Aku menulis maka aku belajar

Monday, June 11, 2018

Peran Jemaat dalam Pilkada (Maluku) 2018

Makalah yang disampaikan dalam acara "Pendidikan Politik Bagi Pemilih Pemula Menjelang Pilkada Maluku 2018" tanggal 2 Juni 2018 di Ruang Serbaguna Gereja Silo Ambon.

Mengapa Jemaat?
Eksistensi jemaat bisa dilihat melalui dua lensa, [1] lensa teologis dan [2] lensa sosiologis-antropologis. Lensa teologis melihat jemaat secara abstrak-filosofis-teologis sebagai “persekutuan orang yang beriman (believers) kepada Tuhan”. Di dalamnya ada relasi-relasi antarindividu (persekutuan) yang diatur menurut tatanan (order) tertentu – “iman” yang dipengaruhi oleh tradisi gereja, hermeneutik (tafsir) alkitab, pengalaman batin/kepercayaan – yang ditujukan pada dan/atau bersumber dari otoritas/kekuasaan Tuhan. “Tuhan” itu sendiri sebenarnya adalah konstruksi keyakinan pada suatu kekuatan (power) yang abstrak, yang dipercaya melampaui batas-batas rasionalitas manusia tetapi sekaligus ingin dijelaskan melalui bahasa, pengalaman dan kebudayaan manusia yang terbatas (teologi).

Lensa sosiologis-antropologis melihat jemaat secara riel sebagai “komunitas” yang terdiri dari beraneka individu – dengan motivasi, pilihan, dan kepentingan yang berbeda-beda dan kompleks – dalam suatu tatanan sosial-budaya yang mengatur peran dan kepentingan bersama untuk tujuan-tujuan kehidupan yang disepakati. Jika kesepakatan atau konsensus itu dipatuhi maka relasi-relasi sosial menjadi terstruktur dan fungsional; jika tidak tercapai konsensus maka relasi-relasi sosial berpotensi menjadi konflik. Kesepakatan atau konsensus sosial itu kemudian membentuk “arena” yang di dalamnya setiap orang harus patuh pada “aturan main” (norma sosial, peraturan pemerintah, undang-undang negara dan sebagainya).

Jemaat adalah komunitas dalam masyarakat, yaitu suatu himpunan relasi-relasi sosial yang lebih kompleks dalam struktur-struktur sosial-politik-budaya-ekonomi dengan konsensus-konsensus yang lebih rumit, yang melibatkan pengakuan akan otoritas atau kekuasaan (power) manusia yang lebih besar. Salah satu sumber konflik teologis/ideologis dalam kehidupan jemaat (gereja) adalah pengakuan mana yang harus lebih diprioritaskan: kekuasaan Tuhan atau kekuasaan manusia (pemerintah). Dari situlah kemudian muncul perdebatan panjang yang dalam tradisi keilmuan teologi melahirkan paradigma “teologi politik”. Kitab-kitab dalam Alkitab memperlihatkan dengan jelas-tegas ketegangan-ketegangan teologis-ideologis antara dua kekuasaan (Tuhan dan manusia) tersebut. Jadi, politisasi agama dan agamanisasi politik sebenarnya adalah hal yang lumrah dalam sejarah peradabaan, kebudayaan dan agama-agama manusia hingga kini. Pada titik itu, politisasi agama dan agamanisasi politik merupakan strategi kebudayaan manusia untuk mengakumulasi kekuasaan dengan memasukkan unsur-unsur ilahi untuk memberi legitimasi yang lebih kuat dan besar pada kekuasaannya agar dapat mempengaruhi, menguasai dan mengendalikan orang atau kelompok lain. Akumulasi kekuasaan manusia itu dikonstruksikan dalam wujud relasi-relasi struktural yang bersifat legal-normatif-imajinatif, yaitu NEGARA.

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada)
Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) adalah suatu proses politik yang berjalan dengan mekanisme tertentu yang disepakati melalui undang-undang negara Republik Indonesia untuk memilih pemimpin daerah (provinsi dan kabupaten). Pada periode kepemimpinan Presiden Suharto (1966-1998), tidak ada pilkada. Setiap kepala daerah setingkat gubernur ditentukan langsung oleh Presiden melalui Menteri Dalam Negeri (Mendagri). Dengan demikian, de facto dan de jure, gubernur merupakan perpanjangan tangan kekuasaan pemerintah pusat di Jakarta dan tidak punya kekuasaan otonom untuk memerintah daerahnya. Periode-periode selama rezim penguasa “Orde Baru” memberlakukan sentralisasi penuh kekuasaan. Persoalan-persoalan pembangunan yang terjadi umumnya seputar ketegangan kekuasaan/kepentingan antara “pusat” (Jakarta) dan “daerah” (center-periphery). Partai-partai politik yang jumlahnya banyak pada masa “Orde Lama” (172 partai) dipangkas (fusi) menjadi tiga partai: PPP, Golongan Karya (Golkar) dan PDI. Golkar menjadi mesin politik tunggal yang menggerakkan roda kekuasaan politik Orde Baru.

Ketika Suharto turun dari kursi kepresidenan tahun 1998 oleh gerakan politik mahasiswa di hampir semua daerah – yang dikenal sebagai Gerakan Reformasi 1998 – terjadi perubahan besar-besaran dalam struktur politik dan mekanisme pengaturan kekuasaan politik di Indonesia. Salah satunya yang paling fundamental adalah otonomi daerah dan sistem multi-partai (1999: 48 parpol; 2004: 24 parpol; 2009: 38 parpol; 2014: 12 parpol; 2018: 14 parpolnas dan 4 parpol lokal Aceh). Otonomi daerah memberikan kewenangan yang besar kepada pemerintah daerah (gubernur dan bupati) untuk mengatur pemerintahannya sesuai dengan karakteristik historis dan budaya setempat, serta mengelola SDM dan SDA yang tersedia di daerahnya bagi pencapaian kepentingan kesejahteraan masyarakat setempat. Sekaligus pula dengannya membawa problem penyimpangan kekuasaan karena terbukanya celah-celah korupsi kekuasaan untuk kepentingan-kepentingan yang keluar dari koridor normatif pengelolaan kekuasaan pemerintahan.

Sistem multi-partai pada hakikatnya merupakan kanal demokrasi bagi ekspresi dan aspirasi sosial-politik dari suatu masyarakat majemuk seperti Indonesia. Indonesia punya pengalaman sejarah dengan sistem multi-partai (Pemilu 1955). Yang membedakan karakter politik nasional dengan pemberlakuan sistem multi-partai pasca Orde Baru adalah masa 32 tahun rezim Orde Baru telah secara efektif dan fundamental membentuk cara pandang dan cara tindak politik yang serba seragam (dari pikiran hingga pakaian) sehingga sepanjang masa itu masyarakat Indonesia tidak terbiasa dan tabu melihat perbedaan. Semua yang berbeda dari apa yang dianggap “norma” dan “kebenaran” menurut pemerintah sipil dan militer adalah haram dan ancaman. Maka ketika kran demokrasi dibuka dengan sistem multi-partai, semua ekspresi dan aspirasi massa yang selama ini terpendam pun meledak dan meluap-luap dalam wujud yang nyaris anarkhis dari apa yang kini makin mengeras dalam politik identitas. Perbedaan (etnis, bahasa, agama) diakui sekaligus menjadi “senjata ideologis” untuk menghancurkan liyan (others). Lantas, setiap individu seolah-olah hidup dalam “tempurung” ideologi politik (pencitraan figur politik) dan ghetto agamanya sendiri.

