Aku menulis maka aku belajar

Wednesday, May 20, 2020

Refleksi Ibadah Minggu - Gereja Imanuel OSM 26 April 2020


Nats: Injil Yohanes 20:24-29 

Tema Bulanan: Gereja yang memberitakan kematian dan kebangkitan Kristus 

Tema Mingguan: Iman kebangkitan menguatkan pengakuan 

Selamat pagi basudara samua. 

Beta percaya kasih, hikmat dan berkat Tuhan Allah menyertai, menaungi dan melimpahi kehidupan kita semua di tengah masa-masa pergumulan menjalani segala pembatasan aktivitas dengan segala dampaknya sebagai antisipasi kita mencegah penyebaran virus korona ini terhadap diri sendiri juga terhadap keluarga maupun orang-orang terdekat kita. 

Dalam banyak kasus penyebaran virus korona secara massif seperti yang dialami oleh negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Italia, Jerman, Belanda dan beberapa lainnya, korban-korban berjatuhan bahkan hingga menembus angka ribuan hanya dalam hitungan hari dan minggu. Semua itu terjadi bukan karena negara-negara tersebut tidak memiliki fasilitas kesehatan yang memadai untuk mengantisipasi dan menghadapi virus korona. Atau tidak adanya ahli dan tenaga medis yang punya kemampuan untuk menangani orang-orang yang tertular virus ini. Sama sekali bukan karena itu. Jadi, apa penyebabnya? Penyebab utamanya hanya adalah “banyak orang yang TIDAK TAHU konsekuensi fatal virus korona ini karena terlambat mendapatkan informasi yang memadai” dan “banyak orang yang TIDAK MAU TAHU dengan berbagai upaya mengantisipasi penyebaran virus korona” serta menganggap dirinya kebal dan tidak mungkin terjangkiti. Orang tidak tahu karena bisa saja tidak mendapat informasi yang tepat. Orang tidak mau tahu karena bisa saja sudah menerima berlimpah informasi dari berbagai sumber tapi tidak bersedia memahami informasi itu dan mematuhi anjuran yang disampaikan.

Beta pernah menerima 1 foto melalui WhatsApp dengan kelakar sebagai berikut:

Data terkini kasus Covid-19: 
Positif: 1 orang 
PDP (Pasien Dalam Pemantauan): 3 orang 
ODP (Orang Dalam Pemantauan): 35 orang 
OST (Orang Sok Tahu): Banya 
OSP (Orang Sok Pintar): Labe Banya 
OKB (Orang Kapala Batu): Paleng Banya 
OKM (Orang Kapala Malawang): Tar Bisa Rekeng Lai 

Memang itu hanya kelakar. Tapi pada sisi lain, itu juga mencerminkan berbagai sikap kita menghadapi ancaman virus korona. Mengapa banyak orang yang tidak mau tahu? Karena ancamannya tidak kelihatan dan dampaknya baru dirasakan dalam waktu yang lama. Ketika semuanya sudah terjadi, menyesal pun tiada arti. Seperti yang dialami oleh negara-negara besar yang tadi telah disebutkan. Orang tidak percaya karena tidak melihat. 

Saudaraku, 

Sikap itu pula yang diperlihatkan oleh Tomas atau Didimus, salah seorang murid Yesus. Ketika rekan-rekan murid lain berkata “Kami telah melihat Tuhan”, Tomas dengan lantang menimpali mereka: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya”. Jadi, kira-kira Tomas ini termasuk kategori OKB (Orang Kapala Batu) dan OKM (Orang Kapala Malawang).

Sikap tidak cepat percaya itu memang sangat manusiawi. Sebab manusia dikaruniai Tuhan dengan otak untuk menimbang dan memutuskan segala hal sesuai dengan apa yang dibutuhkan dan apa yang bisa dirasakan melalui panca indra. Jika kita tidak merasa butuh, kita tidak mau tahu. Jika kita tidak bisa melihat, mendengar, mencium, memegang sesuatu maka kita tidak mau percaya. Kita tidak ingin salah dalam menerima sesuatu, terutama informasi, yang pada gilirannya membuat kita terjerumus dalam malapetaka.

Bagi para murid Yesus, sulit menerima kenyataan bahwa Yesus sudah mati. Tapi ada harapan yang kembali menyala ketika mereka melihat Yesus menjumpai mereka. Tetapi bagi Tomas khususnya, sulit menerima informasi bahwa Yesus sudah bangkit, bukan karena dia tidak senang Yesus bangkit, tapi karena dia tidak mau berada dalam harapan semu. Oleh karena itu, dia memerlukan bukti seperti pernyataannya tadi pada ayat 25.

Saudaraku, 

Masa-masa setelah Yesus disalib dan mati, adalah masa-masa “karantina” bagi para murid Yesus. Mereka tidak berani pergi kemana-mana dan berhari-hari bahkan berminggu-minggu hanya mengurung diri di rumah masing-masing atau melakukan pertemuan-pertemuan tertutup dan terbatas. Status mereka sebagai murid Yesus membuat mereka menjadi incaran para musuh Yesus dan juga intel-intel Kekaisaran Romawi yang menganggap Gerakan Yesus sebagai kelompok pemberontak yang ingin menggulingkan kekuasaan Romawi saat itu. Maka peristiwa kematian Yesus adalah kenyataan yang mengancam kehidupan para murid Yesus juga.

Tidak hanya itu. Sekarang ditambah lagi dengan berita kebangkitan Yesus. Ini lebih berbahaya. Jika berita kebangkitan Yesus adalah hoax maka ini menjadi ancaman serius bagi para murid karena pengawasan tentara/polisi Romawi akan semakin ketat. Bukan tidak mungkin, para murid akan ditangkap dan dihukum sama seperti Yesus: disalib. Bisa jadi, mereka ditangkap karena difitnah oleh para musuh Yesus sebagai penyebar hoax yang menimbulkan keresahan di masyarakat.

Di tengah kegalauan antara kenyataan pahit kematian Yesus dan rumor kebangkitan Yesus, kedatangan Yesus yang menjumpai mereka memberi kepastian bahwa ternyata kebangkitan Yesus adalah sebuah kepastian. Dan karena itu adalah kepastian maka harapan hidup mereka menyala kembali. Perjumpaan dengan Yesus yang bangkit bukan hanya memastikan diri mereka bahwa berita ini bukan hoax, tapi membangkitkan harapan akan masa depan mereka sebagai murid Yesus. Harapan apa? Harapan bahwa mereka harus melanjutkan pemberitaan tentang semua ajaran dan karya Yesus kepada semua orang dan generasi selanjutnya.

Saudaraku,

Di tengah kegalauan antara kenyataan pahit kematian yang membayangi kita melalui ancaman virus korona saat ini, berita kebangkitan Yesus bukanlah hoax yang hanya menjadi cerita tentang masa lalu yang tertulis dalam Alkitab. Kebangkitan Yesus bagi kita saat ini adalah sebuah keyakinan yang pasti bahwa kebangkitan itu membakar kembali sumbu pengharapan akan kehidupan meski situasi dalam 2 bulan ke depan selama masa karantina ini makin sulit secara ekonomi.

Banyak orang yang mulai merasa tidak tahan, tidak betah di rumah, lalu mulai keluyuran kemana-mana. Banyak orang yang menertawakan orang lain yang memakai masker kemana-mana. Banyak orang yang sok tahu, sok pintar, dan sok beriman dengan mengatakan “beta seng mungkin saki karena beta pung iman”. Sikap-sikap itu muncul karena serangan virus korona memang tidak kelihatan. Karena tidak kelihatan maka orang tidak percaya. Persis sama seperti sikap Tomas.

Di tengah kegalauan yang kita rasakan saat ini, Tuhan memperlihatkan bukti. Bukti tangan-Nya yang berlubang paku. Bukti lambung-Nya yang tertikam tombak. Bukti dalam bentuk apa? Bukti dalam bentuk tumbangnya tubuh-tubuh manusia terpapar virus korona. Bukti dalam bentuk rapuhnya kesehatan kita berhadapan dengan virus yang tidak kelihatan tapi mematikan ini. Bukti dalam bentuk bahwa tidak ada satu orang pun – siapapun dia, apapun jabatannya, seberapa besar kekayaannya, seberapa kuat kekuasaannya – yang bisa lolos dari ancaman virus korona ini. Bahkan para saudara dan sahabat dokter dan paramedis, yang sudah dilengkapi dengan APD (Alat Pelindung Diri) yang berlapis-lapis pada tubuhnya pun masih berpotensi tertular virus ini saat melayani para pasien positif COVID-19 di rumahsakit-rumahsakit. Apalagi kita?

Tapi, justru di tengah kenyataan itu, ada harapan yang bangkit karena Tuhan menjumpai kita sama seperti Ia menjumpai Tomas. Yesus tidak mengucilkan Tomas karena ketidakpercayaannya itu. Yesus tidak membuat mukjizat yang membuat luka-luka derita-Nya disalib sembuh tak berbekas. Yesus justru memperlihatkan bekas luka-luka itu kepada Tomas.

