Aku menulis maka aku belajar

Tuesday, April 30, 2019

Telusur Jejak Masyarakat Hukum Adat dan Pembangunan: Warisan Ronald Z. Titahelu

Tahun 1997 saat menjadi mahasiswa angkatan pertama dari Program Pascasarjana Teologi UKIM, matakuliah "Masyarakat Hukum Adat Kepulauan" menjadi salah satu yang paling beta minati. Melalui diskusi dan bahan bacaan yang disodorkan waktu itu, banyak sekali isu-isu yang selama ini tersembunyi di balik permukaan menjadi bahan kajian yang menantang. Tugas-tugas makalah yang diberikan oleh dosennya juga lebih banyak berupa pengamatan lapangan terhadap kasus-kasus marjinalisasi masyarakat hukum adat -- demikian istilah yang digunakan -- di berbagai wilayah baik di kepulauan Indonesia maupun yang lainnya di luar Indonesia akibat aktivitas pembangunan oleh pemerintah/negara. Sering juga, sebagai mahasiswa, kami diundang untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan advokasi yang beliau tangani berkaitan dengan aktivitas-aktivitas pembangunan oleh pemerintah yang pada kenyataannya mengabaikan eksistensi masyarakat hukum adat, serta hak-hak hidup di atas wilayah ulayat mereka.

Bersama dengan Prof. Jop Ajawaila (alm.), yang mengampu matakuliah "Antropologi Masyarakat Pesisir", kami dilibatkan dalam kerja-kerja penelitian untuk mendesain model-model analisis dan pemetaan isu sosial-budaya dari apa yang disebut "masyarakat pesisir". Suatu istilah yang pada akhir tahun 1990an masih belum dikenal luas karena paradigma kajian ilmu-ilmu sosial, terutama antropologi, masih berporos pada hampiran ilmiah berbasis pendekatan kontinental. Maka meskipun Program Pascasarjana Teologi UKIM masih tergolong belia dibandingkan yang lain seperti STT Jakarta, UKSW atau UKDW, tapi pendampingan kedua guru besar Universitas Pattimura ini telah mampu membidani suatu pendekatan ilmiah terhadap dinamika dan isu-isu problematik dari masyarakat pesisir atau masyarakat kepulauan yang menjadi ciri khas program pascasarjana ini. Sampai sekarang, Program Pascasarjana Teologi UKIM konsisten dengan konteks kajian masyarakat pesisir atau kepulauan sebagai kritik terhadap cara pandang pembangunan yang sangat berorientasi kontinental.

Konflik sosial 1999-2004 mengandaskan keinginan untuk memilih beliau sebagai pembimbing tesis karena situasi yang mendesak beliau "mengungsi" ke luar Maluku. Draft proposal penelitian awal sempat dibahas bersama Prof. J. Ajawaila meskipun tidak lancar karena eskalasi konflik yang kian tinggi. Rencana penelitian di Pulau Buru pun batal meskipun sudah sempat melakukan observasi awal lokasi penelitian di sana. Atas saran Prof. Ajawaila, lokasi penelitian dipindah ke Pulau Ambon. "Konflik tidak boleh mematikan pendidikan di Maluku", demikian tandas Prof. John Titaley yang waktu itu masih menjadi Direktur Pascasarjana Sosiologi Agama UKSW dan Ketua PERSETIA. Prinsip itulah yang membuat beta dan beberapa teman seangkatan mendapat kesempatan dan bantuan untuk menyelesaikan penulisan tesis di UKSW.

Sejak itu, lama sekali beta tidak mendengar kabar beliau. Baru tahun lalu (2018) akhirnya bertemu dalam satu forum FGD yang digelar oleh beberapa anggota MPR RI di Ambon. Meski sudah uzur dan tertatih-tatih berjalan dengan tongkatnya, pikirannya masih jernih terartikulasi melalui ulasan-ulasannya yang tetap tajam. Kami sempat berbincang tapi beliau sudah lupa siapa beta. Pertemuan kedua dan terakhir terjadi awal bulan April 2019 saat beta memoderasi panel diskusi mengenai hukum lingkungan di Fakultas Hukum Universitas Pattimura. Beliau menjadi salah seorang pembicara. Masih sangat bersemangat. Bahkan pada saat acara usai, beliau masih mengajak berdiskusi bersama Jusnick Anamofa dan Leo Sahuburua tentang penelitian dampak penambangan di Gunung Botak Pulau Buru yang sedang mereka lakukan.

