Aku menulis maka aku belajar

Monday, August 17, 2020

75

Sobat saya, Ikhsan Tualeka, kabarnya akan segera meluncurkan buku bertajuk "Maluku Menggugat". Salut! Tajuk yang seolah menahan sejenak detak jantung kebudayaan dari suatu masyarakat yang sejak negeri ini dinyatakan "merdeka" pada 75 tahun silam, seolah hanya menjadi pelengkap penderita. Mengapa menggugat? Apa yang digugat? Kita nantikan saja penerbitan buku Ikhsan Tualeka itu.

Tahun lalu (2019), sobat saya yang lain, Haris Touwely, sumringah dan bergegas pulang ke kampungnya, Riring, yang terletak di pegunungan Pulau Seram, tepatnya Kabupaten Seram Bagian Barat, Kecamatan Taniwel. Apa pasal? Katanya, ada peresmian jalan beraspal yang sudah mencapai kampungnya itu. Bagi kebanyakan orang yang terbiasa hidup di pusat-pusat kota, itu hal biasa. Tapi tidak bagi sobat saya ini dan seluruh warga kampungnya. Baru pertama kali ini sejak Indonesia dinyatakan merdeka 74 tahun silam (1945-2019), jalan beraspal bisa tembus hingga ke kampungnya itu.

Kemarin pagi seorang sobat lain, Samanery Juhri, mengirim tautan klip video kami belum merdeka yang memperlihatkan betapa besar perjuangan dan pengorbanan dari warga Desa Neat dan Desa Liang di Pulau Buru (Selatan) jika mereka hendak pergi ke tempat lain. Rekaman video itu menampilkan usaha warga kedua desa dengan membuat jembatan tali luncur untuk menyeberangkan orang di atas aliran sungai yang deras.

Tiga cerita itu, tentu saja, hanya cerita-cerita yang dianggap kecil dan bisa kita abaikan begitu saja selagi kita tidak merasa berkaitan dengan urusan perut dan duit kita. Cerita-cerita yang dianggap kecil dibandingkan dengan cerita besar korona yang menyedot stamina kebangsaan kita hanya dalam hitungan bulan. Bahkan memaksa pemerintah republik ini menggelontorkan trilyunan rupiah untuk mempersiapkan segala fasilitas dan obat/vaksin. Cerita-cerita itu memang hanyalah cerita orang kecil yang karena segala usaha mandirinya mengatasi segala keterbatasan infrastruktur hidup, mereka berjuang tanpa merasa perlu diberi penghargaan bintang jasa atau gelar kehormatan.

Semua itu hanya cerita-cerita pendek dari perjalanan panjang 75 tahun republik ini. Mungkin saja, akan segera tenggelam di tengah hiruk-pikuk pekik "merdeka" yang akan terdengar seharian ini (17 Agustus 2020).

Read more ...

Sunday, August 16, 2020

JaNus

Saya berterima kasih kepada para mahasiswa Prodi Ilmu Keperawatan Fakultas Kesehatan UKIM (yang dinakhodai Dekan Belly) yang telah berpartisipasi aktif selama Semester Antara yang baru saja usai. Proses pembelajaran semester itu memang tak mudah karena berjalan tidak seperti masa-masa pra-pandemi. 

Namun, dengan segala keterbatasan yang ada, diskusi-diskusi selama pembelajaran matakuliah "Pendidikan Multikultural" yang terkurung "dalam jaringan" telah menginspirasi ide-ide kreatif. JaNus ini contohnya. 

JaNus adalah proyek belajar kreatif untuk mengimplementasikan gagasan multikulturalisme dalam bentuk-bentuk praksis. JaNus adalah singkatan dari Jalan-jalan Nusantara. Ada 2 kegiatan yang dilakukan. Pertama, setiap mahasiswa harus mencari, menghafal dan menyanyikan lagu-lagu dari berbagai daerah Nusantara. Kemudian direkam dan diunggah pada Goggle Classroom matakuliah ini. Kedua, sebagai tugas akhir, setiap mahasiswa harus memilih 1 menu makanan khas daerah Nusantara dan membuat video tutorial mulai dari penyiapan bahan-bahan dasar yang dibutuhkan, cara pembuatan, hingga penyajiannya. Video itu kemudian diunggah juga pada Google Classroom matakuliah itu. 

Refleksi para mahasiswa mengenai proyek JaNus ini sangat menarik. Dari video lagu Nusantara, mereka mengakui betapa sulitnya menyanyikan lagu dengan bahasa yang mereka tidak kuasai. Meski lagunya akrab di telinga, tapi lidah mereka agak sulit melafalkan kata-kata dalam bahasa daerah tertentu. Memang syarat tugas ini adalah mahasiswa harus memilih lagu dari luar daerah Maluku. 

Demikian halnya dengan JaNus kuliner. Semula mahasiswa keberatan dengan syarat tidak boleh memilih menu yang sama. Saya memang meminta agar mereka berembug dulu di antara teman-teman sekelas dalam penentuan menu masakan. Ternyata setelah itu mereka mengakui banyak sekali menu masakan Nusantara yang baru mereka tahu. Eksperimen kuliner itu pun menjadi sesuatu yang menarik. 

Namun, yang terlebih utama ialah dari proyek belajar JaNus ini para mahasiswa mengakui bahwa "menjadi Indonesia" dengan segala keanekaragaman identitas ternyata tidaklah mudah. Dibutuhkan kerelaan untuk menegosiasikan identitas sendiri dengan berbagai identitas liyan, dituntut komitmen untuk mengelola secara arif bahan-bahan kebudayaan lokal yang bermacam-macam bentuk dan rasa menjadi suatu performa hibrid yang saling berdamai, dan diperlukan kapasitas untuk meresapi perbedaan sebagai kekayaan yang jika diramu dengan citarasa yang pas akan menghasilkan suatu perjumpaan yang nikmat. 

Saya mengapresiasi kerja keras para mahasiswa ini. Hanya sebatas itu yang bisa saya lakukan. Karena masakan yang sudah dibuat oleh para mahasiswa tidak bisa saya nikmati dengan lidah. Hanya menjadi kenikmatan untuk ditonton "sampe aer mulu tumpah". 

Selamat merayakan "menjadi Indonesia" yang ke-75 tahun. Semoga ingatan kita tidak melapuk bahwa pilihan menjadi Indonesia adalah kesepakatan bersama untuk meramu dan menghidupi aneka perbedaan identitas Indonesia itu. MENA MURIA!
Read more ...

One Earth, Many Faces

One Earth, Many Faces