Aku menulis maka aku belajar

Thursday, August 23, 2012

Living with Differences in Indonesia: Promises and Challenges

Indonesia is a pluralistic archipelago nation-state in Southeast Asia.  Though it is well-known as the biggest Muslim population in the world but Indonesia is not an Islamic state as one can see around Middle Eastern countries. Islamic adherents are the majority who lives side by side with other religions such as Catholic, Protestantism, Hinduism, Buddhism, Confucianism, and many indigenous religions. There are hundreds amount of indigenous people in Indonesia who still preserves their traditional ways of life, and more than hundreds local languages and dialects. Nevertheless Indonesian people generally are binding by bahasa Indonesia as the only national language which is mastered by mostly of the people in every socio-cultural stratum and regions.

Living in Indonesia in essence is living within colorful socio-cultural background of various communities. Differences are the Indonesian social identity so that none Indonesian can evade it. Differences are our (as Indonesian) destiny and grace as well as our reality. Revealing differences as Indonesian destiny and reality has nothing to do with romanticizing pluralism in the country but rather attempting to internalize the differences after for many years it was condemned socially and politically. Since the Proclamation of Independence of Indonesia 17 August 1945, Sukarno and Hatta (both then were first president and vice president of Republic of Indonesia) as well as other founding fathers before them had endeavored to articulate Indonesian identity. Historically speaking, they all basically fully aware that the ‘imagined’ Indonesian society should be regarded as multicultural society. Far before the proclamation of independence 1945, the Youth Vow in 28 October 1928 was the great momentum when Indonesian youth groups from various ethnic backdrops (Sumatra, Java, Sulawesi, Ambon, etc.) gathered to declare their vow as ‘one’ identity of Indonesia (one nation, one language, one homeland).

Nevertheless, differences are not always comprehended as ‘blessing’ since for centuries the Archipelago (then, Indonesia) underwent colonialism by European countries. Particularly under the Dutch rule, the Nusantara people had been divided by the politic of separation to weakened the colonized. The Dutch implemented an ‘apartheid’ policy in which the colonized people divided socially by virtue of their ethnic and religious identities, also economic interests (for Chinese). Since then afterward the differences has been becoming stumbling block in socio-cultural and inter-religious relationship among the grass-root people. That is the reason when I asserted that the Indonesian Youth Vow 1928 was the great momentum to deconstruct ‘primordial colonized mentality’ and reconstructing new identity of ‘imagined’ Indonesia. The Youth Vow 1928 and the Proclamation of Independence 1945 can be seen as monumental events by which the differences as stumbling block were transformed into the powerful ability of freedom and equality.  

The regime change from Sukarno to Suharto brought about radical changes on the ruling perspective toward the reality of differences. Under his administrative, President Suharto imposed certain policy by which people were prohibited to speak publicly about SARA.[1] The government recognized the differences but unwilling wisely to manage it as the social capital of Indonesian society. Rather, the government restrained any discourse entails the SARA issue that suspected will trigger social conflict.[2] The differences are taboo. During 32 years of his regime, Suharto and the cronies succeeded to construct ‘inferior mentality’ that paralyzed people consciousness to perceive differences as an integral part of their common identity. Post-Suharto Indonesia then inherited the residue of such cognitive dissonance deal with the differences and wrestling to live in differences until today. The regime had been changing but still the ‘inferior mentality’ existed in social consciousness facing the differences.

The blatantly example can be taken from my hometown, Ambon. Soon after Suharto was toppled down from his presidency in 1998, social conflict erupted in Ambon and spread vastly into surrounding islands. The harmonious interreligious relationship that for centuries had been bonded Malukan indigenous people through local tradition pela and gandong suddenly changed into interreligious horrific enmity for almost four years. Thousands death, hundred thousand wounded and had permanent defects, hundreds of internally displaced people, children became orphans, parents lost their beloved children, not to mention about psychological traumatic for two next generations of Malukan people.

On the basis of such reality, I strongly convince that the differences in Indonesia cannot be treated merely as academic discourses but should be evolved in many practical ways of life. The notion and practice of the way we all understand and responding the differences in our daily life should be empowered as social character of people everywhere. At that point of view I think that the International Summer School on Religion and Public Life must be comprehended as the strategic design for widening social networking globally among those who have concern for strengthening our society deal with our differences reality. This event also encourage all of us whose differences to encounter one another as equal partners who are coming from different backgrounds. This is, therefore, my explanation about why we need talk as well as exercise our understanding about the role and importance of differences among us. I have a dream that differences are being our common purpose for the better world albeit simultaneously I realize that we cannot gain the promises without overcoming our challenges.

Yogyakarta, 7 March 2012




[1] SARA is abbreviation of Suku-Agama-Ras-Antargolongan (Ethnicity-Religion-Race-Intergroup).
[2] During his administrative, President Suharto implemented ‘security approach’ to restrict any protest movements to governmental policies and assuring the progress of national development.
Read more ...

Wednesday, August 15, 2012

Menghidupi Perbedaan: Catatan Kecil dari International Summer School on Religion and Public Life


Saya merasa beruntung dapat terlibat dalam program International Summer School tahun 2012 selama dua minggu di dua tempat terkenal di Indonesia: Yogyakarta dan Bali. Program ini diinisiasi oleh sekelompok sarjana ilmu sosial dan humaniora dari Universitas Boston, Amerika Serikat, dan diselenggarakan setiap tahun dengan tema dan tempat yang berbeda-beda. Indonesia (Yogyakarta dan Bali) terpilih sebagai tempat penyelenggaraan program ini tahun 2012 dengan tema Negotiating Space in Diversity: Religions and Authorities; dan Universitas Gadjah Mada (CRCS dan ICRS) bertindak sebagai host. Sebuah pengalaman yang sangat berharga karena saya berjumpa, berdiskusi, dan menjalani aktivitas bersama selama dua minggu dengan puluhan peserta yang terpilih dari berbagai negara, nasionalitas, dan profesi. Kami beraktivitas, berbagi ide, refleksi dan pengalaman, serta bermain, bersama-sama secara intensif.

Salah satu kekuatan program ini adalah setiap orang – entah fasilitator dan partisipan – terlibat dalam pengalaman bersama dan merefleksikan berbagai pengalaman tersebut secara utuh. Yang menjadi fokus utama bukanlah soal kemampuan mengelaborasi teori-teori besar dan abstrak (master narratives) melainkan mengasah bersama-sama karakter intelektual dan emosional menyikapi pengalaman perjumpaan dengan berbagai komunitas yang “tak lazim” dalam pengalaman di konteks hidupnya masing-masing. Pengalaman-pengalaman perjumpaan tersebut tidak hanya mengundang decak kagum tetapi juga mengusik kenyamanan intelektual dan kultural, mengundang kegelisahan, dan mencuatkan ketidaknyamanan karena dianggap telah melanggar apa yang selama ini dianggap sebagai “batas-batas” (borders) identitas primordial (etnisitas, seksualitas, religiositas, intelektualitas) yang telah atau makin mapan.