Itulah pertemuan terakhir dengan Prof. Ronald Z. Titahelu, M.S., yang tetap memberi kesan mengenai konsistensi geliat akademik dan komitmen advokasi terhadap eksistensi masyarakat hukum adat yang selalu menjadi rujukan keberpihakannya sebagai akademisi ilmu hukum (perdata). Hingga tadi malam mendengar kabar bahwa beliau telah mengakhiri peziarahan panjangnya dengan tenang.

Terima kasih Prof. Ronny Titahelu!
Read more ...

Monday, April 29, 2019

Sunday, April 21, 2019

The Year Without Summer

10 April 1815, Gunung Tambora meledak dengan menyemburkan 160.000 km2 material vulkanik dengan kandungan sulfur, asap debu dan aerosol hingga mencapai ketinggian 43 m dari kaldera. Erupsi Tambora meluluhlantakkan hutan, kebun dan desa-desa di sekitar lerengnya. Muntahan magma dan awan panasnya melesat dengan kecepatan 700 km/jam membunuh sekitar 70.000 orang dan menghancurkan tiga kerajaan di Sumbawa: Sanggar, Pekat dan Tambora. Guncangan bumi akibat gelegar Tambora menyebabkan gelombang laut tsunami mencapai Flores, Bali, Sulawesi dan Maluku. Magma yang mengalir hingga ke pesisir membentuk dinding batu setinggi 10 m.

Yang lebih dahsyat dari ledakan Tambora 1815 adalah hembusan angin membawa debu vulkanik menutupi hampir separuh bumi. Debu vulkanik bahkan menembus lapisan stratosfer (lapisan kedua setelah troposfer) sehingga menghalangi sinar matahari sampai ke permukaan bumi dan menimbulkan anomali cuaca terutama pada kawasan-kawasan Eropa dan Amerika Utara. Bulan-bulan Juni, Juli dan Agustus 1816 yang seharusnya adalah musim panas (summer) tapi karena anomali cuaca kemudian suhu menjadi sangat ekstrem dingin karena merosot hingga 10 derajat Celcius dari suhu normal, disertai hujan es dan badai salju. Kondisi itu menyebabkan gagal panen besar-besaran dan kelaparan yang parah di Eropa dan Amerika. Suatu bencana yang kemudian dikenal sebagai “the year without summer” (tahun tanpa musim panas) atau “poverty year” (tahun kelaparan). Ratusan ribu orang dan binatang mati. Di Amerika, ribuan keluarga mengungsi dari utara dan “west-coast” ke bagian tengah barat (midwest). Ladang-ladang pertanian pun membeku.

Namun, kisah derita dan kemuraman musim panas yang dingin itu ternyata membangkitkan inspirasi pada beberapa orang untuk menciptakan karya-karya fenomenal yang tak pupus hingga kini. Bahkan menjadi penanda lahirnya kebudayaan dan agama yang baru dalam sejarah kemanusiaan.

Mary Shelley menciptakan novel horor “Frankestein” di Swiss. Di Jerman, Karl von Drais menciptakan moda transportasi menggunakan 2 roda karena kuda-kuda banyak yang mati selama musim panas yang dingin itu. Teknologi moda transportasi yang menjadi cikal-bakal sepeda ini tetap digunakan orang hingga saat ini. Di Amerika, seorang pemuda bernama Joseph Smith, yang mengikuti keluarganya bermigrasi ke “midwest” kemudian membuat aliran baru dalam Kristianitas yang kemudian dikenal sebagai The Church of Jesus Christ of the Latter-Day Saints atau Mormonisme. Kemuraman yang dingin dari “the year without summer 1816” mendorong dirinya melahirkan visi akhir zaman yang tertuang melalui tulisan-tulisan dalam Kitab Mormon.


Bencana alam menghubungkan berbagai kelompok manusia yang hidup di wilayah-wilayah bumi yang berbeda dalam keprihatinan bersama. Penderitaan dan kekalutan hidup yang diakibatkannya mempunyai risiko terhadap kehidupan manusia, hewan dan tumbuhan. Namun, penderitaan dan kemuraman hidup tidak selalu membawa pada kemurungan yang panjang. Di balik kisah derita dan bencana, selalu ada dorongan untuk melahirkan inspirasi-inspirasi kebudayaan dan spiritualitas baru dalam sejarah kemanusiaan. Pada setiap retakan, akan tampak cahaya yang menyusup sejauh imajinasi kita terbebaskan untuk menjelajah keluasan semesta. Demikianlah kebudayaan dan agama berkembang dalam kehidupan umat manusia.

