirkan saat teduh. Hening.
Read more ...

Saturday, January 8, 2011

Mencetak Manusia Pelahap


Lahan bekas rumah sakit itu kini sedang dipersiapkan untuk bangunan baru. Bukan bangunan rumah sakit lagi, tetapi rencana pembangunan “Mal Maluku”. Sebuah pusat perbelanjaan baru, yang menurut rumor akan lebih “wah”, “megah”, dan “mewah”. Rumor itu bisa saja sebagian dianggap benar kalau menilik luas lahan – bekas rumah sakit – yang kini sedang dipersiapkan untuk pembangunan mal itu.

Sebagai orang biasa, saya bingung juga dengan rencana pembangunan Mal Maluku itu. Kebingungan saya hanya berdasarkan pikiran sederhana dan praktis kebanyakan orang: Apakah rakyat Maluku memang memerlukannya? Atau, apakah memang pembangunan mal ini adalah prioritas pembangunan kesejahteraan manusia Maluku setelah pemerintah daerah agak kelimpungan dihajar data BPS yang mengklaim Maluku sebagai provinsi termiskin ketiga di Indonesia? Ada setumpuk masalah serius yang mesti dihadapi secara sistematis dan strategis oleh pemda Maluku – di samping sejumlah masalah turunan konflik yang belum tuntas – memasuki dekade kedua abad ke-21 ini. Kepastian hukum atas kelompok-kelompok pengungsi terhadap tanah-tanah yang mereka tinggalkan karena konflik beberapa tahun silam; pembalakan liar yang mencukur habis hutan-hutan di Maluku; marjinalisasi kaum pencari ikan tradisional oleh ketimpangan kebijakan pembangunan bidang kelautan; rusaknya tata ruang kota yang makin “haram” bagi kenyamanan publik, dan lain-lain untuk menyebut segelintir masalah yang mendera kota Ambon dan provinsi Maluku.

Sekarang, ternyata yang menjadi acuan pembangunan adalah orientasi penguatan citra “modern”. Setidaknya di hampir semua kota pembangunan mal adalah daya dorong pencitraan modernisasi. Dalam urusan pencitraan semacam ini, maka media sudah pasti memegang peranan penting untuk menyebarkan aroma modernisasi itu terlebih dulu. Meski belum terlihat wujudnya – apalagi fungsinya secara menyeluruh. Pola-pola pembiusan massal oleh media semacam itu sudah menjadi bagian dari strategi pemasaran kaum kapitalis. Lihat saja lembar-lembar digital printing ukuran raksasa yang menggaungkan gaya hidup urban masa kini. Semuanya sedang mendesakkan suatu ideologi “new life style” yang pragmatis, minimalis, dan stylish. Mulai dari real-estate bertarif ratusan juta hingga iPhone atau iPad Apple berlabel belasan juta. Semua sedang dijejali ke dalam nalar publik. Ini bukan soal kebutuhan lagi, tapi soal gaya hidup. Tanpa semua atribut itu, manusia tak bisa disebut modern. Kalau sudah begitu, ya artinya “we are nothing”.

Lahan bekas rumah sakit itu mestinya bisa dikembalikan bagi pembangunan kembali rumah sakit yang memang dibutuhkan bagi layanan kesehatan masyarakat di kota Ambon. Tapi begitulah. Jika dihitung, bisa dipastikan jumlah hotel-hotel baru lebih banyak daripada fasilitas rumah sakit. Jangankan bangun rumah sakit. Yang ada sekarang ini saja – kecuali rumah sakit daerah – sudah megap-megap nyaris kehabisan oksigen untuk terus hidup menangani masalah kesehatan masyarakat di kota Ambon. Ternyata rumah sakit tak penting dibandingkan mal atau bahkan jembatan merah-putih.

Manusia Pelahap
Pencitraan media massa merupakan salah satu penanda perubahan pola nalar masyarakat kontemporer, termasuk di Maluku. Hampir seluruh waktu hidup manusia “modern” sekarang ini dihabiskan untuk berinteraksi melalui media (cetak dan elektronik). Jika konon Karl Marx pernah mengatakan “agama adalah candu” maka kini bisa saja Marx akan mengatakan “media adalah candu”. Ketika agama menggiring para penganutnya untuk khusuk menimbang-nimbang keselamatan surgawi dan abai pada keduniaan, Marx menuding agama semacam itu hanyalah kemabukan yang menyesatkan. Namun kini kemabukan itu sedang kita nikmati karena tawaran-tawaran ideologi gaya hidup baru oleh media massa (terutama televisi).

Kemabukan massal itu penting bagi daya kapitalisme mendongkrak profit setinggi-tingginya. Media tidak lagi menawarkan “sesuatu” untuk memenuhi kebutuhan manusia. Media justru sedang “menciptakan” kebutuhan itu terus-menerus, dan merangsang hasrat manusia untuk tidak cepat puas dalam membelanjakan apa saja demi gaya hidup. Media sedang mencipta kita menjadi manusia-manusia pelahap. Atau seperti yang dikatakan oleh Peter K. Fallon dalam The Metaphysics of Media: “We consume, and are consumed” (2009:196). Ledakan informasi (termasuk iklan-iklan komersial), menurut Fallon, memang sangat terkait dengan media elektronik. Ini terutama dialami oleh kalangan remaja dan pemuda, yang selalu menjadi mangsa empuk eksploitasi media. Fallon menyebutkan kaum remaja Amerika menghabiskan 3.518 jam per tahun – atau mendekati 5 bulan – untuk melahap media: 65 hari nonton tv, 41 hari mendengarkan siaran radio, dan seminggu untuk berinternet. Rata-rata kaum muda Amerika menghabiskan 900 jam per tahun di sekolah.