Di Yogyakarta, misalnya, kami berkunjung ke dan berdialog dengan komunitas pesantren Al-Qodir di kaki Gunung Merapi, Al-Muayyad di Solo, dan Pesantren Waria di Yogyakarta. Pesantren Al-Qodir menjadi titik perjumpaan agama-agama yang sangat penting saat Gunung Merapi meletus beberapa waktu lalu. Mengalirnya bantuan dari berbagai organisasi sosial maupun keagamaan bagi korban Merapi ternyata memicu kecurigaan di kalangan salah satu kelompok agama akan kemungkinan terjadinya upaya mengonversi korban dengan alasan pemberian bantuan. Kecurigaan ini ditepis sedikit demi sedikit oleh KH Masrur Ahmad dari Ponpes Al-Qodir yang membuka diri bekerja sama dengan berbagai organisasi keagamaan dan menyediakan pesantrennya sebagai tempat penampungan bantuan untuk kemudian bersama-sama menyalurkannya kepada korban Merapi. Kerja sama itu ternyata berlanjut hingga kini dalam berbagai bentuk program pemberdayaan di kawasan pedesaan lereng Merapi.

Lain lagi cerita dari Ponpes Al-Muayyad di Solo. Sejak serentetan peristiwa bom di beberapa tempat di Jawa dan Bali, nama Solo seolah identik dengan “sarang teroris”. Pemberitaan media massa yang meliput KH Baasyir dan Ponpes Ngruki Solo berhasil membentuk citra publik mengenai Solo yang “beringas” dan “anti-Barat”. Citra ponpes semacam itu pun terkikis karena kami melihat sisi lain aktivitas pesantren yang berjihad dengan konsep dan metode yang sama sekali berbeda. Ponpes Al-Muayyad tidak hanya menepis pencitraan pesantren yang buruk tetapi juga menjadi salah satu kekuatan pemberdayaan masyarakat di bidang pertanian, pengairan, pendidikan, dan perdamaian. Di bawah kepemimpinan KH Dian Nafi, ponpes ini menawarkan gagasan-gagasan kontekstual dan praktik-praktik pemberdayaan yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat yang menjadi sasaran pelayanan aktivitas mereka tersebut. Prinsip-prinsip Islami diterjemahkan secara praktis dalam bidang-bidang kehidupan rakyat yang konkret.

Rasanya tak berlebihan jika pengalaman perjumpaan yang paling mengguncangkan zona nyaman religiositas kami adalah ketika berdialog dengan para waria di Ponpes Waria Yogyakarta. Penyambutan yang “wah” (dengan shalawat dan tarian tradisional) lengkap dengan susunan acara yang rapi membuat kami merasa agak risih. Dialog dengan para sahabat waria dalam kelompok-kelompok pun membuka perspektif kami mengenai apa yang mereka rasakan menjalani hidup sebagai waria, alasan-alasan apa yang membuat mereka bertahan dalam pilihan hidup semacam itu, dan bagaimana mereka menegosiasikan identitas kewariaan mereka di tengah-tengah berbagai stereotip dan stigma berdasarkan rujukan-rujukan keagamaan. Tentu saja keberadaan ponpes waria di tengah perkampungan padat penduduk di Yogyakarta memercikkan kesadaran akan daya akseptabilitas masyarakat sipil terhadap pilihan-pilihan orientasi seksual yang plural, serta kelenturan dalam menghayati iman keagamaan dalam konteks pluralisme Yogyakarta.

Di Bali lain lagi ceritanya. Kami tinggal di Ubud dan mengunjungi beberapa puri (keluarga raja) dan pura (kuil), serta Gereja Katolik dan komunitas Muslim di Dusun Saren Jawa, Desa Budhakeling, Bali. Dialog yang terjadi menguak matra-matra menarik yang selama ini tenggelam dalam hiruk-pikuk turisme di Bali. Gesekan dan negosiasi identitas “politik” terjadi antara kelompok-kelompok puri sembari menyeret kaum pura (agama) ke dalam pusaran arus utamanya. Identitas ke-Bali-an menjadi pusat pertaruhan dalam berbagai negosiasi identitas yang majemuk. Konsep dan implementasi Ajeg Bali (kebangkitan Bali) pasca tragedi bom Bali kemudian menjadi poros identitas yang menyatukan “etnisitas” (Bali) dan “agama” (Hindu).

Untuk mempertahankan pengaruh dan hegemoninya, kaum puri mempromosikan perpaduan politik Bali-Hindu sebagai upaya memurnikan kebalian dan kembali pada akar tradisi religiositas Hindu yang dalamnya kekuasaan mereka tetap terjaga. Sementara itu, di lingkar luar kaum puri, berlangsung pemaknaan yang berbeda mengenai kebalian itu sendiri. Kalangan komunitas Bali-Katolik berpendapat bahwa identitas kebalian tidaklah menyatu secara perenial dengan “Hindu”. Identitas tersebut semata-mata merupakan ekspresi budaya yang menghidupkan spiritualitas keagamaan yang jamak. Oleh karena itu, identitas kebalian itu dapat termanifestasi melalui beraneka ragam spiritualitas sejauh batasan-batasan kebudayaan yang menandainya tetap tampak (bahasa, ritual, kekerabatan). Kalangan Bali-Katolik pun sibuk melahirkan ide-ide dan praktik-praktik kontekstualisasi sebagai upaya menemukan iman kristiani dalam konteks kebudayaan Bali dan sebagai orang Bali.

Dengan akar sejarah dan dinamika sosial-budaya yang berbeda, gerakan kontekstualisasi dan dialog spiritualitas juga ditemukan pada komunitas Muslim Dusun Saren Jawa, Desa Budhakeling. Islam berakar dalam ingatan sejarah dan dihidupi sebagai matra identitas yang memperkaya makna kebalian dalam komunitas ini. Dari generasi ke generasi selama ratusan tahun komunitas Muslim Saren Jawa hidup sebagai bagian integral masyarakat Hindu-Bali. Dialog antar-iman tampaknya bukan lagi materi yang perlu didiskusikan tetapi telah menjadi karakteristik kebudayaan bagi masyarakat Budhakeling. Negosiasi identitas keagamaan semacam ini seakan meruntuhkan mitos-mitos bahwa Hindu adalah Bali dan sebaliknya. Masyarakat Budhakeling membuktikan bahwa mitos-mitos semacam itu tidak sepenuhnya menggambarkan wajah Bali sebagaimana selama ini diterima oleh publik.

Sisi “harmonis” yang tampak dalam sebagian besar dialog kami ternyata justru mengundang rasa penasaran sebagian peserta dari kawasan Eropa dan Amerika Serikat. Pemberitaan media massa telah berhasil mengonstruksi “realitas” bahwa selama 20 tahun terakhir Indonesia telah menjadi sarang teroris dan arena kontestasi kekerasan massal (antar-agama dan antar-kelompok etnis). “Realitas” itulah yang berusaha digali melalui dialog-dialog kami, terutama dari teman-teman Eropa dan Amerika Serikat. Beberapa rekan seakan-akan sulit keluar dari perspektif baku berbagai analisis konflik sosial bahwa bisa ditemukan pada konteks yang paling riel suatu realitas yang berbeda dengan apa yang telah dikonstruksikan sejumlah pakar Barat tentang Indonesia kontemporer. Belum lagi kecurigaan bahwa dialog-dialog tersebut tidak sepenuhnya tulus dan masih menyembunyikan sisi-sisi gelap realitas keindonesiaan yang tidak ingin dipaparkan oleh pihak lain. Jika sisi “konflik” yang ditampilkan maka muncul kecemasan bahwa itu akan menjadi pemantik api “pertarungan identitas” yang lebih parah dan karenanya selama ini hanya tersembunyi di sudut gelap kesadaran sosial masyarakat Indonesia.