Selamat Paskah!
Read more ...

Tuesday, January 1, 2019

Berjumpa Lagi dengan Harley Pattianakota

Perjumpaan awal 1 Januari 2019. Perjumpaan yang tak terduga setelah cukup lama kami tak bersua. Harley Pattianakotta adalah anak Maluku yang menjadi pendeta pada Gereja Kristen Pasundan (GKP). Setelah memimpin Jemaat GKP Tanah Tinggi beberapa tahun, kini ia ditugaskan sebagai pendeta kampus Universitas Kristen Maranatha Bandung. Kami dulu kerap bertemu dan berdiskusi saat ia masih studi sebagai mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta. Waktu itu, Nancy Souisa masih bekerja sebagai Direktur Pelaksana (Dirlak) Perhimpunan Sekolah-sekolah Teologi di Indonesia (PERSETIA) yang berkantor di salah satu ruang lantai 4 STT Jakarta.

Ia juga salah seorang pentolan aktivis mahasiswa yang waktu itu beberapa kelompoknya sering berkumpul salah satunya di kantin kampus STTJ (selain di Salemba 10 atau UKI Jakarta). Kalau tak salah ingat, ia juga pernah menjadi "kapten" FORMAMA (Forum Mahasiswa Maluku) simpul Jakarta. Beberapa kali diskusi juga sempat dilakukan di rumah "dinas" kami, di kawasan Kelapa Gading Vespa, Jakarta Utara, bersama beberapa yang lainnya seperti Dani Pattinaja Talakua dkk.

Pengalaman unik bersamanya adalah ketika dia dan Peter Salenussa membantu mengusung buku-buku dari rumah kami yang kebanjiran hampir selama sebulan pada tahun 2007. Kami mengungsi ke Guest House STTJ agar Nancy dapat tetap bekerja selama Jakarta "tergenang" air. Barang-barang yang lain tak bisa diselamatkan. Beta, Harley dan Peter bolak-balik antara Jalan Proklamasi (lokasi STTJ di Jakarta Pusat) dan Jalan Perintis Kemerdekaan (Jakarta Utara/Timur) untuk tetap mengawasi rumah yang kami tinggalkan terendam air dan lumpur. Kami hanya berusaha menyelamatkan buku-buku saja. Karena kondisi transportasi dan angkutan yang terbatas, kami hanya bisa mengangkut secara bertahap. Bahkan hingga malam hari, di tengah kegelapan karena aliran listrik terputus di seluruh kawasan perumahan Kelapa Gading Vespa. Kami bertiga seperti "tentara" yang sedang menyusuri daerah rawa-rawa dengan ketinggian air berwarna hitam kecoklatan sebatas pinggang orang dewasa.

Sukses untuk studi lanjutnya dan pelayanan kampusnya, bro Harley.
Perjumpaan awal ini adalah berkah sulung 2019. Gusti mberkahi!
Read more ...

Friday, December 14, 2018

Melepas Pergi, Menahan Kenangan: Sekelumit Kisah tentang Bruno Betaubun

Selama 2 minggu terakhir linimasa fb menautkan kabar dukacita tentang kepergian sejumlah kenalan, teman dari kenalan, sahabat, ortu dari sahabat. Hanya ucapan turut berbelarasa yang bisa disampaikan melalui kolom-kolom komentar.

Satu dari beberapa kabar dukacita adalah kepergian seorang rekan semasa masih menjadi mahasiswa di kampus UKIM, Bruno Betaubun (BB). Sudah lama tidak mendengar kabarnya apalagi bersua sejak kami lulus dari perguruan talake tahun 1996.

Kabar kepergian BB sangat mengejutkan. Pasalnya, semasa kuliah tahun 1990an, BB dikenal sebagai salah seorang pemain andalan dalam tim volley UKIM. Beta sendiri bergabung dengan tim basket UKIM. Kami sering berlatih bersama karena memang lapangan yang tersedia hanya satu. Jadi, biasanya tim volley dan basket melakukan pemanasan bersama dan menggunakan lapangan secara bergiliran.

