Kabaressi is a Maluku local word means "dynamic". This word symbolizes the dynamic life of human being in which he/she encounters world and others. Kabaressi is a spirit of transformation.
When I born, I black When I grow up, I black When I go in sun, I black When I scared, I black When I sick, I black And when I die, I still black
And you white fellow... When you born, you pink When you grow up, you white When you go in sun, you red When you cold, you blue When you scared, you yellow When you sick, you green And when you die, you gray
AND YOU CALLING ME COLORED?
This poem was nominated by UN as the best poem of 2006. Written by an African kid.
Belum hilang capek dan pegal di sekujur badan. Sejak pertengahan Oktober lalu kami sudah mulai memindahkan barang-barang ke rumah kontrakan. Rumah yang sekarang kami tempati adalah “rumah dinas” milik instansi tempat istri bekerja. Berhubung masa kerja sudah selesai, maka berakhir pula masa tinggal di rumah itu. Setelah mondar-mandir cari rumah kontrakan, akhirnya dapat juga. Rumah kontrakan sih banyak, tapi harganya itu lho… minta ampun deh! Di seputaran lingkungan tempat tinggal kami tidak ada rumah kontrakan yang harganya di bawah Rp 15 juta. Busyet! Duit dari mana? Kata para tetangga, segitu mah harga biasa untuk kawasan Kelapa Gading. Meskipun sudah menjadi langganan banjir, tetap aja harga tanah dan rumah melangit. Mau cari di luar Kelapa Gading, agak susah juga karena sekolahnya Kainalu berlokasi di Kelapa Gading. Hitung-hitung kalau dapat harga kontrakan yang lebih murah di luar Kelapa Gading, malah bebannya jatuh ke ongkos transportasi.
Tetapi syukurlah, tak jauh dari rumah yang sekarang ada paviliun yang dikontrakkan. Kecil dan mungil, dengan satu kamar tidur dan satu kamar mandi. Tetapi yang membuat kami kepincut adalah ada lotengnya. Itu penting di era banjir sekarang. Maklumlah, sebagai orang perantauan kami tidak punya banyak asesoris rumah tangga yang wah. Harta paling bernilai dan paling banyak yang kami miliki adalah “buku”. Nah, justru di situlah beratnya. Selama ini kami tidak terlalu menyadari betapa banyaknya “harta” kami itu. Dan kami terus menumpuk “harta” itu. Sekarang baru terasa, ternyata “harta” kami itu ajubilah banyaknya. Sudah diatur, disortir, bahkan disumbangkan ke teman-teman, toh masih tersisa 8 kontainer plasti plus 6 tas yang sudah dijejali sesak. Belum lagi buku-buku Kainalu, anak kami, yang rupanya juga ketularan getol mengoleksi buku menurut seleranya. Apa mau dikata? Meskipun berat tapi “harta” yang satu ini memang memberi kenikmatan yang tak bertara dalam hidup kami. Kalau ada loteng, maka "harta" kami ini dapat diselamatkan tanpa harus mengungsikannya ke sana ke mari. Aman!
Awalnya Kainalu agak shock ketika kami membawanya melihat rumah kontrakan itu. Rupanya konsep spasialnya terusik karena ukuran rumah “lama” dan “baru” berbeda jauh. Namun, perlahan-lahan dia dapat memahami dan menerima bahwa cepat atau lambat kami harus pindah ke rumah kontrakan itu. Nancy mencoba memasang foto-fotonya dan beberapa lukisan karya Kainalu agar tercipta suasana akrab yang – semoga – membuatnya betah dalam suasana baru.
Memang tidak mudah berpindah dari “situasi lama” ke “situasi baru”. Proses peralihannya terkadang butuh persiapan. Jika tidak siap, orang bisa stres. Jadi, bisa dibayangkan betapa stresnya orang jika proses peralihan itu berlangsung cepat dan tak terduga. Kalau “yang tak terduga” itu membawa efek yang menyenangkan mungkin masih bisa diterima, tapi bagaimana kalau sebaliknya? Bahwa “perpindahan” atau “peralihan” situasi itu malah membawa dampak yang tidak nyaman, bahkan penderitaan? Dengan demikian, perpindahan spasial tidak hanya memberi efek pada konsep ruang secara berbeda dan drastis, tetapi juga memberi efek psikologis yang dalam. Konsep ruang yang berubah drastis akan menciptakan impuls psikis yang menekan kesadaran spasial seseorang. Jika transisi atau distorsi spasial ini tidak ditangani maka akan muncul pemberontakan psikologis yang menciptakan ketidakseimbangan dalam kesadaran diri seseorang. Bukan tidak mungkin ketidakseimbangan kesadaran itu dapat mewujud dalam tindakan-tindakan koersif dan despotik, baik secara personal maupun sosial.
Manusia hidup dan beraktivitas dalam ruang dan waktu. Oleh karena itu, ruang dan waktu memiliki daya penekan yang sangat kuat dalam membentuk struktur kesadaran manusia. Pergeseran dan peralihan ruang dan waktu tanpa disertai kesediaan dan keterbukaan dari manusia yang mengalaminya, akan membuka lubang-lubang dimensional yang menjerumuskan nalar manusia ke dalam kondisi patologis. Transformasi kebudayaan dan peradaban dalam label modernisasi telah membuktikan hal itu. Tersingkirnya nalar kesadaran manusia ke dalam lubang hitam kebiadaban kultural salah satunya disebabkan oleh menghilangnya atau terdistorsinya ruang dan waktu itu. Lihat saja bagaimana urbanisasi menjadi sebuah problem dalam masyarakat industri dan perkotaan. Sekelompok orang tidak siap menalar beralihnya ruang “sawah” mereka menjadi ruang “pabrik”; terdistorsinya fungsi “pekerjaan tanah” menjadi “kerja mesin”; tereduksinya “pekerjaan tangan” bertingkat-tingkat di bawah “pekerjaan komputer”, dst.
Manusia memiliki kemampuan adaptif terhadap lingkungan barunya, kendati hal itu butuh proses yang lama. Kalau proses peralihan dan distorsi dari yang “lama” ke yang “baru” ternyata berlangsung cepat dan terus-menerus, dalam bentuk yang tak mampu dicandranya, maka apa yang harus diadaptasi? Keterubahan berkelanjutan secara cepat semacam itulah yang makin membuat manusia terasing dari ruang dan waktunya sendiri. Lantas, kita makin tak menikmati hidup dalam serba ruang dan waktu ini. Setiap saat kita hanya berjuang menegasi ruang dan waktu agar berjalan abnormal, tidak mengikuti hukum alam tetapi mengikuti hukum artifisial yang aneh, seolah-olah “ikan yang berjuang untuk hidup di luar air”.
Waktu membaca berita bahwa Barack Obama memperoleh suara terbanyak dalam pemilihan presiden Amerika Serikat atas rivalnya pasangan John McCain dan Sarah Palin, saya secara berkelakar menyalami seorang teman di kantor. Dengan terheran-heran teman saya bertanya, “Ada apa nih?” Saya menjawab singkat, “Obama menang.” Lalu ia kembali menanggapi, “Wah saya tidak pro siapa-siapa, dan lagian siapa yang menang tidak ada pengaruhnya buat kita.” Saya tersenyum saja, tetapi sempat juga terbersit pikiran: “Benarkah kemenangan Obama tidak ada pengaruhnya bagi kita – Indonesia?”
Cukup lama saya merenungkannya. Namun saya rasa tidak cukup tepat untuk mengatakan bahwa kemenangan Obama tidak ada pengaruhnya sama sekali bagi kita. Tentu yang saya maksud di sini bukan dalam arti karena Obama pernah selama 4 tahun bersekolah di SD Menteng, seperti yang ramai ditayangkan media massa. Asumsi saya mengenai pengaruh kemenangan Obama didasarkan pada kenyataan bahwa sebagai negara superpower di dunia, apa yang terjadi di Amerika Serikat sudah tentu memiliki dampak dan pengaruhnya baik secara langsung maupun tidak langsung di Indonesia. Sebagai contoh paling mutakhir, kita tidak bisa menyangkali bahwa krisis finansial dalam negeri AS turut mengguncang tatanan ekonomi dunia, khususnya negara-negara Dunia Ketiga (termasuk Indonesia). Apa yang sejatinya adalah “krisis lokal” di AS ternyata menjadi “krisis global”. Semua gejolak yang berkaitan dengan peranan AS dalam peta politik-ekonomi dunia tentu tidak lepas dari kebijakan dan visi pemerintahan AS sekarang di bawah Presiden George W. Bush. Dua isu penting yang menjadi amunisi jitu Obama selama kampanyenya adalah “isu perang Irak” dan “mengatasi krisis keuangan dalam negeri AS”.
