Aku menulis maka aku belajar

Thursday, December 4, 2008

Opa Sinterklas: dari mana datangnya?

Kemarin jalan-jalan ke toko buku. Wah, suasana toko sudah gemerlap dengan ornamen-ornamen Natal. Di dekat meja kasir terpajang beberapa boneka Santa Claus. Lucu. Tetapi saya lebih tertarik melihat beberapa compact disc lagu Natal. Yah, lagunya sih yang itu-itu juga, hanya versinya saja yang berbeda - ada yang instrumentalia dan funky jazz. Kepincut dengan balada Natal Daniel Sahuleka dan juga film animasi Christmas Carol. Akhirnya beli... hehehe gak tahan lahyaw!

Tapi boneka Santa Claus di dekat meja kasir itu terus mengganggu pikiranku. Kenapa si opa ini selalu muncul setiap bulan Desember? Suatu pertanyaan yang aneh karena baru sekarang terasa mengusik meski sejak kecil sudah sering didongengin sama opa-oma. Waktu masih studi di Belanda, memang sempat juga merasakan perayaan hari Saint Nicholas ini. Tapi gak sampe penasaran. Sekarang baru rada gelisah: Gimana kalau anakku, yang lahir dan tumbuh dalam belantara website ini, tiba-tiba menanyakan kenapa si opa janggut putih jaket merah ini selalu muncul menjelang Natal. Karena itu di bawah ini aku mau sedikit berbagi tentang sekelumit sejarah Santa Claus atau Sinterklas. Mudah-mudahan bermanfaat dan tidak ikut-ikut terkibuli oleh sesuatu yang tak jelas, tapi dengan berapi-api terus ber-hohohohoho... Ini baru bagian pertama. Aku harap dapat menyelesaikan tulisan berikut mengenai perlukah si opa ini mejeng di Indonesia dan kenapa perlu atau harus ia berada di sini.

Legenda si Opa

Sosok Santa Claus versi Amerika mendapatkan inspirasi dan namanya dari legenda Sinter Klaas, yang dibawa serta oleh para imigran Belanda di New York pada abad ke-17. Pada awal 1773 nama itu muncul dalam media Amerika sebagai “St. A Claus”, yang dipopulerkan oleh penulis Washington Irving, yang memberikan informasi rinci pertama kepada rakyat Amerika tentang versi Belanda dari Saint Nicholas.

Dalam karyanya, History of New York, yang diterbitkan pada 1809 dengan nama samara Diedrich Knickerbocker, Irving menggambarkan kedatangan santo itu di atas kuda hitam (tanpa ditemani oleh Pit Hitam) pada setiap perayaan Hari Saint Nicholas. Santa Nick Belanda-Amerika ini mendapatkan bentuk Amerikanya sepenuhnya pada 1823 dalam puisi “A Visit From Saint Nicholas” yang lebih dikenal sebagai “The Night Before Christmas” karya penulis Clement Clarke Moore. Moore memasukkan beberapa rincian seperti nama-nama rusa; bunyi tawa, kedipan mata, dan anggukan kepala; cara Saint Nicholas, yang digambarkan sebagai bertubuh pendek, menaiki cerobong asap. (Ungkapan Moore tentang “menaruh jari di pinggir hidung” diambil dari gambaran Irving tahun 1809).

Citra Amerika dari Santa Claus dielaborasi lebih lanjut oleh ilustrator Thomas Nast, yang menggambarkan tubuh bulat-gemuk Santa dalam berita Natal Majalah Harper dari 1860-an sampai 1880-an. Nast menambahkan beberapa rincian seperti bengkel Santa di Kutub Utara dan Santa dan daftar nama anak-anak yang baik dan nakal di seluruh dunia. Versi ukuran tubuh normal Santa Claus, ketimbang gambaran bertubuh pendek dalam puisi Moore, muncul dalam gambaran dari serangkaian ilustrasi iklan Coca-Cola yang diperkenalkan pada 1931. Dalam berbagai versi modern legenda Santa Claus, hanya para kurcacilah yang membantu pekerjaannya di bengkel mainan anak-anak. Rudolf, rusa ke-9, dengan hidung merah menyala, diciptakan pada 1939 oleh seorang penulis iklan untuk perusahaan Montgomery Ward.Untuk mencari akar sejarah Santa Claus, kita harus menelusuri lebih dalam masa lalu.