Sekarang. Saat ini, Tuhan sedang memperlihatkan luka-luka tubuh kemanusiaan. Luka-luka pada bumi kita. Tuhan sedang menunjukkan bahwa luka-luka itu bukan untuk mematahkan semangat hidup kita, tapi memanggil kita untuk bangkit dan kembali menatap masa depan. Bukan lagi sebagai orang-orang yang KEPALA BATU dan KEPALA BAKU MALAWANG, tapi sebagai orang-orang yang percaya meski tidak melihat, lalu melakukan sesuatu bukan hanya bagi diri kita sendiri tapi juga bagi kehidupan, kesehatan dan kesejahteraan orang lain. Kebangkitan Yesus di tengah ancaman virus korona ini justru adalah bangkitnya gerakan-gerakan kemanusiaan yang saling mempedulikan, saling berbagi, saling mengingatkan, saling menjaga, dengan mematuhi secara disiplin himbauan protokol kesehatan yang telah disampaikan oleh pemerintah, gereja dan banyak pihak lain.

Sama seperti Tomas, pada akhirnya, kita pun harus mengukuhkan pengakuan “YA TUHANKU DAN ALLAHKU!” Pengakuan iman bahwa kasih pengorbanan Kristus pada salib adalah KASIH YANG MENGHIDUPKAN. Pengakuan iman bahwa kuasa kebangkitan-Nya atas maut adalah KUASA YANG MEMULIHKAN KESEHATAN MANUSIA DAN MEMULIHKAN BUMI INI. Dengan pengakuan iman itu, kita hanya bisa mengatakan YA DAN BENAR. AMIN. Jaga jarak dan pakai masker. Tetemanis sayang dan jaga katong samua.
Read more ...

Sunday, April 19, 2020

Melodi Jiwa Tamaela


Siapa tak kenal lagu "Toki Tifa" dan "Toki Gong" yang mendunia itu? Cari saja di Channel YouTube. Orang bisa menemukan banyak versi lagu tersebut yang dinyanyikan oleh bermacam-macam paduan suara dalam dan luar negeri. Pernah dengar atau pernah menyanyikan lagu "Pela" yang telah melegenda dalam khazanah kebudayaan Maluku? Atau bukalah buku lagu Kidung Jemaat atau Pelengkap Kidung Jemaat atau Nyanyian GPM, ada beberapa lagu yang akrab di telinga dan kerap dikidungkan dalam ibadah-ibadah Kristen di Indonesia. Tapi jarang sekali orang melihat siapa penciptanya.

Di antara sekian nama pencipta lagu gerejawi dan budaya (Maluku), terpatri nama Christian Izaac Tamaela. Upu Atiang, demikian beta biasa menyapanya, bukanlah sosok budayawan dan komposer lagu yang gila panggung atau mabuk ketenaran. Gaya hidup dan karakternya sangat rendah hati, santun dan menghormati setiap orang, bahkan yang usianya jauh lebih muda. Dia berkarya menata melodi, notasi dan birama dalam keheningan. Sepi liputan media. Justru di situlah karya-karyanya sangat berjiwa. Sepanjang hayatnya, hampir setiap tahun dia diundang oleh lembaga-lembaga gerejawi tingkat nasional (PGI), regional (CCA), dan internasional (WCC), untuk menjadi pelatih dan juri paduan suara, fasilitator liturgi dan musik gerejawi, serta dirigen choir tingkat internasional. Belum terhitung lembaga-lembaga lainnya. Karya-karyanya meluber di berbagai edisi penerbitan berskala nasional dan internasional.

Dengan seluruh reputasinya itu, Upu Atiang sebenarnya bisa hidup berkelimpahan. Tapi jalan hidup itu tidak menjadi pilihannya. Dia tetap bersahaja. Jalan kaki dan naik angkot atau ojek dari rumah menuju kampus UKIM untuk mengajar. Tak punya sepedamotor, apalagi mobil.

Upu Atiang bukan hanya bermusik dengan instrumen-instrumen modern yang canggih. Dia adalah pencipta instrumen musik dari bahan apa saja yang bisa memproduksi bunyi. Semasa masih kuliah dulu (1990-1996), dia mengumpulkan beberapa mahasiswa dalam bengkel musiknya dan kami ditugaskan mengumpulkan batu, bambu, kayu, pasir, air dan kulibia untuk dibuat menjadi instrumen musik. Sensitivitas musik semacam itu membuat sosoknya unik dan langka.

Dalam setiap lagu karyanya terasa kental roh dan jiwa kemalukuan. Upu Atiang mampu menghidupkan kembali diksi-diksi budaya lokal yang dirajut menjadi untaian nada-nada diatonik dan pentatonik sebagai media yang membentangkan keluasan cakarawala dan variasi warna-warna pluralitas kebudayaan Maluku.

Sebagai apresiasi terhadap seluruh karya dan reputasinya, pada bulan Oktober 2019 kelompok perwalian mahasiswa (tutorship) Gaspersz-Souisa menyajikan liturgi ibadah yang seluruh lagunya diambil dari karya Upu Atiang. Beliau begitu bangga dan tanpa kami minta beliau datang membawa semua buku lagu yang memuat karya-karyanya. Lebih dari 20 buku (sebagian fotonya yang diunggah di sini). "Beta sanang ale dong bikin ini," demikian ucapnya bangga sambil menyalami beta cukup lama dengan tatapan yang berbinar-binar.

Sejak beta menjadi pembantu rektor bidang kemahasiswaan, beliau dengan senang hati membantu mendampingi mahasiswa yang berminat terlibat dalam paduan suara mahasiswa. Dua kali audisi selama 2 tahun langsung ditanganinya sendiri bersama Peter Salenussa dan Bill Saununu. Pada audisi yang kedua, beliau tetap datang meski kondisi kesehatan sedang menurun. "Biar beta yang pilih dong, nanti Peter yang latih. Beta kondisi seng kuat kayak dolo lai," ujarnya.

Horomate Upu Atiang!

Berjalanlah dengan nyanyianmu, toki tifa, toki gong, seiring langkahmu menuju keabadian. Spiritmu tetap hidup dalam setiap nada yang kau torehkan pada jiwa-jiwa generasi Maluku selanjutnya. Melodimu adalah melodi jiwa yang menghidupi dan menghidupkan bunyi semesta Maluku dan dunia.

"Pela e, katong bakumpul rame-rame... lama-lama bar bakudapa sio sungguh manis lawang e. Ayo Pela e, hidop orang basudara, antar gandong, antar suku deng agama e... Pela e, manis lawang e"

Mena Muria!
Read more ...

Thursday, April 9, 2020

RENJANA: Glenn Fredly Latuihamallo 1975-2020



8 April 2020 tengah malam. Sementara memeriksa hasil kerja para mahasiswa yang dikirim via aplikasi Google Classroom, anak saya di kamar sebelah memberitahu bahwa Glenn Fredly meninggal dunia. Saya kaget. Memang, di antara kami tidak ada hubungan saudara sekandung ataupun saudara jauh. Kami juga tidak pernah bersua langsung. Kekagetan saya semata-mata karena saya adalah salah seorang penikmat berat lagu-lagu Nyong Ambon pemilik suara tenor ini. Seperti juga para penyanyi muda Indonesia lainnya, hampir semua lagu-lagu yang dicipta dan dinyanyikannya bernuansa romantis-syahdu. Bergeliat di genre R&B, GF makin matang dari panggung ke panggung nasional hingga mancanegara. Dalam perjalanan kariernya ia makin menampakkan kedalaman karakter pada pilihan bermusiknya. Selain Iwan Fals dan Franky Siahailatua, saya mengagumi cara GF mengartikulasikan nuansa romansa pada setiap lagunya dengan begitu atraktif seiring lengkingan dan jangkauan nada-nada yang tak terduga. Ia mampu mengukuhkan karakter bermusiknya yang khas dan unik, yang tak mudah diduplikasi oleh penyanyi-penyanyi lain. Syair-syair lagunya penuh variasi diksi yang tak lazim seperti kebanyakan lagu-lagu romansa di Indonesia. Ia mampu mengemas pesan “cinta” melalui diksi-diksi yang menghujam pada nadi rasa manusia sehingga saat mendengarnya ada gugahan rasa cinta dan getir yang menyatu. Simak saja lagu-lagunya seperti "Kasih Putih", "Januari", "Sedih Tak Berujung", “Selesai”, “Kembali ke Awal” dan “Renjana”.