Namun, hal terpenting yang saya kira dapat memberi pengaruh bagi kita sebagai negara penganut demokrasi adalah proses yang berlangsung selama masa kampanye kedua kandidat: Barack Obama dari Partai Demokrat dan John McCain dari Partai Republik. Bahkan nampak sebelumnya dalam penentuan kandidat calon presiden dari Partai Demokrat antara Hillary Clinton dan Barack Obama. Dalam kontek AS, demokrasi pertama-tama dipahami sebagai suatu proses, bukan institusi formal. Oleh karena itu, indikator demokrasi tidaklah dilihat dari banyaknya partai politik melainkan mekanisme politik yang dibangun sejak awal. Kedua, demokrasi berarti transparansi politik. Perdebatan kandidat presiden dari kedua partai tersebut telah menjadi ajang kritik kebijakan pemerintah secara cerdas. Kedua kandidat memperlihatkan kapabilitas mumpuni dalam mengeksplorasi berbagai kebijakan politik dan argumentasi dalam proposal-proposal politik yang ditawarkan kepada rakyat jika mereka terpilih menjadi presiden. Janji politik tetap dikumandangkan tetapi disertai pemahaman komprehensif mengenai data dan implikasi janji-janji politik mereka. Semuanya dikupas dan dikemas sebagai isu-isu kampanye yang reasonable. Ketiga, tingkat kematangan karakter politik yang tinggi. Perdebatan Obama dan McCain memperlihatkan suatu perpaduan tingkat kecerdasan dan kematangan pengalaman politik yang luar biasa. Mereka tidak terpancing oleh emosi-emosi pribadi dalam beradu argumentasi. Obama sering terlihat tersenyum santun saat diserang oleh kritik-kritik McCain dan menjawab dengan singkat tetapi langsung pada inti persoalan yang dilupakan McCain. Sebaliknya, McCain dengan dingin menanggapi serangan Obama, dengan jawaban-jawaban yang tegas berdasarkan pengalaman-pengalamannya mengulati politik AS. Keempat, kecerdasan politik konstituen. Meskipun pada awalnya diterpa isu rasialisme, tetapi setahap demi setahap mampu meyakinkan publik AS bahwa masalah kepemimpinan politik di AS tidak bisa lagi ditentukan oleh segregasi sosial berdasarkan warna kulit. Demokrasi AS yang sudah berusia lebih dari 200 tahun kini mengalami suatu pergeseran paradigma secara signifikan. Amerika Serikat modern tidak bisa lagi bergerak dalam paradigma politik “red” atau “blue”, “color” atau “white”. Tetapi harus kembali kepada prinsip demokrasi yang diusungnya sejak awal, seperti yang berkali-kali digaungkan Obama, “We are the United States!” Kemenangan Obama bukanlah karena ia pandai membodohi konstituennya, melainkan karena ia mengajak publik AS berdemokrasi secara cerdas dan dewasa.
Mereka berdua memiliki keyakinan politik masing-masing. Mempertahankan keyakinan politik itu dilakukan dengan cara-cara yang santun tanpa kehilangan daya kritik yang tajam. Tingkat kematangan karakter politik yang tinggi pun teruji saat hasil perolehan suara yang memenangkan Obama secara mutlak sebagai Presiden ke-44 Amerika Serikat dan presiden pertama keturunan Afro-Amerika. John McCain dengan jiwa besar mengucapkan selamat kepada Barack Obama dan meminta kepada seluruh konstituennya untuk mendukung Presiden Barack Obama dan Wakil Presiden Joe Biden mengatasi berbagai persoalan AS di dalam negeri maupun luar negeri. Demikian pula dengan Obama. Dalam Acceptance Speech yang disampaikan tanpa teks di hadapan sekitar 250.000 konstituennya di Grant Park Chicago Illinois, Obama dengan penuh hormat menyebutkan McCain sebagai seorang pemimpin yang berani, yang mau memberikan apa saja bagi bangsa dan negaranya.
Saya kira dengan melihat dari proses tersebut kita akan menyadari bahwa kemenangan Obama mempunyai pengaruh yang besar bagi kita. Setidaknya, kita bisa belajar bahwa proses suksesi kepemimpinan politik dalam suatu negara tidaklah semata-mata ditentukan koalisi parpol atau lobbi-lobbi politik yang hanya menguntungkan kepentingan segelintir elite politik. Faktor-faktor itu tentu penting, tetapi kekuatan demokrasi yang sesungguhnya adalah pencerdasan publik sehingga siap memasuki suatu iklim demokrasi secara menyeluruh. Publik atau rakyat tidak hanya menjadi “sapi perahan” menjelang pilkada, atau “banteng luka” ketika gacoannya kalah. Demokrasi menjadi suatu proses politik yang di dalamnya rakyat terlibat karena kesadaran dan kecerdasan mereka, melalui mekanisme politik-ekonomi yang transparan, serta kesediaan untuk menerima kemajemukan sebagai realitas. Dengan cara itulah demokrasi kemudian menjadi kekuatan rakyat yang sejati.
Ada yang menganggap demokrasi hanya mitos politik Barat. Benarkah? Mungkin saja benar. Namun, Obama telah menjadi ikon abad ini bahwa benteng tebal dominasi politik kulit putih dan stigmatisasi black people sebagai kaum budak telah diruntuhkan. Bagi saya, bukan tidak mungkin virus Obamania akan menular dan menyerang seluruh dunia, termasuk Indonesia. Kita tunggu saja pengaruhnya.
Remarks of President-Elect Barack Obama-as prepared for delivery
Election Night
Tuesday, November 4th, 2008
Chicago, Illinois
If there is anyone out there who still doubts that America is a place where all things are possible; who still wonders if the dream of our founders is alive in our time; who still questions the power of our democracy, tonight is your answer.
It's the answer told by lines that stretched around schools and churches in numbers this nation has never seen; by people who waited three hours and four hours, many for the very first time in their lives, because they believed that this time must be different; that their voice could be that difference.
It's the answer spoken by young and old, rich and poor, Democrat and Republican, black, white, Latino, Asian, Native American, gay, straight, disabled and not disabled - Americans who sent a message to the world that we have never been a collection of Red States and Blue States: we are, and always will be, the United States of America.
It's the answer that led those who have been told for so long by so many to be cynical, and fearful, and doubtful of what we can achieve to put their hands on the arc of history and bend it once more toward the hope of a better day.
It's been a long time coming, but tonight, because of what we did on this day, in this election, at this defining moment, change has come to America.
I just received a very gracious call from Senator McCain. He fought long and hard in this campaign, and he's fought even longer and harder for the country he loves. He has endured sacrifices for America that most of us cannot begin to imagine, and we are better off for the service rendered by this brave and selfless leader. I congratulate him and Governor Palin for all they have achieved, and I look forward to working with them to renew this nation's promise in the months ahead.
I want to thank my partner in this journey, a man who campaigned from his heart and spoke for the men and women he grew up with on the streets of Scranton and rode with on that train home to Delaware, the Vice President-elect of the United States, Joe Biden.
I would not be standing here tonight without the unyielding support of my best friend for the last sixteen years, the rock of our family and the love of my life, our nation's next First Lady, Michelle Obama. Sasha and Malia, I love you both so much, and you have earned the new puppy that's coming with us to the White House. And while she's no longer with us, I know my grandmother is watching, along with the family that made me who I am. I miss them tonight, and know that my debt to them is beyond measure.
To my campaign manager David Plouffe, my chief strategist David Axelrod, and the best campaign team ever assembled in the history of politics - you made this happen, and I am forever grateful for what you've sacrificed to get it done.
But above all, I will never forget who this victory truly belongs to - it belongs to you.
I was never the likeliest candidate for this office. We didn't start with much money or many endorsements. Our campaign was not hatched in the halls of Washington - it began in the backyards of Des Moines and the living rooms of Concord and the front porches of Charleston.
