Aku menulis maka aku belajar

Thursday, October 31, 2019

Berani Keluar dari Zona Nyaman


BERANI KELUAR DARI ZONA NYAMAN UNTUK MELAKUKAN TEROBOSAN BAGI KEMASLAHATAN
Catatan singkat dari khotbah Pdt. Dr. Steve Gaspersz, M.A.

Oleh: Pdt. Alfred Ohman, M.Si

Video singkat tentang profil Nadiem Makarim dan dr. Terawan, menjadi pengantar khotbah Pdt. Dr. Steve Gaspersz yang menohok dalam ibadah minggu kemarin (27 Oktober 2019) di gedung gereja Nehemia.

Dengan lugas, Pendeta Steve mengulas tentang dua menteri pilihan presiden Jokowi itu, yang dinilai tidak hanya punya kecerdasan dan mindset yang brilian, tetapi juga keberanian dalam melakukan terobosan di bidangnya masing-masing secara konsisten meskipun dihadapkan dengan berbagai tantangan.

Poin ini sekaligus memberi jawaban atas debat hangat beberapa hari belakangan tentang posisi orang Maluku yang tidak masuk dalam jajaran kabinet. Kendala kita bukan soal tidak ada orang cerdas, melainkan ketidakberanian dalam melakukan inovasi, tandasnya.

Kalau begitu, apa penyebabnya? Pendeta Steve kemudian menguraikan teks Lukas 9:57-62 tentang hal mengikut Yesus. Di sini beliau menjelaskan tentang ucapan Yesus bahwa Ia tidak punya tempat untuk meletakan kepala-Nya. Menurutnya pengertian ini bukan tentang Yesus yang tak punya tempat tinggal (homeless) tetapi lebih kepada seorang yang bebas dan tidak hidup dalam bayang-bayang patron seperti orang-orang Yahudi pada saat itu yang berada di bawah kekaisaran Romawi. Ucapan ini sekaligus menjadi kritikan bagi para pemberontak tetapi juga para "alim ulama" yang cenderung bermain aman daripada bernyali profetik.

Selanjutnya, saya menangkap bagaimana pendeta Steve mengulas tentang ajakan Yesus "ikutlah aku" yang kemudian diresponi dengan dua jawaban. Yang pertama izinkan aku menguburkan bapakku dan kedua izin pamit dari keluarga. Dari dua jawaban ini ia lalu menjelaskan bahwa tradisi dan ikatan keluarga juga menyebabkan seseorang tidak berani melakukan terobosan. Yesus tentu tidak bermaksud tidak menghargai tradisi dan keluarga. Dalam pelayanannya, Yesus sendiri telah menampilkan bahwa ia berani menembusi tradisi dan ikatan keluarga dengan mengunjungi langsung setiap orang tanpa memilah-milah status sosialnya serta memberi jawaban atas setiap persoalan yang dihadapi. Yesus sang pemuda 33 tahun itu mampu melihat apa yang dibutuhkan manusia dan karena itu ia berani melakukan terobosan. Bagi pendeta Steve, terobosan dan inovasi adalah spirit Kekristenan.

Lebih lanjut, dari khotbahnya juga mengingatkan agar kita tidak terbius oleh romantisme masa lalu sembari mempertanyakan dimana sesungguhnya posisi kita. Apakah berada di barisan orang-orang yang berinovasi ataukah sama seperti orang-orang yang hidup di bawah bayang-bayang tradisi dan ikatan keluarga. Gereja mesti berani melihat keluar tentang kemana arah pendidikan kita, gumulan keumatan, begitupun tentang anak-anak muda kita.

Dalam khotbahnya, ia mengungkapkan bahwa mengikut Yesus tidak cukup hanya mengagumi simbol salib Yesus tapi mampu menjadi teladan Kristus.

Mengikut Yesus tidak hanya berkaitan dengan kesibukan ritual tetapi bagaimana menjadi ASN atau Anggota TNI/Polri yang disiplin, menjadi mahasiswa yang menghargai keringat orang tua dan mampu berprestasi, tidak cepat puas dan merasa cukup dengan apa yang kita ketahui, sebab di situlah pertaruhan kita. Beliau pun mengingatkan bahwa dunia hari ini bicara tentang data dan bukan berdasarkan perasaan dalam pengambilan keputusan ataupun ikatan keluarga.

Ia juga memberi pesan bahwa orang tua perlu membangun komunikasi dalam menyiapkan anak-anak sebagai pemimpin, tentu bukan dengan umpatan dan makian tetapi dorongan yang memotivasi. Sementara di lain sisi, ia menantang para pemuda untuk keluar dari kenyamanan dan melakukan terobosan-terobosan bagi kemajuan.

Terima kasih, Pendeta Steve atas khotbahnya yang menukik dan menginspirasi beta serta kawan-kawan pemuda di perayaan 91 tahun Sumpah Pemuda untuk lebih produktif melalui berbagai terobosan.

Bagi beta Sumpah Pemuda adalah momentum yang menegaskan keberanian orang-orang muda untuk melakukan terobosan sama seperti seperti yang telah dilakukan Yesus sebelumnya.

Teruslah bergerak, pemuda Maluku. Kobarkan semangatmu untuk melakukan terobosan. Jang takisu. Tarus maju voor hal bae. Biar apa datang dari muka, jangan undur eee..

Tabea!
Read more ...

Tuesday, October 22, 2019

Refleksi Ambon Memuji - Lapangan Merdeka Ambon, 21 Oktober 2019


Read more ...

GEMPA BUMI AMBON - Kamis, 26 September 2016

Pagi hari Nancy sudah bertolak menuju Pelabuhan Tulehu untuk naik kapal cepat jurusan Masohi. Ada undangan dari Klasis Masohi untuk mengisi salah satu sesi dalam kegiatan di sana. Beta bersiap pergi ke kampus sekaligus mengantar Kailani ke sekolah.

Baru saja selesai berpakaian, tiba-tiba terdengar bunyi seperti gemuruh hujan yang kemudian diikuti getaran makin hebat yang mengguncang dinding-dinding rumah. Sontak beta berlari ke ruang tamu dimana Kaila sedang bermain, sambil berteriak keras “Kaila!”. Beta segera menggendongnya lari keluar rumah. Di luar rumah, para tetangga di kompleks sudah berhamburan keluar rumah sambil berteriak panik. Getaran gempa terasa sekitar 10 detik. Selang beberapa menit kemudian terasa sejumlah gempa susulan dengan getaran yang lebih lemah. Namun, kecemasan dan kepanikan akibat getaran 6,8 SR yang pertama telanjur mewabah.

