Aku menulis maka aku belajar

Thursday, October 31, 2019

Berani Keluar dari Zona Nyaman


BERANI KELUAR DARI ZONA NYAMAN UNTUK MELAKUKAN TEROBOSAN BAGI KEMASLAHATAN
Catatan singkat dari khotbah Pdt. Dr. Steve Gaspersz, M.A.

Oleh: Pdt. Alfred Ohman, M.Si

Video singkat tentang profil Nadiem Makarim dan dr. Terawan, menjadi pengantar khotbah Pdt. Dr. Steve Gaspersz yang menohok dalam ibadah minggu kemarin (27 Oktober 2019) di gedung gereja Nehemia.

Dengan lugas, Pendeta Steve mengulas tentang dua menteri pilihan presiden Jokowi itu, yang dinilai tidak hanya punya kecerdasan dan mindset yang brilian, tetapi juga keberanian dalam melakukan terobosan di bidangnya masing-masing secara konsisten meskipun dihadapkan dengan berbagai tantangan.

Poin ini sekaligus memberi jawaban atas debat hangat beberapa hari belakangan tentang posisi orang Maluku yang tidak masuk dalam jajaran kabinet. Kendala kita bukan soal tidak ada orang cerdas, melainkan ketidakberanian dalam melakukan inovasi, tandasnya.

Kalau begitu, apa penyebabnya? Pendeta Steve kemudian menguraikan teks Lukas 9:57-62 tentang hal mengikut Yesus. Di sini beliau menjelaskan tentang ucapan Yesus bahwa Ia tidak punya tempat untuk meletakan kepala-Nya. Menurutnya pengertian ini bukan tentang Yesus yang tak punya tempat tinggal (homeless) tetapi lebih kepada seorang yang bebas dan tidak hidup dalam bayang-bayang patron seperti orang-orang Yahudi pada saat itu yang berada di bawah kekaisaran Romawi. Ucapan ini sekaligus menjadi kritikan bagi para pemberontak tetapi juga para "alim ulama" yang cenderung bermain aman daripada bernyali profetik.

Selanjutnya, saya menangkap bagaimana pendeta Steve mengulas tentang ajakan Yesus "ikutlah aku" yang kemudian diresponi dengan dua jawaban. Yang pertama izinkan aku menguburkan bapakku dan kedua izin pamit dari keluarga. Dari dua jawaban ini ia lalu menjelaskan bahwa tradisi dan ikatan keluarga juga menyebabkan seseorang tidak berani melakukan terobosan. Yesus tentu tidak bermaksud tidak menghargai tradisi dan keluarga. Dalam pelayanannya, Yesus sendiri telah menampilkan bahwa ia berani menembusi tradisi dan ikatan keluarga dengan mengunjungi langsung setiap orang tanpa memilah-milah status sosialnya serta memberi jawaban atas setiap persoalan yang dihadapi. Yesus sang pemuda 33 tahun itu mampu melihat apa yang dibutuhkan manusia dan karena itu ia berani melakukan terobosan. Bagi pendeta Steve, terobosan dan inovasi adalah spirit Kekristenan.

Lebih lanjut, dari khotbahnya juga mengingatkan agar kita tidak terbius oleh romantisme masa lalu sembari mempertanyakan dimana sesungguhnya posisi kita. Apakah berada di barisan orang-orang yang berinovasi ataukah sama seperti orang-orang yang hidup di bawah bayang-bayang tradisi dan ikatan keluarga. Gereja mesti berani melihat keluar tentang kemana arah pendidikan kita, gumulan keumatan, begitupun tentang anak-anak muda kita.

Dalam khotbahnya, ia mengungkapkan bahwa mengikut Yesus tidak cukup hanya mengagumi simbol salib Yesus tapi mampu menjadi teladan Kristus.

Mengikut Yesus tidak hanya berkaitan dengan kesibukan ritual tetapi bagaimana menjadi ASN atau Anggota TNI/Polri yang disiplin, menjadi mahasiswa yang menghargai keringat orang tua dan mampu berprestasi, tidak cepat puas dan merasa cukup dengan apa yang kita ketahui, sebab di situlah pertaruhan kita. Beliau pun mengingatkan bahwa dunia hari ini bicara tentang data dan bukan berdasarkan perasaan dalam pengambilan keputusan ataupun ikatan keluarga.

Ia juga memberi pesan bahwa orang tua perlu membangun komunikasi dalam menyiapkan anak-anak sebagai pemimpin, tentu bukan dengan umpatan dan makian tetapi dorongan yang memotivasi. Sementara di lain sisi, ia menantang para pemuda untuk keluar dari kenyamanan dan melakukan terobosan-terobosan bagi kemajuan.