Kekaguman saya pada GF bukan hanya lagu-lagunya yang sarat romansa itu. Banyak karyanya yang membawa penikmat musik ke dunia batinnya sebagai seorang humanis. Tak segarang Iwan Fals dan sesederhana Franky Siahailatua, GF piawai menyusun nada-nada kreatif yang menghentak – seperti karakter R&B-nya – dengan diksi-diksi humanis yang dilandaskan pada roh dan visi bermusiknya yang dirajut bersama kegelisahan identitasnya sebagai seorang manusia Maluku sekaligus Indonesia. Yang menggiringnya pada pencarian akar identitasnya, seperti tiga episode liputan spesial KOMPAS TV dengan tajuk “Musika Foresta”. Liputan itu merekam petualangannya merambah hutan Manusela di Pulau Seram, yang dipercaya oleh rakyat Maluku sebagai sumber jatidiri Maluku (Tengah).

Demikian pula dengan keprihatinannya pada musik Maluku yang mempertemukannya dengan anak-anak muda kreatif “puritan” yang menggawangi Moluccas Hiphop Community (MHC). Perjumpaan yang mendesaknya untuk mengajak MHC berkolaborasi menggelar konser di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta dengan gelar sangar “Beta Maluku”. Ini kemudian menjadi slogan populer di kalangan anak-anak muda Maluku generasi selanjutnya. Ada lagi yang lain. Jauh dari hingar-bingar pernyataan-pernyataan bombastis tentang rekonsiliasi konflik Maluku 1999-2005, GF menggaet sejumlah anak muda Maluku untuk membuat film tentang kehidupan seorang legenda sepakbola Maluku dari Negri Tulehu, yang dikenal sebagai “kampung sepakbola”. Ia mencipta lagu OST (Original Sound Track) dengan tajuk "Tinggikan" untuk film “Cahaya dari Timur” yang sarat dengan diksi-diksi kokoh yang seolah menjadi pilar penyangga identitas Maluku yang saat itu porak-poranda oleh perseteruan tampak tak berujung, dan mengajak untuk melihat secercah harapan dari balik keretakan relasi sosial masyarakat Maluku saat itu.

Keprihatinan humanisnya tidak hanya tampak melalui karya-karyanya, tapi juga dalam keseluruhan hidupnya. Ia turut dalam Gerakan “Save Aru” untuk menggalang dukungan terhadap rakyat Aru menghadapi desakan kooptasi perusahaan multinasional atas tanah dan laut Aru. Dalam dunia pendidikan, GF menjadi seorang musisi Maluku yang memelopori pendirian Program Studi Musik Islami pada Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon. Tak hanya itu, visi dan misinya untuk bermusik telah menjadi suatu inspirasi pendidikan kehidupan yang menghidupi karya-karya generasi musisi muda di Maluku. GF mampu menjelanak di antara tarikan humanisme dan kapitalisme bisnis rekaman di Indonesia sehingga mampu dengan luwes melepas status selebritas muda yang bergelimang ketenaran dan kekayaan. Ia tetap sederhana dengan topi di kepalanya. Semua orang mudah menemuinya dan sebaliknya ia begitu terbuka menerima ajakan untuk bekerja sama dengan siapa pun, demi perkembangan musik itu sendiri.

Saya tidak pernah bertemu dengan GF. Tapi saya belajar banyak melalui karya-karyanya yang merentang jauh merajut simpul-simpul rasa cinta yang pada hakikatnya menggerakkan setiap manusia untuk menjumpai manusia lainnya. Dalam setiap karyanya, saya sulit menemukan “roman picisan” tapi suatu keagungan cinta yang menggugah manusia melihat dirinya sendiri dan menempatkan liyan sebagai spirit menjaga keagungan itu bersama-sama. Bagi saya, di situlah renjana Glenn Fredly! Renjana yang terus menghidupi lagu-lagunya yang mengendapkan kekuatan pada lapisan dasar rasa kemanusiaan: CINTA.

Senja merah di ujung sana
Lelaki mengingat bijana
Berselimutkan kabut mega
Restu semesta membawamu
Bienvenue mon amour
Sang Bijaksana
Teras maja di atas bukit
Merebak wangi kaledonia
Paris van Java jadi nirwana
Menjadi saksi tentang kita
Bienvenue mon amour
Sang Bijaksana
Memelukmu
Sabda rinduku aku memelukmu
Rebahkan lara
Dalam dekapan
Takkan usai
Dawai-dawai rinduku takkan usai
Sungguh oh mon amour
Engkau Renjana

Rest in Love, Glenn Fredly Latuihamallo!
Read more ...

Saturday, April 4, 2020

Belajar

Saya ingin pertama-tama menyatakan respek terhadap para mahasiswa di mana saja, terutama di kampus UKIM, yang dengan segala keterbatasan mencoba bertahan dan beradaptasi dengan perubahan-perubahan mekanisme pembelajaran formal di kampus. Secara geografis, Maluku adalah wilayah kepulauan. Sebagian besar mahasiswa UKIM berasal dari pulau-pulau di luar Ambon dan Lease. Dalam kondisi normal saja, tidak mudah bagi mereka untuk melakukan perjalanan bolak-balik Kota Ambon dan negri-negri asal mereka. Apalagi dalam kondisi masa-masa "kunci" seperti saat ini.

Sistem pembelajaran klas harus diubah menjadi kuliah daring (online). Lebih mudah? Kelihatannya. Tapi bagi sebagian besar mahasiswa perubahan ini menghadapkan mereka pada masalah lain yang cukup berdampak pada pengelolaan keuangan rutin mereka. Kuliah daring membutuhkan jaringan internet (pulsa data dan wifi). Wifi dengan kapasitas besar hanya tersedia di kampus. Sementara kalau sebagian besar memanfaatkan wifi di kampus maka sudah pasti akan terbentuk kelompok-kelompok yang bergerombol pada titik-titik tertentu. Padahal, ada anjuran untuk tidak berkerumun.

Alternatifnya, menambah pulsa data supaya bisa bekerja sendiri-sendiri. Lain lagi masalahnya. Untuk yang masih tinggal dengan ortu, kendala uang pulsa sebagian bisa teratasi. Meskipun tidak semua ortu sudah memahami konsekuensi kuliah daring. Tapi tidak mudah bagi mahasiswa yang tinggal dengan keluarga wali dan indekos. Dana rutin bulanan yang dikirim ortu mereka di negri-negri harus dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan pulsa data yang cukup besar. Akibatnya, uang kos tertunggak dan uang makan kian tipis, bahkan nihil. Ortu mereka di kampung tidak [mau] tahu dengan perubahan ke model kuliah daring ini sehingga terutama mahasiswa indekos harus merana kelaparan seiring tuntutan pulsa data yang harus terus diinfus supaya bisa ikut kuliah daring.

Ada sebagian mahasiswa yang disuruh pulang kampung jika tidak ada sesi klas selama masa "kunci", padahal ini bukan libur. Tentu saja, sebagian besar negri (kampung) di pulau-pulau belum terjangkau jaringan internet yang memadai. Jika pun sudah, frekuensinya naik-turun. Belajar jarak jauh? Pakai apa? Zoom, Google Classroom, Google Hangouts Meet, Skype? Semua bagus bagi yang sudah menikmati fasilitas internet yang berdaya kuat. Tapi tidak di wilayah-wilayah yang minus jaringan komunikasi (internet).

Utamanya mahasiswa-mahasiswa indekos mencoba bertahan hidup dan enggan pulang kampung meski keuangan mereka seret karena terhisap pulsa data. Ada teman-teman mereka yang tinggal dengan ortu rela berbagi beras dan sedikit bahan sembako. Kami para dosen juga membantu sebisanya agar mereka bisa terus mengikuti kuliah daring dan membatasi mereka untuk tidak melakukan kerja-kerja kelompok di tempat-tempat yang "rawan" penyebaran virus corona.

Harus diakui bahwa cukup banyak mahasiswa yang "pasrah" karena tidak mampu secara ekonomis mengikuti model kuliah daring. Mereka memilih "alpa" dan mundur dengan segala konsekuensinya bagi kelanjutan studi mereka.

Situasi hidup mahasiswa di Indonesia timur seperti Maluku jelas tidak bisa dibandingkan dengan teman-teman mereka yang berjibaku di kampus-kampus besar di Pulau Jawa. Motivasi belajar yang kuat memang sangat diperlukan untuk meretas berbagai kendala teknis yang timbul karena berbagai perubahan dan adaptasi berhadapan dengan penyebaran virus corona ini.

Ini hanyalah catatan kecil yang mulanya dipicu oleh 2 buku yang ~ akhirnya ~ tuntas terbaca selama masa "kunci" ini: Politik Identitas dan Bumi Manusia. Muara dari aliran refleksi yang terbentuk melalui proses membaca ini adalah pada kepekaan untuk merasai apakah dalam seluruh dinamika perubahan yang terjadi sekarang ini setiap orang merasa diperlakukan dengan adil? Ataukah muncul stigma-stigma baru dalam realitas hidup sosial yang menciptakan model-model diskriminasi terhadap klas-klas sosial yang dianggap lemah dan karenanya dibiarkan tergilas begitu saja? "Physical distancing" makin meneguhkan "social distancing" yang sebenarnya sudah meracuni cara pandang terhadap realitas sosial masyarakat Indonesia ~ seperti pernyataan jubir kepresidenan yang menyebut "orang kaya" dan "orang miskin" dalam konteks penanganan COVID-19. Demikian pula dengan tendensi belakangan ini yang mengganti penyebutan COVID-19 menjadi VICHIN-19 (Virus China), yang tampaknya hendak mengarahkan persoalan penyakit menjadi diskursus politik identitas global.