Sontak, gelombang “pengungsi” makin membesar memenuhi jalan-jalan utama kota. Kampus, sekolah, kantor dan pertokoan langsung tutup. Para orangtua menjemput anak-anak di sekolah-sekolah mereka, para siswa dipulangkan, aktivitas perkuliahan di kampus-kampus dihentikan. Kemacetan terjadi pada semua ruas jalan kota Ambon karena akumulasi warga yang bergerak menuju rumah-rumah mereka dan yang mengungsi ke dataran tinggi.

Beta dan Kailani sempat terjebak kemacetan pada pertigaan Belakang Soya (Belso) dan jalan LIN-5 karena bertemunya arus kendaraan yang turun dari Karpan, yang memakan lebih separuh badan jalan, dan arus orang/kendaraan yang menuju Karpan. Hanya tersisa ruang gerak yang cukup untuk dilewati sepedamotor saja dari arah kota (bawah). Dengan susah-payah menahan panas terik matahari siang itu, akhirnya kami tiba di rumah Karpan. Beta menitipkan Kailani kepada Mama An, lalu turun kembali ke rumah Wainitu. Tak berapa lama tiba di rumah, selang beberapa jam Nyong Eby mengirim mobil untuk mengangkut Mami Tin ke rumah Karpan. Dengan demikian, beta bisa lebih leluasa untuk mengemas dokumen-dokumen penting dan membawanya nanti ke rumah Oma Nen (Karpan kompleks).

Suasana Kota Ambon, terutama kompleks pemukiman kami, terasa mencekam. Jalan-jalan lengang. Tampaknya semua orang berjaga-jaga dengan cemas bercampur waspada terhadap kemungkinan-kemungkinan gempa susulan. Hingga tanggal 22 Oktober 2019 BMKG merilis laporan sudah terjadi 1.670-an gempa-gempa susulan. Suatu fenomena yang unik, menurut beberapa pakar geologi. Dalam kecemasan dan kewaspadaan, kami tetap berdoa penuh harap Tuhan Penguasa Alam ini menjaga seluruh masyarakat Kota Ambon.
Read more ...

Sunday, October 13, 2019

Pertemuan Nasional Pimpinan Bidang Kemahasiswaaan LKPTKI 2019

Senin, 7 Oktober 2019

Berangkat menggunakan maskapai penerbangan Lion Air jam 8.35 WIT. Tiba di Bandara Sultan Hasanudin Makassar jam 9.10 WITA. Tim penjemputan panitia menjemput dari bandara dan mengantarkan saya untuk beristirahat di Guest House UKI Paulus. Tim penjemputan akan membawa semua peserta yang tiba hari ini melalui Makassar dan akan bersama-sama dengan tiga mobil menuju Toraja pada jam 19.00 WITA. Selain saya (UKIM), peserta lain yang tiba hari ini adalah: Universitas Kristen Maranatha Bandung (2 orang), Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta (2 orang), Universitas Ciputra (2 orang), Universitas Triatma Mulia Bali (1 orang). Kami tiba di Toraja Heritage Hotel, Toraja Utara, sekitar jam 5.00 WITA dan langsung ditempatkan pada kamar masing-masing oleh panitia. Beberapa peserta dari kampus-kampus lain kemudian menyusul berdatangan pada hari ini, terutama yang melalui Bandara Palopo. Setelah beristirahat dan makan siang, kami melakukan registrasi dan menerima “seminar kit”.

Selasa, 8 Oktober 2019

Sekitar jam 13.00 WITA seluruh peserta diangkut ke Kampus 1 UKI Toraja di pusat kota Makale. Acara pembukaan dimulai pada jam 15.00 dengan diawali Ma’Parapa’ (kata-kata sambutan dalam Bahasa Toraja) mengiringi rombongan peserta memasuki hall kampus. Di dalam sudah menunggu Prof. Dr. Ir. Daud Malamassam, M.Agr., IPU (Rektor UKI Toraja), Dr. (HC) Jonathan Parapak, M.Sc (Rektor UPH sekaligus pembicara utama). Kemudian menyusul kemudian Bupati Tana Toraja, Ir. Nikodemus Biringkanae, yang datang mengenakan busana khas Toraja. Acara Pembukaan diawali dengan ibadah yang dilayani oleh Pdt. Dr. Johana Tangirerung, M.Th (dosen Fakultas Teologi UKI Toraja) dengan persembahan pujian secara atraktif oleh Paduan Suara Mahasiswa UKI Toraja.

Setelah ibadah, acara dilanjutkan dengan penyampaian laporan ketua panitia, kemudian diteruskan dengan serangkaian kata sambutan oleh Rektor UKI Toraja, Dr. Rocky Taanamah, M.Si (PR-3 UKSW dan Koordinator Forkom LKPTKI) dan Bupati Tana Toraja. Usai foto bersama, Bupati Tana Toraja mengundang seluruh peserta untuk makan malam bersama di rumah jabatan bupati. Setelah menikmati jamuan makan malam bersama Bupati Tana Toraja, peserta kembali diantar menuju hotel dan beristirahat.

Rabu, 9 Oktober 2019

Setelah sarapan, peserta diantar menuju Kampus 1 UKI Toraja di Makale. Ada tiga sesi diskusi sepanjang hari kedua ini:

Sesi pertama
Moderator : Pdt. Dr. Johana Tangirerung, M.Th
Pembicara : Dr. (HC) Jonathan L. Parapak, M.Eng.Sc (Rektor Universitas Pelita Harapan)
Topik : Krisis Kader Muda Kristen pada Aras Kepemimpinan Nasional

Sesi Kedua
Moderator : Dr. Selvia Panggua, M.Pd
Pembicara : Corneles Galanjinjinay (Ketua Umum PP GMKI) dan Jery Parimba (Ketua PPGT)
Topik : Intelektual Muda Kristen di Panggung Nasional

Sesi Ketiga
Moderator : Dr. Berthin Simega, M.Pd
Pembicara : Jerry Sumampouw (PGI) dan Broery Pater Tjaja (GAMKI)
Topik : Pola Pembinaan Pemuda Kristen