Kita menemukan bahwa Santa Claus seperti yang kita kenal merupakan suatu kombinasi berbagai legenda dan tokoh-tokoh mitis yang berbeda-beda.Cukup lama dikenal dalam tradisi Kristen, Santa Claus adalah Uskup Nicholas dari Smirna (Izmir), yang kini dikenal sebagai Turki. Nicholas hidup pada abad ke-4 sM. Ia adalah orang kaya-raya, murah hati, dan menyayangi anak-anak. Ia sering menghibur anak-anak miskin dengan melemparkan kado-kado melalui jendela rumah mereka.

Menjadi Tradisi dalam Gereja

Gereja Ortodoks kemudian menaikkan St. Nicholas, pembawa keajaiban, pada posisi yang lebih terhormat. Gereja tertua di Rusia, misalnya, dibangun sebagai penghormatan kepadanya. Berdasarkan sejarahnya, Gereja Katolik Roma menghormati Nicholas sebagai orang suci yang menolong anak-anak dan kaum miskin. St. Nicholas menjadi patron santo bagi anak-anak dan pelaut. Namanya diperingati setiap 6 Desember.

Di wilayah-wilayah Protestan di Jerman tengah dan utara, St. Nicholas kemudian dikenal sebagai der Weinachtsmann. Di Inggris ia disebut Father Christmas (Bapa Natal). St. Nicholas mendapat bentuknya tersendiri di Amerika Serikat melalui para imigran Belanda, dan mulai dikenal sebagai Santa Claus. Dalam berbagai puisi dan ilustrasi di Amerika Utara, Santa Claus, dengan jenggot putih, jaket merah dan topi pompom, akan bepergian sepanjang malam sebelum Natal dengan kereta salju yang ditarik oleh 8 rusa jantan, dan masuk melalui cerobong asap rumah-rumah untuk menaruh kado-kado Natal dalam kaos kaki anak-anak yang sudah disiapkan dekat perapian.

Anak-anak biasanya ingin tahu dari mana datangnya Santa Claus. Di mana ia tinggal kalau tidak sedang membagi kado? Pertanyaan-pertanyaan ini memunculkan legenda bahwa Santa Claus tinggal di Kutub Utara. Di situ pula tempat bengkel kado Natalnya. Tahun 1925, karena tidak ada rusa jantan yang bisa hidup di Kutub Utara, beberapa surat kabar menyebutkan bahwa Santa Claus sebenarnya hidup di dataran Finlandia. “Paman Markus”, Markus Rautio, yang membandingkan cerita rakyat dalam sesi “Children’s hour” di radio Finlandia, mengungkapkan rahasia besar itu untuk pertama kalinya pada 1927: Santa Claus hidup di dataran Korvantunturi – “Ear Fell”.

Dataran rendah itu, yang terletak di perbatasan timur Finlandia, mirip telinga kelinci – yang sebenarnya adalah telinga Santa Claus, yang dengannya ia mendengarkan apakah anak-anak di seluruh dunia sudah menjadi anak-anak yang baik. Santa dibantu oleh sekelompok kurcaci yang sibuk. Kisah kurcaci-kurcaci ini berakar dalam legenda Skandinavia. Selama berabad-abad, berbagai tradisi yang berbeda-beda dari belahan utara telah bercampur menjadi satu dan menciptakan Santa Claus di seluruh dunia – seorang opa berjenggot putih berjaket merah yang abadi, yang membagi-bagikan kado pada hari Natal dan selalu kembali ke Korvantunturi di dataran Finlandia.

Sejak era 1950-an, Santa melakukan perjalanan ke Napapiiri, dekat Rovaniemi, bukan pada saat Natal, untuk bertemu dengan anak-anak dan orang-orang berjiwa muda. Sejak 1985 kunjungannya ke Napapiiri telah menjadi aktivitas rutin. Di sana pula ia mendirikan kantor Santa Claus. Ia berada di sana setiap hari sepanjang tahun untuk mendengar apa yang diinginkan oleh anak-anak sebagai kado Natal dan bercakap-cakap dengan anak-anak dari seluruh dunia. Desa Santa Claus adalah juga tempat berdirinya kantor utama Santa Claus, yang menerima surat dari anak-anak di seluruh penjuru dunia.

