Aku menulis maka aku belajar
Showing posts with label Women. Show all posts
Showing posts with label Women. Show all posts

Tuesday, June 16, 2020

Lien


Beta mengenal sosok Pdt. Paulien (Lien) Gaspersz-Ruhulessin tahun 1990. Pada waktu itu beta baru saja menjadi mahasiswa Fakultas Teologi UKIM dan tinggal bersama Oma Sus (dari pihak papa) di kawasan “paradise” atau Jalan Said Perintah Ambon. Beta mulai beradaptasi dengan lingkungan masyarakat Ambon karena sejak lahir dan kecil (bersama adik-adik) bertumbuh dalam lingkungan sosial-budaya Kota Malang karena diasuh oleh Opa-Oma (dari pihak mama). 

Perjumpaan pertama dengan usi Lien dan bung John Ruhulessin terjadi dalam ibadah AM-GPM di wilayah paradise. Ibadah saat itu berlangsung di rumah keluarga Ruhulessin-Gaspersz, sekaligus bung John menjadi pembawa materi diskusi dalam ibadah. Itu saat beta mengenal sosok bung John, yang dikenal sebagai pendeta muda yang berkharisma dan cerdas, dan istrinya, usi Lien, seorang pendeta perempuan yang cerdas, ramah dan rendah hati. Karena kesamaan fam Gaspersz, maka kami kemudian lebih saling mengenal sebagai saudara (dari Negeri Naku, Pulau Ambon). 

Tidak banyak hal yang beta tahu mengenai perjalanan karier usi Lien sebagai seorang pendeta GPM. Sejauh yang beta tahu adalah usi Lien menjalani tugas vikariat di Jemaat Dian Darat Kei Kecil. Kemudian setelah ditahbiskan sebagai pendeta, beliau ditugaskan oleh Badan Pekerja Harian Sinode GPM waktu itu sebagai pendeta di Jemaat Khusus Hok Im Tong, yang sebagian besar warga jemaatnya adalah peranakan Tionghoa Ambon dan lebih dari separuh jumlahnya berprofesi sebagai pedagang atau pengusaha di Kota Ambon. Usi Lien juga pernah menjabat sebagai Sekretaris Klasis Kota Ambon mendampingi Pdt. Max Siahaya sebagai Ketua Klasis. Beta tahu itu karena beliau menandatangani Surat Sidi beta. Beta sempat tinggal dengan keluarga Nanlohy (saudara dari pihak Oma Dien) di kawasan Soya Kecil dan karenanya terdaftar sebagai anggota sidi Jemaat GPM Bethel.  

Menurut cerita dari bung John Ruhulessin, suaminya, semasa kuliah dulu usi Lien sebenarnya lebih tinggi prestasi akademiknya dibandingkan bung John. Bahkan usi Lien adalah anggota Resimen Mahasiswa (Menwa) STT GPM. Namun, usi Lien lebih memilih melayani di jemaat daripada menjadi dosen dan lebih mendorong bung John untuk berkarier sebagai dosen. Usi Lien mendampingi bung John dalam peziarahan studi di Salatiga dan Amerika Serikat, serta menopang karier bung John sebagai dosen dan juga sebagai Ketua Umum MPH Sinode GPM selama dua periode. Meskipun suaminya seorang ketua sinode, tapi usi Lien tetap memperlihatkan karakter low profile yang luar biasa. Beliau mudah bergaul dengan siapa saja, tak pandang status sosial atau ekonomi. Murah senyum dan jarang sekali menanggapi sesuatu secara emosional. Bahkan selama kepemimpinan bung John sebagai ketua sinode, usi Lien tampak mengambil jarak kritis sehingga lebih banyak berada di balik panggung pelayanan bung John. Usi Lien sempat menjabat sebagai salah seorang kepala biro di Kantor Sinode GPM. Tapi tidak lama karena beberapa tahun sebelum masa emeritasinya beliau diminta kembali membantu pelayanan di Jemaat GPM Hok Im Tong.

Jika tidak salah ingat, pelayanannya di jemaat itu diperpanjang beberapa waktu meskipun sudah menjalani masa emeritasi. Rupanya, Sinode GPM melihat karakter usi Lien sangat berterima oleh jemaat tersebut. Memang tidak mudah bagi MPH Sinode GPM untuk menugaskan pendeta di jemaat ini. Dibutuhkan kualifikasi karakter pelayanan dan kepemimpinan yang “khusus” untuk melayani anggota jemaat yang sebagian besar adalah peranakan Tionghoa Ambon. Identitas ketionghoan itu sangat mempengaruhi cara pandang mereka terhadap gereja dan pelayanannya, sehingga pola kepemimpinan pendeta dan program-program pelayanannya tidak seperti jemaat-jemaat GPM lazimnya yang beranggotakan orang-orang Ambon/Maluku pribumi. Sosok kepemimpinan dan pelayanan usi Lien tampaknya sangat berterima dengan karakter jemaat tersebut. 

