Aku menulis maka aku belajar

Friday, November 7, 2008

Obama bagi Indonesia



Waktu membaca berita bahwa Barack Obama memperoleh suara terbanyak dalam pemilihan presiden Amerika Serikat atas rivalnya pasangan John McCain dan Sarah Palin, saya secara berkelakar menyalami seorang teman di kantor. Dengan terheran-heran teman saya bertanya, “Ada apa nih?” Saya menjawab singkat, “Obama menang.” Lalu ia kembali menanggapi, “Wah saya tidak pro siapa-siapa, dan lagian siapa yang menang tidak ada pengaruhnya buat kita.” Saya tersenyum saja, tetapi sempat juga terbersit pikiran: “Benarkah kemenangan Obama tidak ada pengaruhnya bagi kita – Indonesia?”

Cukup lama saya merenungkannya. Namun saya rasa tidak cukup tepat untuk mengatakan bahwa kemenangan Obama tidak ada pengaruhnya sama sekali bagi kita. Tentu yang saya maksud di sini bukan dalam arti karena Obama pernah selama 4 tahun bersekolah di SD Menteng, seperti yang ramai ditayangkan media massa. Asumsi saya mengenai pengaruh kemenangan Obama didasarkan pada kenyataan bahwa sebagai negara superpower di dunia, apa yang terjadi di Amerika Serikat sudah tentu memiliki dampak dan pengaruhnya baik secara langsung maupun tidak langsung di Indonesia. Sebagai contoh paling mutakhir, kita tidak bisa menyangkali bahwa krisis finansial dalam negeri AS turut mengguncang tatanan ekonomi dunia, khususnya negara-negara Dunia Ketiga (termasuk Indonesia). Apa yang sejatinya adalah “krisis lokal” di AS ternyata menjadi “krisis global”. Semua gejolak yang berkaitan dengan peranan AS dalam peta politik-ekonomi dunia tentu tidak lepas dari kebijakan dan visi pemerintahan AS sekarang di bawah Presiden George W. Bush. Dua isu penting yang menjadi amunisi jitu Obama selama kampanyenya adalah “isu perang Irak” dan “mengatasi krisis keuangan dalam negeri AS”.

Namun, hal terpenting yang saya kira dapat memberi pengaruh bagi kita sebagai negara penganut demokrasi adalah proses yang berlangsung selama masa kampanye kedua kandidat: Barack Obama dari Partai Demokrat dan John McCain dari Partai Republik. Bahkan nampak sebelumnya dalam penentuan kandidat calon presiden dari Partai Demokrat antara Hillary Clinton dan Barack Obama. Dalam kontek AS, demokrasi pertama-tama dipahami sebagai suatu proses, bukan institusi formal. Oleh karena itu, indikator demokrasi tidaklah dilihat dari banyaknya partai politik melainkan mekanisme politik yang dibangun sejak awal. Kedua, demokrasi berarti transparansi politik. Perdebatan kandidat presiden dari kedua partai tersebut telah menjadi ajang kritik kebijakan pemerintah secara cerdas. Kedua kandidat memperlihatkan kapabilitas mumpuni dalam mengeksplorasi berbagai kebijakan politik dan argumentasi dalam proposal-proposal politik yang ditawarkan kepada rakyat jika mereka terpilih menjadi presiden. Janji politik tetap dikumandangkan tetapi disertai pemahaman komprehensif mengenai data dan implikasi janji-janji politik mereka. Semuanya dikupas dan dikemas sebagai isu-isu kampanye yang reasonable. Ketiga, tingkat kematangan karakter politik yang tinggi. Perdebatan Obama dan McCain memperlihatkan suatu perpaduan tingkat kecerdasan dan kematangan pengalaman politik yang luar biasa. Mereka tidak terpancing oleh emosi-emosi pribadi dalam beradu argumentasi. Obama sering terlihat tersenyum santun saat diserang oleh kritik-kritik McCain dan menjawab dengan singkat tetapi langsung pada inti persoalan yang dilupakan McCain. Sebaliknya, McCain dengan dingin menanggapi serangan Obama, dengan jawaban-jawaban yang tegas berdasarkan pengalaman-pengalamannya mengulati politik AS. Keempat, kecerdasan politik konstituen. Meskipun pada awalnya diterpa isu rasialisme, tetapi setahap demi setahap mampu meyakinkan publik AS bahwa masalah kepemimpinan politik di AS tidak bisa lagi ditentukan oleh segregasi sosial berdasarkan warna kulit. Demokrasi AS yang sudah berusia lebih dari 200 tahun kini mengalami suatu pergeseran paradigma secara signifikan. Amerika Serikat modern tidak bisa lagi bergerak dalam paradigma politik “red” atau “blue”, “color” atau “white”. Tetapi harus kembali kepada prinsip demokrasi yang diusungnya sejak awal, seperti yang berkali-kali digaungkan Obama, “We are the United States!” Kemenangan Obama bukanlah karena ia pandai membodohi konstituennya, melainkan karena ia mengajak publik AS berdemokrasi secara cerdas dan dewasa.