Jangan-jangan masa "kunci" ini mengonstruksi perspektif dan aksi politik identitas baru. Suatu cara pandang terhadap penyakit dan penanganannya yang membuat kita menjadi tidak adil sejak dalam pikiran (mengutip tokoh Minke dalam Bumi Manusianya Pram). Semoga tidak.
Read more ...

Sunday, March 22, 2020

Corona dan Panik Agama


Image result for virus corona

Tatanan masyarakat global sontak berubah drastis sejak penemuan dan identifikasi penyebaran virus corona yang dimulai dari Wuhan, Cina. Hanya dalam hitungan bulan (sejak Desember 2019 sampai Maret 2020), kepanikan melanda masyarakat berbagai negara dan mendesak semua pemerintahan mengambil kebijakan darurat baik untuk mengantisipasi dan mengatasi penyebaran virus ini, serta mencari berbagai cara menangkal penyakit akibat virus corona, yang oleh WHO dilabeli sebagai Corona Virus Disease 2019 (COVID-19).

Hingga pada titik klimaks sejumlah otoritas negara menempuh langkah karantina wilayah (lockdown). Pemerintah dan masyarakat Indonesia tak luput dari gempuran kepanikan. Presiden Joko Widodo membentuk Satuan Gugus Kerja untuk antisipasi penyebaran corona, yang kemudian dilanjutkan dengan penerbitan 5 protokol penanganan COVID-19. Langkah pemerintah pusat direspons secara beragam oleh pemerintahan daerah-daerah di Indonesia. Ada yang tetap tenang dan terkesan lamban. Ada pula yang mencoba bereaksi cepat meski kelabakan karena tidak didukung oleh perangkat sistem dan infrastruktur yang memadai. Beberapa yang lain terkesan reaktif.

Tindakan-tindakan responsif juga dilakukan oleh berbagai institusi keagamaan dan pendidikan. Sejumlah universitas ternama dengan segera mengambil keputusan meniadakan aktivitas pembelajaran di klas-klas, serta menggantinya dengan perkuliahan daring (online). Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pun melanjutkan dengan anjuran agar para guru dan siswa tidak lagi beraktivitas di sekolah-sekolah, serta menggunakan alternatif pembelajaran jarak jauh atau daring. Lembaga keagamaan seperti PGI dan sinode-sinode gereja anggotanya pun tak kalah cepat menerbitkan surat edaran yang menghimbau jemaat-jemaat untuk mengurangi frekuensi kegiatan-kegiatan peribadahan secara berkelompok di gereja-gereja. Malah, ada yang tak tanggung-tanggung membatalkan dan menggantinya dengan model peribadahan daring.

Penyelenggaraan berbagai seminar, workshop, dan pertemuan-pertemuan sejenis yang melibatkan lebih dari 30 orang dengan segera dibatalkan atau penjadwalan ulang (rescheduling). Lokasi-lokasi wisata ditutup dan pelarangan kerumunan massa (social distancing) di tempat-tempat publik selama masa inkubasi 14 hari virus corona. Mereka yang terdeteksi positif corona pun segera diisolasi. Di berbagai instansi diberlakukan pemeriksaan suhu tubuh (body thermal) dan menyediakan perlengkapan kebersihan tangan (hand sanitizer), serta penyemprotan cairan disinfektan ke segala sudut gedung atau ruangan. Teknologi informasi-komunikasi pun menjadi media dengan peran ganda: menyebarkan informasi yang valid dan informasi hoax. Akibatnya, terjadi kepanikan luar biasa di masyarakat yang mendorong panic buying dengan memborong barang-barang kebutuhan pokok di berbagai swalayan.

Yang tak kalah riuhnya adalah perdebatan-perdebatan teologis seputar penghentian aktivitas-aktivitas reguler keagamaan. Sebagian berpendapat bahwa jika ujung dari seluruh masalah COVID-19 ini adalah kematian, bukankah itu suatu keniscayaan bagi semua manusia? Jadi, tidak perlu berlebihan dalam menanggapinya dan dihadapi “biasa-biasa saja”. Sebagian lain lebih realistis merespons berbagai tindakan antisipasi sebagai suatu kebijaksanaan (wisdom) manusia menyikapi kondisi darurat global ini, sehingga dengannya mengambil langkah-langkah preventif dan kuratif yang sigap. Inti dari berbagai kesigapan ini adalah mengantisipasi agar tidak ada korban yang lebih banyak lagi hanya karena ketidakpedulian dan ketidaktahuan mengenai serangan virus ini.

Perdebatan-perdebatan teologis di lingkungan Kristen pun sengit. Kendati Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), setelah melakukan kajian cepat situasi darurat, menerbitkan surat edaran dan himbauan kepada sinode-sinode gereja anggotanya, namun tidak serta-merta itu ditindaklanjuti dengan sigap. Ada keterbelahan perspektif mengenai situasi ini. Perspektif yang satu memandang situasi ini perlu ditanggapi secara cepat dengan mengikuti protokol yang diterbitkan pemerintah dan PGI. Pertimbangannya semata-mata hanyalah agar aktivitas-aktivitas komunal keagamaan yang mendominasi kehidupan beragama (Kristen) untuk sementara dihentikan sebagai langkah antisipatif terhadap penyebaran virus corona. Aksioma teologis yang digunakan adalah “keselamatan hidup” warga jemaat mereka masing-masing. Lagipula, sergapan virus corona yang cepat, senyap dan tiba-tiba ini tidak bisa menjadi bahan perdebatan teologis yang bertele-tele karena sudah menjadi pandemik. Sementara perspektif yang satunya lagi lebih nyaman untuk berwacana dengan aneka dalil teologis yang condong menganggap remeh situasi darurat ini. Konsep keimanan yang dipropagandakan lebih mengarah pada sikap fatalistik dengan dalih “kuasa Tuhan lebih besar daripada virus corona” dan “kuasa virus ini dapat dipatahkan hanya melalui kekuatan doa dan ibadah (konvensional)”. Konsekuensinya, alih-alih frekuensi ibadah berkelompok dalam jumlah besar kian dikurangi tapi malah ditingkatkan. Padahal, pihak otoritas kesehatan pemerintah telah menegaskan pelarangan menggelar acara-acara komunal yang melibatkan kerumunan orang banyak dan penjarakan sosial antara satu orang dengan orang lainnya (minimal 1 meter).

Beberapa sinode gereja segera menerbitkan surat edaran atau surat himbauan dengan secara tegas mencantumkan langkah-langkah konkret mengantisipasi penyebaran virus corona dalam konteks kejemaatan masing-masing. Ada pula yang, karena didukung oleh fasilitas teknologi yang memadai, dengan segera menghentikan aktivitas-aktivitas peribadahan rutin, seperti Ibadah Minggu, serta menggantikannya dengan radio streaming dan/atau live streaming. Warga jemaat tetap dapat beribadah tapi di rumah masing-masing.

Belakangan, Majelis Pekerja Harian Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM) pun turut menerbitkan “Pesan Gembala”. Menurut saya, respons Sinode GPM agak telat. Sepertinya ada beberapa pertimbangan yang dipikirkan matang-matang sebab berimplikasi langsung pada tindakan-tindakan liturgis yang membutuhkan pendasaran teologis dan panduan teknis, seperti model liturgi alternatif seperti apa yang bisa diaplikasikan dalam beragama konteks jemaat-jemaat GPM yang tersebar di pulau-pulau di Maluku, terutama dalam prosesi peneguhan sidi baru dan pelayanan perjamuan kudus yang selama ini lebih lazim menggunakan cawan bersama. Pesan Gembala MPH Sinode GPM itu baru diterbitkan pada tanggal 21 Maret 2020 saat jumlah yang positif terinfeksi virus corona telah mencapai 369 orang. Kendati sejumlah anjuran praktis dicantumkan dengan jelas, namun terasa ada keengganan untuk menegaskan protokol teknis operasional pada larangan kerumunan massa dalam jumlah besar dalam acara-acara ibadah di jemaat-jemaat GPM (butir 5 dan 7).*

