Aku menulis maka aku belajar

Monday, December 21, 2020

Filosofi atau Pilusopi? ~ Sudut Pandang


Kebudayaan manusia terbentuk dan berkembang sebagai buah pemaknaan interaksi manusia dengan lingkungan alamnya dan lingkungan sosialnya. Interaksi itulah yang menciptakan masyarakat. Di dalam konteks bermasyarakat, manusia terus-menerus mencari sekaligus memberi makna pada kedua lingkungan tadi. Keduanya tak terpisahkan melainkan berjalin antara "budi" (nalar/moral) dan "daya" (potensi alamiah) sehingga membentuk "budaya". Padi yang tumbuh tidak hanya menjadi "daya" tetapi sekaligus termaknai sebagai "budi" saat dikelola hingga menjadi "beras" dan "nasi" di atas meja makan kita. 

Dalam proses itu, padi atau beras atau nasi mengalami pelapisan berbagai makna menurut manusia yang menanam, mengolah dan mengonsumsinya. Ketiga aktivitas itulah yang membentuk kebudayaan manusia. Dengan memberi makna, manusia mengalami proses pembatinan sehingga segala tindakannya adalah wujud integratif pengetahuan-yang-teralami. Pengetahuan tidak berhenti atau terbatasi hanya pada kerja "budi" tapi juga pada "daya" alamiah ruang hidupnya. Itulah hikmat, yang menjadi muara pencarian ultim manusia, yang kerap dibahasakan ringkas dengan istilah "filosofi" ~ pencarian penuh hasrat akan hikmat. 

Melalui bingkai filosofi itu maka semua fenomena dan fakta sosial-budaya yang terjadi dalam lingkungan alam dan lingkungan sosial manusia, selalu punya makna yang diarahkan bagi kehidupannya sendiri, keluarganya dan masyarakatnya. Sebatang besi di tangan seorang pandai besi bisa menjadi mata cangkul, parang, pisau dll. sebagai alat mengembangkan kebudayaan: olah tanah, membabat semak belukar, mengiris bawang untuk masakan. Namun, alat-alat itu bisa juga dipakai untuk tujuan yang berbeda dari maksud awal pembuatannya, misalnya: membunuh manusia atau hewan. Apakah jika pisau yang dibuat untuk mengiris bawang atau mengupas mangga digunakan untuk melukai dan membunuh orang lain, lantas pisau itu harus dienyahkan? Tentu tidak perlu. Karena nalar budaya penggunanyalah yang menentukan makna dan fungsi pisau itu dalam konstruk kebudayaannya. Pemaknaannya harus bergerak dialektis antara nalar instrumentalis dan nalar eksistensialis. Di situlah filosofi kebudayaan disusun agar manusia tidak hanya terkurung dalam ruang nalar instrumentalis belaka tapi terus menjelajahi makna keber-ada-annya (eksistensial). 

Demikian pula halnya dengan sopi atau arak atau tuak. Itu adalah instrumen kebudayaan manusia yang difabrikasi dengan makna dan fungsi tertentu dalam interaksi sosial, yang melahirkan beragam tradisi atau festival untuk merayakan sosialitas manusia dalam masyarakatnya. Tradisi minum bir atau anggur (wine) bagi masyarakat Eropa adalah bagian dari cara menghangatkan tubuh yang terpapar suhu dingin. Sekaligus instrumen budaya menghangatkan tubuh sosial masyarakat sebagai momen bersosialisasi. Menenggak bir atau wine secara berlebihan bisa membuat peminumnya hilang setengah kesadaran alias mabuk. Tapi jelas kemabukan itu bukan disebabkan oleh bir/wine itu sendiri melainkan pada kehendak orang yang menikmatinya. Entah karena dorongan keinginan sendiri atau suasana kelompoknya. 

Sopi tidak bisa dipahami terlepas dari makna dan fungsi budayanya dalam masyarakat adat di Maluku. Upacara-upacara adat di Maluku hampir selalu menyediakan sopi sebagai instrumen/media penting prosesi adat, termasuk dalam penyelesaian sengketa sosial. Fenomena dan fakta yang sama bisa dilihat pada berbagai ragam kebudayaan nusantara. Keberadaan sopi tidak bisa dikorelasikan begitu saja dengan frekuensi kasus orang mabuk dan naiknya angka statistik kriminalitas di suatu tempat. Bahwa orang hilang setengah kesadaran atau mabuk karena menenggak sopi secara berlebihan, lalu melakukan aksi kriminal, itu adalah hasil kerja "budi" orang itu sebagai individu. Sopi itu sendiri adalah instrumen budaya yang berdiri sendiri dan tidak bisa ditempatkan dalam relasi kausalitas aksi kriminal yang terjadi. 

Sebagai instrumen budaya yang berdiri sendiri, sopi juga bisa diboboti dengan makna dan fungsi yang lain, misalnya ekonomi. Para produsen sopi adalah kelompok masyarakat yang mengembangkan budi-daya untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup mereka secara transaksional dengan menyediakan materi yang diminati kelompok konsumen tertentu. Pola transaksional ekonomi pun berkembang dari lingkup yang terbatas pada satu teritori meluas ke teritori-teritori lain sebagaimana pola perdagangan lazimnya. Relasi yang terjalin adalah relasi produsen-konsumen. Produsen hidup karena ada konsumen. Konsumen ada karena kebutuhan. Dalam relasi produsen-konsumen itu, sopi tetap adalah instrumen budaya yang berdiri sendiri dan yang dimaknai memiliki nilai ekonomi yang mendatangkan keuntungan finansial bagi matarantai petani mayang-produsen-penjual-pengecer. 

Formulasi hukum positif bahwa sopi termasuk minuman beralkohol yang dilarang beredar tentu harus dibaca sebagai upaya mencegah efek sosial yang buruk yang ditimbulkan jika seseorang atau sekelompok orang menenggaknya secara berlebihan. Minuman beralkohol itu bukan hanya sopi. Tapi mengapa sopi yang terus menjadi sasaran penyitaan aparat kepolisian, bahkan dengan cara-cara tidak prosedural dan tidak pantas kepada orang-orang yang bukan konsumennya? Mengapa begitu banyak jenis minuman beralkohol entah dengan kadar rendah, sedang atau tinggi, yang tetap beredar di ruang-ruang publik tapi lolos dari aksi penyitaan polisi? Simpulnya ada pada ketidakbijaksanaan pemerintah untuk menyusun regulasi perizinan peredaran sopi. Produsen sopi tetap akan memproduksi sopi karena mereka memiliki "daya" (potensi alamiah), yaitu pohon mayang. Produksi sopi akan terus beredar karena ada permintaan konsumen. Pada sisi lain, ketersediaan sopi dalam suatu masyarakat adat mesti tetap terjaga karena sebagai instrumen budaya, sopi adalah unsur penting dalam tradisi budaya masyarakat nusantara, termasuk Maluku. Penyitaan sopi dengan cara-cara yang tidak manusiawi (menyiram orang dengan sopi yang dibawanya) bukan metode yang tepat untuk mereduksi efek buruk dari konsumsi sopi secara berlebihan. Sebaliknya, cara-cara semacam itu malah memperlihatkan betapa rapuhnya penanganan hukum terhadap upaya-upaya menekan angka kriminalitas bukan pada sumber masalahnya. 

Tulisan kecil ini bukan hendak menganjurkan orang minum sopi. Tapi ingin mengingatkan kita bahwa tingginya angka kriminalitas disebabkan oleh multifaktor. Peredaran sopi di kalangan masyarakat harus diatur dengan regulasi yang komprehensif. Tidak cukup hanya dengan cara menyita produknya, tapi mesti mencakup regulasi produksi, pengolahan, kemasan, citarasa, kadar alkohol dan peredaran secara berizin. Prosedur formal semacam itu tidak hanya mencegah efek buruk dari konsumsi sopi yang berlebihan tapi juga menempatkan sopi sebagai "budi-daya" yang secara ekonomi memberi keadilan kepada kelompok-kelompok masyarakat yang menggantungkan nafkah mereka di pohon-pohon mayang. Pendekatan pemberdayaan ekonomi masyarakat kepulauan seperti Maluku tidak bisa disamakan begitu saja dengan wilayah-wilayah lain. Penanganan masalah sopi di Maluku membutuhkan kerangka kerja filosofi, agar tidak menimbulkan cara-cara "pilusopi" (baca: sopi membawa kepiluan).
Read more ...

Monday, November 30, 2020

64


Waktu masih menunjuk sekitar 5.45 WIB ketika bus Surabaya-Semarang menurunkan saya di Jetis Kota Salatiga. Badan cukup lelah. Saya dan Stevy Likumahwa telah menempuh pelayaran dengan KM Rinjani klas ekonomi selama empat hari Ambon-Surabaya. Stevy langsung ke Jakarta dan akan menyusul ke Salatiga. Saya langsung ke Salatiga.