Terima kasih, Pendeta Steve atas khotbahnya yang menukik dan menginspirasi beta serta kawan-kawan pemuda di perayaan 91 tahun Sumpah Pemuda untuk lebih produktif melalui berbagai terobosan.

Bagi beta Sumpah Pemuda adalah momentum yang menegaskan keberanian orang-orang muda untuk melakukan terobosan sama seperti seperti yang telah dilakukan Yesus sebelumnya.

Teruslah bergerak, pemuda Maluku. Kobarkan semangatmu untuk melakukan terobosan. Jang takisu. Tarus maju voor hal bae. Biar apa datang dari muka, jangan undur eee..

Tabea!
Read more ...

Tuesday, October 22, 2019

Refleksi Ambon Memuji - Lapangan Merdeka Ambon, 21 Oktober 2019


Read more ...

GEMPA BUMI AMBON - Kamis, 26 September 2016

Pagi hari Nancy sudah bertolak menuju Pelabuhan Tulehu untuk naik kapal cepat jurusan Masohi. Ada undangan dari Klasis Masohi untuk mengisi salah satu sesi dalam kegiatan di sana. Beta bersiap pergi ke kampus sekaligus mengantar Kailani ke sekolah.

Baru saja selesai berpakaian, tiba-tiba terdengar bunyi seperti gemuruh hujan yang kemudian diikuti getaran makin hebat yang mengguncang dinding-dinding rumah. Sontak beta berlari ke ruang tamu dimana Kaila sedang bermain, sambil berteriak keras “Kaila!”. Beta segera menggendongnya lari keluar rumah. Di luar rumah, para tetangga di kompleks sudah berhamburan keluar rumah sambil berteriak panik. Getaran gempa terasa sekitar 10 detik. Selang beberapa menit kemudian terasa sejumlah gempa susulan dengan getaran yang lebih lemah. Namun, kecemasan dan kepanikan akibat getaran 6,8 SR yang pertama telanjur mewabah.

Sontak, gelombang “pengungsi” makin membesar memenuhi jalan-jalan utama kota. Kampus, sekolah, kantor dan pertokoan langsung tutup. Para orangtua menjemput anak-anak di sekolah-sekolah mereka, para siswa dipulangkan, aktivitas perkuliahan di kampus-kampus dihentikan. Kemacetan terjadi pada semua ruas jalan kota Ambon karena akumulasi warga yang bergerak menuju rumah-rumah mereka dan yang mengungsi ke dataran tinggi.

Beta dan Kailani sempat terjebak kemacetan pada pertigaan Belakang Soya (Belso) dan jalan LIN-5 karena bertemunya arus kendaraan yang turun dari Karpan, yang memakan lebih separuh badan jalan, dan arus orang/kendaraan yang menuju Karpan. Hanya tersisa ruang gerak yang cukup untuk dilewati sepedamotor saja dari arah kota (bawah). Dengan susah-payah menahan panas terik matahari siang itu, akhirnya kami tiba di rumah Karpan. Beta menitipkan Kailani kepada Mama An, lalu turun kembali ke rumah Wainitu. Tak berapa lama tiba di rumah, selang beberapa jam Nyong Eby mengirim mobil untuk mengangkut Mami Tin ke rumah Karpan. Dengan demikian, beta bisa lebih leluasa untuk mengemas dokumen-dokumen penting dan membawanya nanti ke rumah Oma Nen (Karpan kompleks).

Suasana Kota Ambon, terutama kompleks pemukiman kami, terasa mencekam. Jalan-jalan lengang. Tampaknya semua orang berjaga-jaga dengan cemas bercampur waspada terhadap kemungkinan-kemungkinan gempa susulan. Hingga tanggal 22 Oktober 2019 BMKG merilis laporan sudah terjadi 1.670-an gempa-gempa susulan. Suatu fenomena yang unik, menurut beberapa pakar geologi. Dalam kecemasan dan kewaspadaan, kami tetap berdoa penuh harap Tuhan Penguasa Alam ini menjaga seluruh masyarakat Kota Ambon.
Read more ...