Peran Jemaat Kristen
Orang Kristen-Indonesia (OKI) memiliki identitas ganda (double identity): [1] sebagai “persekutuan orang beriman” sekaligus [2] warga negara Indonesia. Kehidupan OKI berada dalam tarik-menarik kekuasaan “iman” (pengakuan akan kekuasaan Allah) dan “politik” (pengakuan akan kekuasaan manusia/negara). Ini bukan masalah baru dalam sejarah Kristianitas dari masa ke masa hingga konteks Indonesia/Maluku. Tapi ini adalah masalah yang selalu berkembang dengan tampilan-tampilan baru sehingga selalu membutuhkan perspektif-perspektif keimanan yang baru dan kontekstual. Peran yang seyogyanya dijalankan oleh OKI adalah smart dan S.M.A.R.T. Smart yang pertama berarti cerdas dan cermat. S.M.A.R.T. yang kedua adalah:

Spirituality – Dasar iman kristiani adalah pada kekuasaan Tuhan yang menyelamatkan. Dalam sejarah Kristianitas, hal itu termanifestasi dalam makna SALIB, bahwa karya penyelamatan Allah tidak hanya mengarah vertikal (hubungan manusia-Tuhan) tetapi sekaligus horisontal (hubungan manusia-manusia). Keyakinan akan kekuasaan Tuhan harus terwujud dalam kerendahan hati untuk mengasihi sesama dalam upaya menata relasi-relasi kemanusiaan yang saling menghidupkan, bukan saling menghancurkan.

Model – Panggilan hidup kristiani sebagaimana yang terpancar dari pemberitaan karya dan hidup Kristus adalah berani tampil menjadi teladan dengan pilihan-pilihan hidup (etika, agama, ideologi politik) yang tertuju bagi upaya memanusiakan manusia. Pilihan-pilihan ini diambil dengan sengaja sehingga kata dan perbuatan menyatu menjadi karakter yang berintegritas alias tidak munafik atau plin-plan. Kristus menjadi model/teladan dengan pilihan-pilihan yang diambilnya kendati itu semua beresiko tinggi (mati sebagai pesakitan di atas kayu palang - SALIB).

Achievement – Pilihan hidup kristiani didasakan pada kerendahan hati (sebagai wujud pengakuan akan kekuasaan Tuhan) sekaligus kegigihan memperjuangkan kebaikan-kebaikan bersama bagi kemanusiaan. Pilihan hidup kristiani selalu membumi (kontekstual) dan politis (terlibat dalam implementasi seni mengelola kekuasaan). Kompetisi dan kompetensi menjadi dua hal yang tak terhindarkan. Akumulasi relasional antara kompetisi dan kompetensi adalah pada prestasi gemilang yang ditandai dengan makin tertatanya kehidupan bersama yang majemuk sebagai co-existence spheres dalam entitas negara.

Responsibility – Setiap pilihan yang diambil dalam kehidupan OKI mempunyai efek ganda: tanggung jawab kepada Allah sebagai pemegang kuasa kehidupan dan tanggung jawab kepada manusia/masyarakat sebagai ruang interaktif dan rekreatif untuk mencapai kebaikan bersama. Ini tidak mudah. Justru karena sulit maka dibutuhkan komitmen untuk menempatkan tugas-tugas pelayanan kemanusiaan pada skala prioritas tertinggi. Setiap orang tidak hanya memikul tanggung jawab bagi keberlangsungan hidupnya sendiri tetapi juga bagi keberlangsung hidup bersama (komunal/sosial). Dengan demikian, etika kristiani adalah etika politik.

Trust – Kita percaya kepada Tuhan meskipun kita tidak melihat-Nya. Ini biasanya disebut iman. Kendati tidak melihat Tuhan tapi keyakinan kita kepada Tuhan itu sangat mempengaruhi dan membentuk cara pikir dan cara tindak kita, terhadap diri sendiri dan orang lain. Maka iman ini menjadi iman yang relasional (relational-faith) antara Tuhan dan sesama manusia. Pancaran dari relational-faith ini adalah pada karakter individu dan sosial bahwa saling percaya (trust) semestinya menjadi fondasi bagi berlangsungnya hidup bersama sebagai jemaat dan masyarakat yang kritis, kreatif, positif dan konstruktif.
Read more ...

Wednesday, May 30, 2018

Buka Puasa Bersama Jamaah Masjid As Salamah: Melampaui Seremonial

"Beta senang skali karena bapa pandeta bisa ada sama-sama deng katong. Su lama skali beta rindu acara bagini di kalangan katong orang-orang kacil. Bukan yang besar-besar, yang cuma diikuti oleh para elit," demikian seungkap rasa Haji Labuka, Imam Masjid As Salamah di kawasan Pohon Mangga, Air Salobar, Pulau Ambon.

Kami berbincang hangat sembari menikmati hidangan buka puasa bersama paguyuban masyarakat Pohon Mangga Air Salobar. Ada menu lontong dan sate, soto, dan penganan lokal buatan ibu-ibu di sana. Siraman hujan deras menahan kami dalam kehangatan percakapan yang panjang. Beta beruntung mendapat kesempatan ini sebagai Pembantu Rektor III UKIM yang memenuhi undangan mengikuti acara ini.

Haji Labuka menyatakan bahwa acara berbuka puasa semacam ini baru pertama kali dilakukan dengan melibatkan semua warga jamaah dari tujuh RT yang ada di kawasan tersebut. Kalau acara-acara sejenis yang mengundang para pejabat dari berbagai instansi sipil dan militer sudah sering dilakukan. Yang membedakan kali ini adalah partisipasi seluruh warga tanpa pengecualian. Pernyataan Imam Masjid As-Salamah makin ditegaskan dengan banyaknya warga jamaah yang memenuhi bagian dalam masjid. Hujan deras yang mengguyur sore itu tak membuat langkah-langkah mereka surut.

Acara buka puasa bersama ini diinisiasi oleh warga setempat yang lokasi tinggalnya berbatasan dengan komunitas Kristen Jemaat GPM Bethesda. Beberapa waktu silam sempat terjadi insiden saling lempar batu dari dua kelompok pemuda di situ. Momen buka puasa bersama ini pun hendak digunakan sebagai saat untuk merajut tali silaturahmi dan persaudaraan yang bagi warga setempat sangat dibutuhkan untuk terus mengikis kesalahpahaman-kesalahpahaman kecil yang dapat berujung pada bentrokan-bentrokan fisik berskala besar.

Paguyuban dua masyarakat ini merupakan bagian dari unsur-unsur masyarakat dalam program Polmas, yaitu pendekatan polisi dalam melaksanakan tugasnya dengan memfokuskan pada pemecahan masalah bukan semata-mata terhadap penegakan hukum namun bagaimana menyelesaikan atau mengurangi dampak masalah yang ada di masyarakat dengan cara melibatkan dan mengajak masyarakat yang peduli dengan keamanan dan ketertiban di wilayah, lingkungan dan tempat tinggal masing-masing dengan cara yang efektif dan efisien.

Terlepas dari upaya aparat kepolisian untuk menjadikan kawasan yang sempat "panas" pada masa-masa konflik Ambon silam ini sebagai kawasan yang makin kondusif, harus diakui bahwa pendekatan keamanan secara struktural-hierarkis tidak akan pernah bisa mengatasi akar-akar masalah kesenjangan relasi sosial di situ tanpa suatu keinginan dan keterbukaan untuk melakukan perjumpaan kemanusiaan.

Momen berbuka puasa bersama dengan melibatkan seluruh unsur-unsur sosial dua komunitas (Islam dan Kristen) di Air Salobar ini ternyata meninggalkan kesan mendalam tentang pentingnya pemikiran yang terbuka dan tindakan yang komunikatif untuk melampaui kecurigaan dan kesalahpahaman yang masih terasa residunya bagi dua komunitas tersebut. Momen ini menjadi perjumpaan kemanusiaan yang terasa bergerak menjauh dari dan tak lagi berada pada ranah-ranah abstraksi keagamaan yang kerap hanya menjadi slogan-slogan basi dalam khotbah-khotbah di rumah-rumah ibadah. Momen perjumpaan yang hangat, sehangat siraman kuah soto yang kami nikmati seraya bertukar cerita dan pengalaman.