Setelah mengikuti ketiga sesi tersebut, peserta kembali ke hotel untuk beristirahat. Acara dilanjutkan pada jam 16.30 di ruang konferensi Toraja Heritage Hotel dengan Pengantar Materi Sidang oleh Dr. Wilson Therik, M.Si (dosen pascasarjana UKSW dan Admin Forkom LKPTKI), Pemilihan Pimpinan Sidang, Pembagian dan Diskusi Kelompok, serta Sidang Pleno. Pimpinan Sidang yang terpilih adalah Candra Sinuraya, S.E., M.Si (Universitas Kristen Maranatha Bandung). Peserta dibagi menjadi tiga kelompok yang masing-masing membahas tiga isu seputar pembinaan mahasiswa: [1] SIMKATMAWA; [2] Strategi dan Pola Pembinaan Mahasiswa; dan [3] Penguatan Kelembagaan dan Jejaring. Saya bergabung dengan kelompok SIMKATMAWA yang dipandu oleh Arya Sadjiarto (PR-3 Universitas Kristen Petra). Kelompok kami membahas secara langsung beberapa bagian dalam Panduan SIMKATMAWA dan berbagi pengalaman mengenai peluang dan tantangan masing-masing universitas dalam mengimplementasikan program-program SIMKATMAWA, termasuk pula strategi menyiasati kemungkinan meningkatkan point kegiatan kemahasiswaan berbasis SIMKATMAWA dengan keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki oleh masing-masing universitas.

Selama hampir 1 jam, setiap kelompok memanfaatkan waktu untuk mendiskusikan tiga isu tersebut. Acara kemudian dilanjutkan dengan Sidang Pleno untuk mendengarkan hasil pembahasan setiap kelompok. Catatan proses dan hasil Sidang Pleno akan diuraikan tersendiri pada laporan ini.

Kamis, 10 Oktober 2019

Sejak dini hari, peserta sudah bergerak menuju Lolai, suatu kawasan di dataran tinggi Toraja, yang dikenal dengan “Negeri di Awan”. Dari Lolai, peserta kembali ke hotel untuk bersiap menuju Buntu Burake, dataran tinggi yang lain di Toraja dimana pada salah satu puncaknya didirikan patung raksasa Yesus yang merentangkan kedua tangannya sebagai simbol akta pemberkatan. Dari sana, perjalanan dilanjutkan ke Londa dan Ke’te Kesu. Keduanya adalah situs-situs pemakaman khas Toraja yang terkenal. Kami menikmati makan siang di pelataran depan situs Ke’te Kesu dimana berjajar sekitar enam tongkonan yang sudah berusia ratusan tahun dan deretan alang (lumbung padi) yang juga sering dipakai untuk melakukan pertemuan adat di Toraja. Perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi pusat pertokoan di Rantepao untuk membeli oleh-oleh khas Toraja.

Acara penutupan digelar di rumah jabatan Bupati Toraja Utara, Dr. Kalatiku Paembonan, M.Si, di Rantepao. Diawali dengan ibadah singkat dan sambutan-sambutan dari Ketua Bakor LKPTKI yang baru terpilih, Joko Purwadi, S.Kom., M.Kom. (Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta), Rektor UKI Toraja, dan Bupati Toraja Utara (sekaligus menutup secara resmi Pertemuan Nasional Pimpinan Bidang Kemahasiswaan Perguruan Tinggi Kristen Indonesia tahun 2019). Dari rumah jabatan Bupati Toraja Utara, sekitar jam 21.00 WITA saya dan lima orang peserta lainnya (Universitas Kristen Maranatha, Universitas Ciputra dan Ketua GAMKI) langsung menuju ke Makassar untuk kembali ke kota asal kami masing-masing. Setelah menempuh perjalanan selama 8 jam, sekitar jam 5.00 WITA kami sudah tiba di Bandara Sultan Hasanudin Makassar.
Read more ...

Pendeta Tidak Boleh Sakit?

Sejak mendengar kabar sakitnya Elsa Engel dari bung Jacky Manuputty beberapa tahun lampau, beta sangat prihatin. Keprihatinan itu pula yang membuat beta tidak mau memberi respons dalam bentuk tulisan ataupun status FB mengenai Elsa dan teman-teman [pendeta] lain yang sedang bergulat dengan sakit yang mereka derita. Kenyataan itu juga membuat beta merenung dengan melihat sisi lainnya. Ada banyak kisah tentang rekan-rekan pendeta yang bergumul dengan penyakit dalam tubuh mereka. Namun, ternyata ada yang lebih menyakitkan daripada penyakit mereka, yaitu minimnya – atau bahkan tidak adanya – dukungan biaya dan fasilitas kesehatan yang diberikan oleh institusi gereja. Pandangan ini bisa disanggah dengan memperlihatkan bahwa para pendeta sudah difasilitasi dengan BPJS Kesehatan, asuransi kesehatan, dan lain-lain. Itu betul. Namun, pada kenyataannya, dukungan biaya dan fasilitas kesehatan lebih banyak diperoleh dari kemampuan pembiayaan jemaat-jemaat yang dilayaninya. Tidak bisa disangkali bahwa sulit sekali mendapatkan dukungan biaya dan fasilitas kesehatan dari jemaat-jemaat yang tidak mempunyai “pendapatan” jemaat yang memadai untuk alokasi biaya kesehatan pendeta. Banyak tercecer kisah-kisah para pendeta GPM yang harus berjuang habis-habisan untuk mengobati penyakit mereka. Yang lebih ironis adalah mereka berpulang dengan kondisi kesehatan yang sama sekali tidak tertangani. Entah karena ketiadaan biaya dan fasilitas kesehatan selama pelayanan mereka di jemaat, entah karena tantangan medan pelayanan yang minim fasilitas kesehatan (puskesmas atau rumahsakit daerah).

Kembali ke kasus Elsa Engel. Di antara sekian banyak hal yang telah diposting mengenai Elsa, ada satu postingan yang berisi chatting Elsa dengan seorang pendeta (kalau tidak salah, karena namanya tidak kelihatan jelas), yang mengungkapkan tentang kerinduannya yang besar untuk menjadi “pendeta”. Tapi apa daya, kanker telanjur menggerogoti tubuhnya hingga ia meninggal dunia dengan membawa serta kerinduannya yang tak terpenuhi. Fakta yang sama juga dalam kasus Renza Tahalele beberapa waktu lalu (bisa ditambahkan lagi). Sebagai dosen pada fakultas teologi UKIM, beta mengenal Elsa dan teman-temannya sejak sebelum berangkat studi lanjut. Ketika pulang studi lanjut (5 tahun), beta masih mendapati Elsa dan teman-teman seangkatannya “menganggur” menunggu proses penerimaan vikaris. Beta tidak tahu sudah berapa lama Elsa dkk menunggu hingga mendapat penugasan sebagai vikaris GPM. Soal waktu itu relatif. Beta juga menghabiskan waktu lebih dari 10 tahun (lulus tahun 1996, ditahbiskan tahun 2008). Untunglah, Elsa dkk masih bisa beraktivitas sebagai relawan di Balitbang GPM. Hal yang sama dulu beta dan beberapa teman menjadi tenaga magang di LPJ-GPM yang dibesut oleh Pdt. Wim Davidz saat itu.