Hanya Degung Santikarma, seorang aktivis dan pengamat antropologi Bali, yang pada hari terakhir dengan lantang menjungkirbalikkan sisi harmonis itu dan menelanjangi sisi lain Bali yang sarat warna-warni intrik politik dan kekerasan sosial. Degung sepenuhnya mendasarkan analisisnya pada konstruksi kekerasan struktural oleh negara yang pada gilirannya melahirkan bentuk-bentuk kekerasan massal yang dianggap “normal”. Rujukan historisnya dengan sengaja dipilih pada titik peristiwa kekerasan massal kepada anggota atau yang dicurigai sebagai anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun-tahun 1965-1966 di Jawa dan Bali.

Sejarah itu, menurut Degung, telah menjadi catatan kelam dalam ingatan sosial masyarakat Bali. Banyak orang menyadarinya namun enggan menceritakannya. Mereka menyimpannya rapat-rapat di bilik-bilik bawah sadar mereka, bahkan jika mungkin melupakannya – kendati tidak pernah bisa. Degung pun berjuang memecahkan kebisuan mereka. Kebalian pun menjadi sesuatu yang kompleks karena berbagai kontestasi identitas terjadi di tengah arena-arena politik, ekonomi, turisme, agama, dan kebudayaan glokal.

Cerita ini belum berakhir. Program International Summer School 2012 ternyata mengajak kami semua – dari berbagai latar kebudayaan dan nasionalitas yang majemuk – untuk terus mengajukan pertanyaan dan ketidaknyamanan kami. Perasaan dan penasaran yang terus diusik serta memaksa setiap kami melangkah keluar dari batasan-batasan identitas masing-masing lantas berjumpa pada satu titik untuk saling menegosiasikan berbagai identitas tersebut. Kami mengakhiri program ini bukan dengan suatu kesimpulan melainkan dengan kerumitan baru bahwa menghidupi perbedaan adalah sebuah pergulatan kemanusiaan yang hakiki untuk membangun peradaban. Dua minggu adalah waktu yang singkat untuk sebuah perjumpaan tetapi kami merasa itu menjadi momen yang menentukan pilihan: meneruskan spirit menghidupi perbedaan dengan keberanian menegosiasikan ruang bagi diversitas ataukah menutup lembaran cerita ini untuk kembali ke zona nyaman identitas masing-masing?
Read more ...

Monday, June 11, 2012

MTQ dan Dialog Peradaban Indonesia

"Ingatlah, meski sebuah rumah memiliki lampunya sendiri, tetapi rumah ini baru akan kelihatan jika lampunya bersinar menerangi tetangganya" (Jalaludin Rumi)

Pada tahun 1984, Kota Ambon menjadi tuan rumah penyelenggaraan Sidang Raya ke-10 Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI), sebuah event gerejawi nasional yang diikuti oleh sinode-sinode gereja se-Indonesia. Untuk menyambutnya, pemerintah kota dan provinsi serta segenap lapisan masyarakat pun mulai berbenah. Pembangunan sejumlah infrastruktur publik kota diperbaiki dan ditambah, meski menghadapi guyuran hujan lebat yang sempat membuat kewalahan pemerintah kota dan provinsi saat itu. Seluruh masyarakat kota Ambon pun sibuk. Semua bergandengan tangan bekerja sama menyongsong acara gerejawi yang akbar itu. Banyak kesan bahwa pelaksanaan Sidang Raya DGI (kemudian menjadi PGI) ke-10 di Ambon menjadi salah satu barometer kesuksesan penyelenggaraan event tersebut yang ditandai oleh kesiapan panitia dan dukungan segenap lapisan masyarakat kota Ambon dan Provinsi Maluku. Tidak hanya itu, Sidang Raya DGI tersebut juga menjadi momentum teologis yang penting bagi gerakan ekumenis di Indonesia karena disepakatinya perubahan nama dan esensi “dewan” menjadi “persekutuan” – Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI).

Kini 28 tahun kemudian kota Ambon kembali bersibuk mempersiapkan diri menjadi tuan rumah Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional ke-24. Persiapannya tentu tak kalah matang serta didukung oleh seluruh lapisan masyarakat kota Ambon. Namun, tentu saja pelaksanaan MTQ Nasional ini merupakan momentum yang berbeda nuansanya dengan acara akbar DGI/PGI tahun 1984. Kegiatan ini terlaksana dalam kondisi kota Ambon dan Provinsi Maluku yang makin kondusif setelah didera bertubi-tubi prahara konflik sosial beberapa waktu lampau, serta sejumlah rongrongan insiden yang seolah-olah hendak menarik kembali psikologi sosial orang Ambon ke dalam khaos seperti yang pernah dialami sebelumnya.

Insiden terdekat adalah bentrokan massa yang terjadi pada kegiatan Obor Pattimura 15 Mei 2012 yang berbuntut korban luka-luka dalam jumlah yang cukup besar. Ketegangan sempat merambat naik disertai kecemasan yang muncul melalui sejumlah polemik: Benarkah ini terjadi karena ada gerakan dalam masyarakat Ambon yang memanfaatkan acara budaya itu untuk merekayasa agar MTQ batal dilaksanakan di Ambon? Secara spekulatif tentu saja mesti dijawab “tidak”. Terlepas dari diskursus publik mengenai keterlibatan “tangan-tangan kotor yang tidak kelihatan” (invisible dirty hands) saya lebih percaya bahwa kehidupan masyarakat sipil di Ambon saat ini lebih terorientasi pada pengembangan kehidupan bersama untuk mengobati luka-luka konflik sebelumnya. Kendati tidak terhindari pula bahwa masih tersisa luka-luka “basah” yang berpotensi menjadi borok sosial dalam kehidupan bersama orang Ambon/Maluku.

Kepercayaan saya pada ketahanan masyarakat sipil tentu beralasan. Salah satunya ialah bahwa masyarakat sipil bukanlah sekumpulan orang-orang pandir yang selalu mau dibodohi untuk melakukan sesuatu yang berujung pada lumpuhnya kapasitas sosial mereka sendiri. Saya berasumsi bahwa secara sosiologis masyarakat sipil condong membentuk semacam mekanisme pertahanan diri dalam proses-proses sosial yang dijalani pada ruang dan waktu tertentu. Pertahanan diri terhadap apa dan untuk apa? Terhadap segala potensi yang dianggap mengancam relasi-relasi sosial yang pada gilirannya membawa pada keambrukan tatanan sosial yang telah dibangunnya; untuk terus melanjutkan proses-proses sosial mencapai ideal tujuan bermasyarakat oleh setiap aktornya (individu maupun kolektif).

Tidak bisa dinafikan bahwa dalam proses-proses sosial tersebut – apalagi berlangsung dalam konstruksi sistemik bernegara – selalu saja terjadi konflik kepentingan untuk merebut atau mempertahankan sumber-sumber otoritas dan kekuasaan. Pada ranah itu kerap terjadi pertarungan kekuasaan aktor-aktor (individu dan kelompok) dalam sistem negara yang bisa jadi masing-masing melibatkan dan mengerahkan seluruh daya untuk menggerakkan kekuasaannya. Dalam wacana demokrasi, hubungan negara dan masyarakat sipil dapat ditandai oleh dominasi kekuasaan negara dengan melumpuhkan seluruh bangunan aspiratif dan partisipatif masyarakat sipil (misalnya: kebijakan massa mengambang atau floating mass pada masa Orba) – civil society vs military state. Sebaliknya, masih dalam wacana demokrasi, bisa juga kelompok-kelompok masyarakat mengangkangi etika sipil ketika negara membiarkan berbagai simpul kekuatan sipil berayun secara ambivalen sehingga mencitrakan military society hand-in-hand military state (misalnya: fenomena premanisme dan vandalisme – termasuk atas nama agama – yang kian merajalela pasca reformasi Indonesia 1998). Entah mau disebut negara lemah atau negara gagal, tetapi pada prinsipnya negara sebagai suatu entitas politik yang diberi wewenang oleh rakyat (res publica) untuk mengawal seluruh bangunan konstitusi bagi kehidupan bersama harus terus menjalankan perannya secara proporsional.