It was built by working men and women who dug into what little savings they had to give five dollars and ten dollars and twenty dollars to this cause. It grew strength from the young people who rejected the myth of their generation's apathy; who left their homes and their families for jobs that offered little pay and less sleep; from the not-so-young people who braved the bitter cold and scorching heat to knock on the doors of perfect strangers; from the millions of Americans who volunteered, and organized, and proved that more than two centuries later, a government of the people, by the people and for the people has not perished from this Earth. This is your victory.
I know you didn't do this just to win an election and I know you didn't do it for me. You did it because you understand the enormity of the task that lies ahead. For even as we celebrate tonight, we know the challenges that tomorrow will bring are the greatest of our lifetime - two wars, a planet in peril, the worst financial crisis in a century. Even as we stand here tonight, we know there are brave Americans waking up in the deserts of Iraq and the mountains of Afghanistan to risk their lives for us. There are mothers and fathers who will lie awake after their children fall asleep and wonder how they'll make the mortgage, or pay their doctor's bills, or save enough for college. There is new energy to harness and new jobs to be created; new schools to build and threats to meet and alliances to repair.
The road ahead will be long. Our climb will be steep. We may not get there in one year or even one term, but America - I have never been more hopeful than I am tonight that we will get there. I promise you - we as a people will get there.
There will be setbacks and false starts. There are many who won't agree with every decision or policy I make as President, and we know that government can't solve every problem. But I will always be honest with you about the challenges we face. I will listen to you, especially when we disagree. And above all, I will ask you join in the work of remaking this nation the only way it's been done in America for two-hundred and twenty-one years - block by block, brick by brick, calloused hand by calloused hand.
What began twenty-one months ago in the depths of winter must not end on this autumn night. This victory alone is not the change we seek - it is only the chance for us to make that change. And that cannot happen if we go back to the way things were. It cannot happen without you.
So let us summon a new spirit of patriotism; of service and responsibility where each of us resolves to pitch in and work harder and look after not only ourselves, but each other. Let us remember that if this financial crisis taught us anything, it's that we cannot have a thriving Wall Street while Main Street suffers - in this country, we rise or fall as one nation; as one people.
Let us resist the temptation to fall back on the same partisanship and pettiness and immaturity that has poisoned our politics for so long. Let us remember that it was a man from this state who first carried the banner of the Republican Party to the White House - a party founded on the values of self-reliance, individual liberty, and national unity. Those are values we all share, and while the Democratic Party has won a great victory tonight, we do so with a measure of humility and determination to heal the divides that have held back our progress. As Lincoln said to a nation far more divided than ours, "We are not enemies, but friends...though passion may have strained it must not break our bonds of affection." And to those Americans whose support I have yet to earn - I may not have won your vote, but I hear your voices, I need your help, and I will be your President too.
And to all those watching tonight from beyond our shores, from parliaments and palaces to those who are huddled around radios in the forgotten corners of our world - our stories are singular, but our destiny is shared, and a new dawn of American leadership is at hand. To those who would tear this world down - we will defeat you. To those who seek peace and security - we support you. And to all those who have wondered if America's beacon still burns as bright - tonight we proved once more that the true strength of our nation comes not from our the might of our arms or the scale of our wealth, but from the enduring power of our ideals: democracy, liberty, opportunity, and unyielding hope.
For that is the true genius of America - that America can change. Our union can be perfected. And what we have already achieved gives us hope for what we can and must achieve tomorrow.
This election had many firsts and many stories that will be told for generations. But one that's on my mind tonight is about a woman who cast her ballot in Atlanta. She's a lot like the millions of others who stood in line to make their voice heard in this election except for one thing - Ann Nixon Cooper is 106 years old.
She was born just a generation past slavery; a time when there were no cars on the road or planes in the sky; when someone like her couldn't vote for two reasons - because she was a woman and because of the color of her skin.
And tonight, I think about all that she's seen throughout her century in America - the heartache and the hope; the struggle and the progress; the times we were told that we can't, and the people who pressed on with that American creed: Yes we can.
At a time when women's voices were silenced and their hopes dismissed, she lived to see them stand up and speak out and reach for the ballot. Yes we can.
When there was despair in the dust bowl and depression across the land, she saw a nation conquer fear itself with a New Deal, new jobs and a new sense of common purpose. Yes we can.
When the bombs fell on our harbor and tyranny threatened the world, she was there to witness a generation rise to greatness and a democracy was saved. Yes we can.
She was there for the buses in Montgomery, the hoses in Birmingham, a bridge in Selma, and a preacher from Atlanta who told a people that "We Shall Overcome." Yes we can.
A man touched down on the moon, a wall came down in Berlin, a world was connected by our own science and imagination. And this year, in this election, she touched her finger to a screen, and cast her vote, because after 106 years in America, through the best of times and the darkest of hours, she knows how America can change. Yes we can.
America, we have come so far. We have seen so much. But there is so much more to do. So tonight, let us ask ourselves - if our children should live to see the next century; if my daughters should be so lucky to live as long as Ann Nixon Cooper, what change will they see? What progress will we have made?
This is our chance to answer that call. This is our moment. This is our time - to put our people back to work and open doors of opportunity for our kids; to restore prosperity and promote the cause of peace; to reclaim the American Dream and reaffirm that fundamental truth - that out of many, we are one; that while we breathe, we hope, and where we are met with cynicism, and doubt, and those who tell us that we can't, we will respond with that timeless creed that sums up the spirit of a people:
Yes We Can. Thank you, God bless you, and may God Bless the United States of America.
Takut sukses? Aneh. Mana ada orang yang tidak ingin sukses? Semua orang kan pasti mau mencapai dan menikmati kesuksesan dalam hidupnya?! Mau kaya, rumah mewah, mobil mewah, gonta-ganti handphone, bisa jalan-jalan ke luar negeri sebulan sekali, jaminan finansial hidup masa depan sudah mapan, bisnis berjalan mulus dengan prospek pendapatan yang meroket, dan sebagainya. Ups, nanti dulu. Semua orang memang ingin sukses. Itu sudah pasti. Tetapi gambaran tentang kesuksesan seperti di atas bukanlah matra kesuksesan yang paripurna. Malah bisa dikatakan bahwa sekuritas finansial, rumah mewah, mobil mewah, dan sebagainya itu, hanyalah imbas atau percikan-percikan kecil dari kesuksesan yang sesungguhnya. Jadi, apa sebenarnya yang menjadi hakikat kesuksesan itu? Dalam tulisan ini saya ingin mulai dengan menyoroti “karakter sukses”.
Karakter Sukses
Semua orang tentu tidak menolak segala sesuatu yang kita bisa sebut sebagai imbas kesuksesan: bisnis lancar, keuangan mapan, dsb. Namun tidak semua orang bersedia untuk menerima, menghayati, bahkan mempraktikkan apa yang disebut karakter sukses. Karakter sukses adalah suatu proses pembentukan karakter yang berlangsung dalam kontinyuitas tanpa batas atau selagi hayat masih dikandung badan. Setiap manusia sejak dilahirkan sudah terkandung dalam dirinya benih-benih sukses. Benih-benih sukses ini akan berkembang seiring dengan perkembangan hidup manusia. Jika benih-benih ini – selama proses hidup – jatuh di tanah yang subur, dirawat, dikembangkan, maka itu akan menjadi pohon-pohon sukses yang berakar jauh ke dalam kepribadian sekaligus bertumbuh menjulang ke atas. Karena akarnya yang menghujam ke dalam, meskipun ada angin kencang menghantam pohonnya tetapi tidak akan roboh karena ditahan oleh akar-akar yang kuat.
Sebaliknya, jika benih-benih sukses ini diabaikan dan disia-siakan, atau jatuh di tanah yang kurang subur, maka dapat dipastikan dalam waktu singkat benih itu akan mati. Kalau pun ia bisa bertumbuh, akarnya rapuh dan tidak mampu menyuplai sari makanan dari tanah sehingga tanaman sukses itu pun layu. Lebih parah lagi, ketika angin datang angin kencang dengan segera ia akan roboh dan tercerabut bersama akarnya. Maka dalam hal ini karakter sukses sebenarnya merupakan sebuah proses alami dalam kehidupan manusia. Seperti kata-kata inspiratif, “taburlah gagasan, tuailah perbuatan; taburlah perbuatan, tuailah kebiasaan; taburlah kebiasaan, tuailah karakter; taburlah karakter, tuailah nasib”.