Di balik sedikit kasus tersebut, sebenarnya tersembul suatu persoalan fundamental, yaitu [1] Bagaimanakah GPM secara bertahap menangani masalah menumpuknya tenaga vikariat dari tahun ke tahun? [2] Model penanganan kesehatan vikaris/pendeta seperti apa yang mesti didesain untuk mengatasi konteks pelayanan yang beragam dari jemaat-jemaat kepulauan (pesisir/pegunungan) yang sama sekali tidak tersedia fasilitas dan sistem layanan kesehatan yang memadai?

Untuk persoalan pertama, kita bisa menyanggahnya dengan mengatakan bahwa GPM sudah menyusun strategi yang dibicarakan dari sidang-sidang MPL yang sudah berlangsung sekian lama. Umumnya, yang beta dengar, GPM sulit mengatasinya karena itu lebih merupakan masalah animo calon vikaris yang tidak mau atau tidak berminat untuk menerima tantangan menjadi pendeta di luar wilayah GPM. Padahal, dari pengalaman beta menjalani masa vikariat di luar Maluku, banyak sekali sinode-sinode gereja anggota PGI yang membuka diri menerima kehadiran tenaga-tenaga pelayan yang “surplus” dari GPM. Hanya segelintir saja yang mengambil kesempatan itu. Selebihnya dalam jumlah besar lebih memilih “setia” kepada GPM.

Sedangkan untuk persoalan kedua, beta secara jujur harus mengakui bahwa sama sekali belum paham mengenai strategi GPM menangani masalah kesehatan para vikaris/pendeta. Beta hanya bersandar pada asupan data mentah yang diperoleh dari berbagai sumber di jemaat-jemaat mengenai para pendeta yang berjuang sendiri mengatasi penyakit yang bercokol dalam tubuh mereka hingga putus nafas. Kemewahan menikmati dukungan biaya dan fasilitas kesehatan hanya bisa dinikmati oleh rekan-rekan pendeta yang melayani jemaat-jemaat dengan tingkat pendapatan ekonomi menengah/tinggi. Dalih bahwa itu adalah “harga” dari pelayanan sebagai pendeta, dalam hal ini, tentu tidak bisa diterima akal sehat. Malah, itu bisa dilihat sebagai eskapisme dari ketidakmampuan mendukung penyelenggaraan pelayanan melalui model strategis perawatan kesehatan para pendeta.

Catatan kecil ini hanya mencoba meretas peta-peta pemikiran yang masih kabur dalam menanggapi kenyataan rekan-rekan vikaris/pendeta yang terpapar penyakit kronis tanpa dukungan biaya dan kesehatan yang memadai. Sekaligus membuang jauh-jauh mitos bahwa “penyakit” adalah resiko dari pelayanan yang harus dipikul oleh pendeta GPM. Biasanya mitos itu ditanggapi dengan pernyataan beriman “sombayang saja nanti tuangala yang berperkara” atau sikap arogansi “pendeta seng boleh sakit”.
Read more ...

Monday, September 16, 2019

Suara GPM untuk Papua?

Beberapa minggu lalu, Walikota Ambon mengundang mahasiswa Papua yang sedang studi di kampus-kampus Ambon untuk makan malam bersama. Sebelumnya memang sudah ada kunjungan dari Kesbangpol Kota Ambon ke kampus UKIM untuk berkoordinasi terkait dengan situasi di Papua, Surabaya dan Malang. Yang menjadi keprihatinan bersama adalah bagaimana mengantisipasi perkembangan di Papua yang berdampak pada keberadaan mahasiswa-mahasiswa Papua di luar Papua, termasuk di Ambon.

Sebenarnya, saat mendampingi 2 mahasiswa Papua yang belajar di UKIM selama acara makan malam itu, beta sangat berharap bahwa ada juga upaya aksi cepat GPM dalam merespons situasi yang menimpa masyarakat atau jemaat Papua. Sayangnya, harapan itu (sebagai pendeta GPM) pupus karena tidak ada pernyataan publik sikap GPM sebagai bagian dari semangat persaudaraan ekumenis merespons kondisi yang dihadapi oleh gereja-gereja di Papua.

Bagi beta, ini cukup mengherankan bin mencemaskan. Heran karena belum lama Sinode GPM menerbitkan buku dengan tajuk yang aduhai "GPM DI HATI BANGSANYA". Malah kemudian diikuti dengan peluncuran Prodi S3 Agama dan Kebangsaan. Rasanya, masalah kebangsaan menjadi wacana yang digumuli serius. Kenyataannya, aktualisasi semangat kebangsaan GPM itu tidak muncul dalam suatu gerakan sosial GPM sabagai refleksi kritis kehadiran dan peran GPM terhadap masalah-masalah kebangsaan saat ini seperti yang terjadi di Papua atau di tempat lain. Cemas karena beta jatuh pada asumsi hipotetik bahwa GPM tampaknya makin kedodoran dalam membangun kepekaan terhadap dinamika politik nasional saat ini, yang cepat atau lambat akan mempengaruhi cara kita menggereja dalam kompleksitas masalah yang kian menggurita di tingkat lokal.

Bisa jadi beta salah berasumsi. Tapi dari kisah-kisah yang dituturkan oleh para mahasiswa Papua dari Unpatti dan UKIM beta merasa ada pesan miris: "Kitong didatangi oleh orang-orang yang kitong tra kenal. Dorang pake baju aparat dan bawa senjata cari kitong di tampa-tampa kos dan asrama. Kitong datang di Ambon mau kuliah. Sekarang kitong rasa sendiri di Ambon". Mereka merasa sendiri. Apa artinya? Seorang anak Papua yang menjadi koordinator Ambon, juga anak pendeta GKI Papua, mengatakan buat beta: "Bapa, sa pung bapa juga pendeta. Sa sebenarnya harap gereja bisa bilang atau bikin apa ka apa buat kitong ana Papua di Ambon ini."