Persoalan Amerika ya biarlah itu menjadi persoalan di sono. Tapi gaya hidup dalam electric culture ini sedang melesat dengan kecepatan cahaya menusuk dan merasuk nalar kaum muda di seluruh dunia. Dengan satu pesan teonologis (teologis-teknologis): “jadikanlah semua bangsa pelahap-pelahap gaya hidup baru”. Dan “injil” media itu kini tengah menawarkan pembebasan hidup dan spiritualitas baru ke dalam hidup kaum muda sejagat.

Apa hubungannya dengan mal Maluku? Mungkin belum ada hubungannya. Namun, yang pasti seluruh proses digitalisasi kehidupan manusia kini sedang sibuk memutuskan tali-tali kekerabatan, persaudaraan, persahabatan antarmanusia. Proyek besar yang sedang digulirkan kini adalah mencetak manusia-manusia individualistik yang dirangsang agar lebih asyik-masyuk dengan dirinya dalam kemabukan pesona media elektronik dan virtual. Dalam kemabukan atau cognitive dissonance yang terkrital sedikit demi sedikit, kita dilumpuhkan sehingga hanya mampu accept tanpa reject. Semua kita terima karena kita meyakini apa yang ditawarkan oleh media adalah benar. Maka batas antara realitas dan ilusi pun makin menipis. Realitas diilusikan. Ilusi dijadikan realitas. Menjadi sebuah nama baru yang ganjil: reality show. Kita pun makin terhenyak dalam kenikmatan agama baru ini dan tergopoh-gopoh memberi diri dalam pertobatan menjadi manusia baru: manusia pelahap. Pelahap informasi. Pelahap gaya hidup. Pelahap gengsi. Tapi kita makin kesepian karena semuanya melahap untuk diri sendiri.

Mal Maluku sedang dibangun. Untuk kepentingan siapa? Kita sudah tahu jawabnya. Tapi kita seolah tak mampu menepis mimpi bahwa Maluku akan menjadi modern dengan berdirinya mal megah-mewah-wah di atas lahan bekas rumah sakit. Siapa yang diuntungkan? Kita juga sudah tahu jawabnya. Tapi lagi-lagi kita tak mampu menangkis kekuatan yang makin meminggirkan rakyat kecil-miskin-jelata-melata, karena kita pun ingin menikmati kemabukan dan tak sabar menjadi manusia pelahap. Ya, kan supaya sama seperti orang Amerika…
Read more ...

Monday, January 3, 2011

Imanuel


"Imanuel: Allah Menyertai Kita". Itu tema yang dipilih oleh Gereja Protestan Maluku untuk seluruh aktivitas perayaan Natal 2010. Saya tidak bermaksud menguraikan semacam kajian tema tersebut di sini. Hanya ingin sedikit berbagi refleksi tentang "Imanuel" itu.

Saya percaya Anda - terutama yang sudah lama menjadi Kristen - sudah sangat akrab dengan istilah tersebut. Setiap tahun terutama saat menjelang Natal, kata itu berulang-ulang kita dengar. Entah dalam tema Natal, khotbah, kajian teologis, dll. Atau bahkan Imanuel adalah nama Anda atau nama anak Anda. Karena begitu akrabnya istilah itu, sehingga tanpa pikir panjang kita bisa menyebutkan artinya. Imanuel: Allah Menyertai Kita! Namun, entah mengapa tiba-tiba terbersit pertanyaan sederhana dalam benak saya: "Bagaimana kita tahu bahwa Allah menyertai kita?" Pertanyaan sederhana yang mungkin saja kedengaran agak konyol jika Anda adalah seorang Kristen alkitabiah yang sejati.

Ketika pertanyaan itu saya ajukan kepada beberapa teman, reaksi mereka pun bermacam-macam. Ada yang dengan reaktif mengatakan: "Jelas dong, kan hidup kita ini pemberian Tuhan. Jadi itu tanda Allah menyertai kita"; "Yah, berkat-berkat dalam hidup ini adalah wujud penyertaan Tuhan"; "Kedamaian di hati adalah tanda Imanuel itu". Dan beberapa jawaban lainnya. Tentu saja semua jawaban itu merefleksikan pengalaman dan penghayatan iman setiap orang. Tidak ada yang salah dengan jawaban-jawaban itu. Tetapi pertanyaannya tetap menggantung: "Bagaimana kita tahu bahwa Allah menyertai kita?"

Saya tahu Anda bersama-sama dengan saya dan sebaliknya, tentu dengan suatu kesadaran yang konkret. Kesadaran itu diperkuat oleh tanda-tanda kehadiran saya dan Anda dalam satu ruang (atau situasi) tertentu bersama-sama. Bersama-sama artinya saya bisa melihat sosok Anda dan Anda bisa melihat sosok saya. Saya bisa memegang tangan Anda dan Anda bisa memegang tangan saya. Sehingga "kita" saling menyadari bahwa ada seseorang lain selain diri kita. Kita menyadari bahwa ada orang lain yang menyertai kita dalam suatu ruang dan waktu tertentu.