Intensitas pertemuan juga terjadi dalam aktivitas organisasi kemahasiswaan intra dan ekstra kampus. Kami sama-sama bergiat di Senat Mahasiswa Fakultas. BB adalah fungsionaris SMF dan GMKI Komisariat Fakultas Ekonomi UKIM.

Pengalaman tak terlupakan bersama BB adalah ketika kami turut bergelut dalam euforia reformasi 1998. Setelah peristiwa Semanggi yang menewaskan rekan-rekan mahasiswa Universitas Trisakti Jakarta, berbagai gelombang demonstrasi mahasiswa terjadi di berbagai kampus, termasuk UKIM. Waktu itu, kami mendesain format demo damai bersama-sama dengan hitungan-hitungan yang cermat agar demo itu tidak menjadi anarkhis dan kisruh. Desain demo adalah membuat replika peti mati dibungkus kain hitam sebagai simbol matinya demokrasi (terima kasih untuk bung Jacky Manuputty atas ide teatrikal itu). Demo dikawal ketat oleh unsur mahasiswa UKIM dibantu aparat polisi. Pada beberapa titik perhentian, ada orasi, puisi dan aksi teatrikal diiringi oleh beberapa mahasiswa yang bisa meniup trompet.

Ketika demo, BB mendapat peran mengusung gambar Presiden Soeharto. Nah, di sini BB beraksi. Selama perjalanan arak-arakan demo menuju beberapa titik kumpul untuk berorasi, BB mengangkat gambar Soeharto yang sudah dicoret silang dengan posisi terbalik (kepala di bawah). Berulangkali kami mengingatkan BB agar gambarnya diposisikan normal (kepala di atas) tapi dia tetap bersikeras. Sempat terjadi ketegangan di antara kami tapi akhirnya mengalah dengan sikap keras BB meski tetap terbersit cemas jika ada tindakan tegas dari aparat keamanan mengingat gambar presiden adalah simbol yang sangat “sakral” selama Orde Baru.

Syukurlah, demo mahasiswa UKIM saat itu berjalan lancar dan aman meski pada beberapa titik berhadapan dengan pasukan polisi dan tentara PRC (Pasukan Reaksi Cepat). Kami harus mengakui bahwa aksi BB waktu itu tergolong berani dan riskan sebab kondisi politik nasional saat itu sedang dalam transisi yang kritis. Polisi dan tentara bisa saja menjadikannya sebagai alasan menindak tegas demo kami.

Kekisruhan yang kami cemaskan justru terjadi pada kelompok demo mahasiswa setelah kami usai dan bubar. Kisruh dan bentrok antara aparat polisi/tentara dengan mahasiswa yang kemudian dikenal sebagai “Insiden Batugajah”.

Beta menuliskan hal ini untuk menjadi ingatan bersejarah tentang sosok dan aksi rekan Bruno Betaubun dalam rangkaian demo mahasiswa sebagai efek gelombang reformasi 1998 yang turut menyeret UKIM sebagai bagian penting dalam sejarah demokratisasi yang sejenak menjanjikan perubahan sosial-politik Indonesia.

Selamat beristirahat dalam keabadian sobat! Kau telah menaruh noktah kecil dalam satu gerakan besar Reformasi Total 1998. Semoga anak-anakmu membacanya dan bangga dengan aksimu yang hebat dan berani.
Read more ...

Wednesday, December 12, 2018

Presentation at The First International Conference on Religion and Public Civilization


Read more ...

Bedah Buku John Ruhulessin


Bedah Buku "Gereja dan Kepemimpinan Publik" karya Dr. John Ruhulessin, M.Si digelar oleh IAKN Ambon di Hotel Marina Ambon, 10 Desember 2018. Beta dan Dr. Abdul Manaf Tubaka menjadi pembahas terhadap buku tersebut. Sedangkan Dr. John Ruhulessin menjadi narasumber. Beta memetakan konstruk berpikir John Ruhulessin pada 3 skema yang didasarkan pada bacaan beberapa karya Ruhulessin:

Skema 1
Pengaruh studi sosiologi agama di UKSW terutama oleh mazhab Berkeley melalui Bernard Adeney dan John Titaley, juga oleh Eka Darmaputera dan Theodorus Sumartana. Mazhab Berkeley dengan pendekatan inter-area studies membentuk postur akademik yang lintas ilmu. Oleh karena itu, teologi yang dipelajari lebih berwajah multidisipliner dimana teologi berdialog kritis dengan dan turut dideterminasi oleh ilmu-ilmu lain. Pengalamannya selama menjadi visiting scholar di Berkeley sangat mempengaruhi paradigma berpikirnya.