6 comments:

  1. santa claus rupanya tidak sendiri, ada juga pengikutnya. di ambon anak-anak lebih takut dengan pit hitam. entah apakah dalam sejarah santa claus ada juga sejarah pit hitam atau tidak.
    saat ini pula tradisi santa claus diberi nuansa baru dengan kehadiran ibu peri dan badut. apakah ini juga merupakan penyesuaian dengan perkembangan jaman atau merupakan "penyeimbang" terhadap pit hitam yang galak dan suka memasukan anak kecil ke dalam karung.
    kalau opa sinterklas beri kado (yang tentu sudah dipersiapkan oleh orang tua), pit hitam lebih baik lagi, karena memberikan kacang deng gula-gula tu. hehehehehehe, lalu seng pandang dia itu sapa, yang penting isi karung dibagikan.
    agus lopuhaa

    ReplyDelete
  2. Bagaimana dengan Pit Hitam bu? dalam tradisi saat ini juga disertakan pada perayaan santa claus. Kalau santa claus hanya bagi kado pada orang-orang tertentu (yang tentu sudah dipersiapakan oleh orang tua), pit hitam justru memberikan kacang deng gula-gula kepada siapa saja...hehehehehehehehehe.....
    fenomena baru juga saat ini adalah sudah disertakan ibu peri dan badut. apakah ini juga merupakan "penyeimbang" terhadap pit hitam yang jahat? sehingga ibu peri dan badut melambangkan kebaikan?

    ReplyDelete
  3. Salamat bakudapa lai tamang... lama seng dengar kabar. Tulisan ini memang akan dilanjutkan dengan beberapa tulisan mengenai sejarah Natal dan refleksi sosio-teologis mengenai Natal dalam konteks Indonesia (atau mungkin lebih tepat Maluku - seperti yang ale sebutkan). Hanya ingin menunjukkan bahwa percakapan mengenai "teologi kontekstual" adalah percakapan tentang hibriditas kultural, yang tentunya juga memengaruhi konstruksi berpikir manusia dalam budayanya. Setidaknya dengan begini katong bersikap fair dan juga konstruktif terhadap katong pung budaya sendiri... Kenapa si opa ini (yang berasal dari suatu ranah budaya asing) bisa bertahan berabad-abad - malah kita yang terus melestarikannya terlepas tahu atau tidak tahu sejarahnya - sementara budaya kita sendiri dipandang sebelah mata dan selalu merasa harus "diagamakan" (baca: dikristenkan)?

    ReplyDelete
  4. Hehehee.... Tinggal barmaeng deng Senter Klas tarus, seng taku dapa kas masu dalam karong la dapa pukul deng sapu?
    Beta inga satu opa juga, Opa Ferry Lewier (wah, gimana kabarnya Opa ini sekarang ya?) Biasanya di Sekolah Minggu Latihan, kalau sudah dekat natal gini, pasti cerita-cerita ini menarik. Penerus Opa Ferry di Ambon skarang sapae...? Yang mampu mendaratkan teologi dalam pikiran anak-anak. Kalau bisa dikontekstualisasikan, lebih baik lagi dan itu ternyata butuh pengalaman. Tetapi kalau cuma butuh pengalaman, tidak usah tunggu berpengalaman dulu khan? Temukan pengalaman-pengalaman itu.
    Tata Lucky Wattimury yang terus mengorganisir bidang PAK di Sinode juga ternyata belum memilik formula yang tepat. (mungkin butuh mengumpulkan core-core person dari semua lingkungan budaya di GPM yang juga pengasuh ya...?) Kong tinggal barmaeng di Ambon, abis susun formula, disebarkan ke seluruh Maluku... Formula mempan seng tuh..???....
    Pa Agus Lopuhaa deng Pa Elifas Maspaitella bisa jadi partner di Ambon tuh... Katong cuma for tola-tola saja ni...

    ReplyDelete
  5. Nah, komunitas Teoblogi UKIM sudah mulai terbentuk nih.... Tinggal sebarkan virus aja bung.....

    ReplyDelete
  6. Beta kira mitos Sinterklas ini harus didekonstruksi supaya jangan di kemudian hari makna edukatifnya makin tergerus dan hanya menjadi sekadar "dakocan" yang hanya biking katong ketawa-ketiwi atau cuma par biking taku anana kacil sampe dorang kincing calana deng tar dapa sono cuma karna inga om piet itam.

    ReplyDelete

One Earth, Many Faces

One Earth, Many Faces