Lantas, bagaimana kita tahu bahwa "Allah menyertai kita"? Kita tidak pernah melihat sosok Tuhan itu seperti apa, apalagi memegang-Nya. Bagaimana kita bisa mengatakan Tuhan menyertai kita? Kita bisa mengurai panjang-lebar dengan jawaban-jawaban filosofis dan teologis. Namun, kita juga membutuhkan suatu kepastian konkret dan realistis, apa maksud dan implikasi dari pernyataan "imanuel" tersebut.

Bagi saya, salah satu pernyataan Yesus dalam beberapa kisah Injil memperlihatkan dengan tegas makna "imanuel" itu. Suatu ketika Yesus mengatakan: "Ketika Aku lapar engkau tidak memberi-Ku makanan; ketika Aku telanjang engkau tidak memberi-Ku pakaian; ketika Aku di penjara engkau tidak mengunjungi Aku; ketika Aku merasa terasing engkau tidak memberi Aku tumpangan". Setelah mendengarkan pengajaran Yesus, murid-murid-Nya bertanya: Guru, kapankah Engkau mengalami semuanya itu? Yesus menanggapinya dengan berkata: Segala sesuatu yang engkau lakukan kepada saudaramu yang paling HINA, engkau TELAH melakukannya kepada-Ku.

Bukan apa yang kita lakukan kepada saudara kita yang punya tabungan bermilyar-milyar; atau kepada yang punya jabatan hebat; atau yang punya koneksi luas. Tetapi justru apa yang kita lakukan kepada saudara kita yang PALING HINA itulah yang menjadi penanda tindakan kita yang konkret sebagai wujud cinta kepada Tuhan. Ada semacam kekuatan solidaritas kemanusiaan di dalam pernyataan Yesus itu. Tidak ada label agama, parpol, kelompok etnis, atau penanda identitas lainnya. Yang menjadi atensi bukan label identitas "kita" dan "mereka" atau "saya" dan "kamu", tetapi situasi kehidupan yang konkret dari kemanusiaan kita. Dalam situasi yang HINA, banyak orang kehilangan citra kemanusiaannya. Oleh karena itu banyak orang tidak mau menjadi kelompok yang terhina dan juga tidak terima kalau dihina. Situasi keterhinaan bisa memicu pertikaian. Agama A tidak terima simbol-simbol agamanya dihina. Pejabat A tidak terima kalau dirinya sebagai pejabat dihina. Parpol A menggugat ke pengadilan kalau ada parpol lain yang menghina atribut-atribut partainya. Dan sebagainya. Bahkan bisa dikatakan hampir semua konflik yang terjadi disebabkan karena seseorang tidak terima dirinya dihina.

Ternyata justru ke situlah, ke dalam situasi keterhinaan itulah, kita mampu menemukan makna kehadiran dan penyertaan Tuhan. Bukan dalam gegap gempita atau pesta pora, tetapi dalam kehinaan. Kehadiran dan penyertaan Tuhan hanya bermakna dalam solidaritas kepada orang-orang yang hina (atau dianggap hina) dalam hidup kita sehari-hari. Siapakah orang-orang hina ini? Kita menjumpai mereka tiap hari dalam kehidupan kita. Pelacur. Kaum homoseks. Gelandangan. Narapidana. Pemulung. Preman. Tukang Parkir. Pengamen. Pedagang asongan. Anda bisa menambahkan daftar ini.

Sedikit demi sedikit saya menyadari bahwa ternyata tanda "imanuel" itu bukanlah label identitas yang pasif, kaku, jumud, dan kering; melainkan suatu pilihan tindak yang aktif, dinamis, progresif, dan kaya makna. Pilihan tindak semacam itu bukan didorong hanya oleh "iman yang normatif" alias takut dihukum Tuhan. Tetapi pilihan tindak yang sungguh-sungguh dimotivasi oleh solidaritas terhadap orang-orang yang [di]hina. Solidaritas itulah yang menandakan bahwa Tuhan menyertai kita. Wajah dan kehadiran Tuhan tampak dalam wajah dan kehadiran orang-orang yang terhina di sekitar kita. Bukan dalam wajah berbedak tebal. Bukan pula dalam sosok macho yang menebar aroma parfum mahal produk luar negeri. Bukan pula dalam bungkusan busana bermerek Eropa atau Amerika. Tetapi dalam wajah kusam dan busana kumal, yang kerap terabaikan dalam amatan kita karena bagi kita, mereka bukan apa-apa.

"Imanuel" itu ternyata bukan janji Tuhan, melainkan tindakan Tuhan yang menggedor pintu nurani kita agar jangan rajin "melipat tangan berdoa" dan "menengadah ke atas". "Imanuel" ternyata adalah tindakan Tuhan yang mengajar kita secara konkret untuk "membuka tangan" dan "melihat ke sekitar" kehidupan kita. Imanuel itu adalah solidaritas kepada yang terhina atau dihina. Imanuel tidak mewujud dalam berkat-berkat material tetapi pada kesadaran untuk membagi berkat-berkat dalam hidup kita kepada sebanyak mungkin saudara.