MTQ dan Ukhuwah Indonesia

Untuk beberapa waktu, psikologi dan sosiologi masyarakat Maluku tergiring ke arah military society. Konflik sosial selama beberapa tahun telah membentuk suatu kesadaran dan karakter militeristik yang menggumpal dalam memori kolektif orang Ambon akan heroisme dan tragedi secara simultan. Kisah-kisah heroisme diumbar seakan-akan hendak menutupi tragedi pahit; tragedi pahit tersimpan di bilik-bilik kesadaran menjadi jamur-jamur dendam yang tertancap lekat. Tidak mudah untuk mencerabut jamur-jamur dendam itu. Tetapi bukan pula tidak mungkin. Sedikit demi sedikit, dari percakapan antarpribadi menjadi perjumpaan antarkelompok, dari keengganan menyapa menjadi pelukan hangat persaudaraan yang sempat “dingin”, ada keinginan bukan untuk membiarkan jamur-jamur dendam itu tumbuh menjadi parasit kebencian seumur hidup melainkan untuk saling membuka bilik-bilik kesadaran itu dengan rasa jujur dan ketulusan. Dari sana terkuaklah dorongan untuk menampakkan kembali corak dan karakteristik masyarakat sipil.

Penguatan karakteristik masyarakat sipil pun tak lepas dari peranan negara. Negara mempunyai peran otoritatif yang strategis untuk membuka ruang-ruang wacana publik dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat sipil. Agama, secara sosiologis, merupakan salah satu simpul bagi pengembangan karakteristik masyarakat sipil dalam ruang-ruang publik terutama bagi negara seperti Indonesia. Pada hakikatnya sebagai “gerakan sosial” agama menggerakkan masyarakat untuk berdialog tidak hanya pada tataran komunal tetapi juga individual. Di dalam agama, motivasi individual dapat mewujud menjadi semangat komunal. Namun tak dapat dipungkiri bahwa agama memiliki kelenturan yang tinggi untuk mengadopsi kekuasaan dan mengadaptasinya menjadi “teologi kekuasaan” yang melegitimasi upaya apa saja agar tetap mendominasi yang lain.

Partisipasi seluruh lapisan masyarakat kota Ambon untuk menyambut MTQ dapat dibaca sebagai proses masyarakat sipil membangun ketahanan dirinya sendiri. Itu dilakukan dengan membuka ruang-ruang perjumpaan seluas mungkin dan menerima kehadiran “liyan” dengan aneka corak identitasnya (kafilah-kafilah dari berbagai ragam etnisitas dan lokalitas). Jauh dari sekadar kegiatan formal, bagi masyarakat Ambon/Maluku, MTQ kali ini menjadi semacam terapi sosial untuk memulihkan hakikatnya sebagai masyarakat sipil, bukan masyarakat militer.

Pada titik itu, proses-proses sosial ditujukan bagi mengalirnya dialog-dialog kemanusiaan yang termanifestasi dalam kerja bersama dan penerimaan bersama pada simpul identitas keberagamaan yang berbeda. Maka tak berlebihan jika MTQ Nasional 2012 di Ambon mesti dimaknai bukan lagi sekadar semangat membangun ukhuwah islamiyah melainkan sebentuk peradaban yang sedang dinegosiasikan bersama untuk memperkuat ukhuwah Indonesia. Sebagai yang demikian, maka persaudaraan yang terjalin antara para kafilah dan masyarakat Ambon ini merupakan sebuah momentum teologis yang menjadi wujud konkret lantunan ayat-ayat suci Al-Quran yang dilafaskan dengan hati, jiwa, dan batin yang jernih.
Read more ...

Wednesday, May 9, 2012

"Menebang" Irshad Manji di Hutan Keilmuan UGM


Hari ini (Rabu, 9 Mei 2012) saya lebih bergairah daripada hari-hari sebelumnya. Salah satunya adalah karena hari ini akan digelar diskusi terbuka bersama aktivis feminis Muslim asal Kanada yang kontroversial belakangan ini, Irshad Manji. Berita pembubaran diskusi buku Irshad Manji di Jakarta sudah cukup untuk memprovokasi diri saya sendiri mengikuti diskusi hari ini. Diskusi ini diselenggarakan oleh Center for Religious and Cultural Studies (CRCS), program master international yang bernaung di bawah Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Tapi apa mau dikata, entusiasme saya meredup dengan segera ketika dalam perjalanan menuju kampus berpapasan dengan serombongan demonstran (tidak jelas identitasnya) yang sedang menuju ke Sekolah Pascasarjana UGM. Kemudian saya menyadari bahwa rombongan demonstran tersebut mempunyai tujuan memprotes kehadiran Irshad Manji dan mendesak agar diskusi tersebut dibatalkan. Saya tidak mengikuti seluruh proses “negosiasi” antara pihak CRCS dan demonstran. Yang saya tahu kemudian acara diskusi dibatalkan (ada yang bilang hanya ditunda) dan Irshad Manji pun “diusir” dari gedung lengkung. Saya tidak punya kapasitas mencampuri kebijakan rektorat ataupun pihak Sekolah Pascasarjana UGM dalam kasus ini. Saya hanya ingin melihatnya dari sisi lain secara subjektif sebagai bagian dari dinamika keilmuan yang digelar oleh lembaga sekaliber UGM.

Saya ingin memulai bincang-bincang ini dengan impresi saya ketika pertama kali menginjakkan kaki di kota Yogyakarta sebagai mahasiswa ICRS – UGM. Hal pertama yang membuat saya terkesan adalah di kompleks kampus UGM terdapat beberapa lahan yang disebut “hutan UGM”. Ada hutan yang dikelola oleh fakultas kehutanan, ada juga yang lain oleh fakultas biologi. Mungkin ada lagi yang lain. Keberadaan hutan UGM itu bagi saya memberikan nuansa yang kontras dengan deretan pertokoan yang memadati wilayah sekitar kampus, lengkap dengan berjubel papan reklame yang menyilaukan mata. Tetapi hutan UGM memberikan semacam alternatif untuk melihat sisi lain dunia mahasiswa, bahwa selain sibuk (dan terkadang panik!) dengan urusan deadline tugas akhir dan fotocopy buku-buku, ada kesejukan yang hijau sebagaimana tampak pada suburnya pohon-pohon di hutan UGM yang tumbuh dengan bebas kendati terkepung oleh libido konsumerisme dalam tampilan beraneka ruko, restoran, dan sejenisnya.

Nuansa “hutan” semacam itu pun saya rasakan dalam dinamika belajar di ICRS/CRCS. Sejak awal saya menyadari betapa UGM telah menjadi lahan subur bagi tumbuhnya pohon-pohon keilmuan. Semua tumbuh bersama-sama. Bahkan mungkin akar-akar berbagai pohon keilmuan itu berkelindan, saling bertemu, saling mengikat, saling berbagi sumber kehidupan tanpa saling menghalangi pertumbuhan masing-masing. Semua bertumbuh dengan menampilkan keanekaragaman yang luar biasa sehingga setiap orang yang masuk ke UGM seperti sedang meniti jalan sempit di tengah hutan karena dikelilingi oleh belantara pohon-pohon keilmuan “raksasa” yang subur.