Selamat menjalani ibadah puasa!
Read more ...

Saturday, May 19, 2018

Sibak Laut Biru Aru

Selama dua bulan, 34 mahasiswa Fakultas Teologi (semester ke-8) menjalani program "hidup-bersama" (live-in) di 16 masyarakat (jemaat) di wilayah Klasis GPM Aru Tengah. Beta merasa beruntung bisa menjadi bagian dari tim pembina yang ditugaskan untuk menjemput mereka kembali ke Ambon (10-14 Mei 2018). Lalu selanjutnya mereka akan menjalani program pelatihan tahap berikut di Negeri Kamal, Seram Bagian Barat.

Penerbangan dari Ambon menuju Dobo, ibukota Kabupaten Kepulauan Aru, memakan waktu 1,5 jam. Setelah menginap semalam di rumah pastori Sekretaris Klasis Pulau-pulau Aru, Pdt. Henkie Mussa, keesokan harinya beta dan Pdt. Sonny Romkeny bertolak menuju Benjina dengan menumpang kapalmotor yang oleh masyarakat setempat disebut "palembang". Nama yang unik namun hampir semua orang yang ditanyai mengapa dinamai itu, tak seorang pun bisa memberi jawaban pasti. Dugaan yang membayang hanyalah kemungkinan bahwa "orang palembang" yang konon merintis mengoperasikan kapalmotor jenis ini di perairan Aru. Pelayaran dengan "palembang" dari Dobo (Pulau Wamar) ke Benjina (Pulau Kobror) memakan waktu sekitar 2 jam.
Ada dua lokasi dermaga untuk merapat. "Palembang" bisa sandar pada satu bagian pantai yang disebut oleh masyarakat setempat sebagai "dermaga batu", karena hanya pada satu bagian pantai yang kontur batuan alam memungkinkan untuk orang turun-naik dari/ke "palembang". Atau yang lain, "dermaga kayu" yang lebih dekat dengan wilayah perkampungan Benjina.

Sebagai suatu kawasan hasil pemekaran wilayah, Kota Dobo memang sedang menggeliat dengan berbagai bentuk pembangunan. Namun, tak bisa disangkali bahwa di balik segala hiruk-pikuk pembangunannya terselip di sana-sini kisah-kisah pilu orang-orang yang merasa terpinggirkan dan merana. Imajinasi pembangunan pun luruh jika orang tahu bahwa di kawasan yang kaya raya dengan hasil laut ini banyak sisi kehidupan yang miris dan mengenaskan namun mengendap di bawah permukaan realitas sosial dan kebudayaan masyarakat Aru. Berjubel kapal-kapal ikan dengan berbagai bendera perusahaan dan/atau negara yang berlabuh di perairan Dobo (Pulau Wamar). Namun, tentu saja jika ditelusuri tak satu pun yang dikelola oleh orang Aru.

Pernah dengar nama Benjina? Silakan anda menanyakannya kepada mbah google. Di Benjina pernah beroperasi sebuah perusahaan perikanan besar dengan nama PT Pusaka Benjina Resources (PBR). Ada kasus yang terjadi hingga membuat Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, menutup operasi perusahaan ini. Terlepas dari segala analisis dan pertimbangan dari menteri, tapi dampak penutupan PBR sangat dirasakan oleh masyarakat setempat yang untuk sejenak menikmati secercah harapan menggeliat bangkit dari keterpurukan ekonomi yang mereka jalani selama puluhan tahun. Apa mau dikata, kini mereka harus menelan ludah kepahitan dari morat-maritnya harapan-harapan yang sempat mereka impikan. Dari Benjina, tampak sisa-sisa kejayaan perusahaan tersebut yang membisu dengan deretan kapal-kapal ikan yang hanya berlabuh menjadi besi tua menunggu saat berkarat dan tenggelam sendiri.

Wajah Benjina dan Dobo tak simetris dengan "kemeriahan" para pemburu "harta" di laut biru Aru. Suatu kawasan yang menjadi arena perburuan mutiara klas-1 dan limpah-ruah isi perut laut Arafura. Orang-orang Aru tampaknya tak kunjung lepas dari pencitraan historis sebagai "orang-orang kalah" seperti yang pernah digambarkan oleh Roem Topatimasang dkk dalam hasil penelitian mereka tahun 1993 bertajuk "Potret Orang-Orang Kalah". Hasil penelitian tersebut kemudian dipublikasi dengan judul "Orang-Orang Kalah: Kasus Penyingkiran Masyarakat Adat Kepulauan Maluku (Insist Press 2004).

Beta percaya ada banyak catatan menarik dan "panas" yang telah diguratkan oleh 34 mahasiswa dari pengalaman mereka berjibaku dengan realitas kehidupan 16 masyarakat negeri di kawasan Aru Tengah. Semoga saja mereka tidak hanya menorehkannya sebagai suatu "kewajiban" studi mereka tapi sungguh-sungguh merekamnya dengan kegelisahan akan berbagai ketimpangan yang nyata di depan biji mata.

Terima kasih untuk saudara-saudaraku Pdt. Sonny Romkeny (Ketua Klasis Aru Tengah) dan Pdt. Peter Manuputty (Sekretaris Klasis Aru Tengah), Pdt. Adolof Fariman dan Pdt. Henkie Mussa (Sekretaris Klasis Pulau-Pulau Aru), termasuk Achy Mussa yang rela meminjamkan sepedamotor matic-nya untuk berkeliling menelusuri sudut-sudut Kota Dobo, serta rekan-rekan pendeta yang telah menjadi mentor-mentor hebat bagi 34 mahasiswa Fakultas Teologi selama dua bulan mereka belajar "mengalami teologi kehidupan" orang Aru.

Catatan kecil ini sekaligus menjadi suatu penanda "demarkasi" dari karya komprehensif Patricia Spyer dengan disertasi antropologinya "The Memory of Trade: Modernity's Entanglements on an Eastern Indonesian Island" (2000) yang digarap dengan kajian arsip dan etnografi selama lebih dari 2 tahun. Suatu "demarkasi" untuk menguji tesis Spyer sekaligus mendeteksi perubahan-perubahan mutakhir di Kepulauan Aru: adakah orang Aru turut menikmati segala bentuk perubahan yang terjadi ataukah terus digulung dalam jeratan korban sejarah dan modernisasi itu sendiri?
Read more ...

Wednesday, May 16, 2018

ICRPC 2018


Terima kasih yang dalam kepada rekan-rekan panitia dan semua yang telah membantu dalam berbagai bentuk sejak persiapan awal hingga akhir pelaksanaan International Conference on Religion and Public Civilization (ICRPC), 3-5 Mei 2018 di Hotel Pacific Ambon. Pengorbanan dan kerja keras kita semata-mata bukan demi prestise kelembagaan melalui konferensi ini, namun yang terlebih fundamental adalah mengawali suatu proses membangun atmosfer akademik yang sehat untuk bertukar gagasan sekaligus mekanisme saling kritik yang menghidupkan.

Sekali lagi, ini barulah awal. Masih panjang proses yang harus dijalani bersama-sama ke depan. Tentu saja, tidak sedikit tantangan yang harus kita hadapi sebagai lecutan motivasi, koordinasi dan eksekusi agar perjumpaan-perjumpaan semacam ini makin memanas sebagai arena mematangkan kultur akademik di kalangan jejaring komunitas kampus-kampus di Maluku.