Sosok usi Lien dalam kesehariannya lebih beta kenal saat bung John, sebagai Ketua Sinode GPM, membentuk tim kerja untuk melakukan penyederhanaan dokumen PIP/RIPP GPM yang melibatkan beta dan beberapa teman pendeta muda. Rumah dinas ketua sinode di kawasan Mardika disediakan sebagai sekretariat untuk pertemuan dan kerja-kerja tim. Beta ingat setiap saat kami bekerja di lantai 2 rumah itu, setiap beberapa jam usi Lien sudah mempersiapkan jajanan ringan, minuman dan makanan pada setiap jam makan, bahkan suplemen vitamin. Jika berada di rumah, usi Lien selalu naik ke lantai 2 untuk menanyakan apa yang menjadi keperluan tim, terutama mau menu makanan apa. 

Perjumpaan beta dengan usi Lien tidak hanya pada acara-acara gerejawi tapi juga pada acara-acara kemasyarakatan atau adat. Kami berdua punya fam yang sama dan berasal dari kampung yang sama, yaitu Naku. Jika ada acara-acara kampung, usi Lien selalu tampak hadir bersama kedua anak: Joyna (Joy) dan Stefano (Fano). Ia dengan luwes membaur dengan semua orang tanpa merasa diri “elite” karena oleh banyak orang dikenal sebagai istri seorang ketua sinode dari gereja terbesar di timur Indonesia. Usi Lien lebih menonjol dalam kerja-kerja yang praktis dan konkret daripada berbicara banyak konsep-konsep pelayanan yang abstrak. Ia tampil sebagai sosok penyeimbang bung John Ruhulessin yang lebih dikenal dengan pemikiran-pemikiran konseptual-teoretik sebagai akademisi. 

Sejak beta dan Nancy menjalani studi di Yogyakarta dan Salatiga selama kurang-lebih 6 tahun (2011-2017), kami tidak lagi bertemu. Hanya mendengar kabar dari jauh. Ketika selesai studi dan kembali ke Ambon, kami mulai sering bertemu. Perjumpaan yang paling sering adalah di sekolah Kailani, TK Fast Start, yang terletak di kawasan Tanah Lapang Kecil (Talake), dekat kampus UKIM. Sejak pulang studi, kami mencoba mendaftar Kailani di beberapa TK, mulai dari TK di Belakang Soya milik Suster Brigita Renyaan, TK Kasih Ibu milik pemda di Karang Panjang, dan terakhir TK Fast Start di Talake. Bung John dan usi Lien sering tampak bergantian antar-jemput cucu mereka (putra dari Joyna) yang bersekolah di situ. Beta dan Nancy juga sering bergantian antar-jemput Kailani, karena lokasi sekolah dekat dengan kampus. Biasanya, setelah menjemput Kailani pulang dari sekolah, kami membawanya ke kampus dan pulang bersama-sama ke rumah ketika tugas-tugas di kampus selesai. 

Beberapa waktu sebelum sekolah-sekolah dinonaktifkan oleh pemerintah karena ancaman penyebaran virus corona, beta tidak lagi melihat usi Lien. Saat menjemput Kailani pulang sekolah, beta sempat bertemu Joyna. Darinya beta mendengar kabar bahwa usi Lien bersama bung John sedang menjalani medical check-up di Jakarta. Semula beta berpikir hanya proses pemerikasaan kesehatan rutin. Tapi beta merasa usi Lien sedang mengalami sakit yang serius karena hampir selama satu semester bung John tidak aktif di kampus. Bung John dan beta menangani bersama (team-teaching) satu matakuliah pada Program Pascasarjana UKIM. Bung John pernah mengirim pesan pribadi kepada beta agar menangani dulu matakuliah itu sendirian karena beliau sedang mendampingi usi Lien di Jakarta. 