Secara reguler, jemaat-jemaat GPM mengikuti acara ibadah setiap hari dalam seminggu. Ibadah-ibadah wadah pelayanan (lelaki, perempuan, anak/remaja, pemuda, keluarga) dibagi setiap hari dalam seminggu dengan puncaknya pada Ibadah Minggu di gedung gereja utama atau gereja sektor. Dengan demikian, perjumpaan dan kerumunan orang dalam jumlah lebih dari 10 orang terjadi setiap hari hanya untuk aktivitas peribadahan. Dari kenyataan itu saja sudah bisa dipastikan terkandung potensi penyebaran virus corona intrakelompok maupun interkelompok. Jika umumnya aktivitas ibadah dilaksanakan pada petang hari (dengan andaian warga jemaat sudah pulang kerja) maka bisa ditemui bahwa mereka langsung pergi ke rumah keluarga tempat ibadah. Mereka tidak sempat membersihkan diri (mandi dan ganti pakaian kerja). Di tempat ibadah, mereka duduk berdekatan/berdesakan, saling berjabat tangan, dan meninggalkan “bekas” di tempat duduk, dinding, pintu rumah keluarga tempat ibadah. Tentu saja, tidak ada penyemprotan cairan disenfektan setelah ibadah. Selain itu, Ibadah Minggu di gereja-gereja diikuti oleh banyak orang yang datang dengan beragama kondisi. Apakah gedung gereja sudah disemprot cairan disenfektan sebelum/sesudah ibadah berlangsung? Apakah sarana cuci tangan sudah memadai untuk digunakan oleh semua warga jemaat yang beribadah? Apakah penataan ruangan ibadah sudah memenuhi syarat social distancing? Apakah setiap warga jemaat yang turut beribadah sudah melewati pemeriksaan body thermal? Apakah warga jemaat yang sakit (flu) menyadari kondisi kesehatannya yang terganggu itu sehingga bersedia mengenakan masker atau mengerti bagaimana cara bersin yang tidak berisiko menularkan virus corona yang mampu bertahan di udara selama 3 jam? Pertanyaan-pertanyaan ini hanyalah sedikit dari kegelisahan mengenai potensi penyebaran virus corona melalui media kerumunan orang dalam aktivitas-aktivitas keagamaan seperti ibadah komunal di gereja.

Dalam kondisi pandemik COVID-19 ini, isu peribadahan mesti ditempatkan sebagai problem sosial yang berpotensi memperluas dampak penyebaran virus corona. Ini bukan semata-mata problem teologis/liturgis yang didasarkan begitu saja pada dogma-dogma gerejawi. Pengumbaran dalil-dalil berupa ayat-ayat Alkitab yang dianggap memperteguh iman bahwa kuasa Tuhan mampu menaklukkan ancaman virus corona hanya memberikan efek eskapisme dari kepanikan psikologis. Namun bersamaan dengan itu, melumpuhkan nalar untuk melihat ancaman virus corona ini sebagai problem kemanusiaan secara relasional. Seseorang bisa saja menjadi media biologis yang meneruskan virus ini kepada orang lain, tanpa dia atau orang yang tertular menyadarinya (efek domino). Dengan demikian, penolakan protokol kesehatan hanya dengan dalih-dalih teologis-dogmatis itu justru menjadi ancaman serius bagi kehidupan bersama. Di situlah dalil-dalil ayat-ayat alih-alih menjadi solusi malah menjadi problem teologis karena mengabaikan kehidupan kemanusiaan semesta.

Ancaman virus corona, dalam perspektif agama-agama, tidak hanya mengandung problem teologis “mengapa Tuhan membiarkan virus ini hidup” dan “iman mampu menaklukkan kuasa virus ini” tapi yang lebih fundamental adalah “jika kita diminta oleh perintah agama kita untuk menjaga kehidupan, maka mengapa kita malah berbalik menghancurkannya?”. Tidak hanya itu, ancaman virus corona juga sedang mengobrak-abrik egoisme diri dalam memperjuangkan hidup bersama. Anjuran untuk mengisolasi diri dari kerumunan sebenarnya adalah cara kita menghargai kehidupan bersama. Iman tidak terbentuk kokoh hanya melalui doa-doa pribadi tapi melalui tindakan-tindakan sosial yang mengapresiasi kehidupan sendiri dan orang lain (relasional faith). Apa artinya ibadah kolektif jika melaluinya justru ancaman kematian sedang mengincar diri sendiri dan banyak orang lain? Sebenarnya, apa makna hakiki suatu ritual ibadah?

Kisah Yesus yang mengobrak-abrik lapak para pedagang di pelataran Bait Allah pada sudut pandang tertentu hendak memberi pesan bahwa Bait Allah telah menjadi tempat bersemayam virus egoisme dan ketamakan ekonomi. Untuk itu, Bait Allah harus di-lockdown agar ritual-ritual ibadah tidak menjadi kamuflase iman untuk menutupi kepentingan-kepentingan memenuhi syahwat politik dan ekonomi. Bait Allah harus disterilkan dan dengan demikian kembali menjadi ruang sunyi perjumpaan Tuhan dan manusia dalam keterisolasian meditatif dari segala kebisingan hidup. Konsep Bait Allah sebagai suatu tempat (place) sentral aktivitas ritual juga didekonstruksi oleh Yesus dengan model meditasi menyepi untuk berdoa sendiri di Taman Getsemani. Pada banyak kisah lainnya diceritakan bahwa usai mengajar banyak orang, Yesus menarik diri dari kerumunan orang, lalu menyepi dan berdoa seorang diri.

Bait Allah tidak lagi dipahami sebagai “place” tapi “space”, yakni suatu ruang semesta yang terbuka bagi terjadinya interaksi dan komunikasi antara Manusia-Alam-Tuhan dalam keterhubungan yang jernih dan hening. Di situ pula konsep ibadah menjadi dinamis karena bukan lagi merujuk pada suatu aktivitas ritual khusus di suatu tempat ibadah tapi melebur menjadi aktivitas keseharian manusia di dalam keluarganya, pekerjaannya, studinya, dan kariernya. “Menyepi untuk berdoa” adalah pula simbolisasi dari mengasah kepekaan indra untuk waspada merasai situasi sekitar. Tantangan terbesar adalah “tertidur lelap” seperti yang dialami oleh para murid Yesus sehingga Ia menegur mereka: “Mengapa engkau tidak sanggup berjaga-jaga?”. Kesiapsiagaan menjadi suatu prasyarat pemuridan Yesus.

Dalam bahasa latin, corona berarti mahkota. Virus ini disebut corona karena bentuknya yang menyerupai mahkota. Virus ini mampu merontokkan sistem antibody manusia yang kemudian membuatnya rentan terhadap serangan penyakit. Namun, corona (mahkota) dapat dipahami secara metaforis sebagai penggambaran kekuasaan dan kekayaan yang bersifat absolut (seperti kekuasaan raja/ratu pada suatu kerajaan) atau kepemimpinan otoritarian. Ancaman corona jenis ini secara sosiologis makin menggerogoti antibody relasi-relasi kemanusiaan dan kepentingan-kepentingan sesaat yang berdesak-desakan mengerubungi nalar dan nurani manusia. Maka diperlukan saat-saat untuk “lockdown” dan mengisolasi diri dalam keheningan untuk melepaskan diri dari keriuhan suara yang mendorong manusia melakukan apa saja untuk kepentingan dirinya sendiri (egoisme). Dalam keheningan nalar dan nurani, akal budi manusia mengalami proses detoksifikasi sehingga menjadi lebih jernih menatap kemungkinan-kemungkinan kehidupan di tengah deru badai ancaman yang menihilkan kehidupan manusia dan semesta.

* Pesan Gembala MPH Sinode GPM yang dikutip di sini adalah versi awal yang saya dengar ketika dibacakan dalam Ibadah Minggu 22 Maret 2020 di Gereja Rehoboth. Beberapa hari kemudian MPH Sinode GPM menerbitkan versi kedua (final) dengan instruksi yang lebih jelas dan tegas.


Read more ...

Sunday, February 23, 2020

Umat Pilihan Allah: Suatu Telaah Teologis-Etis Perjanjian Lama Mengenai Ulangan 7:1-11


Judul: UMAT PILIHAN ALLAH
Subjudul: Suatu Telaah Teologis-Etis Perjanjian Lama Mengenai Ulangan 7:1-11
Penulis: Steve G. C. Gaspersz
Penerbit: Penerbit Aseni 
Tahun Terbit: 2019

Lahirnya sebuah karya selalu dimulai oleh titik picu tertentu, yang kemudian secara konsisten dan bertahap menginspirasi lahirnya karya-karya berikut. Demikian pula dengan buku kecil ini. Inspirasi pertama gagasan-gagasan yang mengalir dalam buku ini bermula dari interaksi dalam proses studi pada Fakultas Teologi UKIM bertahun-tahun lampau, khususnya ketika mengikuti matakuliah “Agama dan Masyarakat” yang diasuh oleh guru saya, Dr. John Ruhulessin, M.Si. Melalui proses pembelajaran yang interaktif-kritis, kami digiring memasuki suatu arena dialektika ilmu-ilmu sosial dalam meneropong fenomena keberagamaan manusia. Pengenalan terhadap realitas sosial-budaya keberagamaan manusia melalui tugas-tugas bacaan kuliah dan diskusi-diskusi di dalam klas telah membentuk suatu cara pandang baru bagi saya, terutama dalam upaya memahami realitas pluralitas agama-agama dan konstruksi berteologi dalam agama-agama khususnya teologi Kristen.