Perayaan Natal GPM bertema "Imanuel" sudah berlalu seiring berlalunya Desember 2010. Namun, "imanuel" dalam arti solidaritas bagi saudara-saudara yang terhina tetap menjadi pilihan sadar kita menjalani hidup di tahun 2011. Kita memilih untuk menjadi bagian dari kehidupan kaum terhina dan terbuang. Tergantung apakah kita masih bersedia menanggung segala risiko dari pilihan itu. Tetapi rasanya tidak ada pilihan lain untuk merasakan penyertaan Tuhan dalam hidup kita, selain melakukan sesuatu bagi saudara-saudara kita yang terhina dan dihina. Solidaritas mengembalikan citra kemanusiaan dari kehinaan kepada kemuliaan sebagai citra Allah (imago dei). Cuma itu tugas kita sebagai gereja. Tak lebih, tak kurang.

Imanuel 2011!
Read more ...

Saturday, January 1, 2011

Nasiobolaisme


Ada semacam kebangkitan nasioanalisme yang merayapi sanubari setiap anak bangsa ini. Nasionalisme yang sontak membuncah dalam wujud yang sulit dicerna akal sehat setelah sekian lama kata "nasionalisme" hanya menjadi kembang gula pemanis mulut tapi getir dalam aktualisasinya. Ibarat virus yang sedang menjangkiti tubuh keropos. Menggerogoti hampir setiap ekspresi anak negeri ini.

Kebangkitan "nasionalisme" itu bukan karena semburan kata-kata bombastis para politisi di arena kampanye pil-pil yang ngetren di negeri ini: pilkada, pilpres, pilgub, dll. Bukan pula aksi vandalisme sekelompok manusia picik yang seenaknya membatasi orang lain melakukan ini dan itu, melarang beribadah di sini dan di sana, atau bahkan sok mengakrabi sang tuhan sambil mendepak sesamanya yang - katanya - kafir atau sesat. Kebangkitan semacam nasionalisme kali ini rasanya agak aneh, karena dia digulirkan oleh "bola". Ya, bola yang diperebutkan oleh 22 orang di lapangan rumput. Negeri kita beberapa minggu terakhir tahun 2010 seolah sedang terbius kemabukan sepakbola yang diperagakan dengan apik oleh timnas Indonesia.

Stadion penuh sesak dipadati oleh penonton dan supporter, termasuk presiden RI. Berbagai atribut timnas yang berlogo "garuda" laris manis dalam berbagai bentuk. Nama-nama yang ramai dibincangkan media pun tak lagi "gayus", "susno", dll. Institusi yang digunjingkan publik juga tak lagi "MK", "KPK", dll. Kini nama-nama yang menghiasi headline koran-koran nasional adalah Irfan Bachdim, Gonzales, Firman Utina, Bustomi, dkk... Mereka tampil dan dielu-elukan bak pahlawan yang seolah-olah sedang membasahi ruang-ruang nurani publik yang [di]kering[kan] oleh berbagai persoalan yang tak terpahami rakyat jelata.

"Nyanyian" para anggota dewan perwakilan rakyat tak lagi menggoda rakyat. Mungkin karena para "penyanyi"-nya memang banyak bersuara parau, sumbang, dan tak mengikuti harmoni notasi demokrasi. Sehingga semua saling bersahut-sahutan tanpa peduli lagi bahwa mereka hanya menjadi tontonan rakyat yang lebih memilih mengurut dada atau tertawa miris melihat dagelan-dagelan mereka yang sama sekali tak lucu. Apalagi kalau dibandingkan dengan aksi kocak Sule. Jauuuhh....

Rakyat kita seolah dihipnotis oleh pesona dewa-dewa baru yang berlaga di lapangan rumput hijau: mengoper, menyundul, dan melesakkan bola ke gawang lawan. Rakyat bersatu! Tak lagi tersekat warna atau bendera parpol. Tak peduli percaya tuhan yang mana atau bahkan tak percaya tuhan sekalipun. Nasionalisme ini adalah nasionalisme universal yang meleburkan rakyat dalam keindonesiaan yang sulit didefinisikan. Dalam nasionalisme ini tak ada yang saling mengafirkan atau menuding yang lain sesat. Rakyat lebih asyik "nonton bareng" di mana saja dan ngobrol tentang timnas daripada nonton sidang pura-pura para pengaku wakil rakyat. Dalam nasionalisme ini, para pembesar pun tunduk pada euforia rakyat; bukan mereka yang meneriakkan basa-basi nasionalisme, tapi rakyatlah yang menarik mereka untuk patuh pada nasionalisme ala rakyat.