Ada sembilan pembicara utama yang diundang dalam konferensi ini. Mereka adalah Prof. Dr. Dieter Bartels (antropolog dari Arizona USA), Prof. Dr. Ruard Ganzevoort (Vrije Universiteit Amsterdam), Prof. Dr. Bernard Adeney-Risakotta (ICRS Yogyakarta), Prof. Dr. Hermien Soselisa (Universitas Pattimura), Alissa Wahid (Jaringan Nasional Gusdurian), Prof. Dr. Al Makin (UIN Sunan Kalijaga), Tri Subagya, Ph.D (Universitas Sanata Dharma), Dr. Subair (IAIN Ambon) dan Dr. John Ruhulessin (UKIM Ambon). Selama dua hari pertama para pembicara utama tersebut mengajak merefleksikan sejumlah paradigma yang perlu dipertimbangkan oleh kerja-kerja keilmuan lintas-disiplin. Butir-butir reflektif tersebut memperkaya diskusi di klas-klas parallel sessions.

Meskipun beberapa rekan dosen dari kampus-kampus di luar Maluku terkendala oleh biaya transportasi yang tak digelontorkan oleh otoritas kampus mereka atau alasan-alasan lainnya, namun semangat mereka nyata dari mengalirnya makalah-makalah mereka kepada panitia. Sebagian lain pemakalah bisa datang untuk berbagi hasil-hasil riset mereka dalam konferensi ini. Parallel sessions yang digelar sejak hari pertama menjadi ajang diskursus keilmuan dari berbagai perspektif.

Dari kampus mungil UKIM, kami memulai langkah-langkah kecil bersama dengan mimpi-mimpi besar.

Mena Muria!
Read more ...

Monday, April 16, 2018

Taniwel: Secuil Catatan Perjalanan

Kabarnya, perbaikan Jembatan Waeruhu di Negeri Galala, Pulau Ambon, menelan anggaran (APBN 2017) sebesar Rp 10,14 Milyar. Angka yang fantastis hanya untuk perbaikan satu jembatan di wilayah Pulau Ambon, tepat di bawah Jembatan Merah Putih (JMP).

Tentu bisa dibayangkan berapa milyar atau trilyun yang bisa digelontorkan untuk perbaikan sebanyak 5 jembatan beralas kayu sepanjang perjalanan dari Piru, inakota Seram Bagian Barat, menuju Kecamatan Taniwel (Barat) ~ belum terhitung berapa puluh jembatan darurat dari batang pohon kelapa di wilayah Taniwel Timur.

Kalau anda menuju Kota Piru, jangan lupa berhenti sejenak di Gapura Kota Piru yang kabarnya pembangunannya menelan anggaran sebesar Rp 5,6 Milyar. Hanya untuk gapura. Apa fungsi gapura itu? Sejauh ini cukup berfungsi untuk latar berselfie-ria dan "persembunyian" nyaman untuk kencing jika kebelet di tengah jalan. Itu saja.

Padahal setidaknya anggaran sebesar itu cukuplah untuk memperbaiki 1 atau 2 jembatan (bahkan mungkin lebih!) yang masih beralas kayu seadanya. Di Jembatan Sapalewa, salah satu yang terpanjang, perjalanan beta dengan sepedamotor terhambat karena ban depan 1 mobil avanza terperosok pada bagian jembatan yang kayunya sudah lapuk dan patah, dengan lubang yang sebenarnya mampu "menelan" setengah body mobil itu. Tidak ada cara selain menunggu semua orang yang akan melewati jembatan itu bergerak bergotongroyong mengangkat moncong mobil dan mendorongnya sedikit demi sedikit hingga ke mulut jembatan karena as roda depan kanan patah.

Tidak banyak perubahan di Kecamatan Taniwel sejak tahun 1994 beta menjalani program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Wakolo, sekitar 9 km sebelum kota kecamatan. Kecuali jalan aspal mulus dari Piru yang, uniknya, hanya sampai di "pintu masuk" Kota Kecamatan Taniwel. Masuk ke dalam "kota" Taniwel, kualitas aspal jauh berbeda (rusak) hingga terus ke bagian timur dan medan "off-road" ke kampung-kampung pegunungan (Buria, Lohia-Sapalewa, Laturake, Riring-Rumasoal, dan yang paling jauh serta terisolasi, Neniari). Jalan yang bisa dilalui oleh kendaraan roda empat hanya sampai di Buria. Itupun oleh sopir-sopir yang berpengalaman. Jika tidak, risikonya fatal antara mobil tergelincir tak terkendali atau terperosok di lubang-lubang jalan air yang membelah jalan. Selanjutnya dari Buria, perjalanan harus ditempuh dengan berjalan kaki.

Nah, menurut sodara-sodara yang budiman, pembangunan di Maluku itu fiksi atau fiktif?
Read more ...

Thursday, February 1, 2018

The Patty


Pertama kali berjumpa ketika beta masih kuliah strata-1 tahun 1997. Waktu itu UKIM dan beberapa Gereja Maluku di Belanda menggelar konferensi bersama di bawah tajuk "Gospel and Culture". Konferensi tersebut bermaksud mengeksplorasi isu-isu kebudayaan dan agama (Kristen) dalam dua konteks yang berbeda oleh satu komunitas identitas yang "satu". Konteksnya adalah Indonesia dan Belanda yang direfleksikan oleh komunitas Maluku di Maluku (Indonesia) dan komunitas Maluku di Belanda.

Tentu saja, benturan interpretatif baik pada tataran teologis, sosiologis dan kebudayaan tak terhindarkan. Wacana konstruksi identitas politik, keagamaan dan kebudayaan pun menjadi sorotan. Ketegangan dan perdebatan memanas dalam ruang konferensi maupun dalam kelompok-kelompok kecil diskusi.

Tapi beta mengenal sosok yang tenang dan sejuk dari bung Verry Patty. Sosoknya yang tinggi besar menjulang melampaui postur rata-rata orang biasa sangat kontras dengan pembawaannya yang tenang, humoris dan selalu pandai menggunakan kiasan-kiasan yang mampu menjembatani ketegangan dan kesenjangan antarbudaya Maluku dan Belanda. Sepanjang konferensi itu bahkan ia lebih banyak menghabiskan waktu berdiskusi dengan kami para mahasiswa ketimbang dengan para "tokoh" atau "pembicara" seminar.

Komunikasi pun berlanjut meskipun tidak selancar kini karena tahun-tahun akhir 1990an akses internet belum menggila seperti saat ini.

Perjumpaan yang kedua terjadi ketika beta mendapat kesempatan "bertualang" dengan dinamika studi di Belanda tahun 2003, bersama-sama dengan pak Bambang Subandrijo (sekarang adalah dosen STFT Jakarta). Hubungan yang terjalin sayup-sayup pun kembali menghangat karena bung Verry dan bung Jop Franciscus selalu rutin mengunjungi beta di Student Hospitium Amstelveen. Mereka berdua bergantian membawa beta jalan-jalan mengunjungi wijk-wijk komunitas Maluku di beberapa kota di Belanda dan mampir di beberapa keluarga Maluku hanya untuk berkenalan langsung. Tentu saja yang lebih sering adalah menginap di rumah bung Verry (Keluarga Patty-Sapuletej) di Haarlem atau rumah bung Jop (Keluarga Franciscus-Gaspersz) di Moordrecht; atau di rumah bung Ulis Tahamata (Keluarga Tahamata-Sapuletej) di Barneveld.

Waktu-waktu perjumpaan tersebut sering kami habiskan dengan diskusi-diskusi untuk berbagi perspektif "Indonesia" dan "Belanda" yang bertemu pada satu simpul identitas kontradiktif "Maluku". Bung Verry adalah salah seorang pendeta dan teolog Maluku-Belanda. Pemikirannya mewarnai hampir setiap konsep-konsep teologis, sosiologis dan antropologis yang tertuang dalam berbagai tulisan maupun makalah-makalah seminar sebagai refleksi konstruktif memaknai sejarah, identitas, eksistensi dan masa depan komunitas Maluku-Belanda.