Minat pada kajian agama dan masyarakat ini tumbuh pada masa-masa ketika dialog antaragama menjadi isu yang mengarusutama pada era pertengahan 1990-an. Di lingkungan Kristen kerap digelar diskusi dan seminar seputar isu itu kendati mesti diakui masih lebih banyak berputar pada ranah-ranah perjumpaan yang sangat formal dan elitis. Sebelum tahun 1998, ada beberapa peristiwa ketegangan antarkelompok agama dan tindakan-tindakan yang mengarah pada intoleransi beragama di Indonesia. Namun, peristiwa-peristiwa tersebut mampu diredam oleh pendekatan keamanan negara Orde Baru – yang oleh pihak-pihak tertentu dinilai represif – sehingga tidak meledak menjadi konflik berskala besar. Konteks itu melatari minat saya untuk menelusuri hal-ihwal dialog antaragama di Indonesia dengan semua potensi peluang dan tantangannya baik secara internal maupun eksternal.

Salah satu yang mengusik dan membangkitkan minat dalam hal itu adalah narasi Kitab Ulangan 7:1-11. Pada bacaan sepintas terhadap teks itu saya merasakan pesan eksklusivisme keagamaan dan sikap peyoratif-triumfalistik terhadap liyan. Saya mencoba membayangkan saat itu bagaimana suasana batin yang dirasakan ketika membaca teks semacam ini di antara “keriuhan” wacana dialog antaragama yang sedang dibergema di mana-mana. Tidak hanya itu. Dalam kegairahan dialog antaragama pada masa itu teks-teks keagamaan semacam ini sering “disembunyikan” atas nama toleransi ketika sedang berada bersama-sama, namun dalam lingkungan internal keagamaan sendiri teks-teks semacam itu malah menjadi amunisi yang menghidupkan perspektif fundamentalisme dan fanatisme keagamaan yang membentuk kesadaran keagamaan yang bermuka-dua (munafik). Tidak mudah mengatasi situasi dilematis itu: pada satu sisi, mendaku kebenaran transendental yang berakar pada keyakinan akan sakralitas teks-teks keagamaan sebagai “Firman Tuhan”; pada sisi lain, berhadapan dengan eksistensi kelompok-kelompok keagamaan lain yang juga mendaku kebenarannya sendiri dan hidup bersama dengan seluruh pendakuan kebenaran tersebut.

Lebih jauh, kajian sederhana mengenai teks Ulangan 7:1-11 tersebut tidak semata-mata dilihat sebagai suatu teks yang berdiri sendiri tetapi juga hendak dilihat implikasi etisnya dalam perspektif dan praksis hidup bersama dengan berbagai perbedaan (termasuk perbedaan agama-agama). Implikasi etis dari suatu pembacaan terhadap teks-teks keagamaan merupakan upaya untuk menjembatani konteks produksi teks-teks tersebut dengan konteks para pembaca masa kini yang mereproduksi teks-teks keagamaan tersebut dengan pemaknaan-pemaknaan mutakhir (terbaru) sesuai dengan realitas kekinian yang dihidupi. Dengan demikian, teks-teks keagamaan itu tetap hidup dan terus dihidupi karena diyakini mempunyai daya mengarahkan sikap dan perilaku keagamaan melalui pertimbangan-pertimbangan apa yang seharusnya dilakukan dalam situasi kehidupan yang spesifik.

Dalam relasi keberagamaan berbagai kelompok agama, implikasi etis keyakinan beragama merupakan faktor determinan menjaga keseimbangan sosial dimana setiap individu/kelompok merasa diterima oleh liyan sekaligus turut bertanggung jawab menerima liyan. Dengan perkataan lain, implikasi etis terutama dari interpretasi atau reproduksi makna teks-teks keagamaan hanya dapat didaku kebenarannya secara relasional dengan liyan – relational faith. Iman yang terbangun secara relasional. Sebagai yang demikian, maka beriman adalah suatu proses pencarian dan peziarahan kehidupan yang berlangsung dinamis, dialektis dan fluktuatif. Beriman dan/atau beragama yang relasional itu pun menolak untuk dijerat oleh kejumudan tekstual dari berbagai pernyataan absolutisme dalam kitab-kitab keagamaan. Sebaliknya, terus-menerus berupaya untuk melampaui keterbatasan tekstual untuk menggapai tahapan-tahapan kontekstual sebagai hasil dari dialog teks-konteks yang kreatif-kritis. Pernyataan-pernyataan keimanan untuk memaknai identitas secara teologis, yang dalam buku ini disebut sebagai identifikasi “Umat Pilihan Allah”, meski secara in-group dimaknai sebagai basis identitas teologis, namun pada ranah out-group identifikasi itu ditantang untuk terbuka dalam relasi dengan liyan. Oleh karena itu, proses dekonstruksi tekstual itu pun menjadi keniscayaan karena relasi dengan liyan adalah panggilan etika keberagamaan semesta.

Buku ini hanyalah refleksi kecil mengenai relational faith dengan seluruh ketegangan identitas yang menyertai ekspresi beriman atau beragama dari kelompok-kelompok agama yang hidup bersama-sama dalam entitas negara yang majemuk masyarakatnya. Sebuah pantulan kegelisahan beriman, yang digumuli 6 tahun sebelum pecah konflik sosial yang menunggangi isu agama di Maluku tahun 1999-2005. Berbagai perspektif sosiologis agama dan refleksi-refleksi teologis pun diwacanakan sepanjang dan pasca tragedi kemanusiaan tersebut. Pada momentum itulah, buku ini hendak menjadi catatan kecil yang mengingatkan diri sendiri bahwa peziarahan beriman dalam konteks masyarakat majemuk di Indonesia, bahkan dalam konteks internasional, tidak akan pernah berhenti pada satu titik final kebenaran transendental yang absolut. Ia selalu bergerak membangun kanal-kanal komunikasi dan relasi yang kreatif-kritis serta menghidupkan berhadapan dengan kemungkinan-kemungkinan meruntuhkan martabat kemanusiaan semesta.

Secara konseptual dan metodologis, kajian sederhana dalam buku memiliki banyak keterbatasan informasi mutakhir. Studi biblika, etika dan teologi agama-agama telah mengalami perkembangan yang luar biasa. Tujuan utamanya adalah menempatkan salah satu “batu bata” kajian teks keagamaan, interpretasi teologis dan etika sosial dalam satu jaringan epistemik yang saling mengkritik dan saling menyumbang menanggapi realitas kehidupan yang dijalani oleh para pelaku beragama, yang dalam hal ini difokuskan pada Kristianitas dan orang Kristen. Apa yang dicita-citakan melalui publikasi buku kecil hanyalah agar ada rangsangan-rangsangan intelektual untuk melakukan studi lebih lanjut dan lebih mendalam oleh generasi pelaku beragama (Kristen) dan/atau pembelajar teologi selanjutnya. Itu saja. Dari situ jelas bahwa buku ini pada hakekatnya terbuka untuk dikritik melalui perluasan cakrawala berteologi yang lebih kritis dan mutakhir. Semoga.
Read more ...

Tuesday, February 11, 2020

Buru dalam Nalar Kolonial Indonesia

Saya tidak terlalu terkejut mendengar pernyataan Prof. Salim Haji Said saat mengulas pandangannya mengenai “cara” menerima kepulangan anggota ISIS dari Indonesia. Dari pendapat dan gesture-nya, Said tampaknya tidak menalar isu ini sebagai isu sensitif terkait pertahanan negara. Meskipun mengakui bahwa isu ini rumit sehingga – menurut beliau – terlampau sederhana jika diselesaikan hanya melalui proses hukum, tapi – ini uniknya – sebagai seorang political scholar yang matang Said tidak melihatnya sebagai persoalan ideologis. Padahal, sebagai seorang sarjana politik cum jurnalis yang matang dan telah malang melintang dalam kajian politik militer Indonesia, terutama konfrontasi militer dan kubu sosialis-komunis Indonesia di masa lampau, persoalan benturan ideologis semestinya menjadi keprihatinannya. Apalagi, jika melihat rekam jejak dan perjalanan kariernya yang sangat dekat dengan lingkaran militer Indonesia. Hal yang lebih banyak disorotinya adalah mengenai eksistensi anak-anak anggota ISIS tersebut yang seolah diasumsikan sebagai kelompok usia yang belum terkontaminasi ideologi ISIS dan hanya menjadi korban dari kebodohan orang tua mereka. Mungkin saja, Said sengaja mengabaikannya.