Bagi saya, terlepas dari segala macam ocehan komentator sepakbola, ada suatu fenomena menarik yang saya namakan "nasiobolaisme". Sebentuk nasionalisme yang tergugah dari carut-marutnya manajemen persepakbolaan nasional kita. Nasiobolaisme adalah ideologi nasionalis yang terbangun dan terbentuk dari keterpurukan yang mendesak ruang-ruang wacana publik dalam ajang olahraga, yang selama ini hanya dilihat para pembesar negeri ini sebagai "mainan" rakyat atau bahkan ajang tawuran antarsupporter kesebelasan. Tapi kali ini, sepakbola menjadi primadona para politisi negeri ini. Para pembesar pun turut bersorak dalam euforia populis. Mengacung-acungkan simbol-simbol rakyat yang sebelumnya gengsi untuk dilakukan, karena pasti dianggap kampungan atau ndeso... ya karena sepakbola kita dianggap ndeso alias olahraganya wong-cilik.

Rakyat kali ini muak bicara nasionalisme. Mereka sedang mabuk nasiobolaisme. Nasionalisme yang hanya tergugah oleh dewa-dewa lapangan hijau, bukan meja hijau atau kemeja hijau, atau bendera hijau. Bila energi nasiobolaisme ini ujung-ujungnya hanya ingin dipolitisasi, berhati-hatilah karena euforia rakyat ini akan menjungkirbalikkan adagium-adagium politik basi para pembesar republik ini. Adalah lebih arif untuk membuka ruang-ruang publik ini dengan memberikan perhatian serius untuk merekrut kader-kader muda pesepakbola kita dan menjadikannya sebagai bagian dari program pembangunan nasional, ketimbang hanya ribut menyoal kenaikan gaji anggota DPR dengan segala fasilitasnya atau memaksa studi banding tanpa mentalitas "tanding". Hanya suka membandingkan tapi ogah "bertanding" meningkatkan mutu demokrasi dan kepemimpinan yang mumpuni.

Mentalitas "tanding" inilah yang perlu dipertajam. Dan untuk itu kita perlu berbesar hati belajar dari timnas Malaysia, yang tentu saja layak menikmati buah kemenangan mereka jika kita mau melihat seluruh keseriusan dan jerih-lelah mereka selama bertahun-tahun. Tentu saja perlu digarisbawahi: tidak ada naturalisasi dalam timnas Malaysia. Artinya, kemenangan mesti disiapkan secara matang, bukan instan. Karena itu ini bukan soal menang-kalah tapi soal strategi menyeluruh. Untuk itupun spirit sepakbola Malaysia layak disebut nasiobolaisme pada tahapan yang lebih matang ketimbang kita.

Kita pun berbangga tanpa harus menyebut diri "juara tanpa mahkota". Karena toh kita belajar banyak dari setiap pertandingan yang digelar. Mari kita sambut sang garuda yang sedang menebar semangat nasiobolaisme!
Read more ...

Monday, December 27, 2010

Malang


Kembali ke Malang setelah lebih dari 10 tahun meninggalkan kota ini menjadi suatu pengalaman yang berkesan. Banyak perubahan terjadi di kota Malang. Nyaris tersesat jika tidak beberapa kali melewati jalan-jalan yang dulu kerap saya lewati. Bangunan-bangunan megah berdiri menyesaki jalur-jalur pertokoan. Wajah bangunan-bangunan tua yang dulu saya kenali sudah beralih menjadi gedung-gedung megah dan "modern". Ada pula lahan-lahan hijau yang dulu menjadi tempat nongkrong dan bermain anak-anak kini telah beralih fungsi karena diduduki oleh mal raksasa yang menggeser lahan hijau dan lapangan olahraga.

Makin ke daerah pinggiran (dulu), tak lagi terlihat hamparan sawah hijau dan kuning. Kini berjejalan kompleks-kompleks perumahan dan real estate. Yang tentu saja mesti diikuti oleh sejumlah pembangunan fasilitas pertokoan, perkantoran, sekolah, dan SPBU. Yang pinggiran kini tak lagi di pinggir. Di pusat kota tak lagi terasa dingin kota Malang yang dulu menjadi salah satu penanda kota apel ini.

Membawa anak saya berkeliling kota Malang memaksa saya untuk mengingat kembali lekuk-lekuk kota Malang dan masyarakatnya. Anak saya pun cermat mendengarkan "ceramah" saya tentang kota Malang. Dulu papa sering lewat jalan ini. Dulu papa sekolah di sini. Dulu papa bermain di sini. Dan seterusnya. Sambil menceritakan secuil kenangan tentang kota Malang yang masih melekat dalam benak saya, saya pun menelusuri sejarah hidup saya di kota ini.

Panjang untuk diceritakan. Tapi saya pasti menceritakannya kepada anak saya. Agar dia pun belajar mencintai kota ini. Meskipun dia lahir di Jakarta dan dibesarkan di Ambon. Malang...
Read more ...

Monday, November 29, 2010

"Anak Kunci Israel yang Hilang di Indonesia": Kritik Buku

Pengantar

Semula saya tidak begitu tertarik dengan buku ini. Tetapi beberapa teman menceritakan isinya dengan penuh semangat dan cukup mengusik saya untuk membeli dan membacanya. Tulisan ini merupakan tanggapan saya terhadap isi buku tersebut. Tidak ada pretensi untuk mencari pembenaran diri sendiri. Apa yang ingin saya lakukan melalui tulisan ini hanyalah upaya sederhana untuk memberikan alternatif perspektif yang saya rasa diperlukan untuk mengimbangi isi buku ini. Uraian penulis buku itu, menurut saya, sangat provokatif dan terkesan serampangan, sehingga bila tidak diikuti oleh beberapa ulasan dengan perspektif yang berbeda, bisa menimbulkan kesalahpahaman di kalangan orang-orang Kristen dan juga mengganggu relasi antarumat beragama (Kristen-Islam) di Indonesia, khususnya di Maluku.