Sulit membayangkan bagaimana bisa "survive" sebagai "orang kampung yang culun" di tengah belantara Belanda waktu itu tanpa pendampingan bung Verry dan bung Jop. Apalagi mereka punya pekerjaan masing-masing. Tapi dorongan semangat, bantuan dan antusiasme mereka terhadap beta turut menjadi pemicu adrenalin untuk cepat merampungkan penulisan tesis di Vrije Universiteit Amsterdam. Dari mereka pula beta belajar banyak menyelami realitas sejarah, sosial-politik dan kebudayaan komunitas Maluku di Belanda dari perspektif yang lebih jernih tanpa pretensi politik atau ideologis apapun kecuali keinginan untuk saling belajar menata masa depan bersama dengan lebih jujur, konstruktif dan tulus.

Tanggal 24 Januari 2018 lalu beta mendengar kabar gembira bahwa bung Verry telah mempertahankan disertasi doktoralnya di Vrije Universiteit Amsterdam berjudul "Molukse theologie in Nederland". Beta belum membacanya. Tapi beta percaya disertasi ini tidak hanya merupakan sebuah karya akademik tapi merupakan refleksi eksistensial mengenai panggilan kehidupan generasi "kolonial" KNIL dan keturunannya dalam rentangan sejarah panjang dan pergolakan sosio-budaya serta politik untuk memahami alasan mengapa dan untuk apa mereka berada di tanah asing (Belanda). Tanah yang dulu asing itu kini harus diterima sebagai bagian yang integral dan eksistensial hidup mereka di Belanda, sambil terus-menerus memperjuangkan jembatan komunikasi kebudayaan dengan saudara-saudara di Maluku. Tanah Belanda itu bahkan telah menjadi konteks kehidupan yang mesti dengan serius dimaknai dalam refleksi-refleksi keimanannya.

Sering dalam gurauan kami saling bertanya: Ambon Manise atau Belanda Manise? Pertanyaan yang tampaknya remeh namun sebenarnya menyimpan guratan-guratan pedih dan dalam dari orang-orang yang menjadi korban dari pertarungan politik global pada masa lampau, serta terperangkap dalam jaring-jaring pemaknaan kebudayaan dan identitas yang kompleks.

Gefeliciteerd bung Verry Patty, usi Agu Patty-Sapuletej and the Patty!
Read more ...

Wednesday, January 10, 2018

WH


Tahun 2010, ketika menangani program live-in mahasiswa di beberapa jemaat di Klasis Telutih (Seram Timur), beta bertemu Pdt William Hehakaya (WH). Saat itu, dia melayani Jemaat Piliana, satu-satunya jemaat di wilayah pegunungan Seram Timur. Dari Kota Kecamatan Telutih ke Piliana, orang harus naik ojek sampai di pertengahan jembatan (setengah jadi) yang akan melintasi Sungai Kawanua. Karena jembatannya belum rampung, perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki menyeberang sungai besar tersebut. Sampai di seberang sudah menunggu beberapa pengemudi ojek lain untuk mengantar sampai ke Negeri Saunulu dan Negeri Yaputi.
Dari Yaputi, perjalanan harus ditempuh sejauh 9 km dengan berjalan kaki melewati jalan panjang setapak melintasi hutan dan sekitar tiga sungai kecil untuk sampai di dataran tinggi Piliana. Piliana adalah negeri (desa) kecil. Tidak ada jaringan listrik dan air bersih. Hampir separuh jumlah penduduknya waktu itu menderita penyakit lepra (kusta) dan penyakit kulit kronis. Bertahun-tahun mereka tidak mendapat layanan kesehatan yang memadai. Apalagi selama masa-masa sulit konflik sosial yang melanda seantero kepulauan Maluku beberapa tahun silam. Pendekatan pelayanan WH unik. Dia membangun komunikasi budaya dengan beberapa komunitas pela-nya (diaspora) dari Negeri Seith, yang tersebar di beberapa negeri di Seram Timur. WH dari Negeri Ouw (Saparua). Komunikasi budaya pela tersebut mampu menjadi salah satu modal budaya untuk menjaga penggalan-penggalan upaya merajut perdamaian di wilayah itu, termasuk menjaga Piliana dari dampak konflik.
Dia juga menggunakan pendekatan budaya dalam pembangunan jemaat Piliana. WH tak segan menari cakalele mengikuti ajakan para tetua adat Piliana. Atau, menikmati kunyahan sirih-pinang dalam pertemuan-pertemuan adat Piliana. Bahkan dia akhirnya diangkat sebagai kapitan dengan gelar adat Pulau Seram: Latu Kayahu Ula'ay (Raja Gunung 9). Itulah yang membuatnya disegani oleh semua orang di wilayah Telutih. Bapa Ari, salah seorang tetua adat Piliana, mengatakan kepada beta, "Ontua ini su jadi katong pung kapitan besar Piliana."
Dalam percakapan dengannya selama beberapa hari di Piliana, WH menyatakan sedang intens mengupayakan pembangunan satu kompleks pemukiman khusus untuk para penderita lepra di Piliana. Dia mengatakan bahwa upaya "mengisolasi" penderita lepra tersebut perlu dilakukan pertama-tama untuk memudahkan penanganan pengobatan selanjutnya.
Selain itu, WH juga memotivasi para pemuda Piliana untuk membersihkan lokasi sekitar Air Ninivala dan membangun sejumlah fasilitas ala tempat wisata. Sebagian pemuda sempat menertawakan ajakan WH. "Air Ninivala memang indah dan sejuk. Tapi siapa yang mau berwisata ke Piliana? Tidak ada jalan mobil ke desa ini." Mungkin demikian pikir mereka geli. Tapi bukan WH kalau hanya patah-asa dengan kondisi itu.
Hampir 10 tahun WH berjuang dengan berbagai cara untuk menggolkan rencana merintis jalan baru yang bisa dilalui kendaraan bermotor. Jalur yang memungkinkan bukan lagi dari Negeri Yaputi, tapi dari Negeri Hatu. Setelah mempelajari rute setapak melintasi hutan antara Hatu-Piliana (mungkin ratusan kali), WH pun yakin bahwa jalur ini layak dirintis sebagai jalur jalan baru. Dia berkoordinasi dengan instansi Pekerjaan Umum dan terus-menerus membangun komunikasi dengan berbagai pihak yang dianggapnya bisa membantu merealisasikan rencana "gila" itu. Bahkan sekelas bupati pun tak terbersit gagasan untuk membangun jalan itu. Tapi WH membuktikan itu bisa terjadi.
Beta lupa kapan tepatnya. Tapi WH sempat memajang foto-foto jalan rintisan tersebut. Kini jalur Hatu-Piliana ramai dilewati para pelancong domestik yang ingin menikmati keindahan dan kesejukan Air Ninivala. Sesuatu yang dulu nyaris tak terbayangkan. Setelah itu, lama beta tidak mendengar kabar WH. Yang beta tahu WH sempat melayani sebagai pendeta lembaga pemasyarakatan (lapas) di Saumlaki (Tanimbar Selatan).
Selama beberapa tahun terakhir, beta dengar kabar bahwa WH kini melayani di Jemaat Hukuanakota (Seram Barat). Ini juga salah satu jemaat di pegunungan Pulau Seram. Belum ada jalan yang layak dilintasi untuk menuju ke sana. Kalau musim panas, WH biasa menggunakan jip pick-up Taft "off-road" miliknya untuk pergi-pulang ke Hukuanakota, terutama membawa bahan-bahan bangunan atau obat-obatan untuk jemaat. Kalau musim hujan, jalan itu berlumpur parah dan hanya bisa dilintasi dengan menggunakan sepeda motor.
Ada beberapa tulisan yang sudah beta buat sebagai refleksi terhadap geliat kegigihan WH, yang beta muat di weblog pribadi. Secara pribadi, beta harus bilang WH adalah "anomali" dalam samudra pencitraan hipokrisi kaum agamawan zaman now. Berperawakan besar dan bertato, rambut panjang dan berjambang. Jauh dari kesan "alim" atau "sok saleh" serba artifisial. Humoris dan tidak jaim. Justru itulah yang membuat beta kagum karena WH tampil apa adanya.
Kali ini beta sangat senang karena geliat kegigihan WH termuat dalam liputan "Sosok" harian KOMPAS oleh bung Pati Herin. Liputan ini bagi beta bukan semata-mata untuk menonjolkan figur-figur tangguh seperti WH tapi lebih luas memperlihatkan realitas keterpurukan hidup masyarakat Maluku yang sering ditenggelamkan oleh jargon-jargon besar tapi kosong, terutama oleh para elite pejabat di kawasan ini. Liputan ini juga menjadi titik evaluasi agar hingar-bingar pilkada Maluku tidak membutakan mata-nurani kita untuk merasakan ketimpangan-ketimpangan sosial dan ketidakadilan pembangunan dalam kenyataan lautan kemiskinan yang akut.
Salut par ale Hehakaya Kayahu!
Read more ...