Saya bingung. Ini kali kedua menginjak kota sejuk ini. Tapi kunjungan pertama hanya mengikuti seminar selama 2 hari beberapa tahun silam sebelumnya. Saya memanggil seorang pengayuh becak dan meminta mengantar saya ke Asrama Kartini 11A (Askarseba). Tidak ada ponsel saat itu. Saya hanya mengandalkan percakapan terakhir dengan John Titaley (JT) sebelum meninggalkan Ambon. Setelah bertanya ke petugas satpam, saya diarahkan ke perumahan dosen tempat JT tinggal. Saya diterima JT dan ibu
Ida Imam
. Setelah menyeruput teh hangat dan sarapan, JT menelepon pak Slamet dan menanyakan tentang kamar di Unit 7 (Pascasarjana). Tak lama setelah itu, JT sendiri mengantar saya berjalan kaki menuju Unit 7 kamar 701.
Itulah hari saat hidup saya selanjutnya terhubung dengan Satya Wacana. Saya dan Stevy Likumahwa adalah 2 mahasiswa pascasarjana di antara beberapa mahasiswa (S1) lainnya yang saat itu ditolong oleh UKSW untuk menyelesaikan studi pascasarjana yang terhambat karena situasi Ambon yang sedang bergolak oleh konflik sosial. Status kami adalah mahasiswa titipan. UKSW saat itu berani menerima kami dan mengelola kehadiran kami sedemikian rupa sehingga dapat disesuaikan dengan sistem pendidikan yang berlaku di kampus itu. Kami diberi waktu hanya sekitar 6 bulan untuk menyelesaikan penulisan tesis. Biaya studinya? Dalam satu kunjungan ke Australia, JT mengontak beberapa mahasiswa Maluku yang sedang studi di sana. Salah satunya adalah
Marthin Nanere
(sekarang mengajar di La Trobe University Australia). Dari hasil pertemuan singkat itu, ada komitmen untuk membantu biaya hidup kami berdua selama di Salatiga dan UKSW memberikan sejumlah dispensasi biaya studi.
Askarseba Unit 7 kamar 701 menjadi saksi pergulatan studi saya siang dan malam untuk mengolah semua data yang telah saya kumpulkan, menganalisis, dan menyusunnya bab demi bab hingga selesai menjadi tesis. Komunitas Askarseba adalah keluarga bagi saya.
Sejak saat itu, Salatiga dan UKSW ternyata menjadi "ruang kehidupan" bagi saya dan keluarga saya.
Nancy Souisa
menyelesaikan studi S2 di UKSW dan kemudian melanjutkan tugasnya sebagai Direktur Pelaksana (Dirlak) Persetia di Jakarta selama 2 periode (10 tahun). Tahun 2012, ia melanjutkan studi S3 juga di UKSW, sementara saya setahun sebelumnya (2011) sudah berproses di ICRS-UGM Yogyakarta. Kami mengontrak rumah kecil di Perum Purisatya Permai. Setiap 2 minggu saya bolak-balik Yogya-Salatiga dengan sepedamotor Suprafit bekas yang saya beli di Yogya. Sekarang (2020), putra kami,
Kainalu Gaspersz
, melanjutkan kuliahnya di Prodi Hubungan Internasional, FISKOM UKSW. Putri kami, Kailani Gaspersz, lahir di Salatiga. Ibu Ida Imam menjadi orangtua pertama yang menengok Nancy di RSIA Mutiara Bunda karena saat itu saya sedang menjalankan tugas di GKI JenSud.
Ketika melihat kembali jejak-jejak langkah yang saya jalani hingga saat ini, sulit untuk tidak melihat UKSW sebagai "rumah kehidupan" saya, meskipun saya hanya setengah alumni. Dengan seluruh narasi sejarahnya yang panjang selama 64 tahun, saya bangga telah menjadi bagian dari kampus ini yang dalam banyak hal telah membentuk corak intelektualitas saya dan memperkokoh persaudaraan yang cerdas dan elegan dalam komunitas kampus yang multi-identitas.
Tahun 2014, saya, Nancy Souisa,
Izak Y. M. Lattu
dan
Tedi Kholiludin
menginisiasi sebuah buku antologi sebagai penghormatan kepada John Titaley. Waktu itu usia beliau genap 64 tahun. Banyak yang bertanya: Mengapa tidak dibuat tepat 65 tahun? Kami tidak tahu jawabnya. Waktu itu tujuan kami hanya ingin memberi "kado" kepada JT. Untunglah, Romo Mudji Sutrisno, SJ yang bersedia memberi endorsement membantu menjawab dalam catatannya yang terpasang di sampul belakang buku itu: "64 tahun dalam kebijaksanaan Jawa adalah usia tumbuk, artinya bertemulah 'spiritual depth and life wisdom' dari Allah Sang Pencipta."
Dari sejumlah orang yang kami kontak, ada 19 orang yang pernah belajar di UKSW di bawah asuhan JT yang bersedia menulis. Uniknya, tidak ada honor bagi para penulisnya. Sebaliknya, setiap penulis urunan untuk biaya cetak dan publikasinya. Saya dan Tedi Kholiludin menjadi editornya. Biaya cetak ternyata tidak cukup. Alhamdulilah,
Sumanto Al Qurtuby
yang waktu itu rezekinya lagi meroket karena sudah menjadi profesor di Universitas Notre Dame AS, mengirim sejumlah dolar AS, sehingga akhirnya buku itu bisa dicetak dan terbit meski oplahnya terbatas sekali.
Hari ini kami sekeluarga mengucapkan Selamat Ulang Tahun ke-64 UKSW! Semoga ini juga menjadi "usia tumbuk" dimana "spiritual depth and life wisdom" dari Allah Sang Pencipta bertemu dan tetap menjadi berkat bagi dunia pendidikan tinggi Indonesia.
** Mengenang sahabat Stevy Likumahwa yang beberapa bulan setelah wisuda S2 menjadi korban penyerangan kelompok tak dikenal di rumahnya.
Read more ...

Saturday, November 28, 2020

Indonesia dari Lemba Tongoa

Tepat saat gema adventus dikumandangkan dan pesan-pesannya bertaburan di media sosial, ada dentum penganiayaan yang kelam dan bisu di Lemba Tongoa (Jumat, 27/11/2020). Tubuh-tubuh tumbang tak bernyawa dan aroma sangit rumah-rumah yang hangus menjadi noktah suram mengiringi penghujung tahun ini. Berita ini tak seriuh kejadian yang disajikan oleh banyak media mengenai Jakarta. Jakarta memang punya daya gravitasi karena, bisa jadi, mentalitas kita telah lama dibelah oleh kepicikan “pusat” dan “daerah”. Maka daerah dan semua yang terjadi di sana tak lebih panorama sekilas yang menjadi latar remang-remang dari gemerlap Jakarta. Lihat saja, bagaimana pose membaca buku seseorang di Jakarta tiba-tiba viral dan media sosial dipenuhi pose-pose latah “membaca buku”. Tentu saja, peristiwa pilu Lemba Tongoa bukan soal “how democracy dies” tapi soal kemanusiaan yang dibekap, dilumpuhkan dan dipenggal hingga mampus demi sesuatu alasan yang tak beralasan. Entah apa. 

Ketika daya gravitasi Jakarta itu menyedot seluruh darah kebhinekaan Indonesia ini maka yang tersisa hanyalah wacana tunggal yang terpusat di seputaran Monas saja. Pesona keindonesiaan yang jamak identitas dan merentang jauh dari orbit Jakarta itu pun nyaris terabaikan dan dibisukan. Ini bukan semata soal agama. Ini lebih pada soal apakah kita masih bisa melanjutkan kesepakatan kita mengindonesia dengan cara-cara barbar di sebuah era ketika manusia-manusia di belahan lain bumi ini sedang genit dengan artificial intelligence dan garang mengumandangkan akar-akar hak asasi manusia. Ini juga bukan problem mayoritas-minoritas, karena sedari awal fondasi republik ini tidak dirajut dengan benang-benang sentimen mayoritas-minoritas tapi pada rasa hormat yang dalam terhadap multi-identitas yang menyusun berbagai kromosom kebudayaan, lokalitas, religiositas, dan nasionalitas menjadi darah-daging-tulang republik ini. Secara faktual-historis, tubuh republik ini tak putus didera pukulan dan bacokan sentimen-sentimen primordial. Kendati terhuyung-huyung dengan luka dan lebam di sekujur tubuhnya, kita masih bersikukuh untuk bertahan. Tapi, sampai kapan?

Jika daya gravitasi Jakarta masih kuat mempesona dan memabukkan hingga mata kita kian rabun, telinga kita makin tuli dan rasa kita makin tumpul terhadap hakikat mengindonesia ini, tidakkah kita sedang mengubur hidup-hidup utopia “menjadi Indonesia”? Padahal utopia itu kita butuhkan sebagai pengingat kewarasan bahwa tidak ada spesies übermensch yang atas nama tuhan apapun bisa menggilas nilai-nilai kemanusiaan dari manusia lainnya. Rakyat republik ini dalam kemenjadian historis dan antropologisnya telah menaruh hormat dan rasa percaya kepada segelintir orang yang didefinisikan sebagai “pemerintah”. Di dalam sikap hormat dan rasa percaya itu terkandung harapan besar bahwa teladan-teladan kepemimpinan yang visioner dan manusiawi akan menentukan orientasi pengelolaan kekuasaan yang rumit, kusut dan saling berbenturan. Di situlah daya gravitasi Jakarta mesti diinterupsi agar semua kita belajar dan terbiasa untuk membaca Indonesia bukan dengan kacamata kuda “Jakarta”, tapi memperbesar retina keindonesiaan untuk mencermati dengan jeli lokalitas-lokalitas yang menggeliat mencari bentuk-bentuk mengindonesia yang belum tuntas ini.

Mencari pembenaran sepihak dengan telunjuk yang menuding “gerakan pemberontak” atau “gerakan teroris” hanya akan menguak luka-luka bernanah ketidakadilan yang dikorek dengan moncong-moncong senjata. Persoalannya sudah tentu tak akan pernah berakhir di ujung senapan. Luka-luka ketidakadilan itu akan terus menjadi kudis-kudis yang harus digaruk dengan jumawa dan membuat siapapun nekat melakukan pembelaan terhadap harga diri yang dibenamkan dalam lumpur kemiskinan yang pekat.

Rakyat negeri ini memberi kepercayaan yang besar kepada segelintir orang yang disebut “pemerintah” untuk menggunakan kewenangan mereka menjaga harkat dan martabat kemanusiaan yang terus menghidupi utopia “menjadi Indonesia” ini. Kepercayaan itu sudah seharusnya dijalankan sebagai mandat kuasa demi mempertahankan makna asasi manusia Indonesia yang merdeka dan berdaulat, dengan rentang optikal kebangsaan dari ujung timur hingga ujung barat geografis Indonesia. Kepercayaan itu seharusnya pula berfungsi dengan kesadaran bahwa Indonesia bukan Jakarta [saja], tapi beragam lokalitas yang menopangnya sebagai pilar-pilar eksistensial, bukan instrumental belaka.

Pada titik itu, solidaritas kepada korban-korban yang berjatuhan di negeri ini tidak lagi menjadi kontestasi yang terbungkus oleh kemasan primordial etnis atau agama, tapi karena keprihatinan akan makin luruhnya rasa cinta dan hormat kita pada kemanusiaan yang asasi demi secuil kuasa yang diperebutkan dengan rakus.
Read more ...

Wednesday, October 7, 2020

"Indonesia" di Ithaca - Catatan Penghormatan 70 Tahun SEAP Cornell University (Bagian III)


Atas bantuan informasi dari Bli Made Supriatma, saya terhubung dengan CIA (Cornell Indonesian Association). Beberapa rekan Indonesia dari CIA mengontak saya dan tak lelah mengirim info seputar kehidupan masyarakat Ithaca dan berbagai hal yang memungkinkan saya mampu
survive di kota kecil ini melewati hari-hari yang beku. 

Sebelumnya, dalam suatu percakapan, Prof. Laksono sempat memberi pesan. "Di Cornell, ada 2 Ben yang harus kau hubungi. Ben Anderson di Kahin Center dan Ben Abel di Perpustakaan Olin-Kroch," demikian kata Pak Laks. Sedikit kecewa karena Prof. Ben Anderson tidak berada di Ithaca saat itu. Kabarnya, beliau selalu pergi ke tempat-tempat yang hangat (tropis) selama musim dingin. Di sisi lain, saya sangat beruntung dapat mengenal dan berjumpa dengan Ben Abel, seorang pustakawan andal di Perpustakaan Olin-Kroch, yang selalu terbuka membantu saya dalam urusan literatur di perpustakaan dan teman diskusi yang hangat. Tak hanya itu, Ben Abel juga yang mengajak saya mengenal seluk-beluk Cornell dengan berkeliling area-area kampus dan mengunjungi tempat-tempat indah ketika matahari musim semi mulai bertandang ke Ithaca.

Kahin Center dan Perpustakaan Olin-Kroch adalah 2 tempat meditasi saya di Cornell. Meskipun saya diberi ruang kerja tersendiri tapi saya lebih suka menghabiskan waktu di ruang pustaka pribadi George McTurnan Kahin, membaca berbagai jurnal, kepustakaan klasik, sejumlah disertasi sarjana Indonesia seperti Taufik Abdullah, George Aditjondro, Daniel Dhakidae dll; selain dokumen-dokumen tulisan sarjana Indonesia yang sulit diperoleh lagi di Indonesia, seperti Ariel Heryanto. Deretan jurnal tentang kajian Indonesia dari timur sampai barat berjejer panjang dan rapi, membuat saya terheran-heran juga mengapa dokumen-dokumen ini sulit didapatkan di perpustakaan-perpustakaan kampus-kampus Indonesia.