Berbagai diskusi digelar secara berkala. Sejumlah publikasi dari berbagai perspektif keilmuan pun bisa diperoleh atau dibagikan. Banyak pemikir silih berganti datang menaburkan benih-benih keilmuannya. Semuanya diterima menjadi bagian dari keanekaragaman hayati keilmuan UGM. Di sini istilah “kontroversial” mampu dijinakkan bukan dengan konfrontasi fisik atau teriak-teriak melainkan dengan membuka ruang dialog yang encer, santun dan cerdas. Segala bentuk kepakaran diuji habis-habisan seakan-akan label “pakar” bagi kaum gedung lengkung tidak banyak berpengaruh sebelum menjelajah hutan keilmuan di tempat ini. Perdebatan yang paling sensitif pun dibawa ke ranah publik akademis menjadi pupuk yang menyuburkan tanah-tanah keilmuan di sini. Setiap “pohon” diterima menjadi bagian dari hutan keilmuan UGM.

Sejujurnya, saya sungguh tercerahkan dalam habitat hutan keilmuan UGM semacam ini. Tentu saja, dalam keasyikan menikmatinya saya agak terhenyak ketika mendengar bahwa hanya karena desakan pihak-pihak tertentu (dari luar?) “pohon” Irshad Manji pun harus “ditebang” sebelum sempat menyemarakkan rimbun keilmuan di UGM. Soal isi bukunya, bisa diperdebatkan sejauh tersedia ruang untuk mendiskusikannya. Beberapa orang yang saya temui di lift berpendapat penolakan ini merupakan salah satu strategi pemasaran (marketing) yang bagus bagi penerbitnya. Ada yang mengatakan bahwa isi bukunya sebenarnya “dangkal” – apa sudah baca ya kok bisa menilainya seperti itu? Kalau “dangkal” kenapa bisa laris? Atau jangan-jangan pak dosen yang menilainya demikian karena frustrasi bukunya tidak selaris manis buku Irshad Manji. Tanya kenapa?

Apapun alasannya, saya merasa bahwa “penebangan” Irshad Manji dari hutan keilmuan UGM oleh pihak-pihak yang tidak jelas – apalagi mengancam main “otot” – dapat menjadi preseden [sangat] buruk bahwa dinamika diskursus keilmuan di kampus ini ternyata bisa dipatahkan oleh kaum “ufo” (unidentified foolish object) semacam itu. Mereka ternyata perkasa petantang-petenteng mengangkangi para profesor/doktor di kampus ini, kendati tak juga jelas apakah mereka sudah membaca buku Irshad Manji atau tidak sebelum berkoar-koar mengajari tentang “kebenaran” kepada kaum profesor/doktor dan para calon master atau doktor bahkan di habitat gedung lengkung ini.

Profesor Amin Abdullah, dalam kelas pada hari yang sama, mengatakan bahwa dalam kondisi semacam ini kita – kaum terpelajar dan waras – lebih baik mengalah. Kalau kita memaksakan kehendak kita, lanjut pak Amin, kita malah jadi ikut-ikutan tidak waras. Setuju! Meskipun saya masih lanjut bertanya pada diri sendiri: sampai kapan kita mengalah pada situasi di mana kita sedang menyaksikan “penebangan” pohon-pohon di hutan keilmuan UGM? Satu “pohon” Irshad Manji berhasil ditebang, bukan tidak mungkin ini menjadi celah longgar untuk melakukan penebangan “pohon-pohon” yang lain di kemudian hari hingga kita tersadar bahwa hutan keilmuan UGM sedikit demi sedikit digunduli. Lantas pandangan kita makin terhampar datar karena lahan keilmuan makin tandus dan gersang. Hanya tersisa semak-semak ilalang. Begitukah? Semoga tidak. Terus apa? 
Read more ...

Friday, March 23, 2012

Bapa Radja: In Memoriam

Tahun 1990 saat saya pertama menjejakkan langkah di halaman kampus UKIM Talake serta-merta saya mengenal nama Arnold Nicholas Radjawane, rektor UKIM saat itu. Sosok itu ternyata punya sombar tersendiri bagi masyarakat Maluku. Betapa tidak, Nick Radjawane atau yang biasa disapa bapa Radja ini juga adalah mantan ketua sinode GPM, cendekiawan Kristen pertama yang menggondol gelar “Sarjana Theologia” dari STT Jakarta, magister teologi dari Amerika Serikat dan doktor teologi (biblical studies) pertama jebolan Jerman. Sosok bapa Radja punya kharisma tersendiri di hati masyarakat Maluku dari berbagai latar belakang hidup. Malah ketika tahu saya masuk pendidikan teologi, oma saya menasihati saya begini: “Kalau jadi pendeta musti jadi pendeta yang pintar seperti Pendeta Nick Radjawane.” Waktu mendengar itu saya hanya mengiyakan saja. Baru kemudian saya mengerti arti nasihat oma saya itu setelah menjadi murid bapa Radja.

Episode pertama
Tahap-tahap awal kuliah di fakultas teologi adalah masa-masa sulit bagi saya. Baru mendengar nama-nama matakuliahnya saja sudah merinding: bahasa Yunani, bahasa Ibrani, bahasa Inggris Teologi, pengantar PB, pengantar PL, hermeneutika, dll. Berbahasa Indonesia saja masih belum “baik dan benar”, sekarang sudah berhadapan dengan bahasa-bahasa yang aneh itu. Tapi tidak ada pilihan. Seluruh kompetensi itu pun teruji pada semester-semester pertengahan saat mengikuti kuliah hermeneutika dari Dr. A.N. Radjawane. Bapa Radja adalah ensiklopedia berjalan. Pengetahuannya sangat luas, termasuk di luar disiplin ilmu teologi. Hardikan yang selalu terdengar kalau kami tidak menjawab pertanyaannya atau pasif di kelas adalah “Bodok, bodok, bodok… baca, baca, baca… Jadi pendeta jangan malas baca nanti dapa dibodohi oleh jemaat lalu sama-sama bodok”. Kami kadang tersenyum saja sebab hardikan itu disampaikan beliau dengan nada hardikan orang tua bukan umpatan yang menyakitkan hati.

Tidak cuma itu. Hampir setiap pertemuan kelas selalu saja ada buku baru yang disuguhkan kepada kami untuk dibaca. Parahnya, semua dalam bahasa Inggris. Tak hanya menyarankan membaca buku – ini yang sangat mengagumkan – di tengah kesibukannya beliau ternyata selalu mengecek di perpustakaan apakah nama-nama kami tercatat di buku hadir perpustakaan dan buku-buku apa saja yang kami pinjam. Luar biasa. Saya pernah ditugaskan oleh bapa Radja membersihkan perpustakaan pribadi beliau. Sungguh saya kagum. Koleksi buku di perpustakaan pribadinya sangat luar biasa. Alih-alih mengaturnya, saya malah asyik membolak-balik dan membaca sepintas beberapa judul. Tugas yang harusnya selesai 2 hari pun molor jadi seminggu. Tapi proses itulah yang membuat saya belajar: seorang cendekiawan hidup di antara buku-bukunya. Namun toh kami kadang-kadang kesal karena sudah dimarahi untuk pinjam atau baca buku di perpustakaan tapi buku yang dicari tidak ada karena sedang dibaca beliau.