Akan tetapi, meskipun merupakan sebuah proses alami dalam kehidupan manusia, ternyata tidak semua orang mampu menyadarinya, bahkan mau mendeteksinya. Karena berproses, karakter sukses akan terbentuk dalam suatu rentang waktu yang panjang, tetapi berdaya tahan lama. Karakter sukses bukanlah sesuatu yang instan. Itulah sebabnya tidak semua orang yang berduit punya karakter sukses; tidak semua orang sekolahan (bergelar sarjana dan seterusnya) punya karakter sukses; tidak semua businessman punya karakter sukses, dan seterusnya.
Lihat saja: banyak orang berduit tetapi miskin kepedulian kepada sesamanya padahal orang karakter sukses tahu bahwa duitnya itu hanyalah benda-benda mati yang hanya bisa “berbicara” dalam relasi kemanusiaan dengan orang lain. Banyak orang sekolahan (para sarjana) yang kuat ilmunya tetapi rapuh integritasnya, sehingga malah menggunakan ilmunya itu untuk membodohi orang lain (sesuatu yang bertentangan dengan hakikat ilmu sebagai media pencerdasan manusia). Padahal seorang sarjana yang berkarakter sukses adalah orang yang menghargai kejujuran dan integritas (satu kata dan perbuatan). Banyak businessman yang usahanya maju tetapi mengalami kemunduran dalam menghormati nilai-nilai hakiki manusia. Manusia atau orang lain hanya dilihat sebagai “komoditas” yang akan diterima atau dirangkul kalau memberikan prospek keuntungan bagi bisnisnya. Nilai manusia direduksi menjadi sekadar “sumber daya” yang artinya hanya tenaganya saja yang diperlukan; terlepas dari perasaannya, kayakinannya. Jadi, bagaimanakah kita bisa mencapai tahapan karakter sukses itu?
Menapaki Tangga Karakter Sukses
Anak Tangga 1 – Belajar
Salah satu penanda yang membedakan manusia dan hewan adalah kemauan dan kemampuan manusia untuk belajar. Hewan juga belajar, tetapi secara instingtif. Sedangkan kemampuan manusia untuk belajar mencakup matra yang lebih komprehensif – spiritual, kognitif, intuitif, emotif, motorik. Sehingga hanya pada diri manusialah dapat ditemukan kecerdasan. Kecerdasan adalah kombinasi potensi intrinsik dan kompetensi ekstrinsik. Potensi intrinsik adalah kekuatan dari dalam (inner power), sedangkan kompetensi ekstrinsik adalah proses mendeteksi inner powerthe power of kindness (daya kebaikan). itu untuk dijadikan energi membangun hidupnya secara utuh. Itulah yang disebut “belajar”. Dari proses itu manusia akan menemukan apa yang disebut oleh Pierro Ferruci sebagai
Anak Tangga 2 – Komunikasi
Mari kita menapaki anak tangga kedua. Sejak dilahirkan, kehidupan manusia sudah terkondisikan dalam atmosfer komunikasi. Sentuhan dan belaian ibu, genggaman ayah yang menuntun saat belajar jalan, kekasih yang menggandeng saat berjalan-jalan, berjabat tangan saat bertemu dengan teman; semuanya merupakan bentuk komunikasi fisik. Ada juga komunikasi simbolis, yang biasanya kita lakukan saat bercakap-cakap dengan orang lain. Dalam percakapan kita sebenarnya sedang melakukan pertukaran simbol-simbol, entah dalam wujud kata-kata atau bahasa tubuh. Semua bentuk komunikasi itu sangat menentukan relasi-relasi kita dengan manusia maupun lingkungan hidup. Jika komunikasi tidak berjalan lancar, bahkan rusak, maka sebenarnya manusia kehilangan matra kemanusiaannya yang utama yang membuatnya terasing. Seseorang yang merasa terasing atau gagal berkomunikasi akan seperti aliran sungai yang mampat oleh tumpukan sampah dan akhirnya airnya meluber keluar dari alirannya. Anda tahu mengapa “Ryan” (pelaku mutilasi) yang dikenal “pendiam” dan “baik” justru menunjukkan gejala psikopat yang mengerikan? Saya kira salah satu faktor adalah ia kehilangan kemampuan mengomunikasikan dorongan-dorongan batinnya sehingga “meluber” dalam tindakan-tindakan yang sadis.
Anak Tangga 3 – Daya Mengasihi
Anda pernah melihat daya mengasihi atau kekuatan cinta? Tidak usah jauh-jauh, saya dan Anda adalah bukti dari kekuatan cinta atau daya mengasihi. Bayangkan saja kita ada karena cinta dua orang (ayah dan ibu kita) yang sebelumnya sama sekali tidak saling mengenal. Apakah yang menyatukan mereka berdua? Cinta. Dan kita semua adalah buah dari cinta ayah dan ibu kita. Itu berarti sebagian besar energi yang mengalir dalam diri kita adalah energi cinta. Tetapi, mengapa justru dunia kita lebih banyak menampilkan pertengkaran, peperangan, dan pembunuhan? Jawabnya adalah: karena kita tidak mengeksplorasi energi itu seluas-luasnya untuk menjadi bahan dasar membangun kehidupan bersama di dunia. Meskipun dalam diri kita terkandung energi cinta, tetapi ia tidak muncul dengan sendirinya. Energi cinta itu harus digali dan diolah secara maksimal karena diri kita adalah tambang cinta yang tidak pernah habis digali. Sayangnya, energi ini sering kali diabaikan.
Anak Tangga 4 – Proaktif
Setelah menapaki “belajar”, “komunikasi”, dan “daya mengasihi”, maka kita akan memahami mengapa kita harus bersikap proaktif. Orang yang proaktif tetap dipengaruhi oleh stimulus luar (fisik, sosial, atau psikologis). Namun respons mereka terhadap stimulus tersebut, sadar atau tidak sadar, didasarkan pada pilihan atau respons menurut nilai tertentu. Sebagaimana yang dikatakan oleh Mahatma Gandhi, “Mereka tidak dapat merenggut harga diri kita jika kita tidak memberikannya kepada mereka.” Orang yang proaktif menyadari bahwa mereka memiliki kehendak bebas (free-will) untuk menerima dan menolak stimulus luar. Penerimaan dan/atau penolakan tersebut didasarkan pada nilai-nilai yang dibatinkan dan dipraktikkan sebagai panduan menuju tujuan akhir (end-in-mind). Pada tahapan ini, orang-orang yang berkarakter sukses sama sekali tidak dipengaruhi oleh kondisi-kondisi yang terjadi di luar diri mereka, selagi end-in-mind mereka masih menjadi rujukan. Kegagalan akan dilihat sebagai awal dari suatu kesuksesan, dan kesuksesan akan dipelajari sebagai kesempatan mengatasi kemungkinan gagal.
Anak Tangga 5 – Menunduk dan Menengadah
Anak tangga kelima sebenarnya merupakan kulminasi atau puncak dari karakter sukses. Pada puncak inilah orang-orang dengan karakter sukses ditantang untuk terus-menerus melakukan evaluasi (menunduk, melihat ke proses sebelumnya yang telah dilalui) agar tetap berada dalam kesadaran akan kemampuannya sendiri. “Menunduk” dalam proses ini berarti menyadari seberapa banyak energi yang telah dikeluarkan, dan berhenti sejenak dalam jeda untuk mengakumulasi energi baru. Menunduk bukan berarti “menyerah” atau “pasrah”. Pada saat yang sama, orang berkarakter sukses juga akan menengadah untuk melihat kemungkinan-kemungkinan baru yang bisa ditapaki lebih tinggi. Kemungkinan-kemungkinan baru itu akan selalu dapat dilihat jika seluruh energi untuk telah dipulihkan. Itulah sebenarnya prinsip keseimbangan alami yang ada dalam diri kita.
Apakah ini anak tangga yang terakhir? Bukan. Anak tangga puncak bukanlah anak tangga terakhir. Jadi masih ada anak tangga ke-6, ke-7, dan seterusnya? Ya, tentu saja. Anak tangga ke-6, ke-7, dan seterusnya adalah: belajar’, komunikasi’, daya mengasihi’, proaktif’, dan menunduk/menengadah’, dan seterusnya. Prinsipnya akan terus berulang tetapi dengan kualitas yang makin meningkat.