Tempat penjelajahan dan meditasi literatur kedua adalah Perpustakaan Olin-Kroch. Seminggu saya habiskan hanya untuk menjelajahi tiap lantai. Seingat saya ada tiga lantai yang penuh dengan literatur kajian Indonesia. Saya seperti "a kid in a candy store". Tak habis-habisnya mengagumi sekaligus juga menyesali mengapa perpustakaan semacam ini harus berada jauh dari Indonesia. Lantai 3 menjadi tempat leyeh-leyeh kalau sudah mulai jenuh dengan bacaan-bacaan rumit. Di situ saya bisa membaca serial komik Kho Ping Ho, Pram, dan berbagai jenis novel atau komik.

Layanan "interlibrary loan" memungkinkan untuk mendapatkan kepustakaan dari jaringan perpustakaan di kampus-kampus lain. Beberapa fasilitas ini membantu saya mendapatkan literatur yang saya butuhkan dari perpustakaan Universitas Leiden, SOAS University of London, dan terutama kampus-kampus di AS. Selain itu, ruangan mikrofotografi juga menjadi tempat saya menelusuri arsip-arsip koran, majalah, artikel dll yang sudah diformat menjadi mikrofilm.

Di perpustakaan ini tiba-tiba ada kesadaran menyeruak betapa luar biasanya Indonesia hingga salah satu kampus Ivy League di AS ini mengalokasikan energi sebesar ini untuk mendedahnya melalui berbagai kajian yang serius dan mendalam. Layanan perpustakaan ini jam 07.30 pagi hingga 02.00 dini hari. Soal makan/minum? Pada bagian lobby, berseberangan dengan unit layanan perpustakaan, ada kafe yang kurang-lebih seperti restoran mini sehingga para pengguna perpustakaan tidak perlu keluar hanya untuk mengisi perut, kecuali mencari menu yang tidak ada di situ.

"Brown Bag Talk" adalah momen penting untuk bersosialisasi. Secara rutin para pakar baik dari dalam maupun dari luar AS mempresentasikan hasil-hasil riset tentang kajian Asia Tenggara dan mendiskusikannya bersama. Perjumpaan dengan beberapa mahasiswa Indonesia di Cornell juga terjadi. Yang sering membuat kagok adalah rata-rata para profesor fasih berbahasa Indonesia (ada juga yang fasih bahasa Jawa dan Bali). Kagok karena saya berhadapan dengan orang-orang bule (istilah om Ben) yang demen dengan Indonesia, hingga menguasai akar-akar sejarah dan kebudayaan yang saya sendiri tak mengakrabinya. Suatu citarasa Indonesia yang kental di Ithaca, tepat pada saat secara ragawi saya sedang tidak berada di wilayah geografis Indonesia. Di situ pula saya berkenalan lebih akrab dengan Direktur SEAP waktu itu, Prof. Kaja McGowan dan pak Ketut Raka Munavizt, serta beberapa peneliti senior SEAP seperti Prof. Martin Hatch, Prof. Abby Cohn (yang kini Direktur SEAP), Prof. Eric Tagliacozzo, Prof. Chiara Formichi dll. Sayangnya, saya tidak sempat bertemu dengan Prof. James Siegel dan Prof. Ben Anderson. (lanjut)
Read more ...

Sunday, October 4, 2020

"Indonesia" di Ithaca - Catatan Penghormatan 70 Tahun SEAP Cornell University (Bagian II)


Setelah menempuh perjalanan dengan bus Greyhound selama kurang-lebih 6 jam, saya tiba di terminal bus Ithaca. Sepanjang perjalanan saya lebih banyak tidur karena tidak ada pemandangan yang bisa dinikmati selain hamparan salju dimana-mana. Tak lebih 15 menit, hp berdering. John Wolff menelepon untuk memastikan saya sudah tiba di Ithaca dan meminta saya menunggu penjemputannya. Tak berapa lama beliau datang. Saya segera mengenalinya karena sebelumnya saya sudah googling foto beliau hanya untuk memastikan mengenali wajahnya. Rupanya beliau juga langsung mengenali saya. Pasti karena hanya saya penumpang yang sedang menunggu jemputan dan tentu saja berkulit coklat. 

Ithaca adalah kota kecil yang indah. Sepintas dalam amatan pertama, kota kecil ini dihidupi salah satunya oleh keberadaan kampus Cornell. John Wolff menceritakan banyak hal sepanjang perjalanan menuju rumah. Sampai di rumahnya, saya diperkenalkan dengan ibu Ida, istrinya, seorang perempuan Filipina yang ramah. Mereka tinggal berdua saja karena anak-anak mereka sudah berkeluarga dan tinggal di kota lain. John langsung membawa saya ke kamar yang disiapkan untuk saya. "Jangan sungkan-sungkan. Anda bisa menyiapkan sendiri apa yang dibutuhkan. Di rumah ini hanya saya dan Ida. Beristirahat dulu. Nanti kita makan malam bersama," demikian ujar John yang fasih berbahasa Indonesia, Jawa, dan Tagalog. 

Hanya 2 hari saya gunakan untuk mempelajari peta Ithaca dan berkomunikasi dengan pihak SEAP Cornell University untuk melaporkan bahwa saya sudah tiba di Ithaca. Hari ketiga saya mencoba pergi ke kampus. Tawaran John Wolff untuk mengantar saya tolak dengan halus karena saya tidak mau lagi merepotkan orang tua baik hati ini. Setelah melihat peta, saya merasa jarak yang harus saya tempuh tidak terlalu jauh. Yang meleset dari perhitungan saya adalah: badai salju. Hampir saja saya tersesat karena kehilangan petunjuk arah akibat semua tempat hanya putih melulu tertutup salju tebal. Sialnya, tidak ada orang di sepanjang jalan yang bisa ditanyai. Untungnya, GPS pada hp tetap "on" sehingga akhirnya tiba juga di kampus meskipun masuk dari gerbang yang jauh dari gedung administrasi. 

Agak sulit menandai beberapa gerbang kampus Cornell karena kampus ini secara geografis menyatu dengan sebagian wilayah kota Ithaca dan lingkungan perbukitan, hutan serta sungai di dalamnya. Setelah melapor diri ke International Office, tak sampai 1 jam saya sudah mendapat ID Card dan sejumlah kertas dokumen yang menerangkan hak dan kewajiban saya selama beraktivitas di Cornell, serta dokumen-dokumen lain (info rute bus, denah kampus, peta kota Ithaca, dll). 

Selama 2 hari berikutnya, John Wolff bersedia mengantar saya mengunjungi beberapa tempat pemondokan yang tersedia (sesuai info internet dan beberapa tautan yang direkomendasikan oleh kampus). Dalam urusan ini saya sangat berterima kasih karena pada setiap tempat yang kami kunjungi, John memberikan kesan penilaiannya terutama mengenai lingkungan dan harga. Sebenarnya saya hampir putus asa karena sebagian besar tempat sudah kami kontak sebelumnya tidak direkomendasikan layak oleh John. Sampai tersisa satu nomor kontak tanpa email. 

Nomor kontak terakhir ini ternyata adalah sepasang suami-istri keturunan India, keluarga Selvarajaj. Mereka tinggal berdua saja di wilayah pinggir tebing yang dikenal sebagai "Fall Creek". Anak semata wayang mereka sudah berkeluarga dan tinggal di Florida. Mereka punya 2 kamar yang disewakan. Keduanya sudah terisi. Tapi salah satu mahasiswa sedang melakukan penelitian selama 6 bulan di kota lain. Keluarga Selvarajaj bersedia menerima saya untuk menempati kamar yang kosong itu. Di tempat inilah John kemudian menilai bahwa saya layak menempatinya karena lingkungan rumah mendukung, selain jarak yang tidak jauh menuju kampus atau perpustakaan Olin-Kroch dengan berjalan kaki. 

Bersama keluarga Selvarajaj inilah saya memulai peziarahan intelektual selama musim dingin yang cukup ekstrem saat itu. Meskipun ke kampus atau perpustakaan bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki, melewati hutan kecil kampus dan jembatan gantung atau "suspension bridge", tapi tantangan terberat adalah "kemalasan" ketika bangun pagi dan melihat dari kaca jendela hujan salju yang turun lebat, serta lapisan salju tebal yang menutupi jalan dan trotoar.  

Tuan Selvarajaj pernah berkelakar kepada saya: "Anda datang ke Ithaca pada waktu yang salah." Apa boleh buat? Meski menggigil dengan berlapis 4 baju, mantel, karpus, sarung tangan, dan sepatu salju, hampir setiap hari saya harus berjalan kaki di tengah gempuran hujan salju bersuhu rata-rata -10 derajat Celcius. Perpustakaan Olin-Kroch dan ruang kerja di Kahin Center adalah tempat saya menghabiskan sebagian besar waktu saya untuk membaca dan menulis, selain mengikuti acara-acara "Brown Bag Talk" yang digelar rutin oleh Southeast Asia Program (SEAP). (lanjut) 

*Foto: Rumah Keluarga Selvarajaj, Fall Creek, Ithaca.
Read more ...

Saturday, October 3, 2020

"Indonesia" di Ithaca: Catatan Penghormatan 70 Tahun SEAP Cornell University (Bagian I)


"Setelah mempertimbangkan hasil ujian komprehensif dan proposal disertasi Saudara, maka kami menganjurkan Saudara untuk mendalami studi Indonesia. Ada 2 pilihan: Universitas Leiden atau Universitas Cornell," demikian pernyataan salah seorang profesor dari dewan penguji ujian komprehensif saya di ICRS (Indonesian Consortium for Religious Studies), yang bermarkas di Gedung Lengkung Sekolah Pascasarjana UGM. Salah satu persyaratan yang harus dijalani oleh mahasiswa program doktor ICRS adalah melakukan studi literatur pada salah satu universitas di luar negeri selama kurang-lebih 5 bulan. Sebagian besar adalah universitas di Amerika Serikat.

Pilihan itu membuat saya gembira sekaligus gundah. Pasalnya, ketika saya memilih Universitas Leiden, beberapa profesor mengusulkan sebaiknya saya ke Cornell. Bersamaan pula promotor saya, Prof. Paschalis M. Laksono, adalah lulusan Cornell. Tapi ada problem. Ternyata dari sekian banyak kerjasama yang sudah diteken oleh ICRS dengan kampus-kampus di Amrik, saat itu ICRS belum terkoneksi dengan Cornell. Adalah Profesor Bernard Adeney-Risakotta yang saat itu mendorong saya untuk memilih Cornell. "Anda sebaiknya ke Cornell. Dengan demikian, Anda sekaligus menjadi duta ICRS untuk selanjutnya kita bekerjasama dengan Cornell. Kami akan mengatur perjalanan ke Cornell selagi Anda visiting scholar di sana," demikian kata Prof. Bernie.

Singkat kata, saya pun bersiap meskipun agak puyeng. Perjalanan dari New York City ke Ithaca sekitar 6 jam dengan bus Greyhound. Memang ada penerbangan lokal tapi karena musim dingin yang ekstrem maka penerbangan NYC-Ithaca tidak bisa dipastikan. Setiba di NYC saya harus tinggal beberapa hari untuk menentukan transportasi ke Ithaca. Saat itu sedang musim dingin. Saya harus tinggal di mana selama di New York City? Syukurlah, melalui bantuan bung Jacky Manuputty, saya diperkenalkan dengan keluarga bung Franklin Wattimena yang berdomisili di kawasan Queen New York. Keluarga Wattimena bersedia menerima saya transit sebelum ke Ithaca. Persinggahan di New York City tertangani.