Mereka berdua memiliki keyakinan politik masing-masing. Mempertahankan keyakinan politik itu dilakukan dengan cara-cara yang santun tanpa kehilangan daya kritik yang tajam. Tingkat kematangan karakter politik yang tinggi pun teruji saat hasil perolehan suara yang memenangkan Obama secara mutlak sebagai Presiden ke-44 Amerika Serikat dan presiden pertama keturunan Afro-Amerika. John McCain dengan jiwa besar mengucapkan selamat kepada Barack Obama dan meminta kepada seluruh konstituennya untuk mendukung Presiden Barack Obama dan Wakil Presiden Joe Biden mengatasi berbagai persoalan AS di dalam negeri maupun luar negeri. Demikian pula dengan Obama. Dalam Acceptance Speech yang disampaikan tanpa teks di hadapan sekitar 250.000 konstituennya di Grant Park Chicago Illinois, Obama dengan penuh hormat menyebutkan McCain sebagai seorang pemimpin yang berani, yang mau memberikan apa saja bagi bangsa dan negaranya.

Saya kira dengan melihat dari proses tersebut kita akan menyadari bahwa kemenangan Obama mempunyai pengaruh yang besar bagi kita. Setidaknya, kita bisa belajar bahwa proses suksesi kepemimpinan politik dalam suatu negara tidaklah semata-mata ditentukan koalisi parpol atau lobbi-lobbi politik yang hanya menguntungkan kepentingan segelintir elite politik. Faktor-faktor itu tentu penting, tetapi kekuatan demokrasi yang sesungguhnya adalah pencerdasan publik sehingga siap memasuki suatu iklim demokrasi secara menyeluruh. Publik atau rakyat tidak hanya menjadi “sapi perahan” menjelang pilkada, atau “banteng luka” ketika gacoannya kalah. Demokrasi menjadi suatu proses politik yang di dalamnya rakyat terlibat karena kesadaran dan kecerdasan mereka, melalui mekanisme politik-ekonomi yang transparan, serta kesediaan untuk menerima kemajemukan sebagai realitas. Dengan cara itulah demokrasi kemudian menjadi kekuatan rakyat yang sejati.

Ada yang menganggap demokrasi hanya mitos politik Barat. Benarkah? Mungkin saja benar. Namun, Obama telah menjadi ikon abad ini bahwa benteng tebal dominasi politik kulit putih dan stigmatisasi black people sebagai kaum budak telah diruntuhkan. Bagi saya, bukan tidak mungkin virus Obamania akan menular dan menyerang seluruh dunia, termasuk Indonesia. Kita tunggu saja pengaruhnya.

No comments:

Post a Comment

One Earth, Many Faces

One Earth, Many Faces