Dalam tulisan ini saya juga tidak bermaksud menuding siapa salah siapa benar. Soal penilaian itu biarlah pembaca yang melakukannya. Saya mencoba untuk menempatkan seluruh argumentasi dalam kerangka keilmuan teologi sehingga dapat dipertanggungjawabkan dari segi ilmiah dan juga iman. Iman di sini bukanlah soal “percaya/tidak percaya”, melainkan soal mempertanggungjawabkan apa yang kita imani melalui penalaran yang sehat dan jernih. Bukan sekadar “memperkosa” Alkitab untuk mencari-cari pembenaran diri dan memengaruhi orang lain dengan paham-paham teologis yang dangkal dan destruktif.

Tentang Penulis

Profil singkat penulis tercantum pada halaman 95. Penulisnya bernama Harry Avner Sahertian (HAS). Latar pendidikannya tidak jelas. Hanya disebutkan “menyempatkan diri untuk sekolah theologia, tetapi karena panggilan lebih kuat untuk menggembalakan jemaat, maka penulis saat itu memprioritaskan untuk menggembalakan jemaat di kota Cilacap…”. Bisa disimpulkan bahwa pendidikan teologi yang dijalaninya tidak tuntas. Dengan demikian, dari segi perspektif keilmuan teologi, kompetensi HAS dalam mengelaborasi kajian-kajian teologis pun sangat diragukan.

Ada juga disebutkan mengenai pengalaman penelitiannya: “Dan saat terjadinya konflik di Maluku dan pasca konflik, penulis konsentrasi untuk meneliti hal-hal yang berhubungan dengan Maluku dan berhubungan dengan masyarakat Maluku serta yang berhubungan dengan tragedi Maluku”. Tidak dijelaskan penelitian seperti apa yang dilakukan dan apa saja hasil penelitiannya itu. Padahal, jika memang buku ini lahir dari sebuah proses penelitian (lapangan dan pustaka) maka tentu HAS wajib mencantumkannya sehingga seluruh ulasannya tertanggung jawab secara ilmiah. Nama HAS, tapi dengan nama tengah “Abner”, saya temukan melalui browsing internet <http://www.oocities.com/nunusaku/miol070504.htm>, yang menuliskan nama Harry Abner Sahertian sebagai salah seorang dari 11 orang yang diciduk polisi atas tuduhan makar (pengibaran bendera RMS).

Selanjutnya, saya tidak menemukan informasi lain mengenai HAS. Termasuk bagaimana sampai HAS bisa mendapatkan gelar “rabbi”. Sejauh yang saya tahu tidak sembarangan orang yang bisa memakai gelar “rabbi”, bahkan di kalangan para penganut Yudaisme modern sekalipun. Rabi atau Rabbi (Ibrani Klasik רִבִּ×™ ribbÄ«;; Ashkenazi modern dan Israel רַבִּ×™ rabbÄ«) dalam Yudaisme berarti “guru”, atau arti harafiahnya “yang agung”. Kata “Rabi” berasal dari akar kata bahasa Ibrani RaV, yang dalam bahasa Ibrani alkitabiah berarti “besar” atau “terkemuka (dalam pengetahuan)”. Dalam aliran-aliran Yudea kuno, kaum bijaksana disapa sebagai רִבִּ×™ (Ribbi atau Rebbi) — dalam abad-abad belakangan ini diubah ucapannya menjadi Rabi (“guruku”). Istilah sapaan penghormatan ini lambat laun digunakan sebagai gelar, dan akhiran pronomina “i” (“-ku”) kehilangan maknanya karena seringnya kata ini digunakan.

Tentang Tampilan Fisik dan Isi Buku

Dari segi fisik buku, penggarapan desain sampul depan (cover) dan belakang (back-cover), serta tata letak (lay-out) terkesan seadanya. Padahal penggarapan sampul depan mesti sesuai dengan judul buku sebagai langkah awal menampilkan pesan buku. Ditilik lebih dalam, banyak sekali terdapat kesalahan pengetikan yang cukup fatal jika ditinjau dari sudut kaidah bahasa Indonesia. Dalam dunia penerbitan, profesionalisme penerbitan suatu buku akan tergambar dengan jelas pada tampilan isi buku yang menarik (pilihan font, header-footer, penggalan kata, marjin, ilustrasi). Demikian pula dengan penempatan beberapa gambar yang sekilas tampaknya dipasang tanpa tujuan yang jelas dan apa tautannya dengan isi buku. Bahkan peta Pulau Ambon, Lease, dan Pulau Seram pun diberi keterangan “Kepulauan Maluku”. Bisa saja dikatakan asal tempel, tetapi saya rasa HAS ingin menyampaikan pesan-pesan tertentu melalui visualisasi tersebut, yang tentu saja mesti dilihat dari latar belakang hidupnya yang pernah ditahan polisi karena kasus pengibaran bendera RMS beberapa waktu silam.