Masalah lain, bagaimana dengan pemondokan saya selama berada di Ithaca? Karena saya adalah mahasiswa ICRS pertama yang ke Cornell dan belum ada kontrak kerjasama Cornell-ICRS maka Cornell (SEAP) tidak mempersiapkan fasilitas pemondokan atau asrama. Saya harus mencari sendiri. Lagi-lagi saya bersyukur karena melalui Prof. Dieter Bartels, saya diperkenalkan dengan Prof. John Wolff, seorang Indonesianis di Cornell. Hanya dalam hitungan hari, John Wolff membalas email saya dan menyatakan bersedia menampung saya di rumahnya sambil mencari pemondokan di Ithaca.

Hari sudah malam ketika pesawat mendarat di bandara internasional John F. Kennedy New York. Semua tampak putih diselimuti lapisan salju tebal. Bung Franklin Wattimena alias bung Engkin bersama putrinya menjemput saya dan kami menuju rumah keluarga Wattimena. Saya merasa "at-home" selama beberapa hari tinggal bersama mereka sembari, dengan bantuan bung Roy Manuputty, mencari informasi mengenai transportasi ke Ithaca. Selama berada di NYC, John Wolff terus berkomunikasi dengan saya untuk memastikan keadaan saya baik-baik dan mencari tahu waktu tiba di Ithaca karena beliau akan menunggu saya di terminal bus Ithaca.

Musim dingin yang hebat (menurut ukuran saya) cukup membuat saya kewalahan. Untunglah keluarga Wattimena dan bung Roy Manuputty membantu saya dengan memberikan mantel, jaket, syal, sarung tangan, kaos kaki dan sepatu khusus salju. Sepatu sneakers saya basah kuyup ketika saya paksa pakai keluar rumah dalam kondisi hujan salju dan melewati jalan berlapis salju tebal. Hampir seminggu saya tinggal bersama keluarga Wattimena. Pada hari yang kami sepakati, karena bertepatan dengan jam kerja bung Engkin dan usi Onco, maka bung Roy Manuputty bersedia mengantar saya ke terminal bus Greyhound menuju Ithaca.

(lanjut)

Read more ...

Monday, August 17, 2020

75

Sobat saya, Ikhsan Tualeka, kabarnya akan segera meluncurkan buku bertajuk "Maluku Menggugat". Salut! Tajuk yang seolah menahan sejenak detak jantung kebudayaan dari suatu masyarakat yang sejak negeri ini dinyatakan "merdeka" pada 75 tahun silam, seolah hanya menjadi pelengkap penderita. Mengapa menggugat? Apa yang digugat? Kita nantikan saja penerbitan buku Ikhsan Tualeka itu.

Tahun lalu (2019), sobat saya yang lain, Haris Touwely, sumringah dan bergegas pulang ke kampungnya, Riring, yang terletak di pegunungan Pulau Seram, tepatnya Kabupaten Seram Bagian Barat, Kecamatan Taniwel. Apa pasal? Katanya, ada peresmian jalan beraspal yang sudah mencapai kampungnya itu. Bagi kebanyakan orang yang terbiasa hidup di pusat-pusat kota, itu hal biasa. Tapi tidak bagi sobat saya ini dan seluruh warga kampungnya. Baru pertama kali ini sejak Indonesia dinyatakan merdeka 74 tahun silam (1945-2019), jalan beraspal bisa tembus hingga ke kampungnya itu.

Kemarin pagi seorang sobat lain, Samanery Juhri, mengirim tautan klip video kami belum merdeka yang memperlihatkan betapa besar perjuangan dan pengorbanan dari warga Desa Neat dan Desa Liang di Pulau Buru (Selatan) jika mereka hendak pergi ke tempat lain. Rekaman video itu menampilkan usaha warga kedua desa dengan membuat jembatan tali luncur untuk menyeberangkan orang di atas aliran sungai yang deras.

Tiga cerita itu, tentu saja, hanya cerita-cerita yang dianggap kecil dan bisa kita abaikan begitu saja selagi kita tidak merasa berkaitan dengan urusan perut dan duit kita. Cerita-cerita yang dianggap kecil dibandingkan dengan cerita besar korona yang menyedot stamina kebangsaan kita hanya dalam hitungan bulan. Bahkan memaksa pemerintah republik ini menggelontorkan trilyunan rupiah untuk mempersiapkan segala fasilitas dan obat/vaksin. Cerita-cerita itu memang hanyalah cerita orang kecil yang karena segala usaha mandirinya mengatasi segala keterbatasan infrastruktur hidup, mereka berjuang tanpa merasa perlu diberi penghargaan bintang jasa atau gelar kehormatan.

Semua itu hanya cerita-cerita pendek dari perjalanan panjang 75 tahun republik ini. Mungkin saja, akan segera tenggelam di tengah hiruk-pikuk pekik "merdeka" yang akan terdengar seharian ini (17 Agustus 2020).

Read more ...

Sunday, August 16, 2020

JaNus

Saya berterima kasih kepada para mahasiswa Prodi Ilmu Keperawatan Fakultas Kesehatan UKIM (yang dinakhodai Dekan Belly) yang telah berpartisipasi aktif selama Semester Antara yang baru saja usai. Proses pembelajaran semester itu memang tak mudah karena berjalan tidak seperti masa-masa pra-pandemi. 

Namun, dengan segala keterbatasan yang ada, diskusi-diskusi selama pembelajaran matakuliah "Pendidikan Multikultural" yang terkurung "dalam jaringan" telah menginspirasi ide-ide kreatif. JaNus ini contohnya. 

JaNus adalah proyek belajar kreatif untuk mengimplementasikan gagasan multikulturalisme dalam bentuk-bentuk praksis. JaNus adalah singkatan dari Jalan-jalan Nusantara. Ada 2 kegiatan yang dilakukan. Pertama, setiap mahasiswa harus mencari, menghafal dan menyanyikan lagu-lagu dari berbagai daerah Nusantara. Kemudian direkam dan diunggah pada Goggle Classroom matakuliah ini. Kedua, sebagai tugas akhir, setiap mahasiswa harus memilih 1 menu makanan khas daerah Nusantara dan membuat video tutorial mulai dari penyiapan bahan-bahan dasar yang dibutuhkan, cara pembuatan, hingga penyajiannya. Video itu kemudian diunggah juga pada Google Classroom matakuliah itu. 

Refleksi para mahasiswa mengenai proyek JaNus ini sangat menarik. Dari video lagu Nusantara, mereka mengakui betapa sulitnya menyanyikan lagu dengan bahasa yang mereka tidak kuasai. Meski lagunya akrab di telinga, tapi lidah mereka agak sulit melafalkan kata-kata dalam bahasa daerah tertentu. Memang syarat tugas ini adalah mahasiswa harus memilih lagu dari luar daerah Maluku. 

Demikian halnya dengan JaNus kuliner. Semula mahasiswa keberatan dengan syarat tidak boleh memilih menu yang sama. Saya memang meminta agar mereka berembug dulu di antara teman-teman sekelas dalam penentuan menu masakan. Ternyata setelah itu mereka mengakui banyak sekali menu masakan Nusantara yang baru mereka tahu. Eksperimen kuliner itu pun menjadi sesuatu yang menarik. 

Namun, yang terlebih utama ialah dari proyek belajar JaNus ini para mahasiswa mengakui bahwa "menjadi Indonesia" dengan segala keanekaragaman identitas ternyata tidaklah mudah. Dibutuhkan kerelaan untuk menegosiasikan identitas sendiri dengan berbagai identitas liyan, dituntut komitmen untuk mengelola secara arif bahan-bahan kebudayaan lokal yang bermacam-macam bentuk dan rasa menjadi suatu performa hibrid yang saling berdamai, dan diperlukan kapasitas untuk meresapi perbedaan sebagai kekayaan yang jika diramu dengan citarasa yang pas akan menghasilkan suatu perjumpaan yang nikmat. 

Saya mengapresiasi kerja keras para mahasiswa ini. Hanya sebatas itu yang bisa saya lakukan. Karena masakan yang sudah dibuat oleh para mahasiswa tidak bisa saya nikmati dengan lidah. Hanya menjadi kenikmatan untuk ditonton "sampe aer mulu tumpah". 

Selamat merayakan "menjadi Indonesia" yang ke-75 tahun. Semoga ingatan kita tidak melapuk bahwa pilihan menjadi Indonesia adalah kesepakatan bersama untuk meramu dan menghidupi aneka perbedaan identitas Indonesia itu. MENA MURIA!
Read more ...

Sunday, June 21, 2020

Pemberdayaan Gereja melalui Pengolahan Pangan Lokal Jemaat di Era New Normal

Materi ringkas ini menjadi bahan pemantik diskusi daring yang digelar oleh komunitas "Rumah Bacarita Teologi" (UKIM), bersama dengan narasumber kedua: Stenly Salenussa, M.Si (Akademisi Fakultas Ekonomi UKIM).

Pengantar
Terima kasih untuk undangan berdiskusi dengan topik yang menarik ini. Saya tidak akan berbicara mengenai teori dan strategi pengembangan ekonomi karena itu akan dipaparkan lebih jelas oleh rekan Stenly Salenussa. Saya hanya akan mengulas beberapa konsep dalam topik itu agar dengannya kita sedikit lebih mengerti mengapa konsep itu digunakan dan implikasinya bagi kita.

New Normal
Saya ingin memulai dari belakang, yaitu pada istilah “new normal”. Istilah ini belakangan makin santer digunakan sejak meluasnya pandemik korona. Menurut saya, ada sedikit salah kaprah dalam penggunaan istilah tersebut. Begini. Masyarakat dan kebudayaan manusia itu dinamis dan selalu mengalami perubahan entah secara lambat (evolusioner) maupun cepat (revolusioner). Dalam setiap perubahan itu masyarakat manusia melakukan adaptasi. Masa-masa adaptasi itu disebut masa transisi dimana manusia menciptakan bentuk-bentuk kebudayaan “baru” (atau disesuaikan) dengan kondisi perubahan yang dialami. Masa transisi itu umumnya berlangsung cukup lama karena perubahan kebudayaan itu bukan hanya menyangkut perubahan fisik atau bentuk yang kelihatan saja, melainkan secara mendasar merupakan transformasi gagasan/ide yang mendukung praktik-praktik dan teknologi kebudayaan yang sedang disesuaikan (transisional). Contoh: Transformasi teknologi komputer dari generasi pertama (1833-1871) hingga generasi terakhir seperti Artificial Intelegence. 

Transformasi teknologi komputer ini telah mengubah ide dan praktik kebudayaan manusia secara global, membentuk gaya hidup masyarakat, dan membentuk identitas sosial baru masyarakat manusia sebagai network society (Manuel Castells). Pada setiap perubahan/transisi itu, manusia menyesuaikan diri. Jadi, secara sosiologis, istilah new normal itu hanyalah permainan kata karena secara faktual yang kita jalani adalah perubahan dan penyesuaian terus-menerus terhadap perubahan itu, baik secara sengaja (technology invention) maupun tidak sengaja (natural or social transformation).

Pangan Lokal
Dikotomi “lokal” dan “global” terbentuk sejak era kolonialisasi bangsa-bangsa Eropa yang berkelana untuk mencari sumber daya alam bagi kebutuhan bangsa mereka sendiri di benua-benua lain. Pada abad ke-17, Ternate/Tidore dan Ambon menjadi target monopoli perdagangan rempah-rempah oleh para pedagang Portugis dan Belanda. Situasi itu telah mengubah cara pandang orang Ambon tentang diri mereka (dengan seluruh kekhasan fisik, bahasa dan budayanya) berhadapan dengan “yang lain”, yaitu orang Eropa (dengan seluruh kekhasan fisik, bahasa dan budayanya). Orang Eropa mengidentifikasi sebagai orang dari luar (outsider) yang bertemu dengan orang dalam (insider/inlander) yang kemudian disebut sebagai local people. Sedangkan mereka disebut sebagai orang dari “overseas” (seberang lautan) atau dari belahan bumi (globe) yang lain disebut “global”. Fenomena globalisasi itu sudah dimulai sejak dulu, bukan hanya oleh pedagang-pedagang Eropa tapi oleh pedagang-pedagang Cina yang telah melanglang buana sebelum Eropa. 