Nah, sekarang sudah jelas kan bahwa tidak semua orang mampu dan mau meniti anak tangga demi anak tangga tersebut. Tidak jarang banyak yang memilih berhenti pada anak tangga ke-1; atau bahkan sama sekali tidak mau menapaki anak tangga ke-1; atau ada juga yang menganggap apakah kita perlu meniti kelima anak tangga tersebut. Bagi saya, ini bukan persoalan perlu atau tidak perlu, melainkan kita berani atau tidak berani. Anda sendiri bagaimana? Takut, atau masih pikir-pikir, atau mungkin sudah mencapai puncak anak tangga kelima yang pertama? Tapi kenapa harus takut ya? Hidup cuma sekali, kenapa harus takut sukses? Ayo kamu bisa!
“Tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah.” Kalimat tersebut tertera dalam Injil Lukas 2:41. Yesus adalah seorang Yahudi dan sejak kecil dibesarkan dalam tradisi budaya dan spiritual Yahudi. Bersama dengan komunitas Yahudi dan juga kedua orangtuanya, Yesus mengenal dan menjalani tradisi-tradisi tersebut. Dalam banyak bagian Injil Yesus digambarkan sebagai seorang pemuda Yahudi yang sangat menghayati keyahudiannya. Ia tidak mengelak, apalagi menolak, identitas keyahudiannya. Konsep-konsep pengajarannya pun sebagian besar bersumber dari ajaran-ajaran Yahudi yang dipelajarinya sejak masih kecil.
Meskipun Yesus tidak pernah menyangkal keyahudiannya, namun ia juga tidak menerima begitu saja setiap ajaran Yahudi. Yesus selalu kritis terhadap ajaran-ajaran Yahudi yang dibacanya atau disampaikan kepadanya. Dalam perikop Injil yang sama, Yesus digambarkan sebagai ABG Yahudi yang kritis dan cerdas, yang tidak menelan mentah-mentah ajaran agama yang disampaikan oleh para ahli-ahli Taurat. Lalu digambarkan bahwa si ABG Yesus berdebat dengan mereka. Pada bagian lain Injil, juga dinarasikan bahwa Yesus dengan berani menantang hukum Sabat – yang melarang orang bekerja pada hari Sabat. Sementara murid-muridnya kedapatan memetik gandum. Bagi para ahli Taurat, ini merupakan pelecehan tradisi agama. Tetapi Yesus justru menantang mereka dengan mempertanyakan “hukum untuk manusia atau manusia untuk hukum?” Yesus, si orang Yahudi itu, bukan hanya mereinterpretasi religiositas Yahudi tetapi mendekonstruksinya sedemikian rupa sehingga keberagamaan terkelupas dari cangkang simbolismenya dan manusia menemukan inti atau roh dari keberagamaan itu.
Dalam sejarah lahirnya kekristenan dan juga benturan teologis dengan Yudaisme klasik, aspek-aspek keyahudian sering ditenggelamkan atau bahkan dibelokkan seolah-olah menjadi “penolakan” Yesus terhadap keyahudiannya. Keseolah-olahan ini dalam sejarah pemikiran Kristen menggumpal dalam spirit anti-semitisme yang kemudian melahirkan kebengisan yang melukai sejarah peradaban manusia modern dengan pembantaian jutaan Yahudi diaspora di benua Eropa. Sebuah kesalahkaprahan yang fatal dalam melakukan interpretasi terhadap dekonstruksi Yesus terhadap tradisi Yahudi. Dekonstruksi disamakan begitu saja dengan destruksi atau penghancuran. Padahal Yesus pernah berkata, “Aku datang bukan untuk menghapus hukum Taurat, melainkan untuk menggenapinya.” Kalau Yesus mendekonstruksi tradisi keberagamaan Yahudi, ia sama sekali tidak bermaksud menegasi atau menghancurkannya; Yesus justru mempelajarinya dan melakukan reinterpretasi kritis atasnya sehingga hukum-hukum agama itu mengalirkan nilai-nilai kehidupan yang relevan dengan tuntutan zaman. Agama tidak lagi menjadi seperangkat hukum yang memberangus kegembiraan manusia menghidupi ruang dan waktunya di dunia. Sebaliknya, agama mengalirkan kualitas-kualitas positif dalam diri manusia yang memampukannya menghayati kehidupan sebagai arena bermain (playing ground) bersama seluruh umat manusia. Itulah yang hendak dikupas oleh Yesus.
Beberapa hari lagi saudara-saudara kita yang beragama Islam akan merayakan “hari kemenangan”. Suatu momentum kemenangan dari dorongan-dorongan dalam diri sendiri yang dijalani dengan berpuasa. Momentum kemenangan spiritual ini tidak hendak dirayakan sendiri. Karena ini adalah kemenangan bersama maka juga harus dirayakan bersama. Ada tradisi peziarahan yang cukup unik di Indonesia, yang disebut “mudik Lebaran”. Para perantauan yang bekerja atau belajar di kota-kota besar akan pulang ke kampung halaman mereka untuk merayakan hari raya Idul Fitri bersama orangtua dan kerabat.
Relasi-relasi kemanusiaan yang rusak karena dorongan-dorongan nafsu diri, dilawan dengan meditasi puasa yang dimaknai sebagai jihad untuk menemukan hakikat atau fitrah kemanusiaan. Titik balik mencapai fitrah itu kemudian hanya bermakna ketika dihayati dalam suasana kekeluargaan atau kebersamaan. Di situ terkandung pesan bahwa pembaruan batin hanya bermakna ketika terimplementasi dalam hubungan-hubungan sosial yang dipulihkan. Maka momentum fitrah itu pula menjadi momentum saling memaafkan. Memaafkan tentu saja tidak identik dengan melupakan kesalahan orang lain. Memaafkan justru melampauinya. Memaafkan adalah keberanian untuk mengakui kesalahan diri dan kesalahan orang lain, menjadikannya sebagai sejarah pengalaman hidup, untuk menguji konsistensi fitrah ilahi dalam diri maupun komunitas. Dalam arti itu, pemaafan yang tulus tidak memberi ruang bagi kemunafikan. Memaafkan orang lain atas kesalahan yang mereka lakukan adalah menerima kemanusiaan orang lain, sebagaimana kita menerima kemanusiaan diri sendiri. Memaafkan adalah membuka kedua tangan untuk merangkul orang lain dengan seluruh keberlainan mereka – agama, suku, budaya, dll. Karena dalam Idul Fitri manusia saling berjumpa dan berdialog sebagai manusia, yang telanjang dan fitri di hadapan kebesaran Tuhan yang maha rahmani dan maha mengampuni.
Dalam perenungan semacam itulah, saya kemudian makin menghayati perkataan Yesus dalam khotbahnya di bukit: “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah” dan juga doa yang pernah diajarkannya kepada murid-muridnya: “dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami”. Tidakkah ini menjadi sebuah realisme kasih yang universal? Selamat Idul Fitri, saudaraku!
Sudah lama kasus penyiksaan terhadap perempuan-perempuan Indonesia yang bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri disoroti oleh media nasional maupun internasional. Namun rasanya seluruh kasus dan derita korban penyiksaan dan/atau pemerkosaan seperti bergema di ruang hampa. Benarkah masyarakat kita sudah kehilangan kepekaan terhadap nasib anak-anak bangsanya sendiri? Rasanya tidak juga. Lihat saja bagaimana dalam banyak peristiwa yang terjadi belakangan ini ternyata mengundang beraneka ragam reaksi dan protes baik yang dilakukan secara persuasif maupun dengan aksi demonstrasi massal. Gencarnya pemberitaan media terhadap gelombang protes dan demonstrasi pro-kontra mengenai suatu peristiwa nasional/internasional serta implementasi kebijakan pemerintah, itu saja sudah menjadi indikator empiris bahwa masyarakat kita bukannya tidak peka.