Bisa jadi beta keliru berasumsi. Tapi apakah terlalu berat bagi GPM untuk menangani anak-anak Papua yang untuk beberapa waktu hidup dan beraktivitas dalam wilayah-wilayah pelayanan jemaat GPM? Hanya untuk memastikan keamanan dan keberlanjutan studi mereka setelah kasus tindakan kekerasan dan pelecehan yang dialami oleh rekan-rekan mereka di Surabaya dan Malang. Bukankah mereka adalah anak-anak ekumenis GPM? Semoga slogan GOB bukan pepesan kosong dan masturbasi teologis saja.
Read more ...

Sunday, September 15, 2019

Emanuel Gerrit Singgih: Sumur Inspirasi yang Tak Pernah Surut


Meski dikenal sebagai seorang teolog kawakan di bidang tafsir alkitab namun sebenarnya sulit untuk mengurung keluasan pengetahuannya hanya pada bidang itu. Beta bahkan kerap bertemu EGS, demikian sapaan akrab beliau, pada forum-forum bukan biblika, seperti Studi Institut PERSETIA "Filsafat Timur dan Filsafat Barat" atau forum World Alliance of Reformed Churches (WARC) ketika EGS menyajikan makalah mengenai teologi kontekstual.

Hemat bicara. Tapi sekali mengajaknya berdiskusi, hampir semua ranah keilmuan filsafat dan teologi bisa dijelaskannya dengan jernih. Tulisan-tulisannya terpublikasi luas entah dalam bentuk artikel maupun buku-buku yang selalu menjadi rujukan hampir semua angkatan mahasiswa pada sekolah-sekolah atau fakultas-fakultas teologi di Indonesia. Beberapa teman yang studi lanjut di UKDW dan berada di bawah bimbingannya sering menggambarkan sosoknya sebagai profesor "killer"; suatu hipotesis yang tidak pernah beta percaya karena tidak terverifikasi dalam komunikasi beta dengan EGS.

Beta tidak pernah mengikuti kelasnya di UKDW. Selain di forum-forum seperti yang beta sebutkan di atas, kami bertemu ketika beliau menyajikan kuliah pada klas 2003 di Vrije Universiteit Amsterdam. Tahun 2009, EGS memberi kepercayaan kepada beta untuk menerjemahkan disertasi Frans Wijsen dengan tajuk "Buah-buah Roh: Menjalankan Riset Sosial Partisipatif di Belahan Dunia Selatan" (Duta Wacana Press 2010). Kemudian di ICRS mengikuti matakuliah "Religion, Politics and Sacred Texts in South East Asia" yang dikelola oleh Prof. EGS dan Prof. Amin Abdullah.

Tidak cukup kata-kata di sini untuk mengapresiasi karya-karya EGS. Beta dan Nancy Souisa juga pernah menjadi bagian dari limpahan ilmu dan kebaikan EGS. Semangatnya tampak dari derasnya berbagai ide yang terus mengalir melalui buku-buku terbaru yang terpublikasi hingga tak menyangka bahwa tahun 2019 ini EGS sudah menjelang masa purna baktinya sebagai guru besar teologi di UKDW Yogyakarta. Bagi beta, EGS adalah teladan ketekunan dan kegigihan berteologi kontekstual di Indonesia; ibarat sumur yang tak pernah surut airnya. Beta belajar banyak dari sosok EGS. Dalam hal itu, EGS tampaknya tidak pernah "pensiun". Terima kasih guru EGS!

Foto: IRTI Conference 2019 - Vrije Universiteit Amsterdam
Read more ...

Wednesday, July 31, 2019

Resolusi Konflik Berbasis Strategi Kebudayaan

A. Pengantar

Bagi saya, dan pasti juga bagi sebagian besar rakyat Maluku, sulit menepis ingatan kolektif mengenai kegetiran hidup komunal sebagai dampak dari pecah dan berlarut-larutnya konflik sosial di Maluku sejak 19 Januari 1999 hingga menyusur pertengahan tahun 2005. Semua terjadi begitu cepat dan meluluhlantakkan pranata-pranata kehidupan sosial-budaya masyarakat Maluku tanpa seorang pun dapat menduga perubahan dan eskalasinya dalam hitungan jam atau hari. Sementara itu, efek destruktifnya menghujam sangat jauh dalam kesadaran dan nurani kemanusiaan masyarakat Maluku. Realitas sosial yang dijalani pada masa-masa itu sangat kelam dan tak berpengharapan. Tidak ada yang bisa dipercaya, bahkan pemerintah dan aparat keamanan (TNI/POLRI) sekalipun seolah tidak berdaya mengatasi kekisruhan sosial yang carut-marut saat itu.

Tidak kurang upaya dari berbagai pihak (civil society, pemerintah sipil, otoritas militer/kepolisian) untuk meredakan eskalasi konflik, memediasi kelompok-kelompok yang bertikai, menepis isu-isu provokatif melalui berbagai media, menambah personel pemulihan keamanan, sosialisasi gerakan perdamaian hingga ke grass-roots (akar rumput) dan lain-lain. Namun, bersamaan dengan itu semua harus pula diakui bahwa gejolak konflik tak mampu diatasi segera. Dibutuhkan rentang waktu yang panjang untuk ukuran suatu konflik komunal di wilayah seperti kepulauan seperti Maluku. Intervensi negara memang sudah terjadi sejak pecahnya konflik dalam bentuk pengerahan personel tentara dan polisi yang bahkan didatangkan dari hampir seluruh kesatuan yang ada di Indonesia. Namun tetap tidak berdampak signifikan karena penanganan konflik sosial bukan hanya bertumpu pada absennya pertikaian dan aksi-aksi kekerasan, melainkan pada penguatan kembali rasa saling percaya (trust) yang hancur-lebur selama konflik dan meninggalkan guratan luka kejiwaan mendalam yang residunya masih terwariskan hingga ke generasi-generasi sekarang (yang bahkan tidak pernah mendengar cerita kelam tentang Konflik 1999).