Ideologi lokal/global itu kemudian dipertegas untuk membedakan kebudayaan kulit-putih (Eropa/Amerika Utara) yang dianggap superior daripada kebudayaan non kulit-putih yang dianggap lebih inferior. Termasuk dalam hal pangan. Pangan lokal itu dianggap “kampungan” atau “tidak beradab” dibandingkan pangan global (yang dicitrakan berasal dari masyarakat kulit putih seperti Eropa/Amerika Utara yang dianggap lebih modern atau beradab). Jadi, istilah ini sebenarnya mengandung ideologi hegemoni (penundukkan nalar secara subtil/halus) bahwa sumber makanan dari alam (tanah dan laut) yang dimiliki masyarakat Maluku itu lebih rendah nilainya dibandingkan dengan yang tersaji ala Eropa/Amerika. Akibatnya, kita sendiri tidak menganggapnya sebagai sumber pangan utama dibandingkan yang dari luar (artinya: yang tidak ditanam oleh orang Maluku).

Sebagai contoh: Kentucky Fried Chicken atau “ayam goreng KFC” dianggap sebagai junk-food yang hanya dikonsumsi oleh kaum miskin atau homeless di Amerika Serikat. Tapi di Indonesia, mengonsumsi ayam goreng KFC atau pizza-hut bukanlah sekadar makan daging ayam goreng melainkan mengonsumsi citra gaya hidup modern, menaikkan gengsi sebagai kaum berklas (kaya dan kulit putih, karena makanan itu dari Amerika Serikat). Model makanan cepat saji (fast-food) itu mengonstruksi gaya hidup instan, serba cepat, tidak mau repot-repot. Akibatnya, harap gampang dan malas mengolah atau mengelola bahan-bahan yang tersedia di sekitar. 

Mengapa Gereja harus Memberdayakan?
Secara etimologis, “gereja” diterjemahkan dari kata Yunani “ekklesia” = komunitas yang mempunyai hubungan sosial yang erat atau saling mengenal. Jadi, ekklesia bukan sekadar kumpulan atau kerumunan orang yang bersifat insidentil. Istilah itu kemudian diadopsi untuk menyebut kelompok murid Yesus, yang terus berkembang makin besar secara kuantitas maupun kualitas aktivitas misi (penyebaran ajaran Yesus). Apa yang dilakukan oleh ekklesia? Menurut catatan Kisah Para Rasul (KPR), mereka hidup saling mengasihi dalam tindakan saling berbagi agar yang lemah dikuatkan, yang miskin tidak kelaparan, yang sakit disembuhkan, yang berdukacita dihibur, yang tidak punya rumah diberi tumpangan, yang dihina diangkat martabatnya. Dengan tindakan saling berbagi itu maka sekat-sekat identitas sosial, budaya, politik dan ekonomi disingkirkan untuk melawan sumber penderitaan manusia. Jadi, pada istilah ekklesia itu sendiri sudah terkandung potensi pemberdayaan. Maka gereja tanpa pemberdayaan itu bukanlah gereja sejati. Empowerment adalah kunci misi ekklesia (gereja). Ketidakberdayaan sosial (social disempowerment) adalah kelumpuhan sosial karena kekuasaan yang hanya menumpuk pada satu orang (penguasa), maka terbuka potensi melakukan ketidakadilan sosial (social injustice). Dengan demikian, misi ekklesia adalah melawan ketidakdilan sosial, termasuk ketidakadilan ekonomi. 

Bagaimana pemberdayaan gereja pada masa transisi pandemic korona?
Jika teknologi komputer dan internet yang diciptakan manusia mampu meruntuhkan sekat-sekat komunikasi secara geografis dan lintas-waktu, maka pandemik korona membangun suatu kesadaran manusia tentang virus global yang berpindah-pindah dan meluas seiring dengan pergerakan manusia (chains of disease). Merujuk pada makna dan misi ekklesia seperti yang telah disebutkan maka fungsi konkret pemberdayaan gereja adalah: 

(1) Pemberdayaan literasi mengenai pandemik kepada semua orang (jemaat) sehingga tidak terjadi elitisasi informasi dan mendiskriminasi orang lain yang dianggap inferior. 
(2) Pemberdayaan pendidikan tanpa klas dimana setiap anak usia sekolah (formal) mempunyai kesempatan untuk terus belajar sesuai jenjang usia pendidikannya. Bukan sekadar himbauan lewat toa tentang jam belajar. Tapi ada program pembelajaran karena ekklesia itu pada hakikatnya adalah komunitas yang belajar mengembangkan misinya (pemberdayaan pengetahuan).
(3) Pemberdayaan jejaring suplai dan distribusi ekonomi. Konteks jemaat-jemaat GPM bervariasi. Ada komunitas jemaat di perkotaan (urban); ada yang di pedesaan (rural). Bagi yang di pedesaan umumnya masih mengolah tanah untuk ditanami sehingga kebutuhan pangan secara subsistensi masih tertangani. Tidak demikian bagi yang di kota yang hidup berdesak-desakan dalam wilayah padat penduduk. Lahan makin langka. Manusia makin merana karena tergusur oleh aneka program pembangunan dan urbanisasi yang tak terkendali. Jemaat-jemaat kota membutuhkan strategi membangun jejaring suplai dan distribusi ekonomi dengan jemaat-jemaat mitra yang berada di pedesaan.
(4) Pemberdayaan produktivitas pemuda untuk survive di tengah makin sempitnya lahan kerja di perkotaan. Sebagian yang sudah bekerja harus “dirumahkan” (PHK). Lowongan bekerja pada sektor formal birokrasi makin ketat kompetisinya sehingga jumlah pengangguran berijazah kian menumpuk. Peluang kerja pada sektor ekonomi informal dikuasai oleh kelompok-kelompok tertentu. Jarak professional makin besar antara pengetahuan/keterampilan dan pengelolaan lahan pertanian. Banyak yang tidak mampu “work from home” karena terperangkap pada situasi keterbatasan keterampilan kerja dan pemiskinan struktural dalam manajerial sumber daya (manusia dan alam).
(5) Pemberdayaan politik kewargaan. Program-program pendidikan politik kewargaan mesti menjadi agenda jemaat untuk melihat peluang-peluang ekonomi yang bisa dimanfaatkan bagi kesejahteraan keluarga. Misal: apa yang bisa dilakukan untuk mengembangkan ekonomi secara sehat pada beberapa event politik tingkat kabupaten/kota atau provinsi? Cetak t-shirt, banner, sticker, sewa perlengkapan pesta dan sound-system; catering makanan; food-truck; suplai bahan makanan (memutus dominasi pedagang sayur dari Jawa) dan lain-lain. Lantas, peluang apa yang sudah dilihat pada masa transisi pandemik ini? Apakah promosi pangan lokal bisa menjadi skenario pemberdayaan oleh gereja? Seperti apa programnya? Bagaimana pengelolaan dan keberlanjutannya?
Read more ...

Tuesday, June 16, 2020

Lien


Beta mengenal sosok Pdt. Paulien (Lien) Gaspersz-Ruhulessin tahun 1990. Pada waktu itu beta baru saja menjadi mahasiswa Fakultas Teologi UKIM dan tinggal bersama Oma Sus (dari pihak papa) di kawasan “paradise” atau Jalan Said Perintah Ambon. Beta mulai beradaptasi dengan lingkungan masyarakat Ambon karena sejak lahir dan kecil (bersama adik-adik) bertumbuh dalam lingkungan sosial-budaya Kota Malang karena diasuh oleh Opa-Oma (dari pihak mama). 

Perjumpaan pertama dengan usi Lien dan bung John Ruhulessin terjadi dalam ibadah AM-GPM di wilayah paradise. Ibadah saat itu berlangsung di rumah keluarga Ruhulessin-Gaspersz, sekaligus bung John menjadi pembawa materi diskusi dalam ibadah. Itu saat beta mengenal sosok bung John, yang dikenal sebagai pendeta muda yang berkharisma dan cerdas, dan istrinya, usi Lien, seorang pendeta perempuan yang cerdas, ramah dan rendah hati. Karena kesamaan fam Gaspersz, maka kami kemudian lebih saling mengenal sebagai saudara (dari Negeri Naku, Pulau Ambon). 

Tidak banyak hal yang beta tahu mengenai perjalanan karier usi Lien sebagai seorang pendeta GPM. Sejauh yang beta tahu adalah usi Lien menjalani tugas vikariat di Jemaat Dian Darat Kei Kecil. Kemudian setelah ditahbiskan sebagai pendeta, beliau ditugaskan oleh Badan Pekerja Harian Sinode GPM waktu itu sebagai pendeta di Jemaat Khusus Hok Im Tong, yang sebagian besar warga jemaatnya adalah peranakan Tionghoa Ambon dan lebih dari separuh jumlahnya berprofesi sebagai pedagang atau pengusaha di Kota Ambon. Usi Lien juga pernah menjabat sebagai Sekretaris Klasis Kota Ambon mendampingi Pdt. Max Siahaya sebagai Ketua Klasis. Beta tahu itu karena beliau menandatangani Surat Sidi beta. Beta sempat tinggal dengan keluarga Nanlohy (saudara dari pihak Oma Dien) di kawasan Soya Kecil dan karenanya terdaftar sebagai anggota sidi Jemaat GPM Bethel.  

Menurut cerita dari bung John Ruhulessin, suaminya, semasa kuliah dulu usi Lien sebenarnya lebih tinggi prestasi akademiknya dibandingkan bung John. Bahkan usi Lien adalah anggota Resimen Mahasiswa (Menwa) STT GPM. Namun, usi Lien lebih memilih melayani di jemaat daripada menjadi dosen dan lebih mendorong bung John untuk berkarier sebagai dosen. Usi Lien mendampingi bung John dalam peziarahan studi di Salatiga dan Amerika Serikat, serta menopang karier bung John sebagai dosen dan juga sebagai Ketua Umum MPH Sinode GPM selama dua periode. Meskipun suaminya seorang ketua sinode, tapi usi Lien tetap memperlihatkan karakter low profile yang luar biasa. Beliau mudah bergaul dengan siapa saja, tak pandang status sosial atau ekonomi. Murah senyum dan jarang sekali menanggapi sesuatu secara emosional. Bahkan selama kepemimpinan bung John sebagai ketua sinode, usi Lien tampak mengambil jarak kritis sehingga lebih banyak berada di balik panggung pelayanan bung John. Usi Lien sempat menjabat sebagai salah seorang kepala biro di Kantor Sinode GPM. Tapi tidak lama karena beberapa tahun sebelum masa emeritasinya beliau diminta kembali membantu pelayanan di Jemaat GPM Hok Im Tong.