Friday, December 29, 2017

SUNYI DALAM KEBISINGAN Catatan Kegiatan Pengabdian Masyarakat Fakultas Teologi UKIM di Jemaat GPM Kayeli

Selama dua hari, Sabtu dan Minggu, tanggal 16 dan 17 Desember 2017, Fakultas Teologi UKIM melaksanakan Program Pengabdian Masyarakat di Jemaat Kayeli, di kawasan perbukitan Eri-Airlouw, Pulau Ambon. Jemaat Kayeli semula tinggal atau berada di Pulau Buru (Utara). Sejak merebaknya konflik Maluku tahun 1999-2005, jemaat ini terpaksa harus mengungsi keluar dari Pulau Buru. Sempat terlunta-lunta untuk beberapa waktu dan tinggal di beberapa wilayah pemukiman yang terpencar-pencar di Pulau Ambon, sebagian besar mereka kemudian mendapat “hibah” lahan tinggal di kawasan Negeri Amahusu.

Hidup sebagai “pengungsi” tentu bukanlah pilihan mereka. Namun, mereka terpaksa menerima kenyataan pahit itu dan berusaha untuk menyesuaikan kehidupan di tempat tinggal yang baru. Tentu saja, semua itu membutuhkan perjuangan yang berat karena interaksi sosial dengan komunitas-komunitas setempat juga tidak selalu berjalan mulus. Sebagai “pengungsi” mereka telah kehilangan segala-galanya: keluarga, tanah, pekerjaan; dan kini mereka tinggal di tanah yang asing bersama-sama dengan komunitas-komunitas setempat yang punya kebiasaan dan kebudayaan yang berbeda – kendati masih dalam satu organisasi keagamaan (gereja). Demikian pula sebaliknya, komunitas-komunitas setempat meskipun awalnya menerima mereka karena rasa iba dan solidaritas persaudaraan, tapi untuk selanjutnya muncul pula ketegangan-ketegangan di antara “orang setempat” dan “pengungsi” tersebut. Beberapa keluarga Kayeli kemudian memilih untuk mencari tempat tinggal yang baru, meninggalkan “barak pengungsi”.

Sejak terusir dari Kayeli di Pulau Buru dan menginjakkan kaki di Pulau Ambon, anggota-anggota Jemaat Kayeli tinggal di beberapa lokasi yang berbeda. Namun, sebagian besar masih bertahan di Kecamatan Nusaniwe: Unit 1 di Negeri Amahusu dan Unit 2 di Eri-Airlouw. Menurut Pdt. Ampy Nahuway, yang telah melayani di jemaat ini selama 8 tahun, jumlah anggota jemaat Kayeli saat ini sebanyak 58 kepala keluarga. Oleh karena dua unit pelayanan tersebut jaraknya jauh maka biasanya pada minggu pertama (PA) dilayani oleh pendeta jemaat dalam bentuk ibadah gabungan unit. Nanti minggu-minggu selanjutnya dilakukan per wilayah mukim. Pdt Ampy Nahuway sendiri tinggal di Halong (timur Pulau Ambon).

Tanah-tanah yang mereka tempati tidak sepenuhnya cuma-cuma. Mereka harus membayar sejumlah uang kepada para pemilik petuanan agar mendapat sertifikat tanahnya. Meskipun demikian tidak semua urusan sertifikasi tanah tersebut berjalan lancar. Selalu saja ada konflik-konflik yang menyertai proses-proses itu. Pada satu pihak, ada tuntutan untuk meleburkan komunitas Kayeli ke dalam pengorganisasian jemaat setempat. Namun, pada pihak lain, komunitas Kayeli memang bernazar bahwa meskipun mereka harus keluar dari tanah mereka di Pulau Buru dan menetap di tempat lain, tapi mereka akan tetap menjaga identitas komunitas mereka “Kayeli”. Mereka akan tetap bertahan sebagai Jemaat Kayeli. Untuk terus memanaskan nazar itu mereka membawa serta prasasti pertama pembentukan Kayeli yang dipasang pada dinding depan gedung gereja (sementara).

Beberapa tahun silam mereka mendapat hibah tanah dari sejumlah keluarga dari Eri-Airlouw. Lahan seluas 2 hektar itu kini sebagian telah digusur tapi belum bisa ditempati. Lokasinya agak terpencil jauh dari pemukiman penduduk Eri-Airlouw atau Seilale. Hanya ada dua bangunan di lokasi tersebut, yaitu gedung gereja (sementara) dan rumah pastori (yang sementara dibangun). Selain itu tidak ada bangunan lain.

Aliran listrik belum masuk ke lokasi ini. Menurut Pdt. Ampy Nahuway, dibutuhkan 11 tiang listrik untuk memasang jaringan listrik dari batas pemukiman terdekat. Satu tiang seharga Rp 2.000.000. Jadi, setidaknya mereka membutuhkan dana sebesar Rp 22.000.000 untuk membeli tiang listrik. Kebutuhan aliran listrik untuk Ibadah Minggu didukung hanya oleh 1 mesin generator. Semua kegiatan pelayanan terkonsentrasi hanya pada hari Minggu. Untuk itu saja para anggota jemaat harus berjalan kaki 2-5 km dari tempat tinggal mereka masing-masing. Jalan aspal sudah tersedia tapi belum ada trayek angkutan umum karena lokasinya sangat jauh dari jalan utama Seilale, serta jarang penduduk.

Kondisi jemaat semacam itulah yang mendorong Fakultas Teologi UKIM untuk mengarahkan Program Pengabdian Masyarakat ke Jemaat Kayeli. Selama dua hari, sebanyak 35 mahasiswa dan 6 orang dosen terlibat membantu pengerjaan pembangunan rumah pastori. Pembangunannya berjalan lambat (sudah 2 tahun belum selesai) karena bahan-bahannya disediakan secara bertahap tergantung ketersediaan dana mandiri atau bantuan pihak lain. Hanya ada 4 tenaga tukang yang diandalkan dari sumber daya jemaat sendiri.