Tanggal 15 Juni 2020 tengah malam, bertepatan dengan hari ulangtahun ke-6 Kailani, bung John mengirim pesan WA dari Jakarta: “In su seng ada pada pukul 10.59 WIB”. Sedih sekali. Kami merasa sangat kehilangan figur seorang pendeta perempuan yang tangguh, berdedikasi, dan rendah hati. Seorang perempuan hebat yang menjadi sandaran kokoh bagi suami dan anak-anaknya dalam meniti karier dan menjalani kehidupan mereka. Bagi beta dan Nancy, usi Lien adalah teladan sejati yang memperlihatkan karakter kokoh seorang perempuan sekaligus pendeta yang lurus, tegas, sekaligus luwes dalam berkomunikasi dengan semua orang. Seolah ia tidak mau dirinya dikapling pada satu kotak identitas yang kaku, berjarak dan elitis. Ia merangkul dan menyapa semua orang. Hingga akhir hayatnya, usi Lien memperlihatkan dirinya sebagai ibu bagi anak-anaknya, bagi jemaat yang dilayaninya, bahkan bagi banyak orang. Ia telah menjadi "Mama GPM". 

Bung John sendiri, suami yang sangat dikasihinya, pernah memberikan testimoni bahwa di balik segala keputusan-keputusan penting yang diambilnya sebagai ketua sinode pada masa-masa krisis (konflik sosial), usi Lien adalah sosok istri yang terus mengingatkan apa yang seharusnya menjadi prioritas dari keputusan-keputusan itu. Bung John pernah berkata: “In selalu sombayang saat beta mau keluar rumah dan menanyakan apa yang sudah diputuskan oleh gereja/ketua sinode setiap hari, untuk dibawanya dalam doa. Beta bisa seperti ini karena In pung sombayang.” Pada detik-detik terakhir, bung John bersaksi, usi Lien berdoa: "Tuhan, berikan kepadaku apa yang Tuhan pandang baik."

Tuhan sungguh mengasihi usi Lien dan kini tengah merangkulnya dalam kedamaian ilahi yang abadi di Surga. Kami akan selalu mengenang kebaikanmu, usi Lien. 

Tertunduk dalam duka ... kami kehilangan sosok ibu dan pelayan sejati ... Menyebut dengan hormat "Ibu Lien" Di hati beliau ada hati Aĺlah ... Di senyum beliau ada keramahan Allah... Dalam kebaikan beliau, ada cinta abadi Aĺlah Dalam kerendahan hati beliau, ada martabat yang tinggi dan tanpa batas ... Dalam ketabahan beliau ada kekuatan Aĺlah... Dalam kesetiaan beliau, ada rahmat Allah Dalam ketenangan beliau, ada semangat yang tak lekang... Kata terima kasih, tak cukup ungkapkan betapa warisanmu menginspirasi kami, ibu... (karya: Nancy Souisa)
Read more ...

Wednesday, January 9, 2008

Mencari yang tersentuh dan bebas: Teologi [Kristen] Feminis Indonesia Pasca Marianne Katoppo

Tanggal 12 Oktober 2007 pukul 20:23 saya menerima layanan pesan singkat (sms) dari istri saya – Pdt. Nancy Souisa – yang sedang bertugas di Papua. Isi sms-nya: “Bung,ibu Mariane Katopo meninggal”. Sungguh, saya terkejut. Betapa tidak, beberapa minggu sebelumnya saya dan istri saya terus-menerus mendiskusikan Marianne Katoppo (MK). Diskusi itu berkaitan dengan rencana Perhimpunan Sekolah-sekolah Teologi di Indonesia (PERSETIA) – lembaga tempat istri saya mengabdi – yang bekerja sama dengan Penerbit Aksara Karunia menyelenggarakan acara peluncuran buku MK “Tersentuh dan Bebas: Teologi Seorang Perempuan Asia”. Malah, hasil diskusi tersebut mendorong kami untuk melacak kembali sejumlah karya MK (dalam bentuk buku maupun artikel). Selain pihak keluarga besar Katoppo, Nancy tentu adalah orang cukup shock. Selama beberapa waktu dia berproses bersama MK untuk penerbitan bukunya itu, tetapi ketika MK pergi dia justru sedang berada jauh dari Jakarta. Sampai sekarang dia masih menyimpan sms terakhir dengan MK – “ini percakapan terakhir dengan MK”, ujarnya.

Siapakah MK? Untuk itu Anda bisa menelusuri lewat search-engine Google di internet. Dalam sekejap kita bisa menemukan ribuan entries yang menautkan nama Marianne Katoppo yang dipasang di berbagai situs jaringan (websites). Oleh karena itu, saya tentu tidak ingin lagi mengulang hasil pencarian itu di sini tentang siapa MK. Namun, hasil pencarian di dunia maya itu sungguh-sungguh membuat saya terkesan dengan figur MK. Sejak masih studi di Fakultas Teologi UKIM, saya memang sudah mendengar nama MK dalam ranah akademik teologi global. Setidaknya, saya – waktu itu – berbangga bahwa di antara sederetan nama-nama “raksasa-raksasa” teologi Barat, toh tersisipkan nama seorang perempuan Indonesia, Marianne Katoppo.