Jika tidak salah ingat, pelayanannya di jemaat itu diperpanjang beberapa waktu meskipun sudah menjalani masa emeritasi. Rupanya, Sinode GPM melihat karakter usi Lien sangat berterima oleh jemaat tersebut. Memang tidak mudah bagi MPH Sinode GPM untuk menugaskan pendeta di jemaat ini. Dibutuhkan kualifikasi karakter pelayanan dan kepemimpinan yang “khusus” untuk melayani anggota jemaat yang sebagian besar adalah peranakan Tionghoa Ambon. Identitas ketionghoan itu sangat mempengaruhi cara pandang mereka terhadap gereja dan pelayanannya, sehingga pola kepemimpinan pendeta dan program-program pelayanannya tidak seperti jemaat-jemaat GPM lazimnya yang beranggotakan orang-orang Ambon/Maluku pribumi. Sosok kepemimpinan dan pelayanan usi Lien tampaknya sangat berterima dengan karakter jemaat tersebut. 

Sosok usi Lien dalam kesehariannya lebih beta kenal saat bung John, sebagai Ketua Sinode GPM, membentuk tim kerja untuk melakukan penyederhanaan dokumen PIP/RIPP GPM yang melibatkan beta dan beberapa teman pendeta muda. Rumah dinas ketua sinode di kawasan Mardika disediakan sebagai sekretariat untuk pertemuan dan kerja-kerja tim. Beta ingat setiap saat kami bekerja di lantai 2 rumah itu, setiap beberapa jam usi Lien sudah mempersiapkan jajanan ringan, minuman dan makanan pada setiap jam makan, bahkan suplemen vitamin. Jika berada di rumah, usi Lien selalu naik ke lantai 2 untuk menanyakan apa yang menjadi keperluan tim, terutama mau menu makanan apa. 

Perjumpaan beta dengan usi Lien tidak hanya pada acara-acara gerejawi tapi juga pada acara-acara kemasyarakatan atau adat. Kami berdua punya fam yang sama dan berasal dari kampung yang sama, yaitu Naku. Jika ada acara-acara kampung, usi Lien selalu tampak hadir bersama kedua anak: Joyna (Joy) dan Stefano (Fano). Ia dengan luwes membaur dengan semua orang tanpa merasa diri “elite” karena oleh banyak orang dikenal sebagai istri seorang ketua sinode dari gereja terbesar di timur Indonesia. Usi Lien lebih menonjol dalam kerja-kerja yang praktis dan konkret daripada berbicara banyak konsep-konsep pelayanan yang abstrak. Ia tampil sebagai sosok penyeimbang bung John Ruhulessin yang lebih dikenal dengan pemikiran-pemikiran konseptual-teoretik sebagai akademisi. 

Sejak beta dan Nancy menjalani studi di Yogyakarta dan Salatiga selama kurang-lebih 6 tahun (2011-2017), kami tidak lagi bertemu. Hanya mendengar kabar dari jauh. Ketika selesai studi dan kembali ke Ambon, kami mulai sering bertemu. Perjumpaan yang paling sering adalah di sekolah Kailani, TK Fast Start, yang terletak di kawasan Tanah Lapang Kecil (Talake), dekat kampus UKIM. Sejak pulang studi, kami mencoba mendaftar Kailani di beberapa TK, mulai dari TK di Belakang Soya milik Suster Brigita Renyaan, TK Kasih Ibu milik pemda di Karang Panjang, dan terakhir TK Fast Start di Talake. Bung John dan usi Lien sering tampak bergantian antar-jemput cucu mereka (putra dari Joyna) yang bersekolah di situ. Beta dan Nancy juga sering bergantian antar-jemput Kailani, karena lokasi sekolah dekat dengan kampus. Biasanya, setelah menjemput Kailani pulang dari sekolah, kami membawanya ke kampus dan pulang bersama-sama ke rumah ketika tugas-tugas di kampus selesai. 

Beberapa waktu sebelum sekolah-sekolah dinonaktifkan oleh pemerintah karena ancaman penyebaran virus corona, beta tidak lagi melihat usi Lien. Saat menjemput Kailani pulang sekolah, beta sempat bertemu Joyna. Darinya beta mendengar kabar bahwa usi Lien bersama bung John sedang menjalani medical check-up di Jakarta. Semula beta berpikir hanya proses pemerikasaan kesehatan rutin. Tapi beta merasa usi Lien sedang mengalami sakit yang serius karena hampir selama satu semester bung John tidak aktif di kampus. Bung John dan beta menangani bersama (team-teaching) satu matakuliah pada Program Pascasarjana UKIM. Bung John pernah mengirim pesan pribadi kepada beta agar menangani dulu matakuliah itu sendirian karena beliau sedang mendampingi usi Lien di Jakarta. 

Tanggal 15 Juni 2020 tengah malam, bertepatan dengan hari ulangtahun ke-6 Kailani, bung John mengirim pesan WA dari Jakarta: “In su seng ada pada pukul 10.59 WIB”. Sedih sekali. Kami merasa sangat kehilangan figur seorang pendeta perempuan yang tangguh, berdedikasi, dan rendah hati. Seorang perempuan hebat yang menjadi sandaran kokoh bagi suami dan anak-anaknya dalam meniti karier dan menjalani kehidupan mereka. Bagi beta dan Nancy, usi Lien adalah teladan sejati yang memperlihatkan karakter kokoh seorang perempuan sekaligus pendeta yang lurus, tegas, sekaligus luwes dalam berkomunikasi dengan semua orang. Seolah ia tidak mau dirinya dikapling pada satu kotak identitas yang kaku, berjarak dan elitis. Ia merangkul dan menyapa semua orang. Hingga akhir hayatnya, usi Lien memperlihatkan dirinya sebagai ibu bagi anak-anaknya, bagi jemaat yang dilayaninya, bahkan bagi banyak orang. Ia telah menjadi "Mama GPM". 

Bung John sendiri, suami yang sangat dikasihinya, pernah memberikan testimoni bahwa di balik segala keputusan-keputusan penting yang diambilnya sebagai ketua sinode pada masa-masa krisis (konflik sosial), usi Lien adalah sosok istri yang terus mengingatkan apa yang seharusnya menjadi prioritas dari keputusan-keputusan itu. Bung John pernah berkata: “In selalu sombayang saat beta mau keluar rumah dan menanyakan apa yang sudah diputuskan oleh gereja/ketua sinode setiap hari, untuk dibawanya dalam doa. Beta bisa seperti ini karena In pung sombayang.” Pada detik-detik terakhir, bung John bersaksi, usi Lien berdoa: "Tuhan, berikan kepadaku apa yang Tuhan pandang baik."

Tuhan sungguh mengasihi usi Lien dan kini tengah merangkulnya dalam kedamaian ilahi yang abadi di Surga. Kami akan selalu mengenang kebaikanmu, usi Lien. 

Tertunduk dalam duka ... kami kehilangan sosok ibu dan pelayan sejati ... Menyebut dengan hormat "Ibu Lien" Di hati beliau ada hati Aĺlah ... Di senyum beliau ada keramahan Allah... Dalam kebaikan beliau, ada cinta abadi Aĺlah Dalam kerendahan hati beliau, ada martabat yang tinggi dan tanpa batas ... Dalam ketabahan beliau ada kekuatan Aĺlah... Dalam kesetiaan beliau, ada rahmat Allah Dalam ketenangan beliau, ada semangat yang tak lekang... Kata terima kasih, tak cukup ungkapkan betapa warisanmu menginspirasi kami, ibu... (karya: Nancy Souisa)
Read more ...

Wednesday, May 20, 2020

Refleksi Ibadah Minggu - Gereja Imanuel OSM 26 April 2020


Nats: Injil Yohanes 20:24-29 

Tema Bulanan: Gereja yang memberitakan kematian dan kebangkitan Kristus 

Tema Mingguan: Iman kebangkitan menguatkan pengakuan 

Selamat pagi basudara samua. 

Beta percaya kasih, hikmat dan berkat Tuhan Allah menyertai, menaungi dan melimpahi kehidupan kita semua di tengah masa-masa pergumulan menjalani segala pembatasan aktivitas dengan segala dampaknya sebagai antisipasi kita mencegah penyebaran virus korona ini terhadap diri sendiri juga terhadap keluarga maupun orang-orang terdekat kita. 

Dalam banyak kasus penyebaran virus korona secara massif seperti yang dialami oleh negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Italia, Jerman, Belanda dan beberapa lainnya, korban-korban berjatuhan bahkan hingga menembus angka ribuan hanya dalam hitungan hari dan minggu. Semua itu terjadi bukan karena negara-negara tersebut tidak memiliki fasilitas kesehatan yang memadai untuk mengantisipasi dan menghadapi virus korona. Atau tidak adanya ahli dan tenaga medis yang punya kemampuan untuk menangani orang-orang yang tertular virus ini. Sama sekali bukan karena itu. Jadi, apa penyebabnya? Penyebab utamanya hanya adalah “banyak orang yang TIDAK TAHU konsekuensi fatal virus korona ini karena terlambat mendapatkan informasi yang memadai” dan “banyak orang yang TIDAK MAU TAHU dengan berbagai upaya mengantisipasi penyebaran virus korona” serta menganggap dirinya kebal dan tidak mungkin terjangkiti. Orang tidak tahu karena bisa saja tidak mendapat informasi yang tepat. Orang tidak mau tahu karena bisa saja sudah menerima berlimpah informasi dari berbagai sumber tapi tidak bersedia memahami informasi itu dan mematuhi anjuran yang disampaikan.

Beta pernah menerima 1 foto melalui WhatsApp dengan kelakar sebagai berikut:

Data terkini kasus Covid-19: 
Positif: 1 orang 
PDP (Pasien Dalam Pemantauan): 3 orang 
ODP (Orang Dalam Pemantauan): 35 orang 
OST (Orang Sok Tahu): Banya 
OSP (Orang Sok Pintar): Labe Banya 
OKB (Orang Kapala Batu): Paleng Banya 
OKM (Orang Kapala Malawang): Tar Bisa Rekeng Lai 

Memang itu hanya kelakar. Tapi pada sisi lain, itu juga mencerminkan berbagai sikap kita menghadapi ancaman virus korona. Mengapa banyak orang yang tidak mau tahu? Karena ancamannya tidak kelihatan dan dampaknya baru dirasakan dalam waktu yang lama. Ketika semuanya sudah terjadi, menyesal pun tiada arti. Seperti yang dialami oleh negara-negara besar yang tadi telah disebutkan. Orang tidak percaya karena tidak melihat. 

Saudaraku, 

Sikap itu pula yang diperlihatkan oleh Tomas atau Didimus, salah seorang murid Yesus. Ketika rekan-rekan murid lain berkata “Kami telah melihat Tuhan”, Tomas dengan lantang menimpali mereka: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya”. Jadi, kira-kira Tomas ini termasuk kategori OKB (Orang Kapala Batu) dan OKM (Orang Kapala Malawang).

Sikap tidak cepat percaya itu memang sangat manusiawi. Sebab manusia dikaruniai Tuhan dengan otak untuk menimbang dan memutuskan segala hal sesuai dengan apa yang dibutuhkan dan apa yang bisa dirasakan melalui panca indra. Jika kita tidak merasa butuh, kita tidak mau tahu. Jika kita tidak bisa melihat, mendengar, mencium, memegang sesuatu maka kita tidak mau percaya. Kita tidak ingin salah dalam menerima sesuatu, terutama informasi, yang pada gilirannya membuat kita terjerumus dalam malapetaka.

Bagi para murid Yesus, sulit menerima kenyataan bahwa Yesus sudah mati. Tapi ada harapan yang kembali menyala ketika mereka melihat Yesus menjumpai mereka. Tetapi bagi Tomas khususnya, sulit menerima informasi bahwa Yesus sudah bangkit, bukan karena dia tidak senang Yesus bangkit, tapi karena dia tidak mau berada dalam harapan semu. Oleh karena itu, dia memerlukan bukti seperti pernyataannya tadi pada ayat 25.