Pada kegiatan “masohi” ini, Fakultas Teologi UKIM juga menyumbang sekitar 35 sak semen. Kegiatan-kegiatan yang digelar adalah kerja bakti pada hari Sabtu (16 Desember 2017) dan partisipasi dalam Ibadah Minggu (Adventus III – 17 Desember 2017) dengan penyusunan liturgi oleh Pdt. Peter Salenussa, M.Sn., serta para mahasiswa sebagai pendukung liturgi. Khotbah dilayani oleh Pdt. Dr. C. Pattinama/Kastanya, M.Psi. (Pembantu Dekan III). Setelah ibadah, kegiatan dilanjutkan dengan dua sesi materi penyusunan renungan/khotbah oleh Pdt. Oland Samson, M.A. (Pembantu Dekan III) dan penyusunan liturgi kontekstual oleh Pdt. Peter Salenussa, M.Sn. Sementara itu, Dekan Fakultas Teologi, Pdt. Dr. Sonny Hetharia, turut mendampingi kelompok mahasiswa dan dosen lainnya bergabung dalam “masohi” membantu para tukang yang mengerjakan pembangunan rumah pastori. Oleh karena tidak ada aliran listrik, kegiatan “masohi” tersebut harus berakhir jam 17.00 sebelum petang/malam.

Para mahasiswa sangat menikmati “masohi” bersama Jemaat Kayeli ini. Bagi mereka, ini merupakan pengalaman bekerja sekaligus berefleksi bersama-sama dengan kelompok jemaat yang selama ini belum pernah mereka kenal. Ada yang mengatakan bahwa berada selama 2 hari di jemaat ini mereka seperti merasa bukan di Pulau Ambon, yang juga dekat dengan Kota Ambon, ibukota Provinsi Maluku, dengan seluruh fasilitas dan kebisingannya. Memang tepat kesan itu. Selama 2 hari terlibat dalam kerja bersama Jemaat Kayeli, seolah-olah membawa kami memasuki kesunyian dalam kebisingan. Sunyi yang mencekam di antara kebisingan perayaan-perayaan ibadah natal yang semarak. Sunyi dalam kegelapan di antara gemerlap ribuan pohon natal berpendar cahaya lampu warna-warni. Sunyi dalam keterasingan di antara semarak ibadah-ibadah adventus di mana-mana. Suatu kesunyian yang mengajak untuk merasai dan melihat peluh, keluh dan gumul orang-orang Kayeli.

Read more ...

Monday, November 27, 2017

MESIR

Tak banyak narasi tentang Mesir yang saya tahu hingga bersua dengan sahabat-sahabat karib Murtafie Harris dan Eid Salah. Cak Harris, demikian panggilan akrab Murtafie, adalah dosen UIN Sunan Ampel, jebolan Universitas Al-Azhar Kairo Mesir. Kami satu angkatan studi di ICRS Yogyakarta dan teman diskusi yang asyik. Melaluinya banyak narasi tentang Islam dan Gerakan Islam di Mesir, termasuk pengalaman mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang belajar di sana, yang saya dengar.
Sementara Eid Salah adalah seorang pendeta Mesir Kristen. Kami bertemu dalam program International Summer School on Religion and Public Life tahun 2012, suatu program belajar bersama lintas ilmu, lintas agama dan kebudayaan serta lintas negara kerjasama UGM dan Boston University, di Yogyakarta dan Bali. Di situ saya berkenalan dan bersahabat hingga kini. Darinya saya mendapat banyak informasi mengenai Kekristenan di Mesir, melengkapi narasi tentang Islam Mesir dari Cak Harris.
Mesir punya sejarah peradaban agama-agama yang panjang. Dalam rentang historis tersebut masyarakatnya bergulat dinamis dengan realitas sosial-politik, ekonomi dan keagamaan yang kompleks. Semua faktor itu pada gilirannya membentuk karakter sosial yang khas dan cenderung keras. Tidak mudah memahami orang Mesir, demikian pernyataan kedua sahabat tadi. Fakta itu tampak jelas pada seorang "senior" angkatan di ICRS dari Mesir.
Narasi kekerasan, dengan dalih apapun, tampaknya terekam kuat dalam sejarah dan realitas Mesir, sebagaimana tercatat dalam teks-teks Hebrew Bible (Old Testament). Kontur psikologi budaya dan relasi agama-agama turut memainkan peran signifikan dalam konstruk kesadaran dan praksis hidup keseharian orang Mesir. Pada sisi lain, Mesir memperlihatkan pula kekuatannya dalam membangun tradisi dan peradaban yang mumpuni dalam pengetahuan.
Serangkaian aksi kekerasan agama beberapa waktu belakangan tentu saja mesti dilihat dalam konstelasi sosial-politik baik internal maupun eksternal, terutama di kawasan Timur Tengah. Aksi serangan bom yang disasar kepada dua gereja Kristen Koptik pada bulan April lalu, dan berlanjut dengan serangan bom Masjid Al-Rawdah di Sinai yang menewaskan 235 orang itu memperlihatkan bahwa ancaman sesungguhnya ada pada konstruk kesadaran sosioreligius yang serba absolut. Oleh karenanya bahasa keagamaan yang dialogis dan humanis tidak mampu meredam belitan tiga simpul: kuasa-agama-senjata. Dengan semua yang serba absolut, "identitas" yang sama tak cukup kuat mengikat solidaritas. Pembenaran atau justifikasi yang serba mutlak itu pun menjadi dalil teologis untuk melumat habis kekayaan kultural yang membesarkan peradabannya.
Di Indonesia, kita berprihatin atas makin beringasnya kuasa-agama menggilas modal-modal humanisme hanya demi justifikasi utopia teologis. Bahkan belakangan kita disuguhi tontonan vulgar bahwa kuasa-agama tidak selalu butuh senjata tetapi kata. Maka kita kini sementara mengunyah kata-demi-kata yang ampuh bak senjata yang menewaskan nalar kemanusiaan dan gelisah etika yang sebenarnya berfungsi menyambung matarantai nurani lintas-batas identitas.
Akankah kita juga takluk oleh senjata permainan kata-kata yang melipat nalar waras menjadi narasi-narasi kebohongan? Lantas, merasa bahwa kitalah pemegang kemutlakan paripurna untuk menentukan hidup-mati liyan. Narasi pilu Mesir yang didera kepongahan kuasa-agama-senjata banyak memberi pelajaran bagi kita orang Indonesia. Termasuk pelajaran bahwa modal humanisme pada hakikatnya tak pernah sepenuhnya pudar, seperti dentang lonceng yang menandai dukacita sekaligus membunyikan harapan bahwa kemanusiaan tak layak diluluhkan hanya demi sepetak surga.
Read more ...

Friday, October 20, 2017

Catatan Perjalanan MPP Ke-30 AM-GPM

Catatan Perjalanan MPP Ke-30 AM-GPM
(Musyawarah Pimpinan Paripurna - Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku)
Wooi, 15-18 Oktober 2017

Setelah bertolak dengan kapal Sumber Raya 03 dari Pelabuhan Slamet Riyadi atau Pelabuhan kecil Ambon dan berlayar semalaman, kami tiba di Jemaat Wooi, Klasis Obi. Secara administratif, jemaat ini berada di wilayah Kecamatan Obi Timur, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara.

Kapal hanya bisa berlabuh karena belum ada dermaga. Beberapa long-boat datang untuk mengangkut peserta bolak-balik menuju darat. Panitia lokal dan jemaat sudah menunggu di pantai bersamaan dengan hujan yang menyambut. Setelah semua peserta mendarat dan berkumpul di gedung gereja, fungsionaris AM-GPM membagi peserta ke rumah-rumah warga jemaat.

Beta mendapat tempat di rumah keluarga Rehaji-Lakoruhut (Son dan Loni, bersama dua anak mereka - Brevy dan Kris). Rumah mereka masih dalam kondisi semi-permanen. Lantai masih plesteran kasar semen; demikian pula dengan dinding rumah; dua kamar tidur dan satu kamar mandi belum berpintu tapi hanya ditutupi gorden; kebutuhan air diperoleh dari perigi keluarga samping rumah.