Nama MK makin akrab di telinga ketika saya berkenalan dengan seorang perempuan – yang sekarang adalah istri saya – yang juga gigih menyelami persoalan-persoalan feminisme kontekstual. Saya membaca secara serius karya MK Compassionate and Free (WCC, 1979) pada saat istri saya, Nancy, menulis tesis pada Program Pascasarjana Magister Sosiologi Agama Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Sungguh, saya kagum dengan kemampuan MK untuk doing theology (bukan hanya sekadar belajar atau rajin membaca buku teologi!) sebagai seorang perempuan yang menurut pengakuannya terkungkung dalam tiga “minoritas”: Asia, Kristen, perempuan. Melacak MK lebih jauh justru membawa saya ke dalam rimba belantara teks-teks sastra yang nyaris menyesatkan. Sulit membingkai MK hanya pada satu terali “teologi”, karena ternyata artikulasi teoretis dan praksis MK sudah melampaui ranah yang mahaluas dengan kecerdasannya sendiri.

Kendati ada keinginan berdiskusi dengan MK, toh hingga kepergiannya menjumpai Sang Tuhan yang diempukannya, saya belum pernah sekali pun mendapatkan kesempatan itu. Yah, sudahlah. Namun, saya makin menyadari makna pepatah “gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang” – betapa pentingnya meninggalkan “warisan” pemikiran yang terartikulasi dalam wujud buku. Tanpa fisik MK, saya ternyata menjumpai dia dalam kritik-kritiknya, diksi-diksinya, yang cerdas dalam bukunya. Dan ternyata MK tetap “hidup”.

Perempuan 3D

Tidak sulit mencari perempuan Asia-Kristen yang pintar dan bergelar, tetapi menurut saya sulit mencari Perempuan-Asia-Kristen setangguh MK. Dia tangguh bukan karena dia mampu menguasai 10 bahasa asing, tetapi karena dia menyelami hidupnya dengan petualangan-petualangan intelektual lintas budaya. Dia tangguh bukan karena dia pernah belajar di luar negeri, tetapi dia menghayati identitasnya sebagai perempuan serta memberi makna “yang lain” di tengah-tengah diskursus identitas multikultural. Dia tangguh karena dia memilih menjadi dirinya sendiri, perempuan merdeka yang menolak dideterminasi oleh “gelar” dan “status sosial”.

Mengenang MK dengan seluruh sepak-terjangnya di dunia feminisme global pada saat yang sama adalah juga mengajukan pertanyaan: kemana arah feminisme (teologi Kristen) Indonesia? Saya tahu bahwa banyak teologiwati Indonesia yang cukup garang menyuarakan kritik sosial mereka terhadap penindasan perempuan dalam arti luas. Sayangnya, menurut saya, mereka lebih banyak tenggelam dalam retorika teologis yang tidak berakar pada gulatan-gulatan lumpur Indonesia. Bacaan-bacaan mereka “berat”, tetapi “kurus” dalam eksplorasi keperempuanan yang “menyentuh dan membebaskan”. Pendapat-pendapat mereka kritis, tetapi dengan mudah ditepis karena tidak dibangun di atas kerangka epistemologis yang andal. Banyak yang merujuk feminis-feminis Barat, tetapi terpuruk ketika mesti menyebut perempuan-perempuan biasa di tanah sendiri, padahal mereka juga melakukan banyak hal yang luar biasa.

Saya dengar PERSETIA bekerja sama dengan Pusat Studi Feminis Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta akan menyelenggarakan lokakarya penulisan buku teologi feminis di awal 2008. Mungkin ini waktunya mengerahkan dan mengarahkan energi perempuan 3D dalam kurikulum sekolah-sekolah teologi di Indonesia. Marianne Katoppo, perempuan 3D itu, telah pergi. Tetapi saya – laki-laki biasa – percaya bahwa kerangka feminisme MK dapat menjadi spektrum yang menerobos kebekuan dan kekeluan teologis dalam kurikulum sekolah-sekolah teologi ketika mesti berbicara tentang perempuan. Saya – laki-laki biasa – berharap momentum diskursus teologi feminis PERSETIA menjadi proses lingkaran hermeneutis yang mengajak setiap orang – perempuan dan laki-laki – “tersentuh dan bebas”.

Read more ...

One Earth, Many Faces

One Earth, Many Faces