Saudaraku, 

Masa-masa setelah Yesus disalib dan mati, adalah masa-masa “karantina” bagi para murid Yesus. Mereka tidak berani pergi kemana-mana dan berhari-hari bahkan berminggu-minggu hanya mengurung diri di rumah masing-masing atau melakukan pertemuan-pertemuan tertutup dan terbatas. Status mereka sebagai murid Yesus membuat mereka menjadi incaran para musuh Yesus dan juga intel-intel Kekaisaran Romawi yang menganggap Gerakan Yesus sebagai kelompok pemberontak yang ingin menggulingkan kekuasaan Romawi saat itu. Maka peristiwa kematian Yesus adalah kenyataan yang mengancam kehidupan para murid Yesus juga.

Tidak hanya itu. Sekarang ditambah lagi dengan berita kebangkitan Yesus. Ini lebih berbahaya. Jika berita kebangkitan Yesus adalah hoax maka ini menjadi ancaman serius bagi para murid karena pengawasan tentara/polisi Romawi akan semakin ketat. Bukan tidak mungkin, para murid akan ditangkap dan dihukum sama seperti Yesus: disalib. Bisa jadi, mereka ditangkap karena difitnah oleh para musuh Yesus sebagai penyebar hoax yang menimbulkan keresahan di masyarakat.

Di tengah kegalauan antara kenyataan pahit kematian Yesus dan rumor kebangkitan Yesus, kedatangan Yesus yang menjumpai mereka memberi kepastian bahwa ternyata kebangkitan Yesus adalah sebuah kepastian. Dan karena itu adalah kepastian maka harapan hidup mereka menyala kembali. Perjumpaan dengan Yesus yang bangkit bukan hanya memastikan diri mereka bahwa berita ini bukan hoax, tapi membangkitkan harapan akan masa depan mereka sebagai murid Yesus. Harapan apa? Harapan bahwa mereka harus melanjutkan pemberitaan tentang semua ajaran dan karya Yesus kepada semua orang dan generasi selanjutnya.

Saudaraku,

Di tengah kegalauan antara kenyataan pahit kematian yang membayangi kita melalui ancaman virus korona saat ini, berita kebangkitan Yesus bukanlah hoax yang hanya menjadi cerita tentang masa lalu yang tertulis dalam Alkitab. Kebangkitan Yesus bagi kita saat ini adalah sebuah keyakinan yang pasti bahwa kebangkitan itu membakar kembali sumbu pengharapan akan kehidupan meski situasi dalam 2 bulan ke depan selama masa karantina ini makin sulit secara ekonomi.

Banyak orang yang mulai merasa tidak tahan, tidak betah di rumah, lalu mulai keluyuran kemana-mana. Banyak orang yang menertawakan orang lain yang memakai masker kemana-mana. Banyak orang yang sok tahu, sok pintar, dan sok beriman dengan mengatakan “beta seng mungkin saki karena beta pung iman”. Sikap-sikap itu muncul karena serangan virus korona memang tidak kelihatan. Karena tidak kelihatan maka orang tidak percaya. Persis sama seperti sikap Tomas.

Di tengah kegalauan yang kita rasakan saat ini, Tuhan memperlihatkan bukti. Bukti tangan-Nya yang berlubang paku. Bukti lambung-Nya yang tertikam tombak. Bukti dalam bentuk apa? Bukti dalam bentuk tumbangnya tubuh-tubuh manusia terpapar virus korona. Bukti dalam bentuk rapuhnya kesehatan kita berhadapan dengan virus yang tidak kelihatan tapi mematikan ini. Bukti dalam bentuk bahwa tidak ada satu orang pun – siapapun dia, apapun jabatannya, seberapa besar kekayaannya, seberapa kuat kekuasaannya – yang bisa lolos dari ancaman virus korona ini. Bahkan para saudara dan sahabat dokter dan paramedis, yang sudah dilengkapi dengan APD (Alat Pelindung Diri) yang berlapis-lapis pada tubuhnya pun masih berpotensi tertular virus ini saat melayani para pasien positif COVID-19 di rumahsakit-rumahsakit. Apalagi kita?

Tapi, justru di tengah kenyataan itu, ada harapan yang bangkit karena Tuhan menjumpai kita sama seperti Ia menjumpai Tomas. Yesus tidak mengucilkan Tomas karena ketidakpercayaannya itu. Yesus tidak membuat mukjizat yang membuat luka-luka derita-Nya disalib sembuh tak berbekas. Yesus justru memperlihatkan bekas luka-luka itu kepada Tomas.

Sekarang. Saat ini, Tuhan sedang memperlihatkan luka-luka tubuh kemanusiaan. Luka-luka pada bumi kita. Tuhan sedang menunjukkan bahwa luka-luka itu bukan untuk mematahkan semangat hidup kita, tapi memanggil kita untuk bangkit dan kembali menatap masa depan. Bukan lagi sebagai orang-orang yang KEPALA BATU dan KEPALA BAKU MALAWANG, tapi sebagai orang-orang yang percaya meski tidak melihat, lalu melakukan sesuatu bukan hanya bagi diri kita sendiri tapi juga bagi kehidupan, kesehatan dan kesejahteraan orang lain. Kebangkitan Yesus di tengah ancaman virus korona ini justru adalah bangkitnya gerakan-gerakan kemanusiaan yang saling mempedulikan, saling berbagi, saling mengingatkan, saling menjaga, dengan mematuhi secara disiplin himbauan protokol kesehatan yang telah disampaikan oleh pemerintah, gereja dan banyak pihak lain.

Sama seperti Tomas, pada akhirnya, kita pun harus mengukuhkan pengakuan “YA TUHANKU DAN ALLAHKU!” Pengakuan iman bahwa kasih pengorbanan Kristus pada salib adalah KASIH YANG MENGHIDUPKAN. Pengakuan iman bahwa kuasa kebangkitan-Nya atas maut adalah KUASA YANG MEMULIHKAN KESEHATAN MANUSIA DAN MEMULIHKAN BUMI INI. Dengan pengakuan iman itu, kita hanya bisa mengatakan YA DAN BENAR. AMIN. Jaga jarak dan pakai masker. Tetemanis sayang dan jaga katong samua.
Read more ...

Sunday, April 19, 2020

Melodi Jiwa Tamaela


Siapa tak kenal lagu "Toki Tifa" dan "Toki Gong" yang mendunia itu? Cari saja di Channel YouTube. Orang bisa menemukan banyak versi lagu tersebut yang dinyanyikan oleh bermacam-macam paduan suara dalam dan luar negeri. Pernah dengar atau pernah menyanyikan lagu "Pela" yang telah melegenda dalam khazanah kebudayaan Maluku? Atau bukalah buku lagu Kidung Jemaat atau Pelengkap Kidung Jemaat atau Nyanyian GPM, ada beberapa lagu yang akrab di telinga dan kerap dikidungkan dalam ibadah-ibadah Kristen di Indonesia. Tapi jarang sekali orang melihat siapa penciptanya.

Di antara sekian nama pencipta lagu gerejawi dan budaya (Maluku), terpatri nama Christian Izaac Tamaela. Upu Atiang, demikian beta biasa menyapanya, bukanlah sosok budayawan dan komposer lagu yang gila panggung atau mabuk ketenaran. Gaya hidup dan karakternya sangat rendah hati, santun dan menghormati setiap orang, bahkan yang usianya jauh lebih muda. Dia berkarya menata melodi, notasi dan birama dalam keheningan. Sepi liputan media. Justru di situlah karya-karyanya sangat berjiwa. Sepanjang hayatnya, hampir setiap tahun dia diundang oleh lembaga-lembaga gerejawi tingkat nasional (PGI), regional (CCA), dan internasional (WCC), untuk menjadi pelatih dan juri paduan suara, fasilitator liturgi dan musik gerejawi, serta dirigen choir tingkat internasional. Belum terhitung lembaga-lembaga lainnya. Karya-karyanya meluber di berbagai edisi penerbitan berskala nasional dan internasional.

Dengan seluruh reputasinya itu, Upu Atiang sebenarnya bisa hidup berkelimpahan. Tapi jalan hidup itu tidak menjadi pilihannya. Dia tetap bersahaja. Jalan kaki dan naik angkot atau ojek dari rumah menuju kampus UKIM untuk mengajar. Tak punya sepedamotor, apalagi mobil.

Upu Atiang bukan hanya bermusik dengan instrumen-instrumen modern yang canggih. Dia adalah pencipta instrumen musik dari bahan apa saja yang bisa memproduksi bunyi. Semasa masih kuliah dulu (1990-1996), dia mengumpulkan beberapa mahasiswa dalam bengkel musiknya dan kami ditugaskan mengumpulkan batu, bambu, kayu, pasir, air dan kulibia untuk dibuat menjadi instrumen musik. Sensitivitas musik semacam itu membuat sosoknya unik dan langka.

Dalam setiap lagu karyanya terasa kental roh dan jiwa kemalukuan. Upu Atiang mampu menghidupkan kembali diksi-diksi budaya lokal yang dirajut menjadi untaian nada-nada diatonik dan pentatonik sebagai media yang membentangkan keluasan cakarawala dan variasi warna-warna pluralitas kebudayaan Maluku.

Sebagai apresiasi terhadap seluruh karya dan reputasinya, pada bulan Oktober 2019 kelompok perwalian mahasiswa (tutorship) Gaspersz-Souisa menyajikan liturgi ibadah yang seluruh lagunya diambil dari karya Upu Atiang. Beliau begitu bangga dan tanpa kami minta beliau datang membawa semua buku lagu yang memuat karya-karyanya. Lebih dari 20 buku (sebagian fotonya yang diunggah di sini). "Beta sanang ale dong bikin ini," demikian ucapnya bangga sambil menyalami beta cukup lama dengan tatapan yang berbinar-binar.

Sejak beta menjadi pembantu rektor bidang kemahasiswaan, beliau dengan senang hati membantu mendampingi mahasiswa yang berminat terlibat dalam paduan suara mahasiswa. Dua kali audisi selama 2 tahun langsung ditanganinya sendiri bersama Peter Salenussa dan Bill Saununu. Pada audisi yang kedua, beliau tetap datang meski kondisi kesehatan sedang menurun. "Biar beta yang pilih dong, nanti Peter yang latih. Beta kondisi seng kuat kayak dolo lai," ujarnya.

Horomate Upu Atiang!

Berjalanlah dengan nyanyianmu, toki tifa, toki gong, seiring langkahmu menuju keabadian. Spiritmu tetap hidup dalam setiap nada yang kau torehkan pada jiwa-jiwa generasi Maluku selanjutnya. Melodimu adalah melodi jiwa yang menghidupi dan menghidupkan bunyi semesta Maluku dan dunia.

"Pela e, katong bakumpul rame-rame... lama-lama bar bakudapa sio sungguh manis lawang e. Ayo Pela e, hidop orang basudara, antar gandong, antar suku deng agama e... Pela e, manis lawang e"

Mena Muria!
Read more ...