Episode kedua
Kuliah hermeneutika oleh bapa Radja adalah kuliah yang paling mengasyikkan. Radjawane seolah-olah menjadi pemandu wisata yang dengan jelas-gamblang mengulas eksistensi Israel-alkitab dari semua aspek. Kalau Radjawane bicara tentang Israel-alkitab kami seperti sedang berwisata karena beliau menunjukkan setiap dimensinya dengan sangat detail. Kefasihannya dalam berbahasa Ibrani membuat studi Perjanjian Lama menjadi sangat mengasyikkan, terutama saat beliau melantunkan Mazmur dalam langgam Ibrani – saat itulah kami menyadari keindahan Mazmur sebagai sebuah nyanyian iman.

Konsekuensi dari panduan wisata itu adalah kami harus menguasai peta Israel-alkitab. Ujian Akhir Semester matakuliah hermeneutika adalah membaca peta buta Israel-alkitab. Susah. Menghafal peta Ambon saja belum mampu apalagi peta Israel-alkitab. Tapi itulah yang terjadi. Jauh kemudian hari saya pun mengerti manfaatnya. Ketika membaca teks PL saya dengan sendirinya sudah langsung membayangkan peta geografis sebagai konteksnya. Radjawane pula yang mengenalkan nama-nama “raksasa” studi biblika PL dan teologi: Gerhard von Rad, Martin Noth, Julius Welhaussen, Rudolf Bultmann, Jurgen Moltmann, Karl Barth, Paul Tillich, dll. Terserah apa penilaian orang, tapi saya selalu mengikuti jadwal khotbah ibadah Minggu oleh bapa Radja. Ada semacam perpaduan kecerdasan dan retorika yang mengagumkan.

Episode ketiga
Radjawane telah membuat saya jatuh cinta pada PL. Saya pun merancang proposal skripsi tentang kajian PL terutama Deuteronomi (bidang keahlian Radjawane). Saya berharap bisa mendalami Deuteronomi di bawah bimbingan Radjawane. Sayang sekali, saat proposal skripsi saya dibahas, Radjawane sedang menjadi dosen tamu di Fiji; ibu Eta Hendriks-Ririmase dan bapa Apet Damamain sedang studi doktor. Praktis tidak ada dosen pembimbing PL saat itu. Rapat dosen mengusulkan agar saya mengganti topik tapi saya tolak. Akhirnya diputuskan saya tetap dengan tema PL tapi bukan biblika murni melainkan etika PL di bawah bimbingan Pdt. Ely Kaihena, M.Th.

Untuk waktu yang lama kami tidak lagi bertemu bapa Radja yang memilih terlibat dalam aktivitas politik kepartaian dan terpilih sebagai anggota DPR-RI. Bahkan ketika saya berada di Jakarta pun jarang sekali bersua. Tapi sungguh mengejutkan ketika suatu kali beliau meminta saya dan Nancy untuk makan malam di rumah dinas Kalibata karena beberapa hari ke depan bapa Radja dan ibu Sien harus keluar. Mereka berencana pulang ke Ambon. Saat itu bapa Radja sudah sakit. Kami menghabiskan waktu 2 jam berbincang-bincang tentang banyak hal sebelum makan malam. Pada saat makan malam, saya meminta izin mengatakan sesuatu dan beliau bersedia mendengarkan. Saya hanya bilang: “Beta ni bapa pung murid. Sampai kapanpun tetap bapa pung murid. Hari ini beta ingin bilang sesuatu sebagai murid kepada gurunya. Kapan Arnold Nicholas Radjawane menuangkan ide-ide briliannya dalam bentuk buku? Dan kapan katong bisa mengatasi kemacetan kaderisasi pasca-Radjawane?” Radjawane terdiam.

Suatu ketika di Ambon, Radjawane memanggil saya dan Elifas Maspaitella. Beliau menyerahkan seluruh naskah lama dan meminta kami berdua mengetik ulang lalu mengedit untuk diterbitkan. Tapi sayang, “proyek” itu tidak jalan karena kondisi kesehatan bapa Radja menurun, padahal kami membutuhkan pendampingan beliau untuk revisi beberapa gagasan dalam artikel-artikel yang pernah ditulisnya.

Saya tidak tahu harus merefleksikan apa dengan seluruh perjumpaan saya dan bapa Radja. Saya sengaja menuliskannya dalam komposisi episode-episode untuk terus mengingatkan saya siapa Radjawane dan efek Radjawane terhadap kehidupan saya. Bagi saya ini lebih dari sekadar catatan saya tentang Arnold Nicholas Radjawane, tapi dialog kehidupan saya dengan beliau. Hardikan “bodok, bodok, bodok… baca, baca, baca…” terasa bak lecutan cemeti yang pedis tapi membuat saya selalu siuman untuk berpikir dan tidak berhenti belajar. Akhirnya, saya pun mengerti nasihat oma saya: “Kalau jadi pendeta musti pintar seperti pendeta Nick Radjawane”.

Selamat menempuh kehidupan yang baru bapa Radja!

Yogyakarta, 23 Maret 2012
Read more ...

Monday, March 19, 2012

Menebar Benih di Tengah Badai: Secuil Refleksi KBFP III


Nyaris tak tersisa sedikit ruang bagi kita untuk merefleksikan peristiwa demi peristiwa yang kita alami sebagai bagian dari realitas republik ini. Setiap jam benak kita dicecar berbagai pemberitaan media (elektronik dan cetak) mengenai carut-marut persoalan yang kita hadapi. Jika dicermati sebagian besar ternyata adalah berita-berita negatif yang menyodok kesadaran kita hingga terjerembab di sudut frustrasi: apakah Indonesia seperti ini yang akan terwariskan ke anak-cucu kita? Atau mungkin lebih parah lagi?

Tak berlebihan jika menganalogikan kondisi negara kita dengan realitas sepakbola nasional. Kita kedodoran di semua lini pertahanan. Seluruh pemain di lapangan berlaga tanpa strategi yang terkoneksi satu dengan yang lain sehingga yang tampil adalah si A, si B, dan si C dan seterusnya, tapi bukan strategi tim dengan visi/misi yang jelas dan tentu saja “gawang” yang kelihatan di depan sana. “Bola” keindonesiaan hanya ditendang ke sana-sini menurut keinginan pemain secara individual tanpa spirit tim untuk menggolkannya. Permainan hanya menjadi dagelan saling oper “bola” dan menggiringnya untuk dikeploki penonton. Tak heran dengan jumlah pemain yang imbang pun kita terus kebobolan sampai 10-0. Itu hanya analogi sederhana yang hendak memperlihatkan bahwa persoalan kita bukan soal individu (apalagi banyak pemain yang dinaturalisasi) melainkan soal mekanisme kepemimpinan dan spirit tim.

Mengurus negara jelas berbeda dengan mengurus sepakbola. Tapi yang hendak dipertanyakan secara kritis bukan soal besar-kecil suatu institusi atau organisasi. Organisasi hanyalah wadah mati yang tidak berfungsi tanpa digerakkan oleh spirit organisme. Organisasi, tak peduli ukurannya, bisa bergerak dan berfungsi seturut orientasi visi/misi yang hendak dicapai jika didukung oleh organ-organ yang bergerak dan hidup (organisme). Dengan kata lain, mesti ada keseimbangan dialektis antara “organisasi” dan “organisme”. Organisasi yang kian kuat tapi mengabaikan organisme hanya akan menimbulkan mekanisasi kehidupan dan mendorong proses dehumanisasi. Sebaliknya, hanya ribut soal organisme akan menyeret kita pada perdebatan tak berujung mengenai “siapa” yang layak menjadi pemimpin lalu mengerucut pada kultus individu seolah-olah sosok itu mampu menyelesaikan seluruh masalah sendirian.