Lebih lanjut, dan ini perlu disikapi serius, adalah pernyataan Said mengenai mengarantina anggota ISIS asal Indonesia pada satu pulau tersendiri. Said menyebut dengan “misalnya” Pulau Buru. Penyebutan itu dilakukannya dengan menganalogikan anggota ISIS seperti tahanan politik gestapu pada era 1960an yang oleh pemerintahan Orde Baru Suharto dibuang ke Pulau Buru.

Demikian kutipannya: Apakah caranya misalnya mereka diperlakukan seperti bekas gestapu, taro di Pulau Buru? Ok? Apakah caranya yang ditaro di situ adalah mereka yang terbukti sudah membakar paspor dan ikut bertempur bersama ISIS? Dan bagaimana dengan anak-anaknya? Kalau anak-anaknya tidak ikut dibawa ke “Pulau Buru” itu (sambil menggerakkan tangan tanda petik) bagaimana kita mengatasinya?

Pernyataannya tersebut ditegaskan lagi pada bagian akhir: Nah, kita punya pengalaman-pengalaman yang siapa tahu bisa digunakan. Misalnya, tadi saya sebut, kalau kita takut nanti pulang orang itu ngaco, dikarantina saja, misalnya di Pulau Buru.

Meskipun menempatkan “Pulau Buru” sebagai sebuah analogi dengan referensi “pengalaman-pengalaman masa lalu”, namun diksi geografis-ideologis tersebut dengan jelas memperlihatkan nalar kolonial yang kuat mencengkeram perspektifnya. Saya menyebutnya sebagai nalar kolonial karena Said menggunakan lensa penundukkan kesadaran yang dilakukan penguasa pada masa lampau untuk memahami realitas politik global pasca Perang Dingin yang dalamnya identitas “Indonesia” terlibat. Pada nalar kolonial itu problem politik global yang menciptakan “monster-monster ideologis” baru disimplifikasi hanya sebatas masalah partisipasi parsial sehingga ihwal “kepulangan” kelompok-kelompok pemberontak ini tidak dianggap serius. Bandingkan saja dengan bungkamnya analisis-analisis politik mengenai tindakan tegas negara terhadap kelompok-kelompok yang dicitrakan sebagai “kelompok separatis”, yang lebih banyak diarahkan ke wilayah Indonesia Timur, seperti RMS dan OPM. Akan tetapi, benarkah itu tidak dianggap serius? Saya meragukan seorang akademisi sekaliber Salim Said tidak melihatnya sebagai ancaman serius. Saya condong melihatnya sebagai kesengajaan analisis yang memperlihatkan ambiguitas peranan negara dalam menyikapi kekuatan ideologis vandalisme yang diusung oleh ISIS.
Yang lebih buruk pada nalar kolonial Said adalah pengerasan dikotomis antara “keadaban” yang direpresentasikan oleh Indonesia Barat (terutama Jawa) dan “kebiadaban” yang direpresentasikan oleh Indonesia Timur (terutama Maluku dan Papua). Tidak hanya memposisikan Indonesia Timur (Pulau Buru) dalam konstruksi kesadaran keterasingan dan karenanya layak – seperti masa Orba – dijadikan sebagai tempat pembuangan tahanan politik, tetapi menciptakan dan mempertegas imajinasi kepulauan Maluku (terutama Pulau Buru) sebagai terra nullius.

Secara antropologis, nalar kolonial semacam ini menafikan dimensi kemanusiaan masyarakat lokal – dengan seluruh kejamakannya – di kawasan kepulauan ini. Dengan demikian, semua yang diputuskan di dan didatangkan dari “Jakarta” adalah suatu misi pengadaban masyarakat lokal. Jika mengikuti nalar kolonial Said yang berulang kali menyebut “Pulau Buru” maka kelompok ISIS yang akan (atau sudah?) pulang mesti menjalani sebuah program “cuci otak”, entah dengan cara apa, yang sama sekali tidak memperhitungkan dinamika sosial-politik-ekonomi pada kawasan Pulau Buru sebagai bagian dari Provinsi Maluku tahun 2020.

Sulit membayangkan implikasi ideologis dan sosiologis imajinasi dan nalar kolonial semacam ini yang dilontarkan oleh seorang akademisi kawakan seperti Salim Said. Imajinasi dan nalar kolonial yang dibungkus oleh kemasan akademis (karena dilontarkan oleh seorang professor) akan menjadi legitimasi politik yang melanggengkan cara pandang kawasan timur Indonesia sebagai wilayah “kebiadaban”. Dengan kata lain, tidak ada apapun yang baik dari wilayah timur Indonesia kecuali citra keterbelakangan, ketertinggalan, dan kebodohan.

Pada titik itu, pernyataan yang dilontarkan oleh Prof. Salim Said harus diminta untuk diklarifikasi terutama oleh Pemerintah Provinsi Maluku dan Pemerintah Kabupaten di Pulau Buru. Jika tidak, stigmatisasi “keterbelakangan”, “kebodohan” dan “kebiadaban” akan terus menjadi alat legitimasi politik yang melemahkan potensi kemanusiaan masyarakat Maluku. Lantas, dengan semua itu Maluku dipandang secara instrumentalis sebagai wilayah yang hanya layak dieksploitasi tanah, hutan dan lautnya sembari mengabaikan pengembangan kualitas hidup masyarakat manusianya – sebuah terra nullius yang pada akhirnya hanya menjadi tong sampah untuk menampung kelompok-kelompok pengusung ideologi sampah yang jelas-jelas telah meludahi Indonesia dan membuang kotoran busuk ke muka pemerintah Indonesia.
Read more ...

Thursday, November 14, 2019

Pendeta GPM dan Sidang Raya Ke-17 PGI: Catatan Post-Factum

Sebagai pendeta yang tidak terlibat Sidang Raya (Sidra) ke-17 PGI di Sumba, sebenarnya beta berharap ada cerita yang bisa dibagi oleh rekan-rekan pendeta yang beruntung mendapat kesempatan mengikuti perhelatan gerejawi nasional tersebut (termasuk pertemuan pemuda dan perempuan pra-sidra). Setiap hari beta memeriksa adakah catatan-catatan harian sebagai refleksi iman dalam pergumulan bersama GPM dan gereja-gereja lainnya merespons realitas bergereja dan bermasyarakat akhir-akhir ini.

Ada tergurat sedikit kecewa karena dari sekian banyak pendeta GPM yang terlibat ternyata tidak banyak yang bersedia berbagi narasinya. Di antara yang sedikit itu, sejauh amatan beta, catatan harian (status FB) bung Jacky Manuputty dan bung Elifas Tomix Maspaitella cukup dominan terutama meliput realitas sosial masyarakat Sumba dan perjumpaan-perjumpaan langsung dengan orang Sumba. Sebagian besar status FB lebih memuat foto-foto dan video live yang bertebaran tanpa narasi, kecuali keterangan singkat.

Untunglah, Pdt. Harley Pattianakotta, putra Loki yang berkarya sebagai pendeta Gereja Kristen Pasundan (GKP) dan baru saja ditugaskan oleh Sinode GKP sebagai Pendeta Kampus di Universitas Kristen Maranatha Bandung, dengan setia dan tekun berbagi narasi-narasi kritis yang ditulisnya setiap hari. Dari situlah beta bisa turut mencermati dinamika Sidra PGI dari jauh dan didesak pula untuk masuk dalam pergumulan gereja-gereja Indonesia, terutama dalam kurun 5 tahun terakhir.

Catatan-catatan harian Sidra PGI itu penting dibagikan kepada publik agar perhelatan gerejawi tersebut tidak hanya menjadi omong-omong para elite yang berkerumun menikmati fasilitas dan layanan jemaat-jemaat Gereja Kristen Sumba (GKS) yang pada kenyataannya bergelut dengan masalah-masalah eksistensial kehidupan mereka, seperti kritik dalam tulisan pada tautan ini. Lantas, aksentuasi berlebihan hanya dimuarakan pada momen pemilihan Ketua MPH PGI ~ yang oleh Pdt. Dr. Albertus Patty disebut sebagai "momen krusial". Mengapa hanya momen itu yang disebut "krusial"? Apa yang dimaknainya sebagai "krusial"? Tidak jelas, karena itu hanya ditulisnya sebagai status FB. Namun, yang jelas, bagi beta, suksesi kepemimpinan masih berkutat sebagai orientasi utama dalam sidra-sidra PGI sembari abai pada tujuan utama dari "persekutuan gereja-gereja" yang sedang berlangsung dalam konteks sosial, budaya, politik dan ekonomi jemaat-jemaat GKS yang menjadi host sidra tahun 2019.