Thursday, April 9, 2020

RENJANA: Glenn Fredly Latuihamallo 1975-2020



8 April 2020 tengah malam. Sementara memeriksa hasil kerja para mahasiswa yang dikirim via aplikasi Google Classroom, anak saya di kamar sebelah memberitahu bahwa Glenn Fredly meninggal dunia. Saya kaget. Memang, di antara kami tidak ada hubungan saudara sekandung ataupun saudara jauh. Kami juga tidak pernah bersua langsung. Kekagetan saya semata-mata karena saya adalah salah seorang penikmat berat lagu-lagu Nyong Ambon pemilik suara tenor ini. Seperti juga para penyanyi muda Indonesia lainnya, hampir semua lagu-lagu yang dicipta dan dinyanyikannya bernuansa romantis-syahdu. Bergeliat di genre R&B, GF makin matang dari panggung ke panggung nasional hingga mancanegara. Dalam perjalanan kariernya ia makin menampakkan kedalaman karakter pada pilihan bermusiknya. Selain Iwan Fals dan Franky Siahailatua, saya mengagumi cara GF mengartikulasikan nuansa romansa pada setiap lagunya dengan begitu atraktif seiring lengkingan dan jangkauan nada-nada yang tak terduga. Ia mampu mengukuhkan karakter bermusiknya yang khas dan unik, yang tak mudah diduplikasi oleh penyanyi-penyanyi lain. Syair-syair lagunya penuh variasi diksi yang tak lazim seperti kebanyakan lagu-lagu romansa di Indonesia. Ia mampu mengemas pesan “cinta” melalui diksi-diksi yang menghujam pada nadi rasa manusia sehingga saat mendengarnya ada gugahan rasa cinta dan getir yang menyatu. Simak saja lagu-lagunya seperti "Kasih Putih", "Januari", "Sedih Tak Berujung", “Selesai”, “Kembali ke Awal” dan “Renjana”.


Kekaguman saya pada GF bukan hanya lagu-lagunya yang sarat romansa itu. Banyak karyanya yang membawa penikmat musik ke dunia batinnya sebagai seorang humanis. Tak segarang Iwan Fals dan sesederhana Franky Siahailatua, GF piawai menyusun nada-nada kreatif yang menghentak – seperti karakter R&B-nya – dengan diksi-diksi humanis yang dilandaskan pada roh dan visi bermusiknya yang dirajut bersama kegelisahan identitasnya sebagai seorang manusia Maluku sekaligus Indonesia. Yang menggiringnya pada pencarian akar identitasnya, seperti tiga episode liputan spesial KOMPAS TV dengan tajuk “Musika Foresta”. Liputan itu merekam petualangannya merambah hutan Manusela di Pulau Seram, yang dipercaya oleh rakyat Maluku sebagai sumber jatidiri Maluku (Tengah).

Demikian pula dengan keprihatinannya pada musik Maluku yang mempertemukannya dengan anak-anak muda kreatif “puritan” yang menggawangi Moluccas Hiphop Community (MHC). Perjumpaan yang mendesaknya untuk mengajak MHC berkolaborasi menggelar konser di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta dengan gelar sangar “Beta Maluku”. Ini kemudian menjadi slogan populer di kalangan anak-anak muda Maluku generasi selanjutnya. Ada lagi yang lain. Jauh dari hingar-bingar pernyataan-pernyataan bombastis tentang rekonsiliasi konflik Maluku 1999-2005, GF menggaet sejumlah anak muda Maluku untuk membuat film tentang kehidupan seorang legenda sepakbola Maluku dari Negri Tulehu, yang dikenal sebagai “kampung sepakbola”. Ia mencipta lagu OST (Original Sound Track) dengan tajuk "Tinggikan" untuk film “Cahaya dari Timur” yang sarat dengan diksi-diksi kokoh yang seolah menjadi pilar penyangga identitas Maluku yang saat itu porak-poranda oleh perseteruan tampak tak berujung, dan mengajak untuk melihat secercah harapan dari balik keretakan relasi sosial masyarakat Maluku saat itu.

Keprihatinan humanisnya tidak hanya tampak melalui karya-karyanya, tapi juga dalam keseluruhan hidupnya. Ia turut dalam Gerakan “Save Aru” untuk menggalang dukungan terhadap rakyat Aru menghadapi desakan kooptasi perusahaan multinasional atas tanah dan laut Aru. Dalam dunia pendidikan, GF menjadi seorang musisi Maluku yang memelopori pendirian Program Studi Musik Islami pada Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon. Tak hanya itu, visi dan misinya untuk bermusik telah menjadi suatu inspirasi pendidikan kehidupan yang menghidupi karya-karya generasi musisi muda di Maluku. GF mampu menjelanak di antara tarikan humanisme dan kapitalisme bisnis rekaman di Indonesia sehingga mampu dengan luwes melepas status selebritas muda yang bergelimang ketenaran dan kekayaan. Ia tetap sederhana dengan topi di kepalanya. Semua orang mudah menemuinya dan sebaliknya ia begitu terbuka menerima ajakan untuk bekerja sama dengan siapa pun, demi perkembangan musik itu sendiri.

Saya tidak pernah bertemu dengan GF. Tapi saya belajar banyak melalui karya-karyanya yang merentang jauh merajut simpul-simpul rasa cinta yang pada hakikatnya menggerakkan setiap manusia untuk menjumpai manusia lainnya. Dalam setiap karyanya, saya sulit menemukan “roman picisan” tapi suatu keagungan cinta yang menggugah manusia melihat dirinya sendiri dan menempatkan liyan sebagai spirit menjaga keagungan itu bersama-sama. Bagi saya, di situlah renjana Glenn Fredly! Renjana yang terus menghidupi lagu-lagunya yang mengendapkan kekuatan pada lapisan dasar rasa kemanusiaan: CINTA.

Senja merah di ujung sana
Lelaki mengingat bijana
Berselimutkan kabut mega
Restu semesta membawamu
Bienvenue mon amour
Sang Bijaksana
Teras maja di atas bukit
Merebak wangi kaledonia
Paris van Java jadi nirwana
Menjadi saksi tentang kita
Bienvenue mon amour
Sang Bijaksana
Memelukmu
Sabda rinduku aku memelukmu
Rebahkan lara
Dalam dekapan
Takkan usai
Dawai-dawai rinduku takkan usai
Sungguh oh mon amour
Engkau Renjana

Rest in Love, Glenn Fredly Latuihamallo!
Read more ...

Saturday, April 4, 2020

Belajar

Saya ingin pertama-tama menyatakan respek terhadap para mahasiswa di mana saja, terutama di kampus UKIM, yang dengan segala keterbatasan mencoba bertahan dan beradaptasi dengan perubahan-perubahan mekanisme pembelajaran formal di kampus. Secara geografis, Maluku adalah wilayah kepulauan. Sebagian besar mahasiswa UKIM berasal dari pulau-pulau di luar Ambon dan Lease. Dalam kondisi normal saja, tidak mudah bagi mereka untuk melakukan perjalanan bolak-balik Kota Ambon dan negri-negri asal mereka. Apalagi dalam kondisi masa-masa "kunci" seperti saat ini.

Sistem pembelajaran klas harus diubah menjadi kuliah daring (online). Lebih mudah? Kelihatannya. Tapi bagi sebagian besar mahasiswa perubahan ini menghadapkan mereka pada masalah lain yang cukup berdampak pada pengelolaan keuangan rutin mereka. Kuliah daring membutuhkan jaringan internet (pulsa data dan wifi). Wifi dengan kapasitas besar hanya tersedia di kampus. Sementara kalau sebagian besar memanfaatkan wifi di kampus maka sudah pasti akan terbentuk kelompok-kelompok yang bergerombol pada titik-titik tertentu. Padahal, ada anjuran untuk tidak berkerumun.

Alternatifnya, menambah pulsa data supaya bisa bekerja sendiri-sendiri. Lain lagi masalahnya. Untuk yang masih tinggal dengan ortu, kendala uang pulsa sebagian bisa teratasi. Meskipun tidak semua ortu sudah memahami konsekuensi kuliah daring. Tapi tidak mudah bagi mahasiswa yang tinggal dengan keluarga wali dan indekos. Dana rutin bulanan yang dikirim ortu mereka di negri-negri harus dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan pulsa data yang cukup besar. Akibatnya, uang kos tertunggak dan uang makan kian tipis, bahkan nihil. Ortu mereka di kampung tidak [mau] tahu dengan perubahan ke model kuliah daring ini sehingga terutama mahasiswa indekos harus merana kelaparan seiring tuntutan pulsa data yang harus terus diinfus supaya bisa ikut kuliah daring.

Ada sebagian mahasiswa yang disuruh pulang kampung jika tidak ada sesi klas selama masa "kunci", padahal ini bukan libur. Tentu saja, sebagian besar negri (kampung) di pulau-pulau belum terjangkau jaringan internet yang memadai. Jika pun sudah, frekuensinya naik-turun. Belajar jarak jauh? Pakai apa? Zoom, Google Classroom, Google Hangouts Meet, Skype? Semua bagus bagi yang sudah menikmati fasilitas internet yang berdaya kuat. Tapi tidak di wilayah-wilayah yang minus jaringan komunikasi (internet).

Utamanya mahasiswa-mahasiswa indekos mencoba bertahan hidup dan enggan pulang kampung meski keuangan mereka seret karena terhisap pulsa data. Ada teman-teman mereka yang tinggal dengan ortu rela berbagi beras dan sedikit bahan sembako. Kami para dosen juga membantu sebisanya agar mereka bisa terus mengikuti kuliah daring dan membatasi mereka untuk tidak melakukan kerja-kerja kelompok di tempat-tempat yang "rawan" penyebaran virus corona.

Harus diakui bahwa cukup banyak mahasiswa yang "pasrah" karena tidak mampu secara ekonomis mengikuti model kuliah daring. Mereka memilih "alpa" dan mundur dengan segala konsekuensinya bagi kelanjutan studi mereka.

Situasi hidup mahasiswa di Indonesia timur seperti Maluku jelas tidak bisa dibandingkan dengan teman-teman mereka yang berjibaku di kampus-kampus besar di Pulau Jawa. Motivasi belajar yang kuat memang sangat diperlukan untuk meretas berbagai kendala teknis yang timbul karena berbagai perubahan dan adaptasi berhadapan dengan penyebaran virus corona ini.

Ini hanyalah catatan kecil yang mulanya dipicu oleh 2 buku yang ~ akhirnya ~ tuntas terbaca selama masa "kunci" ini: Politik Identitas dan Bumi Manusia. Muara dari aliran refleksi yang terbentuk melalui proses membaca ini adalah pada kepekaan untuk merasai apakah dalam seluruh dinamika perubahan yang terjadi sekarang ini setiap orang merasa diperlakukan dengan adil? Ataukah muncul stigma-stigma baru dalam realitas hidup sosial yang menciptakan model-model diskriminasi terhadap klas-klas sosial yang dianggap lemah dan karenanya dibiarkan tergilas begitu saja? "Physical distancing" makin meneguhkan "social distancing" yang sebenarnya sudah meracuni cara pandang terhadap realitas sosial masyarakat Indonesia ~ seperti pernyataan jubir kepresidenan yang menyebut "orang kaya" dan "orang miskin" dalam konteks penanganan COVID-19. Demikian pula dengan tendensi belakangan ini yang mengganti penyebutan COVID-19 menjadi VICHIN-19 (Virus China), yang tampaknya hendak mengarahkan persoalan penyakit menjadi diskursus politik identitas global.

Jangan-jangan masa "kunci" ini mengonstruksi perspektif dan aksi politik identitas baru. Suatu cara pandang terhadap penyakit dan penanganannya yang membuat kita menjadi tidak adil sejak dalam pikiran (mengutip tokoh Minke dalam Bumi Manusianya Pram). Semoga tidak.
Read more ...

One Earth, Many Faces

One Earth, Many Faces