Tetapi mengapa begitu sampai pada isu perempuan yang menjadi babu di tanah orang, lalu mengalami penindasan dan pemerkosaan, seolah-olah hanya sebuah berita biasa. Sangat berbeda dengan sikap dan militansi perlawanan kita terhadap isu “Palestina” atau “korupsi”. Bukan berarti itu tidak penting. Tetapi sungguh bebal jika kita melayangkan pandangan kita dan berkoar-koar meneriakkan keadilan dan kemanusiaan terhadap sesuatu yang jauh di sana; sementara pada saat yang sama kita juga menyadari bahwa kehidupan dan kemanusiaan perempuan-perempuan Indonesia – mungkin ibu kita, mungkin saudara perempuan kita, mungkin istri kita – dicabik-cabik oleh angkara syahwat para majikan sontoloyo di negara-negara lain. Jangan bicara keadilan, jangan bicara agama, jangan bicara kesejahteraan, jangan bicara martabat bangsa. Semua itu hanya uap mulut yang berbau busuk karena bangsa lain tetap akan melihat kita sebagai “kacung” dan “babu” yang bisanya menghibur diri dengan kemolekan kampungan tetapi tetap mau diinjak-injak menjadi keset bangsa lain. Martabat bangsa kita sesungguhnya tidaklah terletak pada diplomasi licin para elite politik, atau pesona basi para pejabat negara, atau debat palsu undang-undang negara yang sarat manipulasi kepentingan jabatan dan uang. Martabat bangsa kita ini sesungguhnya terletak pada kaum tangguh dan rentan yang kita panggil “perempuan”.
Saya teringat cerita dalam Injil Yohanes 4:1-42 tentang percakapan Yesus dengan perempuan Samaria. Sebuah perikop yang cukup panjang, yang menarasikan dialog Yesus dan perempuan itu. Perempuan itu tak bernama. Identitasnya hanya ditentukan oleh representasi lokalitasnya – Samaria. Sungguh ironis, bahkan dalam Injil-injil pun, banyak perempuan yang tak bernama. Padahal mereka sering disebutkan sebagai orang-orang tangguh yang beriman cadas. Panjangnya dialog mereka menandakan bahwa perempuan ini mampu merespons setiap pernyataan Yesus. Sehingga perjumpaan yang semula hanya diawali oleh permintaan Yesus meminta air, menjadi sebuah percakapan eksistensial yang membawa pada suatu transformasi kehidupan.
Yesus meminta air dari perempuan itu. Perempuan itu malah menanggapi dengan suatu pertanyaan sinis, “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” Kesinisan itu sebenarnya merupakan sebuah pukulan telak bagi Yesus sebagai seorang Yahudi. Sudah tentu Yesus tidak menyangka akan ditanggapi seperti itu, tetapi yang pasti Yesus juga memahami psikologi perempuan itu yang terbentuk dalam lingkungan sosial saat itu. Perempuan itu seolah-olah mengolok Yesus, “Katanya kalian orang Yahudi itu orang-orang suci, tapi kok masih mau meminta sesuatu dari kami yang najis dan kafir ini?” Perempuan itu menelanjangi kepongahan sosial dan spiritual kaum Yahudi yang selama ini menjadi pagar segregasi sosial yang utama antara Yahudi dan Samaria. Dan pagar segregasi sosial itu dibangun di atas pondasi religiositas yang angkuh.
Sebagai orang Yahudi, Yesus pun terhisab dalam struktur kesadaran budaya yang membingkai identitasnya. Jelas dalam ucapannya, “…sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi.” Yesus menyadari bahwa keyakinannya sangat dipengaruhi oleh pemikiran dan tradisi iman Yahudi. Tetapi Ia ternyata tidak berhenti pada keyakinan tradisi keyahudiannya. Yesus hendak melampaui identitas keyahudiannya dengan mengatakan, “Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.” Ungkapan “menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran” merupakan suatu pernyataan yang revolusioner, yang menantang keyakinan Yahudi sendiri yang selama ini terbelenggu oleh religiositas yang simbolistik dan ritualistik. Agama [Yahudi] saat itu sudah menjadi agama hukum yang nyaris menegasi kemerdekaan manusia untuk menjalani hidup dalam hakikat kerohaniannya (spiritualitas). Manusia kehilangan kemerdekaan memaknai hidup dan relasinya dengan Sang Tuhan, karena di sepanjang jalan kehidupannya ada begitu banyak rambu-rambu keagamaan yang membuat manusia tidak mampu menikmati hidupnya sendiri dan melihat ke depan, ke tujuan, di mana ia mengorientasikan jalan hidupnya.
Orientasi legalistik dalam kehidupan beragama [Yahudi] kemudian dibalik menjadi orientasi kehidupan kemanusiaan itu sendiri. Itulah yang dialami oleh perempuan Samaria itu selama percakapannya dengan Yesus. Perempuan itu bersaksi (ayat 39), “Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat.” Yesus memusatkan seluruh percakapannya dengan perempuan itu pada “hidup” sang perempuan. Tanpa menghakimi, tanpa menudingnya sebagai “najis” (karena perempuan itu hidup bersama laki-laki yang bukan suaminya). Percakapan mereka menjadi suatu dialog kehidupan yang membawa transformasi pada kedua belah pihak: baik Yesus maupun perempuan itu. Pengalaman perempuan itu menjadi titik tolak dari proses transformasi kehidupan perempuan itu maupun masyarakatnya. Kejujurannya menjadi kekuatan untuk menerima hidupnya dan kehadiran orang lain sebagai bagian dari memberi makna pada keperempuanannya. Ia menjadi seorang manusia perempuan yang merdeka – “bersaksi” yang berarti menyatakan bahwa ia mampu mengatakan kebenaran yang mencerahkan dirinya, kepada orang lain.
Dalam konteks itu, perempuan Samaria itu benar-benar menjadi mitra dialog. Ia tidak perlu menjadi “Yahudi”; ia tidak perlu bersikap kelaki-lakian agar dapat bercakap-cakap dengan Yesus; ia tidak perlu garang membela diri kendati ia cerdas berdebat dengan Yesus; ia tidak mengingkari realitas keperempuanannya dan seluruh keberadaannya malah mengakuinya secara tulus. Ia menjadi perempuan yang perempuan, yang mendialogkan kehidupan dengan Yesus – yang laki-laki dan Yahudi – secara jujur tanpa selubung kemunafikan. Perempuan Samaria itu, dengan segala keberadaan dirinya, telah menjadi kekuatan transformatif bagi masyarakatnya.
Perempuan-perempuan Indonesia yang menjadi babu di tanah orang, bukanlah manusia-manusia lemah-cengeng seperti para tikus-tikus di senayan yang bisanya hanya merengek-rengek minta segala fasilitas negara; atau yang hanya lincah berkelit dalam debat kusir atas nama rakyat. Perempuan-perempuan itu mengangkat nama bangsa kita walau hidup mereka tercabik-cabik, tubuh mereka terkoyak. Tak perlu menggelari mereka sebagai “pahlawan devisa negara”, suatu eufemisme yang lacur. Mereka tak ingin menjadi pahlawan, mereka hanya ingin menjadi perempuan yang dihormati sebagai perempuan, dalam kebertubuhan mereka dan dalam spiritualitas mereka.
Seperti perempuan Samaria di atas, para perempuan inilah yang sebenarnya menggiring seluruh proses transformasi keindonesiaan kita masa kini. Nasionalisme ala Soekarno makin memudar, jatidiri bangsa ala Soeharto makin terkikis, martabat bangsa ala Gus Dur, Megawati, dan SBY, makin meleleh oleh kobaran liar kapitalisme. Namun toh perempuan-perempuan babu ini, merekalah “korban” (victims) dari sekaligus “kurban” (sacrifice) bagi peradaban bangsa kita. Bukankah harus kita akui bahwa peradaban bangsa kita sebenarnya dibangun oleh babu-babu perempuan, sejak zaman kolonialisme hingga zaman yang – katanya – merdeka ini. Bisakah kita mengelak bahwa suatu ketika generasi “bening” Indonesia masa depan dengan wajah-wajah asing, hidung mancung, kulit putih, tinggi badan di atas rata-rata, yang kelak akan dipuja-puja sebagai selebritas akan mengakui bahwa “ibuku seorang babu, yang diperkosa oleh majikannya”?