Padahal, sidra 2019 ini berlangsung tak lama setelah GPM menggelar Sidang MPL penuh keprihatinan di Jemaat Haruku-Sameth (Hasa), Klasis Lease. Semestinya pergumulan-pergumulan GPM turut mendorong penguatan berbagai diskursus sosial-politik dan ekonomi, yang ditautkan sebagai simpul refleksi dan praksis berteologi dengan situasi problematik GKS. Secara geografis, wilayah pelayanan GPM dan GKS berdekatan dengan karakteristik kepulauan yang tidak berbeda jauh. Secara sosio-teologis, pergumulan GPM dan GKS bertumpu pada realitas ketimpangan pembangunan dan ketidakadilan ekonomi nasional, yang baru-baru saja diwarnai ketegangan antar-elite politik setelah pernyataan Gubernur NTT mengenai saham 5% dari investasi Blok Masela untuk Provinsi NTT. Pernyataan itu pun memicu reaksi dari para elite daerah, terutama Bupati Kepulauan Tanimbar.

Apa artinya itu? Sederhananya, para elite politik ~ baik di daerah (Maluku dan NTT) maupun di Jakarta ~ sedang bertarung berebut kuasa (politik dan ekonomi) dengan mempertaruhkan harkat-martabat rakyatnya sendiri. Isu yang diributkan cuma soal investasi dan rebutan dana pembangunan nasional. Di situlah sebenarnya perhelatan sidra 2019 patut dijadikan sebagai ajang konsolidasi seluruh kekuatan sosial (social capital) dan budaya (cultural capital) untuk melakukan negosiasi nasional dengan berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) entah itu pemerintah (pusat/daerah) atau korporasi transnasional.

Mengapa sidra mesti diposisikan sebagai ajang konsolidasi gereja-gereja? Alasannya jelas terang-benderang: PGI makin luruh wibawanya dalam konstelasi sosial-politik-ekonomi nasional, dan tidak lagi menjadi "avant-garde" dalam gerakan-gerakan pemberdayaan berbasis pada keberpihakan sejati terhadap situasi problematik kemanusiaan Indonesia. Meskipun ketidakhadiran Presiden, Wapres dan Menteri Agama terlalu sumir untuk dijadikan sebagai parameter mengenai insignifikansi momen Sidra PGI, namun tak bisa dipungkiri itu tetap ditafsir sebagai makin menciutnya makna kehadiran PGI di mata pemerintah Indonesia. Kritik pedas oleh seorang pendeta GKS melalui tulisan ini dengan tegas memperlihatkan ironi semacam itu. klik di sini

Benarkah seperti itu? Beta merasa tidak bisa menjawabnya karena hanya bisa mengamati dari jauh. Semoga saja argumentasi kritis dari rekan-rekan pendeta yang mengikuti sidra bisa memverifikasi kritik pendeta GKS ini bahwa kehadiran GPM bersama yang lain tidak hanya "numpang berapat" (termasuk numpang tidur dan menikmati layanan klas-1). Argumentasi yang setidaknya menegaskan bahwa kehadiran GPM dalam Sidra 2019 bukan sekadar plesiran dan aneka selfie sana-sini. Yang lebih penting tentu saja dengan selalu ingat bahwa ada doa dan dana dari jemaat-jemaat kita ~ yang juga sementara bergulat dengan kemiskinan dan bencana ~ yang menopang partisipasi para pendeta GPM di Sumba.

Catatan kecil ini adalah catatan "post-factum" dan karenanya lebih berorientasi refleksi (pantulan) dari momen sidra. Jika ada rekan-rekan pendeta yang bersedia berbagi, beta dengan senang hati menyediakan forum KANJOLI UKIM sebagai forum berbagi dengan ade-ade mahasiswa UKIM (bukan hanya fakultas teologi).

MENA!
Read more ...

Thursday, October 31, 2019

Berani Keluar dari Zona Nyaman


BERANI KELUAR DARI ZONA NYAMAN UNTUK MELAKUKAN TEROBOSAN BAGI KEMASLAHATAN
Catatan singkat dari khotbah Pdt. Dr. Steve Gaspersz, M.A.

Oleh: Pdt. Alfred Ohman, M.Si

Video singkat tentang profil Nadiem Makarim dan dr. Terawan, menjadi pengantar khotbah Pdt. Dr. Steve Gaspersz yang menohok dalam ibadah minggu kemarin (27 Oktober 2019) di gedung gereja Nehemia.

Dengan lugas, Pendeta Steve mengulas tentang dua menteri pilihan presiden Jokowi itu, yang dinilai tidak hanya punya kecerdasan dan mindset yang brilian, tetapi juga keberanian dalam melakukan terobosan di bidangnya masing-masing secara konsisten meskipun dihadapkan dengan berbagai tantangan.

Poin ini sekaligus memberi jawaban atas debat hangat beberapa hari belakangan tentang posisi orang Maluku yang tidak masuk dalam jajaran kabinet. Kendala kita bukan soal tidak ada orang cerdas, melainkan ketidakberanian dalam melakukan inovasi, tandasnya.

Kalau begitu, apa penyebabnya? Pendeta Steve kemudian menguraikan teks Lukas 9:57-62 tentang hal mengikut Yesus. Di sini beliau menjelaskan tentang ucapan Yesus bahwa Ia tidak punya tempat untuk meletakan kepala-Nya. Menurutnya pengertian ini bukan tentang Yesus yang tak punya tempat tinggal (homeless) tetapi lebih kepada seorang yang bebas dan tidak hidup dalam bayang-bayang patron seperti orang-orang Yahudi pada saat itu yang berada di bawah kekaisaran Romawi. Ucapan ini sekaligus menjadi kritikan bagi para pemberontak tetapi juga para "alim ulama" yang cenderung bermain aman daripada bernyali profetik.

Selanjutnya, saya menangkap bagaimana pendeta Steve mengulas tentang ajakan Yesus "ikutlah aku" yang kemudian diresponi dengan dua jawaban. Yang pertama izinkan aku menguburkan bapakku dan kedua izin pamit dari keluarga. Dari dua jawaban ini ia lalu menjelaskan bahwa tradisi dan ikatan keluarga juga menyebabkan seseorang tidak berani melakukan terobosan. Yesus tentu tidak bermaksud tidak menghargai tradisi dan keluarga. Dalam pelayanannya, Yesus sendiri telah menampilkan bahwa ia berani menembusi tradisi dan ikatan keluarga dengan mengunjungi langsung setiap orang tanpa memilah-milah status sosialnya serta memberi jawaban atas setiap persoalan yang dihadapi. Yesus sang pemuda 33 tahun itu mampu melihat apa yang dibutuhkan manusia dan karena itu ia berani melakukan terobosan. Bagi pendeta Steve, terobosan dan inovasi adalah spirit Kekristenan.

Lebih lanjut, dari khotbahnya juga mengingatkan agar kita tidak terbius oleh romantisme masa lalu sembari mempertanyakan dimana sesungguhnya posisi kita. Apakah berada di barisan orang-orang yang berinovasi ataukah sama seperti orang-orang yang hidup di bawah bayang-bayang tradisi dan ikatan keluarga. Gereja mesti berani melihat keluar tentang kemana arah pendidikan kita, gumulan keumatan, begitupun tentang anak-anak muda kita.

Dalam khotbahnya, ia mengungkapkan bahwa mengikut Yesus tidak cukup hanya mengagumi simbol salib Yesus tapi mampu menjadi teladan Kristus.

Mengikut Yesus tidak hanya berkaitan dengan kesibukan ritual tetapi bagaimana menjadi ASN atau Anggota TNI/Polri yang disiplin, menjadi mahasiswa yang menghargai keringat orang tua dan mampu berprestasi, tidak cepat puas dan merasa cukup dengan apa yang kita ketahui, sebab di situlah pertaruhan kita. Beliau pun mengingatkan bahwa dunia hari ini bicara tentang data dan bukan berdasarkan perasaan dalam pengambilan keputusan ataupun ikatan keluarga.

Ia juga memberi pesan bahwa orang tua perlu membangun komunikasi dalam menyiapkan anak-anak sebagai pemimpin, tentu bukan dengan umpatan dan makian tetapi dorongan yang memotivasi. Sementara di lain sisi, ia menantang para pemuda untuk keluar dari kenyamanan dan melakukan terobosan-terobosan bagi kemajuan.

Terima kasih, Pendeta Steve atas khotbahnya yang menukik dan menginspirasi beta serta kawan-kawan pemuda di perayaan 91 tahun Sumpah Pemuda untuk lebih produktif melalui berbagai terobosan.

Bagi beta Sumpah Pemuda adalah momentum yang menegaskan keberanian orang-orang muda untuk melakukan terobosan sama seperti seperti yang telah dilakukan Yesus sebelumnya.

Teruslah bergerak, pemuda Maluku. Kobarkan semangatmu untuk melakukan terobosan. Jang takisu. Tarus maju voor hal bae. Biar apa datang dari muka, jangan undur eee..

Tabea!
Read more ...

Tuesday, October 22, 2019

One Earth, Many Faces

One Earth, Many Faces