Aku menulis maka aku belajar

Monday, November 30, 2020

64


Waktu masih menunjuk sekitar 5.45 WIB ketika bus Surabaya-Semarang menurunkan saya di Jetis Kota Salatiga. Badan cukup lelah. Saya dan Stevy Likumahwa telah menempuh pelayaran dengan KM Rinjani klas ekonomi selama empat hari Ambon-Surabaya. Stevy langsung ke Jakarta dan akan menyusul ke Salatiga. Saya langsung ke Salatiga.

Saya bingung. Ini kali kedua menginjak kota sejuk ini. Tapi kunjungan pertama hanya mengikuti seminar selama 2 hari beberapa tahun silam sebelumnya. Saya memanggil seorang pengayuh becak dan meminta mengantar saya ke Asrama Kartini 11A (Askarseba). Tidak ada ponsel saat itu. Saya hanya mengandalkan percakapan terakhir dengan John Titaley (JT) sebelum meninggalkan Ambon. Setelah bertanya ke petugas satpam, saya diarahkan ke perumahan dosen tempat JT tinggal. Saya diterima JT dan ibu
Ida Imam
. Setelah menyeruput teh hangat dan sarapan, JT menelepon pak Slamet dan menanyakan tentang kamar di Unit 7 (Pascasarjana). Tak lama setelah itu, JT sendiri mengantar saya berjalan kaki menuju Unit 7 kamar 701.
Itulah hari saat hidup saya selanjutnya terhubung dengan Satya Wacana. Saya dan Stevy Likumahwa adalah 2 mahasiswa pascasarjana di antara beberapa mahasiswa (S1) lainnya yang saat itu ditolong oleh UKSW untuk menyelesaikan studi pascasarjana yang terhambat karena situasi Ambon yang sedang bergolak oleh konflik sosial. Status kami adalah mahasiswa titipan. UKSW saat itu berani menerima kami dan mengelola kehadiran kami sedemikian rupa sehingga dapat disesuaikan dengan sistem pendidikan yang berlaku di kampus itu. Kami diberi waktu hanya sekitar 6 bulan untuk menyelesaikan penulisan tesis. Biaya studinya? Dalam satu kunjungan ke Australia, JT mengontak beberapa mahasiswa Maluku yang sedang studi di sana. Salah satunya adalah
Marthin Nanere
(sekarang mengajar di La Trobe University Australia). Dari hasil pertemuan singkat itu, ada komitmen untuk membantu biaya hidup kami berdua selama di Salatiga dan UKSW memberikan sejumlah dispensasi biaya studi.
Askarseba Unit 7 kamar 701 menjadi saksi pergulatan studi saya siang dan malam untuk mengolah semua data yang telah saya kumpulkan, menganalisis, dan menyusunnya bab demi bab hingga selesai menjadi tesis. Komunitas Askarseba adalah keluarga bagi saya.
Sejak saat itu, Salatiga dan UKSW ternyata menjadi "ruang kehidupan" bagi saya dan keluarga saya.
Nancy Souisa