Belajar dari kegagalan demi kegagalan tersebut, intervensi negara kemudian diartikulasikan dalam bentuk yang berbeda, yaitu “perjumpaan dan kesepakatan”. Bukan lagi pada pendekatan keamanan (meskipun ini tetap dilakukan hingga kini). Pendekatan “perjumpaan dan kesepakatan” tersebut diimplementasikan melalui model dialog dengan intervensi negara (pemerintah) sebagai mediator kedua kelompok (agama) yang terlibat perseteruan: Islam dan Kristen. “Kesepakatan Malino II” menjadi forum dialog antara perwakilan selektif Islam dan Kristen Maluku untuk mencari titik temu agar bersama-sama mampu meredakan gejolak konflik yang lebih disebabkan karena tidak ada strategi manajemen konflik yang mumpuni saat itu. Kendati bukanlah “resep” yang super-manjur untuk mengatasi konflik yang kian memanas saat itu tapi “Kesepakatan Malino II” telah mampu menjadi ruang dialogis bersama antara perwakilan Islam dan Kristen yang selama konflik sulit dilakukan. Kesepakatan itu pula yang menjadi titik berangkat sekaligus titik acuan untuk melihat realitas konflik melalu lensa perspektif yang lebih luas dan berjangka panjang. Dari sana pula makin kuat kesadaran bahwa yang dibutuhkan bukan lagi sekadar meredam aksi konflik/kekerasan melainkan bagaimana strategi mengelola (manajemen) konflik dalam konstruk sosial masyarakat kepulauan seperti Maluku.

B. Manajemen Konflik: Dari Senjata ke Budaya

Keterkejutan sosial terhadap konflik yang dialami masyarakat Maluku cukup dapat dipahami. Dalam konfigurasi budaya masyarakat Maluku, terdapat sejumlah pranata sosial-budaya yang sebenarnya menjadi ruang negosiasi ketegangan sosial dan strategi mengelola perbedaan (agama dan etnisitas). Selama ratusan tahun, masyarakat Maluku mengenal, hidup dan menghidupi pranata pela dan gandong. Sederhananya, pela adalah mekanisme mengelola konflik melalui kesepakatan/perjanjian kultural antara beberapa komunitas lokal. Kekuatan pela terletak pada dimensi covenantal (perjanjian/kesepakatan) setelah komunitas-komunitas tersebut terlibat dalam pertikaian karena berbagai sebab. Dengan demikian, pela lebih bernuansa sosiologis-antropologis.

Sementara gandong lebih bernuansa eksistensial karena di dalamnya termuat makna relasi-relasi persaudaraan “sekandung” (gandong = rahim), yang kemudian memilih jalan-jalan kehidupan dan identitas yang berbeda (terutama agama: Islam dan Kristen). Pemaknaan relasi-relasi persaudaraan ini sangat kuat melekat dalam kesadaran kultural dan kenyataan sosial masyarakat Maluku dari generasi ke generasi. Ada mekanisme pewarisan makna kultural tersebut melalui ritual-ritual berkala yang disebut “panas pela” dan “panas gandong”. Kata “panas” di sana mengandung konotasi “menghidupkan / memfungsikan / menyegarkan kembali” makna-makna relasional di antara kelompok-kelompok budaya masyarakat Maluku, sambil belajar mengakui kenyataan hidup dalam berbagai perbedaan.

Dengan demikian, pela dan gandong sebenarnya merupakan kecerdasan lokal (local genius) masyarakat Maluku dalam memahami realitas diri yang berbeda sekaligus mekanisme mengelola perbedaan-perbedaan itu yang berpotensi menjadi konflik sosial (negatif) dan membangun solidaritas sosial (positif). Potensi itu sudah ada dalam kesadaran dan diekspresikan melalui pranata-pranata kebudayaan lokal untuk menjaga keseimbangan dialektis antara berbagai unsur yang saling bertentangan dalam alam dan relasi kemanusiaan. Ini merupakan kekuatan nalar dan tindak budaya yang telah dihidupi ratusan tahun dari generasi ke generasi melalui pewarisan narasi-narasi pela dan gandong.

Akan tetapi, dalam wacana kebudayaan pula tidak dapat dipungkiri kenyataan perubahan sosial. Setiap masyarakat pasti mengalami perubahan sosial. Yang membedakan hanya intensitas dan media pendorong perubahan sosial pada setiap masyarakat. Sesederhana apapun suatu masyarakat, pada dirinya tetap terjadi perubahan sosial meskipun sangat lambat. Asumsinya, setiap masyarakat itu dinamis, bukan statis. Oleh karena itu pula maka pencermatan terhadap realitas sosiokultural harus dipahami dalam bingkai perspektif yang dinamis dan selalu terbuka bagi kejutan-kejutan kebudayaan terjadi.

Tidak terkecuali pranata budaya pela dan gandong. Meskipun sudah ratusan tahun dipercaya dan dihidupi sebagai unsur kebudayaan yang fungsional dalam menjaga keseimbangan relasional antarberbagai konstruksi identitas (geografis, klas sosial, strata sosial, bahasa, agama dan etnisitas), namun keduanya tidak imun terhadap dinamika perubahan sosial, politik, ekonomi dan tata budaya global. Guncangan berbagai perubahan tersebut pada gilirannya menggerus makna-makna asali (original) yang dengan segenap daya dipertahankan dan diwariskan, kendati secara subtil juga mengalami reinterpretasi, rekonstruksi dan kontekstualisasi agar tetap relevan dan fungsional dalam kehidupan komunitas penggunanya.

Aksentuasi pembangunan yang termanifestasi pada jargon utama “pembangunan nasional” selama tiga dekade rezim Orde Baru telah berhasil meneruskan dan makin kuat melestarikan ideologi “tingkat-tingkat pembangunan” dalam idiom-idiom modernisasi maupun pengadaban komunitas-komunitas lokal nusantara. Istilah “pembangunan” berhenti menjadi sebentuk kata kerja dan dimaknai lebih secara instrumental. Relasi-relasi kultural dan religiositas komunitas-komunitas lokal pun menjadi kian jumud dan mengeras ketika ditunggangi oleh semangat kapitalisme yang menjadi “roh” pembangunan[isme] itu. Pada titik itulah pranata-pranata pela dan gandong mengalami disfungsionalisasi secara sistematis. Keduanya dianggap “kolot” dan “kampungan” ketika berhadapan proses-proses modernisasi yang dilihat juga sebagai mekanisme pengadaban kaum “primitif” di kampung-kampung atau pedalaman-pedalaman. Tak pelak, dalam konstruk dan konteks semacam itu kuasa-kuasa agama turut berperan penting mengisolasi dan mengalienasi unsur-unsur budaya lokal sebagai “kafir”, “bidah” dan “sinkretis”. Politisasi agama dan agamanisasi politik pun menjadi diskursus yang bermain gesit dan genit di arena-arena kehidupan masyarakat.