Sudah hampir setengah bulan saudara-saudara kita yang beragama Islam menjalani ibadah puasa. Saya mengucapkan selamat beribadah puasa! Sudah pasti dalam menjalani ibadah puasa ini ada banyak hikmah yang dapat dipetik, dan juga tak kurang tantangan serta godaan yang menggelitik agar kita tidak setia pada komitmen beribadah itu.
Sebagai saudara sebangsa saya turut merasakan betapa dalamnya makna "menahan diri" atau berpuasa ketika dijalankan dengan sungguh-sungguh. Saya harus mengakui bahwa saya pribadi tidak mampu menjalankannya. Jujur saja. Itu bukan karena dalam agama yang saya imani tidak mempunyai tradisi berpuasa, melainkan berpuasa pada hakikatnya bukanlah berhenti pada tataran makna praktis, yaitu menahan lapar dan haus, melainkan menembus jantung eksistensi kemanusiaan - mengelola dorongan-dorongan batiniah agar menemukan kembali fitrah kemanusiaan terdalam sebagai insan ciptaan Tuhan.
Tradisi gereja, sebagai pengejawantahan tafsir ajaran kristiani, memang memahami puasa dalam berbagai corak pandangan dan sikap. Hanya dalam praktik secara komunal, kekristenan tidak memasukkan aktivitas berpuasa sebagai salah satu sakramen dalam ajarannya. Berpuasa lebih dilihat sebagai aktivitas meditasi personal dari orang-orang yang melatih diri untuk mengelola dorongan-dorongan batiniah yang cenderung tak terkendalikan.
Di dalam Alkitab sendiri disebutkan secara eksplisit bahwa sebelum memulai pelayanan kemanusiaan-Nya Yesus menjalani suatu masa pencobaan di mana Ia berpuasa penuh selama 40 hari. Selama masa 40 hari itu Yesus tidak hanya berpuasa, tetapi juga mengalami tekanan-tekanan batin yang muncul sebagai konsekuensi menurunnya stamina tubuh. Kondisi itu kemudian diproyeksikan sebagai saat-saat di mana Yesus harus berhadapan dengan tawaran dan/atau godaan sang iblis. Tawaran kenikmatan sang iblis sungguh berat karena langsung menohok pada kebutuhan utama yang diperlukan dalam stamina tubuh yang menurun. Tetapi justru kemampuan untuk menghadapi dan mengendalikan godaan itulah yang menjadi kekuatan dari proses berpuasa itu sendiri.
Berpuasa, menurut saya, juga adalah kemampuan untuk melihat apa yang dibutuhkan oleh orang lain melampaui apa yang dibutuhkan diri sendiri. Oleh karena itu, sejauh yang saya tahu, dalam berpuasa saudara-saudara yang Muslim diminta untuk memperbanyak amal-soleh dan memberikan zakat kepada orang-orang miskin. Ini merupakan suatu ibadah yang sempurna. Karena pengekangan diri pribadi berimplikasi langsung pada pemberian diri kepada orang lain.
Saya tidak ingin terlalu banyak membahas masalah teologis dalam ibadah puasa. Keprihatinan saya justru terletak pada maraknya tindakan razia yang dilakukan oleh aparat pemerintah (polisi dan satpol-pp) terhadap sekelompok masyarakat yang dilihat sebagai "penyakit masyarakat". Saya justru melihat kesucian bulan puasa harus ditempatkan sebagai proses menempa diri dan menjernihkan motivasi-motivasi pribadi agar tidak terperangkap dalam dorongan mencari kepuasan yang semu. Dan semua itu harus dilakukan dalam suatu konteks sosial yang riel. Bulan puasa adalah bulan yang suci. Kesucian itu tidak bisa dilihat sebagai pemberangusan segala hal yang dianggap kotor dan najis - seperti pelacuran dan minuman keras - belaka. Kesucian itu justru harus mengejawantah dalam pencurahan cinta-kasih sebagai sesama manusia. Pelacuran dan minuman keras (dan juga beberapa aktivitas lain yang dianggap kotor) mesti dipahami sebagai ekses dari ketidakmampuan kita sebagai manusia mengelola kehidupan bersama secara adil dan arif. Itu bukan penyebab yang mengotori bulan puasa ini.
Dalam pemahaman saya, pergelutan iman dengan berpuasa merupakan suatu panggilan beribadah bagi setiap orang (bukan hanya kaum Muslim) untuk menjalani kehidupan bersama secara adil. Berpuasa merupakan suatu kekuatan untuk melawan apa yang tidak boleh kita ambil karena bukan hak kita. Berpuasa merupakan suatu motivasi untuk melihat keberadaan sesama kita secara utuh dan memahami kebutuhan hidup mereka dengan suatu sikap empatik yang mendalam.
Razia justru membuka ruang yang sangat besar bagi kita untuk melakukan penindasan dan ketidakadilan kepada orang lain atas nama "kebenaran" kita sendiri. Padahal hakikat berpuasa (termasuk dalam pemahaman iman kristiani saya) adalah kemampuan untuk hidup dengan kerendahan hati dan membangun kehidupan bersama secara utuh. Berpuasa adalah mengekang keinginan diri untuk merangkul dan menopang orang lain.
Dalam konteks itulah saya melihat kita perlu dengan jernih memahami bahwa razia PSK atau pengemis atau minuman keras, bukanlah jawaban yang mampu menjaga kesucian bulan puasa ini. Justru sebaliknya, pemahaman yang jernih dan penerimaan realitas hidup bersama yang rumit dan penuh carut-marut masalah dalam kehidupan berbangsa kita ini akan melahirkan suatu sikap yang dewasa dalam memahami kehidupan orang lain. Kita mengekang hawa nafsu amarah kita, dan melihat dengan tenang setiap masalah yang dihadapi oleh saudara-saudara kita yang lain. Dengan ketenangan puasa, saya yakin kita bisa menjaga kesucian berpuasa. Bukan dengan razia, tetapi dengan bela-rasa (compassion) kepada mereka yang terperangkap dalam hawa nafsu atau kondisi yang sebenarnya tidak mereka inginkan.
Dengan mengatakan itu, bukan berarti saya mendukung aksi-aksi mabuk-mabukan atau yang mengganggu ketertiban hidup bersama. Tetapi justru saya sedang menghayati puasa dan merasa bahwa hakikat puasa justru makin diteguhkan ketika berhadapan dengan godaan dan tantangan.
Menonton tayangan berita Metro TV (26 Agustus 2008) tentang tawuran antara anggota Satpol PP dan mahasiswa, yang kemudian berlanjut pada perusakan secara sengaja Sekretariat Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) di Jalan Salemba 10 oleh para anggota Satpol PP, membuat saya jadi heran. Bagaimana mungkin aparat pemerintah yang dibentuk untuk menjamin keamanan dan ketertiban publik malah terlibat dalam tawuran yang semestinya mereka cegah? Tetapi keheranan saya tersebut tidak berlangsung lama ketika saya melihat kembali sejumlah kasus mengenai sepak-terjang aparat Satpol PP di Jakarta maupun daerah-daerah lain. Saya jadi memaklumi dan yakin bahwa memang peristiwa tawuran semacam ini rentan terjadi pada suatu waktu.
Keberadaan Satpol PP sebagai bagian dari aparatur pemerintahan selama ini harus diakui telah memberikan kontribusi signifikan dalam upaya pemerintah mengimplementasikan kebijakan tata ruang kota (khususnya kota-kota besar) di Indonesia yang telah menyalahi fungsi-fungsi sarana publik. Dan kita, sebagian besar masyarakat kota, telah cukup menikmati hasilnya: ketertiban dan kenyamanan, kelancaran arus lalu-lintas di sejumlah ruas jalan, dan lain-lain. Namun demikian, kita juga mesti mengakui bahwa dalam berbagai aksi penertiban oleh Satpol PP seringkali terjadi protes dari pihak yang merasa tergusur secara paksa. Bahkan tidak jarang terjadi bentrokan fisik antara pihak Satpol PP dan pihak kelompok masyarakat yang tergusur. Ini bisa dipahami sebagai konsekuensi aksi pemaksaan dalam ranah kehidupan publik.