Sunday, October 13, 2019

Pertemuan Nasional Pimpinan Bidang Kemahasiswaaan LKPTKI 2019

Senin, 7 Oktober 2019

Berangkat menggunakan maskapai penerbangan Lion Air jam 8.35 WIT. Tiba di Bandara Sultan Hasanudin Makassar jam 9.10 WITA. Tim penjemputan panitia menjemput dari bandara dan mengantarkan saya untuk beristirahat di Guest House UKI Paulus. Tim penjemputan akan membawa semua peserta yang tiba hari ini melalui Makassar dan akan bersama-sama dengan tiga mobil menuju Toraja pada jam 19.00 WITA. Selain saya (UKIM), peserta lain yang tiba hari ini adalah: Universitas Kristen Maranatha Bandung (2 orang), Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta (2 orang), Universitas Ciputra (2 orang), Universitas Triatma Mulia Bali (1 orang). Kami tiba di Toraja Heritage Hotel, Toraja Utara, sekitar jam 5.00 WITA dan langsung ditempatkan pada kamar masing-masing oleh panitia. Beberapa peserta dari kampus-kampus lain kemudian menyusul berdatangan pada hari ini, terutama yang melalui Bandara Palopo. Setelah beristirahat dan makan siang, kami melakukan registrasi dan menerima “seminar kit”.

Selasa, 8 Oktober 2019

Sekitar jam 13.00 WITA seluruh peserta diangkut ke Kampus 1 UKI Toraja di pusat kota Makale. Acara pembukaan dimulai pada jam 15.00 dengan diawali Ma’Parapa’ (kata-kata sambutan dalam Bahasa Toraja) mengiringi rombongan peserta memasuki hall kampus. Di dalam sudah menunggu Prof. Dr. Ir. Daud Malamassam, M.Agr., IPU (Rektor UKI Toraja), Dr. (HC) Jonathan Parapak, M.Sc (Rektor UPH sekaligus pembicara utama). Kemudian menyusul kemudian Bupati Tana Toraja, Ir. Nikodemus Biringkanae, yang datang mengenakan busana khas Toraja. Acara Pembukaan diawali dengan ibadah yang dilayani oleh Pdt. Dr. Johana Tangirerung, M.Th (dosen Fakultas Teologi UKI Toraja) dengan persembahan pujian secara atraktif oleh Paduan Suara Mahasiswa UKI Toraja.

Setelah ibadah, acara dilanjutkan dengan penyampaian laporan ketua panitia, kemudian diteruskan dengan serangkaian kata sambutan oleh Rektor UKI Toraja, Dr. Rocky Taanamah, M.Si (PR-3 UKSW dan Koordinator Forkom LKPTKI) dan Bupati Tana Toraja. Usai foto bersama, Bupati Tana Toraja mengundang seluruh peserta untuk makan malam bersama di rumah jabatan bupati. Setelah menikmati jamuan makan malam bersama Bupati Tana Toraja, peserta kembali diantar menuju hotel dan beristirahat.

Rabu, 9 Oktober 2019

Setelah sarapan, peserta diantar menuju Kampus 1 UKI Toraja di Makale. Ada tiga sesi diskusi sepanjang hari kedua ini:

Sesi pertama
Moderator : Pdt. Dr. Johana Tangirerung, M.Th
Pembicara : Dr. (HC) Jonathan L. Parapak, M.Eng.Sc (Rektor Universitas Pelita Harapan)
Topik : Krisis Kader Muda Kristen pada Aras Kepemimpinan Nasional

Sesi Kedua
Moderator : Dr. Selvia Panggua, M.Pd
Pembicara : Corneles Galanjinjinay (Ketua Umum PP GMKI) dan Jery Parimba (Ketua PPGT)
Topik : Intelektual Muda Kristen di Panggung Nasional

Sesi Ketiga
Moderator : Dr. Berthin Simega, M.Pd
Pembicara : Jerry Sumampouw (PGI) dan Broery Pater Tjaja (GAMKI)
Topik : Pola Pembinaan Pemuda Kristen

Setelah mengikuti ketiga sesi tersebut, peserta kembali ke hotel untuk beristirahat. Acara dilanjutkan pada jam 16.30 di ruang konferensi Toraja Heritage Hotel dengan Pengantar Materi Sidang oleh Dr. Wilson Therik, M.Si (dosen pascasarjana UKSW dan Admin Forkom LKPTKI), Pemilihan Pimpinan Sidang, Pembagian dan Diskusi Kelompok, serta Sidang Pleno. Pimpinan Sidang yang terpilih adalah Candra Sinuraya, S.E., M.Si (Universitas Kristen Maranatha Bandung). Peserta dibagi menjadi tiga kelompok yang masing-masing membahas tiga isu seputar pembinaan mahasiswa: [1] SIMKATMAWA; [2] Strategi dan Pola Pembinaan Mahasiswa; dan [3] Penguatan Kelembagaan dan Jejaring. Saya bergabung dengan kelompok SIMKATMAWA yang dipandu oleh Arya Sadjiarto (PR-3 Universitas Kristen Petra). Kelompok kami membahas secara langsung beberapa bagian dalam Panduan SIMKATMAWA dan berbagi pengalaman mengenai peluang dan tantangan masing-masing universitas dalam mengimplementasikan program-program SIMKATMAWA, termasuk pula strategi menyiasati kemungkinan meningkatkan point kegiatan kemahasiswaan berbasis SIMKATMAWA dengan keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki oleh masing-masing universitas.