C. Resolusi Konflik dan Strategi Kebudayaan

Pengalaman sosial yang getir selama konflik di Maluku pada hakikatnya telah membuka celah-celah menyeruaknya fajar kesadaran sosial bahwa konflik tersebut tidak dapat diatasi semata-mata secara instrumental. Dibutuhkan pendekatan-pendekatan eksistensial yang berupaya memahami kedalaman hidup manusia dan kemanusiaan sebagai mahluk sosial. Pendekatan-pendekatan tersebut mesti dilihat sebagai strategi kebudayaan untuk mengelola dinamika kemajemukan atau perbedaan yang menandai identitas masyarakat manusia. Jadi, strategi kebudayaan lebih bersifat substansial dan berkelanjutan dengan mengolah potensi kebudayaan pada suatu masyarakat sebagai modal sosial untuk terus-menerus melakukan negosiasi dengan identitas-identitas liyan bagi kepentingan hidup bersama.

Belajar dari pengalaman konflik Maluku, saya melihat setidaknya ada tiga strategi kebudayaan yang perlu dipertimbangkan oleh masyarakat pascakonflik Maluku:

1. Pembangunan Masyarakat Berbasis Konteks Kepulauan
Pendekatan pembangunan masyarakat berbasis konteks kontinental yang pernah diterapkan selama tiga dekade oleh rezim Orde Baru memperlihatkan banyak sisi ketidakadilan sosial yang dialami oleh komunitas-komunitas lokal nusantara di luar Pulau Jawa. Konotasi pembangunan yang berhimpit dengan politik ekonomi pada masa itu telah melahirkan bentuk-bentuk marjinalisasi berbagai komunitas karena aksentuasi pembangunan lebih pada indikator-indikator kuantitatif melalui data statistik yang sangat instrumentalistik. Sementara pada sisi lain mengabaikan apa yang menjadi kebutuhan dasar dari berbagai komunitas yang hampir sebagian besar mendiami ruang-ruang geografis kepulauan. Mereka hidup dengan dan menghidupi realitas darat dan laut sebagai konteks kehidupan yang turut membentuk pandangan dunia mereka tentang “kerja”, “sejahtera”, “bahagia” dll.

2. Pendidikan Berorientasi Diferensiasi Budaya
Selepas euforia Reformasi 1998, masyarakat Indonesia umumnya belum mampu terbebaskan dari bayang-bayang ancaman perbedaan identitas. Selama 32 tahun, “perbedaan” menjadi sesuatu yang ditabukan dan ditenggelamkan oleh diskursus penyeragaman “ideologi”, “pikiran” dan “gaya hidup”. Makin lama perbedaan dilihat sebagai ancaman bagi stabilitas sosial. Kesadaran semacam itu tumbuh subur ketika banyak orang seolah-olah melihat tidak ada masa depan dalam demokrasi yang sepertinya membuat orang bebas melakukan apa saja – yang penting punya banyak pengikut atau didukung oleh kekuasaan yang sedang berjaya. Dunia pendidikan umum dan keagamaan dijejali oleh paham-paham eksklusivisme dan sektarianisme yang melihat kelompok sendiri (in-group) sebagai superior berhadapan dengan liyan (out-group) yang dinilai inferior. Untuk itu memang diperlukan paradigma pendidikan yang berorientasi memahami diferensiasi budaya dari berbagai komunitas nusantara.

3. Religiositas Indonesia
Religiositas nusantara merupakan wujud kreatif dari penyerapan dan internalisasi berbagai unsur spiritualitas dan paham ketuhanan (kosmoteologis) yang diekspresikan oleh komunitas-komunitas nusantara sepanjang sejarah peradabannya hingga kini. Agama-agama besar yang masuk dan diperkenalkan di nusantara tidaklah menduduki ruang-ruang kesadaran spiritual yang kosong. Religiositas merupakan dimensi penting dalam eksistensi kemanusiaan. Sebagaimana manusia belajar dan berinteraksi sosial maka religiositas manusia tidak berdiri sendiri tetapi selalu dipahami secara relasional entah dengan “tuhan” maupun dengan “sesama manusia”. Dengan kesadaran historis dan teologis semacam ini maka orang bisa melihat bahwa tidak ada satu pun agama yang dapat mencapai kemurnian total ajarannya karena agama-agama tersebut saling berkelindan dalam aneka rupa ekspresi kebudayaan dan kebahasaan oleh berbagai komunitas nusantara. Ini adalah religiositas yang lahir dari batasan-batasan kebudayaan yang memberinya nuansa kemanusiaan semesta. Itulah pula yang semestinya menjadi dasar dari apa yang disebut Religiositas Indonesia.

D. Penutup

Ulasan sederhana ini hendak memperlihatkan bahwa seluruh upaya resolusi konflik yang telah, sedang dan akan dilakukan dalam masyarakat Maluku pascakonflik membutuhkan pengenalan secara komprehensif muatan, bentuk dan ekspresi kebudayaan masyarakat setempat. Konflik merupakan bagian hakiki dari setiap masyarakat. Tidak ada masyarakat tanpa konflik. Dengan perkataan lain, konflik lebih bersifat potensial sehingga dibutuhkan bukan hanya resolusi konflik tetapi strategi kebudayaan untuk mengelola potensi konflik dalam setiap masyarakat.

Strategi kebudayaan yang diajukan dalam tulisan ini merupakan refleksi antropologis dari pengalaman terlibat dalam organisasi Crisis Center UKIM yang selama berlangsungnya konflik berfungsi sebagai “pangkalan data” untuk kemudian dianalisis. Hasil analisis tersebut merupakan olahan temuan-temuan lapangan dan kajian teoretik yang bertujuan bukan hanya untuk sekadar memahami karakteristik konflik komunal Maluku dan menemukan model-model resolusi konflik. Lebih jauh, untuk mengelola kemajemukan sosial-budaya masyarakat Maluku maka diperlukan pendekatan-pendekatan kebudayaan yang lebih strategis ketimbang instrumentalis. Tujuan yang hendak dicapai bukan semata-mata “perdamaian” yang sempit dan berjangka pendek, tetapi justru mengenali modal-modal sosial dan kultural dalam kebudayaan yang semestinya digarap lebih lanjut menjadi fondasi pengelolaan atau manajemen konflik pada konteks masyarakat kepulauan nusantara Indonesia.
Read more ...