Skema 2
Partisipasi dan pemikiran politik di Ambon. Kombinasi analisis dan praksis politik yang membentuk teologi politik JR. Itu salah satu keunikan pemikiran teologi sosial JR yang berbeda dari pembelajar teologi di Ambon atau di Indonesia. Pemikiran teologi pluralisnya dibentuk dalam konteks dialog-dialog dengan berbagai komunitas agama dan politik.

Skema 3
Agama dan masyarakat dalam konteks konflik sosial di Ambon. Analisis JR tentang RMS menjadi referensi penting sebagai kontra-wacana separatisme selama konflik. Itu merupakan momentum untuk mendudukkan perspektif historis dari RMS yang selama ini sangat dideterminasi oleh sejarah ala penguasa Orba. Konflik juga menjadi sandaran analisis penelitian disertasinya mengenai pela sebagai etika publik.
Read more ...

Saturday, November 10, 2018

Sindrom Anak Emas

Istilah tersebut sudah sejak era 1990-an dimunculkan oleh John Titaley, Guru Besar Sosiologi Agama (dulu UKSW sekarang UKIM), untuk memperlihatkan tendensi sosiologis dan politis yang selalu berada pada ketegangan tarik-ulur antara identitas nasional dan identitas primordial dalam proses "menjadi Indonesia". Terbingkai oleh perspektif Durkheimian, Titaley masih kukuh pada tesis bahwa Indonesia sejak 1945 adalah fenomena entitas politik baru yang terbuka bagi kesetaraan setiap warga negaranya untuk mengekspresikan matra-matra religiositas dan etnisitas nusantara dalam rajutan semangat "menjadi Indonesia" yang sangat majemuk.

Mulanya istilah itu dipakai sebagai kritik Titaley terhadap corak Kekristenan Indonesia pasca-1945 yang tampaknya masih kuat berkutat dalam kubangan nostalgia kolonial sehingga mengabaikan realitas keindonesiaan sebagai konteks sosio-politis baru yang dihidupinya sejak kesepakatan menjadi Indonesia itu. Padahal nostalgia semacam itu sebenarnya memperlihatkan gejala "kejiwaan" yang tidak sehat atau tidak kontekstual, yang disebutnya sebagai "sindrom anak emas".

Secara sosiologis dan politis, istilah itu mengalami perluasan makna yang menunjuk pada kecenderungan psiko-sosial dari orang atau kelompok orang yang merasa diri besar secara kuantitatif lantas selalu merasa harus diistimewakan, dimanja, dan difasilitasi. Sindrom ini berimplikasi pada pemikiran dan tingkah-polah yang lembek dan cengeng karena selalu merasa diri benar dan lebih utama dibandingkan liyan. Sindrom ini juga menyebabkan amnesia historis bahwa dasar dari berdirinya masyarakat Indonesia ini adalah pada kesepakatan sosial-politik untuk hidup bersama dengan seluruh perbedaan yang menggelayuti identitas masing-masing.

Dalam pertemuan agamawan dan budayawan yang diinisiasi oleh Kementerian Agama RI beberapa hari lalu, istilah itu kembali disebutkan oleh John Titaley. Namun, secara kritis pula, sebagaimana dipertanyakan oleh Omar Faturahman dalam rubrik opini KOMPAS, "Lalu Apa?". Pertanyaan itu bisa dibaca sebagai kontemplasi politik untuk melangkaui sindrom itu yang rupanya belakangan ini kian menjadi jaringan "kanker kronis" yang menggerogoti semangat dan geliat keindonesiaan kita, termasuk kontemplasi "untuk apa kita memperingati hari pahlawan?".

Read more ...

Thursday, November 8, 2018

Pengukuhan Guru Besar Al Makin - UIN Sunan Kalijaga


Pengelolaan lembaga pendidikan tinggi di negeri ini rumit dan sarat tahapan serta persyaratan yang berbelit. Regulasi nasional di bidang pendidikan tinggi berubah, bertambah dan penuh tikungan yang kerap membuat banyak tenaga pendidik tergelincir. Tak jarang harus "turun mesin" alias stagnan. Salah satu tikungan itu adalah produksi publikasi berbasis penelitian yang mesti memenuhi perpindahan "persneling" secara kreatif pada tiga "gigi" tridharma perguruan tinggi.