menyelesaikan studi S2 di UKSW dan kemudian melanjutkan tugasnya sebagai Direktur Pelaksana (Dirlak) Persetia di Jakarta selama 2 periode (10 tahun). Tahun 2012, ia melanjutkan studi S3 juga di UKSW, sementara saya setahun sebelumnya (2011) sudah berproses di ICRS-UGM Yogyakarta. Kami mengontrak rumah kecil di Perum Purisatya Permai. Setiap 2 minggu saya bolak-balik Yogya-Salatiga dengan sepedamotor Suprafit bekas yang saya beli di Yogya. Sekarang (2020), putra kami,
Kainalu Gaspersz
, melanjutkan kuliahnya di Prodi Hubungan Internasional, FISKOM UKSW. Putri kami, Kailani Gaspersz, lahir di Salatiga. Ibu Ida Imam menjadi orangtua pertama yang menengok Nancy di RSIA Mutiara Bunda karena saat itu saya sedang menjalankan tugas di GKI JenSud.
Ketika melihat kembali jejak-jejak langkah yang saya jalani hingga saat ini, sulit untuk tidak melihat UKSW sebagai "rumah kehidupan" saya, meskipun saya hanya setengah alumni. Dengan seluruh narasi sejarahnya yang panjang selama 64 tahun, saya bangga telah menjadi bagian dari kampus ini yang dalam banyak hal telah membentuk corak intelektualitas saya dan memperkokoh persaudaraan yang cerdas dan elegan dalam komunitas kampus yang multi-identitas.
Tahun 2014, saya, Nancy Souisa,
Izak Y. M. Lattu
dan
Tedi Kholiludin
menginisiasi sebuah buku antologi sebagai penghormatan kepada John Titaley. Waktu itu usia beliau genap 64 tahun. Banyak yang bertanya: Mengapa tidak dibuat tepat 65 tahun? Kami tidak tahu jawabnya. Waktu itu tujuan kami hanya ingin memberi "kado" kepada JT. Untunglah, Romo Mudji Sutrisno, SJ yang bersedia memberi endorsement membantu menjawab dalam catatannya yang terpasang di sampul belakang buku itu: "64 tahun dalam kebijaksanaan Jawa adalah usia tumbuk, artinya bertemulah 'spiritual depth and life wisdom' dari Allah Sang Pencipta."
Dari sejumlah orang yang kami kontak, ada 19 orang yang pernah belajar di UKSW di bawah asuhan JT yang bersedia menulis. Uniknya, tidak ada honor bagi para penulisnya. Sebaliknya, setiap penulis urunan untuk biaya cetak dan publikasinya. Saya dan Tedi Kholiludin menjadi editornya. Biaya cetak ternyata tidak cukup. Alhamdulilah,
Sumanto Al Qurtuby
yang waktu itu rezekinya lagi meroket karena sudah menjadi profesor di Universitas Notre Dame AS, mengirim sejumlah dolar AS, sehingga akhirnya buku itu bisa dicetak dan terbit meski oplahnya terbatas sekali.
Hari ini kami sekeluarga mengucapkan Selamat Ulang Tahun ke-64 UKSW! Semoga ini juga menjadi "usia tumbuk" dimana "spiritual depth and life wisdom" dari Allah Sang Pencipta bertemu dan tetap menjadi berkat bagi dunia pendidikan tinggi Indonesia.
** Mengenang sahabat Stevy Likumahwa yang beberapa bulan setelah wisuda S2 menjadi korban penyerangan kelompok tak dikenal di rumahnya.
Read more ...