Monday, July 22, 2019

Visitation of the Ministry of Foreign Affairs RI


UKIM has a wonderful time for doing conversation with the Center for Education and Training, the Ministry of Foreign Affairs, Republic of Indonesia. Along with the institution there are 10 Afghanistan diplomats who are willing to listen to Ambon experiences during the conflict in the past as well as sharing their stories from Afghanistan.

This group is led by Dr. Yayan G.H. Mulyana, the head of Center for Education and Training MFA-RI. He delivers an introduction about the visitation program and its participants as well as the reason for selecting two universities on Ambon Island (UKIM and IAIN Ambon) to be learning partners to understand the conflict resolution strategies. Professor Bob Mose, a member of the University Foundation of GPM, conveys his welcoming remarks on behalf of the Rector of UKIM. The MFA-RI officially asked me to present some perspectives about Maluku conflict that could be a lesson learned for the Afghanistan diplomats how the Moluccans struggled to overcome the conflict, created peace-building strategies, and vice versa they shared the contemporary political situation they are facing in Afghanistan nowadays.

There is only one female diplomat in this group. She depicts the women's struggle in the Afghanistan society to get their civil rights for equality in public sphere such as education, workplace, governance structure, etc. Two Moluccan Muslim females who are the faculty member of UKIM, and three female students response to her by sharing barely differences about main issues faced by the Indonesian/Moluccan women.

Special thanks for Dr. Dicky Sofjan. For our Afghanistan brothers and sister, thanks for visiting our campus UKIM and sharing with us. Peace be with you.

Saturday, 20 July 2019
Read more ...

Wednesday, June 19, 2019

Kailani


Kurang beberapa menit pukul 24.00 hari Sabtu 14 Juni 2014, Nancy membangunkan beta dan bilang bahwa perutnya sakit. Kandungannya waktu itu memang sudah 9 bulan. Beta bangun dan bergegas menelepon Andre, teman yang biasa menyewakan mobilnya. Dia mengontrak rumah hanya satu rumah di sebelah rumah kami di kompleks Purisatya Permai Salatiga. Tak lama dia datang dan kami bergegas membawa Nancy ke Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Mutiara Bunda. Sesampai di sana langsung ditangani oleh para suster piket di IGD. Memang sejak bulan pertama kehamilannya yang kedua, Nancy ditangani oleh dokter Robby Hernawan yang praktek di RSIA Mutiara Bunda. Tapi ternyata pada hari itu, dr. Robby sedang berangkat ke Jakarta. Nancy ditangani oleh seorang dokter spesialis kandungan yang lain.

Beta mengurus semua ihwal administrasi dan menunggui Nancy dalam saat-saat kritisnya. Hampir 4 jam Nancy bergumul dengan bayi dalam kandungannya. Hingga pukul 5 dini hari Minggu tanggal 15 Juni 2014 tanda-tanda kelahiran masih belum tampak jelas. Sang bayi belum menembus bukaan 2. Diagnosa dokter menyatakan bahwa leher sang bayi terlilit tali pusar. Tapi dokter belum bisa mengambil keputusan lebih jauh. Masih meminta Nancy bertahan sementara mereka melakukan beberapa upaya dan melihat perkembangan. Hampir jam 6 pagi, beta dengan berat hati harus meninggalkan Nancy sendirian ditangani oleh para perawat karena harus mempersiapkan diri untuk memimpin pelayanan Ibadah Minggu di GKI Jalan Jendral Sudirman (Jensud) Salatiga jam 7.00 pagi, berlanjut ke ibadah jam 9.00, dan sore hari jam 18.00. Dengan hati berat, beta meninggalkan RSIA Mutiara Bunda kembali ke rumah untuk mempersiapkan diri. Sepanjang ibadah, beta berusaha berkonsentrasi pada pelayanan sambil terus berdoa untuk Nancy dan bayi kami. Beta baru bisa kembali ke RSIA Mutiara Bunda sekitar jam 11.30 usai ibadah kedua.

Sampai di RSIA Mutiara Bunda, beta langsung menuju ke IGD. Tapi sudah kosong. Seorang perawat di sana bertanya. Sebelum beta sempat menjawab, dia bilang bahwa bayi kami sudah dilahirkan dan sekarang mereka berada di kamar. Seluruh badan beta lemas karena cemas bercampur bahagia. Beta pun bergegas menuju ke kamar. Ternyata sudah ada tante Ida Imam Titaley, istri dari Prof. John Titaley (Rektor UKSW saat itu). Beliau adalah orang pertama yang menjenguk Nancy dan bayi kami. Perawat kemudian mengambil si nona kecil dan membawanya ke kamar agar beta bisa melihatnya. Nona kecil yang manis dengan teriakan tangis yang menggelegar. Kami menamainya KAILANI STACY GASPERSZ. "Kai" berarti "laut"; "lani" berarti "dewi". Dewi Laut. Nama itu kami ambil dari bahasa Pasifik (Hawaii). Sama seperti nama kakaknya, KAINALU, yang berarti "ombak laut".

Nancy pun bercerita bahwa proses melahirkannya tadi adalah melalui operasi caesar karena tali pusar melilit leher Kailani kecil. Nancy sendiri yang menandatangani surat kesediaan operasi karena beta tidak bisa dihubungi pada saat keputusan tersebut diambil. Operasi berjalan lancar dan bayi Kailani dilahirkan pada jam 10.00 tanggal 15 Juni 2014. Kebahagiaan yang menutupi seluruh kelelahan studi dan pergumulan karena beberapa minggu sebelum Nancy melahirkan, Mami Tin (mamanya Nancy) yang sedang bersama dengan kami untuk membantu mendampingi Nancy dalam persiapan melahirkan, terserang stroke. Beliau dirawat di RSUD Salatiga. Selama beberapa minggu setelah Kailani dilahirkan, beta harus bolak-balik dua rumahsakit untuk menjenguk Mami Tin dan Nancy/Kailani. Sampai kemudian Mama Eci, adik Mami Tin, bersedia datang ke Salatiga membantu kami dalam situasi yang sulit saat itu. Beliau datang bersama Alex (Lexy), putranya yang ketiga.

Ketika catatan kecil kenangan indah ini beta tulis, Kailani baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-5 di Ambon, 15 Juni 2019.

Selamat ulang tahun nona manis! Papa, mama dan kakak Kainalu (Kanu) sangat mencintaimu. Kainalu dan Kailani adalah sepasang malaikat yang Tuhan anugerahkan dalam hidup beta dan Nancy.
Read more ...

One Earth, Many Faces

One Earth, Many Faces