Dialektika itulah yang terjadi dalam perbincangan mengenai kepemimpinan nasional yang digelar oleh Akademi Demokrasi, Kepemimpinan, dan Kebangsaan (KaDer Bangsa) melalui Kader Bangsa Fellowship Program (KBFP) Angkatan III di Yogyakarta selama 4 hari penuh (13-16 Maret 2012). Melalui program ini para peserta tidak hanya ditantang untuk membedah berbagai situasi problematik dengan sejumlah pisau analisis yang ditawarkan oleh para fasilitator. Lebih jauh, para peserta yang berasal dari beraneka ragam latar belakang profesi dan aktivitas diajak untuk memikirkan dan mencari solusi masalah-masalah yang sedang mendera bangsa ini bersama-sama secara komprehensif. Perbedaan diapresiasi sebagai kekayaan dan modal sosial, bukan ancaman, sehingga diskusi dan persilangan berbagai ide pun terjadi secara kreatif.

Sudah pasti tidak ada solusi instan kendati KBFP sudah menjejak pada angkatan III. Namun, ada optimisme bahwa kita tidak akan berdiam diri menyikapi situasi problematik kebangsaan Indonesia yang tampaknya sedang kehilangan visionary leadership. Diakui oleh beberapa orang bahwa KBFP Angkatan III lebih dinamis dibandingkan dua angkatan sebelumnya jika ditinjau dari ke-bhineka-an pesertanya. Saya sendiri melihat ini sebagai potensi besar untuk mencari celah-celah solusi yang bisa dilakukan pada lingkup terkecil ruang gerak aktivitas peserta angkatan III yang sebagian besar terlibat dalam pemberdayaan masyarakat kecil.

Potensi itu terbentuk dan makin menguat karena isu-isu nasional tidak hanya didiskusikan pada tataran abstrak (teoretis) tetapi disikapi secara kritis melalui refleksi-refleksi pragmatis mereka yang bergelut dengan dinamika sosial masyarakat kecil. Melalui prose situ, menurut saya, KBFP Angkatan III hendak mencari terobosan keluar dari jalan buntu diskursus kebangsaan dengan menitikberatkan pada dialektika aksi dan refleksi. Makin terbentuk kesadaran bahwa persoalan-persoalan bangsa ini bukan hanya soal krisis ekonomi, krisis penegakan hukum, krisis solidaritas kebangsaan, melainkan juga krisis “ideologi bersama” (common ideology) yang pernah menyatukan kita dalam satu spirit keindonesiaan. Pada titik inilah maka keindonesiaan itu menyeruak sebagai sebuah persoalan “visi” yang secara hakiki mengarahkan gerak organisme kebangsaan kita sekaligus memperkuat bentuk konsensus kenegaraan kita ke masa depan.

Tidak semua hal bisa dibincangkan hanya dalam 4 hari oleh sekitar 50-an peserta. Malah sampai pada akhirnya tidak ada solusi yang bisa disepakati. Namun satu hal yang pasti adalah KBFP mulai dari Angkatan I-III menjadi suatu wadah perjumpaan kreatif dan penuh persahabatan untuk menelisik lebih dalam liku-liku persoalan yang menyelimuti postur keindonesiaan kita saat ini. Karakter strong leader tetap diperlukan tetapi jauh lebih esensial adalah konstruk visionary leadership yang mesti ditancapkan pada setiap kiprah kita. Sampai di situ maka kita semua – tak peduli siapa dan apa latar belakangnya – memiliki kesempatan untuk menciptakan mekanisme kepemimpinan yang visioner melalui kerja kita mulai dari level akar-rumput dan tidak lagi terperangkap pada strategi pencitraan individu yang hanya menebar pesona tapi abai pada penguatan kapasitas mekanisme kepemimpinan secara menyeluruh dan berkelanjutan.

Mau dibawa kemana hubungan kita? Itu pertanyaan yang akan terus menyertai komitmen kita. Semoga kita tidak mengalami amnesia meskipun kita juga sadar ini ibarat menebar benih di tengah badai.
Read more ...

Monday, March 5, 2012

Untuk Kainalu, "ombak kecil"-ku

berlarilah anakku
rasakanlah ombak
biarkan asin air laut basahi kakimu

kau lihat laut terbentang
di depanmu menantang
mengajakmu bertandang ke masa depan

berlarilah anakku
susuri luas pantai hidup ini
hayati tiap butir pasir
yang lengket di sela-sela jemarimu

nikmati buaian angin laut
yang membalut tubuhmu dengan asinnya
keluar dari rahim laut

ama-ina selalu bersamamu
temani kau berlari penuh gairah
mengejar bentang laut dan luas pantai

hingga kau berkata:
"biarkan aku berlari dengan kakiku
mengejar arti laut dan pantai ini...
biarkan aku susuri tiap butir pasir
menggapai sejengkal cakrawala..."

*suatu senja di parangtritis - untuk anakku, Kainalu*
Read more ...