Son bekerja sebagai petani musiman yang setiap empat bulan mengambil kelapa di dusun kelapa milik keluarga, kemudian mengolahnya menjadi kopra. Proses memetik kelapa dilakukan bersama-sama dengan keluarga-keluarga lain. Pengolahan menjadi kopra dilakukan sendiri oleh masing-masing keluarga pemilik dusun. Setelah kopra selesai diolah, mereka tinggal menunggu para pedagang untuk datang menimbang, membeli dan mengangkutnya ke Ternate dan Ambon untuk selanjutnya dijual. Selain kopra, sebenarnya mereka juga mengolah padi ladang. Tapi usaha padi ladang makin surut seiring dengan mengalirnya "beras jadi" dari luar.

Terdapat tiga gedung sekolah: SD Negeri 155 Halmahera Selatan (dulu SD Inpres Wooi), SD YPPK Dr Sitanala (milik GPM) dan SMP Peduli Bangsa. Sedangkan SMA LPM belum memiliki gedung sekolah sendiri dan masih menggunakan gedung SMP. Ada 20 tenaga guru yang membagi tugas pengajaran pada tiga jenjang pendidikan tersebut secara bergiliran. Beberapa keluarga menyekolahkan anak-anak mereka untuk kuliah di Ambon. Hanya anak kades yang saat ini sedang melanjutkan kuliah di Yogyakarta. Sekolah Dasar YPPK (milik GPM) didirikan sekitar 8 tahun lalu hingga sekarang telah memiliki gedung sendiri dan mendapat akreditasi B.

Wooi diapit oleh dua jemaat, yaitu Jemaat Sum dan Jemaat Bobo. Namun tidak ada jalan penghubung antara ketiganya di pesisir selatan Pulau Obi. Transportasi antardesa di pesisir Pulau Obi hanya mengandalkan long-boat (ketinting) dan kapal ("Obi Permai" yang melayari angkutan ke Ternate dan "Amboina Star" ke Ambon). Aliran listrik hanya berfungsi dari jam 6 sore hingga 6 jam pagi. Setiap rumah dibatasi penggunaan listriknya hanya untuk 4 mata lampu. Beberapa rumah menambah daya dengan mesin genset yang mereka punya. Sinyal hp bisa diterima lancar karena sudah didirikan tower telkomsel di perbukitan sebelah utara Desa Wooi.

Mengapa selama puluhan tahun tidak tersedia infrastruktur jalan darat trans-Obi? Padahal sepanjang pesisirnya tidak ada hambatan medan yang terlalu berat untuk ditembus. Beberapa orang dengan bisik-bisik mengatakan bahwa mereka menduga ada "konsensus bisnis" antara pemda dan para pemilik kapal yang sudah belasan tahun menguasai transportasi laut. Bisa dibayangkan bahwa bisnis angkutan laut satu-satunya akan pailit atau seret keuntungan jika tersedia jalan darat yang menghubungkan desa-desa di pesisir Pulau Obi.

Selama 5 tahun terakhir (2012-2017) Jemaat Wooi dilayani oleh Pdt Jessy Siwabessy. Secara demografis, Desa Wooi terdiri dari 300 kepala keluarga dan sekitar 2000 jiwa. Ada 18 keluarga yang menjadi warga jemaat GMIH. Hampir seluruh warga jemaat GPM bekerja sebagai petani musiman, sedangkan yang lainnya adalah kepala sekolah dan guru. Mereka mempunyai dusun kelapa dan tanaman umur panjang lainnya sepanjang wilayah perbukitan di belakang kampung. Tidak besar minat mengelola hasil laut, yang lebih banyak untuk kebutuhan konsumsi keluarga.

Usai makan malam hari pertama, beta terlibat dalam bincang-bincang hangat bersama rekan-rekan pendeta yang sudah menjadi pimpinan klasis-klasis untuk berbagi pengalaman dan refleksi kontekstual mereka masing-masing. Perjumpaan yang saling menghidupkan karena sudah lama tidak bersua setelah masing-masing lulus dari Talake (Tanah Lapang Kecil) dan tersebar di berbagai Talaba (Tanah Lapang Besar).

Esok harinya, melalui bincang-bincang ringan sambil sarapan, Son, tuan rumah tempat beta menginap, bercerita tentang pengalaman mengungsi ke hutan karena diserang oleh kelompok-kelompok tak dikenal tahun 2002 sebagai imbas konflik Ambon 1999. Rumah-rumah yang mereka tinggalkan dibakar habis sehingga kemudian mereka harus memulai segala sesuatunya dari awal.

Dia juga bercerita tentang satu perusahaan yang ingin mengeksplorasi tambang pasir besi di Wooi. Rencana perusahaan itu ditolak mentah-mentah oleh orang Wooi apalagi setelah mengetahui bahwa area eksplorasi membentang sepanjang 15 km dari pantai ke gunung membelah kampung Wooi. Sementara itu, di sebelah lain Pulau Obi, sekarang sudah beroperasi perusahaan tambang nikel di Desa Kawasi.

Ibadah pembukaan MPP AM-GPM dilayani oleh Pdt Lodewik Laisila (Ketua Klasis Seram Timur). Acara pembukaan secara organisatoris dilakukan setelah ibadah. Namun mengalami keterlambatan dari jadwal yang telah ditentukan karena harus menunggu kedatangan Bupati Bahrain Kasuba dan rombongannya, yang mendarat setelah kami menunggu hampir satu jam.

Hari-hari selanjutnya dipenuhi oleh diskusi-diskusi dalam beberapa komisi mengenai konsep dan tindaklanjut advokasi yang menjadi komitmen misioner AM-GPM. Sejumlah keputusan disepakati dan berbagai upaya memperkuat jejaring advokasi dimatangkan bersama-sama. Di bawah payung tema "Allah Kehidupan, tuntunlah kami membela dan merawat kehidupan" dan subtema "Bersama-sama mengadvokasi hak hidup dan alam untuk hidup berkelanjutan yang semakin bermutu", ajang MPP AM-GPM ini adalah aksi-refleksi untuk mewujudkan panggilan menjadi "garam dan terang dunia".

Dengan segala kebersahajaan mereka, Jemaat Wooi telah menerima, menjamu dan melayani kami, 120an peserta MPP AM-GPM dari 33 daerah. Menjadi bagian kebersahajaan hidup mereka selama 4 hari telah menjadi pengalaman bernilai memaknai hidup berbela-rasa dan bersama-sama bergerak membela (advokasi) kehidupan yang membentang ke masa depan.

Hari Kamis siang (18/10), masing-masing peserta diantar oleh bapa-mama-saudara piara berkumpul di pantai untuk secara bergiliran naik long-boat menuju kapal Sumber Raya 03 yang berlabuh di tengah laut bergoyang dalam alunan ombak pasang. Perpisahan yang mengharukan saat long-boat terakhir mengantar dengan menaikkan panji AM-GPM dan bermanuver mengiringi Sumber Raya 03 yang menarik jangkar. Seakan hendak menyampaikan pesan "tidak ada perpisahan di bawah panji garam dan terang dunia". Kita akan bersua lagi di arena MPP ke-31 tahun 2018!

Angin sore itu meniup cerita-cerita kami di atas kapal sambil mata menyusur pohon-pohon kelapa sepanjang pesisir Pulau Obi. Kami akan menyinggahi Wayaloar untuk menurunkan beberapa peserta MPL Sinode GPM. Setelah 1 jam  di Wayaloar, kami pun melanjutkan pelayaran ke Ambon.

Terima kasih Wooi!

Read more ...

One Earth, Many Faces

One Earth, Many Faces