Tetapi pada bagian yang lain, kita juga harus melihat bahwa keberadaan Satpol PP merupakan “akibat” dari suatu “sebab”, yakni kondisi sosial masyarakat urban di kota-kota besar yang semrawut serta tidak mampu lagi ditangani secara komprehensif melalui proses penyadaran publik yang prosedural oleh pemerintah daerah atau pemerintah kota. Legal di sini berarti setiap aparatur pemerintahan yang memiliki otoritas langsung dalam penanganan masalah publik harus menjalankan kewenangannya menurut suatu asas kerja (prosedur) yang bertujuan pada kesejahteraan publik. “Ketertiban masyarakat” (TibMas) mengimplikasikan adanya suatu proses memulihkan anomali sosial dalam konteks perkotaan sebagai konsekuensi laju urbanisasi yang tak terbendung.
Gelombang urbanisasi yang menggulung sejumlah kota besar di Indonesia merupakan suatu konsekuensi logis pendekatan pembangunan yang sentralistik, dengan pola patron-klien: kota adalah patron, desa adalah klien. Kalau klien ingin disebut maju dan modern, maka ia harus mengimitasi patron atau menjadi bagian dari lingkar pengaruh sang patron (kota). Pola pembangunan wilayah “patron-klien” semacam ini tidak mampu membentuk karakter masyarakat yang mandiri, melainkan membuat masyarakat klien bergantung sepenuhnya kepada masyarakat patron. Atau, gaya hidup klien yang dinilai tradisional dinilai tidak lagi relevan dengan gaya hidup patron yang modern dan gemerlap. Lalu klien terus mencari celah menjadi bagian dari patron melalui transaksi sosial yang tak berimbang. Ketidakseimbangan tersebut pada hakikatnya mengeksklusi klien dari paradigma patron, dan menjadikan klien hanya tempelan dari dinamika sosial patron (masyarakat kota).
Klien dianggap anonim. Karena anonim, mereka dianggap bukan bagian dari denyut nadi patron sehingga eksistensi mereka selalu dianggap bermasalah.
Kesemrawutan tata ruang kota sebenarnya merupakan ekses dari situasi problematik besar urbanisasi. Hingga kini masalah ini hanya berhenti pada tingkat kesadaran dan kebijakan pemerintah, tetapi sulit sekali terlaksana pada aras impelementasi. Apa yang terjadi kemudian adalah langkah-langkah taktis dan langsung untuk menghilangkan unsur-unsur sosial yang dianggap anomali dan anonim tersebut. Maka dibentuklah apa yang kini kita kenal sebagai Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).
Persoalan yang mengemuka dalam beberapa aksi lapangan Satpol PP adalah ketidakjelasan fungsinya yang kerap tumpang tindih dengan fungsi kepolisian. Dari penampilan saja, aparatur Satpol PP lebih tampak seperti aparat militer (sepatu lars, baret, seragam ala militer, pentungan). Sementara bila dicermati tugas-tugas yang mereka jalankan, lebih banyak kemiripannya dengan tugas-tugas petugas polisi (mengatur lalu-lintas, menangkap orang, menertibkan pedagang kaki lima). Jadi, di manakah sebenarnya batasan fungsi dan tugas antara “polisi” pamong praja dan “polisi” Republik Indonesia? Jika istilah “polisi” dapat dimaknai sebagai “mengamankan policy” dari pihak pemerintah, tidak cukupkah kesatuan polisi Republik Indonesia untuk melakukannya? Padahal dengan pemisahan Polri dan TNI pada hemat saya sudah cukup memberikan ruang bagi polisi untuk melakukan capacity building dan ekspansi kewenangannya pada aspek-aspek sipil dan non-militeristik. Toh, faktanya pemerintah kita masih membutuhkan “polisi” yang lain – polisi pamong praja.
Ketidakjelasan fungsi dan tugas antara dua unsur “polisi” tersebut nyata dalam komentar seorang aparat polisi (Polri) ketika diwawancarai oleh reporter Metro TV. Dengan entengnya ia menjawab “tidak tahu”. Padahal dalam setiap aksi penertiban (baca: penggusuran) oleh Satpol PP selalu harus didampingi oleh kesatuan Polri untuk mengantisipasi bentrokan dengan pihak yang menolak digusur. Respons seadanya tersebut mengindikasikan dengan jelas bahwa tidak koordinasi antara dua instansi “polisi” tersebut. Bukan tidak mungkin bahwa terjadi proses pembiaran atau cuci tangan supaya tidak kecipratan getahnya. Mahasiswa mau demonstrasi saja harus ada izin dan dikawal, bagaimana mungkin suatu peristiwa yang rentan terhadap bentrokan kelompok masyarakat tidak diketahui dan diantisipasi dengan pengawalan?
Kebijakan pemerintah kota untuk menertibkan sejumlah kawasan tentu sudah menjadi kewajibannya, meskipun cara-caranya seringkali dilakukan secara tidak manusiawi. Tetapi kalau sudah sampai ke tingkat tawuran yang disasarkan pada satu gedung yang merepresentasikan eksistensi dan privasi suatu organisasi, yang tak ada sangkut-paut langsung dengan aksi penertiban, tentu sudah soal lain. Apapun alasannya, kantor PGI adalah aset organisasi keagamaan yang sama vitalnya dengan kantor-kantor organisasi lain di negara ini (seperti kantor Muhammadiah, kantor MUI, kantor PBNU, dll), yang keberadaannya dilegitimasi oleh pemerintah secara nasional.
Masalah ketersinggungan anggota Satpol PP terhadap komentar para mahasiswa pada saat aksi penertiban sama sekali tidak membenarkan tindakan aparat Satpol PP untuk mengejar dan memukul mahasiswa. Bahkan hanya untuk mengejar sekelompok mahasiswa, mereka harus merusak fasilitas dan aset nasional, seperti kantor PGI, dan tanpa antisipasi aparat keamanan (polisi) padahal peristiwa itu terjadi di salah satu “jantung” ibukota Jakarta (Jalan Salemba Raya, dekat kampus Universitas Indonesia, RSCM, RS Carolus, Markas Polisi Kramat).
Menyoroti peristiwa tawuran memang bisa dari berbagai segi. Namun setidaknya, peristiwa tawuran antara aparat Satpol PP dan mahasiswa, yang bermuara pada perusakan kantor PGI, mencuatkan persoalan lain yang lebih fundamental berkaitan dengan arogansi militeristik dalam instansi pemerintahan sipil. Kalau dalam situasi perang saja, kesatuan militer tetap harus patuh pada standar strategi tempur dan tidak boleh sembarangan menggunakan otoritasnya memegang senjata, maka kita harus mengakui bahwa dalam aksi-aksi penertiban oleh Satpol PP sebenarnya harus lebih mengedepankan pendekatan sipil yang dialogis dan komunikatif untuk mencapai kesepakatan bersama (win-win solution). Kemampuan untuk membangun komunikasi sosial tersebut mutlak diperlukan jika memang keberadaan aparat Satpol PP hendak menjadi salah satu instrumen kebijakan tata ruang pemerintah kota. Tetapi lain soalnya kalau Satpol PP hendak dijadikan “tameng sipil” untuk melestarikan budaya militeristik dalam kehidupan masyarakat kita, atau bisa jadi legalisasi premanisme kelompok sipil.
Menurut saya, kita mesti mencermati keberadaan Satpol PP ini secara serius. Kita tentu tidak ingin bahwa kultur civilian dalam konteks masyarakat urban terkondisikan dalam suatu hawa militeristik yang melanggengkan metode-metode intimidasi dan kekerasan, sambil mengenyahkan kompetensi sosial untuk berdialog secara manusiawi. Sebab jika tidak, kita bukannya membangun kehidupan beradab (civilized) sebagai bagian dari kultur perkotaan, tetapi malah menghancurkan kultur tersebut dengan bahasa-bahasa “kekerasan” yang hanya layak dikumandangkan di medan perang militer – sebagai manifestasi terakhir runtuhnya peradaban manusia (lose-lose solution). Nah, kalau begitu, Satpol PP ini salah satu solusi ataukah malah bagian dari masalah?
Rome took all the vanity out of me; for after seeing the wonders there, I felt too insignificant to live, and gave up all my foolish hopes in despair.
Louisa May Alcott (1832-1888)
Steve Gaspersz, orang Naku (Pulau Ambon) yang lahir di Surabaya, bertumbuh di Malang. Mengenali dirinya sebagai manusia di persimpangan multi-identitas yang terus didesak nurani menjelajah ruang-ruang makna. Entah sampai kapan.