Tuesday, February 21, 2012

Gugur Sebelum Berperang: Asumsi tentang Beberapa Kasus Bunuh Diri Mahasiswa

Tadi pagi (21 Februari 2012) seorang mahasiswa mengirim SMS yang intinya memberitahukan bahwa ada seorang mahasiswa semester awal fakultas teologi UKIM yang meninggal bunuh diri. Saya membalas dengan menanyakan apakah alasan perbuatannya itu, jawaban masuk dengan singkat: "perempuan". Tentu saja itu hanya satu versi yang saya terima di antara sekian banyak versi yang saya yakin beredar secara variatif, entah di kalangan sivitas akademika, keluarga, dan publik luas. Oleh karena itu saya tidak bisa menerima alasan itu begitu saja. Tetapi untuk sementara (sampai sejak tulisan ini disusun) saya tidak punya informasi lain mengenai alasan bunuh dirinya, selain "perempuan".
Saya tidak ingin terlalu berbelit-belit dengan alasannya. Karena toh cuma dia yang tahu, dan apa yang dia tahu itu sudah dibawanya ke akhirat. Tak seorang pun yang tahu apa yang dia tahu sesungguhnya. Yang kita tahu paling-paling jasadnya saja yang - lagi-lagi menurut informasi sementara - tergantung kaku. Namun, peristiwa ini setidaknya menurut saya membawa kita pada perenungan yang terpecah menjadi tiga aliran "asumsi" yang bermuara pada tindakan bunuh diri itu.
1. Asumsi Keterasingan Budaya
Keterasingan budaya di sini adalah sebuah situasi kehidupan di mana seseorang lahir, bertumbuh dan menjadi dewasa tanpa memiliki keberakaran mendalam pada tanah budayanya. Ia hidup dalam suatu masyarakat yang transisional yang bergerak secara liminal (in-between), sehingga gamang merengkuh tradisi sekaligus ragu menenggelamkan diri dalam arus modernitas (secara ideologis dan fisik). Dalam masyarakat yang makin melek media, televisi berperan sangat penting dalam mengonstruksi ideologi-ideologi modernitas secara visual. Visualisasi ide-ide modern melalui televisi menggempur struktur kesadaran masyarakat liminal ini, dan secara subtil mentransformasikannya menjadi "kesadaran-kesadaran semu" (false consciousness - Karl Marx).
Sementara pada sisi lain, akar-akar budaya tradisionalnya kian rapuh dan tidak mampu menahan gempuran ideologi modernitas secara visual itu. Identifikasi terhadap modernitas berlangsung hanya pada tataran permukaan (fashion, HP, ungkapan-ungkapan gaul) tapi tidak berlangsung pada konstruksi kesadaran fundamental, yang seharusnya dilakukan melalui media pendidikan formal/informal yang juga kalang-kabut mencari bentuknya yang pas. Maka terbentuklah ia dalam sebuah pencarian identitas yang carut-marut.
2. Asumsi Pelumpuhan Kecerdasan
Kecerdasan yang saya maksud tidak secara langsung terkait dengan soal kognitif, tetapi lebih kepada afektif (mental). Jadi ini bukan soal orang bodoh atau orang pintar; bukan pula soal orang sekolahan atau "patah pena" (drop-out); juga bukan soal orang bergelar atau tidak bergelar. Pelumpuhan kecerdasan yang saya maksud di sini lebih berkaitan dengan sistem pengelolaan dinamika pembelajaran pada seluruh jenjang pendidikan - mulai dari SD hingga universitas.
Ada apa dengan sistem itu? Sejauh yang saya tahu dan alami, sistem pendidikan kita (terutama pada universitas) ternyata tidak mengalami transformasi fondasional yang berarti. Jargon "research university" masih jauh panggang dari api. Sistem pembelajaran pada jenjang universitas ternyata tak beda jauh dengan apa yang dijalani seseorang sejak ia masih SD, SMP, SMA. Mahasiswa hanya menjadi "objek bodoh" yang tidak berkepribadian. Lalu melalui proses OSPEKMARU hendak diputihbersihkan (tabula rasa) agar siap "ditulis" dengan tinta "emas" para dosen. Dosen menjadi "pengajar", tapi bukan "pendidik". Dosen hanya mengajar, tapi tidak mengajak mahasiswa menalar. Konstruksi pembelajaran hanya berkutat "mencari jawab atas masalah" tapi tidak pernah menantang mahasiswa untuk "mempermasalahkan sebuah jawaban". Makin lestarilah pola "patron-client" di universitas karena mahasiswa "segan" mengritik dosen dan sebaliknya dosen pun ingin menjadi "superman/superwoman" yang tidak [merasa] bersalah dalam berpikir. "Isi" menjadi orientasi, sementara metodologi berpikir dan memecahkan masalah hanya periferi tambal-sulam.
3. Asumsi Gagap Budaya
Yang saya maksud dengan gagap budaya adalah ketidakberdayaan sosial (terutama kaum muda) untuk berjarak dengan dinamika perkembangan sosial. Kenapa? Ya, itu tadi - karena keterasingan budaya dan pelumpuhan kecerdasan. Ketika suatu kelompok tidak mampu berjarak dengan dinamika sosial maka mereka tenggelam dan hanyut dalam "trend" yang secara langsung atau tidak langsung didesiminasi secara intensif dan massif oleh media.
Ini bisa dilihat dari kelatahan dalam mereproduksi suatu terminologi secara terus-menerus. Contoh: hampir di semua status FB (terutama mahasiswa fakultas teologi) secara berulang-ulang menuliskan "GALAU". Kata itu adalah vokabulari baru yang secara intensif menyusup dalam kesadaran kaum muda yang dipromosikan oleh agen-agen budaya pop, yaitu spesies manusia bernama "selebritas". Identifikasi lokal makin kedodoran dan terkubur seiring dengan menguatnya identifikasi diri kepada spesies-spesies manusia selebritas itu. Karena itu dianggap "nasional"; yang "nasional" lebih bergengsi daripada yang "lokal"; yang "Jakarta" lebih keren daripada "Ambon"; yang di Jakarta itu "modern" sedangkan yang di Ambon "kampungan".
Lebih jauh, gagap budaya ini juga terlihat dari destruksi logika kebahasaan kaum muda. Penulisan status FB dan bahasa SMS morat-marit mengangkangi struktur kebahasaan formal. Struktur kata, kalimat, frase, dan alinea makin amburadul karena menyalahi konsensus logis kebahasaan. Ini yang oleh Gaston Bachelard disebut "keretakan epistemologi". Orang melakukannya secara "lebay" tanpa tahu dan mengerti kenapa ia harus melakukannya.
Anda bisa saja menambahkan asumsi[-asumsi] yang lain. Bahkan, menggugurkan asumsi-asumsi saya di atas. Tujuan saya sederhana: mengajak anda semua untuk memikirkan fenomena "bunuh diri" yang tampaknya makin menjadi trend masa kini.
Daripada kita hanya berpusing-pusing mencari jawabnya, saya ingin mengajak anda untuk mempermasalahkan semua kemungkinan jawaban yang ada di benak kita. Tak usah bermimpi menemukan jawaban sempurna dan final, karena hal itu mustahil. Namun, rasanya tidak salah jika kita mulai mempertanyakan mulai dari diri kita sendiri: apakah kita sedang terseret arus aliran tiga asumsi di atas? Modernisasi tak perlu dilawan, tapi perlu dikritisi. Tanpa kritik terhadap ideologi modernisme, maka kita hanya menjadi "korban-korban iklan dan media", yang makin asing bahkan terhadap diri kita sendiri.
Makin berat rasanya mengatakan "nos autem praedicamus christum crucifixum"... jika melihat ini semua dalam analogi "ketika prajurit gugur sebelum berperang"...
steve gaspersz - yogyakarta, 21 februari 2012
Read more ...

Wednesday, February 15, 2012

Tidurlah, dik...



tidurlah, dik...
meski kakak tahu perutmu lapar
kau pun tahu kakak juga lapar

maafkan kakak
tak bisa memberimu sebungkus nasi
untuk mengisi perutmu sejak pagi

tidurlah, dik...
itu lebih baik daripada kau menangis
kakak tahu kau telah letih tersedu

tidurlah, dik...
hari ini sepi tiada orang yang memberi
kakak lihat mereka sedang asyik menari
berpesta kasih sayang sepanjang hari

tidurlah, dik...
bermimpilah indah meski kau lapar
kau tahu kakak menyayangimu
setiap hari setiap saat

tidurlah, dik...
jangan takut kakak selalu menjagamu
lelaplah dalam teduh pelukan kakak
tak usah hiraukan geram sang mentari

tidurlah, dik...
kita lalui hari ini dengan mimpi
bahwa esok kita bisa membeli sebungkus nasi
tak usah hiraukan lapar perut ini

tidurlah, dik...
tidurlah, dik...
nantikan saja mentari
entah esok kita masih di sini

tidurlah, dik...
Read more ...

Cinta

cinta bukanlah suka
suka kerap hanya melihat muka
cinta adalah menerima
karena melihat dengan jiwa

kuberi cintaku padamu
bukan karena aku menyukaimu
tapi karena kita saling menerima
untuk melangkah bersama meski berbeda

tiada bunga
tiada pula rangkaian indah kata-kata
karena aku di hatimu
dan kau di hatiku

cinta itu bukan milikku
bukan pula milikmu
cinta itu adalah kita
yang mengaliri nadi jiwa

*untuk Nancy dan Kainalu* - 14022012
Read more ...

One Earth, Many Faces

One Earth, Many Faces