Di seluruh isi buku tidak ditemukan rujukan-rujukan terhadap literatur-literatur penting berkaitan dengan topik-topik yang diulasnya.HAS rupanya merasa apa yang ditulisnya merupakan ilham dari Tuhan. Namun, beberapa kali HAS menyebutkan tentang “penelitian” dan “hasil penelitian” (23, 24, 32, 33, dll.) tanpa memperlihatkan materi penelitian yang dimaksud dan dirujuknya. Satunya-satunya kitab yang disebut dan dipakai sebagai bahan kutipan adalah Alkitab. Absennya rujukan literatur-literatur utama berkaitan dengan topik yang diulasnya tentu saja mengindikasikan bahwa memang HAS tidak membaca literatur-literatur penunjang dan pembanding. Ini tercermin dari tidak adanya “Daftar Pustaka” sebagai pertanggungjawaban dari seluruh ulasannya. Seolah-olah seluruh isi buku murni pikirannya sendiri. Ini merupakan salah satu titik lemah argumentasi logisnya, baik secara historis maupun metodologis.

Secara substantif, isi buku ini hanya berisi tentang uraian-uraian yang tidak logis dan absurd. Pikiran HAS melompat kemana-mana dan tidak runut. Stuktur kalimat-kalimatnya pun tak beraturan sehingga pesannya melantur. Saya melihat ada beberapa kelemahan isi buku ini secara metodologis:

1. Kelemahan argumentasi rasional: Setiap pernyataan tidak diikuti oleh pendasaran-pendasaran logika berpikir sehingga pembaca mampu mencerna pendapatnya dan melihat antarhubungan logis setiap argumentasi yang dikemukakannya. HAS dengan seenaknya melakukan lompatan-lompatan berpikir dan mengabaikan banyak sekali celah epistemologis yang menganga dalam ulasannya. Misalnya: perspektif sejarah sosial-budaya Maluku seperti apa yang digunakan untuk menjelaskan asal-usul para leluhur orang Maluku? Siapakah yang menulis sejarah itu? Sumber-sumber sejarah sosial-budaya mana yang dipakai sebagai dasar pengetahuan untuk mengelaborasi dinamika kesejarahan para leluhur orang Maluku, terutama dalam menjelaskan lahirnya pranata Pela?

2. Kelemahan argumentasi sosio-historis: Sejak dari awal penulis selalu mengaitkan ulasannya dengan konflik sosial Maluku. Namun tidak ada ulasan kritis mengenai konflik Maluku, sejarah kebudayaan orang Maluku, dan juga sejarah Israel-Alkitab. Semuanya dicampur aduk seolah-olah merupakan bahan yang memang menyatu dari sononya. Konflik sosial seolah-olah hanya dilihat sesuatu yang terjadi begitu saja dan tidak ditempatkan dalam suatu kerangka analisis kontekstual yang menelusuri akar-akar persoalannya secara historis maupun sosiologis-politis. Konstruksi identitas orang Maluku yang muncul dalam varian-varian budaya yang berbeda-beda disimplifikasi seolah-olah menjadi identitas tunggal (monolitik).

3. Kelemahan argumentasi tafsir teks Alkitab: Penulis mengembangkan konsep-konsep teologi yang sangat provokatif dan kental spirit kekerasan. Semuanya itu disebabkan karena cara membaca teks-teks Alkitab yang harafiah. Ia mengecam orang lain yang membaca Alkitab sepotong-sepotong tetapi ia sendiri terjebak dalam kesalahan yang sama (hlm. 68). Teks-teks Alkitab dicomot begitu saja terlepas dari konteksnya, dan dipakai untuk melegitimasi pandangannya yang liar.

Mencermati Ideologi Kristen-Zionis

Fenomena identifikasi diri dengan suku-suku Israel bukanlah sesuatu yang baru. Mikkel Stjernholm Kragh dalam beberapa tulisannya mengulas tentang kecenderungan tersebut pada beberapa etnis di Eropa, seperti di British, Swedia dan Prusia. Konsep “Christian Identity” yang tumbuh subur di kalangan kaum Anglo-Saxon kemudian ditransmisikan ke Benua Amerika seiring dengan migrasi dan terbentuknya koloni-koloni imigran Inggris di sana.

Paham kaum Kristen-Zionis ini utamanya merupakan suatu gerakan politik di kalangan Kristen fundamentalis yang memandang bahwa berdirinya negara Israel modern adalah pemenuhan janji Tuhan kepada Abraham dan kaum Yahudi. Kaum Kristen-Zionis berpendapat bahwa orang-orang Kristen harus mengakui bahwa Tuhanlah yang berkehendak bagi berdirinya negara Israel modern dan oleh karena itu harus didukung tanpa syarat secara ekonomi, moral, politik, dan teologis.

Fenomena identifikasi identitas etnis dan nasional kepada Israel sebenarnya merupakan suatu gejala sosial keagamaan yang wajar saja. Kendati mesti diakui bahwa gerakan ini telah menggeser hakikat negara Israel modern sebagai suatu gerakan politik dengan mendasarkan Israel modern pada gagasan-gagasan teologis-alkitabiah yang literer. Interpretasi harafiah terhadap teks-teks Alkitab melahirkan suatu perilaku-perilaku keagamaan yang diskriminatif dan bertendensi kekerasan karena teks-teks Alkitab dibaca sebagai “teks surgawi” yang tidak membumi dalam ranah sosial-budaya-politik dalam konteks ruang dan waktu masyarakat konkret.