Saturday, November 28, 2020

Indonesia dari Lemba Tongoa

Tepat saat gema adventus dikumandangkan dan pesan-pesannya bertaburan di media sosial, ada dentum penganiayaan yang kelam dan bisu di Lemba Tongoa (Jumat, 27/11/2020). Tubuh-tubuh tumbang tak bernyawa dan aroma sangit rumah-rumah yang hangus menjadi noktah suram mengiringi penghujung tahun ini. Berita ini tak seriuh kejadian yang disajikan oleh banyak media mengenai Jakarta. Jakarta memang punya daya gravitasi karena, bisa jadi, mentalitas kita telah lama dibelah oleh kepicikan “pusat” dan “daerah”. Maka daerah dan semua yang terjadi di sana tak lebih panorama sekilas yang menjadi latar remang-remang dari gemerlap Jakarta. Lihat saja, bagaimana pose membaca buku seseorang di Jakarta tiba-tiba viral dan media sosial dipenuhi pose-pose latah “membaca buku”. Tentu saja, peristiwa pilu Lemba Tongoa bukan soal “how democracy dies” tapi soal kemanusiaan yang dibekap, dilumpuhkan dan dipenggal hingga mampus demi sesuatu alasan yang tak beralasan. Entah apa. 

Ketika daya gravitasi Jakarta itu menyedot seluruh darah kebhinekaan Indonesia ini maka yang tersisa hanyalah wacana tunggal yang terpusat di seputaran Monas saja. Pesona keindonesiaan yang jamak identitas dan merentang jauh dari orbit Jakarta itu pun nyaris terabaikan dan dibisukan. Ini bukan semata soal agama. Ini lebih pada soal apakah kita masih bisa melanjutkan kesepakatan kita mengindonesia dengan cara-cara barbar di sebuah era ketika manusia-manusia di belahan lain bumi ini sedang genit dengan artificial intelligence dan garang mengumandangkan akar-akar hak asasi manusia. Ini juga bukan problem mayoritas-minoritas, karena sedari awal fondasi republik ini tidak dirajut dengan benang-benang sentimen mayoritas-minoritas tapi pada rasa hormat yang dalam terhadap multi-identitas yang menyusun berbagai kromosom kebudayaan, lokalitas, religiositas, dan nasionalitas menjadi darah-daging-tulang republik ini. Secara faktual-historis, tubuh republik ini tak putus didera pukulan dan bacokan sentimen-sentimen primordial. Kendati terhuyung-huyung dengan luka dan lebam di sekujur tubuhnya, kita masih bersikukuh untuk bertahan. Tapi, sampai kapan?

Jika daya gravitasi Jakarta masih kuat mempesona dan memabukkan hingga mata kita kian rabun, telinga kita makin tuli dan rasa kita makin tumpul terhadap hakikat mengindonesia ini, tidakkah kita sedang mengubur hidup-hidup utopia “menjadi Indonesia”? Padahal utopia itu kita butuhkan sebagai pengingat kewarasan bahwa tidak ada spesies übermensch yang atas nama tuhan apapun bisa menggilas nilai-nilai kemanusiaan dari manusia lainnya. Rakyat republik ini dalam kemenjadian historis dan antropologisnya telah menaruh hormat dan rasa percaya kepada segelintir orang yang didefinisikan sebagai “pemerintah”. Di dalam sikap hormat dan rasa percaya itu terkandung harapan besar bahwa teladan-teladan kepemimpinan yang visioner dan manusiawi akan menentukan orientasi pengelolaan kekuasaan yang rumit, kusut dan saling berbenturan. Di situlah daya gravitasi Jakarta mesti diinterupsi agar semua kita belajar dan terbiasa untuk membaca Indonesia bukan dengan kacamata kuda “Jakarta”, tapi memperbesar retina keindonesiaan untuk mencermati dengan jeli lokalitas-lokalitas yang menggeliat mencari bentuk-bentuk mengindonesia yang belum tuntas ini.

Mencari pembenaran sepihak dengan telunjuk yang menuding “gerakan pemberontak” atau “gerakan teroris” hanya akan menguak luka-luka bernanah ketidakadilan yang dikorek dengan moncong-moncong senjata. Persoalannya sudah tentu tak akan pernah berakhir di ujung senapan. Luka-luka ketidakadilan itu akan terus menjadi kudis-kudis yang harus digaruk dengan jumawa dan membuat siapapun nekat melakukan pembelaan terhadap harga diri yang dibenamkan dalam lumpur kemiskinan yang pekat.

Rakyat negeri ini memberi kepercayaan yang besar kepada segelintir orang yang disebut “pemerintah” untuk menggunakan kewenangan mereka menjaga harkat dan martabat kemanusiaan yang terus menghidupi utopia “menjadi Indonesia” ini. Kepercayaan itu sudah seharusnya dijalankan sebagai mandat kuasa demi mempertahankan makna asasi manusia Indonesia yang merdeka dan berdaulat, dengan rentang optikal kebangsaan dari ujung timur hingga ujung barat geografis Indonesia. Kepercayaan itu seharusnya pula berfungsi dengan kesadaran bahwa Indonesia bukan Jakarta [saja], tapi beragam lokalitas yang menopangnya sebagai pilar-pilar eksistensial, bukan instrumental belaka.

Pada titik itu, solidaritas kepada korban-korban yang berjatuhan di negeri ini tidak lagi menjadi kontestasi yang terbungkus oleh kemasan primordial etnis atau agama, tapi karena keprihatinan akan makin luruhnya rasa cinta dan hormat kita pada kemanusiaan yang asasi demi secuil kuasa yang diperebutkan dengan rakus.
Read more ...

One Earth, Many Faces

One Earth, Many Faces