Selama hampir 1 jam, setiap kelompok memanfaatkan waktu untuk mendiskusikan tiga isu tersebut. Acara kemudian dilanjutkan dengan Sidang Pleno untuk mendengarkan hasil pembahasan setiap kelompok. Catatan proses dan hasil Sidang Pleno akan diuraikan tersendiri pada laporan ini.

Kamis, 10 Oktober 2019

Sejak dini hari, peserta sudah bergerak menuju Lolai, suatu kawasan di dataran tinggi Toraja, yang dikenal dengan “Negeri di Awan”. Dari Lolai, peserta kembali ke hotel untuk bersiap menuju Buntu Burake, dataran tinggi yang lain di Toraja dimana pada salah satu puncaknya didirikan patung raksasa Yesus yang merentangkan kedua tangannya sebagai simbol akta pemberkatan. Dari sana, perjalanan dilanjutkan ke Londa dan Ke’te Kesu. Keduanya adalah situs-situs pemakaman khas Toraja yang terkenal. Kami menikmati makan siang di pelataran depan situs Ke’te Kesu dimana berjajar sekitar enam tongkonan yang sudah berusia ratusan tahun dan deretan alang (lumbung padi) yang juga sering dipakai untuk melakukan pertemuan adat di Toraja. Perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi pusat pertokoan di Rantepao untuk membeli oleh-oleh khas Toraja.

Acara penutupan digelar di rumah jabatan Bupati Toraja Utara, Dr. Kalatiku Paembonan, M.Si, di Rantepao. Diawali dengan ibadah singkat dan sambutan-sambutan dari Ketua Bakor LKPTKI yang baru terpilih, Joko Purwadi, S.Kom., M.Kom. (Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta), Rektor UKI Toraja, dan Bupati Toraja Utara (sekaligus menutup secara resmi Pertemuan Nasional Pimpinan Bidang Kemahasiswaan Perguruan Tinggi Kristen Indonesia tahun 2019). Dari rumah jabatan Bupati Toraja Utara, sekitar jam 21.00 WITA saya dan lima orang peserta lainnya (Universitas Kristen Maranatha, Universitas Ciputra dan Ketua GAMKI) langsung menuju ke Makassar untuk kembali ke kota asal kami masing-masing. Setelah menempuh perjalanan selama 8 jam, sekitar jam 5.00 WITA kami sudah tiba di Bandara Sultan Hasanudin Makassar.
Read more ...

Pendeta Tidak Boleh Sakit?

Sejak mendengar kabar sakitnya Elsa Engel dari bung Jacky Manuputty beberapa tahun lampau, beta sangat prihatin. Keprihatinan itu pula yang membuat beta tidak mau memberi respons dalam bentuk tulisan ataupun status FB mengenai Elsa dan teman-teman [pendeta] lain yang sedang bergulat dengan sakit yang mereka derita. Kenyataan itu juga membuat beta merenung dengan melihat sisi lainnya. Ada banyak kisah tentang rekan-rekan pendeta yang bergumul dengan penyakit dalam tubuh mereka. Namun, ternyata ada yang lebih menyakitkan daripada penyakit mereka, yaitu minimnya – atau bahkan tidak adanya – dukungan biaya dan fasilitas kesehatan yang diberikan oleh institusi gereja. Pandangan ini bisa disanggah dengan memperlihatkan bahwa para pendeta sudah difasilitasi dengan BPJS Kesehatan, asuransi kesehatan, dan lain-lain. Itu betul. Namun, pada kenyataannya, dukungan biaya dan fasilitas kesehatan lebih banyak diperoleh dari kemampuan pembiayaan jemaat-jemaat yang dilayaninya. Tidak bisa disangkali bahwa sulit sekali mendapatkan dukungan biaya dan fasilitas kesehatan dari jemaat-jemaat yang tidak mempunyai “pendapatan” jemaat yang memadai untuk alokasi biaya kesehatan pendeta. Banyak tercecer kisah-kisah para pendeta GPM yang harus berjuang habis-habisan untuk mengobati penyakit mereka. Yang lebih ironis adalah mereka berpulang dengan kondisi kesehatan yang sama sekali tidak tertangani. Entah karena ketiadaan biaya dan fasilitas kesehatan selama pelayanan mereka di jemaat, entah karena tantangan medan pelayanan yang minim fasilitas kesehatan (puskesmas atau rumahsakit daerah).