Dalam konteks pluralitas sosial-budaya-agama di Maluku dan di Indonesia, proses identifikasi ini sangat riskan. Mengapa? Karena jika tidak mengalami proses pemaknaan dan hermeneutik secara dekonstruktif maka sebenarnya cepat atau lambat sedang terjadi proses transfigurasi konflik Timur-Tengah ke Maluku dan Indonesia. Kristen menemukan kiblat identitasnya pada Israel (modern) dan Islam menyandarkan diri pada identifikasi Arab (atau Palestina). Jika sudah demikian, bisa dikatakan kita hanya menunggu pecahnya bom waktu konflik Israel-Palestina di Maluku dan Indonesia. Di sinilah saya melihat critical-point untuk menyimak buku-buku semacam ini yang muatannya sangat provokatif dan merusak proses-proses percakapan antariman yang cerdas dan inklusif.


Read more ...

Monday, November 22, 2010

Menyeruak Absurditas "Anak Kunci Israel yang Hilang": Secuil Coretan

Suatu waktu seusai melayani ibadah Minggu di salah satu jemaat, seorang penatua menanyakan kepada saya apakah sudah membaca buku “Anak Kunci Israel yang Hilang”. Saya jawab “belum”, dan balik bertanya: apa isinya? Sang penatua pun menceritakan panjang lebar isi buku itu dan ketertarikannya. Apa yang membuat dia tertarik? Singkat kata, menurutnya, buku itu menjelaskan bahwa salah satu suku Israel yang terhilang adalah suku Gad. Suku ini menyembah dewa Molokh dan terkenal keras kepala. Panjang-lebar interpretasi dalam buku itu – maaf karena saya belum beli jadi nanti baca sendiri saja – pada intinya hendak menegaskan bahwa orang-orang Maluku (yang berasal dari kata “molokh”) itulah sebenarnya keturunan suku Gad, suku Israel yang terhilang.

Sekali lagi, saya belum beli dan baca buku itu. Yang jelas, saya tidak terlalu tertarik dengan isinya (jika memang cuma segitu isinya). Lagi pula, jauh sebelum buku ini terbit, tepatnya ketika masih dalam saat-saat konflik sosial memang sudah ada beberapa eksponen yang menyebarluaskan gagasan-gagasan absurd semacam ini. Kenapa absurd? Karena sama sekali tidak ada pendasaran historis dan epistemologis yang valid, yang mampu dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Jika memang informasi itu hendak diterima sebagai sebuah argumentasi ilmiah.

Saya mencoba menelusuri sejumlah literatur tentang arkeologi Israel-Alkitab, sejarah Israel-Alkitab, sosiologi Israel-Alkitab, politik Israel-Alkitab, hingga ke isu-isu sejarah, etnisitas, dan politik Israel-modern. Susah payah saya menggerayangi John Bright, Gerhard von Rad, Martin Noth, Norman Gottwald, Roberth Coote, sampai Thomas Friedman dan Naim Stifan Ateek. Toh, saya jadi frustrasi karena tidak menemukan landasan historis dan epistemologis untuk sekedar “mengangguk kepala” terhadap pernyataan korelasi suku Gad dan orang Maluku sebagaimana dikatakan dalam buku “anak kunci Israel yang hilang”.

Dari mana gagasan ini muncul? Rasanya saya perlu sedikit lagi waktu dan energi untuk menelusurinya. Tapi fokus saya tidak ke situ. Perhatian saya lebih tertuju pada proses pencitraan superioritas Israel-modern yang termanifestasi melalui media-media Barat sebagai suatu upaya menanamkan kekuasaan Barat di Timur Tengah melalui representasi negara Israel-modern. Dan proses tersebut dikukuhkan melalui ideologisasi identitas Israel-Alkitab yang ditransformasikan melalui proklamasi negara Israel-modern pada 1948, yang menjadi titik api pertikaian bangsa-bangsa di kawasan Timur Tengah. Ideologisasi tersebut mendapat dukungan luas di Barat karena dirasuki oleh “roh” teologi konservatif yang memunculkan interpretasi-interpretasi teks-teks Alkitab secara arbitrer. Maka yang terjadi adalah figurisasi Israel-Alkitab sebagai umat pilihan Allah menjadi suatu konstruksi identitas Barat yang superior melalui kehadiran Israel-modern secara kontroversial di kawasan Timur Tengah.

Ini cuma secuil catatan yang mencoba menyeruak kabut absurditas pemahaman teologis yang secara dangkal mempertautkan Israel-Alkitab dengan Israel-modern, apalagi Israel (suku Gad) dengan orang Maluku. Tapi kabut ini masih terlalu tebal. Mungkin anda bisa membantu menyeruaknya, supaya bisa melihat apakah kita ini memang orang Maluku yang bangga pada sejarahnya sendiri atau “orang-orang kalah” yang selalu merasa perlu menempel pada si Israel yang bengal itu.


Semogalah…
Read more ...

One Earth, Many Faces

One Earth, Many Faces