Standar "high-class university" terus diuber dengan menggeber akselerasi pembenahan prosedur penjenjangan akademik. Ditambah dengan mimpi mengubah paradigma "teaching university" menjadi "research university". Lantas, melepas peluru-peluru publikasi ke jurnal-jurnal bereputasi, terakreditasi bahkan terindeks. Tidak semua peluru mengenai sasaran. Kurang meneliti? Mungkin ya, mungkin tidak. Kurang gairah publikasi? Mungkin tidak, mungkin ya. Masalah inti diduga adalah standar tinggi yang dipasang dan hanya bisa digenjot oleh kampus-kampus berumur panjang dan mapan, dengan akses ke sumber-sumber dana dan daya yang mumpuni. Bagi kampus-kampus minor dan swasta, perlu infus energi dan konsistensi mengejar mimpi itu.

Seabreg hasil penelitian menumpuk. Mengapa tidak dipublikasi di jurnal-jurnal internasional? Harus berbahasa Inggris. Bukankah bisa pakai jasa penerjemah bersertifikat atau kolega "native speaker"? Harus sedia dana. Belum lagi beban mengajar yang menyita waktu dan menguras energi para dosen (yang seharusnya juga meneliti dan publikasi hasil penelitiannya). Tak kurang tenaga pendidik (dosen) jebolan kampus-kampus top markotop di Amrik dan Eropa yang berkiprah di kampus-kampus Indonesia. Tapi tak cukup geliat dan gigih menerapkan model pembelajaran dari kampus-kampus luar negeri itu di kampus-kampus sendiri. Hanya pulang berbekal ijazah, foto dan cerita kuliah di luar negeri, tapi lagi-lagi stagnan dalam menggugah geliat penelitian pada dan bersama mahasiswa di negeri sendiri. Kritik keilmuan pun dibungkam oleh perburuan jabatan-jabatan struktural di kampus-kampus sendiri.

Pencapaian Al Makin ini, di antara kolega-kolega profesor muda lainnya di bidang humaniora, tentu menjadi pemicu dan pemacu untuk menantang arus regulasi pendidikan tinggi yang cukup deras untuk menghempaskan diri pada kevakuman dan rutinitas birokrasi akademik belaka. Kepiawaiannya mengelola Jurnal Al-Jamiah hingga ke tingkat pengakuan internasional, bagi beta, adalah konsistensinya untuk mengembangkan strategi mengatasi gempuran regulasi yang ketat di negeri ini. Masih teringat pesannya ketika bertandang ke Ambon: "Pengelolaan jurnal sebagai strategi pengembangan akreditasi institusi dan kapasitas dosen tidak bisa tambal-sulam. Harus ada yang nongkrongin. Kalau tidak, ya tidak pernah jadi."

Mubaarok Prof. Al Makin!
Read more ...

Tuesday, November 6, 2018

MPP AMGPM Ke-31


Musyawarah Pimpinan Paripurna Angkatan Muda GPM Ke-31 tahun 2018 berlangsung di Latdalam, desa/jemaat terujung di pesisir barat Pulau Yamdena, Tanimbar Selatan, Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Tahun lalu (2017) di Wooi, Pulau Obi, Maluku Utara. Ini adalah agenda tahunan Pengurus Besar AM-GPM untuk mengevaluasi program kerja setahun, melakukan pemetaan masalah di 34 daerah pelayanannya, dan rencana strategis mengatasi isu-isu problematiknya.

Fokus studi dan agenda program kali ini adalah pada megaproyek nasional Blok Masela dengan seluruh derivasi dampaknya pada berbagai bidang kehidupan masyarakat Tanimbar. Salah satu isu terberat adalah cara menghadapi para kabir serakah yang sama sekali tak menggubris efek destruktif megaproyek itu terhadap keberlanjutan daya hidup masyarakat dan hanya berkacamata kuda "investasi/pembangunan".

Di balik segala formalitasnya, momen ini juga menjadi momen perjumpaan dan pembelajaran dari rekan-rekan pemuda yang bergelut dengan situasi problematik di daerah pelayanan mereka. Beta belajar banyak dari mereka.

Terima kasih Rynchard Tupan untuk semangat, idealisme dan kegigihan yang terus ditularkan selama MPP AMGPM Ke-31 di Latdalam dan Saumlaki, Tanimbar Selatan.
Read more ...

One Earth, Many Faces

One Earth, Many Faces