Kembali ke kasus Elsa Engel. Di antara sekian banyak hal yang telah diposting mengenai Elsa, ada satu postingan yang berisi chatting Elsa dengan seorang pendeta (kalau tidak salah, karena namanya tidak kelihatan jelas), yang mengungkapkan tentang kerinduannya yang besar untuk menjadi “pendeta”. Tapi apa daya, kanker telanjur menggerogoti tubuhnya hingga ia meninggal dunia dengan membawa serta kerinduannya yang tak terpenuhi. Fakta yang sama juga dalam kasus Renza Tahalele beberapa waktu lalu (bisa ditambahkan lagi). Sebagai dosen pada fakultas teologi UKIM, beta mengenal Elsa dan teman-temannya sejak sebelum berangkat studi lanjut. Ketika pulang studi lanjut (5 tahun), beta masih mendapati Elsa dan teman-teman seangkatannya “menganggur” menunggu proses penerimaan vikaris. Beta tidak tahu sudah berapa lama Elsa dkk menunggu hingga mendapat penugasan sebagai vikaris GPM. Soal waktu itu relatif. Beta juga menghabiskan waktu lebih dari 10 tahun (lulus tahun 1996, ditahbiskan tahun 2008). Untunglah, Elsa dkk masih bisa beraktivitas sebagai relawan di Balitbang GPM. Hal yang sama dulu beta dan beberapa teman menjadi tenaga magang di LPJ-GPM yang dibesut oleh Pdt. Wim Davidz saat itu.

Di balik sedikit kasus tersebut, sebenarnya tersembul suatu persoalan fundamental, yaitu [1] Bagaimanakah GPM secara bertahap menangani masalah menumpuknya tenaga vikariat dari tahun ke tahun? [2] Model penanganan kesehatan vikaris/pendeta seperti apa yang mesti didesain untuk mengatasi konteks pelayanan yang beragam dari jemaat-jemaat kepulauan (pesisir/pegunungan) yang sama sekali tidak tersedia fasilitas dan sistem layanan kesehatan yang memadai?

Untuk persoalan pertama, kita bisa menyanggahnya dengan mengatakan bahwa GPM sudah menyusun strategi yang dibicarakan dari sidang-sidang MPL yang sudah berlangsung sekian lama. Umumnya, yang beta dengar, GPM sulit mengatasinya karena itu lebih merupakan masalah animo calon vikaris yang tidak mau atau tidak berminat untuk menerima tantangan menjadi pendeta di luar wilayah GPM. Padahal, dari pengalaman beta menjalani masa vikariat di luar Maluku, banyak sekali sinode-sinode gereja anggota PGI yang membuka diri menerima kehadiran tenaga-tenaga pelayan yang “surplus” dari GPM. Hanya segelintir saja yang mengambil kesempatan itu. Selebihnya dalam jumlah besar lebih memilih “setia” kepada GPM.

Sedangkan untuk persoalan kedua, beta secara jujur harus mengakui bahwa sama sekali belum paham mengenai strategi GPM menangani masalah kesehatan para vikaris/pendeta. Beta hanya bersandar pada asupan data mentah yang diperoleh dari berbagai sumber di jemaat-jemaat mengenai para pendeta yang berjuang sendiri mengatasi penyakit yang bercokol dalam tubuh mereka hingga putus nafas. Kemewahan menikmati dukungan biaya dan fasilitas kesehatan hanya bisa dinikmati oleh rekan-rekan pendeta yang melayani jemaat-jemaat dengan tingkat pendapatan ekonomi menengah/tinggi. Dalih bahwa itu adalah “harga” dari pelayanan sebagai pendeta, dalam hal ini, tentu tidak bisa diterima akal sehat. Malah, itu bisa dilihat sebagai eskapisme dari ketidakmampuan mendukung penyelenggaraan pelayanan melalui model strategis perawatan kesehatan para pendeta.

Catatan kecil ini hanya mencoba meretas peta-peta pemikiran yang masih kabur dalam menanggapi kenyataan rekan-rekan vikaris/pendeta yang terpapar penyakit kronis tanpa dukungan biaya dan kesehatan yang memadai. Sekaligus membuang jauh-jauh mitos bahwa “penyakit” adalah resiko dari pelayanan yang harus dipikul oleh pendeta GPM. Biasanya mitos itu ditanggapi dengan pernyataan beriman “sombayang saja nanti tuangala yang berperkara” atau sikap arogansi “pendeta seng boleh sakit”.
Read more ...

One Earth, Many Faces

One Earth, Many Faces